All language subtitles for Kutukan_Cakar_Monyet_(2023)_hi_idcp[1]

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German Download
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[musik misterius]

Aku mau…

Jangan

ganggu keluargaku lagi.

[wanita] Kakak bisa membayangkan mungkin keinginan terbesar kalian adalah

bertemu lagi dengan orang tua kalian.

Waktu seusia kalian,

itu keinginan terbesar Kakak.

Tapi Kakak tidak bisa

karena mereka sudah ada di tempat yang lebih baik.

Sama seperti kebanyakan dari orang tua kalian.

Lalu, itu membuat Kakak jadi takut untuk membuat keinginan.

Sampai sekarang, sebenarnya juga masih begitu,

tapi lama-lama Kakak belajar.

Masalahnya bukan di hidup tanpa keinginan.

Tapi bagaimana kita menerima keinginan yang tak kita dapatkan

agar kita bisa dapat kebahagiaan yang kita mau.

Kakak sadar tidak bisa bertemu lagi dengan orang tua Kakak,

tapi ternyata Kakak masih bisa mendapatkan kebahagiaan keluarga.

Seperti yang selalu dikatakan ibu kepala kita yang paling baik

dan baru Kakak pahami sekarang.

"Aku bahagia bukan karena ingin."

[anak-anak] "Tapi aku ingin karena bahagia."

- [tepuk tangan] - [musik lembut]

Terima kasih ya. Dah.

[petir bergemuruh]

[terkekeh] Jaga dirimu baik-baik.

Ya. Ibu juga ya.

[terkekeh]

Ibu, aku pamit dulu ya.

- Terima kasih payungnya ya, Bu. - Ya.

[musik lembut]

Nanti aku gabungkan dua acara itu di sini.

Syukuran rumah dan merger.

Undang semua bos.

Aku lupa betapa besarnya rumah ini.

Karena kau baru kemari sekali.

Nanti kau akan lihat rumah ini tak terlalu besar.

Aku tidak datang bukan karena tidak suka, tapi tidak setuju.

Sebenarnya tetap berat untuk tabungan kita walaupun pemiliknya kasih harga rendah.

Peningkatan selalu diikuti dengan visi.

Kalau kita bisa lihat diri kita lebih besar,

- kita akan menjadi lebih besar. - [mencemooh]

[wanita] Pak.

Tolong lukisannya. Takut jatuh.

[musik lembut]

Bagaimana, Ma?

Sudah dilihat?

Menurut Mama sangat bagus, Sayang.

Bagus, tapi kurang rapi.

Tapi papamu benar.

Setiap rumah yang jadi bagus itu karena nyonya rumahnya.

Rumah sebagus apa pun bisa jadi jelek kalau nyonya rumahnya tak bisa merawat.

Sudah, Ma?

Kau sudah lihat-lihat. Kita pulang yuk.

[bergumam]

Bagaimana kalau kita makan malam?

Sekalian merayakan kecil-kecilan?

Papa dan Mama tak bisa datang ke acara syukuran, 'kan?

Papa yang tak bisa datang.

Ada janji sama teman bisnis.

Jadi, Mama harus menemani.

- Anakmu sehat? - Sehat, Ma.

- Kapan ke dokter lagi? - Minggu depan.

Sudah masuk enam bulan. Sudah harus setiap minggu.

Coba kalau papa dan mamamu masih ada,

mereka pasti lega melihatmu menikah dengan Roy.

Ma.

Ibu Astri sudah tahu soal Roy.

Itu sudah cukup bagiku.

Pasti dia juga lega melihatmu dengan Roy.

Apalagi kau tinggal di rumah sebesar ini.

Bagus untuk panti asuhannya kalau ada lulusan yang sukses.

Meski begitu, Mama juga tahu Amara pintar.

- Bisa lihat bibit unggul. - Ma…

Kalau benar Roy bibit unggul. Ayo.

Papa ini paling bisa. Kalau bercanda suka kelewatan.

[musik lembut]

[Amara] Rumah kita yang kemarin itu enak.

Keluar sedikit ada banyak makanan. Lihatlah di sini.

Sudah tiga tahun menikah, tapi mamamu masih tak menyukaiku.

Ini baru tiga tahun.

Berilah dia waktu.

Namanya juga melepas anak satu-satunya.

Nanti kalau punya cucu pasti juga langsung berbeda.

"Bibit unggul".

[keduanya terkekeh]

Sudah 20 tahun aku menjadi anak orang itu,

tapi masih saja tak menyukaiku.

Padahal aku tak pernah melakukan salah kepadanya.

Tapi sejak mamaku bertemu orang itu,

aku selalu merasa sendiri.

Aku paham apa yang kau rasakan.

Tapi kini kau sudah tak sendiri.

Kau punya tim baru.

[terkekeh]

[suara geraman mengerikan]

[Roy menggerutu] - Bangun, Pemalas.

Kalau para bos itu tahu kau jam segini belum bangun…

Apa ini?

Ada di meja ruang tamu.

[Roy mengerang]

Aku menemukannya kemarin.

Terselip di sofa. Seperti pajangan milik pemilik yang lama.

Apa rencanamu hari ini?

Ada janji sama Pak Harris.

Menawarkan portal baru.

Aku tak mau hanya berhenti di satu portal.

Kau tahu aku hanya menyayangimu, 'kan?

Oh ya?

Lalu, kalau sayang sama aku, cintanya sama siapa?

[terkekeh]

Bisa tidak jangan merusak momen romantis yang lagi aku bangun?

[suara kecupan]

Aku mau siapkan makan agar kau tidak telat.

Itu baru romantis.

Aduh…

Bisa. Aku bisa.

Aku bisa.

Aku bisa.

Aku pasti bisa.

Roy!

Doakan aku ya.

Aku sudah beri tahu papaku.

Aku bilang idemu fantastis banget.

Terima kasih.

Hei, besok kau datang, 'kan? Aku mau memperkenalkanmu dengan Amara.

- [bergumam] Besok? - [pria] Pak Roy.

Tunggu apa?

Kita tahu Bio itu produk masa depan.

Aku jamin hak patennya bisa menjadi milik perusahaan.

Tak ada ruginya.

Ya, aku sudah baca.

- Idenya bagus. - Semua orang bisa berpikir begitu.

Pertanyaannya adalah bisakah menjadi produk yang bagus?

Kami tak mau proyeknya bagus, tapi menghamburkan uang.

Kalau dilihat dari portal yang sudah dibeli perusahaan ini,

aku sudah menunjukkan…

Menunjukkan apa?

Kau belum menunjukkan apa-apa.

Tapi karena kita pemain baru di digital

dan adikku sangat menjual portalmu kepada Papa,

ya sudah, tidak ada ruginya.

Meskipun akulah yang akan mengembangkannya.

[pintu mobil ditutup]

[berdesah]

[suara ketukan pintu]

Bu?

Aku tahu rumah ini sudah menjadi milikmu.

Tapi bolehkah aku masuk untuk melihat-lihat?

[musik meresahkan]

[Amara] Aku tak terlalu banyak mengubahnya, Bu.

Aku suka rumah Ibu apa adanya.

Mungkin aku mau minta izin untuk membuat perubahan di kamar anak.

Kalau boleh.

Lakukan saja apa yang kau mau.

Rumah ini bukan milikku lagi.

Apa ada yang aneh dengan rumah ini?

Aneh bagaimana, Bu?

[menghela napas]

Aku mau minta tolong.

Ada barangku yang tertinggal di sini.

Kalau ketemu, tolong kembalikan kepadaku.

Bentuknya seperti tangan.

- Lalu… - Cakar dari kayu itu?

Ada. Suamiku menemukannya kemarin.

Di mana cakar itu sekarang?

Mungkin disimpan suamiku. Tadi kulihat tak ada di kamar.

Tapi bisa kutanyakan nanti saat pulang kerja.

Mau kukirimkan ke Ibu atau…

Akan kuambil besok.

Pak Adam.

Roy, kau…

[bergumam] Kalau boleh, tolong pikirkan lagi proposalku, Pak.

Aku yakin bisa jalan.

Kalau Pak Harris dan Pak Adam kurang berminat,

aku terpaksa mencari pendanaan lain.

Sayang, Pak. Kalau bisa, kita selalu sukses bersama.

Kalau begitu, cari tempat lain saja.

Tidak masalah.

Oh ya.

Selamat atas rumah barunya.

[terkekeh] Besok datang ya ke acara syukurannya, Pak.

Kuharap kita bisa mengobrol lagi.

[bergumam] Kebetulan aku tidak bisa.

Pak Harris juga tak bisa dan adikku juga tidak mau.

Takut bertemu saingan.

[pintu mobil dibuka]

[pintu mobil ditutup]

[musik suram]

[terkesiap]

[Roy teriak]

[terengah-engah]

Baru pulang?

Roy.

Ya.

Rapatnya agak lama tadi.

Hai.

- Sudah makan? - Sudah.

Kok kelihatan lelah sekali?

Oh ya, aku hampir lupa.

Untung kau bawa pulang.

Aku tahu ini punya siapa.

Punya siapa?

Seperti yang kau bilang,

ini punya pemilik lama rumah kita.

Tadi dia datang dan mencarinya.

Kubilang ada padamu.

Besok, jika kau tak ada acara, temani aku ya?

Dia mau mengambilnya besok, tapi…

Lihat besok saja.

Tapi kau ingat, 'kan, agennya bilang apa soal dia?

Ini.

Cuma waktu dengar kita menemukan cakarnya, dia tampak semangat.

[suara pria di TV] Apa pun yang kau inginkan,

inilah jawabannya.

Kehormatan, kekayaan,

ketenaran.

♪ Kuserahkan tangan saktiku ♪

♪ Banyak orang bebas menikmati ♪

♪ Tapi berhati-hati ♪

♪ Satu orang mulai satu ♪

[menggeram]

♪ Jangan ada penguasaan ♪

♪ Banyak orang dan banyak tangan ♪

♪ Itu tujuan yang berkuasa Jadi, gunakan ♪

♪ Puaskan hati ♪

♪ Janganlah khawatir ♪

♪ Jiwamu aman ♪

♪ Dalam tanganku ♪

Aku ambilkan sebentar ya, Bu.

[musik meresahkan]

Di mana Ibu membeli pajangannya?

Bentuknya unik.

Jadi, pasti ada artinya.

Di mana Ibu membelinya?

Aku juga mau kalau ada yang mau jual.

Aku tidak tahu.

Itu barang peninggalan suamiku.

Lalu, apa namanya?

Aku ingin mencarinya sendiri.

Aku tak pernah tahu namanya.

Tapi aku menyebutnya Cakar Monyet.

Aduh, Bu, maaf.

Barangnya tidak ketemu. Aku lupa taruh di mana.

Bagaimana kalau aku cari dulu, besok aku akan mengabarimu?

Aku akan kembali besok.

Tolong dicari.

Biar aku beli cakar ini. Aku menyukainya.

Kembalikan cakar itu!

Barang itu tidak dijual.

Itu milik mendiang suamiku.

Mana kutahu itu milik mendiang suami Ibu?

Untuk apa aku bohong?

Kita tidak memakainya.

Biar kupinjam beberapa hari

agar aku bisa bertanya sama orang ini beli di mana.

Mengapa tidak kau kasih saja? Kita juga tidak pakai.

Stop!

- Aduh! - Stop!

- Bu? - [terengah-engah]

Bu?

[mengerang]

Aku…

- Pestanya sebentar lagi dimulai. - Kau masih bisa memikirkan pesta?

Harus.

Jujur, aku tak mau, Sayang.

Tapi sudah terlambat untuk membatalkan undangan.

Bisakah kau bayangkan orang datang,

lalu melihat ada polisi di rumah ini?

Tolong kasih waktu.

Aku butuh waktu agar kita tidak salah langkah.

Kau lihat sendiri ini kecelakaan.

Aku tidak mau hidup kita hancur karena orang-orang tidak percaya.

Tadi dia bilang sesuatu soal cakar ini.

Tapi aku tak mengerti apa artinya.

"Minta cakar tolong aku," Itu yang dia bilang.

Apa maksudnya itu?

Sepertinya ada sesuatu dengan cakar ini.

Kudengar ia bisa mengabulkan tiga permintaan.

- Dengar dari siapa? - Bukan siapa-siapa. Cerita konyol.

Ya, aku harus lebih cari tahu lagi.

Kita minta saja kepadanya.

Jika ucapanmu benar,

jadikan saja itu permintaan pertama kita.

Kita mau tahu semua soal cakar ini.

Kalau itu saja tidak bisa, jangankan yang lain.

[berdeham]

Aku mau tahu segalanya soal cakar ini.

[musik menyentak]

- Ada apa? - Cakar itu memegang tanganku.

- Maksudnya? - Cakar itu memegang tanganku, Sayang.

Roy, aku tak suka di sini. Ayo kita pulang.

[musik meresahkan]

[petir bergemuruh]

[dialog dan tawa samar]

Terima kasih sudah menyempatkan datang.

- Terima kasih banyak. - Terima kasih.

Terima kasih.

Orangnya Pak Harris yang kuceritakan. Dia dulu berteman denganku.

- Maaf ya, hujan. - Ya, tak apa.

Terima kasih sudah menyempatkan datang.

- Terima kasih. - Ya.

Kemarin itu aku…

Pak Harris…

- Pak, terima kasih sudah datang. - Ya.

Akhirnya sampai.

- Di luar hujan. - Ya, cuacanya…

Ini Amara, istriku. Dia yang menata semua ini.

- Pak, terima kasih sudah datang. - Ya. [Terkekeh]

Ya, Pak, semua sudah datang. Nanti aku menyusul.

- Oke. - Ya.

[petir bergemuruh]

Hai, Sayang. Di mana mamamu?

[kelontang]

Jangan naik, Kak.

Setannya jahat.

Bukan setan. Itu ART Kakak lagi di atas.

Ya, Bu?

Ti, temani aku ke atas ya.

Oh…

Kak, jangan naik.

Tidak ada apa-apa, 'kan, Bu?

[musik meresahkan]

[keletak]

Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, maaf ya. Setelah dicek, ternyata sekeringnya putus.

Mohon maaf sekali. Jika kurang nyaman, aku persilakan pulang.

Bukan salahmu, Roy.

Tidak apa-apa.

Ti, ambilkan senter di laci kamarku.

Panggil Bapak dulu saja, Bu.

Bapak sedang menemani tamu, cepatlah.

[mengerang]

[menggeram]

[teriakan wanita]

[Roy] Amara!

Roy, ayo kita pergi dari sini.

[Roy berteriak]

[terengah-engah]

[wanita] Sesuai permintaan kalian,

apa yang kalian mau tahu?

Tugasku memberi tahu.

Apa sebenarnya cakar itu?

Kau sudah tahu.

Tiga permintaan.

Siapa perlu lebih dari tiga?

Permintaan apa pun?

[suara monyet]

Apa yang akan terjadi setelah meminta tiga permintaan itu?

Permintaan kalian selesai.

[suara pria melalui speaker] Apa pun yang kau inginkan,

inilah jawabannya.

Kehormatan, kekayaan,

dan ketenaran.

♪ Kuserahkan tangan saktiku ♪

♪ Banyak orang bebas menikmati ♪

♪ Tapi berhati-hati ♪

♪ Satu orang mulai satu ♪

♪ Puaskan hati ♪

♪ Janganlah khawatir ♪

♪ Jiwamu aman ♪

♪ Dalam tanganku ♪

Buka kotak ini.

Tugasmu sudah selesai!

Pergi!

[terkesiap]

[terengah-engah]

Ayo!

[musik menegangkan]

Amara…

Buka. Tolong!

Buka!

Ayo cepat pergi!

[berteriak]

[berteriak]

Apa?

Di mana kotaknya?

Ya.

- Sayang, buka! - Sayang, bantu.

Awas!

Aku minta semua setan meninggalkan kami.

[terengah-engah]

Apa kau mau

kita tinggal di tempat lain malam ini?

Permintaanku ke cakar itu telah dipenuhi.

Apa yang harus kita lakukan dengan cakar ini?

[bunyi kunci pintu dibuka]

[bunyi pintu dibuka]]

[terkesiap]

[terengah-engah]

[Wati] Mau ke mana, Bu?

Ti.

Ibu mau ke mana?

Aku tak mau bermain-main dengan apa pun yang jahat.

Kau dengar sendiri tadi, 'kan?

Cakar ini akan menjebak dan menghancurkan orang.

Selama cakar ini ada, kita akan selalu tergoda.

Lebih baik dibuang daripada menjebak siapa pun lagi.

Ibuku sakit.

Aku hanya minta kesembuhan ibuku.

Cuma itu…

Satu-satunya harapanku.

Setelah itu, Ibu bisa buang sejauh-jauhnya.

Tolong aku, Bu.

Terima kasih.

Aku minta

ibuku sembuh.

[musik meresahkan]

- [berteriak] - [mengerang]

Bu!

[statis radio]

[suara pria di radio] Apa pun yang kau inginkan,

inilah jawabannya.

Kehormatan, kekayaan…

Apa pun yang kau inginkan,

inilah jawabannya.

[Amara merintih]

Jangan. Itu cincin kawinku.

[musik meresahkan]

Roy, tolong!

[mengerang]

[Amara berteriak]

Aku belum dapat pembantu.

Tapi dalam satu atau dua hari, aku akan order online

sampai kita dapat.

Mama juga akan membantu.

Ya.

[musik muram]

SELAMAT DATANG, AMARA

[musik muram memudar]

[menghela napas]

Ayo tidur, Sayang.

Kata dokter, kau harus banyak istirahat.

Kau tidak harus di sini.

Maksudmu?

Kau dengar apa kata dokter, 'kan?

Ovumku sudah rusak.

Aku tak akan bisa memberimu keturunan.

[berdesah]

Tahukah kau mengapa aku menikahimu?

Begitu kau lepas dari panti asuhan itu,

kau berjuang sendiri.

Kuliah sambil jadi guru les di tempat itu.

Lalu, kau bertemu denganku.

Guru les senior yang cupu.

[Roy menghela napas]

Jadi, aku tak peduli apa kata orang.

Bahkan mamaku sendiri.

Karena bagiku, kau yang terbaik.

Kita harus buang cakar itu.

Tapi setelah ia menolong kita.

Ia tak akan menolong kita, Roy.

Itu justru tujuan dari iblis atau apa pun yang membuat cakar itu.

Menjebak siapa pun yang mengambil jalan pintas.

Seolah-olah jawaban dari masalah mereka ada di depan mata.

Roy!

Jangan.

Cakar itu satu-satunya harapan kita, Sayang.

Aku tak pernah peduli dengan ucapan orang.

Tapi apa kau tidak mau punya anak?

Kau bisa mulai untuk kita.

Kita ada di harapan tertinggi kita.

Supaya kau bisa hamil lagi.

Lalu, aku juga akan minta semoga semua rencanaku berhasil.

Setelah itu,

kita kubur cakar itu dalam-dalam.

Sayang.

Tidakkah kau mencintaiku?

Tidakkah kau ingin keluarga kita lengkap?

Aku tak mau melakukannya justru karena aku mencintaimu.

[musik meresahkan]

Kalau kau mau aku tahu apa aku punya istri yang mencintaiku,

ini kesempatanmu

agar kita bisa pakai cakar itu lagi.

Aku membuktikan dengan menolak.

[musik meresahkan berlanjut]

[menggeram]

[bergumam] Aku mau memberikan ini kepada Pak Harris.

Lalu, kalau ada waktu, aku juga ingin bertemu dengannya.

Pak Harris sedang rapat.

Aku akan menunggunya.

Pak Harris rapat sampai malam.

Kalau memang mau bertemu, nanti akan kukabari.

[suara ketukan pintu]

Ma?

[suara bola ditendang]

Hai.

Halo.

Ini, ambil bolanya.

Terima kasih.

Tahukah kau Mama sempat mau menggugurkan Roy?

Waktu ayahnya Roy tak mau tanggung jawab dan meninggalkan Mama.

Kakek Roy juga mengusir Mama.

Mama takut tak bisa mengurus Roy.

Bagaimana mau beli susu untuk Roy? Beli makan saja tidak tahu bagaimana.

Jadi, Mama minum obat.

Mama tahu itu berbahaya untuk janin.

Mama masuk rumah sakit.

Namun, Roy justru selamat.

Suster rumah sakit itu namanya Anna.

Dia memarahi Mama.

"Kalau tidak mau dengan anak itu, berikan saja kepada orang lain.

Jangan sembarangan digugurkan."

Itu ucapnya.

Jadi, Mama melahirkan Roy.

Tapi sekarang Mama bersyukur.

Waktu itu Mama gagal.

Mama tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya kehilangan Roy.

Sebenarnya, karena itu juga Mama sering bermasalah denganmu.

Karena Mama takut kehilangan Roy.

Mama minta maaf.

Mama hanya ingin kau tahu Mama mengerti kesedihanmu.

Kakak, jangan dorong. Sakit!

[cekikik]

Istirahat…

Agar kau sembuh total.

Tenang saja.

Masih banyak kesempatan untukmu hamil lagi.

Kalau kau butuh bantuan…

Jangan segan untuk minta.

Aku pasti membantumu sebisa mungkin.

Sebenarnya, ada yang…

Ada yang kubutuhkan.

Oh ya? Apa? Bilang saja.

Aku butuh

bantuan doa.

Kau tak usah meminta pasti juga sudah kudoakan.

Tapi dalam sebuah cara.

Maksudnya?

Ini mungkin akan terdengar sedikit aneh.

- Oke. - Cuma…

Dulu pas aku kecil…

Aku selalu minta apa yang kumau

ke satu mainanku.

Lalu, banyak yang kejadian.

[musik meresahkan]

Itukah mainanmu?

[terkekeh]

Memang jelek.

[tertawa]

Tapi anak perempuan biasanya bermain Barbie.

Kalau aku punya mainan ini yang selalu setia menemaniku.

[bergumam]

Atau…

Bagaimana jika aku menemanimu saja?

Jadi, kau yang memohon, aku akan menemanimu.

Oke.

Kalau kau tak nyaman melakukannya di sini, tak apa-apa.

Mas.

Kita tak harus di sini.

Bagaimana kalau kita keluar saja?

Ya, aku juga tak bisa terlalu malam.

Ya sudah.

Katamu, kau akan menemaniku.

Ayolah, sungguh tak ada apa-apa.

Katamu, kalau aku butuh bantuan, kau pasti akan membantuku.

Ya, nanti aku akan bilang ke Papa.

Aku tak butuh ayahmu!

Ayahmu tak bisa memberikan apa yang kumau!

Aku hanya butuh kau menyebutkan satu permintaan ke cakar ini saja.

Aku mau kau keluar dari mobilku sekarang.

- Keluar! - Sori, maksudku bukan begitu.

- Aku… - Keluar!

Aku tak akan keluar

sebelum kau minta sesuatu.

- Ayolah, kumohon. - Lepaskan.

- Tolong. - Satu permintaan saja.

Aku hanya minta kau membuat satu permintaan, itu saja.

Semuanya ada di depan matamu.

Kau tinggal bilang.

Sebut apa yang kumau.

Minta.

Apa susahnya?

[mengerang]

Sori, aku tak bermaksud.

Sori, aku tak bermaksud.

Aku keluar.

[mesin mobil dinyalakan]

[pintu dibuka]

[pintu ditutup]

Tolong buatkan nasi goreng dan teh ya.

[suara pria di radio] Apa pun yang kau inginkan,

inilah jawabannya.

Kehormatan, kekayaan…

Dan ketenaran.

♪ Kuserahkan tangan saktiku ♪

♪ Banyak orang bebas menikmati ♪

♪ Tapi berhati-hati ♪

Roy.

Sudah lama pulang?

Mama.

Belum.

Sudah, tidur lagi, Ma.

Mama sudah harus pulang.

Takut papamu menunggu.

Maafkan aku ya, Ma.

Aku belum bisa buat Mama bangga.

Kukira

aku bisa mengganti itu semua dengan menunjukkan kepada Mama

kalau aku bisa lebih berhasil dari orang lain.

Siapa bilang?

Mama tak perlu melihatmu lebih berhasil dari orang lain.

Kau anak Mama.

Sudah pasti Mama sayang dan bangga kepadamu.

[Amara berteriak]

Amara!

Ada apa, Sayang?

Ada apa?

Amara, ada apa?

Maafkan aku.

- Ada apa? - Hei.

Ambilkan air putih.

- Sayang. - [Amara terisak]

Aku tidak apa-apa.

Ada apa, Sayang?

Amara.

Aku tidak apa-apa. Aku hanya mimpi buruk.

Mimpi buruk apa?

Aku tidak ingat.

Aku hanya mimpi buruk, tapi aku tak apa-apa.

Sudah…

Istirahat ya.

Biarkan dia istirahat. Dia belum sembuh banget.

Ya.

Istirahat ya, Sayang.

Mama sekalian pamit.

Biarkan dua ART itu tetap di sini sampai kau sehat.

Buat apa, Ma? Tidak usah.

Aku tak apa. Itu hanya mimpi buruk.

Kalau ada apa-apa, aku telepon Mama ya?

Ya sudah.

- Mama pamit. - Ya.

Istirahat ya.

[pintu ditutup]

[suara monyet]

[musik meresahkan]

Maaf, Pak. Perintah dari Bapak Harris, Pak Roy dilarang naik ke atas.

Aku diminta memberikan surat ini kepada Bapak.

Tidak beretika sekali cara seperti ini.

Mereka mau membatalkan atau mempermalukan?

Maaf, Pak, tolong jangan buat keributan.

Kalau ada masalah, Bapak bisa hubungi HRD kami.

Ayahku orangnya tidak mau rugi.

Tapi baru kali ini kulihat

dia rela melepaskan sesuatu yang dia sudah keluar uang.

Aku sudah melarangnya, malah aku yang dimarahi.

Aku minta maaf.

Tolong sampaikan kepada Pak Harris, terutama ke Inggrid.

Alah!

Menurutku malah bagus.

Biar adikku dapat pelajaran.

Jadi,

apa rencanamu sekarang?

Belum tahu.

Perlu bantuanku?

[bergumam]

Kalau kau tidak keberatan,

boleh saja.

Aku pasti membantumu.

Aku pasti membantu menghancurkanmu.

Aku akan sebarkan ke mana-mana

kalau Grup Harris batal denganmu atas apa yang kau lakukan kepada adikku.

Lalu, aku akan memakai semua pengaruh yang kupunya

untuk mencegah rencana masa depan, apa pun yang akan kau lakukan.

[musik menegangkan]

[Roy mengerang]

[mengerang]

[dokter] Kondisimu cukup baik.

Semua hasil pemeriksaan juga normal.

Kecuali hCG-mu.

Sebenarnya aku agak curiga mendengar gejalamu.

Maksud Dokter?

Jadi, selamat.

Doamu selama ini telah terkabul.

[musik meresahkan]

[ponsel bergetar]

Halo?

♪ Selama bersama ♪

♪ Apakah sama ♪

Benarkah kau jatuh?

Tak ada lagi yang mau kau ceritakan kepadaku?

Mergernya batal.

Kenapa?

Kita cari cara.

Kita pasti bisa atasi.

Cakar itu benar-benar sudah menghancurkan hidup.

Aku minta maaf.

Malam ini juga,

kita buang cakar itu.

Kita jauhkan dari kehidupan kita.

Di mana cakar itu?

Tadi pagi cakar itu tiba-tiba ada di mobilku.

Padahal aku tidak taruh di sana.

- [mengerang] - Kenapa, Sayang?

Tidak apa-apa.

Aku ke toilet sebentar.

[muntah]

[terbatuk]

[keletak]

[musik meresahkan]

Kalau mau buang cakar itu, kita lakukan malam ini juga.

Kau mau membuang cakar ini…

Atau memakainya lagi?

Kau tidak mengerti.

Tidak mengerti apa?

Kau sudah memakai cakar ini supaya kau bisa hamil lagi.

Cakar ini hidup lagi, 'kan?

Ada yang tidak beres dengan kehamilanku.

Kau masih punya dua permintaan.

Dari mana aku tahu?

Kau masih punya dua permintaan!

Aku cuma minta ini.

Aku cuma minta ini, Roy.

Aku mau tahu

apa yang sebenarnya terjadi dengan kehamilan istriku?

Aku mau punya anak lagi.

[musik meresahkan]

- [teriak] - [geraman]

Tolong aku, Roy!

[Amara berteriak]

Roy!

Amara.

Amara, tolong buka pintunya!

Amara!

Tolong hentikan dia.

Tolong hentikan dia!

Tolong hentikan dia.

Aku minta…

[monyet menggeram]

[mengerang]

Roy, tolong aku.

Tarik lagi permintaanku ke cakar itu.

Mungkin kau benar.

Bagaimana kau bisa hamil lagi jika tanpa cakar ini?

Kau mau punya anak setan?

Kau sudah meminta permohonan itu.

Bagaimana dengan aku?

Kalau kau mau menunjukkan kasih sayangmu kepadaku,

ini kesempatanmu.

[Mama Roy] Mas…

Aku tak menyangka bisa bertemu kau lagi.

[terbata-bata]

Aku tak kenal kau.

[Papa Roy] Kalau benar Roy bibit unggul.

[Adam] Aku akan sebarkan ke mana-mana.

Kalau Grup Harris batal denganmu atas apa yang kau lakukan kepada adikku.

Aku mau…

Dicintai semua orang.

Aku janji akan mengatasi masalah ini.

Aku janji

aku tak akan menyerah.

[musik sendu]

Aku janji aku tak akan menyerah.

Dasar bodoh.

Kau minta apa yang sebenarnya sudah kau dapatkan.

Amara!

Gunung batuku dan bagianku

tetaplah Allah selamanya.

Silakan.

Roy.

Aku turut berduka ya.

[ibu panti] Ini bukan salahmu.

Kau tetap suami yang baik.

[musik sendu berlanjut]

Minum dulu.

Kau tak harus ada di sini setiap hari.

Ya, aku tahu.

Tapi

Papa minta aku bilang kepadamu.

Dia ingin membeli portalmu lagi.

Lalu, Papa ingin kau masuk ke perusahaan.

Bagi Papa, kau sudah seperti keluarga.

Semoga ini bisa menghiburmu.

Aku tak mau kau terus sedih.

Kalau perlu, aku mau memainkan permainan masa kecilmu.

Maksudmu?

Itu lo…

Kebiasaanmu dan mamamu yang kau ceritakan.

Si cakar jelek itu.

Kalau main itu bisa menghiburmu, aku mau ikut main.

Maksudnya?

Cara mainnya begitu, 'kan?

Pertama, aku minta permintaan,

setelah itu kau.

Ya, 'kan?

[musik meresahkan]

[pintu diketuk]

Masuk.

[musik lembut]

[suara ledakan]

- [suara anak monyet] - [cekikik]

[musik meresahkan]

[musik piano lembut]

[musik berakhir]

[musik piano lembut]

♪ Selama bersama ♪

♪ Apakah sama ♪

♪ Yang kau jalani dan yang kualami ♪

♪ Mungkin sejalan Apakah satu tujuan? ♪

♪ Apakah mimpiku ♪

♪ Seperti yang kau dambakan ♪

♪ Di hatiku ♪

♪ Yang terdalam ♪

♪ Apakah kau yang ada ♪

♪ Atau impian yang lain? ♪

♪ Mereka berkata ♪

♪ Hidup adalah pilihan ♪

♪ Yang ternyata mempermainkan ♪

♪ Bisakah yang aku inginkan kugenggam ♪

♪ Dan kumiliki ♪

♪ Tanpa kehilanganmu ♪

♪ Selama bersama ♪

♪ Apakah sama ♪

♪ Yang kujalani dan yang kau alami ♪

♪ Mungkin sejalan Apakah satu tujuan? ♪

♪ Apakah mimpimu ♪

♪ Seperti yang kudambakan ♪

♪ Di hatimu ♪

♪ Yang terdalam ♪

♪ Apakah aku yang ada ♪

♪ Atau impian yang lain? ♪

♪ Mereka berkata ♪

♪ Hidup adalah pilihan ♪

♪ Yang ternyata mempermainkan ♪

♪ Bisakah yang aku inginkan kugenggam ♪

♪ Dan kumiliki ♪

♪ Tanpa kehilanganmu ♪

♪ Tak mungkin memilih ♪

♪ Tanpa ada yang terluka ♪

♪ Hancurkan diri atau hancurkan hatimu ♪

♪ Mereka berkata ♪

♪ Hidup adalah pilihan ♪

♪ Yang ternyata mempermainkan ♪

♪ Bisakah yang aku inginkan kugenggam ♪

♪ Dan kumiliki ♪

♪ Tanpa kehilanganmu ♪

[musik berhenti]

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.