Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Ibu?
Ibu!
- Apa kabar? - Baik.
- Di mana ayahmu? - Di dalam.
- Semua baik-baik saja? - Ya, silakan masuk.
Kami lama menunggumu, jadi kami harus datang sendiri.
Apa yang harus dilakukan?
Jaga dia.
Dia tidak tinggal di sini.
Dia tidak pernah mau jadi bagian dari keluarga ini.
Dia memaksa Raman menjauh dari kami agar dia bisa mengendalikannya.
Setiap kali kau menelepon, perempuan ini keluar
menghabiskan semua uangnya.
Sekarang dia mau kembali dan menghisap darah kami?
Jika kau merasa Santosh punya kekurangan, ajari dia, dia akan belajar.
Dia bukan tipe orang yang mau belajar dan mendengarku.
Dia akan mendengarmu seperti dia mendengar Raman.
Kau akan lihat.
Dia menantu perempuanmu. Dia juga punya hak di sini.
Benar! Penyihir terkutuk ini menghabisinya.
Sekarang dia duduk di sini dengan perhiasan di hidungnya
seperti hari pernikahannya!
Nah, itu dia! Lihat kelakuan aslinya.
Kau tidak bisa mengembalikan piring lama setelah digunakan.
Kenapa kau emosi?
Bukankah kami sudah memberikan mas kawin yang kau minta?
Itu hanya sepeda motor. Bukan helikopter!
Untuk apa ini?
Itu untuk burung gagak.
Tunggu sebentar!
Saudaramu akan memberikannya besok pagi.
Biar saudaramu yang memberikannya.
Jika burung gagak tidak makan, jiwa Raman tidak akan tenang.
Aku tahu kapan mereka datang, nenek.
A L I H B A H A S A K U D A L U M P I N G
Meja bantuan perempuan ada di belakang.
Aku tidak punya keluhan. Aku punya janji temu.
- Nama? - Santosh Saini.
Silakan duduk.
Umur? - 28.
- Nama ayah? - Ravi Baliyan.
Apa pekerjaannya?
Kami punya toko sepeda.
- Di mana kau tinggal sekarang? - Mapur.
- Siapa saja? - Ibu, Ayah.
Kau tidak akur dengan mertua?
- Tuliskan medisnya. - Ya, Pak.
Ah ya... Itu pernikahan cinta, kan?
Ya.
Sudah berapa lama kau menikah?
Dua tahun.
Punya anak?
Tidak, Pak.
Dengarkan,
Raman tidak menjabat lama.
Dana pensiunnya tidak banyak.
Kau sudah memikirkan masa depanmu?
Tidak terlalu...
Kau tahu kau harus mengembalikan flat itu?
Kenapa, Pak?
Itu milik pemerintah.
Keluarga lain sedang menunggu.
Ambil barang-barang Saini.
Pak, aku...
Tidak ada yang bisa dilakukan?
Siapa tahu kau bisa melakukan sesuatu, Pak.
Kau pernah kepikiran untuk bekerja?
Aku pernah bekerja sebelumnya.
Dulu, aku pernah menjadi guru privat.
Dengar,
ada skema pemerintah untuk perempuan sepertimu...
"Pengangkatan belas kasih".
Artinya sebagai janda seorang polisi, kau mewarisi pekerjaan Raman.
Bekerja sebagai polisi perempuan.
Kau akan menjalani pelatihan lebih dulu, lalu diangkat menjadi polisi.
- Polisi? - Ya, seperti Raman.
Aku tidak bisa menjamin apa pun, tapi aku bisa melamarkan jika kau mau.
Aku akan melakukan apa pun untuk membantu.
Sedikit sekali lelaki yang punya integritas seperti Raman.
Kau akan dibayar sama dengan penghasilan Raman di atas uang pensiun jandanya.
Akan langsung ditujukan padaku?
Di mana lagi?
Kau lucu.
Pikirkan dulu di rumah.
RAMAN SAINI
Tiap DP Langsung Bonus 5% Main Di Sini Jamin Wede WinJos Pasti Win. Jos Wede-nya Kunjungi https://super.winjos.today
Bu,
tanyakan padanya juga.
Dengar,
jika kau mau bantuan kami, kau harus menceritakan semuanya.
Bicaralah dengan leluasa dan jujur.
Kami berteman.
- Tapi berhubungan badan juga. - Begitu...
Tapi...
Dia tidak mau menikah denganku.
Kenapa?
Bu, tanya saja padanya.
Bu, aku tidak tahu apa yang diimpikannya.
Aku sudah punya hubungan.
Oke...
- Ada berapa di daftarmu? - Hanya satu...
Kami hanya belajar bersama. Kami hanya berteman.
Aku tidak tahu apa yang dia bicarakan.
Kenapa kau menjawabnya?
Siapa yang bertanya? Aku kan?
Dia masih baru, dia tidak tahu apa-apa.
Dia tidak akan menyelamatkanmu.
Jadi, apa yang harus kita lakukan dengannya?
Haruskah kita mengajukan laporan 376?
Tidak, Bu...
Bu... lakukan apa yang menurutmu terbaik
tapi dia harus berpikir sepuluh kali
sebelum menipu perempuan.
Tolong, Bu. Dengarkan aku juga.
Ya, ya.
Kami juga akan mendengarkan pendapatmu. Tinggalkan ponselmu di sini.
Bawa dia pergi.
Dia bohong.
Boleh aku menggunakan kamar mandi?
Santosh.
Bawa dia ke kamar mandi.
Bawa dia masuk.
Oh...
Aku akan ambil kuncinya. Kau duduk saja di sini.
Kami baru saja mulai, Nak.
Kau sudah punya teman?
Dulu ada seorang lelaki.
Dia mengajaknya jalan-jalan dan membantu di rumah juga.
Dia pergi.
Priya sendiri yang memasak hari ini.
Bagaimana semuanya?
Kamarmu?
Baik, Pak...
Sedikit pengap.
Kau tinggal di mana sebelumnya?
Ghazaliabad.
Suamimu ditugaskan di sana?
Ya, Pak.
Bagaimana dia meninggal?
Terjadi...
Terjadi kerusuhan di Nehrat. Dia bertugas di sana.
Lalu?
Kepalanya dipukul dengan batu.
Mereka berhasil menangkap orang itu?
Itu kerusuhan. Sulit mengetahui siapa orangnya.
Aku juga pernah ditugaskan di Nehrat.
Dulu aku pernah berpatroli di pasar daging.
Aku memberi tahu mereka,
โperempuan Hindu harus menutup hidung saat berjalan,
"baunya sangat busuk."
"ganti saja pekerjaan!"
Beberapa orang mendengarkan,
tapi bagi yang tidak, kutunjukkan tongkat estafetnya!
Cuacanya sangat panas.
Kurasa kamarmu akan segera jadi sangat panas.
Ada kamar gratis di dekat sini, kalau kau mau?
Ada AC.
Dan juga dekat dengan kami. Seperti keluarga!
- Kau mau? - Ya. Terima kasih, Pak.
Dan kadang kau bisa mampir sebelum bekerja dan membantu Priya sedikit.
Haruskah aku mengajaknya keluar?
- Bergesekan? - Di bagian depan.
Ibu tidak memakai cincin kaki. Apa ibu belum menikah?
Urus saja urusanmu sendiri.
Ada apa?
Saat aku terbangun, dia tidak ada di sana.
Hari ini?
- Dua hari yang lalu. - Oh begitu.
Kami mencari di ladang. Tetangga juga.
Tidak ada jejak.
Permisi.
Ya? Sepatu atau keluhan yang mau ditulis?
- Keluhan. - Oke.
Berapa? - 50 rupee.
Oke.
Tunggu lima menit, oke?
Lanjutkan.
- Berapa umurnya? - 15...
Limabelas
Ayo ikut aku.
Kita akan membahasnya di kantor, bukan di tengah sepatu dan debu.
Aku ke sana kemarin. Tak seorang pun memperdulikanku.
Kita akan menulis laporanmu. Ayo.
Tuhan memberkatimu.
- Jai Hind. - Ayo masuk.
Pak, putri orang ini hilang.
Oke.
Dia sangat tertekan. Dia masih di bawah umur.
Salam, Pak.
Nama?
Ram Pippal.
Alamat?
Khadola.
- Desa? - Desa Bhakri. Laalipur.
- Kasta? - Chamar.
- Nama perempuan itu? - Devika.
Apa masalahnya?
Putriku hilang sudah 2 hari.
Kau melihatnya di ladang?
Ya.
Kau memperhatikannya dengan saksama? Dia mungkin keluar untuk buang air besar.
Kami punya toilet di rumah.
Orang bilang tidak ada kemajuan, politisi tidak melakukan apa pun!
Tapi lelaki ini punya toilet di rumah!
Kau benar!
Kau menelpon 112?
Tak ada salahnya bertanya pada tetangga kalau saldo habis, kan?
Kau harus menulis keluhan
jika kau mau kami menyelidikinya.
Aku bisa melakukannya, Pak.
Aku bisa melakukannya.
Jika kau menuliskannya,
dia akan kembali dan berkata,
"Inspektur dan Ibu hanya menulis apa yang mereka mau."
Temukan orang untuk menuliskannya.
Pergi dan tanyakan pada tukang sepatu...
Dia akan pergi sore ini.
Kenapa dia tidak beristirahat?
Dia bukan polisi. Tapi bertugas 24/7!
Kau benar, Pak.
Pergi.
Cobalah di malam hari. Dia akan menuliskannya.
Pergi.
Bapak bilang pergi. Kembalilah saat sore nanti.
- Hai, ibu. - Hai, sayang.
Apa kabarmu?
- Aku baik-baik saja. Semuanya baik-baik saja? - Ya, hanya saja tidak bisa tidur.
Bagaimana pekerjaannya?
Semuanya baik-baik saja?
Semuanya berjalan dengan baik.
Aku hanya lelah.
Bangun!
Apa yang sedang kalian lakukan?
Tidak ada, Bu.
Siapa namamu?
Sumit.
Nama belakang?
Goyal.
Keluarlah, Romeo.
Lakukan 20 squat. Katakan padanya "maaf, adik" seperti kau melakukannya.
Kau juga.
Santosh!
Hitung terus.
Tidak kurang satu pun.
Maaf, adik.
Maaf, adik.
Maaf, adik.
Jangan berhenti.
Letakkan ponselmu!
Pergi.
Jangan berhenti.
Ayo!
Lanjutkan.
Ayo.
Bu.
Tolong jangan beritahu orangtuaku.
Pergi, keluar dari sini.
Hentikan kekerasan polisi! Hentikan sekarang juga!
Polisi tak tahu malu!
Kami akan selidiki dengan benar, menemukan pelakunya, dan memasukkan dia ke penjara.
Bawa pelakunya ke sini, lalu kami akan pergi.
Kami akan memburunya dan memenjarakannya.
Kenapa tidak menghormati tubuh putrimu dan menghalangi jalan?
Jangan seorang pun pergi dari sini.
Pindahkan mereka!
Bawa polisi perempuan.
Semoga hal yang sama terjadi pada anakmu!
Luruskan.
Lurus.
Berdekatan.
- Kohli, ambil mayatnya. - Ya, Pak.
Hei, kau mau ke mana? Angkat mayatnya.
- Di mana itu? - Di sumur mereka.
Mungkin jatuh.
- Bagaimana mereka mengeluarkannya? - Tugas mereka membersihkan saluran pembuangan.
- Mayatnya membusuk... - Arvind!
Ya Pak?
Ambil mobil jipnya. Bawa mayatnya ke kamar mayat.
Pak, jipnya ada di kantor Madrabad.
Maka temukan caranya!
Pak...
Ini masalah yang sensitif.
Lebih baik jika polisi perempuan.
250 rupee.
- Mereka tidak membayarmu di kantor? - Barangmu, kau yang bayar.
Aku tidak punya uang kembalian.
Kau dari mana?
Tidak ada listrik. Pergilah cari es.
Kami sudah penuh.
Datanglah besok pagi.
Dengar...bang...
Dia gadis muda.
Dokternya tidak datang?
Kamilah yang melakukannya.
Dokter hanya menandatangani.
Kaulah yang terburu-buru.
Nah.
Kenapa kau hentikan? Teruskan saja...
Berhenti.
...di luar Kantor polisi Machogar.
Para pengunjuk rasa datang membawa jenazah Devika Pippal.
Sebuah video viral menunjukkan Inspektur Thakur
membersihkan kantor, meninggalkan tugas polisi.
Saksikan bagaimana mayat perempuan miskin menjadi barang kotor bagi polisi.
Diinterogasi terkait pemerkosaan dan pembunuhan perempuan tersebut.
Thakur mengatakan hal berikut:
Para perempuan memakai jeans, punya ponsel, dan jalan-jalan sendiri
perilaku ini adalah umpan bagi para pemerkosa.
Pernyataan tidak sopan lain dari polisi Chirag Pradesh.
Pemimpin Dalit Manu Dar menangguhkan tur pemilihannya
untuk bertemu dengan orang tua perempuan tersebut.
Kekejaman pada kaum Dalit tidak akan ditoleransi.
Kita butuh pertanggungjawaban.
Semua hak warga negara harus dilindungi.
Semua keluhan tercatat dengan benar.
Pemerintah punya darah Dalit di tangan mereka.
Mereka tidak akan luput!
Turunkan polisi!
Kasus Devika Pippal menarik perhatian publik.
Kapan laporannya akan siap?
Aku tahu kau punya banyak pertanyaan.
Aku akan mencoba menjawab semua hari ini.
Devika Pippal,
berusia 14 atau 15 tahun,
putri Ram dan Rani Pippal,
keduanya buruh dari desa Laalipur.
Mayatnya ditemukan kemarin di sebuah sumur.
Otopsi sudah dilakukan. Kami sedang menunggu hasilnya.
Penyebab kematian belum diketahui.
Mundur.
Polisi menolak mendaftarkan pengaduan tersebut.
Bisa publik percaya pada penyelidikan ini?
Bu, maaf soal tadi pagi.
Kau sudah mandi lalu mengenakan seragam kotor? Semoga tidak terlihat.
Devika artinya Dewi kecil.
Di negara yang memuja dewi,
bagaimana kekerasan seperti itu bisa tidak dihukum?
Penyelidikan ini sekarang menjadi tanggung jawabku.
Tiga puluh tahun yang lalu,
aku membantu membuat meja bantuan polisi khusus perempuan pertama kali.
Ini adalah masalah sosial.
Sebagai polisi, kami harus mewakili masyarakat.
Tapi, jumlah perempuan dalam kepolisian tidak cukup banyak.
Perubahan akan terjadi jika mereka mengikuti irama.
Cukup sekian. Terima kasih.
Kau sudah bertemu dengannya?
Sekarang aku melihat sifat aslinya.
Lihat bagaimana dia mulai mencari pemeran pengganti untuk anteknya.
Cepat ambil kain!
Ini cara untuk menyimpan bukti?
Jai Hind, Bu.
Bu?
Aku yang membawa jenazah ke kamar mayat.
Itu kenapa seragamku tidak bersih.
"Kebersihan adalah hal terpenting dalam keilahian." Begitu kata Gandhi-ji.
Taruhlah di atas meja.
Tidak ada orang lain yang bersedia menyentuh mayat itu.
Kenapa kau menceritakannya padaku?
Persis seperti itu.
- Bisa aku mengerjakan pekerjaanku? - Ya, Bu.
- Dia siapamu? - Saudara iparku.
- Berapa banyak yang kau pinjamkan? - 70 atau 80 ribu.
Dia tidak pernah membayarku.
Jadi aku mengambil kerbaunya.
Setidaknya aku akan dapat susu dan ghee buatan sendiri.
Aku memperlakukannya seperti anak perempuan tapi tidak diberi susu!
Lalu?
Jadi kupanggil dokter hewan. Dia bilang pijat putingnya
jika aku mau hasilnya.
Lalu?
Tidak ada. Sekarang aku punya dua puting di rumah
memakan gajiku dan memijat puting mereka,
senang sekali!
Kemari...
- Jalan mana menuju desa Dalit? - Lurus saja.
Belum ada yang pernah ke sumur?
Kau menunggu undangan?
Ambil sepedamu dan tunjukkan jalannya.
Mereka sendiri yang mengantarkan jenazahnya. Kami tidak sempat, Bu.
Dan laporannya baru setengah lengkap.
Itu kerjaan Inspektur Thakur.
Ada kabar tentangnya?
Dia sudah dipindahkan ke Shajapur.
Kau mau ikut juga? Haruskah aku menambahkan?
Ayo.
Kau dan Santosh tutup sumur itu.
Kami akan menemui Pradhan-ji.
Yadav-ji, plesternya.
Tunggu sebentar.
Hei, kau mau ke mana?
Ada plester tapi tak ada sticknya!
Ada polisi!
- Di mana semua orang? - Pergi mengambil air.
Sepatu kami jadi tipis saat berjalan ke Dulhera.
- Kapan kau akan membersihkannya? - Itu bukan tugas kami.
Ada mayat perempuan di situ. Kami berhak mendapatkan air bersih.
Kami di sini untuk menyelidiki...
Menyelidiki tanpa dua ayam dan botol?!
Kakak, apa yang kau cari?
Sumur.
- Kau menemukannya? - Ya.
Mau lihat sesuatu yang keren? Kami menemukannya di sumur.
Ayo.
Di sana!
Di sana!
Lebih jauh lagi... Sedikit lagi.
Tidak, tidak...
Di depan.
Ya.
Paman.
Apa ini?
Kucing.
Kenapa basah?
Itu dari dalam sumur.
Diambil bersama anak tersebut?
Sebelum anak itu.
Berapa hari sebelumnya?
Beberapa hari.
Bagaimana kucing bisa masuk ke dalam sumur?
Kucing tidak jatuh, kan?
Paman, di mana rumah Pippal?
Di dasar bukit.
Kau pergi kunjungi mereka. Kita butuh foto perempuan itu.
Sendiri?
Masalah?
Tidak, Bu.
Sana main-main.
Pergi.
Kapan dia meninggalkan rumah?
Saat fajar, untuk mengambil air.
Semua baik-baik saja?
Semuanya baik-baik saja. Pergilah.
Siapa itu?
Tetangga.
Ada orang yang pernah mengganggunya?
Tidak ada yang seperti itu.
Bisa aku melihat barang-barangnya?
- Kau kenal orang yang bernama Saleem? - Tidak.
Mungkinkah suamimu kenal?
Dia tidak mengenal satu pun orang Muslim.
- Pekerjaan apa yang kau lakukan? - Buruh harian.
Salah satu dari kalian bisa membaca atau menulis?
Kami buta huruf. Bukankah itu sebabnya polisi tuli pada kami?
Kenapa sampai larut?
Kau sudah makan?
Belum Bu.
Ayo, kita makan bersama.
Ayo.
Devika dapat banyak pesan dari seorang lelaki, Saleem.
Jadi, kuambil ponselnya.
Aku melakukan hal yang benar?
Apa isi pesannya?
Pesan pertama mengatakan,
"Hai."
"Kau tampak cantik dengan pakaian oranye itu."
Tersenyum.
Pesan lainnya,
"Jangan marah."
Dan satu lagi,
"Apa salahnya kita ngobrol?"
Lalu dia berkata,
"aku akan ke Mumbai."
"Aku akan membelikanmu pakaian yang lebih cantik."
Devika: Tersenyum.
Kemudian pesan dari Saleem:
"Aku mau menjadi penyanyi. Pamanku tinggal di sana."
Berikan.
Cuci tanganmu.
Ayo.
Handuk ada di belakangmu.
Devika:
"Jika kau akan ke Mumbai, kenapa mengobrol denganku?"
Saleem:
"Aku tahu kau lebih cantik dari semua perempuan di sana."
Devika: Tersenyum.
Saleem: "Halo!"
Devika: Tidak ada jawaban.
Saleem: Pesan baru.
"Kapan kau pergi ke pasar lagi?"
"Ada banyak hal yang mau kuceritakan."
Tidak ada respon.
Dia mengejarnya.
Apa dia tidak bisa menjawab?
Pesan terakhirnya tanggal 23.
Mayatnya ditemukan tanggal 26.
Setiap penjahat tahu ponsel akan berakhir di tangan polisi.
Jadi mereka mengirim pesan setelah perbuatan dilakukan.
Aku akan melacak nomornya.
Kau berkerja dengan baik.
Dia tidak ada di rumah, Bu... Sudah beberapa hari ini dia tidak ada di rumah.
Itu bukan pertanyaanku.
Ke mana dia pergi?
Aku tidak tahu di mana dia.
Katakan, di mana dia?
Aku tidak tahu...
Kami buruh harian.
Kami pergi ke tempat kerja.
Di mana putramu Saleem antara tanggal 23 dan 26 Februari?
Bersama pamannya...
Yang ada vila di pantai Juhu?!
Hentikan omong kosong itu.
Diamkan dia!
Berapa umur perempuan itu?
Lima tahun.
Kau dengar tentang kasus mengerikan
di Harkatganj?
Anak kecil seperti dia diperkosa, dibunuh, dan dibuang.
Botol, peralatan, segala macam yang mereka temukan padanya.
Semua orang tahu orang suci setempat yang melakukannya.
Kami meresponnya terlambat.
Jasadnya ditemukan keesokan harinya.
Penisnya dipotong, dimasukkan ke dalam mulutnya seperti lolipop.
Kau tahu bagaimana orang-orang kan.
Ayah mana yang menginginkan hal itu terjadi pada anaknya?
Banyak perasaan dalam lagu itu,
tapi pada akhirnya itu hanya khayalan "film".
Seniman itu membuat karyanya, tapi membuat emosiku kacau.
Mereka bernyanyi dari hati mereka.
Tapi ya... itu juga sebuah pertunjukan.
Siapa yang lebih tahu kinerja daripada kita?
Kita tampil. Kita dan para tersangka juga.
Kita menambah tekanan. Mereka memeras air mata.
Itu air mata asli atau palsu?
Terkadang jelas,
dan terkadang, kau butuh tongkat estafet untuk mengetahuinya.
Ayah Saleem apa dia bohong?
Ini adalah musim tanam saat para buruh memperoleh penghasilan paling banyak.
Kenapa dia mencari pekerjaan di tempat lain?
Bagaimana dengan ibu Devika? Apa dia bohong?
- Kenapa dia berbuat begitu? - Takut dipermalukan.
Aku juga bohong,
tentang orang suci.
Itu salahku?
Saleem menghilang. Nomor teleponnya tidak bisa dilacak.
Bajingan itu mengeluarkan SIM-nya dan lari.
Ada tas di belakang. Ambil saja.
Yang ini?
Buka itu.
Aku pernah melihatmu lari.
Kenakan sesuatu yang pantas.
Terima kasih, Bu.
Bibi!
Bibi, ada orang di sini.
Aku dan Bibi sedang membuat roti.
Siapa?
Aku mencari kepala desa.
Silakan.
Itu aku. Aku Pradhan.
Kami mencari lelaki, bernama Saleem.
Kami dengar dia bekerja di ladangmu.
Pergi, panggil Ramesh.
Apa yang dia lakukan?
Ini ada hubungannya dengan kematian perempuan Pippal.
Kami punya beberapa pertanyaan.
Kau petugas baru?
Ya.
Siapa namamu?
Polisi Saini.
Ayo, Ramesh.
Kau mengenal seorang buruh
bernama Saleem?
Ansari dari Laalipur.
Aku kenal lelaki itu.
- Dia bekerja di sini bulan lalu? - Ya, dan ayahnya.
- Yakin? - Iya. Sudah mengerjakan setengah pekerjaan dan pergi.
Kapan?
Aku tidak ingat tanggalnya.
Ada sekitar seratus buruh di sini.
Sekitar tanggal 23 atau 26?
Kubilang, aku tidak tahu.
Jika sudah selesai, bisa aku kembali bekerja?
Jalan ini ditutup.
Kami tidak mau konfrontasi. Ayo ke arah lain.
Kita akan ambil jalan lain! Ayo!
Hei, dengarkan!
- Apa yang terjadi teman-teman? - Hanya bermain kriket.
- Siapa namamu? - Masood Khan.
- Kau tinggal di mana? - Di ujung jalan.
Kau kenal Saleem Ansari?
Dia tinggal di lingkunganmu. Salah satu dari kalian pasti mengenalnya.
Ya. Lalu?
Temanmu hilang dan kau di sini bermain kriket?
Apa yang dia lakukan?
- Ke mana dia pergi? - Bagaimana aku tahu?
Ayo,
berikan bolanya. Tangkap bolanya.
Masood!
Sebentar. Aku mau bicara denganmu.
Kemari.
Kemari.
Berikan ponselmu.
Ponsel?
Jangan gugup.
Ini.
Aku menambahkan nomorku. Santosh.
Oke?
Telepon kapan saja kau mau. Bahkan di malam hari.
Masalahnya adalah...
Seseorang harus turun tangan untuk ini. Ada tekanan.
Kau lihat?
Melihatmu, aku tidak yakin akan ada yang datang menyelamatkanmu.
Oke? Kau pulang saja, pikirkan baik-baik malam ini.
Jika dia mengatakan sesuatu tentang ke mana dia pergi,
Telepon atau WhatsApp aku. Oke?
Ayo lari main!
Maju anak Shoaib Aktar! Ayo main.
- Apa yang terjadi, bro? - Tidak ada. Aku hanya memberikan nomor telepon.
Dia ada di Nehrat. Itu saja yang dia katakan, aku bersumpah.
Tolong hapus ini, Masood.
Saleem di Nehrat.
Temannya memberitahuku.
Kuberi ancaman dan dia menyerah.
Rekan-rekanmu tidak menganggapmu sebagai perwira sungguhan.
Kau menunjukkannya pada mereka hari ini.
Jadi sekarang bagaimana, Bu?
Kita berbagi ini dengan polisi Nehrat?
Kau mau menyerahkannya pada mereka?
Besok kita pergi dengan pakaian biasa.
Aku punya kenalan baik di Nehrat.
Suamimu terbunuh di sana, kan?
Ya.
Ada orang Muslim yang memukul kepalanya dengan batu atau sesuatu.
Mereka tidak menangkapnya?
Tidak.
Bagaimana kau bisa melanjutkan hidup tanpa keadilan, Santosh?
Bu, kau di mana?
Ada sesuatu yang penting. Pergilah. Aku akan mengirim Kohli.
Jangan kirim Kohli. Aku bisa sendiri.
Aku hampir sampai. Kapan kau akan datang?
Ada acara VIP. Mungkin berlangsung sampai sore.
Mulailah di Gadar Bazaar. Itu adalah kawasan Muslim.
Baik, Bu.
Tiap DP Langsung Bonus 5% Main Di Sini Jamin Wede WinJos Pasti Win. Jos Wede-nya Kunjungi https://super.winjos.today
Kau masih belum mengatakan ke mana kau mau pergi.
Kita menggunakan argo, kan? Jadi, teruslah berkendara.
Kerusuhan tahun lalu... Ingat di mana itu?
Selalu ada sesuatu yang terjadi di sini!
Seorang polisi tewas. Kau tidak ingat?
Dengar,
kau pernah lihat orang ini? Dia pernah datang ke sini?
Perhatikan baik-baik.
- Mungkin dia bekerja di sekitar sini? - Tidak.
- Yakin? - Aku tidak kenal dia.
Aku berhasil menemukannya.
HOTEL SHOBHA
Mau makan sesuatu? Dapur tutup.
Tidak.
Aku sudah dekat.
Jaga dia.
Kau bernyanyi dengan baik.
Kau mau ke mana?
Kenapa kau takut?
Lepaskan!
Beraninya kau menyentuh perempuan?
Bajingan.
Tenang.
Tutup matamu. Tarik napas, hembuskan napas.
Tenang.
Jangan bergerak, jangan bergerak.
Hidungmu ditindik, pakailah sesuatu.
Sekarang pergi.
Benarkah?
Kupikir mereka hanya mengambil foto.
Siapa yang melihatnya? Ibu melihatnya?
Apa yang dia katakan?
Dan neneknya?
Ya, setidaknya aku melakukan sesuatu yang baik.
Aku harus pergi...
- Anggap saja ini seperti rumahmu. - Terima kasih.
Kau ke sini untuk bekerja?
Pekerjaan kami tidak pernah berhenti.
Kalian ada di semua saluran. Selamat.
Teruskan apa yang kau lakukan, polisi.
Kau memanggil, Pak?
Bawa sesuatu yang manis. Ini pertama kalinya mereka ke sini.
- Di mana lelaki itu? - Di dalam jip, Pak.
Dengar!
- Berikan juga sesuatu pada lelaki itu. - Ya.
Kau memanggil Pak?
Dengarkan, aku sedang berpikir,
alih-alih membawa lelaki itu kembali ke Machogar,
kenapa tidak memulai pekerjaan di sini?
Di sini atau di tempat kerjamu, sama saja.
Pak...
Akan lebih baik jika kami memulai 24 jam dari Machogar.
Aku sudah membuat semua aturan.
Sudah larut malam dan suasana di luar sana tegang.
Bagaimana jika terjadi sesuatu di tengah perjalanan?
Sesuai keinginanmu, Pak.
Sharma ji,
Aku punya keyakinan penuh padamu.
Kau perempuan muda yang pemberani. Kau punya masa depan yang cerah.
Ibu mengajariku semuanya.
Itu semua berkat dia.
Enak?
Ke mana saja kau? Kau membawa surat-suratnya?
Mau makan.
Lalu bagaimana dengan kami yang malang?
Bisa saja membawakan kami sesuatu yang manis...
Nehrat terkenal dengan manisannya. Kita akan mencobanya sebelum pergi.
Bicara!
Bicaralah, 'bajingan'. Bicaralah.
Lepaskan aku.
Bicara!
Kau mau bicara sekarang?
Apa perlunya membunuhnya? Kenapa tidak memperkosanya saja?
Sudah kubilang cukup!
Ayo ke sana!
Sebaiknya kau jangan jatuh...
Kalau kau bergerak sedikit saja, Govind akan kencing di mulutmu.
Dan kau harus membersihkan wajahmu yang lengket itu.
Dia akan mengawasimu.
Aku mau tidur siang.
Jangan dudukkan dia di atasnya.
Kemari.
Dua hari lagi bulan purnama Holi.
Tak ada gunanya bohong di saat seperti ini.
- Bagaimana kau mengenal Devika Pippal? - Aku tidak kenal dia.
- Kenapa kau punya nomor teleponnya? - Aku tidak tahu.
Simpan omong kosong ini di pengadilan.
Itu benar.
Di mana kau antara tanggal 23-26 Februari?
Mumbai.
Bajingan!
- Aku berkata jujur... - Jangan main-main dengan kami!
Bagaimana kau mengenalnya? Ceritakan atau akan kuteruskan.
Bagaimana kau bisa mendapatkan nomor teleponnya?
Ini ada samosa.
Selamat menikmati!
DATANGLAH LAGI SAYANG!
Bajingan.
Sekarang pembersihanmu sudah selesai.
Hentikan dramamu.
Di mana Mekahmu?
Di sini?
Di mana kau bertemu dengannya?
Di pasar.
Bajingan.
Bagaimana kau mendapatkan nomornya?
Dia menjualnya di pasar?
Dia memberikannya padaku.
Bajingan, kenapa kau melakukan itu?
Aku menyukainya.
Kalau kau tidak melakukannya, kenapa kau melarikan diri?
Orang bilang kalian mencariku.
Bajingan!
Anak babi.
Kau suka melecehkan perempuan, kan?
Brengsek!
Kenapa kau mematikan rokokmu padanya? Itu membuatmu ereksi?
Bagaimana dia berteriak? Keras atau tidak?
Kenapa kau melakukannya? Kenapa?
Apa kau juga membuat video? Apa kau menaikinya?
Kenapa kau melakukannya?
Babi kau!
Kau bajingan kotor.
Katakan maaf.
Katakan maaf!
Katakan maaf!
Bawa dia.
Keluar jam segini?
Aku tidak bisa tidur.
Ayo, kuambilkan pil.
Kenapa kau berdiri di sana?
Ambil ini.
Ayo duduk di sini. Di dalam terasa pengap.
Duduk.
Kita membunuhnya.
Dia mati.
Kadang-kadang itu terjadi.
Dia membunuh seorang perempuan berusia 15 tahun. Memperkosanya dan membuangnya.
Apa baginya itu hanya sekadar menghabiskan waktu?
Dia benar?
Jangan sampai kau tidak tidur karenanya.
Itu sudah terjadi.
Tidurlah, nanti kau akan lupa.
Minum pilnya.
Aku tidak bisa melupakan...
Wajahnya,
giginya yang putih,
bau ruangan itu,
Teriakannya... Semuanya terukir dalam otakku.
Tapi apa yang dikatakannya... kita bahkan tidak mendengarkannya.
Mungkin dia tidak bohong?
Kita melakukan apa yang kita bisa, Santosh.
Baiklah, anggap saja dia tidak bohong.
Tapi apa gunanya berpikir seperti itu sekarang?
Jika kau tidak bisa tidur sendiri, tinggallah di sini.
Aku baik-baik saja, Bu.
Jika kau akan ke Mumbai, kenapa mengobrol denganku?
Aku tahu kau lebih cantik dari semua perempuan di sana.
Kohli.
Kohli!
Santosh! Ganti baju, ayo main.
Aku tidak mau main. Di mana Ibu?
Dia sudah pergi. Tunggu, dia meninggalkan sesuatu untukmu.
Bisa kulihat?
Boleh aku minta? Dia tidak terlalu memanjakan kami.
- Kau duluan. - Tidak.
Satu gigitan! Untuk kesuksesanmu.
Tidak.
Jadi, apa yang terjadi pada Saleem?
Dia gantung diri.
Tampaknya,
seseorang juga "gantung diri" saat Ibu terakhir kali memposting.
Bajingan!
Kepalaku benar-benar sakit.
Dengar, anak mereka sudah mati.
Kita perlu mencari tahu apa yang mereka inginkan,
membuat kompromi dan membungkam mereka.
Ayo.
Baiklah, sesuai keinginanmu.
Duduklah di dekat AC. Kau akan segera merasa lebih baik.
Satu teh lagi!
Kau tidak mengembalikan barang-barangnya? Ponselnya, dan lainnya?
Jangan ajari aku.
Bagaimanapun, kau menghajarnya dengan tali kulit itu.
Itu akan terlihat di foto.
Foto?
Foto otopsi.
Saat petugas investigasi datang,
kau tidak akan tahu apa yang menimpamu.
Bahkan yang terbaik pun tidak bisa mengatasinya,
bagaimana mereka mengubah hitam menjadi putih, putih menjadi hitam.
Kapan mereka datang?
Seperti Dewa Kematian, bisa datang kapan saja.
Hey, Pappu!
Kami tidak memberimu sepeda itu untuk balapan.
Kau tidak ke kantor
dan di sini kau berkeliaran.
Haruskah kami mengambilnya?
Tidak, Bu. Aku akan datang.
Kapan? Saat aku mati?
Ada berita?
Tidak ada... Hanya binatang lain masuk di sumur Dalit.
- Kapan? - Hari ini.
Itu saja? Tidak ada yang lain?
Pappu?
Bajingan, lihat dia pergi.
Apa yang terjadi?
Bagaimana ini bisa terjadi?
Kasta atas membuangnya.
- Kenapa mereka melakukan itu? - Untuk mengganggu kami.
Kapan ini terjadi? Ada yang melihat mereka melakukannya?
Aku datang untuk menulis laporan.
Ceritakan dengan tenang apa yang terjadi. Oke?
Laporan? Untuk menyeka pantatmu?
- Apa masalahmu? - Kau.
Kenapa? Apa yang kau benci dariku?
Kubilang aku datang ke sini untuk membantu!
Datang seperti ini... mengharapkan uang sebagai imbalannya...
Kalian tidak mendengarkan dan tidak mengerti.
Yang kalian lakukan hanyalah mengeluh. Kalian menikmatinya?
Tidak peduli apa yang kami lakukan, kalian tetap mengeluh.
Begitu simpatik sekarang... Apa yang akan kau lakukan?
Kau bahkan tidak minum air kami.
Pergilah!
Kami tidak membutuhkan laporanmu.
Ada orang?
Pradhan-ji?
Ada orang?
Apa yang kau lakukan?
Hanya melihat-lihat.
Untuk apa?
Aku pernah ke sini sebelumnya.
Ingat, kau membuat roti dengan bibi.
Di mana dia? Aku mau bicara dengannya.
Dia pergi ke pasar.
- Kau tidak punya pistol? - Tidak.
Kau menangkap lelaki itu?
Ya.
Kau tidak takut?
Sedikit.
Kenapa dia membunuhnya?
Aku tidak tahu.
Dia masih muda dan cantik dan dia terbunuh.
Tapi dia berkulit gelap.
Bagaimana kau tahu?
Aku melihatnya.
Di mana? Di sini?
Bibi pulang!
Meenu...
Apa yang kau bawakan?
Itulah seorang putri.
Pergi suatu hari dan beginilah sambutan yang kau dapatkan.
Kau ke sini untuk bekerja?
Aku di sini untuk menemui Pradhan.
Aku saudara iparnya.
Ayo.
Kami sedang membuat teh.
Silakan datang.
Sudah kubilang, jangan bermain di sana.
Beritahu kami, apa masalahnya.
Ada binatang lain di sumur Dalit.
Kali ini seekor anjing.
Mereka bilang seseorang membuangnya dengan sengaja.
Mereka melakukannya sendiri, nak.
Untuk mengaduk-aduk sesuatu.
Apa polisi kekurangan staf?
Mereka mengirim perempuan ke sini sendirian?
Dan itu juga untuk anjing yang jatuh?
Siapa namamu?
Polisi Saini.
- Nama depan? - Santosh.
- Itu nama lelaki, kan? - Ya!
Itu juga nama perempuan.
Maaf,
kami tidak bisa memuaskanmu hari ini.
Ada hal lainnya?
Putrimu dan aku bicara
tentang Devika Pippal.
Begitu?
Sayang.
Perempuan ini bilang kau bicara dengannya?
Apa yang kau katakan padanya?
Katakan.
Kau mengatakan...
Aku menggelitikmu?
Dia anak-anak!
Jadi...
Devika Pippal datang ke sini?
Maksudnya?
Ada kucing mati di sumur mereka. Mungkin dia ke sini untuk mengambil air?
Meenu bilang dia melihatnya.
Mereka tidak dibolehkan, nak.
Bukannya itu dipelajari di sekolah polisi?
Tapi dia datang ke sini?
Jika kau bilang begitu.
- Kapan? - Aku tidak bisa mengingatnya.
Rampal, bisa kau?
Siapa yang bisa mengingat semuanya?
Bahkan aku pun tidak ingat.
Kau ada di sini?
Itu hari ulang tahunnya.
Kami memotong kuenya.
Dia makan terlalu banyak!
Bu polisi serius.
Dia mempermainkanmu. Itu bukan ulang tahun siapa pun.
Tapi ya, kami berpesta.
Kau membunuhnya?
Jika iya, lalu apa?
Bukankah kau menangkap pelakunya?
Itu yang orang-orang bilang.
Makanan di sini legendaris. Ayo kita nikmati.
Bir.
Apa menumu?
Mutter paneer, shahi paneer, chilli paneer, kadai paneer...
Satu shahi paneer, satu malai kofta. Roti dulu, lalu nasi.
Katakan yang sebenarnya.
Selain tentang orang suci itu, apa lagi kebohonganmu?
Kaulah yang mengejar Saleem.
Bukan seperti itu keadaannya.
Lalu, bagaimana keadaannya?
Kau tahu di mana dia sejak awal.
Dia tidak "mengeluarkan SIM-nya dan kabur". Nomornya sama.
Aku mau kau menemukannya sendiri. Aku percaya padamu...
Jika Saleem berhasil lolos malam itu,
aku pasti akan dipermalukan.
Jadi kau membiarkanku dipermalukan sebagai gantinya?
Ketenaran apa yang kau dapatkan?
Aku tidak tahu dia tidak bersalah.
Tapi kau tahu, kan?
Ada dua jenis kaum tak tersentuh di negara ini.
Yang orang tidak mau menyentuh
dan satunya tidak bisa disentuh.
Tapi apa boleh buat, kita hanya pelayan.
Lihatlah dari sudut pandang lain...
Di mata dunia keadilan sudah ditegakkan.
Itu bukan hal kecil.
Kita membunuh orang yang tidak bersalah!
Kita menjadikannya martir.
Karena kematiannya,
lelaki mana pun akan berpikir sepuluh kali sebelum menyentuh perempuan.
Tapi orang-orang harus tahu kebenarannya.
Keluarga Devika harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Apa yang kau mau mereka lakukan dengan kebenaran itu?
Hidup mereka akan seperti neraka, begitu pula dengan penduduk desa.
Apa ini?
Surat penangguhan.
Ini akan menjadi pemindahan, tapi inilah yang terjadi.
Yang ini hanya ada namamu.
Kupastikan namamu tidak muncul.
Kau tidak pernah ada di sana.
Mengapa harus mempermalukanmu lebih lagi dengan menskorsmu?
Tidakkah kita para perempuan sudah cukup menerima kehinaan?
Apa yang terjadi padamu sekarang?
Aku tidak tahu.
Aku mungkin akan dituntut, atau dihukum
atau akan membiarkan begitu saja.
Aku punya teman-teman di atas. Kita lihat siapa yang masih mengingatku sekarang.
Apa pun caranya, terjun ke dunia politik selalu menjadi rencananya.
Masih banyak yang harus dilakukan untuk kemajuan perempuan.
Itu baik untukmu.
Promosi akan menjadi formalitas saja.
Apa lagi yang akan kau lakukan?
Kembali ke Mapur?
Mendapatkan sensasimu menawar sayuran?
Kau akan bahagia seperti itu?
Setidaknya ucapkan terima kasih.
Bagaimana kalau kita makan?
Lihat mereka. Lihat rambut ikalnya.
Oi... pahlawan
Kemari.
Oh, Romeo, kemari!
Lihat dia berjalan dengan gagah. Pasti akan ada yang iri.
- Apa yang kalian lakukan di sini? - Kami hanya berdiri di sini.
Apa yang kalian lakukan di situ?
- Kau memakai narkoba? - Tidak, Pak.
Kalian pergi atau aku keluar?
Biarkan saja mereka, kawan. Ayo kita ke Kebun Perusahaan.
Mungkin ada pertunjukan di sana.
Di sana bebas.
Pergi sebelum aku menyita motor kalian!
Ibu mau pergi ke mana?
Ayo minum teh dulu.
Bawakan kami teh.
Ada orang?
Mohon perhatian.
Kereta nomor 180056 tujuan Mapur
tertunda dua jam.
Tiap DP Langsung Bonus 5% Main Di Sini Jamin Wede WinJos Pasti Win. Jos Wede-nya Kunjungi https://super.winjos.today
Kereta tujuan Mumbai dari peron no. 1.
Biskuit... Biskuit.
Biskuitnya, kak?
- Berapa? - 10 rupee.
Tunjukkan.
Kakak, bayar aku cepat.
Kakak, cepat!
Diterjemahkan oleh Kuda Lumping 15 Maret 2025
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.