Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sub by NETFLIX Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
Kurasa kau benar.
Lihat? Sudah kubilang.
Kapan Ayah kemari? Seharusnya hubungi aku.
Akan kuperkenalkan.
Ini ayahku.
Dia pria yang kubicarakan.
Senang bisa bertemu, Pak. Aku Yu Ji-ho.
Begitu.
Mari kita masuk.
Buka pintunya.
Begini...
Ini tak terduga, mungkin Bapak takkan nyaman.
Namun, aku akan mengenalkan diriku secara formal lain kali.
- Ayah. - Ayo. Buka pintunya!
Aku permisi, Pak.
Ayah bilang, buka pintu.
Ayo duduklah.
Ayah bilang, duduklah.
Sebentar.
Hei.
Jeong-in!
Yang benar saja.
Lantai Satu.
Jadi, apa pekerjaannya?
Dia mau mengenalkan diri secara formal. Tanya saja dia.
Kapan Ayah bisa?
Jangan gegabah dan selamatkan dirimu agar tak malu.
Akhiri saja.
Apa yang perlu diakhiri?
Bahkan belum mulai.
Sebab itu semua orang tahu?
Kau tak bisa menjaga sikap? Kabar burung sudah menyebar.
Apa maksud Ayah?
Apa yang Ayah dengar?
Sudahkah aku menikah?
Aku juga tak menyelingkuhi suamiku.
Salahku di mana?
Siapa yang membicarakan aku?
Sebelumnya, duduklah.
Kenapa sikapmu begitu?
Lalu sikap Ayah sendiri?
Kian tua kian berkuasa?
Yang lebih muda tak punya perasaan dan harga diri?
Jika anakmu diperlakukan begitu?
Bagaimana?
Jangan melantur.
Pak Kwon memperlakukanku
seperti itu selama empat tahun.
Semoga kau tak menyingkirkan foto yang akan mengesalkanku.
Tidak, Pak.
Dia tak menemui siapa pun akhir-akhir ini.
Termasuk Jeong-in?
Ya, Pak.
Kau bisa berhenti ikuti Gi-seok, tapi awasi Jeong-in.
Kau tahu dia kerja di perpustakaan?
Ya, Pak. Aku tahu.
Setiap hari selalu sama.
Aku bekerja, lalu pulang. Begitu saja.
Kalau Kakak?
Tinggal di AS tak jauh berbeda.
Aku kerja, pulang, jaga anak. Itu saja kegiatanku.
Istriku menghubungi Ayah
- dan memintanya mengunjungi kami, - Benar.
tapi dia bilang mau pergi setelah pernikahanmu.
Kau akhirnya dapat restunya?
Kau seharusnya segera menikah. Sudah cukup main-mainnya.
Bagaimana Kakak bisa menikah?
Ayah menentangnya, 'kan?
Itu sebelum Ibu meninggal,
jadi, aku mengandalkan Ibu dan kabur ke AS.
Begitu rupanya.
Seharusnya aku tetap di sana dan membantumu.
- Maaf, tak bisa jadi kakak yang baik. - Tidak, jangan bilang begitu.
Jangan ulur waktu. Nikahi saja dia.
Bagaimana jika ada pria lain mencurinya?
Walau kau mulai jemu padanya,
pria lain akan menganggap dia menarik.
Kakak benar.
- Kau dari mana? - Aku sedang di dekat sini.
- Di mana Eun-u? - Dia di kasurnya.
- Mau tidur di sini malam ini? - Lihat nanti.
Di mana Ayah?
Mungkin dia beli minum di suatu tempat.
Aku ke kamar Eun-u.
Ji-ho.
Bu, kita mengobrol nanti.
Ini bukan hal yang harus Ayah tahu.
Seharusnya tak kukatakan.
Maaf.
Aku tak ingin membuat Ayah gusar.
Baik, tak masalah.
Tak apa.
Kau akan bagaimana terhadap Gi-seok?
Kami sudah putus.
Kata siapa kau bisa?
Gi-seok sudah setuju?
Kau putus secara sepihak.
Ayah.
Dia masih mencintaimu.
Karena itu, aku harus tetap bersamanya dan pura-pura masih mencintainya?
Tak bisakah?
Tak bisa lakukan itu dan jaga hubungan kalian?
Ayah.
Wajar jika muak akan satu sama lain dalam suatu hubungan.
Namun, membuat usaha untuk saling memahami
bisa membangkitkan gairah kembali.
Itulah pendapat ayah.
Selain itu, kalian sudah berpacaran sangat lama.
Bagaimana bisa putus begitu saja?
Itu kejam sekali.
Dan semua orang, termasuk ibumu dan ayah, ingin kalian menikah.
Kau tak bisa kecewakan semuanya jika seperti ini.
Selain itu, Pak Kwon mungkin tak merestui sebelum menemuimu,
tapi dia kagum denganmu setelah bertemu.
Hei, dia juga tak sempurna.
Dia bisa salah menilai orang.
Ayah, aku putrinya Ayah.
Sudah kubilang, perlakuannya salah padaku.
Jeong-in.
Ubah pikiranmu
walau itu demi diri ayah. Ya?
Ayah masih bisa bekerja.
Ini soal hidup pascapensiun Ayah?
Ayah malu mengakuinya, tapi benar. Tolong bantu ayah, ya?
Akan ayah buktikan.
Akan kutunjukkan kemampuan ayah.
Sudah beri tahu Ayah?
Hai, Ayah.
Ayah tahu keputusanmu akan tepat.
Ayah cukup kenal dirimu.
- Jangan keluar malam. - Ada lagi yang ingin kubicarakan...
Kenapa pulang cepat?
Ji-ho. Hei, Ji-ho.
Ada yang terus menghubungimu.
Ini.
Kau tak angkat, jadi, aku terus menelepon sebab kukira kau kesal padaku.
Ayahmu masih di sana?
Tidak, sudah pulang.
Lantas, kenapa bicara perlahan?
Ingin saja.
- Kau ada di mana? - Di depan apartemen.
Apartemen?
Maksudmu, apartemenku?
Ya.
Kenapa tak bilang?
Katamu sedang di rumah orang tuamu.
Lalu Yeong-ju? Dia belum pulang?
Sepertinya dia tidur.
Tak apa. Sudah kupanggil taksi.
Tunggu di dalam. Kode pintunya 140719.
Bolehkah kumasak semangkuk mi?
Siapa itu?
Aku bilang, siapa itu?
Aku pacarnya Lee Jeong-in.
Kau salah rumah.
Aku punya kekasih, bukan pacar.
Kau tersentuh lagi, ya?
Kau mudah ditebak.
Sodok saja aku. Aku akan tetap melakukannya.
Lakukan apa?
- Kau sungguh menyodokku. - Maaf.
Aku sudah lihat semua.
Terima kasih.
Yeong-ju tak tidur.
Aku senang kau kemari.
Aku punya buku ini juga.
Kau beli ini?
Tidak, Hye-jeong belikan satu untukku dan Ye-seul karena dia suka.
Ada banyak dialog bagus di buku ini.
Mari kita lihat.
Ini, bagian ini juga bagus.
Bacalah dengan suara manismu.
"Saat kita jatuh cinta,
haruskah kita ikuti tanpa tahu akan berhasil atau tidak?
Bisakah dekati cinta dengan demikian?
Tak bisa.
Kita tak bisa perhitungan,
karena, bagaimanapun, kita mencinta demi mencinta.
Saat seseorang jatuh cinta, itu terjadi begitu saja.
Itulah kenyataannya.
Karena itu, jangan berputus asa,
menahan perasaan kita,
atau menutupi cahaya.
Namun, berusahalah tetap tenang.
- Dan..." - "Dan ucapkan saja, 'Terima kasih, Tuhan.
Aku jatuh cinta.'"
Aku bahkan tak sempat bilang apa pun soal dirimu.
Bagus.
Apanya yang bagus?
Tak masalah. Santai saja.
Kau bilang begitu karena perhatian
atau takut?
Aku takut kau akan menghadapi tekanan itu sendiri.
Aku sudah tak percaya diri.
Aku memang bilang takkan membuatmu terluka,
tapi kuralat ucapanku.
Sulit melakukannya.
Kau akan terluka,
dan mungkin membenciku.
Dan?
Aku bisa menjadi orang
yang paling melukaimu.
Jangan gunakan ini semua sebagai alasan.
Alasan untuk apa?
Jangan jadikan alasan meninggalkanku,
dan bilang kau lakukan itu demi aku.
Apa? Itukah rencanamu?
Ya, memang.
Jangan pergi lagi.
Kau terlalu mengenalku.
Kurasa kita cukup serasi.
Karena kita sangat berbeda?
Maksudmu, aku mudah marah?
- Bukan. - Terserah, sudah terlambat.
Bukankah menurutmu
kita bisa melalui ini semua bersama?
Bilang ya, Ji-ho!
Ayolah!
Bilang ya!
Kau tak mau?
- Hei. - Halo.
Bagaimana akhir pekanmu?
Aku melakukan banyak hal.
"Banyak hal"? Tampaknya, kau senggang.
Mungkin kau memilih bekerja.
Aku tak bisa mengakuinya.
Omong-omong, kapan kau menikah?
Hei, Hyeon-su. Bagaimana akhir pekanmu?
- Main basket lagi? - Sudah jelas.
Kenapa tak bilang?
Aku pergi sendiri untuk berlatih.
Bukan bersama teman kita.
Ayo.
Kalian lebih dahulu. Aku setelah ini.
Sial.
Datanglah ke ruang rapat.
Tampaknya, kau sudah tahu.
Jangan langsung ambil kesimpulan sendiri.
Aku tak mau merusak
hubunganku dengan orang lain karena masalah pribadi.
Tak usah jaga sikapmu di dekatku.
Aku mengkhawatirkanmu...
Aku yakin begitu.
Namun, itu menyinggungku,
jadi, jangan lakukan.
Aku tak pernah menghindari Ji-ho.
Kau pasti tahu apa artinya.
Ini membuatku gila.
Pasti menyenangkan jika bisa makan bersama,
tapi aku harus rapat makan siang.
Tak apa. Aku hanya ingin bicara sebentar mengenai sesuatu.
Ini soal putriku, Jeong-in.
Seperti yang kubilang, itu semua tak benar.
Putrimu bilang begitu?
Lalu, siapa lagi? Aku dengar dari dia.
Jadi, itu tak benar?
Lebih tepatnya, tidak juga.
Apa? Kau terus mengubah ucapanmu.
Bukan, biar kujelaskan.
Aku yakin teman lelakinya suka ikut
reuni kampus dan perkumpulannya,
di tempat banyak orang berkumpul.
Mungkin ada orang yang lihat dan salah paham.
Kau bilang bahwa kau menduganya berdasarkan situasi.
Mungkin karena hal semacam itu.
Itulah dugaanku.
Kau bilang itu berdasarkan rumor.
Baik, aku yakin mereka bisa menyelesaikannya.
Menurutmu, tak apa-apa menyerahkannya pada mereka?
Maksudku, kesalahpahaman seperti ini bisa terjadi lagi.
Dan semua pembicaraan ini
bisa melelahkan bagi kedua keluarga.
Jika terus berlanjut, keduanya bisa muak.
Kita harus manfaatkan kesempatan yang ada.
Aku mau meminta pendapatmu.
Kau tahu.
Apa lagi yang kau pikirkan?
Kita tentukan tanggal pernikahan mereka.
Kau bisa santai saja. Duduklah.
Ayo, duduk.
Tidak.
- Cuacanya sedang bagus. - Apa?
Keunggulan cuti di hari kerja
ialah kau bisa menikmati siang yang tenang seperti ini.
Kau memikirkan apa?
Aku biasa memikirkan ini saat kembali ke apotek usai makan.
"Pasti menyenangkan mengobrol dan tertawa dengan orang yang kucintai
sembari makan siang bersama di taman di hari yang indah.
Kapankah hari itu tiba?"
Biasa saja, tapi aku mau melakukannya.
Jadi, itu semacam
permohonan kecilmu?
Ada hal-hal yang tak sempat kulakukan
walau tak sulit.
Bagiku,
aku selalu mau berjalan di gang kawasan lama
setelah hujan deras, tapi tak pernah sempat.
Pasti menyenangkan bisa minum kopi setelah berjalan-jalan.
- Ayo pergi bersama. - Jika kau jaga sikap.
Baik. Aku takkan pergi jika kau mengajak.
Tentu, cobalah melawan.
Kau seperti preman.
Foto dirimu ini bagus. Akan kukirimkan.
Pasti kau pikir kau sangat cantik.
Kau memang cantik.
Jangan bilang "Tidak" atau "Tak apa". Kau harus jawab "Ya".
- Kudengar dahulu. - Bilang, "Ya".
Kau sungguh preman. Baiklah. Ada apa?
Mari kita...
ke tempat menyenangkan bersama Eun-u.
Kau jadi tersentuh lagi.
Kau sungguh mudah tersentuh.
Aku tak mengencani pria yang tak percaya diri.
- Sudah sampai. - Aku baru sampai.
Terima kasih.
Berapa biaya sewa di sini?
Kenapa? Kau mau pindah?
Tidak, kakakku dan aku mungkin akan diusir.
- Orang tuamu tahu soal Ji-ho? - Mereka akan usir kami, ya?
Mana kutahu? Aku tak tahu orang tua kalian seperti apa.
Orang tua Ji-ho bagaimana?
Orang tua Ji-ho?
Keduanya baik.
Mereka menjalankan bisnis penatu.
Ada apa, Jae-in?
Bukan apa-apa. Ayo.
Malam itu,
aku minum terlalu banyak.
Menurutmu, dia mengencani orang lain?
Jika tak serius, abaikan hal itu.
Jangan usik dia mengenai hal semacam itu.
Itu membuatmu tampak picik.
Ayahnya mau menentukan tanggalnya.
Kalian harus bahas dan putuskan tanggalnya.
Baik.
Kenapa masih di sini?
Begini...
Soal pertanyaan Ayah tadi...
Jeong-in tak mengencani orang lain.
Dia bilang hubungan denganmu gagal.
Ayah tetap bersikap mendukung bahkan setelah dengar itu
sebab ayah berharap kau bisa mengubah semuanya.
Akui kegagalan
saat kau mau menyerah tanpa keraguan atau penyesalan.
Sampai saat itu, tak ada yang tahu siapa pemenangnya.
Kau paham?
Sudah.
Ayah bisa pasang sandinya.
Baik.
Jangan lupakan sandinya.
Sudah diatur. Cobalah.
- Tekan ini, 'kan? - Ya.
PERBANKAN DARING BAGI HAL FINANSIAL
MASUKKAN SANDI ANDA
Masukkan sandinya.
- Sudah. - Ya, sudah selesai.
SALDO
Ayah bisa lihat detail rekeningnya.
Ayah tak perlu ke bank setiap saat.
Kapan kau kirimkan uang ini?
Itu untuk minumannya.
Kau tak perlu...
Terima kasih. Akan ayah gunakan sebaiknya.
Hei, kabari ayah sebelumnya, akan ayah siapkan kudapan nanti.
Astaga, sudahlah.
- Biar kubawakan. - Kalian mentertawai apa?
- Bukan apa-apa. - Ada apa?
Ayah, ponsel Ayah bergetar.
- Lee Jeong-in menelepon. - Baik.
- Kau mau ke mana? - Apa?
Mau periksa mesinnya.
PERPUSTAKAAN SEONGDONG
Bu Lee!
Hai, Eun-u. Apa kabar?
Bu Lee, sebaiknya kau datang dan main ke rumah kami.
Apa?
Baiklah.
- Jangan bilang begitu. - Kenapa?
- Apa? - Ayahmu tak mau aku datang.
Tidak, aku bercanda. Dia pikir kau serius.
Bu Lee.
Ya?
Di TK hari ini,
kami membuat kincir angin.
Aku membuat dua.
Astaga. Kau buat kincir angin?
Kenapa membuat dua, Eun-u?
Satu untukku,
- dan satu lagi... - Pasti untuk ayah, 'kan?
Kau buat itu untukku, 'kan?
Ya, ini milikmu.
Eun-u, kau pengkhianat.
Eun-u, jika kita bertemu nanti,
jangan lupa bawa kincir angin buatanmu, ya.
Baik.
Eun-u, mau bertemu adikku?
Ya. Di mana adikmu?
- Ini dia. - Hai!
Kau manis sekali.
Astaga. Adikmu besar.
Astaga, Eun-u.
Sebaiknya kau mundur.
Hai!
SUARA IBU LIMA MENIT SEHARI
Ibu,
aku bisa melakukan ini.
Kenapa kau percaya diri?
Kau bilang wartawan akan membahasnya.
Jika rumor perpisahanmu tersebar?
Akan tersebar juga saat proses perceraian dimulai.
Kau akan bercerai?
Lalu bayinya?
Akan kubesarkan sendiri tanpa campur tangannya.
Itu karena kau tak tahu.
Membesarkan sendiri tak mudah.
Lebih butuh kerja keras.
Pintar saja takkan membantu.
Aku takkan bisa membesarkannya jika ada dia.
Aku takkan sanggup.
Seo-in,
kau tahu kalau ada beberapa hal yang tak ibu sukai dari Si-hoon.
Namun, hal-hal yang terjadi padamu
membuktikan bahwa kau ditakdirkan bersamanya.
Pernikahan itu persatuan dua orang,
wajar sifat akan berbenturan.
Pasanganmu bisa jadi musuhmu.
Jika kau menahannya dan melalui masa sulit,
waktu akan berlalu.
Lupakan soal yang lain,
dan lakukan demi bayinya.
Lakukan apa yang terbaik bagi bayimu dan beri Si-hoon kesempatan lagi.
Jika begitu, aku bisa mati.
Jika harus bersamanya lagi, aku bisa mati.
Ibu paham kau sudah tak cinta, tapi...
Bukan, benar-benar mati.
Seo-in.
Aku harus tetap hidup.
Aku harus hidup demi bayiku.
Adakah sesuatu...
yang tak kau ceritakan?
Sejak kapan?
Kapan ini bermula?
Maafkan aku, Bu.
Maafkan aku.
Nam Si-hoon...
Di mana bajingan ini?
Ibu, jangan. Kumohon.
- Lepaskan. - Ibu.
Kenapa menghentikan ibu?
Kau kira ibu akan diam saja?
Kau...
Kau bisa tetap di sini.
Aku ibumu.
Ini tak bisa ibu biarkan.
Ibu, kumohon, jangan.
Akan kutangani,
jadi, dukung aku saja, ya?
Ibu.
Ibu, maafkan aku.
Aku sungguh minta maaf.
Kesayangan ibu.
Malangnya putriku.
Anak kesayangan ibu.
Aku pesan yang itu.
Yeong-ju.
Hei, kau tepat waktu.
Kita punya waktu 30 menit.
Aku sudah memikirkannya,
sebaiknya aku bilang pada ayahku.
Jika begitu, kau takkan bisa bekerja.
Kau pasti akan sedang dirawat inap.
Lalu kapan?
Seo-in, Jae-in, dan bahkan kau melarangku mengatakannya.
Kau sungguh bisa mengatasinya?
Aku tahu pasti kalau Ji-ho pria baik,
tapi ayah tunggal...
Aku tak bisa memutuskan, jadi, tak tahu.
Namun, aku tahu.
Aku tahu apa yang akan terjadi padaku.
Jangan bilang kau sudah memikirkan untuk menikahinya.
Pertanyaan apa itu?
Kau akan langsung menjadi ibu.
Kau sungguh serius?
Ya, Pak.
Tidak, tak masalah. Soal apa ini?
Sungguh? Aku mau.
Sudah lama kita tak bertemu.
Sebaiknya kapan?
Jeong-in.
- Ya? - Kau dapat pesan.
Terima kasih.
- Hei, Jeong-in. - Apa maksudmu?
Gi-seok menemui ayahku?
Aku tak yakin 100 persen,
tapi itulah yang Hyeon-su kira.
Sulit dipercaya.
Entah apa aku harus meneleponmu,
- tapi jika bahas aku... - Syukurlah kau telepon.
Ji-ho, jangan khawatirkan ini lagi.
- Biar kutangani sendiri. - Sampai kapan?
Apa?
Sampai kapan aku harus sembunyi di belakangmu?
Ha-rin, siapa itu?
Aku tak lihat namanya, tapi apa pun isi pesannya, pasti...
Tampaknya serius, ya?
Tampaknya begitu. Kali ini soal apa?
Ada apa?
Ayahku menemui Gi-seok.
Ji-ho yang bilang padaku.
Dia marah?
Dia merasa tak nyaman.
Selama ini, dia begitu sabar dan ingin jalani perlahan.
Bagaimana mungkin dia tak kesal?
Walau aku setuju kalian harus perlahan, kurasa...
baik Gi-seok atau ayahmu takkan mundur.
Jadi, memberitahunya sudah benar.
Tak ada benar atau salah soal ini.
Ini akan menyakitkan,
aku tak bisa bayangkan kesulitan yang akan Ji-ho hadapi.
Akan kupikirkan saat itu terjadi.
Bisa saja hari ini.
Gi-seok takkan diam.
Aku tak peduli kau mau apa. Hentikan itu terjadi hari ini.
Jeong-in?
Akan kubiarkan mereka.
- Ya, Ji-ho. - Astaga.
Aku mau meminta maaf.
Seharusnya aku tak membebanimu.
Kau membuatku merasa bersalah?
Aku merasa sedih membuatmu khawatir.
Kurasa aku harus temui Gi-seok.
Tidak, jangan.
Dia hanya akan mengatakan hal yang melukaimu.
Aku khawatir dia akan memberi tahu ayahmu dan memperkeruh suasana.
Aku sebenarnya mau ini tersebar.
Dia akan tahu cepat atau lambat.
Aku tak mau.
Apa maksudmu?
Ini soal diriku, jadi, aku yang berhak memutuskan.
Aku tak menekanmu untuk mengenalkanku ke orang tuamu.
Aku hanya bilang,
aku tak takut menunjukkan siapa diriku.
Aku suka kepercayaan dirimu.
Kau kenal aku. Aku mudah terbuai ucapanmu.
Aku jadi bangga.
Aku tak mau membiarkan Gi-seok
mendapatkan keinginannya.
Pengertian dan sabar saja tak cukup.
Akan kutemui atau hubungi dia...
- Bukan soal kau. - Apa?
Ini soal diriku.
Tujuannya ialah menjatuhkanku.
Klinik tak jadi pindah.
Bagaimana bisa jika dia kesulitan bayar biaya sewa?
Ada istrinya.
Hubungannya renggang.
KLINIK GIGI NAM SI-HOON
Kali pertamamu kemari?
Dokter Nam ada?
Boleh kutanya siapa dirimu?
Aku ibu mertuanya.
- Sebentar, Bu. - Aku hanya mau tahu apa dia ada.
Terima kasih.
KANTOR DIREKTUR
Masuk.
Ibu, ini mengejutkan.
Ibu sedang sakit gigi?
Aku bisa periksa...
Ibu?
Laporkan aku ke polisi. Harus aku yang melaporkan?
Dengarkan aku dahulu.
Jika kau menyentuh
putriku sekali lagi,
akan kubunuh kau.
Kau tersenyum?
Kau sungguh malah tersenyum?
Beraninya kau tersenyum?
Beraninya kau!
Beraninya kau...
Aku hanya berani sejauh ini hari ini
sebab terlalu malu karena membiarkan
putriku menikahi seorang bajingan.
Nasimu yang lezat sudah siap.
KAU SUDAH JADI IBU YANG LUAR BIASA DARI IBUNYA LEE SEO-IN, SIN HYEONG-SEON
Dan inilah buku anak-anaknya.
Aku sudah lihat sebentar, ini semua yang rusak.
Anak-anak seteliti inikah?
Itu dibuat orang dewasa.
Untuk pameran buku rusak kali ini,
kita harus tulis pesan yang kuat.
"Rasa sakit yang kau torehkan akan kembali kepadamu."
Sama dengan hubungan.
Tak sadar melukai seseorang, tapi akan menyesalinya.
Kau bisa menyesalinya tanpa perlu menyadari kau terluka.
Lalu salah siapa?
Keduanya salah.
Aku tak bilang kau sama buruknya dengan Gi-seok.
Terima kasih.
Maaf, aku sudah punya rencana.
- Apa? - Terima kasih, ya.
Rencana apa?
Astaga.
Jeong-in, kau di mana?
Kenapa menanyakan itu?
Kau tak pernah menanyakan itu.
Untuk menanyakan kabarmu.
Kau mau ikut denganku?
Tentu saja.
Ji-ho.
Ya?
Aku tak mudah mundur jika sudah menetapkan,
jangan khawatir.
Namun, kau ada di mana?
Aku akan ke tempatmu.
Tidak, tetaplah di sana.
Aku yang akan ke sana.
Selama aku melajang, 'kan?
Kencanlah jika mau.
Aku akan mengganggu kalian dan merebutmu.
Apa pun yang terjadi,
hubungi aku jika butuh.
Aku tahu kau selalu jadi pilihanku.
Kau tak pernah biarkan aku membantumu.
Sepercaya itulah aku padamu.
Akan kutelepon.
Kau mau ke tempat pertemuan ayahmu dan Gi-seok?
Akan kutelepon nanti.
Baik. Hati-hatilah.
Tentu. Dah.
Biar kutuangkan.
Kita selalu bicara soal bertemu, akhirnya kita bisa bertemu juga.
Seharusnya aku menghubungi Ayah lebih dahulu. Maafkan aku.
Kau benar. Aku agak kecewa.
Mari.
Aku ingin undang ayahmu, tapi tak jadi.
Aku juga ingin undang Jeong-in, tapi tak jadi.
Tak apa. Kita hanya butuh perwakilan dari masing-masing keluarga.
Benar.
Kudengar Jeong-in selingkuh darimu.
Kenapa kau tak minum bir?
Sedang tak mau.
Siapa yang minum karena mereka mau?
Entah kau minum atau tidak, kau harus mentraktir aku.
Kau mau melaporkan aku ke kakakku?
Aku bisa bedakan kawan dan lawan.
Namun, aku akan jadi lawanmu.
Aku hanya bercanda.
Aku tak bisa setia.
Aku berkhianat jika kau tak berhasil.
Dia suka begitu.
Kau bicara begitu serasa pernah mengencaniku.
Berikan aku intinya saja.
Gi-seok sudah tak relevan?
Jika kau khawatir, tak perlu.
Lalu ayahku?
Kau pernah menemuinya.
Dia sempat menatap matamu?
Walau aku putrinya,
dia anggap aku tak ada sejak aku mengacau.
Sudah jelas, 'kan?
Aku tak mau menakutimu.
Dia memang menyulitkan.
Ayah, Jeong-in pernah menceritakan
semuanya kepadamu?
Tunggu.
Adakah yang harus kuketahui?
Begitukah?
Begini, hanya saja
ayahmu membahas ini lebih dahulu,
jadi, kukira kau sudah bilang sesuatu.
Hanya saja...
kurasa ayahku salah paham kepadaku.
- Salah paham? - Ya.
Aku akhir-akhir ini mabuk dan melantur di telepon.
Aku ingin membenarkannya, tapi dia masih salah paham.
Dia seharusnya bilang itu padaku juga!
Sulit dipercaya.
Aku tak tahu soal itu,
jadi, aku memintamu kemari untuk meminta maaf.
Kalian sudah lama berkencan,
jadi, aku paham kalau ada semacam pertikaian.
Namun, sampai ada orang ketiga? Itu sungguh tak masuk akal!
Saat kemari, aku memikirkannya berulang kali.
Sebab aku tahu itu tak benar.
Aku orang tuanya. Mana mungkin tak mengenalnya?
Tentu saja.
Jadi, tak ada lagi yang perlu dibahas, 'kan?
- Benar. - Baguslah.
Kita harus tetapkan tanggalnya.
Kalian belum meresmikannya juga.
Pak Kwon dan aku sampai harus turun tangan demi kalian.
Maaf. Aku janji akan berusaha lebih baik.
Mari selesaikan selagi kita membahasnya.
Kita harus dengarkan keinginan Jeong-in lebih dahulu.
Apa lagi yang perlu dibicarakan?
Sudah diputuskan. Kita hanya butuh tanggalnya.
Pilih yang menurutmu cocok.
Makanan di sini selalu seenak ini, ya?
Kurasa Ayah
harus tentukan tanggalnya.
Orang tua lebih baik dalam hal macam ini, 'kan?
- Begitu. - Bagaimana menurut Ayah?
Kau sungguh...
mirip dengan ayahmu.
Sungguh.
Kurasa itu dia.
Baiklah.
Sub by NETFLIX Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
Gi-seok, kau tak perlu khawatir.
Akan kubersihkan jalanmu.
Dahulu, kita bertemu di sini. Mari kita menikah.
Aku pilih ini demi dirimu.
Kenapa Kakak menerimanya?
Seharusnya lempar ke wajahnya.
Gi-seok melamarnya.
Dia pasti menyombongkannya karena berjalan lancar.
Bisa bertemu? Jangan bilang kau menghindar.
Tentu, mari bertemu.
Si penggosip Hyeon-su itu pasti sudah bilang apa yang terjadi.
Kau mau menyulitkan Jeong-in sampai seperti apa?
Kau berengsek.
Kau melakukan ini
bukan karena ingin Jeong-in, tapi tak mau kalah dariku.
- Hentikanlah. - Aku berhenti jika kau juga.
Aku takkan perhatian lagi padamu.
Kau mau menemui orang tuaku?
Kalau mereka tak menyukaiku?
Kita harus putus.
- Hei! - "Hei"?
Kau tahu maksudku bukan begitu.
Terjemahan subtitle oleh Fajri Mulyadi
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.