Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
SERIAL NETFLIX
Terdengar, 'kan?
Warga Huidong, aku kepala desa.
Pagi ini panas sekali.
Hati-hati terhadap sengatan panas.
Kemarin,
cucu Direktur Han dari Klinik Hewan Han Deok-jin…
Kau?
Kalau kalian berpapasan dengannya di desa,
sapalah dia dengan hangat.
Ya, kalian tahu…
Tepuklah punggungnya dan hal sejenisnya.
Sambutlah dia dengan ceria
agar Huidong menjadi desa yang menyenangkan untuk kita semua.
Semoga hari kalian menyenangkan.
NAMAKU HAN JI-YUL. AKU AKAN KEMBALI. KITA JADI TEMAN RAHASIA LAGI, YA.
Kau bahkan tak mengingatku. Teman rahasia apanya?
Atau kau ingin ini tetap menjadi rahasia selamanya?
Kuulangi sekali lagi.
Hei!
- Apa? Kenapa berteriak? - Itu sudah kau ulang tiga kali!
Begitu, ya? Baiklah.
Apa aku harus membeli kasur?
Kurasa…
tak ada tempat yang menjual kopi.
Pasti tak ada pusat kebugaran juga.
PAKAIAN OLAHRAGA JI-YUL
Ternyata ini masih ada.
Astaga.
Padahal sudah kubilang jangan disimpan saja.
Itu cucu Direktur Han yang dikatakan Kepala Desa?
Kau benar.
Kau cucu Direktur Han, 'kan?
Putih sekali. Pasti karena kau dari Seoul.
Mirip denganmu saat masih muda.
Benar. Selamat datang.
Cepatlah kemari.
Ini cucu Direktur Han yang datang dari Seoul.
- Tampan sekali. - Astaga. Kau sangat tampan!
- Bagaimana kau bisa begitu tampan? - Kau punya pacar?
- Mau kucarikan kenalan? - Kau akan di sini berapa lama?
Tinggal yang lama, ya.
Astaga, kau masih muda.
Ternyata dia memang tampan.
Dia orang Seoul, seperti kakeknya.
Kenapa kau memukul tembok yang tak bersalah?
Hei, kenapa kau memukul tembok yang tak bersalah itu?
Apa kau menyepelekan desa kami karena terlihat tua?
Kenapa melampiaskan amarahmu pada batu?
Emosinya meledak-ledak karena dia baru saja bertengkar hebat.
Jangan dipikirkan. Pergilah.
Astaga! Aku kesal sekali!
"Desa tua yang dipenuhi orang tua"?
Sial. Kau kira desamu lebih berjiwa muda karena ada universitas?
Baiklah, Park Mal-geum,
Ketua Asosiasi Wanita Majeong. Lihat saja nanti.
Kita selesaikan ini!
Kalau satu lawan satu, kita pasti menang, 'kan?
Tentu saja.
Turunkan itu. Berat.
Kau sedang berolahraga pagi?
- Ya. - Baiklah.
Jadi, kau memihak kami atau mereka?
Apa?
Apa kau punya hubungan dengan seseorang di Majeong?
Majeong?
Kau ada di pihak kami.
Tidak juga.
Kakek dan nenekmu tinggal di sini.
Kau berolahraga di sini. Itu artinya, kau orang sini, 'kan?
Aku harus segera mengumpulkan Asosiasi Pemuda.
Kita tunjukkan kekuatan darah muda desa kita.
Bagaimana?
Silakan, teruslah berlari.
Jangan lampiaskan amarahmu pada dinding.
- Kau ada di pihak kami. - Ya.
- Ayo. - Baik.
Kau mau kentang?
Kau siapa?
Halo.
Aku murid kelas dua di SD Huidong. Namaku Kim Seon-dong.
Rumahku di seberang.
Bolaku jatuh melewati dinding rumahmu.
- Kalau begitu, aku permisi. - Tunggu.
Apa kau membuka pagarnya?
Aku yakin sudah menutupnya. Bagaimana bisa masuk?
Kumasukkan tanganku ke celah pagar, lalu kugeser gerendelnya.
- Siapa namamu? - Kim Seon-dong.
Baiklah, Seon-dong.
Menurut pendapatku,
ada cara yang lebih baik, seperti menekan bel atau mengetuk pagar.
Kenapa kau harus membukanya sendiri?
Seon-dong.
Rupanya kau ada di sini. Bolanya masuk lagi?
- Kalau sudah tertemu, ayo kita pergi. - Tunggu.
Seon-dong. Karena kita bertetangga,
ini akan sering terjadi, jadi, aku ingin memberitahumu.
Kalau bolanya melewati dinding lagi, tekan bel atau ketuk pagarnya.
Nanti kuambilkan bolanya untukmu.
Masuk rumah orang sembarangan karena kau tahu cara membuka pagarnya
bisa menjadi hal yang lebih berbahaya daripada yang kau kira.
Kau mengerti?
Tidak. Aku tidak memarahimu.
Ini balasan untuk kemarin? Dia anak kecil.
Bukan begitu.
Kau boleh bermain bola di depan saat Direktur Han sudah kembali.
Kim Seon-dong, pamitlah kepadanya.
Aku sudah membuat kesalahan besar.
Sampai jumpa.
Bagus.
Tunggu.
Nenek bilang perlu keahlian khusus untuk mengatakan hal yang benar dengan kejam.
Sepertinya dia punya keahlian itu.
Kau benar. Dia sangat ahli.
Dia tak setampan yang dikatakan orang-orang.
- Gayanya juga biasa saja. - Sudah kubilang.
Dia hanya punya dua mata, satu hidung, dan satu mulut.
Kau bilang begitu? Kapan?
Ayo.
KLINIK HEWAN HAN DEOK-JIN
Hei. Kau baik-baik saja?
Astaga. Ini belum waktunya buka.
Rajin itu genetik, ya.
Kalau begini, kau membuat rekan kerjamu lelah.
Aku datang lebih awal karena ini hari pertama. Santai saja.
Aku tak bisa santai.
Pak Yang meneleponku dan menyuruhku datang sejak tadi.
Apa ada janji yang dijadwalkan hari ini?
Tunggu sebentar.
Kita harus minum kopi sebelum mulai bekerja.
Kopi harus diminum dengan berkelas.
Apa hanya ini kopi yang kau punya di sini?
Ya ampun, kau takut kopinya kurang?
Lihatlah di sana.
Selama bekerja di sini, aku tak pernah kekurangan kopi.
Jangan khawatir, ya?
Apa aku harus membeli mesin kopi?
- Maaf? - Apa?
Tidak.
Jadi, jadwal apa yang tadi kau katakan?
Ya, sampai siang.
VAKSINASI PENYAKIT KAKI DAN MULUT BABI PAK YANG
Halo, Pak Yang.
Vaksinasinya hari ini, ya?
Mana mungkin aku lupa?
Aku ingat,
tapi kau tahu yang datang hari ini adalah cucu Direktur Han, 'kan?
Karena dia masih muda, jadi, aku mungkin tak perlu ke sana.
Kau benar. Babinya banyak.
Tentu saja. Babi tak sama dengan anjing.
Namun, dia bisa melakukannya sendiri, jadi, apa aku harus ke sana?
Menurutmu pendapatmu, sebetulnya dia mau ke sana atau tidak?
Baiklah.
- Entahlah. - Ya.
- Apa aku saja yang ke sana? - Apa?
Tidak usah. Biar aku saja.
Aku berangkat ke tempat Pak Yang, ya.
Nanti kubawakan kopi.
Induk babi harus divaksin tiga atau empat pekan sebelum melahirkan,
dan anak-anak betinanya divaksin setelah usia dua dan empat pekan.
Lalu, babi jantan yang tak dikebiri…
Halo?
Hei, kau baik-baik saja?
Mana mungkin aku baik-baik saja?
Aku hanya mendengar soal hewan besar saat kuliah.
Aku sudah curiga kenapa muatannya besar sekali.
Pemiliknya pasti sudah memisahkan hewan yang akan divaksin.
Kau sudah biasa menangani vaksinasi, jadi, kau pasti bisa.
Kau bisa belajar selagi di sana, jadi, lakukan saja sebisanya hari ini.
Kau tidak mau direpotkan, 'kan?
Ya, benar. Itu dia. Sampai jumpa.
Yang benar saja.
Astaga, kau mirip sekali dengan kakekmu.
Seperti melihatnya langsung. Astaga.
Perjalanannya sulit, ya?
Tidak juga.
Kau sudah datang jauh-jauh.
Aku sering mendengarmu dari kakekmu.
Kau tinggi, juga tampan.
Kakekmu pasti bangga.
Jadi, babi bagian ini dan ini yang divaksinasi hari ini.
Tidak banyak, bukan?
Astaga.
Kalian belum berkenalan, 'kan?
Dia dokter hewan dari Seoul.
Dan ini adalah Petugas Ahn.
Dia polisi muda baik yang selalu membantu vaksinasi.
Ada banyak hewan di sini, jadi, prosesnya makan waktu seharian.
Jadi, aku meminta bantuannya.
Aku kini sudah tidak terkejut.
Apa memvaksin hewan juga tanggung jawab polisi?
Petugas Ahn bukan polisi biasa, 'kan?
- Kau sudah siap? - Tentu saja.
Baiklah.
Baiklah, ayo kita mulai.
Kau tak lupa cara memvaksin hewan, 'kan?
Aku bukan orang yang pelupa dan sering kehilangan barang.
Terutama dengan vaksinasi dasar seperti ini.
Begitu, ya?
Namun, memvaksin hewan besar itu belum kulakukan sejak praktikum kuliah,
jadi, aku perlu ekstra hati-hati…
Kenapa aku harus menjelaskannya kepada orang awam sepertimu, Petugas Ahn?
Kenapa, ya?
Bukankah kau sudah minta maaf kemarin?
Benarkah?
Berapa kali pun kupikirkan, kurasa aku tak melakukan kesalahan.
Peluangku melakukan kesalahan sangat rendah.
Apa kau ditipu oleh seseorang yang mirip denganku?
Tadi kau seperti itu, kemarin pun…
- Ya. - Apa?
Aku pernah ditipu orang yang berpenampilan seperti ini,
tapi rupanya dia tak ingat soal itu.
Babinya banyak sekali.
Jadi, orang awam sepertiku bisa menaruh obatnya,
lalu ahli sepertimu menyuntiknya.
Itu akan lebih cepat.
Mari kita selesaikan.
- Apa yang kau lakukan? Cepat! - Tidak.
- Tidak, kemari! - Astaga.
Hei, tunggu, kemari!
- Ayolah. - Di sini.
Ayo.
Tidak.
Ayo. Mundur.
Ini dia.
Ayo. Bagus.
Suntik yang ini.
Melewati pagar? Baiklah.
- Bagus. - Ini juga.
Tahan.
Anak pintar.
- Sebelah sini! - Baik.
Bagus.
Astaga.
Astaga, sudah ada masalah lagi.
Kubilang hati-hati dengan kotorannya, kau tak dengar?
Bukan soal kotoran.
Ada hal lain yang harus kuwaspadai.
Kau tak terluka, 'kan?
Kau bisa berdiri, berarti kau baik-baik saja.
Pekerjaan semacam ini butuh kekuatan otot yang besar.
Aku paham kau orang kota, tapi jika kau tak bugar, itu masalah.
Pria itu harus kuat!
Tidak. Tunggu saja. Biar kubawakan sarung tangan baru.
Astaga.
Aku tahu cara jatuh yang benar, kau tak perlu menahanku.
Maafkan aku.
Aku terkejut kau tiba-tiba memegangiku, jadi…
Itu kebiasaan kerja.
Di mana babinya? Ke mana kalian?
Kita mulai dengan yang ini?
Astaga.
Berikan kepadaku.
Astaga, kalian sudah bekerja keras.
Ini untuk kalian.
Terima kasih.
Aku yang harus berterima kasih.
Kau mau es kopi?
Tidak perlu. Aku berniat membelinya setelah ini.
Begitu, ya. Kau mau ke kafe?
Ya.
Kalau begitu, aku permisi.
Hubungi aku lagi lain kali.
Astaga, terima kasih sekali lagi.
- Hati-hati. - Baik.
Kalau kau, Pak Dokter? Kau mau kopi?
Tidak usah.
- Ya. - Baiklah.
Tunggu.
Kau mau kopi apa?
- Espreso. - Baiklah.
- Hei. - Hai.
Kau dokter hewan dari Seoul itu, 'kan?
Cucu Direktur Han.
Benar.
Aku ketua Asosiasi Pemuda Huidong
yang mengelola kebun persik.
Aku Lee Sang-hyeon.
- Aku Han Ji-yul. - Salam kenal.
Aku melihatmu sebentar kemarin. Di mobil polisi.
Ini kopimu.
KEBUN PERSIK MILIKNYA
Itu aku.
Hei, kemari dan lihatlah.
Jika kau datang kemarin,
kau pasti paling sering berurusan dengannya, 'kan?
Ya, kurang lebih.
Mau kuberi tahu cerita seram?
Ke depannya, dia masih akan menjadi orang yang paling sering berurusan denganmu.
Itu gawat.
Sepertinya dia tak menyukai wajahku.
Benarkah?
Hei, kapan kau bilang uangnya diambil?
Semalam masih ada, tapi tadi pagi sudah tidak ada.
Artinya pelakunya tahu
ada uang di dalamnya walau digembok. Pasti gemboknya dibobol.
Pasti pelakunya orang daerah sini.
Itu tidak masuk akal. Sungguh ada pencuri di desa ini?
Banyak orang tua di sini.
Kau benar.
Kau tahu berapa isinya?
Saat kuperiksa kemarin, ada sekitar 30.000 won.
Aku tak menghitung secara detail,
tapi kira-kira sejumlah itu.
Terlalu sedikit untuk dijadikan target, 'kan?
Kudengar kau dicurigai begitu tiba di sini.
- Ya. - Astaga, kau pemarah sekali.
Hei, apa dia terlihat seperti pencuri?
Namun, pencuri tak akan terlihat seperti pencuri.
Itu karena dia mencurigakan.
Tidak apa-apa. Aku sudah dapat banyak permintaan maaf.
Aku juga tahu Petugas Ahn tak menyukai wajahku.
Tunggu. Biar kulihat.
- Pinjam kartu kreditmu. - Apa?
Aduh, sakit.
Kau sudah gila?
Hei, kupikir itu tanganku.
Ada apa denganmu? Itu menjijikkan.
Menjijikkan bagaimana? Aku membuatnya steril.
Terima kasih.
Karena ada padamu, pakai saja untuk membayar kopi.
Tempat ini dibuat untuk penduduk desa yang lewat
dan bersantai untuk minum, jadi, tidak ada pembaca kartu.
Aku bukan orang sini, jadi, aku harus bayar.
Tidak perlu seperti itu…
Kau belum hafal daerah sini, 'kan?
Jika kau butuh pemandu…
Tidak usah.
Kau mau buah persik?
- Rasanya sangat manis… - Tidak usah.
Sampai jumpa.
Astaga, dia sombong sekali.
Dia marah karena kartunya kuambil?
Kurasa dia memang seperti itu.
Dia tak mau berurusan dengan orang desa, ya?
Agak kurang ajar, tapi dia tidak akan lama di sini.
- Kau mau kopi? - Tentu.
"Kebun Persik Miliknya".
Rasanya seenak itu?
Aku hanya minum kopi saset, jadi, tidak tahu, tapi kudengar enak.
Bahkan desa tetangga pun menyukainya.
Dari mana dia dapat biji kopinya?
Entah dari mana biji kopinya,
tapi Sang-hyeon menyangrainya sendiri. Dia adalah ketua Asosiasi Pemuda.
Karena kau dari sana, kau pasti bertemu dengannya.
Teman sekelas Ja-young.
Dia memang serbabisa.
Dia sangat baik dan wajahnya tampan, 'kan?
Ya.
Omong-omong soal wajah, wajahku lumayan tampan juga, 'kan?
Apa wajahku seperti pencuri yang tidak ingat pernah melakukan itu?
Kenapa? Ada yang bilang wajahmu seperti kriminal?
Bukan kriminal, tapi…
Memang siapa Petugas Ahn?
Dia ada di mana-mana di desa ini.
Maksudmu Ja-young?
Pekerjaan resminya seorang polisi,
tapi dia seperti ujung tombak keluhan masyarakat.
Dia lahir dan besar di sini, jadi, dia sangat menyayangi kampung halamannya.
Sangat sulit menemukan anak muda sepertinya di zaman sekarang.
Dia seharusnya terjun ke politik.
Jadi, dia sangat kepo?
Jika kau melihatnya seperti itu, kesannya menjadi sangat berbeda.
Dia penuh kehangatan,
- dan secara ikhlas menawarkan bantuan… - Justru itu.
Dia suka ikut campur.
Apa semua orang Seoul sepertimu?
Halo.
Ya. Baiklah.
Kau harus ke sana.
Tapi ini jam makan siang.
Dokter hewan desa macam apa yang rutin istirahat makan siang?
Ada bayi kambing mengamuk karena kolik.
Jalan!
Lingkungan kerja yang berat.
Sebaiknya aku membeli truk. Astaga.
Kau tidak melihat wajahnya? Tidak sedikit pun?
Ya.
Aku hanya melihat seseorang yang berbadan tinggi berlari.
Jadi, dia tinggi…
Bagaimana dengan rambutnya? Panjang atau pendek? Warnanya apa?
Entah warnanya apa.
Dia memakai topi berwarna merah.
Sepertinya rambutnya tidak panjang.
Cucuku mendapat uang itu dari bekerja paruh waktu.
Dia menghadiahkan uang itu kepadaku.
Astaga, aku harus bagaimana?
Petugas Ahn, tolong tangkap pelakunya.
Jangan khawatir, Nek. Aku berjanji akan menangkapnya.
Petugas Ahn.
Nenek itu sudah pulang dengan selamat?
Ya.
Kau yakin dia tidak di sawah?
Ya, aku yakin.
Kurasa dia ingin uang yang dicuri itu kembali.
Ada apa ini?
Jumlah uangnya tidak seberapa,
aku berpikir mungkin ini ulah pemuda nakal.
Benar.
Tak banyak anak SMP atau SMA yang tahu seluk-beluk desa ini.
Benar juga. Topi berwarna merah.
- Sersan Yoon. - Ya?
Kembalilah lebih dahulu. Ada yang harus kuperiksa lagi.
- Begitu? Baiklah. - Ya.
- Sampai jumpa. - Ya.
Ja-young!
Ja-young!
Kemari, cepat!
- Seon-dong. - Cepat!
- Apa? - Ayo.
Hei, kemari.
Ja-young, kau melihat pencurinya?
Aku takut.
Ada aku di sini. Kau tidak perlu takut.
Berkatmu, kita akan menangkap penjahat.
- Kerja bagus. - Tapi aku takut.
Tunggu. Kau menikmati ini, ya?
Jangan begitu.
Kau akan masuk sendirian?
Paman Geun-mo akan segera datang.
Jangan cemas, kau pulang saja.
Cepatlah.
Cepat, berdiri.
Jangan sampai terluka.
Tentu. Pergilah.
Pergi.
Pergi!
Kali ini kau?
Jadi, rumah ini bisa dimasuki siapa saja
dan keluar masuk seenaknya?
Tidak, bukan begitu.
Kubilang, kalau ada yang masuk ke sana, biar aku yang ambil…
Siapa kau?
Dia pelakunya? Berdiri!
Kau…
temannya Ju-ho, 'kan?
Keluarkan dia dahulu. Berdiri. Ayo.
Kau tidak apa-apa?
Jika aku menggapai tanganmu,
berarti aku tak belajar dari kesalahan.
Ternyata kau memang begitu.
Aku setuju.
Kenapa kau begitu membenci desa ini?
Aku tak pernah bilang membencinya.
Tapi setelah kupikir-pikir, itu benar. Aku memang membencinya.
Sampai jumpa.
Apa kau ingat? Teman rahasiaku.
Dokter hewan itu?
Dia bahkan tak mengenaliku.
Tapi aku ingat semuanya.
- Kami memang sedekat itu. - Hei.
Seseorang yang terus membebani pikiranmu dan sering membuatmu kesal.
Jika dia tak merasakan apa pun saat melihat gadis seperti Ja-young,
berarti dia bukan pria sejati, 'kan?
Terjemahan subtitle oleh Fauziyyah Nur Fathin
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.