Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Ibu sudah gagal menjadi ibu yang baik.
Maafkan Ibu, Enduk.
Kalian semua harus membayarnya.
Kalian semua harus membayarnya.
…harus membayarnya.
Kalian semua harus membayarnya.
Selamat ulang tahun, Cah Ayu.
Tidak terasa sudah empat tahun, ya, Enduk?
Semoga Allah mengabulkan cita-citamu
dan melindungimu dari mara bahaya.
Ya, Ayah.
Mari kita rayakan.
Ayo.
Bagus!
Tini, saat besar nanti,
ke mana pun kau pergi,
jangan lupa untuk pulang ke rumah, ya, Enduk?
Ya, Bu.
Lo, Bu? Apa itu?
Bu Inah!
Pagi, Pak.
Hei, Min.
- Ya? - Lima hari lagi ulang tahunku.
Nanti kau datang, ya?
Nanti kukirimkan undangannya. Oke?
- Oke. - Ya.
Dian.
Nanti kau datang ke ulang tahunku, ya? Bisa tidak?
Bisa? Oke.
Yun.
Yun.
Entahlah.
Arum terpaksa kami keluarkan.
Jika Ibu menerima, kami tak akan perpanjang kasus ini.
Ayo.
Ayo.
Permisi.
Itu dia. Aneh banget, sumpah. Ada apa dengannya?
- Sepertinya dikeluarkan. - Aneh banget, sumpah.
Dasar sakit jiwa!
Itulah. Sepertinya dia gila.
Harusnya dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
Aneh banget. Dasar gila!
Arum tambah parah, Teh.
- Tadi di sekolah, dia… - Ibu…
- Ibu tenang, ya. - Sia-sia, Teh.
Ibu dan Mendiang Bapak hanya ingin Arum hidup normal.
Tadi, di sekolah, dia hampir berurusan dengan polisi.
Mungkin ini sudah saatnya kita memikirkan solusi akhirnya, Bu.
Menurut Lia…
solusi terbaik untuk Arum…
adalah memasukkannya ke…
ke rumah sakit jiwa, Bu.
Kau memang bukan saudara kandung, Teh.
Tapi Arum adikmu.
- Ayo. - Bu.
Maksud Lia bukan begitu, Bu.
Ibu. Bu.
Tadi Teh Lia bilang apa, Bu?
Tidak.
Teteh pasti salah.
Kau hanya butuh beberapa terapi.
Dan itu wajar.
Tapi bagaimana kalau Teh Lia benar, Bu?
- Bagaimana kalau Kakak memang gila? - Tidak.
Tidak!
Arum anak Ibu. Ya?
Anak Ibu dan masih sehat.
Ya?
Kalaupun Teh Lia benar,
Ibu tidak peduli. Ibu tetap sayang sama Arum.
Ibu akan usaha ke mana pun, Kak.
Ke mana pun Ibu akan coba untuk menyembuhkanmu.
Ya?
Ibu akan berusaha sampai Arum sembuh.
Arum pasti sembuh.
Percaya sama Ibu.
Arum pasti sembuh. Ya?
- Arum pasti sembuh. - Pasti sembuh.
- Ya. - Oke.
Arum pasti sembuh.
Arum pasti sembuh.
Arum pasti sembuh.
Arum pasti sembuh.
Arum pasti sembuh.
Hore!
Kakak sudah pulang!
Ibu! Kak Arum!
Kak Arum?
Kakaknya jangan diganggu dulu.
Ya?
Kak?
Kakak?
Kak?
Ya ampun, Kakak!
Kenapa, Dik?
Jadi main tidak?
Kumohon…
Ya sudah.
- Kakak ganti baju dulu ya? - Oke.
Arum, kalau sudah tidak mau makan kuenya, istirahat.
Besok masih ada pesta ulang tahun sama teman-teman SMP.
Arum?
Mas?
Jaga Arum.
Sembuhkan dia.
Semua sudah kutulis di agenda.
Tini, istriku,
aku tahu kau tak akan percaya dengan apa yang kutulis ini.
Entah bagaimana, tapi anak kita dikutuk.
Kutukan yang akan selalu datang di hari ulang tahunnya
yang jatuh di tahun kabisat.
Dalam agenda ini,
aku sudah mencatat semua orang
yang mungkin bisa membebaskan Arum dari kutukan.
Maka, sembuhkanlah Arum sebelum hari ulang tahunnya
agar tidak ada lagi korban.
Tangkap!
Ayo kejar.
Adik, naik.
- Oke. - Biar Kakak putarkan.
Satu,
dua,
tiga.
Kak, yang benar mainnya. Ayo, yang benar. Jangan begitu.
Kak, pelan-pelan.
Kak…
Kak! Ibu!
Kak, pelan-pelan!
Ibu, tolong!
Kak, pelan-pelan!
Ibu, tolong!
- Ibu! - Adik?
Adik!
Arum!
Kakak!
Ibu!
Sayang…
- Ibu… - Sini, Nak.
- Ibu? - Adik tidak apa-apa?
Ibu, Kakak minta maaf.
Setelah ini, kau ikut Ibu ya?
Kita berobat lagi. Siap-siap ya.
Ibu…
Mas, setelah empat tahun kematianmu,
aku tak menjalankan wasiatmu.
Sekarang aku percaya kutukan kepada Arum itu benar.
Aku akan berusaha menyembuhkan Arum.
Adik,
maafkan Kakak ya?
Kakak sudah minta maaf.
Janji ya jangan begitu lagi.
- Tapi maafkan Kakak ya? - Ya.
Teh Lia?
Aku tahu Ibu akan bawa Kakak ke dukun lagi.
Lia mau bicara.
Bu,
Lia mau minta maaf…
soal tadi.
Lia tak bermaksud begitu.
Ya.
Ibu menyayangimu, Teh.
Sama seperti sayang sama Arum.
Namun…
Lia tidak mau Ibu bawa Arum ke orang pintar.
- Bukan itu yang… - Teh…
Ibu tidak punya pilihan lain.
Kejadian tadi di sekolah
mengingatkan Ibu pada kejadian yang menimpa bapakmu.
Ibu tidak mau nyawa kita semua terancam, Teh.
Ibu tidak mau.
Kalau begitu,
Lia ikut.
Lia mau menemani Ibu.
Nanti kita cari sekolah baru ya, Kak,
biar Kakak bisa tetap masuk ke kampus impian Kakak.
Adik.
Jangan dimainkan. Nanti hilang.
Ini kunci apa, Bu?
Rumah Kakek di kampung. Masukkan lagi.
- Jangan dimainkan lagi, ya? - Oke.
Teh Lia, masih ingat lagu yang diciptakan Ibu waktu itu?
Yang mana?
- Tidak ingat. - Yang begini.
♪ Ko-ko-ko-ko-komodo ♪
♪ Dia lucu sekali ♪
Lalu?
♪ Ko-ko-ko-ko-komodo ♪
♪ Dia imut sekali ♪
Lalu, lanjutannya?
Rap. Ibu, ayo coba rap.
- Tolonglah, sekali saja. - Sut…
- Ayo, Bu. Rap Ibu bagus. - Ayo, Bu.
Ayolah, kumohon! Boleh tidak?
- Bagaimana? - Oke.
- Satu, dua, tiga. - Satu, dua, tiga.
♪ Ko-ko-ko-ko-komodo ♪
♪ Dia lucu sekali ♪
♪ Ko-ko-ko-ko-komodo ♪
♪ Dia imut sekali ♪
Kenapa, Kak?
Kak?
Tidak apa-apa, Bu.
Apa?
Balas dendam!
- Kak? - Teh, tadi…
- Kenapa? - Kak, tenang.
Arum, tidak ada apa-apa.
Arum, tidak ada apa-apa. Sebentar lagi kita tiba di rumah Ki Rustaman.
Tidak apa-apa.
Minum dulu.
Minum dulu.
Tenang.
- Tarik napas, Kak. - Kita langsung jalan ya?
Ibu jalan.
Jauh ya perjalanannya?
Jadi, siapa yang mau berobat?
Anak sulungku.
Dari kecil, dia suka…
Kesurupan.
Kesurupan dia.
- Adik mau pipis. - Nanti saja.
- Adik mau pipis? - Ya.
- Ya? - Tidak usah.
Neng?
Neng, kemarilah.
- Aku mau pipis. - Dia mau pipis. Diantar ya ke belakang.
- Maaf ya. - Mari.
- Tak apa-apa. Ayo, Dik. - Tak apa-apa.
Teh, aku saja.
Adik, toiletnya di belakang ya. Dekat kebun.
Jadi, ada roh yang masuk ke tubuhnya.
Semacam benalu.
Dik, tunggu Kakak.
Adik, jangan cepat-cepat.
Adik!
Adik, pelan-pelan… Jangan berlari di kebun orang!
Adik!
Anak ini…
Kuncinya, percayalah kepadaku. Ya?
Percaya. Ikuti saja aku bicara apa. Ya?
Roh di tubuh Arum sangat kuat
- sehingga dia tak bisa mengontrolnya. - Adik!
Namun, Ibu tak perlu cemas.
Aku bisa menanganinya.
Namun, dengan biaya yang cukup
untuk modal aku menikah lagi,
semua bisa kusembuhkan.
Adik!
Rustaman dukun yang jahat.
Dia menumbalkan anak-anak.
Aku siapkan ritualnya dulu.
Nanti kalau sudah siap, akan kupanggil.
- Ya? - Baiklah.
- Silakan diminum. - Ya.
Permisi.
- Bu, sepertinya ini tidak beres. - Sudah, dicoba dulu.
Tunduklah kepadaku.
Tunduklah kepadaku.
Neng?
Hantu sialan.
Ternyata aku sakti juga.
Arum!
Orang ini lebih jahat daripada aku!
Arum adalah milikku.
Arum, sadar!
- Kak! - Kak!
- Kakak tak apa? - Ayo.
- Bangun, Kak. Ayo. - Kak.
Bu, kita harus bagaimana? Kita harus segera pergi.
Tidak apa-apa.
Ayo, Bu!
- Permisi. - Ya?
Aku mencari Bu Ruhannah.
Ayo ikuti aku.
Itu Bu Ruhannah.
Aku sudah tahu
apa yang terjadi kepada anakmu.
Rama, temani Kakak ya?
Tapi jangan diganggu.
Oke. Ya, Bu.
Sekarang,
pejamkan matamu.
Atur napas.
Panggil ingatan terdalam yang kau tahu.
Panggil.
Panggil, Lastini.
Hei, pelan-pelan!
Kemarilah.
- Aku tidak mau. - Tini!
Panggil lebih dalam.
Mbakyu.
Main sama-sama ya.
- Lastini! - Ayah, Ibu, kemarilah.
Ya!
Tini! Hati-hati.
Lebih dalam lagi.
Besok, Tini mau
main di sungai, Ayah!
Lo?
Jangan di sungai, Enduk.
Bahaya.
Kok main di sungai?
Sungai itu…
Ibu!
Panggil apa yang pernah kau lupakan.
Ayah…
Ibu…
Ayah…
Ayah…
Sakit…
Ayah…
Ibu…
Ayah…
Ibu…
Ayah…
Aku melihat ada sosok.
Aku juga melihat kedua orang tuaku.
Aku melihat…
sosok yang membuat orang tuaku…
Itulah sosok yang menguasai anakmu.
Yang ada di dalam Arum.
Penuh dendam.
Dendam yang akan terus membara.
Dia adalah kutukan dari masa lalumu
dan akan terus membunuh.
Aku sendiri tak bisa mengobatinya.
Harus ibunya.
Adik!
Adik, tolong Kakak.
Tolong lepaskan Kakak, Dik.
- Kata Ibu tidak boleh. - Sakit, Dik.
Tolong…
Marsinah.
Ayo, mendekatlah.
Masuklah.
Bantu mbakyumu.
Kau ini adik yang baik.
Adik yang sayang sama mbakyumu.
Tidak apa-apa.
Anak pintar.
Rama, cepat.
Ya, Kak, sebentar.
Ayo, Dik, bisa. Cepat, Dik.
- Susah, Kak. - Bisa.
Kakak tahu Adik bisa.
Kakak…
Kak?
Kak?
Kak!
Ibu!
Rama!
Bu…
Rama! Kau kenapa?
Sakit, Bu.
Marsinah!
- Bu… - Arum?
Dedemit!
Arum!
- Arum! - Teteh!
Stop, Arum!
Stop!
Arum! Stop!
Sudah, Kak!
- Arum! Stop! - Arum, stop!
Arum!
Kak!
Arum!
- Tolong, Pak. - Tolong! Angkat!
Ini titipan dari Bu Ruhannah.
Pakai ini.
Ayo, Kak.
Untuk sementara, kalung ini akan menjagamu
karena sosok itu masih belum kuat sampai hari ulang tahunmu.
Kami sudah bantu sebisa kami.
Ancamannya sudah membesar.
Aku akan lanjut ke tempat orang pintar yang ada di daftar yang dibuat suamiku.
Selesaikan.
Terima kasih, Bu. Aku pamit.
Hati-hati ya.
Teh, Kak, ayo kita jalan.
- Ayo. - Ayo, Dik.
Kalung ini juga akan mengembalikan
ingatan-ingatanmu yang hilang.
Arum.
Ayah?
Ayah?
Ayah?
Arum?
Ayah?
Ayah!
Bu, Kakak membunuh Ayah!
Bu, maksud Kakak apa?
Kakak mimpi buruk. Sebentar ya.
- Aku yang bunuh Ayah! - Kak?
Kakak?
- Bu, Kakak yang bunuh… - Tenang, Kak.
Tenang, sudahlah.
Ibu.
Kalau yang ini tetap gagal,
sudah ya, Bu.
Ibu akan cari cara untuk sembuhkan Arum.
Di jalan pulang nanti,
semuanya akan baik-baik saja.
Sudah.
Sudah. Ya?
Sudah.
Hati-hati.
Kak.
Tahan ya, Kak.
Benar ini tempatnya, Bu?
Hati-hati.
Permisi.
Permisi.
Sudah, tak apa-apa, Bu.
Dik, tolong bantu Kakak.
Permisi, aku mencari Mbah Drajat.
Dengan Ibu Lastini?
Ya.
Ibu sudah ditunggu sama Mbah.
Ayo, Nak.
Yang lainnya silakan tunggu di sini.
- Silakan. - Mari, Bu.
Bu…
Tak apa-apa. Sebentar.
- Mari, Bu. - Jaga Kakak ya?
Hei, hati-hati.
Silakan.
- Bisa, Kak? - Bisa.
Ayo, Dik.
Permisi.
Aku sudah menunggumu selama bertahun-tahun.
Kenapa baru datang sekarang?
Maaf, Mbah.
Awalnya aku tidak percaya mistis.
Silakan duduk dulu. Silakan.
Duduk dulu.
Aku sudah berjanji kepada suamimu.
Semua juga sudah kupersiapkan.
Ini dipakai ya. Ruang gantinya di sebelah sana.
Enduk, ikut Simbok.
Mari.
Silakan.
Silakan.
- Ini dia. - Ritual ini
sudah dipersiapkan dari bertahun-tahun yang lalu.
Namun, karena kau tidak pernah datang,
karena ketidakpercayaanmu pada mistis,
semua hampir terlambat.
Kalau Arum mencapai hari kelahirannya di tahun kabisat,
tubuhnya akan dikuasai secara penuh
dan aku tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Kalau ini gagal…
aku tak punya cara lain,
selain membunuh inang dari setan itu sendiri.
Aku tak mau anakku mati.
Aku tak akan membiarkan anakmu mati, Lastini.
Aku dan suamimu sudah punya rencana untuk menyelamatkan Arum.
Mungkin kau tidak menyadarinya,
tapi setan ini sudah menemanimu
bahkan dari kau masih kecil.
Ida?
Tini, sudah, pulanglah.
Nanti dimarahi ayahmu.
Pulang ya.
Pulanglah!
Permisi, Mbah. Ritual sudah siap.
Mengapa bajumu sama seperti Arum?
Teteh tidak tahu.
Tadi Teteh hanya dikasih
dan disuruh pakai.
Mungkin…
Mungkin syarat untuk ritualnya, Bu.
Tidak apa-apa, Bu.
Yang penting ritualnya lancar.
Hei, Dedemit!
Aku ingin memberikan persembahan.
Mantra ini…
akan memaksamu…
untuk pindah ke tubuh lain.
Tinggalkan
anak ini.
Niatku teguh…
seperti batu.
Niatku teguh
seperti batu!
Niatku teguh
seperti batu!
Teteh!
Mbah, anakku kenapa?
- Bu. - Mbah?
Sebentar, Teh.
- Niatku teguh… - Mbah?
- Anakku kenapa? - Seperti batu.
- Mbah, anakku kenapa? - Niatku teguh…
Diam!
Ini kesepakatanku dengan Surya.
Setan itu butuh inang khusus
agar Arum selamat.
Anak itu!
Surya mengangkatnya sebagai anak
untuk dipersiapkan sebagai inang pengganti bagi Arum.
Namun, karena tak pernah datang,
dia terlanjur besar.
Niatku teguh
seperti batu.
Niatku teguh…
…seperti batu.
Sakit…
Niatku teguh
seperti batu.
Teteh…
Teteh, dengar. Kau dengarkan.
Ibu tidak tahu apa-apa.
Teh Lia!
Ibu tidak tahu apa-apa.
Dengar.
Tidak ada siapa-siapa yang akan ditumbalkan.
Ibu.
Teteh tidak keberatan.
Demi Arum,
Teteh rela, Bu.
Tidak.
- Teteh rela. - Tidak.
- Teteh tidak keberatan. - Tidak! Kau bicara apa? Hei.
Tidak ada yang akan ditumbalkan.
Ya? Dengar Ibu.
Tidak satu pun anak Ibu yang akan ditumbalkan.
Kalian semua harus membayarnya.
Bu, Rama takut.
Arum mana?
Bu, ini ada apa?
Bu, kok jadi begini?
Drajat.
Pergilah kau!
Pergilah dari sini!
Aku tidak takut kepadamu!
Kita cari Arum. Arum!
Pulanglah, Lastini!
Arum!
Ibu.
Teteh, jaga Adik. Arum!
Teh Lia, aku takut!
- Aku membunuh orang-orang. - Sudah.
Cepat pergi dari sini!
Arum sudah bunuh lagi, Bu.
Arum pembunuh! Arum sudah bunuh Bapak.
Arum pembunuh!
Arum pembunuh!
Ibu yang salah! Semuanya tenang.
Arum tidak salah apa-apa. Rama, tenang.
Ibu yang salah, Rum. Tenanglah, Rum.
Ibu yang salah.
Tenang.
Sekarang kita cari tempat untuk sembunyi.
Sekarang kita cari tempat dulu untuk istirahat.
Tini, sekarang ikut dengan Pakde dan Bude ya.
Sekarang rumahnya dijaga Pakde Subagir, sopir bapakmu.
Ini kunci rumah Pakde Bowo
supaya kau ingat jalan pulang ya.
Bantu Arum.
Ayo, Teh.
Ya.
Pelan-pelan.
Rama, bantu Kakak.
Ayo.
Pelan-pelan saja.
Bu, Ibu Inah itu siapanya Ayah?
Bu Inah itu istri pertama ayahmu.
Jangan terlalu dekat dengan mereka ya.
Terutama dengan Ida.
Mengapa, Bu?
Ida itu sakit.
Bu Inah tinggalnya di dekat kandang kambing, 'kan?
Memangnya kau tidak kebauan?
Mereka tinggal di kandang?
Di dekat kandang.
Kamarnya Bu Inah kini menjadi kamarmu, 'kan?
Ya, 'kan?
Bu, Kakak mau minta sesuatu.
Apa, Kak?
Sebentar lagi Kakak mau ulang tahun.
Kakak minta tolong ya, Bu?
Teh…
Kakak tidak mau kejadian Bapak terulang lagi.
Istirahat.
Kak,
kau di sini dulu.
Ibu kunci dari luar.
Ya, Bu.
- Pegang! - Rum!
- Kakak, Bu! - Sadar, Rum!
Pegang yang kuat, Teh!
Rum, sadar!
Teh Lia, pegang Arum!
Arum!
Arum!
Kakak?
Arum?
Kakak tidak apa-apa?
Tidak apa-apa.
Ibu.
Arum diikat saja.
Ikat yang kencang, Bu.
Tidak apa-apa.
Rama.
Kita jaga Kakak Arum dari luar saja ya.
Sebentar lagi selesai.
Sebentar lagi selesai.
Ya?
Kakak akan sembuh.
Sudah ya, Enduk. Ayo.
Bu…
Bu…
Bu, Tini masih mau bermain bersama Ida.
Sudah, tidak usah. Ayo pulang.
Ibu!
- Ibu! - Tini?
Tini?
Tini?
Tini?
Bu.
Hari ini
peresmian pabrik Bapak berjalan lancar.
Syukurlah, Kangmas.
Namun, jangan terlalu sibuk ya.
Karena tahun depan
Tini sudah masuk sekolah, Kangmas.
Oh ya, Tini mau masuk sekolah ya?
Ya, Ayah.
Ya sudah, ayo makan.
Ayo.
Permisi.
Apakah Ida…
akan makan di sini atau tidak, Pak?
Kau seharusnya di belakang saja.
Di sini untuk orang-orang yang sehat.
- Kangmas… - Sut!
Pergi kau!
Ini sudah menjadi keputusanku
agar mereka tak lagi mengganggu keluarga kita.
Lastini.
Ya, Bu?
Ibu Inah punya hadiah untukmu.
Boneka rajut.
Selamat ulang tahun ya, Enduk.
Terima kasih, Ibu Inah.
Ya, Enduk.
Lastini.
Ayah!
Apa ini?
Bau kambing.
Ayo. Sini.
Tini, sudah Ayah bilang, jangan dekat-dekat dengan Ibu Inah.
Mereka membawa penyakit.
Nanti kau bisa ketularan.
Paham?
Ida!
- Tini. - Tini.
Bermainlah dengan Ida, mbakyumu, ya?
Mbakyu, ayo main.
Ya.
Marsinah.
Pergilah dari tempat ini.
Sudahlah.
Aku akan bertahan.
Tempatku memang di sini.
Mungkin saat anak-anak sudah besar nanti,
sikap mereka akan berubah.
Bagir! Ayo antar aku ke pabrik!
Marsinah, aku pergi dulu ya.
- Di mana Lastini? - Lastini.
Lia.
Apa pun yang terjadi, jangan dibuka.
Ya?
Punten. Permisi.
Rumah Pak Subagir di mana?
Di sebelah sana, Mbak.
Di sana?
Pakde.
Apa hubungan Pakde
dengan Bu Inah?
Lastini.
Ibu dan Bapak meninggal karena Pakde.
Aku lihat Pakde di sana.
- Aku ingin menyelamatkanmu. - Namun, kenapa Pakde ada di sana?
Jawab aku.
Apa hubungan Pakde
dengan Marsinah?
Aku mencintai Marsinah.
Namun, dia tidak.
Semua berawal dari ayahmu
yang menikahi kembang desa yang kucintai, Marsinah.
Pak Djatmiko, selamat atas pernikahanmu.
Terima kasih sudah datang.
Hanya karena ayahmu lebih kaya dan aku hanyalah sopir.
Lalu, Marsinah melahirkan anak yang kurang sehat.
Tidak mau!
Orang kaya itu tidak terima punya keturunan yang cacat.
Dia menyalahkan Marsinah, si kembang desa.
Lalu, ayahmu menikahi Ranti, adik sepupunya sendiri,
lalu lahirlah kau.
Lastini.
Nama yang bagus ya, Mas.
Tentu saja.
Dia cantik seperti ibunya.
Sejak kelahiranmu yang lebih sehat dari anak Marsinah,
Marsinah putrinya, Ida, makin menderita.
Karena sedang panas, mari dijemur dulu
biar sehat.
Kelainan pada Ida membuatnya tak bisa tumbuh seperti anak lainnya.
Namun, bukannya bersyukur,
Djatmiko malah mencampakkan mereka.
Ayah, jangan!
Tak ingin dirinya malu,
Marsinah dan anaknya dilarang untuk pergi dari rumah,
tapi anaknya itu dibiarkan sakit sampai mati.
Kalian semua harus membayarnya.
Marsinah lebih memilih bunuh diri.
Dia harus membayar semuanya.
Karena rasa cintaku kepada Marsinah,
aku ingin membantunya.
Aku ingin dia menuntaskan dendamnya kepada keluargamu.
Kepada Djatmiko dan keturunannya.
Siapa yang menanam dia yang menuai.
Kami sudah menjadi korban.
Anakku hancur hidupnya. Hancur!
Ibu!
Arum!
Arum!
Ibu!
Ibu?
Pakde, kembalikan anakku seperti semula.
Tolong aku, Pakde.
Anakku tidak bersalah.
Biar aku yang menanggung dosa ayah dan ibuku.
Biar aku yang dikutuk Marsinah.
Aku hanya ingin anakku
kembali seperti semula, Pakde.
Kini aku tak bisa membantumu.
Kalian semua
harus membayarnya.
Kalian semua harus membayarnya.
Kalian semua harus membayarnya.
Kalian semua harus membayarnya.
Arum.
Ayo.
Kalian semua harus membayarnya.
Ayo, Rama.
…harus membayarnya.
Rama?
Rama!
Rama!
Rama!
Teteh.
Rama?
Tolong!
Rama!
Teh Lia!
Rama?
Kau tak apa?
Buka!
Buka!
Kakak? Arum! Berhenti!
Ida.
Ida.
Kak? Kakak?
Arum, berhenti!
Arum?
Arum!
Kakak!
Arum!
Kak!
Kakak!
Kak?
Kak?
Kak! Di mana kau?
Arum!
Ibu!
- Ibu! - Kak!
Kak!
Kak?
Arum. Sedang apa, Nak?
Sudah. Kemarilah.
Arum?
Ibu?
Ibu!
Jangan!
Marsinah!
Arum?
Arum?
Arum!
Arum!
Arum!
Arum!
Marsinah!
Kembalikan anakku!
Kembalikan anakku!
Marsinah! Keluar kau, Setan!
Di mana kau?
Sini!
Ibu?
Ibu!
Marsinah!
Arum?
Ibu?
Ibu?
Arum!
- Sini, Nak. - Ibu?
- Ibu, Kakak tidak gila. - Sini, Arum.
- Ibu, Kakak tidak gila. - Arum, sini!
- Ibu, Kakak tidak gila. - Berhenti, Nak. Berhenti!
Tapi sekarang kau yang gila.
Berhenti!
Kau mau lihat anakmu mati?
Kita sudah mendapatkan jiwanya.
Ayo kita bawa ke sungai.
Kembalilah ke kegelapan.
Roh Gelap, hilanglah selamanya.
Jiwa yang telah terputus tidak dapat dikembalikan lagi,
pergilah selamanya.
Pulanglah, Marsinah. Pulanglah.
Aku sudah ikhlas.
Pulang dan istirahatlah dengan tenang.
Aku menyayangimu selamanya.
Kini Marsinah sudah tak ada selamanya.
Arum, pulanglah. Ini Ibu.
Arum?
Arum.
Ya Allah.
Ibu!
Ibu!
Ibu tak apa-apa?
Baiklah, ayo cepat pergi. Tinggalkan tempat ini.
Cepat pergi.
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Arum!
Arum!
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Sudah. Sudah selesai.
Sudah selesai. Kau sudah tidak apa-apa.
Sudah selesai.
Kau tidak akan kenapa-kenapa lagi.
Sudah selesai.
Sudah selesai.
Oke.
Sudah. Ayo kita pulang.
Ibu.
Sudah, ayo pulang.
Jangan ganggu anakku!
Ibu! Kenapa, Bu?
Ibu?
Ibu?
Ibu?
Kau harus membayar.
Ibu!
Kau dan keturunan Djatmiko
harus membayarnya.
Ibu?
Kau sudah membuatku menderita.
Kau harus menderita!
Tidak!
Tidak, Ibu!
Arum.
Arum, lari.
Tidak!
- Arum, lari! - Tidak mau, Bu!
Lari!
Lari!
Ibu.
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Ibu?
Ibu.
Ibu, bangun. Ibu!
Ibu!
Ibu, jangan tinggalkan aku!
Ibu!
Ibu!
Ibu.
Arum rindu, Bu.
Rama juga rindu dengan Ibu.
Kami semua merindukan Ibu.
Arum diterima di kampus favorit Arum, Bu.
Ibu yang tenang ya di sana.
Ibu tak perlu khawatir.
Ada Lia.
Lia akan selalu menjaga adik-adik.
Rama, ayo pulang.
♪ Menatapi diri ini ♪
♪ Berpencar pergi 'tuk mencari ♪
♪ Apa yang lama dicari ♪
♪ Pergi tanpa pamrih ♪
♪ Pergi tanpa pamit akan ♪
♪ Ke sana-kemari tanpa arah ♪
♪ Serta ratusan makian ♪
♪ Kembali pulang ♪
♪ 'Tuk menenangi ♪
♪ Banyaknya luka yang berantakan ♪
♪ Peluk hangat, sigap 'tuk sembuhkan ♪
♪ Kembali pulang ♪
♪ Bersama terang ♪
♪ Menghiasi diri, merayakan ♪
♪ Genggaman tangan yang masih ada ♪
♪ Kembali pulang ♪
♪ 'Tuk menenangi ♪
♪ Banyaknya luka yang berantakan ♪
♪ Peluk hangat, sigap 'tuk sembuhkan ♪
♪ Kembali pulang ♪
♪ Bersama terang ♪
♪ Menghiasi diri, merayakan ♪
♪ Genggaman tangan yang masih ada ♪
♪ Sekedar berandai ♪
♪ Menatapi diri ini ♪
♪ Berpencar pergi 'tuk mencari ♪
♪ Apa yang lama dicari ♪
♪ Pergi tanpa pamrih ♪
♪ Pergi tanpa pamit akan ♪
♪ Ke sana-kemari tanpa arah ♪
♪ Serta ratusan makian ♪
♪ Kembali pulang ♪
♪ 'Tuk menenangi ♪
♪ Banyaknya luka yang berantakan ♪
♪ Peluk hangat, sigap 'tuk sembuhkan ♪
♪ Kembali pulang ♪
♪ Bersama terang ♪
♪ Menghiasi diri, merayakan ♪
♪ Genggaman tangan yang masih ada ♪
SELURUH TOKOH, PERISTIWA, DAN NAMA DALAM CERITA INI ADALAH FIKTIF.
♪ Kembali pulang ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.