All language subtitles for Bhairavam 2025 Dual Audio Hindi (ORG 5.1) 1080p WEB-DL x264

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto Download
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian Download
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese Download
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Perampokan kuil yang dimulai pada era Mughal

masih terus terjadi di India modern.

Bukan karena...

keyakinan buta bahwa Tuhan akan melindungi harta-Nya

atau karena pencuri percaya bahwa patung batu tak bisa menyakitinya.

Karena sejarah menutup mata,

dan catatan kuil dibuang seperti sampah.

Ini adalah kuil Varahi Amma di desa Devipuram, Godavari Timur.

Dengan kekayaan kuil itu,

para pengurusnya menjalankan tugas untuk Dewi tanpa kompromi.

Namun mereka tak tahu bahwa...

Sang Dewi memiliki harta yang sangat berharga.

Ini adalah aset kuil Varahi Amma, Tuan.

Total luasnya 75 hektar tanah.

Seorang NRI bernama Ravindra Varma

menyumbangkan harta warisannya

ke kuil ini dan menetap di AS bersama keluarganya.

Nilai pasarnya saat ini mencapai 1000 crore.

Sekretaris, lihatlah betapa Dewi mencintaiku!

Dia menyembunyikan tanah itu dari menteri sebelumnya

dan menjaganya khusus untukku.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, klaim hadiah suci-Nya

dan serahkan ke tangan anak-Nya.

Mereka bilang Dewi ini sangat berkuasa. Sekarang itu jadi urusanmu.

Biar aku yang urus.

Kau pergi saja,

dan siapkan surat kepemilikannya.

Belum genap tiga bulan sejak kau dipindahkan.

Kau masih punya 20 tahun masa kerja. Kenapa mengundurkan diri?

Pergilah.

Kembali bekerja.

Peristiwa selama 90 hari terakhir ini

membuat aku merasa tak pantas lagi mengenakan seragam ini.

Itulah alasan aku mengundurkan diri, Tuan.

Sekarang kau mengundurkan diri, nanti kau mencaci di YouTube,

menyeret kami turun bersamamu.

Lupakan. Buatkan surat pengunduran diri yang rinci.

Akan aku baca, lalu aku putuskan apakah akan melepaskanmu.

Keluar.

Tuan…

12 tahun masa kerja,

18 kali dipindahkan, aku selalu dipindah sebelum sempat menetap di satu tempat,

istri dan anakku menderita karena aku.

Aku sudah dipindah ke banyak tempat dan kantor.

Tapi tak pernah sekali pun terlintas untuk mengundurkan diri.

Namun hari ini aku mengundurkan diri karena satu orang.

Aku melihatnya di hari pertama aku di sini.

Ya, kami baru sampai,

semua barang sedang diturunkan.

Ya.

Aku akan melapor ke kantor polisi besok.

Ya. Aku sudah sampai.

- Oke. - Oh! Anjing kecilku!

Hei!

Hei! Vaishu!

Vaishu!

Kau harus lebih hati-hati. Bagaimana kalau itu jatuh menimpamu?

Maaf, Bu.

Aku takkan mengulanginya lagi.

- Semua sudah diturunkan, kan? - Ya, Tuan.

Aku hanya menerima uang untuk pekerjaan, bukan untuk bantuan.

Tangan kanan Gajapathi.

Namanya Seenu.

Kuil Varahi Amma yang masuk wilayah stasiunmu,

pengurusnya Varadha dan Gajapathi…

kumpulkan semua informasi tentang mereka.

Baik, Tuan. Tapi tujuannya--

Varadha dan Gajapathi.

Mereka bersahabat sejak kecil.

Persahabatan itu mereka warisi dari ayah mereka.

Jika persahabatan mereka bertahan sampai akhir,

maka ayah mereka mengorbankan hidup bersama.

Varadha, pemilik perusahaan transportasi Varadha.

Naikkan! Naikkan!

Lihat apa yang terjadi di sana.

Varadha.

Apa yang kalian, kerbau, lakukan pada sapi-sapi ini?

Hei, Varadha!

Kami membeli sapi-sapi itu.

Kami menyewa truknya sendiri.

Minggir!

Atau, bersama sapi-sapi ini, kau juga akan...

Oh! Dia orang suci yang mengubah rumput jadi busur♪

Penipu para pendosa

Bagi musuhnya, dia adalah maut itu sendiri

Dia tak pernah menyimpang dari jalan kebenaran

Kemenangan selalu bersamanya Kekalahan tak dikenalinya

Saat kewajiban runtuh, ia menunjukkan keberanian bak dewa

[melantunkan shloka berbahasa Sanskerta]

Sungai-sungai suci seperti Ganga, Godavari, Krishna, Kaveri.

Weda Rig, Yajur, Sama, Atharva.

Penyebab penciptaan, kehidupan, dan kehancuran: Brahma, Vishnu, Shiva,

beserta semua dewa lainnya. Juga tujuh samudra.

Dengan semua 14 dunia di dalamnya,

sapi adalah ibu dari semua ciptaan.

Hei!

Kalian punya waktu lima menit.

Sapi-sapi harus sudah di dalam kandang,

dan truk-trukku di dalam garasi.

Kuperingatkan!

Kerajaan telah runtuh, yang tersisa hanya tembok batu.

Gajapathi Varma tetap menjadi pewaris tahta kerajaan.

Kau membuat kesalahan besar!

Bukan hanya menyerang anak buah Gajapathi,

kau berani memukulku di wilayahnya?

Kalau begitu, suruh Gajapathi datang sendiri.

Suruh dia datang sebelum gigiku meninggalkan bekas di bibirnya.

Kalau dia punya nyali, katakan padanya untuk hentikan aku.

Kenapa?

Kenapa tak kulihat rasa takut di matamu?

Karena yang datang adalah keberanian kami,

untuk apa aku takut?

Tangkap dia, semuanya.

Dia seorang raja, raja dari segala raja Berjiwa agung

Pemberani tanpa rasa takut yang tak mengenal menyerah

Perkataannya adalah hukum

Ia berjalan di antara kita dengan topeng

Tak ada ruang bagi ketimpangan

Namun jika kau melewati batas, bukankah dia akan menghantam keras?

Ia seorang pejuang tunggal tanpa tandingan

Kekuatan tak gentar dengan tenaga tak terbayangkan

Bumi bergetar dan mengaum

Seperti gajah perkasa yang sedang melangkah

Saat penguasa para gajah mendekat

Bumi bergetar dan mengaum

Seperti gajah perkasa yang sedang melangkah...

Hei…

Kalau kau minum untuk lari dari beratnya hari…

Aku tak peduli.

Tapi kalau kau mengganggu perempuan saat mabuk…

Gajapathi ini akan menghajarmu seperti gajah yang mengamuk.

Meski ia tak punya harta pribadi,

kehormatan leluhurnya…

dijaga baik oleh Gajapathi.

Tugas satu orang menjadi keberanian orang lain.

Di atas bahu mereka berdua…

terletak kejayaan kuil Varahi Amma.

Nagarathnamma.

Nenek Gajapathi.

Bukan hanya kepala keluarga Gajapathi,

tapi juga pelindung kuil.

Warisan kuno kuil ini, dijaga olehnya,

dengan bantuan Gajapathi dan Varadha.

Segala kegiatan yang berhubungan dengan kuil,

ditangani oleh Varadha dan Gajapathi.

Dewa Bhairava adalah penjaga kuil Varahi Amma.

Bagi Gajapathi dan Varadha, penjaganya adalah Seenu.

Seenu adalah seorang yatim piatu.

Ia tinggal di kuil kecil di desa sebelah.

Jika kita pergi ke kuil dan mengenakan tilak

tetapi Seenu dirasuki oleh Dewa Bhairava.

Dalam keadaan terpukau, Seenu...

Varadha, tolong aku.

Varadha…

Varadha, tolong selamatkan aku.

Seenu, yang yatim piatu hingga saat itu

Nagarathnamma

menjadi keluarganya.

Bersama Gajapathi, dia menjadi nenek baginya.

Bagi Seenu, Gajapathi ibarat Laxmana Rekha.

Ia tak pernah menyembunyikan apapun dari Gajapathi.

Ia juga tak pernah melangkahi perkataannya.

Setelah Gajapathi, Varadha hanya mendengarkan istrinya, Poornima.

Varadha memiliki satu putra dan satu putri.

Istri Gajapathi, Neelima.

Ia adalah jiwa dari impian Gajapathi untuk mengembalikan kejayaan warisannya.

Demi mewujudkan impian itu,

dan untuk bisa mengandung seorang anak, ia terus berdoa kepada Sang Dewi.

Ada apa, Bro? Lagi cek pembukuan?

Dia kumpulkan uang dari pelanggan, lalu habiskan untuk minum dan berjudi

lalu bohong, bilang tak ada pemasukan.

Kenapa kau mempekerjakan orang seperti itu?

Gajapathi,

aku bekerja untukmu.

Aku tak perlu menjawab setiap orang yang lewat.

Diam kau!

Baik bisnis maupun urusan persoalan, itu urusan kami.

Kalau kau menghina Varadha meski hanya bercanda,

bukan kayu yang terbakar di perapian itu nanti.

Melainkan...

Pergi sana. Pergi!

Mari kita bakar duka dalam api Bhogi

Kesedihan dan duka Bukanlah selamanya

Saat bintang sejajar, wajan pun tampak indah

Jika kita bersatu tangan, bukankah ikatan kita akan makin kuat?

Sejak awal hingga akhir

Tak ada yang berani memisahkan kami

Bahkan saudara kandung pun

tak bisa menciptakan ikatan seperti kami

Mari kita rayakan, saudara!

Besarkan musiknya! Mari kita menari!

Festival Sankranti telah tiba Nyalakan semangatnya!

— Tiap DP Langsung Bonus 5% — — Main Disini Jamin Wede —

WinJos > pasti Win , Jos Wede nya Kunjungi ( https://super.winjos.today )

♪Satu tatapan darimu sudah cukup bagi kami

Kebahagiaan ada di dekat kami bersama kami, dan bagian dari kami

Tetaplah bersama selamanya tanpa gangguan mata jahat

Selalu tetap bersama

Meski tak sedarah

namun persahabatan kalian lebih kuat

Perkataan dan pikiranmu selalu sejalan

Meski perbedaan mencoba menyusup Kita takkan membiarkannya

Saat satu melangkah seperti Dewa Rama

Dewa Lakshmana selalu berada di sisinya

Aku, seperti Hanuman, akan selalu di sini

Aku bahkan rela menghancurkan gunung demi mereka

Cintamu adalah penuntunku, sumber hidupku

Dari awal hingga akhir

Tak ada yang berani memisahkan kami

Bahkan saudara kandung

Tak bisa membentuk ikatan seperti kami

Besarkan musiknya

Mari kita menari

Festival Sankranti telah tiba Nyalakan suasananya!

Besarkan musiknya

Mari kita menari

Festival Sankranti telah tiba Nyalakan suasananya!

Apa Amavasya akan menunggu imam, menantu?

Ritual memiliki aturan dan ketentuannya.

Paman, meski ada aturannya,

ritual baru dimulai setelah Varadha datang.

Tentu saja!

Seperti kita semua menunggu dia yang datang dengan santai,

bahkan Tuhan pun harus menunggunya.

Lampu takkan menyala tanpa dirinya.

Itu mereka datang.

Saudara, mereka sudah datang.

Ada apa, Varadha? Kenapa terlambat?

Apa lagi, Nek?

Karena rumah penuh dengan sari, dia butuh waktu memilih yang mana.

- Diam, Sayang. - Masuk, Ipar.

Kami semua sudah menunggumu.

Ayo masuk.

- Hei, Varadha. - Ya, Nek.

Hatiku resah sejak tadi malam.

Setelah ritual selesai, kita ke Rajahmundry untuk periksa.

Bukan soal itu.

Aku bermimpi semalam.

Kepala terpenggal, mayat-mayat tergeletak di mana-mana.

Kaki-kaki berlari ketakutan.

Seluruh desa terlihat seperti kuburan.

Aku merasa seperti Kunti,

yang menunggu anak-anaknya setelah Kurukshetra.

Orang-orangku ada di mana-mana…

tapi aku tak melihat

Gajapathi atau Varadha, kedua mataku.

Dari kejauhan, seperti Krishna sendiri, menantang waktu dan maut,

Seenu menunggangi kudanya, meniup sangkakala.

Ada sesuatu yang sangat tak beres.

Hanya membayangkannya saja membuatku merinding.

Tapi itu hanya mimpi.

Dewi Varahi ada di sini untuk melindungi desa ini.

Selama Nenek masih ada untuk melindungi kuil,

apa mungkin sesuatu terjadi pada kita?

Sekarang, berhentilah berpikir yang aneh-aneh dan fokuslah pada puja.

Pergilah.

Hari itu, Varadha menganggapnya hanya mimpi.

Tapi dia tak pernah menyangka itu akan menjadi kenyataan.

Hei, Seenu. Sajikan sarapan nanti saja.

Vennala datang. Temuilah dia.

- Ada apa? Kenapa kau ke sini? - Aku tahu kau ada di sini.

Kenapa kau datang?

- Untuk memberimu ini. - Apa ini?

Puding manis.

Karena itu makanan favoritmu.

Baiklah. Pergi.

Seenu.

Bukankah semua ini terjadi karena aku?

Bukan begitu.

Semua ini sudah digariskan takdir.

Pergilah.

- Pergi sekarang. - Aku pergi!

Bukankah katanya dia tangan kanan Gajapathi?

Tapi dia mencuci gelas di sini.

Aku tak mengerti, Tuan.

Sudah seminggu ini dia kerja serabutan di luar rumah.

Aku tak tahu apa yang terjadi.

Aku ingin tahu soal Seenu, orang yang menyelamatkan nyawa putriku.

Aku ingin tahu apa yang terjadi selama tujuh hari itu.

Puli Ravindra. ipar Gajapathi.

Ravindra menjalin hubungan dengan seorang gadis bernama Munissa.

Gelisah takkan menyelesaikan apapun.

Pergilah besok pagi-pagi tanpa memberitahu siapa pun di rumah.

Kita pergi ke Rajahmundry untuk aborsi.

Jadi, kau takkan menikahiku?

Apa aku tak boleh bicara soal ini di rumah?

Aku akan menyelesaikan semuanya setelah bicara dengan saudariku, tanpa diketahui iparku.

Pastikan tak ada yang tahu sampai saat itu tiba.

Bersiaplah besok pagi. Kita pergi ke Rajahmundry.

Hebat!

Jadi, kau mau ke Rajahmundry untuk menggugurkan kandungan.

Ayo. Kita temui Gajapathi.

Kalau iparnya tahu, dia bisa membunuh Ravindra.

Lalu kau mau diam saja?

Dia bilang akan bicara dengan saudaranya saat waktunya tepat.

Apa dia melakukan semua hal dengan tepat waktu?

Ini tak bisa dibiarkan.

Akan kuberitahu apa yang harus kau lakukan.

- Hei! - Hei!

Hati-hati. Kau bisa jatuh.

- Aku sudah jatuh... cinta padamu. - Apa?

- Tidak, bukan apa-apa. - Tadi kau bilang sesuatu.

Aku bilang, "Kau datang untuk memelukku."

- Kenapa aku harus memelukmu? - Hanya kau yang boleh memeluk atau menikahiku.

- Nah, kau bilang sesuatu lagi. - Ya. Memang.

Apa yang kau katakan?

Kalau kau benar-benar ingin tahu, temui aku di kebun kelapa besok.

Kenapa pergi tanpa bilang padaku?

Aku akan bilang.

Besok pagi jam sepuluh. Di kebun kelapa milik Tuan Karanam.

Kau akan datang?

Ke kebun kelapa milik Tuan Karanam?

Kenapa dia menyuruhku ke kebun kelapa?

- Vennela menyukaimu, Bro. - Serius?

- Dari mana kau tahu? - Aku sudah tahu sejak lama.

- Kenapa tak kau katakan? - Lebih baik kalau dia sendiri yang mengatakannya.

Mungkin itu sebabnya dia memintamu datang ke kebun kelapa besok.

Berpakaian rapi saat kau pergi besok.

Kau datang lebih awal, ya?

T... Tidak. B... Baru saja.

Kelihatan kok.

Dia tahu segalanya. Tapi aku tak tahu kenapa dia memanggilku.

Kau ngomong apa itu?

Aku cuma penasaran kenapa kau memanggilku.

Aku akan bilang sesuatu.

Tak boleh ada yang tahu selain kau, aku, dan pohon kelapa ini.

Kenapa dia di sini?

Aku tadi mau cerita soal dia.

Soal apa? Masalah apa?

Soal cintanya.

- Bukan soal cinta kita? - Apa?

Maksudku, bukan soal cintamu padaku?

Ih!

"Ih?" Padahal aku sudah membayangkan banyak.

Pokoknya, dia harus cerita soal cintanya ke orang yang dia suka.

Kenapa harus cerita padaku?

Kau perlu tahu ini.

Begini,

mungkin aku tak sengaja menyentuh tanganmu saat beli biskuit di tokoku.

Tapi itu bukan berarti kau langsung jatuh cinta.

Kalau cuma jatuh cinta sih oke.

Tapi dia sudah kebablasan. Ada bayi di perutnya.

Terus, aku harus apa kalau dia hamil?

Supaya bayi itu tak jadi yatim piatu nanti.

Terus? Apa kau mau cetak alamatku di KTP dia?

Astaga! Bisakah kau dengarkan aku dulu?

Kalian berdua sepertinya ingin menghabisiku.

- Tolong, tinggalkan aku. - Seenu!

- Apa lagi sekarang? - Tolong dengarkan dulu.

Dengarkan apa?

Kau buat seluruh desa percaya putri si pembuat roti itu seperti emas.

Yang katanya tak pernah macam-macam.

Sementara kau di sini, berusaha menutupi kehamilanmu.

- Seenu! - Vennela.

Apa pun yang kau katakan, aku tak punya solusi untuk anak yang tumbuh di dalam perutnya.

Sudah kuduga! Tak ada yang bisa menyelesaikan masalahku.

Aku akan cari sumur atau jurang dan akhiri semuanya.

Kupikir dia benar-benar akan melompat, Seenu.

Dia takkan melakukannya.

Hei!

Hei! Munni! Berhenti!

Kuminta padamu, Munni! Dan dia melompat.

Oh!

Dia tenggelam, Seenu!

Itu yang terjadi kalau dia mencoba menenggelamkanku.

Maksudmu, dia harus tenggelam dan Puli yang menipunya hidup enak?

- Apa yang dilakukan Puli? - Dia yang menghamilinya.

Astaga, Puli! Tak menyangka kau bisa seperti itu!

- Cerita cinta, ya? - Hei! Lompat dan selamatkan dia!

Astaga! Aku tak bisa berenang!

Apa! Kau tak bisa berenang? Astaga!

Tolong, seseorang bantu!

Tolong, seseorang bantu!

Tolong!

Kau!

Kau buat aku minum air dari sumur...

sementara kalian minum jus buah!

Aduh!

Ada apa, Seenu?

Aku tanya kau. Apa yang terjadi?

Saudara...

Ini soal nyawa anakku!

Kalau terjadi apa-apa pada anak kami,

- kami semua akan mengakhiri hidup kami! - Takkan terjadi apa-apa.

Kuatlah.

Ikut aku. Kita bicara.

Siapa di antara kalian yang lompat ke sumur?

Sundarachari, pakar investigasi internasional, telah tiba,

kasus ini akan terpecahkan dalam hitungan menit.

Silakan istirahat semuanya!

Kau yang takkan bisa istirahat, Tuan.

Akhirnya…

dengan ini, ceritanya akan berakhir!

Tanda tangan di sini.

Apa?

Hak asasi manusia?

Kau bisa menghancurkan hidup orang lain tanpa pikir panjang,

tapi kau tak bisa tanda tangan ini tanpa membacanya, ya?

Baiklah, akan kubaca. Dengarkan.

Yang Terhormat Inspektur, Salam!

Tuan, aku, Seenu,

ingin memenangkan hati Munissa dan...

memilikinya sampai hatiku puas.

Aku tetap di sisinya, menyebutnya cinta.

Aku menipunya dan membawanya ke kebun kelapa.

Kami ubah kebun itu menjadi kamar tidur kami.

Itulah yang membuatnya hamil.

Berita kehamilannya tersebar luas, hingga sampai ke telinga ayahnya.

Karena kehilangan harapan, gadis itu tenggelam dalam keputusasaan…

dan dia melompat ke dalam sumur.

Astaga.

Karena dibutakan oleh nafsu,

aku nyaris merenggut nyawa seorang gadis polos.

Itu aku! Aku pantas dihukum, Yang Mulia!

Hormatku, Vinaya Vidheya Rama.

Maksudku… Dengan hormat,

Yang rendah hati,

Bhagat Singh.

Yang rendah hati,

Seenu.

Bagaimana menurutmu?

Apakah rima puisiku bikin kau terpukau?

Sundarachari, akulah penyelamat bahasa kita!

Diam dan tanda tangan di sini.

Kalau kau tak mau tanda tangan, jangan harap aku ampuni kau.

Cepat tanda tangan saja.

Berani-beraninya kau melawan hukum!

Oh, jadi kau mau lakukan sendiri?

Buat dia mengaku.

- Apa yang terjadi, Seenu? - Saudara.

Saat Vennela memanggilku, aku mandi pakai sabun Lux,

taburi bedak Pond's, lalu ke kebun kelapa Karanam.

Munissa datang dan bilang dia sudah cinta padaku tiga tahun.

Karena bingung, aku memarahinya.

Dia kesal dan melompat ke sumur!

Untuk menyelamatkannya, Vennela mendorongku ke sumur.

Setelah itu baru kutahu dia sebenarnya cinta pada Puli, bukan aku.

Puli membawanya ke mana-mana dengan dalih cinta dan menghamilinya.

Untuk menutupi itu, dia rencanakan aborsi di Rajahmundry.

Gadis itu ingin mati, saudara.

Dia mengandung anak dari Puli.

Berikan keadilan padanya, saudara.

Tak ada yang cocok.

Kau pikir aku bodoh?

Takkan aku biarkan kau lolos!

Aku tak mau tinggal di sini.

Kalau begitu, pergi saja!

Dia menyiksaku dengan suaranya yang berat!

- Aku akan lipat-- - Hei!

Biar aku simpan saja.

Untuk langsung menikahkan mereka dan menyelesaikan semuanya,

gadis itu bukan dari agama kita.

Kalau agamanya tak menghalanginya untuk jatuh cinta dan menghamilinya,

kenapa tak menikahinya?

Hei, Varadha!

Kalau kau ada di posisiku

dan iparmu melakukan hal yang sama,

apa yang akan kau lakukan?

Kesalahan ada di pihak kita.

Kita harus memperbaikinya.

Kita tak punya pilihan lain.

Kita harus menikahkan mereka.

Dia bukan dari agama kita.

Aku tak ingin dia menjadi menantuku.

Paman, masalah dia lebih penting daripada keinginanmu.

Agar tak ada seorang pun di kota ini yang menuding

Varadha dan Gajapathi karena ketakadilan terhadap seorang gadis…

pernikahan ini harus terjadi.

Dengarkan aku, menantu.

Pernikahan ini harus terjadi!

Hei! Apa yang kau lakukan di sini?

Untuk apa kau di sini?

Pernikahan berikutnya adalah milik kita.

Bukan kita, hanya milikku saja.

Akan kupukul kau!

Aku sudah memutuskan sejak kecil.

Untuk menikahimu.

Siapa yang tahu?

Satu kota tahu.

Kecuali kau!

Sebenarnya, salahku.

Aku tak pernah menyampaikan perasaanku seperti seharusnya.

Kalau begitu katakan sekarang.

Boleh aku katakan?

Ya, katakan.

Ayo, akan kukatakan.

Hei, Vennela!

Suara di hatiku Membunyikan lonceng cinta

Kaki di lantai Menari dengan langkah baru

Seperti kawanan burung Terbang di langit biru

Segala khayalanku Mendapatkan sayap sekaligus!

Aku merasa seperti kapas yang melayang di udara

Seperti pengalaman baru Semua terasa kacau

Oh Vennela

Simpan sihirmu untukmu sendiri

Jangan percikkan itu padaku

Oh Vennela

Seperti seorang ratu

Kuasai hatiku seratus tahun lamanya

Hei, gadis cantik

Gelang kaki berlonceng mutiara

Kau merebut hatiku dan menarikku mendekat kepadamu

Dengan celak di matamu

Menarik kerah bajuku erat

Dengan ciumanmu

Kau menenggelamkanku seperti ini

Hai, cerewet

Denganmu di sisiku

Arah hidupku berubah

Aku menjadi pribadi yang baru

Sejak aku begitu menyukaimu

Aku jadi semakin gila

Seakan takdir telah menuliskan

Aku terlahir untukmu

Oh Vennela

Kegembiraanmu

Atas diriku

Seperti hembusan angin sejuk

Oh Vennela

Seperti ratumu

Datanglah kepadaku

Haruskah aku tetap di sini?

Vennela

Hei, tetaplah di sini untukku

Haruskah aku tetap di sini?

Hei!

Puli.

Veerapuli.

Kurang ajar kau!

Hanya karena aku diam...

kau pikir bisa mempermainkan Puli Gopalakrishnan ini?

Siapa kau hingga bisa menikahkan anakku?

- Siapa kau sebenarnya?! - Paman.

Siapa bilang aku pamanmu? Lepaskan tanganmu, lepaskan, kubilang!

Tunjukkan hormat, Paman.

Sudah sejauh mana kau tumbuh hingga bisa mengajarku soal hormat?

Kepada Puli. Kepada Veerapuli ini.

Kepada Puli Gopala Krishna?

Paman! Tolong, Paman!

- Tolong dengarkan aku, Paman. - Semua ini karena dia.

Bahkan dia pun menjauhiku.

Berani sekali kau mendekatiku? Minggir!

- Menjauh! - Tunggu, Paman.

Jangan bikin keributan karena mabuk.

Ayo pulang, kita bicara di rumah.

Kenapa harus di rumah? Kita selesaikan saja di sini.

Dengan pohon hijau ini sebagai saksi.

- Siapa kau hingga bisa mendorongku?! - Minggir, Paman, bukan seperti itu...

- Paman - Apa?

Ada apa ini semua, Paman?

Ayo pulang, kita bicarakan baik-baik.

Mengapa aku harus datang ke rumahmu?

Semua ini terjadi karena kau. Kau...!

Ayah mertuaku sudah seperti ayah kandung bagiku.

Berani sekali kau memukulnya?

Aku tak ingin melihat wajahmu lagi.

Pergi dari sini!

Itulah alasan dia bekerja di tempat lain selama seminggu terakhir.

- Maaf, saudara. Aku tak sengaja. - Maaf?

Lihat ke arah kerjaanmu!

Pasti Gajapathi memecatmu karena kelalaian seperti ini.

Bodoh! Dia merusak bajuku pagi-pagi begini.

Apa dia takkan pernah kembali ke Gajapathi lagi?

Aku tak tahu, Tuan.

Hei! Aku rela mati demi Seenu,

dan kalau ada yang mengusiknya, aku pun tak segan mengambil nyawa orang.

Urusannya sudah selesai. Ayo pergi.

Pertengkaran mereka bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

Semua ini terjadi karena telepon yang kuterima hari itu.

Tuan, Menteri Vidurapalli memintamu untuk menemuinya.

Temuilah beliau dan lakukan apa yang diperintahkan.

Baik, Tuan.

Namanya Nagaraju.

Kakeknya, Nookaraju, dulu adalah tokoh yang dihormati di Kuil Varahi Amma.

Setelah ia wafat, keluarganya kehilangan segala keterkaitan dengan kuil itu.

Ayahnya, Peddiraju, memiliki Lakshmi Talkies yang menayangkan film-film dewasa.

Yang kini digunakan untuk segala aktivitas ilegalnya.

Sialan...

Ayo.

Bersihkan dan simpan dengan aman.

Jangan pernah abaikan wanita yang telah kau tiduri, atau senjatamu.

Rawatlah keduanya, agar kita tak ternoda.

Baik, saudara.

Hei, Kepala Sektor!

Aku memanggilmu untuk urusan kecil.

- Ipar! - Ipar!

Dia masih kerabat jauhku.

Dia seperti iparku sendiri.

Aku tahu.

SP memberi tahu aku bahwa kau datang setelah menyelidiki semuanya.

Sekarang...

Dia butuh bantuanmu untuk menyelesaikan sesuatu.

Aku tak bisa, Tuan.

- Kenapa? - Dia memalsukan produk...

dari merek-merek ternama.

Sudah ada dua laporan polisi terhadapnya.

Itu namanya melayani rakyat.

Produk kelas atas tak seharusnya hanya untuk orang kaya. Apa rakyat miskin tak berhak?

Apa orang kecil tak boleh bermimpi?

Aku hanya membantu mereka mewujudkan.

Lalu untuk itu, kalian mau memprosesku secara hukum?

Bahkan orang-orang terkenal pun memiliki banyak musuh.

Ia akan menjalankan tugasnya, dan kita akan menjalankan tugas kita.

Ia membutuhkan sesuatu di Kuil Varahiamma Devipuram.

Bukankah kuil itu berada dalam yurisdiksimu?

Tolong bantu dia.

Ini menyangkut hal yang suci.

Jika kau terlibat di dalamnya,

kau juga akan mendapat manfaat.

Aku dengar kau punya anak perempuan berusia enam tahun.

Bukankah ia lahir setelah penantian yang panjang?

Berikan dia pendidikan yang baik.

- Sekretaris? - Tuan.

Ini, simpanlah.

- Aku tak mau ini. - Kau punya anak perempuan.

- Ini mungkin berguna suatu saat. - Aku tak butuh uang.

Tapi aku akan menyelesaikan urusanmu.

Bagaimana aku bisa percaya jika kau tak mau menerima uang ini?

Apa jaminannya kau takkan berbalik melawan aku nanti?

Hei, Cirle.

Mulai sekarang, kita berada dalam satu lingkaran yang sama.

Mari bersatu dan bekerja demi ipar. Bagaimana menurutmu?

Begitulah cara Menteri menyeretku ke dalam urusan tanah Kuil Varahiamma.

Dokumen asli tanah tersebut

disimpan di dalam loker Bank Rajahmundry Union

bersama dengan perhiasan Dewi.

Setiap tahun, selama perayaan kuil,

pengurus kuil memiliki wewenang untuk membuka loker tersebut.

Itu berarti kita membutuhkan kunci loker itu.

Jika kita ingin mendapatkannya...

kau harus menjadi pengurus kuil itu terlebih dahulu.

Itu takkan terjadi selama wanita tua itu masih hidup.

Kalau begitu, sudah waktunya kita ucapkan selamat tinggal padanya.

— Tiap DP Langsung Bonus 5% — — Main Disini Jamin Wede —

WinJos > pasti Win , Jos Wede nya Kunjungi ( https://super.winjos.today )

Karena Nagarathnamma wafat,

kami telah memilih cucunya, Gajapathi, sebagai pengurus kuil ini.

- Apakah semuanya setuju dengan ini? - Setuju.

Sudah cukup melambaikan tangan. Beri jalan.

Kenapa kalian mengadakan rapat pagi-pagi begini?

Hei, Nagaraju.

Simpan sindiranmu. Ini tempat suci!

Oh, begitu ya?

- Apa hal suci yang kalian lakukan di sini? - Kami sedang memilih pengurus kuil.

Jadi, siapa orang hebat itu?

Siapa lagi kalau bukan cucu Nagarathnamma, Tuan Gajapathi.

Nenek tua yang telah menjanda selama 30 tahun memimpin urusan kuil.

Hari ini, ia ingin menjadi pengurus

setelah membawa orang dari agama lain ke rumahnya.

- Dunia sedang gelap! - Hei, tukang drama!

- Itu urusan keluarga. - Ini urusan kuil.

Ada tradisi dan adat yang harus dihormati.

Menurutmu, kita harus bagaimana, Nagaraju?

Tinggalkan dia kali ini dan pilihlah aku.

Sebagai pengurus kuil.

Hei!

Siapa yang mau memilih penipu sepertimu jadi pengurus?

Tentu saja! Aku butuh sertifikasi dari orang sepertimu.

Kau kumpulkan seluruh desa lalu mulai berkhotbah soal moralitas.

Mendengar semua ini—

Aku sudah cukup bersabar.

Apa-apaan yang kau ocehkan?

Kekerasan fisik tak pantas dalam demokrasi.

Mari kita selesaikan ini lewat kotak suara.

Kalau kau berani, kalahkan aku lewat pemilihan.

Saudara tak perlu ikut bertarung untuk mengalahkanmu.

Bahkan seekor anjing pun bisa menang jika dia mencalonkan diri.

Bro...

Kau menikahkanku dengannya karena saran Varadha.

Padahal aku dan ayah punya harga diri, tapi kami abaikan itu.

Sekarang dengan pernikahan ini sebagai alasan, mereka merebut jabatanmu.

Kau paham apa yang terjadi di belakangmu?

Aku tahu siapa itu siapa. Diam dan lakukan saja tugasmu.

Mundur ke sana... Hei! Hei!

Anjing kita sendiri saja tak mengenali kita, Bro.

- Bagaimana kita bisa dapat suara? - Hei!

Diamlah. Mereka akan memilih karena wajah kita. Kau tinggal tutupi wajahmu.

Siapa yang mencalonkanmu?

Siapa lagi kalau bukan aku, saudaranya sendiri?

Tentu saja, aku.

Silakan tanda tangan di sini.

Kau juga, Tuan.

Paman, kita pasti menang. Silakan tanda tangan saja.

Keduanya benar-benar serius dalam pemilihan ini.

Nagaraju ingin menang dengan cara apa pun.

Ia memanggil Varadha, yang satu kasta dengannya, ke teaternya untuk meminta bantuan.

Kau bisa sampai sejauh ini bukan karena kakimu, tapi karena kastamu.

Kasta kita adalah kekuatan kita.

Aku punya kekuatan seperti itu,

tapi kenapa tak ada yang menantangku?

Karena dia tak punya kasta, semua orang merasa dia bagian dari mereka.

Apa maksudmu, Varadha?

Kau ingin mengalahkan orang sekasta?

Baiklah.

Demi kau, kita biarkan kasta kita yang menang.

Tapi, apa untungnya untukku?

Nah, itu baru pertanyaan yang tepat.

Kemenanganku akan kujadikan kemenanganmu juga.

Mari kita bagi rata perhiasan dan aset kuil.

Tunggu sebentar.

Hei!

Model terbaru, video 4K.

Audio Dolby.

Hei, Teater! Video ini akan jadi viral di teater!

Kalau dia menang, dia akan mengkhianati kita dan menguras harta kuil.

Apakah kalian akan membiarkannya menang?

Tidak! Tidak!

Begitu kau kembali ke kuil yang kau tinggalkan 30 tahun lalu,

aku sudah menduga kau akan melakukan hal seperti ini.

Itulah mengapa aku menutup kisahmu dengan cara ini.

Seenu menang telak melawan Ghanta Nagaraju dan menjadi pengurus kuil.

Siapa Seenu itu?

Selama nenek masih hidup,

kau merawat kuil ini,

dan kau tetap harus merawatnya, bersama Seenu di garda depan.

Neelima!

Neelima!

Neelima!

Sayang!

Neelima,

Mengapa kau melakukan ini, Neelima?

- Kenapa? - Apa lagi yang bisa aku lakukan?

Aku masuk ke rumah ini dengan banyak impian.

Tapi apa yang terjadi di sini?

Jangan lupa bahwa kau memiliki keluarga.

Kau bertindak seolah-olah temanmu adalah duniamu.

Pada akhirnya, menurutmu apa yang akan bawakan kita kehormatan?

Bahkan kunci kuil pun kini telah diserahkan.

Apa lagi yang tersisa sekarang?

Apakah uang, anak-anak, ataukah penghargaan dari warga desa?

Untuk apa aku harus hidup mulai sekarang? Apa lagi yang tersisa?

Untuk apa aku harus hidup?

Hiduplah untukku.

Kau harus hidup untukku.

Baiklah, aku akan hidup demi kau.

Tapi janjilah padaku,

bahwa kau akan mengembalikan kejayaan kita yang dulu.

Janjilah!

Dia tak mengangkat telepon.

Coba lagi.

Terus coba sampai dia angkat telepon, Seenu.

Bahkan ini pun palsu, tak ada satu pun emas asli di dalamnya.

Kalung Dewa biasanya sering diganti.

Tapi di sini, seluruh perhiasan emas telah ditukar.

Apa maksudnya semua ini?

Bagaimana aku tahu?

Aku baru menerima kuncinya kemarin.

Aku membukanya untuk memeriksa dan mencatat semuanya di depanmu.

Siapa pun yang menjadi bendahara selama 20 tahun terakhir harus menjawab ini.

Dia tak bicara apa pun. Akan kami buat dia mengaku.

Apa yang terjadi?

Bahkan aku pun tak mengerti apa-apa.

Aku tak tahu siapa yang harus dicurigai.

- Tidak apa-apa, mari ke samping. Kita bicarakan. - Untuk apa?

Karena ini urusan kuil, aku masih bersabar.

Kalau bukan, sudah aku potong-potong dia.

Bahkan sekarang pun dia tak bicara apa-apa.

Tenanglah, ke sini dulu, aku ingin bicara denganmu.

Kenapa masih membahas ini? Ayo ke kantor polisi, kita bicarakan di sana.

Berikan kami waktu sebentar.

Bendahara membawa perhiasan ke luar atas perintah dariku.

Badai yang tak terduga menghancurkan semua batu bata yang baru dicetak.

Karena tak ada dana untuk berinvestasi,

dan tak tahu harus berbuat apa,

aku terpaksa menggadaikan perhiasan itu.

Aku berniat menebusnya segera setelah punya uang.

Tapi Nenek meninggal sebelum itu terjadi.

Dia menjalani kehidupan yang luar biasa,

jadi upacara pemakamannya pun harus agung.

Karena tak ada pilihan lain, aku pakai dana itu untuk biaya pemakaman.

Seharusnya kau beri tahu aku sejak awal.

Aku sudah beberapa kali meneleponmu untuk memberitahukannya.

Tapi kau...

Polisi berencana membawa bendahara ke kantor,

Kalau dia disiksa...

dia pasti akan menyebut namamu.

Biarkan aku menyerahkan diri.

Aku takkan mengatakan yang sebenarnya meskipun dipukuli.

Hei, diamlah.

Kalau pengurus kuil ditangkap...

itu tak baik untuk kuil.

Pemilik teater itu juga sedang menunggu kesempatan seperti ini.

Hei,

kau pergi.

Aku akan datang ke kantor dan selesaikan ini.

Saudara...

Kau diam.

Apa yang kau tunggu? Mulai tulis.

- Tulis cepat. - Baik, Tuan.

Lalu, bagaimana sekarang?

Dokumen rumahku nilainya satu crore.

Setelah mengembalikan perhiasan kuil, akan aku tebus kembali.

Mohon jangan buat laporan polisi terhadap dia.

Siapa kau melarangku membuat laporan?

Berapa lama lagi, penulis? Bawa ke sini.

Ini perhiasannya.

Uji emasnya kalau punya batu uji.

Panggil bendahara untuk memverifikasinya.

Periksa semuanya.

Nenek mereka menyerahkan perhiasan untuk dipoles,

dan saat prosesnya selesai, dia sudah wafat.

Mereka kira perhiasan itu hilang.

Hanya karena emas sepele, kalian hampir menjebloskan Gajapathi ke penjara.

Zaman kegelapan! Zaman kegelapan!

Siapa kau sebenarnya?

Atasanmu tahu siapa aku. Tanyakan ke dia.

Jika semua orang jujur, kenapa perhiasan palsu bisa ada di kuil?

Penulis, cukup menulisnya. Robek semua dan buang.

Baik, Tuan.

Jangan buang-buang waktuku. Pergilah.

Baik, kami pergi.

Dia menebus perhiasan dari pegadaian dan membawanya ke sini.

Setidaknya sekarang, belajarlah membedakan mana orang kita dan mana bukan.

Kau bilang, saudara menggadaikannya di pegadaian.

Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini.

Neelima...

Kalau saja kau bilang dari awal bahwa itu untuk dipoles,

kita tak perlu berdiri di kantor polisi seperti ini.

Baru setelah sejauh ini, kita sadar siapa yang tulus dan siapa yang palsu.

Kau yang asli, kami yang palsu. Kalian tuan, kami pencuri.

Kenapa kau bicara begitu, Neelima?

Kau seharusnya masuk politik.

Kau mengatur semuanya dari balik layar dan mengubah seluruh keadaan.

- Bahkan kau salah sangka terhadap kami. - Cukup dramanya.

Ayo, kita pergi.

Aku tak pernah menyangka akan mengalami hari seperti ini.

Di tengah masa sulit seperti ini, hanya kau yang tetap mendukungku.

Katakan padaku.

Apa yang kau inginkan dariku sebagai balasan?

Mari kita bicarakan besok pagi.

Tidak apa-apa, katakan saja apa yang kau mau.

Kita bahas besok pagi saja.

Hei, Teater.

Tanpa rencana apa pun, kau takkan

menghabiskan 50 lakh untukku.

Katakan apa yang kau inginkan.

Mengapa membicarakan saat mabuk?

Mari bicara saat kau sadar besok pagi.

Seenu,

Ya, saudara.

Apa sebenarnya motif dia dalam semua ini?

Iparnya, si menteri, menginginkan beberapa dokumen terkait kuil.

Dia tahu hanya kita yang bisa mendapatkannya.

Tapi dia tak tahu cara meyakinkan kita. Lalu datanglah kesempatan.

Dia menyelamatkanmu, tapi meski sudah minum 4 gelas, dia tetap tak berani bicara.

Hei kau!

Dokumen-dokumen itu adalah milik tanah kuil.

Iparku, Menteri Vedurupalli, menginginkan tanah itu.

Artinya,

kami butuh dokumen tanah itu.

Jika kalian memberikannya kepada kami,

kami akan memberikan 40 crore.

Itulah kesepakatannya.

Setelah nenek meninggal,

saat membersihkan kamarnya kami menemukan buku harian kakekmu.

Di dalamnya, tertulis bahwa tanah itu disumbangkan oleh Ravindra Varma.

Dokumen terkait disimpan di loker Bank Indian Rajahmundry.

Hal terbaik yang dilakukan kakekmu adalah,

dia tak pernah mencantumkan tanah itu dalam catatan kuil.

Selama ini, kami khawatir leluhurmu tak meninggalkan apa pun.

Anggap saja kakekmu mewariskan aset ini untuk kita.

Jika kau setuju dengan kesepakatan ini, 40 crore akan tiba di rumahmu.

Itu takkan terjadi.

- Kenapa? - Varadha...

takkan membiarkan itu terjadi.

Kalau begitu, bunuh saja dia.

Dasar bajingan!

Kalau berani menyentuh Varadha,

bukannya mengorbankan kambing saat festival,

justru kau yang akan dikorbankan.

Kau mengerti?

Yang kalian inginkan hanya akta tanah itu, kan?

Datanglah ke sini dengan membawa 40 crore.

Kita sudah mulai persiapan untuk perayaan.

Apa rencananya?

Begitu Seenu pergi untuk membuka loker bank,

dia akan melakukan panggilan video.

Dia akan menunjukkan dokumen-dokumen yang ada di dalamnya.

Begitu kau tunjukkan akta mana yang kau inginkan,

dia akan membawanya bersama dengan perhiasan.

Apa kita bisa percaya pada Seenu?

Aku lebih percaya Seenu daripada bayanganku sendiri.

Baiklah, saudara.

Dalam kendaraan bank bersama pegawai bank,

dua orang polisi akan ikut mengawal mereka sampai ke kuil demi keamanan.

Itu prosedur standar.

Kau atur mereka, Teater.

Itu akan diurus oleh Circle.

Sebelum kendaraan itu sampai ke desa kita, kita harus merampok van itu.

Warga desa harus merasa bahwa itu adalah perampokan untuk perhiasan saja.

Rencananya terdengar bagus.

Bagaimana kalau Varadha muncul?

Aku akan menghentikan Varadha.

- Apakah kalian sudah menyelesaikan tugasnya? - Kami sedang proses, Tuan.

Nagaraju.

Aku sudah kirimkan polisi yang kau minta.

Bagus, Inspektur Circle!

Temuilah menteri besok, dia memanggilmu.

Apakah dia yang mengirim bunga itu?

Bunga hias sudah datang,

tapi karangan bunga dan yang untuk kereta belum datang.

- Kenapa? Ada apa? - Katanya dia sedang sakit.

Aku sudah mencoba ke pasar juga, tapi mereka bilang terlalu mendadak.

Kecuali kau datang dan bicara langsung, kita tak bisa mendapatkannya.

- Baik, aku akan datang. - Baik, saudara.

Iparku akan sibuk menghentikan Varadha.

Aku akan sibuk merencanakan pembunuhannya.

- Sayang! - Teja belum pulang ke rumah.

- Mungkin dia ke tempat les. - Dia tak ada di sana juga.

Coba periksa apa dia ada di lapangan.

Sudah kuperiksa, dia tak ada.

Dia juga tak ada di sana.

Baiklah. Jangan khawatir.

Biar aku yang urus.

Halo?

Aku polisi dari kantor polisi Nidadavole.

Apakah truk AP 26 AE 1214 milikmu?

Benar, Tuan.

Sopirmu meninggalkan truk setelah kecelakaan.

Segera datang ke kantor polisi.

Aku segera ke sana.

Buka brankas,

dan berikan kunci loker milik Kuil Varahiamma.

Tuan.

Ke sini.

Seenu,

kau datang tanpa memberi tahuku.

Katanya kau sedang sibuk.

Aku tak ingin mengganggumu.

- Jadi aku langsung datang. - Aku sibuk?

Apakah kau pemilik truk yang kecelakaan itu?

Duduk di luar dulu. Kita bahas ini setelah CI kembali.

Aku bukan pemiliknya, Tuan.

Sampai CI kembali,

pemilik truk harus tetap di sini.

Kami menemukan Teja, bro.

Di mana dia sekarang?

Hei, aku punya tiket film. Mau ikut?

Tentu, ayo kita pergi.

Antar dia pulang dengan selamat.

Ya, tunjukkan padaku.

Tunjukkan yang di sebelahnya. Sebelahnya.

Bukan, bukan yang itu. Sebelahnya lagi.

Buka kain itu.

Perbesar, perbesar gambarnya.

Ravindra Varma.

Ya, yang itu.

Saudara!

Varadha datang ke bank!

Apa maksudmu?

Dia ada di sini, saudara.

Varadha datang ke bank, saudara!

Baiklah.

Kembali sekarang.

Apa maksudmu?

Hei!

Kalau tak hari ini, kita bisa lakukan besok.

Tapi jangan sampai terjadi apa-apa pada Varadha.

- Bukan itu maksudku, dengarkan— - Lakukan saja yang aku perintahkan!

Haruskah kita hentikan?

Kalau Gajapathi bilang berhenti, kita harus berhenti?

Haruskah kita takut pada Varadha?

Kalau akta itu kembali ke dalam loker,

butuh setahun lagi untuk bisa diambil.

Aku tak percaya pada hari esok.

Hari ini.

Malam ini.

Akta itu harus ada di tanganku.

Lakukan apa pun yang perlu, bahkan jika kau harus membunuh seseorang.

— Tiap DP Langsung Bonus 5% — — Main Disini Jamin Wede —

WinJos > pasti Win , Jos Wede nya Kunjungi ( https://super.winjos.today )

Hei, enyahlah!

Hei Seenu, tolong selamatkan mereka!

Nenek...

Tatapan menggetarkan dari Dewa Siwa telah lahir

Menggelegar, menggema di langit

Setiap langkah mengguncang bumi dengan dahsyat

Dentuman damaru berdetak dalam irama mendesak

Lahir dari api kehancuran

Cahaya menyala dari wujud Siwa

Penghancur kesombongan

Pembunuh kejahatan

Penyelamat umat manusia

Penghancur kejahatan Tak lain adalah Sambashiva

Bhairava… dengan dahi yang menyala

Bhairava… pembasmi kejahatan

Bhairava… amarah sang kesatria

Bhairava… kengerian di medan tempur

Bhairava… dengan dahi yang menyala

Bhairava… dengan raungan yang menggelegar

Bhairava… cahaya dari sang kesatria

Bhairava… kengerian di medan tempur

Bhairava… cahaya dari sang kesatria

Bhairava…

Bhairava…

Dia memukulku di depan semua orang waktu itu,

dan sekarang dia menebas tangan putraku.

Mungkin kau bisa melihat semua ini dan tetap diam.

Tapi aku takkan tinggal diam.

Aku takkan mengampuni dia ataupun Varadha.

Kalau pengadilan tak menjatuhkan hukuman mati padamu,

- Maka Sundarachari ini akan… - Apa yang kau ocehkan?

Bacalah ini.

Ketika amarah dan kemarahan bersatu di waktu yang sama,

bahkan gajah pun bisa dikalahkan oleh murka orang-orang berbahaya itu.

- Chari, aku tak mengerti. - Maksudmu bahasa Telugu?

Maksudku bahasamu sendiri.

Kasusnya memang seperti itu, Tuan.

Karena aku terlalu fokus pada bahasanya, terdengar seperti itu…

tapi sisanya sudah sesuai.

Aku punya rincian yang benar, Tuan.

Tadi malam saat festival terjadi kekacauan karena kerumunan besar…

Jadi, kau bilang pisau yang diletakkan di persembahan pooja…

secara tak sengaja melukai tangan?

Tapi dia menebas tangan itu di depan banyak orang, bukan?

Korban sendiri yang menulis seperti ini.

Apa yang bisa aku lakukan?

Jika aku dibuang dengan amarah dan kemarahan, kau hanya akan terkejut…

Dan bahkan jika aku mati dengan menyakitkan, kau pun takkan berbelas kasih.

Chari!

Ini sudah kedua kalinya.

Kau bertarung, lalu melaporkan seolah itu kecelakaan.

Dan kami harus percaya padamu, begitu?

Begitu tahu hanya kami pelakunya…

Kami juga tahu bahwa kau tak melakukan apa pun meskipun tahu alasannya.

Kau menuduh aku bekerja untuk orang lain di sini?

Bukankah kau orang yang jujur? Katakan alasannya.

Begitu aku tahu alasannya, kau akan dapatkan kasusnya.

Lalu kau akan tahu siapa aku sebenarnya.

Tuan.

- Dengar itu? - Ya, aku sudah makan, Tuan.

Maksudku bukan "sudah makan," tapi apa kau dengar dia bicara?

Bagus! Kalau begitu sampaikan semuanya secara rinci ke atasan,

kau akan dapat promosi.

Terima kasih, Tuan!

Putramu benar-benar berani sampai berniat membunuh Varadha.

Seenu hanya menebas tangannya.

Kalau aku yang di sana, aku sudah tebas kepalanya.

Hei.

Kau harus tahu siapa lawanmu sebelum melawan.

Kau mengerti?

Hei, Teater!

- Di mana menteri? - Saudara, sebenarnya, hari ini…

- Menteri sedang… - Di mana dia sekarang?!

Selamat ulang tahun!

Tuan sedang sibuk. Cepatlah.

Silakan makan dan segera pergi.

Ipar, Gajapathi datang.

Biarkan dia masuk.

Ayo pergi. Jalan.

Haruskah kita datang ke ulang tahun menteri dengan tangan kosong?

Ayo pergi.

Kau hanya buang-buang waktu dengan percaya pada Gajapathi.

Kalau saja sejak awal kau percaya pada Varadha ini,

akta itu pasti sudah ada di tangan kita sekarang.

Kau sangat paham dengan prosedurnya.

Kalau keinginanmu cukup kuat,

maka keberuntungan akan datang

dan berpihak kepadamu.

Aku mendengarnya kemarin dan hari ini keberuntungan itu datang…

langsung di hadapanku, yaitu kau.

Mari kita selesaikan kesepakatan ini sekarang juga.

- Hei, sekretaris! - Tuan…

Semua orang sedang menari di luar, merayakan ulang tahunku.

Aku juga ingin menari setelah bertemu denganmu.

Aku sangat gembira sekarang.

Jadi aku ingin memberimu sesuatu sebagai balasan.

Aku tambahkan 20 crore lagi, jadi totalnya 60 crore.

Kalian berdua bagi rata.

Serahkan dokumennya kepadaku.

Seekor lalat pun takkan kuizinkan dekat kuil Dewi…

Apalagi seekor elang.

Jadi…

kau menolak kesepakatanku

- Hei! Varadha. - dan juga uangnya?

Gajapathi, beri tahu temanmu itu.

Kesempatan yang datang mengetuk pintu tak boleh disia-siakan.

Hei, Nagaraju!

Dia temanku. Kalau aku tak menerimanya, dia pun tidak.

Jika kau datang ke kuil sebagai Menteri Departemen Agama…

aku akan menghormatimu.

Tapi jika kau datang untuk mengambil harta kuil…

aku akan menggantungmu di tiang bendera.

Jangan berani-berani!

Hei!

Sudah kubilang sebelumnya…

Kau harus melewati Gajapathi untuk bisa menyentuh Varadha.

Hei…

Hei, Nagaraju!

Itulah yang disebut kejujuran.

Dan Gajapathi inilah kekuatan dari kejujuran itu.

Mari kita hormati kejujuran itu.

Mari kita tundukkan kepala atas kekuatan ini.

Kita akhiri saja urusan ini sampai di sini.

Kita sudahi saja.

Dia sengaja menghindariku karena aku mengejarnya.

Saudara...

Baru setelah kehilangan tangannya, dia paham arti seseorang.

Perlahan dia mulai mengakuiku sebagai istrinya.

Kaulah yang menikahkan kami waktu itu.

Sekarang kau yang menyelamatkan pernikahan kami.

Terima kasih banyak.

Baguslah.

Kau membuat semua orang menikah. Dan kau menyelamatkan pernikahan.

Lalu kapan kau akan menikah denganku?

Kapan kau akan membangun keluarga denganku?

Aku sedang bertanya padamu. Jawablah.

Aku takkan melepaskanmu sebelum kau menjawab.

Kau takkan melepaskanku?

Kau takkan melepaskanku?

Hei, bisa kau temukan lengkung rembulan Di balik belahan bajuku?

Hei, maukah kau jadi senar veena yang membelit di sareeku?

Tatapanmu menyebarkan Bara api di pipiku

Pipi lesung pipitku Menyala seperti kotak korek

Saat jarimu menyusuri Punggungku seperti peta

Pesonaku terlepas dari segala belenggu

Hei, maukah kau menggendongku Seperti sulur ramping di tubuhmu?

Hei, maukah kau bernyanyi merdu Seperti burung kukuk malam ini?

Jika semua lekuk tampak jelas di depan mata

Akankah si banteng muda tinggal diam?

Ikatkan tali pernikahan Kalau bisa, hentikan dia

Kami sedang bertengkar romantis Ayo, ayo

Jangan cubit, jangan cubit Jangan cubit

Jangan tusuk, jangan tusuk Jangan tusuk aku seperti itu

Jangan cubit, jangan cubit Jangan cubit

Jangan tusuk, jangan tusuk Jangan tusuk aku seperti itu

Jangan cubit aku, jangan cubit aku Jangan cubit aku

Jangan tusuk, jangan tusuk Jangan tusuk aku seperti itu

Jangan cubit, jangan cubit Jangan cubit

Jangan tusuk, jangan tusuk Jangan tusuk aku seperti itu

Kau seperti petasan yang lembut

Pinggangmu begitu ramping

Kau seperti aliran Sungai Godavari

Aku sekarat, terombang-ambing dan tersiksa

Langkah biasa pun jadi gemulai di hadapanmu

Seluruh tubuhku sesak

Menggeliat dalam rasa sakit yang manis

Suara gelangmu memanggil

Memintaku menutup pintu

Akan kusuapi kau sesuatu yang asam

Ayo, ini sudah bulan ketigamu

Aku merasa nyeri di seluruh tubuh

Katakan padaku, apa yang terjadi padaku?

Saat kau mencubitku seperti kilat menyambar

Walau aku bilang tidak, tidak, itu tetap terasa menyenangkan

Wahai yang jelita, maukah kau datang dan bermain ciuman denganku?

Maukah kau mengiris hatiku dengan kumismu yang tajam?

Hanya gemerincing gelang kaki sudah cukup

Usia mudaku ini gaduh di dalam

Jika permainan cubit-mencubit kita berhenti

Bagaimana godaan ini akan berlanjut?

Jangan cubit aku, jangan cubit aku Jangan cubit aku

Jangan tusuk, jangan tusuk Jangan tusuk aku seperti itu

Biarkan aku mencubitmu, biarkan aku mencubitmu Biarkan aku mencubitmu

Biarkan aku menusukmu, biarkan aku menusukmu Biarkan aku menusukmu seperti ini

Jangan cubit aku, jangan cubit aku Jangan cubit aku

Jangan tusuk, jangan tusuk Jangan tusuk aku seperti itu

Biarkan aku mencubitmu, biarkan aku mencubitmu Biarkan aku mencubitmu

Biarkan aku menusukmu, biarkan aku menusukmu Biarkan aku menusukmu seperti ini

— Tiap DP Langsung Bonus 5% — — Main Disini Jamin Wede —

WinJos > pasti Win , Jos Wede nya Kunjungi ( https://super.winjos.today )

Kenapa kau masih minum? Ayo pergi.

Biarkan aku minum.

Hei, kenapa kau masih minum? Ayo pergi.

Tolong jangan hentikan aku.

Hei Seenu, ada apa dengannya?

Coba kau yang katakan, Seenu.

Katakanlah.

Si pemilik teater membuat kesepakatan: jika tak ada kasus di kantor polisi…

dan dokumen dari loker bisa diambil, menteri akan memberikan kami 40 crore.

Gajapathi menyetujui kesepakatan itu agar semua masalahnya selesai.

Tapi karena kau datang ke bank tanpa pemberitahuan dan menghentikan kesepakatan itu,

Gajapathi menyuruhku membatalkannya agar kau tetap aman.

Tanpa tahu apa-apa, kau datang ke sana dan memperingatkan menteri…

dan menghancurkan semuanya. Itu sebabnya dia marah dan mabuk.

Kau hanya butuh uang, bukan?

Akan aku beri.

Sudahlah, berhenti!

Apa yang akan kau beri?

Kau selalu bicara seperti itu.

Haruskah aku mengemis meski berasal dari keluarga bangsawan?

Hei…

Kau sudah mabuk. Hati-hati dengan ucapanmu.

Apa yang barusan kau katakan?

Aku hanya bicara dari hati karena merasa sedih.

Apa kau menyebutku pemabuk?

Ini adalah kesedihanku, dan aku yang harus menanggungnya.

Hei Varadha.

Setiap kali aku keliling kota…

Semua orang menyapaku dan memanggilku Zamindar.

Tapi yang kurasakan hanyalah rasa iba di mata mereka, bukan rasa hormat.

Pada akhirnya, kita semua adalah orang-orang yang rapuh dari dalam, bukan?

Hei Varadha, semua itu masih bisa kutahan.

Tapi…

Neelima, yang datang bersamaku dengan harapan masa depan cerah dan kehidupan yang baik...

kini telah mengubur semua harapan dan mimpinya.

Sekarang dia hidup dalam kondisi buruk bersamaku.

Sebagai laki-laki, aku tak sanggup menanggung semua ini.

Kau tahu apa penyebab semua ini?

Ini… ini… ini…

kemiskinan ini.

Itulah sebabnya aku memutuskan untuk memberikan dokumen itu kepada menteri.

Hei.

Kau terus berjudi demi bertahan hidup.

Kupikir suatu hari kau akan sadar.

Tapi sekarang kau mempertaruhkan nyawamu...

Aku takkan membiarkannya.

Hei.

Kau telah melihat Gajapathi selalu kalah sampai sekarang.

Mulai sekarang, kau hanya akan melihatku menang.

Apakah kau cukup berani untuk menyaksikannya?

- Katakan, sanggupkah kau? - Hei...

Aku memperingatkanmu sekali lagi.

Jika ada yang mencoba merampas tanah milik Kuil Dewi...

Tak akan kuampuni.

Hei!

Aku bersumpah atas nama Dewi yang sama.

Siapa pun yang menyatakan perang terhadap Gajapathi...

Pasti akan mati.

Hentikan aku kalau bisa!

- Hei! - Hei...

- Hei! - Ayo...

- Kumohon, saudara. - Hei!

Kami tak tahu bahwa tanah itu milik kuil sampai hari ini.

Sekarang, seorang menteri menginginkannya.

Meski kami memiliki dokumen, apakah kami bisa menghentikannya?

Tolong pikirkan sekali lagi.

Tolong berikan dokumennya kepada saudaraku.

Itu takkan terjadi selama aku masih hidup.

Ipar.

Gajapathi menelepon, seperti yang kau minta.

Aktifkan pengeras suara.

Hei, tukang teater...

Siapkan 60 crore.

Aku datang membawa dokumen.

Bagus sekali, Gajapathi.

Kau bicara seperti seorang Raja.

Manfaatkan menteri ini...

dan mulailah peperangan.

Hei, Seenu!

Ini kunci kamarmu.

Untuk apa aku butuh kamar terpisah kalau aku tidur bersamamu?

Tidurlah nyenyak malam ini dengan AC menyala.

- Saudara, sebenarnya... - Cukup tidur yang nyenyak.

Lakukan saja apa kataku.

Hei! Berikan ponselmu.

Kalian semua serahkan ponsel kalian.

- Apa yang akan kita lakukan, saudara? - Nanti kukabari, tunggu saja.

Cepatlah, semuanya.

Sampai sore nanti, bawa mobil ini dan ponsel-ponsel ini

dan berkelilinglah di Maredumilli. Pergi.

Sekarang kita mau ke mana?

Kita akan ke kebun mangga Bucchiraju.

Kau minta nomor ponsel baru, bukan?

- Halo - Varadha?

Sejak pagi tadi aku tak bisa menghubungimu.

Ini nomor siapa?

Ini nomor orang lain.

Tolong jangan disimpan di hati, apa pun yang terjadi tadi malam.

Aku menelepon hanya untuk mengatakan itu.

Kau ada di mana sekarang?

Aku di kebun mangga Bucchiraju.

Tetap di sana, aku akan datang.

Dia akan datang ke sini.

Bagaimana kau tahu kami di sini?

Kalian pikir aku tak dengar?

Aku mendengar apa yang kalian bicarakan di resor.

- Sekarang kalian mau ke mana? - Ke kebun mangga Bucchiraju.

Ayo kita pergi.

Saudara! Saudara!

Hei Seenu, pergilah ke sana.

Itu takkan terjadi selama aku masih hidup.

Kekeras kepalaan ini takkan berhasil. Tolong dengarkan aku.

Saudara akan baik-baik saja, desa kita akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja.

Berikan dokumen itu kepada saudaraku.

- Kau di mana? - Aku dalam perjalanan dengan dokumennya.

Baik, datanglah.

- Ada apa, bro? - Dia akan membawa dokumennya.

- Semuanya, ke arah sana! - Ayo.

Hei Varadha! Berhenti!

Hei Varadha! Selama ini aku kira kau berbeda.

Tapi ternyata Gajapathi lebih aneh darimu.

Kau mencacinya sambil minum dengan uangnya, bajingan.

Biar kujelaskan.

Setelah kau melihat ini, kau sendiri yang akan bilang siapa yang bajingan!

Sembelih ayamnya sekarang!

Hei! Pergi sana.

Hei... Hei... Berhenti! Varadha...

Lihat ini dulu sebelum pergi, Varadha.

- Kalian sedang apa di sini? - Kami ke sini ada urusan.

- Siapa saja mereka ini? - Orang-orang kami juga.

Kau sudah seperti tuan tanah saja.

Sayang, kau sudah sampai?

Aku bersamanya sekarang.

Kalian semua baik-baik saja sekarang?

Kalian takkan tenang kalau kami masih marah.

Sudahlah. Berikan telepon itu ke Seenu.

Hei Seenu!

Ya, saudari!

Seenu, aku masak kari ikan untuk saudaraku Gajapathi. Datanglah untuk mengambilnya.

Kami sangat jauh, saudari.

Nanti sore akan kuambil saat aku pulang.

Dia bilang apa?

Saudari memasak kari ikan untuk Gajapathi.

Dia minta aku ambil di rumah.

Kalau begitu, pergilah.

Seenu, pergi sana.

Ayo pergi!

Bawa dokumen ini dan serahkan kepada menteri.

Ambillah bagianmu.

Dengan bagian milikku, kita akan membangun sekolah dan rumah sakit untuk desa ini.

Keduanya akan dinamai atas namamu.

Seluruh desa harus memuji Gajapathi Varma setinggi langit.

Bunuh dia.

Hei...

Siapa pun yang menghalangiku, kematianmu ada di tanganku, Gajapathi.

Datang dan hadapilah aku kalau berani.

Hei, habisi dia. Dia di belakangmu. Habisi dia, habisi dia, habisi dia!

Hei, berhenti bermain dan makanlah.

Aku makan nanti saja.

Saudari, berikan aku keretanya. Aku harus pergi.

- Itu bisa kau ambil nanti. Makan dulu. - Tidak sekarang, saudari. Aku akan makan di sana saja.

Aku tahu apa yang akan kau makan di sana. Kenapa tak makan saja di sini sekarang?

Baiklah, berikan saja. Bawa keretanya cepat.

Hei Teja, ambilkan air untuk Paman.

Saudara!

Saudara!

Saudara!

Saudara!

Saudara!

Saudara!

Saudara!

Saudara!

Saudara!

Saudara....

Saudara!!

Saudara!

Saudara...

Saudara!

Saudara!

- Saudari! Saudari! - Seenu...

Tidak, saudari.

- Saudari... - Katakan itu bukan Varadha, Seenu.

Seenu, katakan itu bukan Varadha-ku.

Seenu, katakan itu bukan Varadha-ku.

Saudari, tolong dengarkan aku.

Saudari...

- Ayah. - Hei Teju.

Dosa siapa ini?

Varadha...

Mengapa tak ada yang menjawab?

Di dalam irama hati ini

Ada ratapan yang tak berujung

Langit pun seakan turun hujan Menetes seperti butiran air

Hati yang basah kuyup Telah berubah menjadi banjir

Tirupati, kosongkan kerumunan dan siapkan proses autopsi.

Masa lalu tetap tinggal di atas tumpukan api pembakaran

Kau tak bisa tinggal dalam jurang penuh dosa ini

Selamat jalan dengan air mata

Selamat! Kau sekarang menjadi seorang ayah.

Terima kasih, Dokter!

Tanpa memahami hukum hutan Varadha menemui ajalnya

Segala kebaikan mulai memudar di dunia ini

Saat semua tokoh dalam sandiwara penuh tipu daya bersatu

Segala impian kita hancur dan jatuh ke tanah

Kau kalah karena tetap berada di jalan kebenaran

Kau menyesatkan kami dengan ilusi zaman Kali

Kau seperti Abhimanyu dalam pertempuran ini

Masuklah. Kami telah menangkap orang-orang yang membunuh suamimu.

Lihat, inilah pelakunya.

Lima tahun lalu, terjadi perkelahian kecil di antara mereka,

yang kemudian berujung pada pembunuhan suamimu.

Mereka bukan pelaku yang membunuh suamiku, Tuan.

Apa? Kau bicara seolah tahu semuanya.

Kalau bukan mereka, lalu siapa yang membunuh suamimu?

Gajapathi.

Apa? Kau melihat Gajapathi membunuh suamimu?

Apa? Mengapa kau membentak perempuan?

Tuan, aku... dia...

- Tuan, aku datang untuk menemuimu. - Silakan bicara, Nak.

Mereka menangkap seseorang dan menjadikannya kambing hitam dalam kasus pembunuhan suamiku.

Tuan, mereka menyerahkan diri bersama dengan senjatanya.

- Tapi mereka bukan pembunuhnya, Tuan. - Lalu, siapa yang membunuhnya?

Gajapathi.

- Tuan, sebenarnya..... - Hei, diam. Silakan lanjut, Nak.

Menteri Vedurupalli mengincar kekayaan Kuil Dewi.

Karena itu terjadi perselisihan antara suamiku dan Gajapathi.

Apakah kau memiliki dokumen itu?

Suamiku menyerahkan dokumen itu kepada Gajapathi.

Lalu, mengapa mereka membunuhnya setelah menerima dokumen itu?

Apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan?

- Hei Kishore… - Tuan?

Keluar dulu.

Pergi!

Begini, aku memahami kesedihanmu.

Tapi kita butuh saksi di sini.

Kau mengatakan Gajapathi membunuh suamimu di kebun mangga Buchiraju.

Tapi ada saksi yang menyatakan bahwa Gajapathi berada di Maredumilli.

Itu semua sudah direncanakan, Tuan.

Bisakah kau membuktikannya?

Ada satu saksi, Tuan.

Akan kuhadirkan sekarang.

Ayo Seenu. Katakan padanya apa yang terjadi.

Katakan, Seenu.

Katakan bahwa Gajapathi yang membunuh Varadha.

Seenu, katakan bahwa keberadaan Gajapathi di Maredumilli hari itu adalah kebohongan.

Dia akan mengatakannya, Tuan.

Katakan, Seenu.

Tuan, Gajapathi memang berada di hutan Maredumilli.

Kalian telah membutakan keadilan itu sendiri

Tak ada seorang pun yang mau menolong

Apa gunanya semua hukum yang ada?

Kau hanyalah perempuan lemah dan tak berdaya

Saudari!

Saudari... Saudari, tolong dengarkan aku.

Saudari!

Kau sudah menyampaikan segalanya di dalam.

Apa lagi yang perlu dikatakan?

Aku memperlakukanmu seperti saudaraku sendiri.

Aku tak pernah menyangka kau akan mengkhianatiku seperti ini.

Anak-anakku mencurahkan kasih sayangnya padamu setiap hari.

Bagaimana mungkin kau tega berbohong

di depan mereka?

Aku tak ingin melihat wajahmu lagi.

Pergilah!

Aku tak bisa menyelamatkan Varadha meski aku ada di sisinya saat itu.

Aku bahkan tak sanggup menatap wajah…

Poornima, saudariku.

Itulah sebabnya aku bahkan tak menghadiri upacara pemakamannya.

Varadha tercinta, belahan jiwaku, meninggal di sini.

Dan Neelima, belahan jiwaku yang lain…

telah memberikan kehidupan…

pada impian enam tahunku!

Neelima…

akan segera menjadi seorang ibu.

- Saudara... - Di saat seperti ini...

jika sesuatu terjadi padaku,

lalu siapa yang akan merawat anak-anakku?

Itulah sebabnya,

ketika polisi menanyaiku,

aku berbohong dan mengatakan bahwa aku berada di Maredumilli.

- Hei Seenu! Hei Seenu! - Saudara...

Maukah kau berjanji padaku?

Bukan hanya kepada polisi,

kalau ada yang bertanya, katakan bahwa hari itu aku ada di Maredumilli.

Kau akan mengatakannya, kan?

Seenu... Seenu…

Aku akan katakan seperti yang kau minta.

Tak mampu menaklukkan takdir, kau menyembunyikan kebenaran?

Ataukah kau menyerah pada rasa takut?

Apakah kesalahanmu adalah memberi terlalu banyak cinta?

Apa mereka mengkhianati kepercayaanmu dan menipumu?

Suamiku dibunuh di kebun milikmu.

Kau tahu siapa yang membunuhnya.

Tolong berikan kami keadilan dengan mengatakan yang sebenarnya.

Seseorang membunuhnya di kebunku tanpa sepengetahuanku

dan sekarang aku bolak-balik ke kantor polisi.

Belum cukup? Pergilah dari sini.

Dia ingin aku berkata jujur dan menegakkan keadilan. Sudahlah, pergi saja.

Gelombang di mataku mencari-cari kebenaran!

Vennela!

Vennela, berhenti!

Jika Gajapathi berada di kebun mangga saat Varadha meninggal,

mengapa kau berbohong bahwa dia ada di Maredumilli?

Aku melihatmu membawa kari ikan untuk Gajapathi dari rumah Varadha.

Demi membela Neelima, kau menyakiti saudari kita sendiri.

Apa jaminannya bahwa suatu hari kau takkan melakukan hal yang sama padaku?

Aku seharusnya menyalahkan diriku sendiri karena mencintai orang sepertimu.

Bu...

Kau melihat putraku?

Tidak.

- Paman! - Ya, Nak?

Apa putra Varadha lewat sini?

- Tidak. - Tidak lewat?

Hei!

Katakan.

Putra Varadha, Teja, mencoba membunuh Ipar!

- Kita harus menghabisinya sekarang juga! - Aku sedang mencarinya.

Halo?

- Halo! - Aku melihatnya.

Saudari… Saudari?

Saudari!

Kau tahu apa yang Teja lakukan, Saudari?

Katakan dia baik-baik saja!

Katakan dia tak disakiti!

Katakan dia tak disakiti!

Katakan padaku!

Saudari...

Hari ini Teja mencoba membunuh Gajapathi.

Suamiku memberiku satu anak laki-laki, tapi ia memberiku anak yang pemberani!

Anakku menghadapi maut demi menghapus air mata ibunya!

Gajapathi mengetahui bahwa Teja mencoba membunuhnya.

Saat menyelamatkan Teja dan membawanya pergi dari sana…

Ibu!

Teja!

Hei! Bangun.

Paman. Paman!

Saudara, tolong ampuni dia. Tolong lepaskan dia!

- Dia mencoba membunuh Gajapathi! - Tolong lepaskan dia!

Apa jaminannya kalau aku bukan sasaran berikutnya?

Dia hanya anak kecil. Dia tak tahu apa yang dia lakukan.

Dia bukan anak kecil lagi!

Paman!

Paman!

Paman!

Jangan sakiti aku.

Paman!

Paman!

Apa mereka membunuhnya?

Apa mereka membunuh putraku?

Paman! Paman!

Paman!

Teja!

Tidakkah kalian punya belas kasihan pada anak kecil?

Semua ini terjadi karena kau!

Tanah yang hangus ini takkan tenang sebelum kau lenyap.

Mati kau, bajingan!

Mati!

Dia di mana sekarang?

Dia aman bersama para sadhu di aula kuil, saudari.

Tinggal di sini membahayakan nyawanya.

Bawa dia dan kembalilah ke kampung halamanmu.

Kau ingin aku lari karena takut pada Gajapathi?

Ini desa suamiku.

Desaku juga!

Aku akan tetap di sini!

Aku akan menyaksikan kematian pembunuh suamiku!

Vennela, tolong bujuk dia.

Ipar, ikut aku.

Hei, Seenu.

Mereka membunuh si tukang teater.

Sebuah skenario sedang dimainkan di sekitar kita.

Sebelum mereka mengincar kita,

kita harus mengubur mereka!

Hati-hati, Seenu.

Jika darah ini mulai menyala, dunia akan terbakar dalam murka menyala

Dari diam yang dalam dan murka yang hitam, jebakan disiapkan tanpa jalan kembali

Kejahatan berjalan dengan lapar yang besar, hausnya adalah kebenaran yang tak mampu disembunyikan

Amarah Siwa membakar api, atas nama rakyat biasa, ia bertaruh nyawa

Air mata yang pernah jatuh kini menguap, terdiam lama dalam pelukan waktu

Tali gantung itu takkan pudar dari pandangan, kenangannya hidup dalam dirimu

Air mata yang pernah jatuh kini menguap, terdiam lama dalam pelukan waktu

Tali gantung itu takkan pudar dari pandangan, kenangannya hidup dalam dirimu

Orangmu, Seenu, ditangkap terkait pembunuhan Nagaraju.

Datanglah ke kantor polisi.

Lihat!

Kami punya semua bukti untuk menunjukkan bahwa kaulah pelakunya.

Bukti apaan!

Itu bahkan tak cukup untuk membuat laporan. Kami tak bisa menyentuhnya.

Kenapa dia harus membunuh seseorang, Tuan?

Kau mendapat informasi yang salah.

Suruh dia bilang kalau dia tak melakukannya.

- Suruh dia! - Hei, Seenu!

Bilang kalau kau bukan pembunuhnya!

Apa lagi? Dia pasti cuma akan beri pernyataan palsu dan lolos begitu saja.

Katakan kepada mereka.

Saat melindungi Teja, yang datang untuk membunuhmu,

aku berpapasan dengan pemilik teater.

Dia tak menunjukkan belas kasihan kepada Teja yang masih anak-anak dan berusaha membunuhnya.

Aku memohon di kakinya agar dimaafkan, tapi dia tak mau mendengarkan.

Aku marah pada diriku sendiri karena memohon pada pembunuh Varadha. Darahku mendidih!

Aku pegang kepalanya dan menghantamkannya berulang kali ke pohon

hingga pecah seperti kelapa dan darahnya mengucur.

Namun amarahku belum reda.

Jadi aku gantung dia dengan tali dan menariknya berulang kali.

Aku merasa seolah membasuh jiwa Varadha dengan darah si pembunuh!

Begitulah, jiwanya…

bersatu dengan semesta.

- Hei! - Hei!

Hei! Kalian tak menggeledah dia?

Pistol yang kalian berikan masih ada padaku.

Kalau tetap bersamaku,

- Aku takut aku bisa menembak seseorang. - Hei! Turunkan senjatanya!

- Ambil senjatanya dari tangannya. - Letakkan!

Aku sedang bicara padamu! Letakkan senjatanya!

Kukatakan, letakkan! Hei!

Tembak aku.

Tembak aku.

Tembak aku!

Aku tak bisa menembakmu, Saudara.

Hei, ambil darinya.

Ambil, ambil!

Katakan, Neelima.

Saudaraku belum pulang sejak semalam.

Ponselnya juga tak aktif.

Ayah gelisah, bertanya-tanya apa yang terjadi padanya.

Biar aku yang urus.

Jika darah ini mulai menyala, dunia akan terbakar dalam murka menyala

Dari diam yang dalam dan amarah yang hitam, jebakan dipasang tanpa jalan kembali

Suamiku akan membunuh anak Varadha, Teja.

Biar dia mati kalau memang harus, tapi selamatkan Teja, saudara.

Jika darah ini mulai menyala, dunia akan terbakar dalam murka menyala

Dari diam yang dalam dan amarah yang hitam, jebakan dipasang tanpa jalan kembali

Jika darah ini mulai menyala, dunia akan terbakar dalam murka menyala

Kenapa, Seenu?

Aku adalah pamannya dari pihak ibu.

Seenu, kau pamannya, bukan?

Kau yang pertama menyebutkan namanya. Ayo.

Sebut namanya, Seenu.

Ini, gendong dia.

Teja.

Paman, kita akan menang! Ayo, tandatangani!

Aku telah bekerja setia padamu, saudara.

Aku sudah menjadi bagian dari keluarganya.

Aku melindungi mereka.

Membunuh saudara sendiri demi melindungi keluarga sendiri, seperti dalam perang Mahabharata,

aku tak pernah membayangkan itu akan terjadi di antara kita.

Sebentar lagi, kita akan membawanya ke rumah hakim dan menyerahkannya.

Kau akan dalam bahaya jika dia tetap hidup.

Katakan saja ya, dan akan aku bunuh dia dalam penyergapan di perjalanan.

Saat pedang putramu menusuk Gajapathi hari ini,

amarahmu mungkin mereda.

Tapi masa depannya akan hancur.

Kau akan menanggung beban itu seumur hidupmu.

CI Tanuku adalah temanku.

Dia akan mengatur segalanya agar kalian bisa tinggal di sana.

Jika kau menolak dan tetap keras kepala,

pengorbanan Seenu akan sia-sia.

Tolong pahami ini.

Baik, Tuan.

Sebelum abu jenazah saudaraku larut di Sungai Gangga,

nyawa orang itu harus berakhir!

Katakan, Tuan.

Apakah dia pekerja sosial atau selebritas

hingga harus dibawa ke hakim dan ditahan dengan terhormat?

Akan jadi masalah kalau dia bicara.

Bunuh saja dalam penyergapan.

Aku memang bekerja untukmu, Tuan.

Tapi aku tak bisa membunuh orang.

Hei! Halo!

- Hei, Sundarachari! - Tuan?

- Di mana Seenu? - Sebelum terlambat bertemu hakim,

aku membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan.

Sampaikan pada tuan saat ia tiba.

Kata orang, jangan mengkhianati mereka yang telah memberimu makan.

Itulah sebabnya aku menerima hukuman ini.

Sudah jadi tradisi kita untuk mengkremasi orang yang wafat.

Namun bodohlah jika kita juga membakar masa depan bersamanya!

Jaga Ibu baik-baik.

Belajarlah yang rajin.

Siap, Paman.

Vennela…

Jika aku kembali, perlakukan aku sebagai manusia.

Jika tidak, kenanglah aku sebagai seseorang yang pernah ada untukmu.

Hei! Ada apa?

Dia tinggalkan bajajnya dan kabur, Tuan.

Hei! Katanya dia mau jadi saksi pelapor.

Mengapa dia lari?

Bagaimana aku tahu, Tuan?

Baiklah. Bawa dia ke rumah sakit. Cepat!

Ayo, kita berangkat.

Saudara! Seenu melarikan diri dari tahanan polisi.

Bahkan Krishna, yang membawa kehancuran Kaurava

dalam perang Kurukshetra demi dharma,

akhirnya pun tumbang oleh panah seorang pemburu.

Jadi, kau yang membunuh dua orang demi kepentinganmu sendiri…

juga harus dihukum, bukan?

Seenu, "jangan pernah mengkhianati orang yang sudah memberimu makan."

Kata-kata yang sangat bijak.

Aku mendengarnya saat kau mengatakannya pada Poornima.

Bagaimana dengan Nenek yang telah memberimu makan sejak kecil?

Maksudku…

Nagarathnamma. Kau membunuhnya dengan tanganmu sendiri, bukan?

Di mana perhiasan Dewi?

Aku sedang sangat butuh uang, Nek.

Aku gadaikan.

Berani sekali kau menggadaikan perhiasan Dewi?

Lebih baik kau kembalikan besok pagi.

Akan kuambil dalam seminggu, Nek.

- Sudah, lupakan saja. - Maksudnya, lupakan?

Kau buang-buang uang untuk taruhan dan perjudian.

Selama ini aku salah karena terlalu mengutamakan kehormatan keluarga.

Sepertinya kehormatan keluarga kita terancam hilang.

Kalau aku hubungi Varadha dan ceritakan semua, dia pasti akan bertindak.

Apa?

Kenapa kau banyak bicara soal harga diri dan kehormatan?

Lihat saja nanti.

Aku akan jadi orang kaya.

Aku akan hidup seperti tuan tanah dan memperlakukanmu seperti ratu.

Sampai saat itu tiba,

kalau kau ceritakan ini pada Varadha atau bahkan menyebutkannya…

Nenekku takkan pernah takut pada ancaman seperti itu.

Varadha pasti akan tahu soal ini.

Lalu semua orang di desa akan mengetahuinya juga.

Gajapathi Varma, yang selama ini berjalan dengan kepala tegak,

kini harus menundukkan kepala di hadapan setiap orang bodoh di desa ini.

Aku bisa menerimanya.

Tapi Neelima…

akan mati.

Jika sesuatu terjadi padanya,

Saudara… Saudara…

- Aku akan mati. - Tolong jangan bicara seperti itu, Saudara.

Aku akan mati. Aku akan mati!

Mengapa harus kita yang mati?

Bagaimana kalau kita bunuh dia?

Bagaimana kalau kita bunuh dia?

Seperti yang dikatakan Gajapathi, aku mencampurkan racun ke makanan nenek.

Nenek memberiku makan bahkan tanpa aku minta.

Dia takkan tenang sebelum aku makan.

Hanya demi aku.

Apa yang kau pikirkan sampai kau tak mau makan?

Katakan, akan aku bantu.

Tidak ada apa-apa. Suapi aku saja.

Aku merekam semua yang dikatakan Gajapathi di ponselku.

Aku ingin menunjukkannya pada Varadha. Tapi dia tak sempat.

Aku mengirimkan video itu padanya.

Mari kita buat seluruh desa memuji Gajapathi Varma!

Aku datang ke sini dengan tekad itu.

Tapi apa yang kau lakukan?

Mengapa kita yang harus mati?

Bagaimana kalau kita bunuh dia?

Gajapathi membunuh Varadha!

Aku tahu dia juga akan membunuhku.

Tapi aku memulai perkelahian tadi hanya untuk mengatakan yang sebenarnya sebelum aku mati.

Nenek telah memberiku makan sejak kecil.

Tapi kau memaksaku meracuni makanannya.

Kau membunuh Varadha dan membuatku berbohong pada Poornima.

Lalu kenapa?

Kau mau membunuhku?

Bunuh aku!

Bunuh aku!

Dulu kau sujud di kakiku seperti anjing.

Sekarang kau datang untuk menghukumku?

Aku memang anjing.

Tapi anjing ini punya kesetiaan dan juga integritas, Saudara.

Dengan rasa integritas itulah aku bicara.

Serahkan dirimu ke polisi.

Aku akan menyerahkan diri bersamamu.

Aku sudah membunuh dua orang.

Ayo kita pergi.

Ayo kita hadapi hukuman bersama.

Lakukanlah!

Kesalahanmu telah mengorbankan dua nyawa.

Tolong berubah sebelum itu mengorbankan kita berdua, saudara.

Tolong, saudara.

Tolong setidaknya dengarkan aku sekarang.

Kumohon.

Berani-beraninya kau mengangkat tangan padaku?

Pukul aku.

Pukul aku!

Berani-beraninya kau menguliahi aku tentang moral? Aku?

Kau ingin mengajariku moral?

Berani sekali kau menguliahi aku?

Saudara!

Sampai kapan Kurukshetra ini.... di mana kita saling membunuh demi keluarga...

akan terus berlangsung, Saudara?

Mari kita hentikan, Saudara.

Mari kita menyerah.

Kau ulangi hal yang sama terus-menerus!

Bham Bham Bham, Wahai Siwa Lahir dari titik tengah dahi

Bhou, Bhou, Bhou, suara mengerikan Dari tengah dahi tercipta

Dhim, Dhim, Dhim, gerakan kaki yang menakutkan

Dham, Dham, Dham, suara dahsyat dari Damaru yang berdentum

Kekuatan tertinggi dari kehancuran agung

Yang lahir dari cahaya agung Dewa Siwa

Penghancur kesombonganmu, Penghancur musuh-musuhmu

Penghapus dosa-dosamu, Dialah Dewa Siwa sendiri

Bhairava, yang dahinya bercahaya api

Bhairava, yang lidahnya panjang menjulur

Bhairava, yang keberaniannya bersinar terang

Bhairava, yang menakutkan di medan perang

Wahai Dewa Bhairava

Gam, Gam, dia yang menghancurkan kesombongan para durjana

Tam, Tam, raungan mengerikan dari taring yang menakutkan

Tatapan yang menyala

Mata yang memerah karena peperangan

Pelindung bagi mereka yang meminta perlindungan

Penghancur musuh yang perkasa

Dengan kuku tajam dan wajah yang tajam

Wajah yang menggambarkan kematian yang mendekat

Wahai Dewa Bhairava, wujud yang mengerikan

Wahai Dewa Bhairava, yang menebar rasa takut

Saudara! Saudara!

Seenu…

Ada yang namanya karma.

Untuk semua dosaku,

Dewa Bhairava yang agung… telah mengutusmu untuk menghukumku.

Kenapa kau bersedih?

Daripada mati perlahan di dalam penderitaan setiap hari,

hukuman ini terasa jauh lebih ringan.

Hei!

Ayahku dan ayah Varadha bersahabat sampai akhir hayat mereka.

Aku yang telah memutus persahabatan itu secara kejam.

Hei! Hei!

Di masa depan,

anakku dan anak Varadha…

harus bersahabat seumur hidup.

Janji padaku bahwa kau akan mewujudkannya.

Janji padaku!

Janji padaku!

Saudara!

Apa ini?

Kau meminta laporan lengkap tentang alasan pengunduran diriku.

Aku menyisihkan satu halaman penuh untuk membicarakanmu, Tuan.

Kau memintaku menyelidiki Gajapathi dan Varadha atas perintah Menteri.

Di sanalah konflik sesungguhnya dimulai, bukan?

Aku menyimpan satu salinan, Tuan.

Bersama dengan bukti-buktinya.

Kita tak pernah tahu kapan akan membutuhkannya.

Sekarang, kau pasti tahu bagaimana menutup kasus ini.

Dan satu hal lagi.

Seenu adalah orang yang sangat baik, Tuan.

Kau menghancurkan kehidupan keluarga-keluarga besar.

Kita seharusnya bisa tetap bersama sampai ajal memisahkan.

Tapi karena keegoisanmu, kau membuat kita saling membunuh.

Mati kau!

"Aku akan datang di setiap zaman, untuk menegakkan dharma,"

kata Dewa Krishna dalam Bhagavad Gita.

Seenu datang dari tempat jauh untuk menjaga kesucian kuil ini.

Jika setiap kuil di negeri ini memiliki Seenu,

takkan ada yang berani menyentuh tanah kuil.

Bukan aku.

Dharma-lah yang menyelamatkanmu.

Vennela sedang menunggumu.

Pergilah, Seenu.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.