Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
SERIAL NETFLIX
Kau sudah datang.
Ia pergi ke mana?
Hari ini Ja-young libur.
Apa?
Dia mengajak anjing itu jalan-jalan.
Dia menawarkan diri, jadi, kuizinkan.
Anjing itu pasti sangat bosan.
Dia mengajak anjing liar jalan-jalan?
Bagaimana jika tali kekangnya terlepas?
Dia sudah kembali.
Halo.
Benar juga.
Kau juga harus menyapanya.
Halo.
Mau kutunjukkan sesuatu yang menarik?
Lakukan seperti yang tadi, ya. Kau mengerti?
Baiklah.
Ayo! Itu! Di sana! Kenapa kau diam saja? Itu!
Tadi kau bisa, 'kan? Kenapa diam saja? Di sana!
Sial.
Astaga.
Kenapa tak kau tangkap?
Nurungji, kenapa tak kau tangkap? Tadi kau melakukannya dengan baik.
Ini.
Sepertinya kakinya sudah pulih.
Ia tidak akan terus tinggal di klinik, 'kan?
Mustahil mengurungnya di kandang terus. Akan kucarikan orang untuk merawatnya.
Kalau begitu, boleh aku memeliharanya?
- Apa? - Aku punya jam kerja yang cukup baik,
dan tak ada anggota keluarga lain yang harus kuurus.
Walaupun sudah sangat lama, aku punya pengalaman memelihara anjing.
Kenapa?
Apa ini membuatmu tak nyaman?
Ini tak nyaman, ya?
Percayakan dia kepadaku.
Sebagai gantinya, tolong sediakan
makanan dan obat untuknya selama kau di sini. Setuju?
Kemarilah.
Astaga.
"Kakak ini akan merawatku dengan baik. Jadi, kau setuju?"
Baiklah, sudah.
Ini.
Masuklah.
Ayo masuk.
Kau tak mau masuk?
Baiklah, kau perlu beradaptasi, ya?
Apa itu anak anjing?
Kau berikan ia kepadaku?
Terima kasih. Cantik sekali. Menggemaskan.
Halo.
Cantik sekali.
Omong-omong, siapa namanya?
Begitu?
Kalau begitu,
Awan saja. Bagaimana menurutmu?
Awan, kau suka, 'kan? Awan, kau senang, ya?
Menggemaskan.
Awan sudah pergi. Sekarang kau datang.
Apa karena dia pencinta hewan?
Ja-young memang seperti itu.
Dia cepat akrab dengan hewan.
Kalau dipikir-pikir, dia memang ramah kepada manusia dan hewan.
Itu keahliannya.
- Apa itu? - Dia berikan ini kepadaku, jadi, kupakai.
Ini bunga yang cantik, 'kan? Menggemaskan.
KLINIK HEWAN HAN DEOK-JIN
Aku segera kembali.
SALON RAMBUT JEON SEON-MI
Halo.
Kau sudah makan?
- Ya. - Restoran ini sangat enak.
Mampirlah lain kali.
Baiklah.
- Halo, Dokter. - Apa kabar?
Kami baru saja makan. Kau sudah makan?
Aku baru saja makan.
Kita harus makan bersama agar cepat akrab.
Kapan-kapan kita makan bersama. Aku yang traktir.
Ya.
Baiklah.
Halo, Pak.
Begitu.
Ya, aku mengerti.
Telepon dari pemilik restoran gamjatang. Ada pelanggan mabuk yang mengacau.
Aku akan mampir ke sana, silakan pergi lebih dahulu.
Berapa banyak yang dia minum siang-siang begini? Pergilah.
Tunggu sebentar.
Dia sibuk.
- Ya? - Dia yang paling sibuk di desa ini.
Benarkah?
Ya, aku akan segera ke sana.
Itu Ketua Asosiasi Wanita.
Dia meringkus murid-murid SMA yang merokok di depan rumahnya
dan menyuruhku cepat ke sana.
Mungkin Pak Kepala dan Sersan Yoon bisa…
Kami ke restoran gamjatang. Lebih baik kami mengurus pelanggan mabuk.
Peringatkan dan suruh mereka pulang.
Sampai jumpa, Dokter.
Kapan-kapan kita makan…
- Kenapa… - Ayo cepat.
Kenapa kau menyuruhku ikut…
Sungguh?
Baiklah.
Kerja bagus, Bibi.
Baiklah.
Salah satu ibu mereka kebetulan lewat,
jadi, mereka dipukul 100 kali, lalu diseret pulang.
Bagaimana bisa kebetulan bertemu di sana?
Pak Kepala rugi sudah bertukar tugas denganku.
Omong-omong, kau sibuk sekali.
Aku suka itu.
Banyaknya orang yang mencariku
menunjukkan bahwa aku dibutuhkan.
Aku menyukainya.
Lee Sang-hyeon selalu menyebutku cari perhatian.
Padahal dia tak berhak berkata begitu.
Dia justru lebih parah.
Kau pasti senang.
Ketua Asosiasi Pemuda sepertinya sangat memperhatikanmu.
Kami tumbuh besar bersama sejak lahir.
Mungkin kami akan terus bersama sampai mati.
Kau tak punya teman, ya?
Apa?
Ternyata kau sungguh tak punya. Bagaimana ini?
Kau pasti bosan tinggal di desa seperti ini
tanpa seorang teman pun.
- Aku punya teman. - Tidak di sini, 'kan?
Tunggu.
Apa kau punya?
Aku sibuk, jadi, tak punya waktu untuk merasa bosan.
Kau tidak rindu pacarmu?
Kau bilang kau punya pacar, 'kan?
Kau tak bisa selalu menemui orang yang kau rindukan.
Kau benar.
Selalu bisa bertemu setiap kali merindukan seseorang
adalah berkah yang luar biasa.
Apa pun itu.
Kenapa?
Apa aku terdengar seperti anak remaja?
Tidak.
- Anjing itu baik-baik saja? - Maksudmu Nurungji? Ia baik-baik saja.
Ia sudah kuberi nama. Panggil ia Nurungji.
Nurung…
Menggemaskan, ya?
Nurungji?
Nurungji?
Hai! Kau mau ke mana?
Kenapa tak kau gunakan mobilmu?
Dia baru selesai makan siang.
- Kau pergi untuk membeli apa? - Zat pengganggu kawin.
Apa kau tahu zat pengganggu kawin?
Zat yang digunakan untuk mengganggu perkawinan.
Semacam feromon?
Kau tahu dengan baik.
Ngengat buah persik.
Itu musuh terbesar pemilik perkebunan buah persik.
Kugunakan feromon yang lebih kuat daripada mereka
untuk mengganggu perkawinan mereka dan mencegah mereka bertelur.
Dari sudut pandang mereka, itu pasti hal yang membuat frustrasi.
Belakangan ini, aku mulai memahami perasaan mereka.
Mereka ingin bermesraan, tapi malah diganggu.
Hei, kau terkena sengatan panas? Ada apa denganmu?
Aku hanya mengatakan yang kupikirkan.
Tak pernah terpikir sebelumnya, tapi baru-baru ini terpikir.
Aku pergi.
Hei!
Apa pekerjaannya sangat berat? Kenapa dia begitu?
Panas sekali.
KLINIK HEWAN HAN DEOK-JIN
Besok aku harus mengunjungi lumbung ternak kota Hwajeong.
Kebetulan mereka tadi menelepon.
Tunggu.
Ini kopiku.
Astaga.
Ada apa denganku?
Kau bilang kau tak minum kopi instan.
Rupanya kau minum juga, ya?
Kau benar. Hari ini aku ingin yang manis-manis.
Apa kau sedang punya masalah dengan wanita?
Kau terlihat begitu.
Tidak ada.
- Ia tak ke sini? - Siapa?
Nurungji.
Ia tak kemari. Apa ia menghilang?
Saat aku pulang untuk memberinya makan,
ia tak ada. Hanya ada talinya.
Beberapa hari lalu, kau bilang ia beradaptasi dengan baik.
Sudah kau cari di sekitar?
Ya. Apa ia akan kembali?
Bagaimana jika tidak?
Bagaimana kalau ia tertangkap saat berburu ayam lagi?
Sial.
Tenangkan dirimu dahulu.
Kalau ia menghilang saat kau bekerja, ia tak akan pergi jauh.
Kita cari lagi di sekitar rumahmu.
Untuk berkeliling di gang perdesaan, lebih baik menggunakan sepeda.
Baiklah.
Telepon aku jika ada masalah. Aku akan berkeliling.
Ya, aku mengerti.
Astaga.
Nurungji.
Nurungji.
Nurungji.
Nurungji.
Nurungji.
Nurungji.
Nurungji.
Nurungji.
- Nurungji. - Nurungji.
Nurungji.
Aku akan ke sebelah sini. Carilah di sebelah sana.
Baiklah.
Nurungji.
Nurungji.
Nurungji.
Nurungji.
Nurungji.
Nurungji.
Kau pergi ke mana?
Nurungji.
Nurungji.
Carilah ke sana.
- Ya. - Kuhubungi kalau ketemu.
Nurungji.
Nurungji.
Bibi, apa kau melihat anak anjing yang sebesar ini?
Tidak.
Baiklah.
Nurungji.
- Nurungji. - Nurungji.
Nurungji!
Hei, Nurungji!
Nurungji. Hei, tunggu.
Nurungji! Hei, tunggu aku!
Tunggu!
Nurungji!
Kau seorang ayah?
Boksil!
Boksil?
Anjing pintar.
Tidak. Lihat kemari, Boksil.
Tidak!
Bagaimana ini?
Aku tak melihat lensa kontakmu.
Jika bisa melihatnya, itu berarti kau seekor elang.
Ayo berhenti mencari.
Walaupun ketemu, itu tak bisa langsung digunakan.
Sudah saatnya membeli baru.
Tapi…
Bagaimana dengan lukamu? Apa sakit sekali?
Sepertinya tergores saat aku jatuh.
- Ini tak seberapa. - Tak seberapa apanya?
Tidak bisa. Ayo kita turun dahulu.
Silakan ke rumah sakit atau kau rawat sendiri,
tapi kita turun dahulu.
Pegang ini dan ikuti aku.
Boksil datang ke desa kami pada musim semi tahun ini.
Bibi Gang-hwa melihatnya berkeliaran di jalanan, lalu memeliharanya.
Kukira ia sudah beradaptasi dengan rumahnya, tapi ternyata belum,
melihat ia melahirkan diam-diam di tempat itu.
Omong-omong,
sejak kapan mereka punya hubungan seperti itu?
Masa kehamilan anjing sekitar dua bulan lebih,
jadi, setidaknya sebelum itu, ya?
Sungguh?
Astaga.
Bibi Gang-hwa bilang ada yang aneh
karena dia menemukan bulu di kotoran Boksil.
Hei, Nurungji.
Ternyata kau tak memakan ayam-ayam itu sendirian, ya?
Kau loyal juga rupanya.
Kau tahu segala hal, Petugas Ahn.
Pasti menurutmu aku sangat suka ikut campur, ya?
Aku tak menggunakan kata seperti itu.
Tapi aku bisa mendengarmu.
Ini sangat menarik.
Walau ini desa kecil,
bagaimana kau bisa tahu semuanya
dan begitu perhatian?
Bagaimanapun, mereka orang lain.
Mereka kuanggap keluarga.
Aku sungguh berpikir bahwa semua orang di desa ini adalah keluargaku.
Suatu hari, aku tiba-tiba menjadi anak kecil yang tinggal dengan neneknya.
Bagaimanapun, aku berutang banyak kepada mereka, jadi, aku harus membalas budi.
Tak ada orang yang tumbuh sendiri, 'kan?
Omong-omong, apa anak-anak anjing itu akan baik-baik saja di sana?
Boksil merawat mereka dengan baik.
Mereka gemuk dan bulunya bersih.
Namun, tinggal di tempat ini berbahaya, jadi, lebih baik mereka dipindahkan.
Omong-omong,
kau yakin tak bisa melihat jelas?
Ya.
Syukurlah.
Aku berkeringat dan tak menggunakan riasan.
Aku juga.
Tidak. Kau lebih parah.
Di sini juga.
Ayo.
Ayo, Nurungji.
Halo?
Ya.
Baiklah. Aku segera ke sana.
Ada apa? Ada yang darurat?
Itu dari Ketua Asosiasi Wanita.
Sapi mereka kesulitan melahirkan.
Begitu.
Kalau begitu, kita memerlukan katrol untuk persalinan.
Ada katrol yang bisa digunakan bersama. Di mana, ya?
Tunggu. Bukan itu masalahnya sekarang.
Kau tak bisa melihat jelas. Apa tak masalah?
Bagaimana ini?
Kenapa ini harus terjadi saat suamiku tak ada?
Dia menangis terus sejak tadi.
Jangan terlalu cemas. Aku akan coba merabanya dahulu.
Ini persalinan pertamanya, jadi, pasti berat.
Di mana, ya?
Ini dia.
Astaga. Bagaimana?
Detak jantung bayinya melemah.
- Induknya juga bisa dalam bahaya. - Lalu bagaimana?
Ada katrol untuk persalinan?
Tidak ada di sini. Apa sebaiknya kuambil di balai desa?
Tidak, tak ada waktu.
Aku perlu tali panjang yang kuat.
Tali panjang, baiklah.
Bagaimana?
Bayinya tersangkut di tulang panggul. Harus segera dikeluarkan.
Ini kacamatamu.
Apa ia akan baik-baik saja?
Tidak bisa begini. Tolong pegang ini.
Aku?
Tunggu.
Bisa pegang sebelah sini?
- Baiklah. Satu, dua, tiga. - Dua, tiga.
Tarik.
- Satu, dua, tiga. - Tiga.
- Satu, dua, tiga. - Dua, tiga.
Sedikit lagi!
- Keluar! - Baiklah. Ayo.
- Satu, dua, tiga. - Dua, tiga.
- Sudah keluar! - Sudah keluar!
- Keluar! - Keluar!
- Berhasil! - Sudah keluar!
Astaga. Sudah keluar.
Astaga.
Mari.
- Mari. - Bagaimana ini?
- Tolong seka kepalanya. - Baiklah.
Astaga.
Astaga. Apa ini?
Kau yakin ini kali pertamamu?
Kau benar.
Persalinan yang sulit tanpa katrol.
Ja-young, kau juga sudah bekerja keras mengantarkan kacamata
dan membantu persalinannya.
Kalian berdua harus makan malam di sini. Mengerti?
Kuhabisi kalian kalau menolak.
Tunggu. Kau perlu air panas, 'kan?
Aku segera kembali.
Kau sungguh luar biasa.
Aku tak tahu banyak,
tapi aku tahu bahwa menangani hewan besar seperti ini
adalah hal yang jauh berbeda
dengan hewan kecil, seperti kucing dan anjing.
Jika tadi aku ada di posisimu, aku tak akan bisa melakukan apa-apa
dan hanya gemetaran.
Benar-benar keren. Kuakui itu.
Tadi aku sangat takut.
Pujianmu membuatku lebih tenang.
Kerja bagus, sungguh.
Kau tak bisa membersihkannya karena tanganmu kotor, ya?
Berikan kepadaku.
Silakan.
Sudah.
Astaga, cantiknya. Ya ampun.
Ada yang ingin kukatakan kepadamu
Kenapa aku tak punya keberanian
Aku ingin memberitahumu Tapi aku tak percaya diri
Jadi, hanya jantungku Yang berdegup kencang
Orang bodoh
Aku pasti orang bodoh
Kau sudah datang. Duduklah di sana.
Banyak makanan enak. Sayang jika hanya kita yang makan.
Astaga. Awas kepalamu.
Aku hanya memanggil beberapa orang yang tinggal di dekat sini.
Orang bodoh
- Sayang. - Ya.
- Ini Dokter Han. - Dokter.
Duduklah.
Kau bekerja keras hari ini. Terimalah segelas minuman.
Astaga.
Kemarilah!
- Astaga. - Baiklah.
Ya ampun.
Baju itu terlihat berbeda.
Kugunakan yang dia berikan.
- Apa aneh? - Tidak.
Lukamu baik-baik saja?
Tidak apa-apa.
Tetap saja, rawatlah dengan baik. Tangan itu melakukan pekerjaan penting.
Ya. Hari ini aku melakukan pekerjaan penting.
Ketua Asosiasi Pemuda sudah datang!
- Kau datang. - Makan yang banyak!
Hai.
- Kudengar ada peristiwa penting. - Ya, pekerjaanku memang penting.
Kau mendapat banyak pesanan?
Tentu. Itu buah persik dari kebunku.
- Mendekatlah. - Kenapa?
- Kau akan digigit nyamuk. - Nyamuk?
Silakan, ini dagingnya.
Daging yang enak bagaimanapun kau membakarnya.
Isi perutmu sampai penuh, ya, Dokter?
Soal itu…
Aku tak makan daging, jadi, tak perlu membawakannya untukku.
Kau tak makan daging?
Kau bercanda? Apa kau tak suka teksturnya?
Kau tak makan daging? Lalu kau makan apa?
Ayolah.
Kudengar tadi kau mengerahkan tenaga saat mengeluarkan anak sapinya.
Sepertinya kau makan sesuatu yang bagus.
Astaga. Apa itu? Jika ada produk bagus, berbagilah.
Astaga, lihat bagaimana Ketua Asosiasi Pemuda makan.
Itu baru benar, 'kan?
Pria Huidong yang sesungguhnya bahkan akan mengunyah karet.
Suapi dia. Suapi dia semuanya.
Kalau kau mau mengunyah karet, ada yang tak beres denganmu.
Tentu saja. Pria yang sesungguhnya akan memakan apa pun.
Tak boleh memilih-milih makanan.
Kalau semua pria makan seperti Sang-hyeon,
memelihara sapi tak akan sia-sia.
Astaga, kenapa kalian begitu?
Kalian membuatnya malu.
Baiklah. Ayo kita minum.
Astaga.
Jika dia tak mau makan, kita beruntung. Jumlahnya tak cukup.
- Benar. - Dengar itu.
Ja-young sudah bekerja keras, sungguh.
- Makanlah. - Baiklah. Tunggu.
- Apa? - Tebak apa ini!
Astaga, Bu Ketua!
- Dia membawa miras terbaiknya. - Apa itu?
- Aku senang sekali… - Itu miras bush clover spesial buatannya.
Hari ini ada tamu istimewa…
Terbuat dari bush clover, rasberi, dan bahan-bahan lainnya.
Bahan lain dan perbandingannya masih dirahasiakan.
Kita minum masing-masing dua gelas, ya?
Terutama para pria yang tak memerlukan khasiatnya.
- Tolong dioper. - Rasanya memang enak,
tapi kudengar reaksinya sangat kuat.
Aku baru pernah mencicipi seteguk.
Hei, apa itu benar?
Kau bertanya khasiat miras itu kepadaku?
Karena aku tak tahu.
Katanya itu bagus untuk pria.
Ternyata kau sadar aku pria.
Baiklah.
Aku datang.
Kau mau segelas, Sang-hyeon?
Ya ampun.
Ja-young, mau segelas?
Tidak. Aku bertukar jadwal jaga malam dengan Sersan Yoon,
jadi, aku harus pergi.
Astaga, sayang sekali.
Bagaimana, Dokter? Mau segelas?
Aku juga tak usah.
Bagus. Ini lebih kuat daripada dugaanmu.
Kalau begitu, segelas saja.
Ya. Berikan kepadaku.
Lebih baik tak kau minum.
Silakan.
Kudengar miras ini berkhasiat baik,
jadi, aku penasaran.
Sang-hyeon, kau mau segelas lagi?
Segelas lagi untuk Dokter Han juga.
Baiklah, mereka sudah minum miras.
Ja-young tidak minum, jadi, apa yang harus dia lakukan, ya?
Hari istimewa seperti ini tak boleh dibiarkan berlalu begitu saja.
Penyanyi kebanggaan Huidong!
Mari kita dengarkan nyanyian Ahn Ja-young!
- Ahn Ja-young! - Ahn Ja-young!
Setelah sekian lama, mari kunyanyikan sebuah lagu.
Tepuk tangan!
Satu, dua, tiga, empat.
Siapa kau?
Kenapa kau mencuri hatiku?
Karena dirimu
Aku menangis
Karena dirimu
Aku tertawa
Siapa kau?
Kenapa kau menyiksa hatiku?
Bayangan siapa yang penuh kerinduan Di dalam cermin?
Tataplah mataku, dan kau akan melihat
Kenapa aku ingin percaya padamu?
Kenapa aku mencintaimu?
Siapa kau?
Kenapa kau mencuri hatiku?
Orang yang mencuri hatiku adalah Ahn Ja-young!
Baiklah, tokoh utama hari ini, Dokter Han yang datang dari Seoul!
Aku pamit dahulu.
- Apa? - Kenapa?
- Apa? - Kau mau pergi?
- Dia seharusnya bernyanyi. - Kenapa?
- Kenapa dia merusak suasana? - Dia mau ke mana?
Apa kau bilang?
Astaga.
Silakan nikmati makanan kalian.
Tidak seru.
- Aku ikut. - Apa?
Aku juga harus pergi karena bertukar jadwal jaga malam.
Kita searah.
- Aku juga… - Sang-hyeon, gelasku kosong!
Cepat isi gelasku.
- Kemarilah. - Kau sedang apa?
Cepatlah!
- Ya. - Kau sedang apa?
Penuhi gelas mereka dengan rajin.
- Cepat kemari dan isi gelasku. - Aku pergi, ya.
Ayo.
Hati-hati. Kau bisa terjatuh ke sawah.
Baiklah.
- Kau minum banyak? - Apa?
Kau tak terlihat baik-baik saja.
Kau terlihat tak nyaman.
Tidak.
Jika ada waktu, aku akan membawa anak-anak anjing itu turun besok.
Kita tak mungkin membiarkan mereka di sana.
Mereka boleh langsung kubawa ke klinik, 'kan?
- Sendirian? - Ya.
Mungkin sulit, ya?
Kalau begitu,
kau mau ikut?
Kurasa lebih baik kau pergi dengan Ketua Asosiasi Pemuda.
Besok jadwalku sudah penuh.
Aku tidak berpikir panjang.
Lebih baik menghindari hal yang membuat salah paham, ya.
Kau baik-baik saja?
Ya.
Kau tak terluka, 'kan?
Sepedanya…
- Tolong sinari tanahnya. - Ya.
Maafkan aku.
Padahal aku menyuruhmu berhati-hati. Maafkan aku.
Tak apa-apa. Itu karena di sini gelap.
Mungkin aku harus mengajukan keluhan agar jalanan ini diberi lampu
dan diaspal. Ternyata tak cukup menggunakan senter.
Coba lihat apa rantainya baik-baik saja.
Jangan sentuh itu. Nanti tanganmu kotor.
Akan kuperiksa setelah dicuci.
Sungguh tak apa-apa. Berhentilah merasa bersalah.
Tapi…
Kalian sedang apa?
Kenapa kau ada di sini?
Acaranya sudah selesai?
Kalian pergi sejak tadi, tapi masih di sini.
Kau pasti tidak kuat minum-minum.
Kau bahkan terjatuh ke sawah.
Kau pasti sangat mengkhawatirkan sesuatu.
Kau bahkan mengikuti kami.
Dia pergi bersama orang mabuk yang ingin tahu khasiat miras bush clover.
Tentu saja aku cemas.
Isi kepala semua pria sama saja, bukan?
Kurasa kau tahu maksudku.
Hei, kau mabuk?
Kenapa kau menuduhnya? Dia tak melakukan apa-apa.
Aku tak minum banyak.
Karena Ketua Asosiasi Pemuda sudah datang, aku pamit dahulu.
Kau tak apa-apa? Sepedamu seperti itu.
Lampunya baik-baik saja.
Dia bilang dia berbeda dengan pria lain yang berpikiran kotor,
jadi, anggap saja kau kuserahkan kepada teman sesama jenis.
Aku bisa pergi dengan tenang.
Bisa minggir sebentar?
Ahn Ja-young. Aku juga sama.
Apa?
Aku sama saja dengan pria lain di luar sana.
Saat melihatmu, aku ingin memegangmu. Aku ingin memelukmu.
Pikiranku sama kelamnya.
Aku menyukaimu,
Ahn Ja-young.
Jadi,
jangan merasa aman bersamaku.
- Petugas Ahn tadi mampir. - Apa dia sendirian?
Dia tak bersama Ketua Asosiasi Pemuda atau orang lain?
Apa mereka berpacaran?
Musim panas terasa panjang, ya.
Benar juga. Kau harus kembali ke Seoul.
Jangan beri dia harapan jika kau akan segera pergi.
Dokter, apa Ja-young melakukan kesalahan?
Kenapa melakukan hal yang tak diminta dan membuatku berutang kepadamu?
Dengar, Pak Han Ji-yul.
Petugas Ahn! Kumohon bangunlah!
Terjemahan subtitle oleh Fauziyyah Nur Fathin
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.