Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia]
[Mr. BAD]
[Episode 12]
Pengacara Cheng,
mereka mungkin akan terus menundanya.
Jadi aku merasa
harus memikirkan solusinya.
Aku sudah melihat
rincian dari kontrak kerja sama ini,
aku merasa ada bagian yang salah.
Benar.
Baik.
Tapi aku merasa bermasalah.
Begini,
kita akan pastikan sekali lagi
saat rapat sore nanti.
Baik, tidak apa-apa.
Halo.
Tuan Li, halo.
Benar.
Aku tahu kenapa Anda
meneleponku,
tetapi pemeran ini
memang tidak bisa kita pakai.
Karena ini berkaitan dengan arah
perkembangan perusahaan kami di masa depan.
Kami berharap Anda dapat memakluminya.
Baik.
Kalau begitu pertimbangkan juga
saran kami pada Anda.
Tidak apa-apa, sampai jumpa.
Di dalam kontrak sudah diputuskan
keikutsertaan dan kekuasaan kami.
Jika mereka
bersikukuh memanfaatkan popularitas,
maka kita bawa masalah ini ke proses hukum.
Lagi pula, kita juga tidak lemah.
Akan tetapi, begitu kita masuk proses hukum,
kita memerlukan paling tidak 2 tahun lamanya.
Proyek kita ini,
jika berhenti selama 2 tahun,
maka akan melewatkan
masa mencari dana dan uang.
Kamu tenang saja,
aku tidak akan memakai pemeran ini.
Aku tahu tokoh ini
harus seperti apa tampangnya.
Aku akan segera
menemukan solusinya.
Apakah kamu
sudah lama tidak istirahat?
Aku selalu istirahat setiap akhir pekan.
Apa yang kamu lakukan di akhir pekan lalu?
Bermain golf dengan pihak kerja sama.
Bagaimana dengan dua akhir pekan lalu?
Melihat lokasi kegiatan.
Ini namanya bukan istirahat.
Kamu perlu istirahat yang sesungguhnya.
Bagaimana bisa aku istirahat?
Jika aku sungguh beristirahat,
maka seisi perusahaan akan ikut istirahat.
Kamu sudah lama
tidak melakukan olahraga ekstrem, bukan?
Mana ada waktu seperti ini?
Aku saja tidak ingat
kapan terakhir kalinya.
Sudah lama aku
tidak bisa menemukan diriku yang dulu lagi.
Sedang apa?
Sedang apa?
Aku membawamu menyelesaikan masalah.
Aku masih ada setumpuk pekerjaan.
Kita bicarakan setelah pergi.
Sepatu pun belum ganti, mau ke mana?
Baik.
Begini dulu, kita bicarakan lagi nanti.
Dulu saat sedang kuliah,
bukankah kamu paling suka datang ke sini?
Tetapi aku masih
ada rapat sore nanti.
Selain itu,
perkara hukum soal pihak investor film,
aku perlu membuat janji mendiskusikannya dengan pengacara.
Kemudian...
Akulah pihak karya orisinil dari film tersebut.
Jika kamu tidak mendengarku hari ini,
aku akan menyerahkan proyek ini
kepada orang lain.
Tugasmu hari ini
adalah istirahat dengan baik.
Aku berpikir
ingin membawamu meninggalkan pekerjaan sejenak.
Seperti yang kamu bilang sendiri,
menemukan dirimu yang dulu.
Halo.
Halo.
Aku sudah melakukan pemanasan,
sudah boleh dimulai.
Lama tidak berjumpa, Gao.
Halo, lama tidak berjumpa.
Kenapa kamu tidak ganti baju?
Apakah kamu ikut main?
Dia sedikit takut dengan air.
Benar,
saat itu dia juga tidak bermain.
Mari, sesuaikan papannya dulu.
Baik.
Tidak disangka sudah lama
kamu masih bermain juga.
Selama ini aku sangat ingin bermain,
tapi pekerjaan sibuk,
tidak bisa kemari.
Saat itu kamu merupakan idola wanita
di antara banyaknya pelatih ski air.
Benar, 'kan?
Benar.
Akan tetapi, sudah lama tidak bermain,
tidak tahu apakah hari ini bisa
mengembalikan perasaan itu lagi.
Pasti bisa, tidak ada masalah.
Mari.
Kamu sungguh tidak mau main?
Kalau begitu aku pergi dulu.
Mari.
Semangat.
Ayo jalan.
Ayo jalan.
Jalan!
Semangat.
Semangat, Ye Qing.
Semangat.
Semangat, Ye Qing.
Kamu pasti bisa.
Lega sekali.
Sudah lama tidak sesenang dan selega ini.
Terima kasih, Zichen.
Untuk apa berterima kasih padaku?
Terima kasih sudah menarikku keluar.
Tidak perlu berterima kasih.
Aku lihat kamu barusan
sepertinya sangat semangat.
Apakah perasaanmu sudah terlampiaskan?
Aku katakan padamu,
barusan
saat aku terjatuh dalam lautan,
aku memikirkan banyak sekali hal.
Hanya proses hukum, bukan?
Masa bodoh mau menjalani prosesnya 2 atau 5 tahun,
kita jalankan
sampai hak ciptanya jatuh tempo.
Siapa takut, benar tidak?
Ye Qing,
aku sudah membantumu mengatur bungee jumping.
Baik.
Ayo.
Mereka bilang di sekitar sini ada satu tempat
bungee jumping yang menyenangkan.
Aku pergi melompat bersama mereka dulu,
kemudian kita langsung pulang, oke?
Ayo.
Aku juga ikut.
Bukankah membosankan sekali melihat dari bawah?
Siapa bilang aku melihatnya dari bawah?
Aku...
Aku bermain bersamamu.
Bukankah kamu takut ketinggian?
Siapa... siapa yang takut ketinggian?
Ayo.
Semangat.
Kemarilah.
Di sini tinggi sekali.
Apakah kamu bisa?
Sungguh bisa?
Apakah kamu mau duluan?
Aku duluan.
Aku bisa.
Mari.
Mari, sudah siap, melangkah ke depan.
[Adegan berbahaya, jangan ditiru]
Mari, berbalik.
Kamu sungguh bisa?
Mari.
Aku akan menghitung mundur.
Saat menghitung sampai satu,
kamu harus langsung melepaskan kedua tanganmu.
Mari, bersiap.
Tiga,
dua,
satu, lepaskan!
Zichen.
Apakah kamu baik-baik saja?
Lu Zichen!
Lu Zichen!
Sepertinya dia jatuh pingsan.
Zichen.
Zichen.
Lu Zichen.
Bangunlah.
Apakah masih hidup?
Lu Zichen.
Sadarlah!
Lokasi arena itu,
sebelumnya aku merupakan anggotanya.
Pelatih di sana sangat baik.
Pelatih itu merupakan kakak seniorku.
Akan tetapi sekarang,
dia meninggalkan kedokteran menekuni bisnis.
Begitu ya.
Mendengar maksudmu,
kamu akhir-akhir ini tidak pergi?
Selama ini pekerjaanku sangat sibuk.
Selain itu,
di sekitarku juga tidak ada teman
yang bisa ikut bersamaku.
Tetapi sejak hari ini, aku merasa
aku bisa menemukan kembali
perasaan melakukan hobiku.
Boleh.
Lain kali kita bisa pergi bersama.
Ide bagus.
Kepala arena itu
mendirikan grup Wechat.
Nanti aku akan masukkan kamu ke grup.
Baik.
Kalau begitu kita bertukar Wechat dulu.
Oke.
Kamu sudah bangun?
Aku periksa dulu sebentar.
Pelan-pelan.
Pelan-pelan.
Aku periksa detak jantungnya dulu.
Detak jantungmu cepat sekali.
Apakah ada bagian lain
yang merasa tidak nyaman?
Semua indikatornya sudah normal,
hanya saja mengalami shock berlebihan.
Begitu infus ini selesai,
maka tidak ada masalah lagi.
Sudah boleh keluar rumah sakit.
Baik, terima kasih, Dokter.
Tidak apa-apa.
Kelak kita berhubungan via Wechat saja.
Baik.
Kalau begitu, aku pergi dulu.
Baik.
- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.
Bagaimana perasaanmu sekarang?
Apakah seri bersambungmu selanjutnya
hendak menuliskan soal olahraga ekstrem?
Bukan.
Aku sudah tahu.
Kamu hendak menuliskan perasaan melompat dari gedung.
Juga bukan.
Aku baik-baik saja.
Baiklah kalau begitu.
Saat kamu jatuh pingsan tadi,
perusahaan mendapat banyak telepon.
Aku harus kembali dan mengurusnya sebentar.
Aku akan menjemputmu nanti.
Aku sungguh baik-baik saja.
Aku bisa sendiri.
Kalau begitu, aku akan suruh Nan Xing menjemputmu.
Aku lembur.
Jika ada masalah, kirim pesan padaku.
Memangnya cerita soal kita berdua
tidak layak ditulis?
Aku dan Xiao Wudi?
Bagaimana menulis pembukanya?
Aku pulang.
Sudah pulang, Bu?
Sudah ada listrik?
Sungguh misteri sekali.
Kenapa listriknya padam
dan hidup begitu saja?
Apakah teknisinya mengatakan penyebabnya?
Tidak ada.
Aku juga tidak tahu.
Kamu sedang menulis sesuatu?
Baik, tulislah.
Aku tidak akan mengganggumu lagi.
Bagaimana menulisnya?
[Xiao Wudi]
Sudah sampai mana menulisnya?
Bagaimana dia bisa tahu aku sedang menulis?
[Nan Xing]
Sedang bersiap menulis.
Perlukah aku menyediakan materi untukmu?
[Xiao Wudi]
Untuk sekarang belum perlu.
Kali ini aku memutuskan
[Xiao Wudi]
untuk mendukung profesimu sebagai penulis.
Dijamin datang begitu kamu memerlukannya.
[Nan Xing]
Dia lumayan tulus juga.
Pelan-pelan saja.
Kisah cinta,
tentu ada saat di mana kamu tidak bisa menulisnya.
Tiba saatnya nanti, bukankah kamu
akan datang meminta bantuan padaku?
Bagaimana menulisnya?
Tiba saatnya nanti,
bukankah kamu harus berlatih denganku
bagaimana tokoh utama pria dan wanita berinteraksi?
Kencan harus diajari,
gandeng tangan juga harus coba,
berpelukan juga perlu.
Bahkan...
Bahkan...
Membuatku merasa malu saja.
Bagaimana dia akan menulis tentangku?
Bagaimana kalau aku bertanya padanya?
Tidak boleh.
Perhatian menyebabkan masalah.
Aku tidak boleh berinisiatif mencarinya.
Aku tidak boleh berinisiatif membuatnya tahu
aku peduli dengan hal ini.
Bu, cepat sedikit.
Sebentar lagi jam sibuk,
sudah mau terlambat.
Kunci dengan baik.
Ayo.
Ayo.
Aku sudah bilang tidak akan bertanya,
tapi aku tidak pernah bilang
tidak boleh mengintip, bukan?
Sungguh menulisnya?
[Tuan Muda Hehuan, Xiao Wudi]
Tuan Muda Xiao,
ini sarapan yang disiapkan untuk Anda.
[Pengantar sarapan, Nan Xiaoxing]
Sarapan kurang dari 10 jenis,
apakah bisa disebut kehidupan manusia?
Uang yang aku punya
sudah kupakai untuk memesan makananmu.
Aku sudah tidak punya uang lagi.
Tidak apa-apa jika tidak punya uang,
maka Lu Zichen-mu itu...
Jangan.
Kenapa
di sini ada Lu Zichen?
Nan Xiaoxing mengira dirinya
bisa kabur dan melarikan diri.
Tapi tidak disangka,
dia tetap tidak bisa terlepas
dari cengkeraman iblis Xiao Wudi,
Xiao Wudi, iblis.
Tunggu sebentar,
apa yang ditulisnya ini?
["Tetangga Iblisku" oleh Nan Xiaoxing]
Tetangga iblisku.
[Tetangga Iblisku]
Ternyata di dalam hatinya,
aku hanyalah seorang tetangga iblis.
Air susu dibalas air tuba.
Aku bersikap tulus padamu,
kamu membalasku seperti ini?
Baik.
Aku juga menuliskan satu cerita
untuk mengingatkanmu
apa itu kebenaran.
Harus dari mana kita memulainya?
Tuan Hehuan, Xiao Wudi,
merupakan sosok
pahlawan yang dihormati dan dikagumi puluhan ribu orang.
Akan tetapi, suatu hari tiba-tiba
dia dipanggil ke dalam
dunia yang penuh dengan bahaya.
Apakah mungkin
ini pria tampan yang
dihadiahkan Tuhan kepadaku?
Kenapa masih belum bangun juga?
Bagaimana kalau
aku mencium dan membangunkanmu?
Sungguh berkharisma dan mengesankan,
kasual dan elegan.
Besar sekali nyalimu.
Tidak disangka kamu mencari kesempatan dalam kesempitan,
ingin melecehkanku.
Aku hanya terbutakan
sejenak.
Mohon pengampunan Tuan Muda.
Tuan, ayo makan sarapannya.
Apakah makanannya tidak cocok dengan seleramu?
Baru saja bangun, tidak begitu berselera.
Tapi bukankah sebelumnya kamu bilang,
jika sarapan kurang dari 10 jenis,
bukanlah kehidupan yang dilewati manusia?
Tuan Muda,
Anda sebaiknya merendahkan diri dan makan sedikit.
Pria dan wanita ada batasan.
Jika sikapmu begitu sembrono,
kelak bagaimana bisa menikah?
Melihat Tuan Muda pertama kalinya, aku sudah memutuskan seumur hidupku.
Karena aku sudah melihat
wajah asli Tuan Muda,
maka aku hanya akan menikah dengan Tuan Muda saja.
Sembarangan.
Menikah hal yang begitu besar, bagaimana bisa memutuskannya begitu saja?
Aku tidak akan menikahimu.
Tuan Muda.
Jika tidak bisa menikah denganmu,
maka biarkan aku di sisimu
menjadi pelayan cuci kaki juga tidak masalah.
Tidak bisa.
Jadi kerbau dan kuda juga boleh.
Tidak bisa.
Tuan Muda jangan tinggalkan aku.
Selama Tuan Muda tidak meninggalkanku,
aku akan memberikan kendaraan,
rumah, kartu keluarga, semuanya padamu.
Lalu jika aku pergi,
apakah kamu tidak mau hidup lagi?
Benar.
Jika kamu berani meninggalkanku,
aku akan mati di hadapanmu.
Baik.
Melihat dirimu yang begitu kasihan,
aku tidak akan mengusirmu lagi.
Terima kasih, Tuan Muda.
Isak tangis Nan Xiaoxing seketika terhenti.
Menunjukkan senyuman yang lebar di wajahnya.
Seolah harapannya seumur hidup ini
sudah terkabulkan.
Apa yang kamu tulis ini?
Majikan pahlawanku.
Kamu menyuruhku pulang
untuk melihat ini?
Cerita yang kutulis ini
lebih cocok dengan
hubungan kita di kehidupan nyata.
Juga sangat cocok dengan sifatmu yang mudah tergila-gila
di kehidupan nyata ini.
Ini sudah bukan tergila-gila lagi namanya.
Ini sudah bisa disebut...
Kamu sendiri
tidak dapat melihat tampangmu sendiri.
Bagaimana bisa tahu kalau kamu tidak begitu?
Beruang,
menurutmu,
bukankah sebagian orang terlalu narsis?
Aku juga hanyalah
memberikanmu sebuah referensi.
Aku hanya ingin mengingatkanmu
saat menulis,
jangan sampai
lari dari fakta dasar dan kenyataan.
Dia ini sudah
lari dari fakta dasar dan kenyataan, oke?
Apa yang kupikirkan saat itu,
aku masih mengingatnya dengan jelas.
Saat itu aku sangat takut melihatnya.
Bahkan tidak sempat bersembunyi.
Bagaimana bisa aku
berlutut memohon agar dia menikahiku?
Kenapa kamu takut padaku?
Karena kamu memang sangat menakutkan.
Kamu mengancamku untuk bermimpi.
Mengikutiku saat pulang.
Kemudian tidur di sampingku semalaman.
Lalu kamu bilang hendak menyandera Nyonya An
untuk memaksaku bekerja sama denganmu.
Kamu ini,
orang normal tentu akan merasa takut.
Tunggu sebentar.
Kalau begitu jelaskan padaku
kenapa
saat pertama kali bertemu denganku,
kamu mengatakan ucapan aneh saat
aku tidak sadarkan diri?
Kakak kuno yang tampan,
wanita datang menyelamatkan,
si pria jatuh cinta pada pandangan pertama.
Terakhir mereka menikah dan bersatu.
Apa itu?
Memangnya hanya omong kosong saja?
Memang iya.
Dia mau memukul orang.
Baik.
Karena arah penulisan
kita berdua tidak sama,
maka tidak perlu menulis novel ini lagi.
Ini pada dasarnya memang
aku yang menulis novel,
untuk apa kamu ikut campur?
Aku ikut campur?
Kamu jangan lupa,
novelmu ini
aku yang menyuruhmu menulisnya.
Akulah tokoh utama dalam novel ini.
Setiap kata yang dia ucapkan,
setiap hal yang dia perbuat,
merupakan tindakanku sendiri.
Pada dasarnya aku memiliki setengah.
Kalau begitu,
apa maumu?
Apa mauku?
Aku beri tahu kamu,
kisah ini
karena ini milik
kita berdua,
maka sebelum dirilis,
juga harus melalui persetujuan
kita berdua terlebih dahulu.
Kamu sungguh berpikir terlalu banyak.
Ini masih jauh dari perilisan.
Aku harus berterus terang padamu sekarang.
Apakah mungkin
kamu menulis
suatu cerita yang tidak boleh dibaca orang lain?
Jangan sampai dia tahu
isi dari tetangga iblisku.
Tunjukkan padaku.
Aku tidak mau.
Aku belum menulis satu pun.
Akhir-akhir ini aku sedikit sibuk.
Sibuk apa?
Aku pulang dan menulis dulu.
Sampai jumpa.
Bukankah tulisan ini lumayan bagus?
Jika saja ketahuan olehnya,
maka tamat riwayatku.
Selain itu tokoh utama pria
kutulis menjadi Bosku.
Tentu tidak boleh mengumpulkan naskah ini.
Apakah aku begitu menakutkan?
Kesannya padaku ternyata seburuk itu.
Karena kamu memang sangat menakutkan.
Kamu mengancamku untuk bermimpi.
Mengikutiku saat pulang.
Kemudian tidur di sampingku semalaman.
Lalu kamu bilang hendak menyandera Nyonya An
untuk memaksaku bekerja sama denganmu.
Kamu ini,
orang normal pasti akan merasa takut.
Kesalahpahaman memang ada alasannya.
Aku memang pernah berkata
hendak menyandera Bibi An semacamnya.
Orang biasa tentu akan merasa takut.
Tapi aku hanya mengatakannya saja.
Aku tidak sungguh melakukannya.
Tapi, apa lagi yang bisa aku tulis?
Tapi dia yang mudah tergila-gila,
itu sungguh nyata.
Aku sendiri yang mendengarnya.
Aku begitu tampan,
tentu bisa menyeimbangkan
kesannya padaku, bukan?
Aku akan mencari tahu lagi besok.
Kak Senior, pelan sedikit.
Hujannya begitu deras,
cepat cari tempat untuk berteduh.
Jika seperti ini, kamu akan flu nantinya.
Hujan tidak jadi masalah,
masalah penting sedang menungguku.
Menunggumu?
Menunggumu juga tidak boleh sampai flu.
Pelan sedikit, Kak.
Halo, halo.
Tidak apa-apa, 'kan?
Aku datang.
Hati-hati, hati-hati.
Jangan tergesa-gesa.
Tidak apa-apa.
Halo.
Sudah lama menunggu, 'kan?
Tidak apa-apa.
Sudah, sudah.
Kamu pergilah sana.
Sana, sana.
Kamu pergi pesan makanan.
Halo, hendak memesan apa?
Mari.
Terima kasih.
Dua gelas minuman soda buatan sendiri.
Terima kasih.
Aku mencari tahu tentang sesuatu denganmu.
Jika kakak seniormu Nan Xing
bertemu dengan seseorang,
lalu orang ini
mungkin melakukan
hal yang tidak begitu dia sukai.
Akan tetapi orang ini
tampangnya sangat tampan dan keren.
Menurutmu, perasaannya pada orang ini
apakah mungkin
akan menjadi seimbang sedikit?
Tentu tidak bisa seimbang.
Apa yang kamu pikirkan?
Kakak senior melihat pria
sama sekali bukan melihat wajahnya.
Benarkah?
Sungguh.
Misalnya saja,
saat berlari melihat kakak tampan,
kemudian sesekali melihat
penggemar Lu Zichen di jalan,
lalu juga apa itu,
orang baik yang memungutkan tisu untuknya,
dia awalnya memang tergila-gila pada mereka.
Kemudian?
Kemudian?
Kemudian tidak ada lanjutannya lagi.
Mana ada lagi kemudian.
Sebenarnya kakak senior
sangat berpegang pada prinsip.
Sungguh.
Dia menyukai seseorang
dengan dia tergila-gila atau tidak,
itu tidak ada kaitannya sama sekali.
Itu merupakan dua hal yang berbeda.
Minumlah.
Aku tidak perlu.
Aku suka minum teh susu.
Kamu pesankan satu teh susu lagi.
Kalau begitu,
aku beri contoh lagi.
Jika ada seorang pria
dia sedikit licik dan picik,
mungkin biasanya
suka membohongi orang semacamnya,
menurutmu pria semacam ini
apakah dia masih punya harapan?
Kemungkinan besar tidak ada lagi.
Aku katakan padamu,
pria seperti ini di mata kakak senior
pasti tidak lolos.
Jika kesannya pertama kali
pada orang ini sudah tidak baik,
maka akan sangat sulit diubah lagi.
Selain itu aku katakan padamu,
menurutku tipe idamannya itu
selama ini hanya satu,
sama sekali tidak pernah berubah.
Hanya orang dengan tipe seperti ini,
dia baru bisa suka.
Tipe seperti apa?
Lembut, berkharisma, sopan dan elegan,
pria yang benar dan hangat.
Seperti tokoh pria yang muncul
di dalam novelnya.
Tipe semacam itu.
Benar dan adil aku tahu,
tapi apa itu pria hangat?
Pria hangat itu seperti...
Kamu lihat,
seperti itu.
Memegang payung untuknya.
Kemudian melindunginya dalam payung,
memeluknya,
itulah pria hangat.
Misalnya lagi di restoran ini,
dia membantunya mengambilkan kursi,
kemudian menyusun peralatan makan di atasnya,
lalu menggantung pakaian untuknya.
Kemudian juga menyusun
roti sandwich ke atas.
Tunggu sebentar.
Kemudian...
Wanita ini,
apakah dia memiliki kendala dan gangguan dalam bergerak?
Apa bedanya dengan mencari
seorang pengasuh?
Yang penting dia menyukainya.
Kalau begitu, apakah kamu suka?
Tentu saja aku menyukainya.
Siapa yang tidak suka?
Tentu saja suka.
Bukankah itu cukup berakting saja?
Oke.
Hari ini terima kasih.
Aku pergi dulu.
Sudah mau pergi?
Sampai jumpa.
Terima kasih untuk ayam gorengnya.
Enak sekali.
Bukan, Kak Senior.
Pelatih kemarin sudah bilang...
Tidak,
aku sudah dua minggu tidak makan.
Lepaskan.
[Xiao Wudi]
Nona Nan,
aku dengan tulus mengundang Anda
ke kediaman hangatku malam ini
untuk mendiskusikan alur dari novel bersama.
Teman hangatmu, Xiao Wudi.
Ada apa dengan orang ini?
Nada bicaranya sungguh aneh.
Malam ini ada kegiatan dengan rekan kerja,
mungkin akan pulang lebih malam.
[Nan Xing]
[Xiao Wudi]
Seberapa malam juga tidak masalah.
Aku menunggumu.
Jika kamu tidak datang,
aku juga tidak akan marah.
Aneh.
Bos.
Kenapa kamu kemari?
Tidak istirahat lebih lama lagi?
Aku sudah sangat baik.
Hari ini awalnya
aku ingin meliburkan diriku sendiri,
pulang lebih awal.
Kenapa kamu tidak istirahat beberapa hari lagi?
Tuan Lu,
apakah kamu sudah jauh lebih baik?
Sudah lebih baik.
Kalian ini...
Nona Ye meninggalkan
kuncinya di kamar pasien.
Hari ini aku istirahat,
sekalian datang membawanya kemari.
Kemarin salahku.
Begitu tidak fokus
sampai melupakan soal ini.
Nanti,
aku mengajak Nona Ye panjat tebing,
kamu mau ikut?
Tidak, silakan lanjutkan obrolan kalian.
Baik.
Ada apa?
Ada urusan mencariku?
Tidak ada.
Sungguh tidak ada?
Bukankah
besok lusa kamu mau dinas?
Benar.
Konferensi industri,
bertemu dengan beberapa mitra.
Ada apa?
Kalau begitu, dua hari ini pulanglah lebih awal.
Istirahat dengan baik.
Baik.
Aku mengundangmu ke dalam grup olahraga ekstrem.
Di dalam grup ada banyak kegiatan.
Kamu sama sekali tidak meresponnya.
Aku sudah melihat pesan itu,
tapi setelah pesan pekerjaanku
juga masuk,
aku tidak ada niat lagi,
hanya bisa memilih menyelesaikan pekerjaanku,
tidak bisa meluangkan waktu.
Padahal aku sangat ingin pergi.
Kamu lihat betapa pasnya hari ini.
Aku mengantarkan kunci untukmu.
Kebetulan juga bisa mengajakmu panjat tebing.
Sungguh terima kasih padamu.
Bagaimana dengan teknik panjat tebingmu?
Pernah mendapat penghargaan.
Begitu hebat?
Kalau begitu, aku akan melihatnya hari ini.
Bos,
Anda mencariku?
Tidak.
Semangat.
Semangat.
Terima kasih.
Sudah bertahun-tahun
aku tidak pernah dikalahkan oleh wanita.
Juga sudah bertahun-tahun
tidak ada orang yang menyebutku wanita.
Apakah Tuan Lu sedang mengejarmu?
Apakah Zichen?
Kamu juga percaya dengan gosip di internet?
Aku tidak melihat gosip di internet.
Beberapa hari yang lalu,
bukankah kalian pergi bungee jumping?
Dia begitu takut dengan ketinggian,
sangat tidak pandai dalam bidang ini.
Namun tetap saja mengumpulkan keberanian untuk menemanimu.
Dia tidak ingin mengejarmu?
Mustahil.
Kenapa?
Apakah kamu tahu
kami berdua
melakukan banyak hal bersama.
Akan tetapi, setiap hasilnya
adalah demi pekerjaan.
Apakah kamu tahu?
Pernah sekali dia mengajakku ke bioskop,
menonton film cinta pergantian tahun baru.
Bukankah
sesuatu yang sangat romantis?
Coba kamu tebak apa hasilnya.
Episode selanjutnya dia menuliskan tentang
kasus mutilasi di bioskop saat malam pergantian tahun.
Hebat bukan?
Akan tetapi manusia bisa berubah.
Kalian berdua bersama begitu lama,
wajar saja kalau timbul perasaan.
Zichen,
dia seseorang
yang tidak mudah berubah.
Sama seperti dia bertahun-tahun
tetap bersikukuh
menggunakan pensilnya menuliskan sesuatu.
Orang lain merasa
ada sesuatu yang tidak beres dengannya.
Akan tetapi, dia memang orang seperti itu.
Jadi,
jika dia sudah pernah bilang tidak menyukaiku,
maka sudah pasti tidak akan menyukaiku.
Dia mengatakannya langsung padamu?
Dia ini
masih ada satu ciri khas,
yakni sangat jujur.
Terkadang pria
mulut dan hati tidak selaras.
Kamu harus memikirkan lagi
apa yang dia ucapkan padamu.
Lengan ini sungguh pegal,
pulang nanti harus memijatnya dengan baik.
Sungguh, istirahatlah dengan baik.
Selain itu, kamu juga harus
mengompresnya dengan air panas.
Kalau tidak, besok sungguh...
Temanku datang menjemputku.
Baik.
Halo.
Halo.
Kalau begitu, kita buat janji lagi nanti.
Baiklah.
Kalau begitu aku pamit dulu.
Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
Sudah berpegangan?
Ibu.
Aku ke seberang mencari Xiong.
Kebetulan aku baru memasak menu baru.
Bawa sedikit untuk dia coba.
Baik.
Xiao Wudi, Ibuku menyuruhku...
Kenapa kamu tidak menyalakan lampu?
Apakah lampunya rusak?
Jangan bergerak.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.