All language subtitles for Assalamualaikum.Beijing.2.Lost.in.Ningxia.2025.1080p.NF.WEB-DL.Sub.Eng.Ind

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional) Download
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish Download
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Rani.

Terima kasih.

Hei!

Hei!

Arif?

Arif?

Arif?

Arif?

Aisha?

Bangun, Aisha.

- Bangun. - Kenapa kau membangunkanku?

Kau terlihat sangat mengantuk.

- Jangan merekam. Hapus. - Ya.

Kembalilah tidur

agar mimpimu berlanjut.

Tapi mengapa mimpiku tidak terasa enak?

Apakah ini pertanda sesuatu?

Itu pertanda bahwa kau sangat merindukan Arif.

Tenanglah. Kita akan tiba dalam 30 menit.

Kau bisa menggunakan waktumu bersamanya.

Kita tiba di Tiongkok.

Ayo swafoto, Aisha.

Oke.

Evy, ayo swafoto. Jangan cemberut saja.

Kita tiba di Tiongkok. Semua orang di sini orang Tionghoa.

Selamat datang. Aku Hastomo.

Aku yang jemput Ibu & Bapak.

- Ayo pergi. - Oke.

- Terima kasih, Pak. - Ya.

Mengapa dia bukan orang Tiongkok?

Aisha, kau tidak ingin bertemu Arif sekarang?

Aku siap menemanimu ke sana.

Mari kita selesaikan pekerjaan dahulu

agar bisa santai setelahnya.

Lalu, lusa Arif berulang tahun, jadi, aku ingin memberinya kejutan.

Kejutan!

Victor!

Fokus saja untuk dapat banyak gambar yang bagus.

Pak Hastomo tahu tidak? Mereka selalu berselisih di mana pun.

Aku curiga mereka sebenarnya jodoh.

- Hei! Enak saja! - Bisa jadi, Aisha.

- Nauzubillahiminzalik. Tidak mungkin! - Apa artinya?

Kami berlindung kepada Allah dari hal-hal yang buruk.

Apakah aku seburuk itu bagimu, Evy?

Oh, Tuhan. Saat aku menikah, kau pasti menangis.

"Victor, jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu."

Bu Evy, Bu Aisha, dan Pak Victor, itu restorannya.

Silakan makan di sana. Aku akan memarkir mobil.

- Terima kasih, Pak. - Oke. Sama-sama.

- Yang ini? - Yang mana?

- Yang ini. Ayo. - Cepatlah.

"Cepat"? Selalu marah saja.

- Ini kedai yang bagus, bukan? - Benar.

Tapi di mana pelayannya? Menunya tidak ada.

Tenang, aku sudah pesan makanan saat perjalanan ke sini. Tinggal makan.

Kau tidak akan menyesal

karena kedai ini asli punya orang Indonesia.

Itu dia. Sepertinya itu pesanan kita.

- Baba, ada pelanggan. - Terima kasih.

Asalamualaikum.

Alaikum salam.

Selamat datang di Ningxia.

Namaku Rahman.

Tapi orang-orang di sini memanggilku "Baba".

Baba.

Namaku Evy, ini Aisha, dan…

Victor Panggabean. Aku dari Medan.

Kalian bertiga yang akan meliput acara di sini besok?

- Benar. - Siapa namamu, Adik Cantik?

- Saabira. - Saabira. Salam kenal.

- Aku Aisha. - Salam kenal juga.

Bira adalah anak bungsuku.

Dia punya kakak laki-laki.

Dia seumuran dengan kalian.

Tapi dia sedang keluar, mengurus sesuatu.

Mengurus pacar-pacarnya.

"Pacar-pacar"? Dia punya banyak?

Astaga. Dia playboy sekali.

- Victor! - Sama sepertiku.

Bira, jangan bicara begitu.

Memang pacarnya banyak.

Silakan makan. Kita mengobrol lagi nanti, oke?

Terima kasih, Baba. Terima kasih, Bira.

Kita jauh-jauh ke Tiongkok untuk makan mi, Evy?

Ada banyak seperti ini di Pecenongan.

Selamat makan.

Bismillah.

Rasanya sangat lezat!

- Benar, 'kan? - Rasanya sangat lezat!

Makanlah pelan-pelan.

Panas!

Ini gratis.

Kalau besok masih butuh, silakan datang lagi.

Cuma 1 yuan?

Benar!

Kalau tidak percaya, kalian mau tanya orang lain?

Tidak apa-apa, Bira.

Kakak, boleh ke sini sebentar?

Kakak ini mau tanya apa benar ini seharga 1 yuan?

Hai! Benar sekali. Kami mahasiswa Indonesia.

Kalau tidak punya banyak uang, kami pasti makan di sini.

Tapi saat punya uang lebih, kami akan bayar lebih.

Kalian dapat lihat spanduknya di sana.

Makan sepuasnya, bayar seikhlasnya,

atau gratis bagi yang tidak mampu.

Tunggu dulu. Apa kalian tidak merugi?

Kau ada benarnya.

Alhamdulillah, kami untung besar.

Aku sudah berdagang seperti ini hampir sepuluh tahun.

Dan seperti yang kalian lihat,

restoranku masih berdiri.

Alhamdulillah, keluarga kami tidak pernah kekurangan.

Insyaallah, malah memberikan kami pahala dan berkah.

Amin.

Bagaimana ini?

Aku sudah makan tiga mangkuk.

Apa yang harus kulakukan?

Bagaimana kalau kau bawa mangkuk itu ke dalam dan dicuci?

Serius?

- Saabira. - Serius.

Aku cuci piring? Di Tiongkok?

Hai, Semuanya. Kembali lagi di saluran berita Indonesia.

Hari ini, Aku di festival budaya Indonesia dan Tiongkok.

Hari ini, aku berada di festival budaya Indonesia dan Tiongkok.

Akan ada banyak hal yang kita bahas.

Mari tonton sampai akhir.

- Itu orang Indonesia? - Ya.

- Sedikit lebih dekat, tidak apa-apa. - Di sini.

Ini salah satu perwakilan tarian Indonesia dari mahasiswa Indonesia di sini.

Mari kita lihat.

Geser sedikit.

Kakak.

Aku melihatmu syuting. Kau keren sekali!

Aku suka!

Kalau aku besar nanti, aku ingin menjadi sepertimu.

Kenapa kau ingin menjadi sepertiku?

Aku ingin keliling dunia.

Aku ingin pergi ke Indonesia.

Kau belum pernah ke Indonesia?

Aku sangat ingin ke sana.

Tapi aku harus menunggu sampai aku dewasa dan pergi sendiri.

Kenapa mau pergi sendiri dan tidak bersama Baba?

- Asalamualaikum, Aisha. - Alaikum salam, Baba.

- Ada Baba. - Semuanya berjalan lancar?

Alhamdulillah, semuanya lancar.

Tapi masih ada beberapa tempat yang perlu kami kunjungi.

Bagus kalau begitu.

Kebetulan ada Baba. Boleh kami wawancarai?

- Tentang apa? - Apa saja.

Tentang bagaimana Baba bisa tinggal di sini,

keluarga, atau apa pun yang menyenangkan!

Hidupku tidak menarik. Biasa saja.

Banyak orang lain dengan kehidupan lebih menarik.

Aku masih ada kerjaan.

Bira, ayo pergi.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Dah, Bira.

Apa aku salah bicara?

Aku tidak tahu. Aku akan lanjut syuting lagi, oke?

Oke, ayo.

Evy, di mana dia? Kenapa dia lama sekali?

Harusnya sebentar lagi.

Karena Pak Hastomo tidak bisa menjemput, ada penggantinya.

Sebentar lagi dia sampai. Tunggu sebentar. Bersabarlah.

- Mungkinkah ini? - Mobilnya sama?

Harusnya sama, tapi akan aku cek dulu.

Mobil itu ke sini. Mungkin ini Pak Hastomo.

Tunggu, mobilnya ini?

Tapi dia ke sini. Dia turun.

Sepertinya bukan. Karena tidak mungkin sopirnya setampan…

- Zhang Zhehan. - Makanan Tiongkok macam apa itu?

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Aku yang menggantikan Pak Hastomo.

Jawab dia. Jangan terdiam, Evy! Kau paham bahasanya.

Ya. Pak Hastomo tidak bisa jemput kita. Dia penggantinya.

Kalau kalian sudah siap, mari kita berangkat.

Ukhti, jaga mata. Jaga hati. Hei, halo!

Ini benar orangnya?

- Ya. - Baiklah. Ayo.

- Terima kasih. - Sama-sama.

Evy, aku mau bicara bahasa Mandarin.

- Perhatikan aku. - Ya.

Halo.

- Siapa namomu? - "Nama."

Apa?

Halo, siapa namamu?

- Mo. - Mo?

Singkatan dari apa itu?

Mo.

Baca yang di bawah ini.

- Yang ini? - Ya.

Nama panjangmu siapa?

Kenapa hanya "Mo"?

Panggil saja "Mo".

Namanya hanya Mo.

- Baiklah. - Baiklah.

Halo, Mo. Namaku Evy.

- Aisha. - Ya?

Pak Hastomo tadi memberitahuku nama penumpangnya.

Dia tidak bicara kepadamu.

Dia bilang Pak Hastomo memberi tahu nama penumpangnya.

Dia tahu semua nama kita, termasuk aku?

- Harusnya begitu. - Oke.

Jadi, kau sudah tahu namaku?

Aku lupa.

Kau bisa bicara bahasa Indonesia?

Aku bisa.

Lantas kenapa aku bicara bahasa Mandarin?

Jadi, kau mengerti ucapanku sekarang?

Harusnya kau memberitahuku, Mo.

Aku berada di Ningxia, wilayah muslim terbesar di Tiongkok.

Di sini ada banyak jejak sejarah.

Salah satunya adalah Masjid Daxuexixiang.

Dibangun pada tahun 705 Masehi.

Itu menjadi kebanggaan etnis muslim Hui.

Aku Aisha, melaporkan dari Ningxia, Tiongkok.

- Dah! - Hei!

Jilbabnya itu!

Mungkin memasangnya kurang benar.

Jika dikenakan dengan benar, insyaallah tidak akan terlepas.

Terima kasih, Mo.

Sama-sama.

Biar aku bantu.

- Oke? - Oke.

- Aman? - Aman.

Mo ingin kau benar berhijab.

Oke, bersiap.

Oke, Mo.

- Bisa? - Bisa.

- Terima kasih, Mo. - Sama-sama.

Maaf atas segala kekurangan selama mengantar kalian.

- Tidak ada. - Kekuranganmu cuma satu.

Kau tampan.

Itu membuatku terlihat jelek di depan mereka.

- Ini, kalau kalian butuh bantuanku. - Baiklah.

- Baiklah. Terima kasih, Mo. - Sama-sama.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Kenapa kau yang diberi kartu nama? Aku produsernya.

Mengapa kau cemburu?

Ternyata dia pemilik travelnya.

Benarkah?

Wah.

Itulah mengapa dia tampan.

Ambil kartunya untukmu.

Kenapa wanita melihat pria selalu dari tampilannya?

Ini masih pagi dan dia akan diberi kejutan.

Beruntung sekali si Arif.

Ini alamatnya menurut panduan.

Terima kasih.

- Bisa kau bawa keduanya? - Aku bisa.

Senyummu sangat lebar.

Pelan-pelan.

- Kita membawa banyak barang. - Terima kasih.

- Halo. - Halo.

Ada yang bisa aku bantu?

Apa kau mengenal orang ini?

- Coba aku lihat. - Apa dia tinggal di sini?

Arif?

Benar.

Sebentar saja, ya. Nomor kamarnya 1702.

Terima kasih.

- Yang mana? - Yang ini.

- Ya. - Aisha!

Nyalakan lilinnya dulu.

Oke.

- Nyalakan sisa lilinnya, Evy. - Hati-hati.

Aku akan mengetuk pintu dan kita bernyanyi bersama, oke?

Aku duluan.

Panggil dia.

Arif!

Arif!

Arif!

Arif!

Selamat ulang tahun

Kalian mencari siapa? Kalian…

Kakak, kami mencari Arif.

- Aku belum pernah dengar nama ini. - Dia tidak tahu.

Sebentar, tapi tadi kata resepsionis, ini apartemen Arif.

Mungkin dia penghuni yang dulu.

Kak, apa kau pernah melihat orang ini?

Maaf.

- Kau kenal orang ini? - Aku tidak pernah lihat orang ini.

Tidak pernah lihat. Maaf.

Aisha, dia tidak tahu.

- Kau yakin ini kamarnya? - Ini tidak mungkin terjadi.

Ini alamat yang benar. Yang Arif berikan kepadaku.

Ya, itu juga yang dikatakan resepsionis.

Sayang.

Sayang, buka pintu.

Sayang, buka pintu.

Ini siapa? Mereka sedang apa di sini?

Sepertinya mereka salah alamat.

Ini suamiku.

Aisha.

Maaf.

- Itu suaminya. - Bukankah dia bilang "junk food"?

Kita kembali saja ke bawah.

Pak, maaf mengganggu.

Kamar 1702, kenapa penghuninya bukan Arif?

Arif.

Arif?

Benar.

Terakhir aku melihat Arif tiga bulan lalu.

Apa yang dia bilang?

Kau sangat tidak ramah. Kalau di Medan, sudah aku tampar.

Tiga bulan lalu dia tinggal di sini,

tapi mungkin saja dia menyewakan apartemen ini ke orang lain.

Kami masih mengobrol semalam, dia masih tinggal di sini.

Kami bertelepon semalam.

Itu berarti dia berbohong kepadamu.

- Aisha! - Kue? Aisha.

Bagaimana dengan kuenya? Halo?

Aisha.

Apakah ini benar kampusnya?

Benar.

Yakin?

Permisi, maaf mengganggu.

Aku izin bertanya.

Apakah benar dia mahasiswa di sini?

Dia bernama Arif.

Aku cek sebentar.

Arif, sejak enam bulan lalu,

sudah tidak terdaftar sebagai mahasiswa.

- Terima kasih. - Sama-sama

Sudah enam bulan Arif tidak terdaftar sebagai mahasiswa.

Benarkah?

Itu yang dikatakan staf kampus.

Bukankah kau baru saja membayar uang kuliahnya?

Benar, 'kan?

Valid?

Wah, makin seru ini!

Victor.

- Aisha. - Aku salah bicara?

- Aisha. - Evy!

Mau mencari ke mana lagi, Aisha?

Apa yang akan kau lakukan?

Entahlah.

Dia tidak pernah cerita dia punya masalah atau apa pun.

Jadi, aku tidak tahu harus berbuat apa.

Victor, ada ide?

Mudah untuk mencari seseorang di Bekasi.

Aku punya banyak teman di sana.

Tapi ini di Tiongkok.

Kita punya bahasa yang berbeda, aku tidak paham.

Victor, tidak bisakah kau berhati-hati dengan ucapanmu?

Tunjukkan empati!

Empati apa lagi?

Dia ingin memberi kejutan, aku temani.

Menjadi mata-mata di kampus, aku ikuti.

Ini hari terakhir kita di sini. Seharusnya kita jalan-jalan.

Beli oleh-oleh. Terserah.

Bukankah aku sudah cukup berkorban?

Baiklah. Aku minta maaf jika aku merusak perjalanan kalian.

Tapi aku harus memproses banyak hal secara tiba-tiba.

Aku masih kaget, bingung, tidak tahu harus berbuat apa.

Kalian silakan jalan-jalan. Aku akan kembali ke hotel.

Sekali lagi, Victor, aku minta maaf.

Tidak, Aisha.

Apakah dia marah besar?

Victor! Aisha!

Aisha!

Astaga. Aku membuat kesalahan lagi.

Aku tahu bagaimana rasanya dibohongi oleh pria.

Terutama setelah bertahun-tahun bersama.

Untung kau tahu dari sekarang bahwa dia membohongimu.

Jika kau tahu setelah menikah, bukankah itu akan lebih menyakitkan?

Lebih berat.

Sudah lama aku tahu

kau sering mengirim uang kepadanya.

Apa kau sadar bahwa kau sangat bermurah hati kepadanya?

Aku hanya tidak menyangka dia akan sekejam itu kepadamu.

Padahal dia tahu kau tidak punya siapa-siapa lagi.

Tidak apa-apa. Menangislah. Semoga itu bisa menenangkanmu.

Tapi kau harus ingat,

hujan pun akan mereda.

Aku hanya tidak ingin hal yang lebih buruk terjadi kepadamu.

Tidak apa. Tidak apa, Aisha.

Sini, biar aku bantu.

- Biar aku bantu. - Oke. Terima kasih, Mo.

Sayang sekali kalian harus pulang secepat ini.

Banyak tempat indah dan bersejarah yang wajib dikunjungi.

Kami ingin begitu.

Apalagi Aisha ingin melihat City Wall.

Benar, 'kan, Aisha?

Kami akan kembali, tapi kami harus menabung dulu.

Aku akan senang mengantar kalian lagi.

Seharusnya kau bicara sebanyak ini sebelumnya.

Kami tidak akan pulang hari ini.

Ini pertama kalinya aku yang langsung mengantar turis.

Jadi, aku gugup dan bingung. Aku tidak tahu harus berbuat apa.

Kupikir kau penuh percaya diri, ternyata kau juga bisa gugup.

Ternyata kau manusia biasa.

Ada apa dengan Aisha?

Dia sedang sakit gigi.

Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati.

Kau tahu lagu dangdut itu? Kau juga mendengarkan dangdut?

- Kopernya, Mo. - Siap.

Mo, biar aku saja.

Tidak apa-apa, aku bantu.

Biar kuantar sampai dalam.

Tidak usah. Tidak apa-apa, Mo. Sampai di sini saja.

- Baiklah. - Terima kasih.

Oke. Sama-sama.

- Mo. - Hati-hati.

Apa keretanya sudah berangkat?

Aku rasa keretanya akan segera berangkat.

Periksa barang-barangmu.

Periksa barang-barangmu.

Aku tidak ingin kita meninggalkan barang di sini.

Kameranya ada di sini. Semuanya ada di sini.

- Periksa semuanya. - Sudah

- Kau yakin? - Aku yakin, Evy, sudah masuk.

Aisha.

Sedang apa di sini, Mo?

Aku membelikanmu obat sakit gigi Tiongkok.

Ini sangat ampuh.

Terima kasih, Mo.

Sama-sama.

- Hati-hati. - Ya. Terima kasih, Mo.

Begitu saja?

Terima kasih, Mo.

Dia benar-benar membelikannya untukmu.

Simpan saja. Oleh-oleh.

- Ayo berangkat. - Sudah semua?

- Aku mau ke toilet. - Oke.

Di mana Aisha?

Dia mau ke toilet.

Kenapa dia sangat lama?

Kereta akan segera berangkat.

Ya.

KERETA DARI NINGXIA KE BEIJING SUDAH BERANGKAT

Mo.

Kenapa dia sangat lama? Di mana dia?

Apa dia terkunci di toilet?

Jangan membuatku tambah panik.

Evy.

Tunggu sebentar.

Dia mengirimiku pesan.

Evy, Victor.

Maaf, aku tidak ikut pulang.

Aku akan di sini beberapa hari.

Aku harus bertemu Arif, bagaimanapun caranya.

Karena aku masih tidak percaya dia bisa melakukan ini kepadaku.

Aku masih berharap alasannya bukan untuk mengkhianatiku.

Tapi kalau dia benar-benar mengkhianatiku,

aku ingin tahu alasan dia bersikap sekejam itu.

Evy, pulang saja bersama Victor.

Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku.

Aku bisa mengurus diri sendiri di sini.

Maaf sudah merepotkan kalian.

- Victor. - Apa?

Apa?

Dia tidak ikut dengan kita.

Apa maksudmu? Jadi, hanya kita berdua?

Apa yang harus kita lakukan?

Aku tidak paham. Ada apa dengan Aisha?

Bilang sesuatu kepadanya.

Kau uruslah temanmu itu.

Apa maksudnya "urus"? Aku turun? Kereta sudah berangkat.

Aku tidak tahu, Victor!

Bisakah kau berhenti bertanya?

Malah marah. Aku hanya bertanya.

Mo.

Maaf aku malah bercerita kepadamu.

Karena aku tak punya siapa-siapa di sini. Hanya kau yang bisa menolongku.

Berapa pun yang harus kubayar, katakan saja, dan aku akan membayarmu.

Apa kau punya kontak atau alamat teman Arif di sini?

Aku tidak punya.

Nekat.

Apa?

Nekat.

Tidak nekat. Aku punya rencana.

Aku punya beberapa foto Arif di Tiongkok.

Mungkin kau kenal orangnya atau lokasinya.

Kita bisa mulai dari sana.

Aku tahu beberapa lokasinya.

Mari kita mulai dari yang terdekat.

Oke.

Aku mau tanya. Apa Bapak pernah bertemu dia?

Dia pernah ke sini. Salat di sini sekali.

Setelah itu dia tidak pernah ke sini lagi.

Baiklah. Terima kasih.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

- Bagaimana? - Arif cuma sekali ke sini.

Hanya untuk salat dan berfoto. Beliau tidak kenal Arif.

Jadi, saat Arif bilang dia tinggal di sini seminggu,

itu tidak benar.

Oke.

Ke tempat berikutnya.

KAMPUS BERADAB DILARANG MEROKOK

Arif?

Terakhir kali aku melihatnya sekitar lima atau enam bulan yang lalu.

Aku dengar dia bekerja di pusat penelitian tenaga surya.

Itu di mana?

- Shapotou. - Shapotou?

Oh, ya.

- Terima kasih ya. - Terima kasih.

Mo, kau tahu itu di mana?

Ke Shapotou perlu enam sampai tujuh jam dari sini.

Tolong, bisakah kau mengantarku ke sana?

Berapa pun biayanya, aku akan membayarmu.

- Katakan saja totalnya. - Nanti saja.

- Tidak apa. Aku bisa bayar sekarang. - Nanti saja. Saat semuanya sudah selesai.

Terima kasih, Mo.

Mo, kita di mana?

Kita hampir sampai.

Aku tertidur lama?

Kalau mau makan, di sana ada makanan.

Aduh…

Mo, aku sangat minta maaf.

Seharusnya aku yang beli makanan. Aku akan membayarmu.

Tidak apa-apa.

Kita hanya bisa sejauh ini?

Bisakah kita naik ke sana?

Tidak bisa. Aisha, kita tidak bisa sembarangan masuk.

Tidak bisa. Kita sudah sejauh ini. Kita harus mencoba.

Di sana tertulis.

Kita harus punya izin.

Hanya formalitas. Kita coba dulu saja.

Tidak bisa. Aku warga setempat. Aku tahu aturan di sini.

Karena kau warga setempat, harusnya lebih mudah, benar?

- Kumohon. - Bukan begitu.

Aisha, kembalilah.

Tidak apa-apa. Aku pergi sendiri saja.

Jangan nekat. Kembalilah! Aisha!

Aisha, ayo kita kembali dan pergi.

Aisha!

Aisha! Jika kau teruskan, aku tidak bertanggung jawab.

- Aku tunggu kau di sini. - Oke!

Aisha.

Cinta mungkin buta, tapi bukan berarti tidak pakai logika.

Siapa yang bilang begitu?

Mo, kau tidak tahu tentang aku dan Arif.

Itu urusanmu.

Masalahnya, ini melibatkanku.

Aku tidak melibatkanmu. Tugasmu adalah mengantarku ke sini.

Masalahnya, sekarang kau adalah tanggung jawabku.

Sudah, Aisha.

Mari kita coba cara lain. Ini berbahaya, Aisha.

Aisha.

Mo.

Berhenti di sana.

Sedang apa kalian di sini?

Mo, menurutku kita bisa bertanya kepada mereka.

Halo.

Jangan bergerak!

Kami tersesat.

- Aku membawa turis dari Indonesia. - Tunggu.

Halo. Aku sedang mencari Arif. Apa kau tahu Arif?

- Apa yang dia bicarakan? - Tidak tahu.

Periksa mereka.

Jangan bergerak! Geledah dia!

- Angkat tangan. - Jangan sentuh aku.

- Hei! Berhenti! - Angkat tangan.

Jangan sentuh dia!

Jangan bergerak!

Oke!

Jangan bergerak!

- Mo! - Jangan bergerak!

Aisha!

Mo! Tidak.

- Ini salahku. Maaf. - Bawa dia ke sini!

- Minggir! - Oke!

Tidak.

- Tunggu. - Aisha, tunjukkan paspormu kepada mereka.

Paspor. Indonesia.

Kami ke sini mencari seseorang.

Jangan bergerak!

KEAMANAN

Proyek ini sudah tutup setahun lalu. Kami menjaga tempat ini.

Ini area terlarang.

Kalian tidak seharusnya di sini.

Cepat pergi.

Pergi!

Cepat pergi!

Aku minta maaf, Mo.

Jika bukan karena aku, kau tak akan begini.

Sini, biar aku bantu.

- Apakah ini alkohol? - Ya.

Oke.

- Maaf, aku akan… - Tidak apa-apa. Aku saja.

Kalau tidak begini, kau tidak akan percaya, bukan?

Aku hanya berusaha, Mo.

Bukankah kita wajib berusaha?

Maaf, aku sudah salah.

Mereka bilang proyek itu ditutup setahun yang lalu.

Tidak ada pekerja di sana sekarang.

Hanya ada para penjaga keamanan.

Biar aku bantu.

- Maaf, Mo. - Ya?

Rambutmu.

Mo,

ada banyak luka di tanganmu.

Apa kau ingin aku…

Terima kasih.

Aisha.

Maaf tadi aku kasar kepadamu.

Seharusnya aku tidak membentakmu.

Tidak apa-apa, Mo.

Kau benar. Cinta butuh logika.

Aku yang salah. Harusnya aku yang minta maaf.

Ya, tapi harusnya aku tidak seperti itu kepadamu.

Semua orang pernah melakukan yang tidak logis karena cinta.

Ibuku meninggal saat melahirkanku.

Setelah ayahku meninggal,

aku hanya punya Arif.

Dia selalu di sisiku,

selalu menemaniku,

dan selalu mendampingiku.

Mungkin itu sebabnya aku terlalu bergantung kepadanya.

Aku mau salat Magrib.

Apa kau ingin salat bersama?

Tidak, terima kasih. Kau duluan saja.

Kau sedang punya masalah.

Lebih baik kau meminta pertolongan Allah.

Allahu Akbar.

- Halo, Evy. - Astaga, Aisha.

Kenapa susah sekali meneleponmu? Kau di mana? Kau baik-baik saja?

Kau sudah bertemu Arif?

Tanya satu per satu. Kalau tidak, dia akan makin pusing.

Pelan-pelan saja.

Aku di Ningxia.

Aku masih belum menemukan Arif.

Begini saja. Besok, sepagi mungkin, kau ke Beijing, lalu kita pulang bersama.

Aku akan pesan tiket untukmu. Aku akan urus semuanya.

Berhentilah memikirkan Arif yang gila itu, oke?

Aisha, kita ke sini bersama, kita juga harus pulang bersama.

Terima kasih perhatiannya, tapi tenang, aku bisa jaga diri.

Oke? Aku sudahi teleponnya, Evy. Selamat terbang.

Tunggu! Jangan sudahi dulu. Di mana Mo? Aku ingin bicara dengannya.

Mo sedang salat.

Aku sudahi teleponnya, Evy. Dah. Selamat terbang. Asalamualaikum.

Halo?

Victor, bagaimana sekarang? Aku sangat mengkhawatirkan Aisha.

Apa lagi yang harus kita lakukan? Kembali ke sana? Jauh.

Jika kita bersama lebih lama, kita akan saling jatuh cinta.

Maksudku,

aku khawatir sama Aisha, tapi aku percaya kepada Mo.

Dia akan baik-baik saja.

Sama seperti kita akan baik-baik saja sampai menikah.

Victor, aku tidak bercanda.

Tapi aku serius, Evy.

Aku juga serius. Jangan berkhayal.

Vic? Bukankah itu gadis dari apartemen?

Apa itu Arif? Itu Arif!

Tunggu! Makanan kita!

- Evy! - Arif!

Arif!

Itu Arif, bukan?

Sori.

- Evy! - Arif!

Kenapa kau lambat sekali? Kita kehilangan dia!

Kau membuang-buang makanan. Apa kau yakin itu Arif?

Tidak juga, tapi dia menoleh saat aku panggil.

Siapa yang tidak menoleh saat kau panggil?

Nada suaramu tinggi.

- Victor! - Lihat, 'kan?

Itu sayang makanannya.

Tas kita juga masih ada di sana. Ayo kita kembali saja.

- Terima kasih, Mo. - Sama-sama.

Sejak kapan kau mulai tinggal di sini?

Sejak aku berusia tujuh tahun.

Semua keluargamu tinggal di sini?

Ya.

Jadi, apa rencanamu sekarang?

Apa kau masih ingin mencari pacarmu?

Sebelum aku jatuh cinta

dan saat jatuh cinta,

harusnya aku siap patah hati.

Ya, dan

makin besar rasa cinta kita kepada seseorang,

makin besar juga rasa sakit yang dia berikan

saat dia menghilang.

Setuju.

Apa kau masih mau mengantarku?

Tentu saja.

Baiklah.

Kau sudah selesai makan?

Sedikit lagi.

Ayo.

- Aisha, bisa bantu buka pintunya? - Oke.

Astagfirullahaladzim.

Mobilnya tidak bisa hidup.

Sebentar.

Sepertinya akinya lemah.

Tunggu sebentar. Biar aku cari bantuan.

Halo.

Halo. Mobilku tidak bisa hidup.

Di…

Halo.

Halo.

Ponselku mati.

Apa yang harus kita lakukan?

- Ada mobil datang. - Baiklah.

Hentikan mereka!

Hei! Halo!

Maaf atas kecerobohanku.

Ya sudah, mau bagaimana lagi?

- Hei! - Hei!

Stop!

Tidak apa-apa. Kau tunggu saja di mobil.

Akan ada mobil lain.

Baiklah.

Aku tidak bisa tidur.

Duduk saja di sini.

Aisha?

Namaku Rani Angelina.

Sebelum aku mengenal Arif.

Arif

mengingatkanku bahwa masih ada yang peduli kepadaku.

Dia telah mengisi hari-hariku

hingga dia pergi kuliah ke Tiongkok.

Dia melakukan itu demi masa depan kami.

Jika kau tanya kepadaku apa dia layak diperjuangkan,

jawabannya adalah ya.

Dia layak diperjuangkan.

Aku baru saja mualaf.

Aku pikir aku akan bahagia bersamanya,

aku akan menikahinya, dan kami akan bersama.

Ternyata dia berbohong dan sekarang belum ada kabar darinya.

Tahukah kau

bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian

karena Allah selalu bersama kita.

Dia Maha Pelindung, lalu…

Dia akan melindungimu lebih baik daripada siapa pun.

Dari apa pun.

Maaf kalau aku lancang.

Tapi kau mualaf karena siapa?

Idealnya karena Allah.

Tapi jika ada alasan lain,

semoga itu menjadi prosesmu.

Mo.

Aisha.

Maukah kau menjadi imamku?

Apa maksudmu?

Imam salat.

Maaf, Aisha.

Aku tidak bisa menjadi imam.

Jika hanya ada kita berdua,

kau bukan mahramku.

Jadi, kita salat masing-masing, oke?

Oke.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Asalamualaikum.

Asalamualaikum.

Mo!

Dia mengambil barang-barang kita, Mo!

Hei, Mo! Mo!

- Ayo pergi! - Hei! Berhenti!

Mo!

Hei! Jangan!

- Hei! - Berhenti!

- Hei! - Hei!

Semuanya sudah hilang!

Tenanglah.

Bagaimana aku bisa tenang?

Paspor, ponsel, iPad, dan pekerjaanku! Semuanya ada di dalam tas!

Oke. Tenang dulu agar kita bisa berpikir.

Aku memanggilmu saat kau salat, tapi kau…

Mo, apa yang harus kita lakukan? Semuanya sudah hilang!

Kita tidak tahu di mana barang-barangku!

Aku tidak tahu niat mereka.

Kita tidak boleh suuzan, terutama saat kita salat.

Percuma!

Percuma aku salat!

Apa gunanya aku berdoa kalau beginilah doaku dijawab?

Astagfirullah.

Mobilnya tidak mau hidup!

Lalu, ponselnya mati.

Aisha.

Tidak ada niat baik yang sia-sia.

Lalu, sekarang mau apa?

Halo.

- Halo, Pak. - Halo.

Tadi ada yang menelepon dan memberitahuku ada mobil mogok di sini.

Dia membawa orang sakit dan tidak bisa berhenti.

Karena dia harus segera ke rumah sakit, dia memintaku memperbaiki mobilmu.

Terima kasih. Mobil ini akinya lemah.

Mohon diperbaiki.

Buka kap mesinnya.

Mekanik itu bilang dia menerima telepon

dari seseorang yang melihat mobil kita mogok di sini.

Tapi mereka tidak bisa berhenti karena ada orang sakit.

Itu lebih mendesak.

Selesai. Coba kau hidupkan.

- Terima kasih. - Sama-sama.

Baiklah. Dah.

Siapa yang menggerakkan hati manusia?

- Halo. - Halo. Ada keperluan apa?

- Kami mau melapor. - Melapor? Silakan masuk.

- Halo. - Halo.

Tas dia dicuri.

Dicuri di mana? Jam berapa?

Pukul 06.00 di Gunung Helan.

Aku buatkan laporan.

Ini. Berikan nomor yang bisa dihubungi.

Baik. Jika ada perkembangan, akan segera kami hubungi.

Baik. Terima kasih.

Terima kasih.

Semoga mereka menemukan barang-barangmu.

Apa kau lapar?

Kau mau makan apa?

Aisha.

Katakan sesuatu.

Aku tidak tahu mau makan apa.

Barang-barangku hilang.

Aku tidak punya siapa-siapa di sini.

Selama ini aku pegang ini.

Hanya ini yang kumiliki.

Tidak penting.

Mau bagaimana lagi?

Aisha, sekali lagi, aku minta maaf.

Tidak apa-apa.

Apa kau tahu kedai mi Baba?

Setiap orang Indonesia di sini pasti tahu.

Antar aku ke sana.

Aisha.

Ya?

Aku akan memarkir mobil, ya?

Oke.

Asalamualaikum, Bira.

Kakak Aisha?

Maaf, sebelumnya kau pakai hijab.

Aku takut salah mengira orang.

Kau datang sendiri?

Tidak, aku bersama temanku.

- Dia akan datang. - Asalamualaikum.

- Bira, aku mau… - Kak Mo!

Kau ke mana saja?

Papa khawatir. Kau tahu, tidak?

Kau tidak jawab telepon.

Papa khawatir kau berurusan lagi dengan polisi. Takut berkelahi lagi.

Kakak, dia kakakku.

Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau putra Baba?

Kalian berdua saling kenal?

- Bagaimana bisa? - Bira.

Dia datang ke sini untuk makan mi, bukan untuk bercerita.

Di sini dulu bersama adikku.

Kau tanya dia mau pesan apa.

Baiklah.

Kau mau pesan apa?

Terima kasih, Mo.

Sama-sama.

Asalamualaikum, Aisha.

Alaikum salam, Baba.

- Pa. - Ya.

Selamat datang kembali.

Dia sudah cerita semuanya.

Ada kamar tidur yang bisa kau tempati sampai semua masalahmu di sini selesai.

Baba, terima kasih.

Ini semua idenya.

Mohammad.

Kau tidak perlu meminta persetujuan darinya.

Jangan tolak ini, oke?

Ya, Baba.

Ayo diminum.

Ya sudah.

Aku tinggal dulu, oke?

Baba, sekali lagi, terima kasih banyak.

Sama-sama, Aisha.

Mohammad?

Mengapa kau merahasiakannya?

Aku khawatir

bahwa perilaku dan tindakanku jauh dari Rasul.

Papa memberiku nama itu agar aku menjaga sikap dan perbuatanku.

Jadi, kau tidak keberatan tinggal di rumah keluargaku?

Mo, aku memintamu mengantarku ke sini

karena aku ingin minta tolong kepada Baba.

Fakta bahwa Baba adalah keluargamu, itu hanya kebetulan.

Kami sudah lama tinggal di sini.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

- Mo, akhirnya kau pulang. - Ya, aku pulang.

Asalamualaikum.

Dulu waktu kecil, aku hanya bermain dengan Kak Mo.

Ini salah satu desa muslim di sini.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Mo, ayahmu di mana?

- Papa masih di kedai. - Oh, begitu.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

DARI PROVINSI HUBEI

Ini rumah kami.

Silakan.

- Silakan duduk. - Oke.

Asalamualaikum.

Aku senang akhirnya ada wanita lain di rumah ini.

Di mana ibu kalian?

Dia telah meninggalkan kami.

Bira, aku minta maaf.

Tidak apa-apa. Bira, tolong siapkan kamarnya.

Buka jendelanya, supaya segar.

Tidak perlu, Bira. Biar aku saja.

Tidak apa, aku bisa.

Terima kasih, Sayang.

Silakan duduk.

Terima kasih.

Ini ada ponsel. Sudah ada pulsa dan kartunya.

Tinggal dipakai.

Mo, tidak perlu. Aku tidak enak.

Tidak apa-apa.

Tidak, tidak perlu.

Papa yang minta. Tidak apa.

Terima kasih, Mo.

Sama-sama.

Mo, kapan kita akan pergi ke Beijing?

Butuh waktu 12 jam untuk pergi ke Beijing dengan bus.

Jangan.

Aku perlu mengajukan paspor baru. Harus naik kendaraan yang lebih cepat.

Mungkin dengan kereta atau pesawat.

Untuk naik kereta atau pesawat, kau perlu paspor.

Kau benar!

Ini hari Sabtu.

Kita akan berangkat besok malam, jadi, kita akan tiba di sana Senin pagi.

Kau akan pergi denganku?

Ya.

Ini salahku.

Jadi, aku akan menemanimu sampai semua urusanmu selesai.

Dan kau bisa pulang.

Mo, terima kasih banyak, tapi ini bukan salahmu.

Ini salahku. Kau terlibat hanya karena kau menemaniku.

Ini salah kita berdua.

Terima kasih, Mo.

Kakak.

Kamarnya sudah siap.

Mo, aku akan berberes.

Baiklah. Temani dia, Bira.

Masuklah.

Jika kau butuh sesuatu, aku ada di kamar sebelah.

Baiklah. Terima kasih, Sayang.

Selamat beristirahat.

Evy.

Jawablah, Evy.

Arif.

Asalamualaikum, Arif.

Asalamualaikum.

Halo?

Arif?

Arif, aku tahu kau bisa mendengarku.

Arif, kau masih berutang penjelasan kepadaku.

Arif, apa kau tahu aku di Ningxia?

Aku ingin memberimu kejutan ulang tahun.

Tapi aku tidak tahu kau di mana.

Arif?

Aku mualaf untukmu.

Namaku sekarang Aisha.

Kakak, aku masuk dulu, ya?

Bira.

Kakak, maaf mengganggu istirahatmu. Aku mau kasih mukena.

Terima kasih, Bira.

Aku dan Kak Mo mau ke masjid untuk salat berjemaah.

Kakak mau ikut?

Sepertinya aku mau di sini saja.

Kami tidak akan lama.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah.

Maaf kalau aku lancang.

Tapi kau mualaf karena siapa?

Idealnya karena Allah.

Tapi jika ada alasan lain,

semoga itu menjadi prosesmu.

Kak Mo.

Kau suka Kak Aisha, ya?

Bira!

Bira.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Allah mendengar orang-orang yang memuji-Nya.

Allahu Akbar.

- Asalamualaikum, Mo. - Alaikum salam.

Ini Kakak Aisha.

Ini Kakak Aisha.

Ya Allah.

Yang Maha Pengasih.

Yang Maha Penyayang.

Ya Allah.

Permudahlah segala urusanku.

Bantulah aku untuk memperkuat iman Islamku.

Berikan pertolongan dan petunjuk agar aku tidak tersesat.

Agar aku tidak berjalan tanpa petunjuk-Mu.

Asalamualaikum.

Baba.

- Asalamualaikum. - Baba.

Aku pulang dulu, ya?

Siapa yang tahu arti "Bismillahirrahmanirrahim"?

Aku tahu.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Benar!

- Ini untukmu. - Alhamdulillah.

Meski penampilannya begitu, dia seorang ustaz.

Kenapa "meski penampilannya begitu"?

- Siapa yang tahu arti "Lailahaillallah"? - Aku tahu.

Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah.

Benar sekali.

- Ini untukmu. - Alhamdulillah.

Kakakmu cocok jadi ustaz.

Dia tulus.

Tampan.

Kau suka dengan Kak Mo?

Ya, tapi sebagai sahabat.

Kau sudah punya pacar?

Bukankah Mo sudah memberitahumu?

Dia tidak pernah memberitahuku apa pun, dia tidak bergosip.

Meskipun aku penasaran.

Kenapa kau tidak kembali dengan teman-temanmu?

Kenapa kau malah bertemu Kak Mo?

Tapi dia tidak menjawabku.

Yah…

- Mungkin ini takdir. - Amin.

- Kenapa amin? - Amin.

Aku harap kau dan Kak Mo ditakdirkan bersama.

Amin.

Tapi dia sudah punya banyak pacar.

Kita berangkat lebih awal karena aku ada suatu urusan.

Setelah itu, kita akan berkeliling kota.

Kau akan bertemu dengan pacar-pacarmu yang manis, ya?

Pantas saja aku dilarang duduk di depan.

Khawatir mereka cemburu?

Aisha, kau boleh ikut denganku.

Tidak usah, aku tidak mau mengganggu.

Tidak akan. Dengan kau ikut, ada alasan untuk lebih cepat.

Ayo.

Baiklah. Biar aku bantu. Tunggu sebentar.

Tunggu sebentar.

Ambil yang ini.

Oke.

Ya.

Biar aku bawa yang itu.

Tidak apa-apa.

Khawatir pacar-pacarmu akan cemburu?

Mereka sudah terbiasa melihatku bersama wanita lain.

Mereka bahkan saling mendukung.

Apa kau akan menikahi semua pacarmu?

Kau tahu, sebagai seseorang mualaf,

laki-laki sepertimu memberikan citra buruk pada Islam.

Tapi kita diizinkan untuk memiliki empat istri.

Tapi itu bukan kewajiban.

Ayo.

Asalamualaikum, Nenek.

Akhirnya kau pulang.

- Hati-hati. - Nenek merindukanmu.

Maaf, akhir-akhir ini aku sibuk sekali.

Nenek merindukanmu.

- Nenek, apa kabar? - Baik.

- Sungguh? - Ya.

Aisha, ini salah satu pacarku.

Aku membawakan sedikit makanan untuk Nenek.

Taruh saja di sana.

Apakah dia tunanganmu?

- Insyaallah. - Syukurlah.

Ada apa?

Bagus.

Dia bertanya apakah kau calon istriku.

"Insyaallah"?

Cantik sekali.

Mo, tadi kenapa kau bilang "insyaallah"?

Aku tidak ingin mendahului Allah dengan mengatakan "tidak".

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Itulah sebabnya aku bilang begitu.

- Mo, akhirnya datang juga. - Nenek.

- Sini, duduk dulu. - Baiklah.

Sini, aku bantu gantikan.

Mo, aku bisa bantu.

Serius?

Oke.

Pacar-pacarmu lucu.

Terima kasih telah membantu.

Ibu adalah sekolah pertama untuk anak-anaknya.

Biasanya dia ada di sini.

Menggemaskan sekali!

- Hai. - Hai!

Aku membawa makanan kucing.

Manisnya…

Dia terlihat takut tadi.

Hai, Mo!

Ini untuk Nenek.

Terima kasih.

Banyak sekali barangnya. Terima kasih, Mo.

Ini pacarku yang paling manja.

Aku masih punya pacar yang lain.

Jika ada waktu, kita temui mereka.

Jika boleh tahu, kenapa kau melakukan ini?

Mereka mengingatkanku kepada mamaku.

Mo ini anak baik.

Maaf atas asumsi negatifku tadi.

Kupikir kau benar-benar punya banyak pacar.

Tapi kau tidak cemburu, 'kan?

Tidak.

Aku hanya bercanda.

Sekarang kau mau ke mana?

Masih ingin mencari pacarmu?

Saat ini aku tidak ingin mencari Arif dulu.

Aku ingin lebih dekat dengan Allah.

Alhamdulillah.

Nenek, aku antar pulang, ya?

Terima kasih, kau sudah mau antar aku pulang.

Aku harus pose seperti apa, Mo?

- Lihat ke sana. - Ke sana?

- Ya. Satu, dua, tiga. - Oke, baik.

- Mo, aku mau… - Aisha!

Jangan lihat ke belakang lagi, oke?

Mulai sekarang, lihat saja ke depan.

Maaf, tadi aku lancang.

Aku tidak bermaksud apa-apa.

Tidak apa-apa.

Aku hanya ingin menenangkanmu. Maaf.

Tidak apa-apa, Mo. Tenang saja.

Aku ingin berterima kasih karena kau selalu menenangkanku.

Tunggu sebentar.

Halo.

Benar.

Benar.

Baiklah.

Baiklah.

Terima kasih.

Doa kita telah terkabul.

Apa?

Halo. Ini tasmu. Silakan diperiksa apakah ada yang hilang.

Baik. Periksa barang-barangmu.

- Oke. - Lengkap atau tidak.

Ini ada…

Paspor, ponsel.

Tunggu sebentar.

Semuanya ada di sini!

Mo…

Terima kasih banyak.

Terima kasih.

Sama-sama.

Terima kasih. Barangnya masih lengkap.

- Terima kasih. - Barangnya sudah lengkap.

Tas ini kami temukan di mobil yang kecelakaan.

Mohon lebih berhati-hati.

Baiklah.

- Terima kasih. - Terima kasih.

KANTOR POLISI JALAN SHENGLI

Alhamdulillah.

- Mo, terima kasih banyak. - Sama-sama.

- Tidak perlu begini. - Tidak apa.

- Terima kasih. - Sama-sama.

Mo, aku minta total biaya penyewaan mobilmu.

Aku akan bayar sekarang.

Kau sudah bayar. Sudah lunas.

Aku belum bayar.

Ini.

Uang yang pernah kau jatuhkan.

Ini cukup untuk bayar jasaku.

Mo, jangan bercanda.

Aku serius.

Kita sudah sepakat.

Muamalah.

Muamalah? Apa maksudnya?

Itu kesepakatan bersama.

Insyaallah, Allah akan memaafkan kalau ada ketidaksempurnaan.

Baiklah, tapi itu hanya 1 yuan, jadi, tidak mungkin cukup.

Tapi ini sangat bernilai bagiku.

Apa?

Ya sudah. Kita berangkat, oke?

Jadi, kalian akan segera pulang?

Kakak Aisha juga?

Asalamualaikum.

Alaikum salam.

Evy!

Aisha! Masyaallah!

Kenapa kau tidak bilang kalau masih ada urusan di sini?

Aku tidak ingin membebani pikiranmu.

Meski begitu, kau selalu ada di pikiranku.

Peluk aku.

Aku juga, Evy.

Kalau begitu, aku peluk Mo saja.

- Kemarilah. - Terima kasih, Mo.

Mari minum teh.

Baba.

Aku punya sedikit oleh-oleh untuk Baba.

Alhamdulillah.

Ini untuk Bira.

Terima kasih, Kak.

Aisha, kau tidak perlu memberikan ini untuk kami.

Itu tidak sebanding dengan bantuan yang Baba berikan.

Sama-sama.

Bira?

Ada apa? Kau tidak suka hadiahnya?

Aku suka.

Aku hanya sedih karena kau akan segera pulang.

Aku janji

kalau kau ke Jakarta,

aku akan temani ke mana pun.

Aku juga.

Bang Victor yang menyetir.

Maaf, tapi aku harus belajar.

Aku mau ke kamarku.

Aisha.

Mo.

Aku salah bicara?

Mo, maafkan kami.

Tidak apa-apa.

Mo, aku serius.

Mau teh lagi? Atau kopi? Atau apa?

Serius, raut wajah mereka langsung berubah.

Ini topik sensitif di rumah

kalau bahas pulang ke Indonesia.

Kenapa?

Akan kuceritakan semuanya.

Aku dulu memiliki keluarga yang bahagia.

Hidup kami berkecukupan.

Namun, suatu hari, sesuatu terjadi.

Semuanya berubah drastis.

Usahaku bangkrut.

Aku kehilangan harta benda.

Anak keduaku meninggal

karena aku tidak bisa membawanya ke dokter.

Kehilangan seorang anak

membuatku sangat terpukul.

Hatiku hancur.

Aku benci dunia ini.

Aku merasa Tuhan tidak adil.

Akhirnya aku kecanduan alkohol.

Aku mabuk hampir setiap hari.

Aku menelantarkan Mohammad dan Bira.

Suatu malam,

saat aku mabuk,

aku tertabrak mobil

dan koma selama hampir sebulan.

Tidak ada kerabat yang tahu ini.

Aku meninggalkan Mohammad dan Bira terkunci di rumah.

Setelah aku sadar kembali,

ketika aku pulang,

aku tidak menemukan anak-anakku.

Aku takut.

Takut sekali.

Aku takut kehilangan anak-anakku.

Mohammad dan Bira

adalah harta paling berharga yang kumiliki dalam hidupku.

Ternyata, mereka dirawat dengan baik

oleh tetangga muslim kami yang sebelumnya kubenci.

Kebaikan mereka

membuatku merasa malu.

Aku sadar

aku telah salah menilai Islam.

Aku memutuskan untuk menjadi mualaf

dan membawa Mohammad dan Bira ke sini.

Sekarang, kalian dapat membagikan kisahku

dengan harapan akan bermanfaat bagi banyak orang.

Mengapa Papa tidak menceritakan tentang Mama?

Sudah saatnya Papa menceritakan semuanya.

Aku lelah menyimpan semuanya sendiri.

Tidak mudah berbohong kepada Bira setiap hari, bilang Mama sudah meninggal.

Mama masih hidup?

Mama masih hidup?

Kenapa Papa bohong kepadaku?

Aku telah dibohongi!

Kalian telah bohong kepadaku!

Aku selalu heran kenapa kau jarang di rumah

dan selalu punya masalah dengan polisi.

Apakah itu untuk menghindariku?

Apakah itu karena aku?

Kalian telah berbohong kepadaku.

Hanya kalian yang kumiliki.

Kalian telah berbohong kepadaku.

Kenapa kalian berbohong?

Bira, bukannya Papa tidak ingin memberitahumu.

Aku hanya menunggu waktu yang tepat.

Suatu hari, dengan atau tanpa Papa, aku akan mencari Mama!

Minta maaflah kepadanya.

Minta maaf!

Dan Papa harus bisa memaafkan Mama

yang meninggalkan kita demi pria lain.

Maaf telah membuat kalian tidak nyaman dengan masalah kami.

Mungkin ini satu-satunya kesempatan kami

untuk mengatasi masalah keluarga kami.

Sebenarnya, aku tidak menyangka bahwa kau sangat tangguh.

Kau sembunyikan rahasia besar

dari Saabira.

Aku juga tahu kau menyakiti dirimu sendiri

untuk melampiaskan semua rasa sakit di hatimu.

Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mengagumimu.

Kau sangat kuat.

Dulu

saat orang tuaku meninggalkanku,

aku masih sangat membutuhkan mereka.

Namun, mereka hanya meninggalkanku dengan kesedihan.

Dalam kasusmu,

ibumu juga meninggalkanmu dengan rasa sakit.

Butuh waktu

untuk berdamai dengan diri sendiri dan memaafkan diri sendiri.

Dan kau tahu itu pasti sulit bagimu.

Kau telah tumbuh menjadi orang baik.

Kau anak yang baik bagi Baba.

Seorang kakak yang bisa dibanggakan Saabira.

Sejarah keluarga tidak akan menghancurkan masa depan kita, Mo.

Tidak ada yang sempurna.

Tidak ada keluarga yang sempurna.

Mohammad.

Ternyata kau lebih dewasa daripada yang Papa kira.

Maaf sudah membuatmu merasa sangat tertekan.

Papa juga perlu minta maaf kepadamu, Bira.

Papa janji akan segera membawa kalian ke Jakarta untuk bertemu Mama.

Papa juga rindu Indonesia.

Bira.

Kak Mo minta maaf.

DARI PROVINSI HUBEI

Tunggu sebentar.

Asalamualaikum.

Alaikum salam.

Aku Arif.

Mo.

Jangan kaget melihat aku di sini.

Tidak banyak orang Indonesia di sini dan pasti mereka tahu kedai mi ayahmu.

Ada urusan apa di sini?

Aku ingin bicara dengan Aisha.

Maaf. Menurutku tidak baik kalian bertemu.

Lebih baik kau pergi.

Kenapa? Lagi pula, siapa kau baginya?

Arif.

Bolehkah kita bicara berdua?

Aisha?

Apa kabar?

Kau yang apa kabar?

Bagaimana kuliahmu?

Bagaimana apartemenmu?

Bagaimana dengan semua kebohonganmu?

Aku harus berhenti kuliah

untuk merawat ibuku yang sakit dan biaya obatnya sangat mahal.

Aku salah. Aku berbohong tentang kuliahku dan apartemenku.

Tapi hanya itu kebohonganku, Aisha.

Selebihnya benar bahwa aku mencintaimu.

Aku mendengarmu.

Semua yang kau katakan di telepon.

Mengapa kau tidak mengatakan sesuatu?

Karena aku malu.

Uang yang kau kirimkan untuk biaya kuliahku,

aku pakai untuk obat ibuku.

Aku takut. Takut kehilanganmu.

Takut kau akan berpikir

bahwa aku bukan lagi orang yang bisa kau banggakan.

Bagaimana kondisi ibumu sekarang?

Dia baik-baik saja sekarang.

Jadi, mengapa kau terus menghindariku?

Mengapa kau tidak pernah menceritakannya kepadaku?

Apakah kau punya pacar lain?

Tidak ada wanita lain di hatiku selain dirimu, Aisha.

Tidak mungkin. Aku memang berbohong, tapi aku benar mengurus ibuku.

Aku tahu telah berbuat salah, dan aku minta maaf.

Aku butuh waktu.

Aku tahu ini pasti sulit bagimu.

Aku tahu ini tidak adil.

Luangkan waktu sebanyak apa pun, aku akan menunggu

sampai kau siap memaafkanku.

Aku berjanji, Aisha.

Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu.

Insyaallah.

Arif.

Bagaimana aku bisa memercayaimu lagi?

ALLAHU AKBAR

Aku akan kembali ke Jakarta bersamamu.

Saat kau menelepon,

aku baru sadar bahwa aku tidak tahu banyak tentangmu.

Ada juga beberapa hal yang tidak kau ketahui tentangku.

Aku sudah menyimpan ini.

Bismillahirrahmanirrahim.

Aisha,

maukah kau menjadi pendamping hidupku?

Aku tahu aku telah salah.

Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku.

Maafkan aku.

Maafkan aku.

Aisha, kau tidak bisa begitu saja memercayainya.

Jangan terburu-buru mengambil keputusan.

Aku masih marah kepadanya.

Tapi kau sudah berbaikan dengannya. Jadi, terserahlah.

Jika kau saja kesal,

bagaimana dengan Mo?

Aku juga mulai kesal.

Bagaimana menurutmu, Mo?

Tugasku sebagai sopir

yang membantu Aisha mencari seseorang, sudah selesai.

Dia telah menemukan apa yang dicarinya.

Jadi, dia lebih tahu apa yang harus diputuskannya.

Ayo kita lanjutkan makannya.

Aisha, tolong pikirkan lagi tentang berbaikan dengan Arif.

Menurutku, Mo lebih pantas daripada pria bejat itu.

Evy.

Pertama, aku belum selesai dengan Arif.

Kedua,

Mo bersamaku

hanya karena dia ingin membantu sesama Muslim.

Itu saja.

Aisha, dengarkan aku.

Mo punya perasaan kepadamu. Dia sangat menyayangimu.

Percayalah kepadaku.

Hentikan, Evy.

Cukup.

Kita akan kembali ke Indonesia,

tolong jangan menambah bebanku, oke?

Sebenarnya, aku tidak bisa menerima Aisha bersama Arif.

Aku lebih suka dia bersamamu.

Denganmu, dia tersenyum lebar.

Bagaimana kau tahu itu?

Dia sudah memilih Arif dan senang dengan keputusannya.

Aku senang jika dia senang.

Itu seperti kalimat novel.

Enak dibaca, tapi menyesakkan, benar?

Aisha telah membuat keputusannya,

dan kita harus hormati.

Tunggu. Jujurlah, dari lubuk hatimu yang terdalam.

Kau punya perasaan kepada Aisha, 'kan?

Baba, terima kasih banyak. Kami sangat senang di sini.

Makanannya enak, tempatnya nyaman.

Aisha juga sangat senang, benar?

Sama-sama, Evy.

Barang sudah dibawa semua?

Semua barang sudah di mobil.

- Ayo. - Sekarang kita berangkat.

Baba, Aisha pamit.

Baba, terima kasih banyak sudah membantuku.

Aku minta maaf sudah banyak merepotkanmu.

Sama-sama, Aisha.

Hati-hati di jalan ya.

Aku akan menemuimu saat aku pergi ke Jakarta.

Aku akan menunggumu di Jakarta.

Bersikaplah baik di sini, Bira.

Bira, Papa janji

kita akan pergi ke Indonesia untuk liburan tahun ini.

Hore!

Aku tahu Kak Mo juga senang. Dia ingin bertemu denganmu lagi.

Kita pergi dulu, Baba. Terima kasih banyak.

- Ya. Hati-hati ya? - Oke.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Di sini sepi sekali, seperti di kuburan.

Aku tahu.

Pasti berat.

Ditinggalkan dan meninggalkan Ningxia dengan semua kenangan.

Aku kangen sambal, Evy.

Aku juga.

Terima kasih, Mo.

Sama-sama, Aisha.

Aku tidak akan pernah melupakan semua yang kita lalui.

Aku juga tidak akan pernah bisa melupakannya.

Aisha!

Aku akan bicara dengan Arif sebentar, oke?

Arif.

Aku melihatmu bersama seorang gadis di City Wall.

Aku juga pergi ke apartemenmu

dan dapat banyak informasi tentangmu.

Apa yang sedang dia lakukan?

Dia bilang ingin bicara sebentar.

Kau mengkhianati Aisha dengan tinggal bersama orang lain.

Kurasa Aisha perlu tahu soal ini.

Mo, kumohon.

Aisha sudah cukup terluka, tidak perlu ditambah lagi.

Aku berjanji akan setia kepadanya.

Berpisah dengannya membuatku sadar bahwa aku benar mencintainya.

Itu benar.

Kumohon. Kumohon beri aku kesempatan untuk membahagiakannya.

Demi Allah. Demi Allah, aku telah berubah.

Aku janji.

Ayo berangkat.

Ayo.

Arif!

- Kau mau kabur? - Diam!

Kau mau meninggalkanku dalam keadaan begini?

- Kenapa kau di sini? - Kita sudah tidak berpacaran.

- Kau harus bertanggung jawab! - Aku harus pulang ke Jakarta!

Kita selesai di sini! Kau paham?

Kau tahu?

Saat kau ke apartemen tempo hari,

Arif ada di sana.

Dia menelepon temannya di kamar sebelah untuk pura-pura jadi suamiku.

Saat kita pergi ke apartemen, Arif ada di sana.

Dia memintanya untuk berbohong.

Dia minta untuk mengakui teman prianya sebagai suaminya.

Dia berbohong.

Dia berbohong, Aisha! Dia fitnah.

Aku menolak cintanya. Itu sebabnya dia memfitnahku.

Apa dia juga bilang bahwa ibunya sakit?

Dia juga bilang begitu kepadaku setahun yang lalu.

Namun, kenyataannya, selama ini dia membohongi kita.

Apa Arif pernah cerita tentang ibunya yang sakit?

Ya.

Dia mengulang cerita itu agar kau merasa kasihan.

Aisha, dia pembohong.

Dan gadis ini hamil,

tapi Arif tidak mau bertanggung jawab.

Sayang.

Aisha, kau kenal aku.

Arif!

Beraninya kau meminta uang kepadaku untuk biaya kuliahmu.

Untuk biaya apartemen.

Kau berbohong tentang ibumu.

Sekarang kau menghamili seorang wanita tanpa mau bertanggung jawab.

Kau malah ingin kembali ke Indonesia?

Tega kau.

Kau tak punya hati dan akal sehat.

Aisha!

- Cukup, Arif. - Aisha!

Allah sudah menunjukkan jati dirimu.

Mo! Cukup!

Jangan cari masalah lagi.

Ini orang jahat.

- Tangkap dia. - Lepaskan!

Tangkap dia!

Kau di sini, Aisha.

Bisa?

Kita di sini, Evy.

Oke.

Biar aku angkat ini dulu.

Baiklah.

Mo.

Terima kasih.

Sama-sama.

Mo, keretanya akan segera berangkat.

TIKET KERETA NINGXIA KE BEIJING ATAS NAMA MO

Aku ingin selesaikan tugasku, mengantarmu sampai tujuan.

Mo.

Panggil aku "Mohammad".

Aisha.

DARI NOVEL TERLARIS KARYA ASMA NADIA

HARI KEDUA

HARI KETUJUH

HARI KE-12

HARI KEENAM

HARI KEDUA

HARI KEEMPAT

HARI KESEPULUH

HARI KE-12

HARI KELIMA

HARI KE-14

HARI KE-20

HARI KE-19

HARI KETUJUH

HARI KEENAM

HARI KEDELAPAN

HARI KESEMBILAN

HARI KETUJUH

HARI KE-12

HARI KE-13

HARI KE-17

HARI KE-14

HARI KEENAM

HARI KE-20

SELESAI

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.