All language subtitles for qqaaww

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian Download
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

-- Diterjemahkan oleh Sheilla Mahersta -- (Ripped/Edited By *Coffee_Prison)

(NETFLIX MEMPERSEMBAHKAN)

Panggilan masuk dari Ibu Irene.

Panggilan masuk dari Ibu Irene.

Hai, Ibu.

Hai, Sayang. Kau sudah sampai?

Belum. Kami akan menjemput Cami di bandara, lalu pulang.

Ibu baik-baik saja?

Tolong jangan mengebut.

Ibu, kami naik hidrofoil.

Benar, maaf, ibu kira kau mengemudi.

Kalau Ibu?

Ibu baik. Kenapa kau mencemaskan ibu sekarang?

Ibu bersama pria. Terakhir kalinya sepuluh tahun lalu.

Kita juga berlibur bersama tahun lalu.

Kita bersama tahun lalu, lalu Ibu bertemu dia.

Terserah. Sampaikan salam ibu untuk Camilla dan yang lainnya.

- Hati-hati. Telepon ibu. - Baik.

- Dah. - Dah, Ibu.

Putramu benar.

Liburan ini ujian untuk kita, bukan?

Sebenarnya, ini trip pertama Vincenzo tanpaku.

Yang lebih penting, ini trip pertamamu tanpanya.

Bagaimana kalau makan scialatielli all'Amalfitana, alih-alih ke Sisilia?

Dengar, aku melakukan ini bukan untukmu.

Kau tahu aku tak pernah suka merencanakan liburan.

Aku tak percaya ini.

Aku tidak percaya kita benar-benar di sini.

- Astaga. Ayo. - Kita berhasil.

Kau akan baik-baik saja.

Setidaknya kau punya pacar.

Aku seorang diri, ribuan kilometer dari rumah seperti ikan mas di laut.

Aku dikelilingi hiu.

Ada apa?

- Aku agak takut. - Kenapa?

Bagaimana jika semuanya berbeda?

Bagaimana jika ada yang berubah?

Setahun berjauhan itu lama sekali.

Pria gemuk dengan kereta bayi.

Para biarawati. Gadis berambut merah yang cantik.

- Di mana? - Bukan dia, Vinz.

Tenanglah, kau terlalu bersemangat.

Menunjukkan antusiasme sebesar ini adalah taktik yang salah.

Siapa yang memedulikan taktik? Kau paham kenapa aku mengajaknya tinggal denganku?

Kau bodoh?

Tinggal bersama merusak hubungan. Semua orang bilang begitu.

Karena tak ada yang bertemu gadis seperti Camilla.

Kau tahu apa soal tinggal bersama?

Tidak ada. Liburan ini sebenarnya akan menjadi ujian.

- Ujian. - Ujian.

Rambut keriting...

- Cami! Hai! - Sayang! Hai!

- Aku sangat merindukanmu. - Aku juga merindukanmu.

Hai.

- Dia Nathalie. Vincenzo. - Hai.

- Hai. - Vincenzo.

Aku Furio.

Teman dari... Teman Vincenzo. Maksudku temannya.

Kau Nat, teman sekamar Camilla.

- Ya. Bahasa Inggris-mu cukup bagus. - Terima kasih.

Aku senang karena aku sangat takut

harus selalu berbahasa Italia.

Aku terus berlatih.

Dan Cami banyak bercerita tentangmu.

Aku juga bisa bahasa Italia. Aku mempelajarinya di universitas.

- Hai. - Jadi, kau lebih fasih daripada aku.

Senang bertemu denganmu

karena menyenangkan bertemu orang berjenis kelamin lain saat musim panas,

- wanita juga. - Dah.

Mungkin lebih baik menggunakan bahasa Inggris.

Lagi pula, sudah ada kecocokkan.

- Aku akan mengejarnya... - Benarkah?

- Aku merindukanmu. - Aku juga merindukanmu.

Aku tidak bercanda.

Aku serius, akan kutunjukkan.

Terima kasih.

- Dah. - Terima kasih.

Baik, jadi, di mana piza nanasku?

Kembalilah sekarang.

- Aku bercanda. Aku hanya bercanda. - Itu tidak lucu.

Itu hanya lelucon.

Ayolah, Vinz. Ini dia.

Ini dia!

Kita hampir sampai, ya?

- Akhirnya. - Kita sedang makan, bukan?

Kita naik 800 anak tangga...

Kita sudah sampai.

Teman-teman, lihat betapa indahnya ini.

Astaga.

Lihat pemandangannya!

Lumayan, Vincenzino.

Sulit kupercaya. Indah sekali.

Lihat ini.

Wow.

Ini gila.

Vinz, bisa tanya ayahmu maukah dia mengadopsiku? Atau memberiku sponsor?

Ayo lihat ke dalam.

Masuklah, Kawan-kawan. Ini ruang duduknya.

Ini ruang makan. Kamar mandi ada di sebelah kanan.

Kamar tidur ada di sana.

- Siapa yang ada di lukisan itu? - Yang itu?

- Ya. - Itu ayahku.

Hidung kalian sama.

Seharusnya ada lemari dengan dua rak

- dengan kepiting emas di atasnya. - Begitu rupanya.

Tolong jangan menyentuhnya. Itu milik ayahku. Harganya mahal.

- Mengerti? - Ya.

- Kau menyentuhnya, bukan? - Tidak.

Cami dan aku tidur di sana.

Furio, kau dan Nathalie akan tidur di sini. Ada dua ranjang kecil.

Tunggu.

Haruskah aku tidur dengannya?

Kau mengatakan itu dengan semangat sekaligus teror.

Dengarkan baik-baik.

Jika kau melihatku saat aku mandi, atau saat membuka pakaian,

aku akan membunuhmu.

- Rupanya hanya teror. - Liburan ini akan menyenangkan.

Ayo, akan kutunjukkan kota ini.

Di sini indah.

Ini bukan apa-apa.

- Terima kasih. - Salvato.

- Hei, Vince. Itu kau? - Hei.

Ini Camilla.

Camilla, senang bertemu.

- Cantik, tetapi yang penting, beruntung. - Pria yang baik.

- Tentu beruntung. - Benar.

- Terima kasih. - Dah.

- Sudah lama sekali. Selamat datang. - Terima kasih.

- Hei, Vince! - Ada mozzarella kerbau.

Hai.

- Siapa gadis cantik ini? - Dia pacarku.

Kau tak memberitahuku lebih dahulu?

Kau sangat cantik.

- Dengan senang hati. - Hai, dengan senang hati.

Gennaro, kemarilah, Vincenzo datang.

- Apa kabar? - Semuanya baik-baik saja. Kau?

- Semuanya baik-baik saja. - Dah, Gennaro.

- Mereka baik sekali. - Benar.

Ayo, kutunjukkan tempat istimewa.

- Yang ini indah. - Coba kurasakan.

- Astaga, indah sekali. - Benar, bukan?

Kainnya sangat ringan.

Baik, akan kubeli.

- Kurasa akan kupakai malam ini. - Ide bagus.

Aku tak percaya tak ada kamar kosong di seluruh Amalfi.

Cukup. Jika tak bisa menemukan kamar, aku akan tidur di sini.

Kurasa aku tahu tempat yang lebih nyaman daripada tangga ini.

Di mana?

Aku tidak bisa.

- Kau bisa tidur? - Ya.

Sebenarnya aku hampir tertidur.

Setidaknya kita mendapatkan pemandangan bintang lima.

Pertama kalinya aku tidur di mobil,

pasti pada tahun 1990-an, setelah konser.

Aku juga ingat pertama kalinya aku tidur di mobil.

Di Korsika, di 2CV.

Tak ada kursi bersandar.

Namun, pacarku suka berkemah.

Jadi, kau tak sendirian? Kau bersama seorang gadis.

- Kecemburuan retroaktif? - Bukan.

- Siapa namanya? - Paola.

Kau mengingatnya.

Ayolah, usiaku 20 tahun, seperti Vincenzo.

Tidak, bukan Vincenzo. Tolong jangan membahas ini sekarang.

Kau di 2CV milikmu itu dengan Paola,

dia dengan Camilla di ranjang tempat dia dikandung.

Astaga, aku tak akan bisa tidur sekarang.

Itu informasi yang lebih baik tak pernah kudengar.

- Selamat malam. - Kecemburuan retroaktif?

- Apa itu? - Apa?

- Itu. - Ini?

Ya.

Ini peluit. Kakekku membawanya. Dia sudah tahu soal itu.

Kakekku membawanya pada hari dia bertemu nenekku.

Lalu diberikan pada ayahku dan dia bertemu Ibu.

Di dalamnya terdapat air liur tiga generasi penjaga pantai.

- Kau mau meniupnya? - Tidak, menjijikkan.

Hei, Vinz, ada pria sangat menyeramkan yang terus menatapku.

Di mana?

Dia mendekati kita sekarang.

Vinz! Apa kabar?

Hei! Aku baik, bagaimana kabarmu?

- Baik. - Teman-teman, ini Hans.

Dia saudara yang tak kumiliki.

Aku saudara yang akan segera diadopsi.

- Senang bertemu. - Ya.

Kami menghabiskan setiap musim panas di sini bersama sejak kecil.

Camilla, pacarku.

- Senang bertemu. - Sama-sama.

Nathalie.

- Nathalie. - Hans.

Mau minum?

- Ya. - Ayo.

Bersoraklah!

Kau yakin?

Kami sudah bersiap selama beberapa minggu. Kau ingat lagunya?

Tentu, tetapi fokuslah. Kita akan bersenang-senang!

- Apa yang dia lakukan? - Vinz.

- Kutunggu dengan yang lain. - Mau ke mana?

- Mereka berebut mik. - Aku tak bisa.

Tepuk tangan untuk siapa?

Vincenzo.

Ayo!

Aku menghafal lirik lagu yang akan kunyanyikan.

Ini lagu yang kudengarkan sepanjang tahun ini,

selama pacarku di Kanada.

Camilla, aku senang kau kembali.

Aku tidak percaya dia melakukan ini.

Aku juga, percayalah.

- Omong-omong, ini Camilla. Ini dia. - Hentikan.

Kumohon hentikan.

Tiap pikiranmu, tiap gerakanmu

Tiap keheninganmu setiap hari makin sering

Kutemukan dalam tindakanmu Aku melihat dirimu

Gadis yang selalu kuimpikan

Seluruh dunia lebih berwarna

Ini Camilla.

Tiada kesulitan selagi kau di sini

Ini orisinal?

- Kau sempurna, syukurlah kau di sini - Dia membuktikan cintanya padamu.

Kurentangkan lenganku ke langit Dan berpikir

- Kau yang tercantik di dunia - Itu kau, Cami.

Kau yang tercantik bagiku

- Terima kasih. - Hebat, Vinz.

Itu untuk Camilla. Cami, aku mencintaimu.

- Terima kasih, Semua. - Ayo, Vinz!

Yang tak kupahami,

pecundang terbodoh sekalipun bisa mendapatkan sesuatu di jejaring sosial.

- Di mana letak kesalahanku? - Bolehkah?

Kau tak punya daya tarik.

Daya tarik.

Mantanku juga berkata begitu.

Sudah berapa lama kalian bersama?

Kami berkencan sekali.

Jadi, ini hubungan terpanjang yang pernah kau jalani?

Mungkin kau tak paham.

Di depanmu, ada seseorang yang tak pernah dicintai.

Namun, punya banyak cinta untuk diberikan.

Untuk Rebecca?

Tidak?

Semua orang melihatnya, tetapi dia tidak melihat siapa pun.

Dan dia Lucio, partnerku.

- Hai. - Senang bertemu, Lucio.

Jadi, kalian tidur di mobil?

Sudah larut, kami tak mau mengganggumu.

Kau mengganggu kami? Ini rumahmu.

Kau bahkan punya kamar di sini.

Benarkah? Ya, kamar itu.

Baguslah.

Vincenzo tak boleh tahu aku di sini.

- Hans baik-baik saja? - Ya, dia baik.

Dia di Cala Ventresca bersama Vincenzo dan yang lainnya.

Cala Ventresca indah.

- Namun, bukankah itu jalan yang berbatu? - Ya.

Namun...

Irene, jangan khawatir.

Satu lagi.

Baik, sudah aman sekarang.

Itu sulit sekali. Menunduklah.

Tetap menunduk. Baik, terus jalan.

Saat seseorang bicara omong kosong, katakan, "Bah!"

- Mengerti? - Bah!

Setidaknya dia cepat belajar.

- Cami. - Maaf, kau benar.

Dengar, kita tidak perlu menyelam.

Mau ikut dengan mereka?

Di sini penuh batu. Ada satu di kiri dan satu di kanan.

Entahlah. Menurutku,

lebih baik kita pergi, jadi, ayo ke sana.

- Di sini aman? - Ya, lurus ke bawah. Kenapa?

- Sudah siap? - Apa?

- Ayo! - Tidak!

Kau sudah gila? Bagaimana jika ada sesuatu di bawah air?

Aku ingin melakukan segalanya denganmu, Sayang.

Awas!

Apa yang kau lakukan?

Hei, Nat! Kenapa kau masih memakai kaus?

Kita di pantai, bukan di Kanada.

Lebih baik memakai kaus.

Tak terbakar matahari, tak disengat ubur-ubur.

- Ada ubur-ubur di sini? - Entahlah.

Sial!

Aku alergi ubur-ubur.

Seharusnya katakan sebelumnya.

Siap?

Ya.

Ada kabar baru.

Ini.

- Terima kasih. - Sama-sama.

Apa? Kau bercanda?

Tidak.

Aku menerima surelnya pagi ini.

Kau baru saja ditawari pekerjaan sebagai asisten pengajar.

Cami, itu luar biasa.

Ya, tetapi itu berarti setahun lagi di Kanada.

Ya, tetapi itu kesempatan bagus.

Aku tahu, luar biasa.

Terutama untuk mengacaukan segalanya.

Tempat ini dan Brigitte meyakinkanku untuk berhenti menjadi pengelana.

Musim panas itu mengubah hidupku, mengguncangku.

Bukankah itu tahun yang sama kita bertemu Irene dan Roberto?

Benar.

Bagaimana kabar Vincenzo?

Dia sudah dewasa.

Kau ingat saat dia dan Hans terus mengikuti kita?

- Mereka bahkan mengganggu. - Ya, seperti anak ayam.

Tentu, Roberto selalu mengatakan itu saat mereka tak mau pergi jauh. Bagaimana?

Tidak, jika pergi, mereka akan berubah menjadi manusia serigala.

Rumahmu indah.

Kau bisa bahasa Jerman.

Ada banyak hal yang belum kau ketahui tentangku.

Dia bilang rumah ini indah.

Terima kasih.

Jika kau melihatnya 20 tahun lalu... Kondisinya buruk.

Kau ingat?

- Tak akan kita perbaiki, - Indah.

Jika bukan karena Irene dan Roberto.

Benar.

Lagi-lagi Roberto.

Jika kau masuk, aku akan membunuhmu.

Ayo, kita akan terlambat ke pesta.

Ya.

5 menit.

- Kau suka di sini? - Indah.

Mereka memasang lampu di sini.

- Cami, kau lihat keindahannya? - Lihat, ini indah.

Lihat, seloki limoncello.

Vinz. Permisi.

Tunggu.

Bagaimana cara melakukan ini?

Berjalan memakai sepatu hak tinggi lebih buruk daripada mencukur beruang.

Itu metafora yang aneh.

- Baiklah. Coba ini. - Baik.

Berjalan dengan langkah kecil dan jangan terlalu menekuk lututmu.

Baik.

Ya. Tidak.

Tidak akan bisa.

Ayo beli sandal.

Begitukah cara membangunkan orang? Dasar kepala tomat.

Jangan memanggilku kepala tomat. Aku lebih tua.

Berhenti, Kepala Mozzarella.

Berikan tongkatnya, Kepala Tomat.

Hei, Hans, penataan ulangmu cocok dengan profilku.

Lihat?

Namun, apa kataku padamu?

Apa katamu?

Jangan memakai celana merah.

- Jangan pernah. - Jangan pernah.

REBECCA MENERIMA PERMINTAAN PERTEMANANMU

Hans, aku menyayangimu.

- Ada apa? - Rebecca menerima permintaanku.

Bagus.

Ya, bagus, tetapi sekarang aku butuh kalimat yang bagus.

- Aku harus menulis sesuatu. - Ya.

Kau tahu berapa orang yang mengiriminya pesan dalam sehari?

- Berapa? - Banyak.

Banyak.

Jadi, bagaimana caramu mengungguli begitu banyak orang?

Kubunuh yang lainnya.

Tidak.

Katakan sesuatu yang tak pernah dikatakan siapa pun.

"Aku ingin menjadi ayah dari anak-anakmu."

Pikirkan baik-baik.

- Tidak, terima kasih. - Ayolah.

- Kau kepanasan? - Tidak.

- Aku tak butuh apa pun. - Yakin?

- Kau mau berfoto? - Tidak.

- Kami akan berfoto. - Kalian bersama?

- Tidak. - Kau mau berfoto dengannya?

Ya. Mari berfoto, dia akan pergi.

Terima kasih.

Senyum, Kawan-kawan.

Lihat aku.

Akan kucetak untukmu, tunggu sebentar.

- Ini. - Terima kasih.

Terima kasih, Bung. Sampai jumpa.

Boleh kulihat?

Gambarnya tak jelas.

- Apa? - Tak jelas.

- Kau tahu apa ini? - Boneka.

Boneka, benar.

- Berikan tongkatnya. - Tidak!

Menyenangkan melihat banyak gadis jatuh cinta.

Aku lebih tua darimu.

Kalian ingin tahu masa depan kisah cinta kalian?

Tidak, terima kasih.

Ayolah, hanya 5 euro.

Mungkin itu bagus. Kami tertarik.

Baiklah.

Mari kita lihat apa yang akan dikatakan kartu-kartu ini.

- Ini. - Ini.

Sial.

- Kematian. - Beruntung seperti biasanya.

Tidak, kartu ini berarti akan ada perubahan besar.

Perubahan positif?

Aku tidak tahu.

Bisa beri tahu kami di mana kami beberapa bulan lagi?

Tentu saja.

Jauh.

Sangat jauh.

Kurasa dia melihat masa lalu, bukan masa depan.

Kau menyukai Hans?

Furio...

Dan kau merobeknya. Puas sekarang?

Apa itu aku?

Hei, itu tidak buruk. Dia pria yang baik.

Kau menyukainya.

Musim panas ini,

seharusnya pacarku juga datang.

Namun, kisah cintaku sangat buruk, jadi...

Kalau kau Rebecca,

maukah kau mengencani...

- Apa? - Orang sepertiku?

Entahlah.

Aku bukan Rebecca.

Namun, kurasa mengenalmu itu sepadan.

Jika kau berusaha keras, terkadang kau bisa mengatakan hal baik.

Jangan terbiasa dengan itu.

- Apa itu? - Jangan terbiasa dengan itu.

Kau memakai kausku.

- Kenapa? Tidak boleh? - Tentu boleh.

- Cami. - Ya?

- Aku mendapat pekerjaan di pusat layanan. - Apa?

Kau mendapat pekerjaan?

- Ya. - Kau tidak memberitahuku.

Aku ingin itu menjadi kejutan.

Ini bukan pekerjaan impian,

tetapi setidaknya kita bisa membeli rumah kecil.

Ibu sudah kuberi tahu dan sudah membayar depositnya.

Jadi, kalau mau,

kita bisa tinggal di sana mulai bulan depan.

Bagus.

Kita harus menebus semua waktu yang hilang.

Kenapa? Apa yang telah kulakukan?

Namun, ini tidak normal...

Tak normal. Ini musim panas, kau tak bisa memintaku tidur denganmu karena dingin.

Memang dingin.

Aku merasakan angin datang dari pelindung angin.

Jangan tanya.

Anggap saja Furio punya terlalu banyak cinta untuk diberikan.

Kenapa wajahmu begitu?

Semuanya akan baik-baik saja.

(MATAHARI TERBENAM)

Rumah keluarga?

Sungguh?

Nat, beberapa orang terlahir lebih beruntung dari yang lain.

Kau mengira Rebecca akan mengencanimu karena omong kosong yang kau unggah?

Tidak.

- Kalian lihat Vincenzo? - Tidak, kenapa?

Dia pergi selama sejam dan ponselnya tertinggal di sini.

Cami. Tenanglah.

Dia pasti memotret pemandangan di Amalfi.

Furio.

Kau melihatnya?

Tidak.

Bagaimana sekarang?

Entahlah.

Aku tak ingat betapa menyenangkannya bangun dengan seseorang di sampingku.

Jika kita menginginkannya,

ini bisa menjadi keseharian kita.

- Selalu berlibur? - Tidak.

Kita bisa berhenti hanya bertemu saat akhir pekan.

Mungkin tanpa anak-anak tidur di sebelah.

Vincenzo bisa mandiri sekarang.

Kau harus memikirkan dirimu.

Memikirkan kita.

Kau ingin tinggal bersama?

Irene,

saat bertemu denganmu,

aku menyadari masih ada satu hal yang bisa mengejutkanku.

Kehidupan sehari-hari.

Dan berpikir aku pernah sangat takut.

Jauh lebih takut daripada sekarang.

- Cami. - Hai, Irene, aku tahu kau di Sisilia,

jadi, aku tak ingin membuatmu cemas,

tetapi Vinz pergi pagi ini dan belum kembali.

Maaf, aku tidak bisa... Bisa tolong jelaskan?

Kami tak menemukannya.

Apa maksudmu tak bisa menemukannya? Vincenzo.

- Entah harus bagaimana. - Aku di Amalfi.

Vinz! Vincenzo!

- Kau melihatnya? - Tidak.

- Apa maksudmu tidak? - Bagaimana sekarang?

Ayo berpencar, ya?

Baik.

Aku akan ke sini.

- Aku tak enak badan. - Vinz!

Perhatian. Seorang anak tunanetra menghilang.

Namanya Vincenzo, rambutnya cokelat,

dia memakai kemeja putih dan kacamata hitam.

Silakan datang ke pelabuhan, jika ada informasi.

Vincenzo!

Vincenzo.

Vincenzo!

Vincenzo!

Di sini juga tak ada.

Vincenzo!

Sayang.

- Astaga. - Sedang apa Ibu di sini?

- Kami khawatir. - Dari mana saja kau?

Kau juga? Tak terjadi apa-apa.

Kenapa Ibu tak di Sisilia bersama Lucio?

- Dia juga mencarimu. - Lucio juga?

Kami sangat ketakutan.

Kenapa kau tak meneleponku? Kau tahu nomorku.

Astaga, aku akan menemukan jalannya.

Akan lebih lama, tetapi aku pasti pulang.

- Ini, aku membawa ponselmu. - Benar.

Ini, seharusnya ini kejutan.

Tidak, biarkan saja.

Itu hanya akan membuatnya merasa lebih buruk.

Kenapa sikapnya begitu?

Kenapa aku tak bisa berlibur dengan normal

tanpa semua orang mengkhawatirkanku?

Itu umpatan pertama yang kudengar darimu sejak aku mengenalmu.

Kau baik-baik saja?

Furio, kau juga? Kumohon, aku baik-baik saja. Berhenti menanyaiku.

Kau tahu sifat ibumu.

Dia bangun di pagi hari, membaca horoskopmu,

dan jika tertulis "ada masalah", dia panik.

Aku tahu. Sudah kuduga dari ibuku, tetapi tidak dari Camilla.

Aku tak mau bersama wanita yang menelepon polisi saat aku pergi sepuluh menit.

Hei, Vi...

Tahukah kau bahwa jantung paus biru

beratnya bisa mencapai 200 kilogram?

Apa hubungannya dengan itu?

Tak ada. Agar kau teralihkan.

Bisa berhati-hati? Kau membuatku takut. Tanganmu bisa luka.

Jika berkata, "Serahkan padaku," kau akan menggantikan apel ini.

Aku memahaminya.

Saat bertemu denganmu, aku butuh waktu untuk memahami cara menghadapimu.

Beri dia waktu.

Kenapa tidak makan malam dengannya? Kita bisa pergi dengan Hans.

Kau tak hanya pandai membual.

Vinz, hatiku sebesar paus biru.

- Harganya 50 euro. - Ambil ini.

- Aku mengenaimu? - Ya.

Aku sudah menantikan hari ini seumur hidupku.

Hari saat itik buruk rupa menjadi angsa yang indah.

Aku tahu sejak dahulu.

Aku tak pernah meragukan potensi estetikaku, tidak sedetik pun.

Aku tahu dalam sekejap,

tubuhku akan berubah menjadi pakan untuk wanita bernafsu,

makanan adiboga untuk nafsu seksual mereka yang tak terpuaskan.

Namun, aku merasa seperti orang bodoh memakai ini.

Aku senang kau mengatakan itu.

Gaya citah kurang cocok untukmu.

Yang ini.

Lepaskan peluitnya.

- Dan suatu hari... - Tidak, tunggu

- Dia berdiri, dan... - Ya, kayunya patah,

dia terjebak dengan satu kaki di bawah, satu di atas selama berjam-jam.

- Selama itu? - Ya!

- Apa? Kenapa? - Tak ada alasan.

- Apa? - Rebecca akan datang

dan aku berkeringat vodka melon.

Aku harus bagaimana?

- Pergilah. - Pergi?

- Ya. - Pergilah.

Aku akan berpura-pura menelepon dan mendekat.

- Bisakah? - Ya.

Berikan ponselmu, aku akan tampak lebih kaya.

- Apa? - Berikan ponselmu.

- Terima kasih. - Bagaimana dengan ini?

Aku menemukannya di meja tidur ayah Vincenzo.

- Akan kukembalikan. - Furio!

Ayo berdansa.

- Tidak. - Kenapa tidak? Sekali saja.

- Karena pria nakal membawa masalah. - Apa?

Pria nakal membawa masalah.

Ini yang pernah dikatakan seseorang tentang permen.

Percayalah. Ayo.

- Ayolah, sekali saja. - Baik.

- Setuju? - Setuju.

Hai, permisi, aku...

Rasanya seperti berada di restoran, sungguh.

Kau tak adil, ini tidak masuk hitungan.

Dengar, Vinz,

aku ingin mengatakan sesuatu.

Aku punya...

Ada yang bernyanyi di taman?

Kurasa begitu.

Lanjut ke bait berikutnya. Selamat ulang tahun!

- Selamat ulang tahun, Francesco! - Selamat ulang tahun!

Terima kasih. Namaku Vincenzo.

Vincenzo.

- Apa ini? - Selamat ulang tahun.

- Terima kasih. - Selamat ulang tahun.

Terima kasih, Semuanya.

- Terima kasih. - Selamat ulang tahun!

Mainkan sesuatu! Aku membawa seluruh klub untukmu.

Selamat ulang tahun, Vinz.

Terima kasih, Semuanya!

Sudah selesai.

Sulit dipercaya.

Nat, ambil sepotong kue, ini enak.

- Maaf. - Kau tersenyum?

Jadi, kau mau berperang?

- Kau yang mulai! - Tidak! Baik, aku menyerah.

Kau menyerah?

Aku tidak punya pacar.

Aku tak punya pekerjaan.

Tinggal dengan orang tuaku.

Aku di sini dan impianku ada di sana.

Dan di tengahnya, ada lava putih panas seperti di Lord of the Rings.

Namun, kau tak punya cincin itu, Vinz, karena kau bukan Frodo.

Tidak.

Tidak.

- Tidak. - Dan aku bukan Gandalf.

- Tentu bukan. - Dia...

Fu, dengarkan aku.

Kita temukan cincin itu bersama, ya?

- Terima kasih. - Sama-sama.

Kau tak melakukan itu.

Baiklah.

Semuanya.

Ayo, bangun.

Bangun, saatnya pergi ke pantai. Ayo, bangunlah.

Ayo, Semuanya.

- Ayo. - Ayah.

Aku tak tahu Ayah akan datang.

Selamat ulang tahun, Vincenzino.

Terima kasih.

Aku akan memperkenalkan Ayah pada Camilla. Cami.

Ya.

Senang bertemu denganmu. Camilla.

Dia orang gila yang memilih untuk bersabar denganku.

Dan aku ayah buruk yang berusaha menebusnya.

Roberto.

Irene. Aku ingin mengejutkan Vincenzo.

Kurasa kau mengejutkan semua orang.

Dia Lucio, partnerku.

Partner seperti pria 50-an yang mengalami andropause, tetapi tak apa.

- Senang bertemu denganmu. - Hai.

Aku akan membuatkanmu kopi.

- Selamat ulang tahun, Sayang. - Terima kasih, Ibu.

Ibu dan Lucio membelikanmu hadiah.

Benarkah?

Kurasa ini sepatu.

Ini sepatu kanvas.

Ayah membelikanmu hadiah.

- Namun, Ayah memberiku rumah. - Bukalah.

- Ini? - Kacamata pintar.

Mempermudah hidupmu.

Kacamata itu melihat warna, membaca papan...

Ini juga sangat nyaman, bagus untuk ke pantai.

Ya.

Dengar, bagaimana jika kita naik kapal bersama?

Kau yakin arahnya benar?

Jujur, aku tidak tahu.

Aku hanya...

- mengikuti instingku. - Baik.

Kau mau mencobanya?

- Ya, biar kucoba. - Baik.

- Aku harus ke mana? - Lurus saja.

- Lurus saja. Jangan belok. - Kau bisa berbelok.

- Agak ke kiri, agak ke kanan. - Secara acak.

Awas, ada lampu lalu lintas!

- Seriuslah. - Aku serius.

Jangan mengebut. Kita mengejar siapa, Vinz?

Bersulang untuk teman-teman hebat ini.

- Bersulang! - Bersulang!

Vinz, untuk 20 tahunmu.

Juga untuk Ayah, ini belum berakhir.

Kau tak akan bisa lolos. Ayah ingin kata sambutan.

Baik, mari bersulang

untuk kereta yang kebetulan kau naiki yang membawamu ke tempat yang tak terduga.

- Bersulang! - Bersulang!

Dan untuk yang turun di tempat yang salah.

Bersulang untuk Furio juga

karena Rebecca akhirnya memutuskan untuk menemuinya.

Kau bercanda?

Tidak. Dia kuundang makan dan bersedia.

Bisa tolong pegang ini sebentar?

Baik.

Dia menyelam?

Ayo, Furio!

Hebat!

Ceritakan tentang Hans.

Aku melihatmu pagi ini di jacuzzi.

- Kalian berciuman? - Ya.

Namun, itu ciuman yang terjadi setelah 3 gelas minuman.

Jelas tidak berarti baginya...

Aku melihatmu.

Jujurlah. Dari satu sampai lima bintang, berapa nilaiku?

Entahlah. Kau bukan hotel.

Aku tahu, tetapi melihatku, akankah kau berpikir,

"Seksi, aku akan menungganginya semalaman,"

"Manis, aku tak sabar mengenalkannya pada nenekku,"

atau "Alasan apa yang harus kukarang untuk kabur?"

Furio, dengar, bernapaslah.

Yang mana?

Boleh kuberi tahu sesuatu? Peluitmu sangat keren.

- Benarkah? - Tidak, itu jelek sekali.

Namun, manis melihat artinya bagimu.

Jimat keberuntunganmu.

Sayang sekali kau tidak memakainya karena seseorang yang tidak menyukaimu.

Kau sangat getir hingga perutku sakit.

- Dah. - Dah.

- Bersulang. - Dentingkan.

Terima kasih.

- Terima kasih. - Terima kasih.

Maaf.

Aku memesan piza pepperoni.

Ini peperoni, Nona.

- Dia benar. - Benarkah?

Itu peperoni.

- Bagimu, pepperoni itu salami, bukan? - Ya.

- Itu peperoni untuk kami. Itu enak. - Ya?

Jadi, seperti yang kukatakan, kami ke Yunani musim panas lalu.

Di kapal pesiarku.

Temanku Giorgio juga diundang.

Siapa Giorgio?

Armani.

Furio, kau keterlaluan.

Telepon dia.

- Sekarang? - Ya.

Benar, kenapa kau tidak meneleponnya?

Kudengar dia sedang berlibur. Dia temanmu, jadi...

- Mungkin kita bisa berenang di kolamnya. - Kumohon.

- Berenang. - Ya.

Kau tahu keadaannya. Dia Raja Giorgio.

Ada peragaan busana, semua hal di seluruh dunia.

Dia mungkin sedang makan malam.

Atau mungkin tidur.

Lagi pula, ponselku mati.

- Mati? - Benar. Mati.

Mati. Sayang sekali.

- Mati. - Ya, benar.

Sayang.

Sayang, jangan.

Dasar berengsek!

Furio.

Raja Giorgio?

Mustahil menahan tawa.

Teman-teman, aku harus pergi.

- Sekarang? - Ya.

Sayang? Ya.

Ya, terima kasih.

Aku tak mau hidangan pembuka.

Baik, dah, Sayang.

Makan malam lagi?

Ya, aku harus mengatur dua untuk malam ini.

Sampai nanti. Dah.

- Dah. - Dah.

- Dah. - Dah.

- Dah. - Dah.

Dah? Rebecca?

Maaf, Rebecca.

Aku hanya ingin bilang

kami akan pergi ke fyord naik sepeda besok pagi, dari sana kau bisa melihat

matahari terbenam terbaik di pantai Amalfi.

Aku ingin tahu maukah kau...

- Besok pagi saat matahari terbenam? - Bukan!

Benar, kami akan melihat matahari terbit.

Dengar, bisakah kau membayar hidangan mentahku?

- Aku harus membayar... Tentu. - Ya.

- Terima kasih. - Ya.

- Dah. - Dah.

Persetan dengan itu.

Sial.

Empat puluh lima menit.

Untuk apa?

Agar dia mengenalku dan mencampakkanku.

Aku juga harus mencampakkan kalian.

- Ayolah. - Aku diundang

ke pesta ulang tahun temanku, aku lupa.

Tengah malam di alun-alun?

- Baik. - Sampai nanti.

Aku tidak semenarik Hans,

tetapi aku agak lebih bisa diandalkan.

Sedang apa kau di sini?

Nat, aku tak tahu apa pun soal wanita,

tetapi aku tahu soal pria.

Ini tak seperti dugaanmu.

- Liburan yang menyebalkan. - Ya.

Baik, kami akan berbelanja sekarang. Sampai jumpa saat kau kembali.

Baik. Dah, Sayang.

Pakaianmu bagus.

Siapa tahu dia datang.

Furio, dia teman Hans, jadi, aku tak akan mengandalkannya.

Nona-nona.

Aku berhalusinasi atau kalian juga melihatnya?

- Kami juga melihatnya. - Nat, kau harus ikut kami.

Aku butuh orang untuk mentertawakan leluconku.

Nat.

Nat, kumohon.

Aku akan membayarmu.

- Kau akan membayarku? - Ya.

Ayo bersepeda.

- Tidak, kumohon. - Cami.

Hans bilang itu tempat indah yang tidak akan kita lihat lagi.

- Ayo. Ada apa? - Vincenzo bilang dia akan ikut.

Lalu, kenapa?

- Dia tak bisa melakukan itu. - Dia tak bisa, jadi, kau tak bisa juga?

- Kita tidak punya sepeda. - Hans, kau punya sepeda lagi?

Hai. Ya.

- Hai, Rebecca. - Hai, Furio.

Kau juga ikut?

Ya, tampaknya begitu.

Baik, ayo.

- Nat? - Ya?

- Tolong beri aku air, aku sekarat. - Tentu.

Berhenti.

Kita beruntung, ini hari yang indah.

Bulan Agustus di Amalfi, kau mengharapkan apa?

- Bisa bawakan ranselku? - Tentu.

Terima kasih, aku tak mau kulitku terbakar.

Sudah cerita soal pekerjaan di Kanada?

Aku ingin melakukannya malam itu, tetapi...

Kau sadar selalu mengakhiri kalimat dengan kata "tetapi"?

Ayo pergi bersama Vincenzo dan Roberto. Kita akan bersenang-senang.

Tidak, kau saja. Aku akan menemui teman.

Aku tak tahu kau punya teman di Amalfi.

Dia kolegaku.

Dia juga datang untuk berlibur.

Kau yakin semuanya baik?

Bagaimana jika aku menanyaimu?

Yang terakhir membayar minuman.

Ayo!

Ayolah, kau sudah berlari.

Aneh rasanya mabuk dengan orang tuamu.

Berkumpul juga terasa aneh.

Aku mau ke kamar mandi.

Kenapa Ayah pergi?

Ayah tak tahan, Vinz.

Ayah sangat takut tidak menjadi ayah yang baik

hingga akhirnya, ayah gagal menjadi ayah yang baik.

Adakalanya aku juga takut, tetapi aku tidak pergi.

Saat ingin melakukan sesuatu, aku berusaha semampuku

dan mengusahakan apa pun untuk mewujudkannya.

Aku tidak mencari rencana cadangan.

Ayah sangat merindukanmu.

Keadaannya sulit.

Ayah tahu.

Sepertinya Ayah tidak tahu.

Kau memakai aplikasi untuk menyunting foto, bukan?

Tidak.

Tidak.

Berat badanku turun 20 kilogram dalam tiga bulan.

Kukira mungkin hidupku akan menjadi lebih baik.

Namun, itu tidak terjadi.

Mungkin sebelumnya, cuma satu dari ribuan pria yang melihatku,

tetapi dia menyukaiku apa adanya.

Untuk segalanya.

Sekarang semua orang memang menatapku,

tetapi mereka menatapku karena aku cantik

dan mereka tidak memedulikan yang lainnya.

Seperti mantanku.

Apa yang dia lakukan?

Dia berselingkuh.

Ayo ke sana.

Namun, masa lalu tak sirna.

Bukan hanya kau yang ingin bersembunyi.

Kau jelas lebih gemuk.

Namun, kurasa kau tidak terlalu judes. Menurutku begitu.

Kau punya nomor teleponnya? Mungkin aku bisa...

Jangan pernah lakukan ini lagi.

Itu lebih baik.

Halo.

Kemarilah. Mereka punya anggur yang enak.

Di sini indah.

Ravello 2013.

Aku akan minum ini.

Maaf, aku masih bersama temanku.

Sampai nanti, ya?

Baik, dah.

Ayolah.

Hai, Cami, kami akan naik kapal dengan ayahku akhir pekan ini. Kau ikut?

Omong-omong, aku akan kembali. Kau sudah selesai berbelanja?

Aku ikut jika kau mau.

Hai, Sayang.

Kedengarannya menyenangkan. Kita bisa membicarakannya nanti.

Ternyata ini lebih lama dari dugaanku.

Nat mencoba seribu gaun,

tetapi dia tidak suka satu pun,

jadi, ini agak sulit, kami agak jauh.

Kurasa lebih baik jika kita bertemu di rumah nanti.

Bagaimana?

Cium.

Furio.

Cepatlah. Ayo.

Mudah bagimu mengatakannya.

Kau mau berfoto?

Ya, tentu.

- Berdiri di sini, cahayanya bagus. - Maksudku, kau memotretku.

- Jadi, aku akan... - Ya.

Tentu, akan kupotret.

Mundurlah.

Jembatannya juga harus terpotret.

Vertikal, atau tak bisa kuunggah nanti.

Jembatannya horizontal, jika kupotret vertikal...

Berbaringlah di tanah.

Jadi, aku harus...

- Tentu. - Baik.

Kau tampak cantik. Ini.

Itu buruk.

Ini tak bisa kuunggah.

Potretlah sendiri.

Apa?

Lakukan saja sendiri, jika tidak suka fotoku.

Apa masalahmu?

Aku punya banyak masalah.

Masalah terbesarku adalah selalu menyukai jalang.

Itu bukan salahmu. Itu masalahku.

Aku melakukan segalanya agar kau menyukaiku.

Lihat apa yang kupakai.

Aku tak pernah memakai pantofel dan kita bersepeda!

Semua ini demi wanita jalang sepertimu. Ayo!

- Apa-apaan ini? - Hei.

- Jangan ganggu aku. - Fotonya bisa kau unggah, itu bagus.

Kau bisa...

Furio, ada apa denganmu?

Sudah kubilang jangan mengacaukannya. Pestanya besok.

Furio akhirnya bernyali, dan kau mengkhawatirkan pesta?

Ya.

Baik.

Itu yang membuatmu kecewa.

Kau tak memedulikan siapa pun.

Nat, aku tak bisa menyelesaikan masalahmu.

Mungkin ciuman itu lebih berarti bagimu daripada aku. Aku bisa apa?

Sayang?

Lucio?

Astaga.

Kau melewatkan sesuatu yang sangat bagus.

Namun, aku senang kau tidak di sana

karena bahkan di pesta lajangku, aku tidak minum sebanyak itu.

Kepalaku berputar seperti karnaval.

Namun, bukan hanya aku.

Roberto dan Vincenzo juga minum.

Dan mereka tertawa.

Sayang, kau di mana?

Lucio?

- Furio? - Apa?

Apa Rebecca mengusirmu?

Kau bisa tahu perasaan orang dari posisi duduk mereka?

Berikan kacamata hitammu. Ayo pergi.

- Aku sedang tak ingin. - Ayo, percayalah padaku.

Baik, tetapi aku akan ganti baju. Ini membuatku merasa bodoh.

- Dia bilang apa? - Entahlah.

Aku akan melepas selotipnya. Itu membuatku kesal.

Tidak, biarkan. Pakai kembali kacamatanya.

Jika tetap di sampingku, kau tak akan menabrak, percayalah.

Kau hanya perlu fokus pada hal lain.

Namun, apa hal lainnya?

Fu, dengar, sejak bertemu denganmu,

kau terobsesi dengan fakta kau tak bisa menemukan gadis yang tepat,

bahwa dia tak ada, kau pecundang.

- Itu fakta. - Baik.

Namun, bagaimana caramu mencarinya?

Bagaimana? Seperti semua orang.

Benar, kau mencari seseorang yang enak dilihat.

- Jadi, aku harus apa? - Cobalah fokus pada indra lainnya.

Kecuali yang termudah.

Lagi pula, metodemu tidak berhasil.

Baik, tetapi jangan mengejekku.

Hati-hati.

Jangan khawatir, aku akan tiba dua menit lagi.

Apa yang dikatakan suara wanita itu?

Wanita apa?

Kau tak paham. Wanita bersuara indah baru saja lewat

dan kau tak menyadarinya.

Tahukah kau apa saja yang bisa kau pahami

dari nada suara seorang wanita?

Tidak.

Banyak yang bisa kau pahami. Jika gagap, dia tak percaya diri.

Dari nadanya, kau bisa tahu dia bahagia atau sedih.

Dari intonasinya, kau bisa tahu dapatkah kau mengandalkannya.

Jika dia mengutarakan perasaannya tanpa mencari kata yang tepat...

Sangat puitis, tetapi aku tidak punya bakat ini. Kau punya.

- Namun, itu tidak benar. - Hai, Semua.

Hai.

Biarkan aku menciummu.

Beri tahu Camilla dia bisa menyimpan sepedanya sampai akhir liburan.

- Sepeda? - Ya, sepeda.

Yang dia bawa untuk pergi dengan anak-anak.

Sepeda apa?

Itu sesuatu yang tidak bisa kita lakukan bersama.

- Lalu, kenapa? - Aku tahu kau akan merasa bersalah.

Namun, kau tetap bisa memberitahuku.

Beri tahu aku, Cami. Karena hari ini soal sepeda, besok ada hal lain lagi.

Haruskah kita beromong kosong?

Kau benar, aku salah. Aku bisa memberitahumu.

Namun, kau selalu berpura-pura semuanya normal,

padahal tidak.

Maaf.

Jika ingin bersama, kita harus menceritakan segalanya.

Kau benar. Kita harus menceritakan segalanya.

Seorang profesor dari universitas memintaku menjadi asistennya.

Untuk meneliti.

Namun, itu berarti setahun lagi di Kanada.

Aku ingin memberitahumu, sungguh. Aku berkali-kali mencobanya,

tetapi kau senang dengan pekerjaan yang Irene carikan untukmu,

dan kau merencanakan semuanya,

tetapi kau lupa menanyakan satu hal mendasar.

Apa pendapatku.

Kau tak mau berkomitmen, Cami?

Sesuatu tanpa pengorbanan, cerita tanpa...

Itu yang kau katakan sejak tiba di sini.

Selama kita terpisah, semuanya baik-baik saja, tetapi sekarang...

Aku hanya tidak ingin semuanya sudah terencana.

Aku tidak membayangkan kita saat sudah tua.

Aku tak mau tahu di mana kita, apa yang akan kita lakukan.

Karena itu berarti kita belum hidup semenit pun,

bahwa kita mengikuti jalan yang sudah ditentukan,

dan aku tak mau hidupku seperti itu.

Kau tahu aku benci hal yang tidak terduga.

Itu membuatku panik.

Namun, setidaknya itu memaksamu berubah arah,

untuk menanyakan apa yang kau inginkan.

Benarkah kau menginginkan itu?

Benarkah apartemen yang kau takuti?

Kenapa kau tidak jujur padaku?

Kenapa tidak mengatakannya? Kau takut padaku.

"Kau ingin tahu pendapatku? Sikapmu tidak adil.

"Sudah berbulan-bulan aku tak mencium seseorang karena..." Tidak.

"Malam itu, aku membuka diri denganmu." Tidak, itu tidak berhasil.

"Semuanya hanya permainan bagimu." Itu saja.

"Itu bukan permainan."

- "Itu yang ingin kukatakan padamu." - Apa yang ingin kau katakan?

Bukan apa-apa, aku mencari Hans.

- Dia akan datang nanti. - Baik.

Masuklah, akan kubuatkan kopi.

Baiklah.

Hati-hati.

Aku orang Jerman, tetapi bisa membuat kopi yang lebih enak daripada orang Napoli.

Ya.

Ada bagian yang hilang.

Dia tampak bahagia.

Ya, itu mantan pacarnya...

Terima kasih.

Mereka bertemu di pesta pantai.

Dan mereka tinggal bersama di Berlin bulan berikutnya.

Mereka tak bisa dihentikan.

Aku tidak pernah melihat Hans lebih bahagia dari itu.

Lalu suatu hari, Hans bangun dan dia tak ada.

Semua barangnya masih ada, tetapi dia tak ada.

Kenapa dia pergi?

Mereka mengira keajaiban musim panas bisa menjadi keseharian mereka.

Namun, itu tidak berhasil.

Sejak hari itu, Hans tidak membiarkan siapa pun memasuki dunianya lagi.

Dia selalu bilang musim panas bagaikan penipuan

yang membuat segalanya tampak lebih baik.

Hei.

Pernikahanku juga berasal dari cinta musim panas.

Namun, kami beruntung.

Musim panas itu masih bertahan.

Sudah 20 tahun.

Pernah merasa tersesat di persimpangan, tak tahu harus ke arah mana?

Itulah yang kurasakan dengan Camilla.

Itulah yang terjadi antara ibumu dan aku.

Kami berniat pergi ke Sisilia, tetapi dia sangat gelisah.

Jadi, kuputuskan untuk datang ke Amalfi.

Aku berniat melamarnya.

- Kau ingin menikahi ibuku? - Ya.

Dan aku ingin melakukannya di sini.

Aku ingin dia berbagi momen ini denganmu.

Omong-omong,

jangan membicarakan patah hatinya orang tua.

Mari bicarakan dirimu saja.

Kenapa tidak ada yang memercayaiku?

Aku lebih memahamimu daripada dugaanmu.

Kau punya banyak impian.

Aku juga punya banyak, saat seusiamu.

Aku harus merelakan banyak impianku untuk mengurus Vincenzo,

tetapi aku tak punya pilihan karena dia putraku.

Semuanya berbeda bagimu.

Hidup bersama Vincenzo itu sulit. Itu jalan yang sulit.

Hanya sedikit orang yang bisa

memilih untuk hidup dengan orang buta.

Entah apa aku salah satunya.

Vincenzo sudah cukup menderita saat ayahnya pergi.

Jika kau memutuskan untuk mendampinginya,

tetapi kemudian memutuskan untuk mundur karena alasan apa pun,

itu akan sulit diterimanya.

Dan kau akan sangat menyesalinya.

Lepaskan semua keraguan dan ketakutan. Ayolah, kau bisa.

Jika Vincenzo merasa tak dipercaya, kalian tak bisa ke mana-mana.

Aku tahu aku bukan contoh yang baik, jika menyangkut memercayai.

Alasanku adalah aku seorang ibu.

Namun, jika kalian tak saling percaya, semuanya akan hancur.

- Vincenzo. - Lucio.

Dia bilang mereka akan menyelam.

Menyelam?

Keren sekali!

Indah!

Ayo.

Jadi, tali bahu satu dan dua.

Baik.

Jika Ibu melihatku...

Jika dia melihatku...

Jadi, ini regulatornya.

Ulurkan tanganmu. Itu dia.

Selalu taruh di mulutmu, jangan pernah melepaskannya.

- Seperti ini? - Benar, seperti itu.

Bagus. Baiklah.

- Kau baik? - Ya.

Ya. Namun, sedalam apa airnya?

Delapan atau sepuluh meter.

Ingat apa yang kita bicarakan.

Salto ke belakang, kita meluncur ke air, dan tak akan ada kejadian buruk.

- Ya. - Baik.

Kau tahu?

Ini bukan hanya soal pendapat ibumu.

Semua orang yang logis akan berpikir apa yang hendak kita lakukan ini

adalah hal yang agak berbahaya.

Itu alasanku ingin melakukannya.

Kau siap? Ayo.

Kacamata renang.

Baiklah.

Akan kuhitung sampai tiga.

Siap?

Satu, dua, tiga.

Luar biasa.

Aku bersumpah.

Ada kesunyian yang luar biasa.

Aku bisa merasakan tekanan air laut,

aku bisa merasakan suhunya turun.

Itu gila.

- Tidak takut? - Sama sekali tidak takut.

Vincenzo.

Sayang.

Kau tak apa?

Aku merasa luar biasa. Ini salah satu hal terbaik yang pernah kulakukan.

Aku khawatir seharian.

Apa kau gila? Mengajak Vincenzo menyelam?

Ibu, jangan mulai. Semuanya baik-baik saja, jangan khawatir.

Kau tahu betapa cemasnya aku dan kau melakukan ini padaku?

Namun, semuanya baik-baik saja.

Aku hanya ingin dia mencoba hal baru.

Dia bukan putramu. Kau tak berhak menentukan apa yang tepat untuknya.

Tak ada yang boleh menentukan apa yang tepat untuknya.

Kita bicarakan nanti.

Kau tak bertanggung jawab. Kau membuatnya cemas.

Ayah juga? Kami sudah sangat berhati-hati.

Bagaimana jika aku ingin mengambil risiko?

Tidak ada masalah.

Tidak dengan mengorbankan ketenangan orang-orang yang menyayangimu.

- Lucio memutuskan untuk semua orang. - Aku yang memutuskan, mengerti?

Aku tak butuh siapa pun untuk memutuskan untukku.

Seperti aku tak butuh kacamata yang mengingatkan apa yang tak kumiliki.

Faktanya, Ayah tak pernah menerima fakta bahwa aku buta.

Dan hadiah Ayah hanya mengingatkanku.

Hai, Cami.

Ini hari yang sangat istimewa bagiku.

Karena aku mengerti betapa pentingnya merasa bebas,

untuk melakukan keinginanmu tanpa khawatir menjadi beban bagi orang lain.

Aku tahu betapa pentingnya pekerjaan itu bagimu,

jadi, aku ingin kau menerimanya.

Karena setelah ini, akan ada banyak hal lain yang ingin kau lakukan,

yang membuatku hanya menjadi rintangan.

Aku akan bertahan, seperti biasanya.

Aku selalu menemukan cara untuk melakukan semua hal.

Dan aku terbiasa menabrak hal-hal yang menyakitkan.

Aku yang terburuk dalam hubungan.

Semua hubunganku berakhir dengan buruk.

Selalu.

Namun, kisahmu bisa memiliki akhir yang berbeda.

Sudahlah.

Terpisah 20,000 kilometer?

Kau tahu apa yang dibutuhkan untuk pergi?

Aku melakukan semua yang kubisa dengan Camilla, tetapi ternyata sia-sia.

Di mana bisa kutemukan gadis seperti dia?

Fu, kau mendengarkanku?

Vinz, aku tahu apa?

Aku tidak tahu apa-apa tentang hubungan.

Apa aku meminta nasihatmu tentang mendapatkan SIM?

Lalu, kenapa kau meminta nasihat cinta padaku?

Yang kutahu, jika menghitung hari-hari yang kalian lewatkan bersama,

jumlahnya hanya sebulan dan itu sangat singkat.

Bagiku,

itu lama, dan aku mau membayar untuk mendapatkan itu,

tetapi itu waktu yang singkat untuk orang normal.

Beri diri kalian waktu.

Biarkan dia mengenalmu tanpa khawatir, tanpa terburu-buru, tanpa rencana.

Vinz, kau kesal jika seseorang khawatir

saat kau terjun dari tebing, atau jika kau tak menjawab telepon.

Andai aku punya seseorang yang mengkhawatirkan tindakan bodohku.

Kau beruntung.

Bisa tinggalkan aku sebentar, Fu?

Hei.

Terima kasih.

Semuanya baik, Nona?

Ya, aku baik, terima kasih.

Jangan membuatku khawatir, Nona. Kau sebaya dengan keponakanku.

Sedang apa di sini sendirian?

Lalu, kau?

Nona, aku yang menerangi Amalfi.

Aku sudah 50 tahun menjadi tukang listrik.

Namun, kurasa tukang listrik tidak cukup

untuk membuat senyummu bersinar.

(68 SUKA, 6 KOMENTAR)

(44 SUKA, 3 KOMENTAR)

Baiklah.

Secara keseluruhan, liburan ini menyenangkan.

Vincenzo dan Camilla ingin putus tanpa alasan,

Irene dan Lucio saling membenci

dan kau membayar pembunuh untuk menyingkirkan Hans.

Namun, setidaknya bagiku,

mengejutkannya, tak ada yang tertarik.

Kau tahu apa kejutan yang sebenarnya?

- Apa? - Kau bisa makan udang raja itu

seperti orang normal.

Maaf, aku terlambat.

Aku akan tinggal sejam lagi, membersihkan dapur.

Kau yang pilih, aku tidak keberatan. Maaf.

Jangan berekspresi seperti itu. Aku tahu kau marah.

- Pergilah ke meja. - Terima kasih.

Bagaimana, Kawan-kawan? Enak?

Kau mau tambah?

Kau baik-baik saja?

Tunggu, biar kutebak.

Kau menggigiti kukumu saat berbohong,

kau membuat banyak lelucon yang tak dipahami orang

- dan kau memelihara ikan mas. - Apa?

Bukan apa-apa.

Itu kekuatan super temanku. Aku tak punya...

Sial. Aku melakukan...

- Jangan khawatir. - Aku...

Tebakanmu tidak ada yang benar.

Namun, kau bisa mencobanya lagi jika mau.

Aku Anna.

Furio.

Hei. Aku tahu ini sudah malam, tetapi aku banyak memikirkan ini.

Maukah kau datang ke alun-alun saat tengah malam? Kumohon.

Aku akan menunggumu.

Bukan aku.

Astaga.

Mati lampu. Sakelarnya ada di basemen.

Jangan jatuh dari tangga.

- Kau tidak ikut? - Tidak.

Kurasa lebih baik kau pergi dengannya.

- Baiklah. - Ambilkan penerang.

Tunggu aku.

Astaga, aku sangat gugup.

Jangan khawatir.

Listrikmu juga padam?

Listrik di seluruh kota padam.

Ada pemadaman.

- Vinz. - Cami.

Listriknya padam?

Tebak siapa pelakunya.

Sekarang kita impas.

Aku ingin menunjukkan aku memercayaimu.

- Ayo. - Ke mana?

Tempat aku bersepeda dengan yang lain.

Namun, kau bilang jalannya berbahaya.

Aku tahu.

Ayo.

Boleh aku minta bagianku?

Bagaimana kau menemukanku?

Aku punya sumber informasi.

Pria aneh berambut keriting?

Hati-hati, perhatikan langkahmu. Jangan jauh-jauh.

Bukankah seharusnya kau di pesta?

Ya.

Namun, aku mulai menyadari apa yang penting bagiku.

Hati-hati, jalannya menyempit.

Dengarkan suara laut.

Apa yang kau lakukan?

Aku mencintaimu.

Aku juga mencintaimu.

Tidak, aku lebih mencintaimu.

Tidak mungkin.

- Aku lebih mencintaimu. - Tidak.

Ya.

- Ini bukan soal sepanjang apa lidahnya... - Furio.

Hai, Ibu.

Percayakah Ibu jika kubilang ada sesuatu yang tak Ibu ketahui tentangku?

Agar punya kenangan, terkadang aku membuat rekaman

supaya aku bisa mendengarkannya saat ingin

dan Ibu tak pernah sadar aku mencuri suara Ibu.

Sekarang Ibu tahu hampir segalanya tentangku.

Pernah merasa tersesat di persimpangan, tidak tahu harus ke arah mana?

Itulah yang kurasakan dengan Camilla.

Kami berniat pergi ke Sisilia, tetapi dia sangat gelisah.

Jadi, kuputuskan untuk datang ke Amalfi.

Jadi, kuputuskan untuk datang ke Amalfi.

Aku berniat melamarnya.

- Kau ingin menikahi ibuku? - Ya.

Dan aku ingin melakukannya di sini.

Aku ingin dia berbagi momen ini denganmu.

Satu hal lagi.

Aku juga payah dalam hubungan.

Namun, bukan berarti kita salah.

Aku bahkan tidak pandai memberi saran,

jadi, aku merasakan beban tanggung jawab setelah melakukannya.

Namun, aku punya firasat Ibu menunggu alasan

untuk menghindari mengawali hidup barumu.

Karena hal-hal baru menakutkan,

tetapi bukan karena Ayah, tetapi karena hubungan Ibu dengan Lucio

terasa sangat besar bagi Ibu

hingga Ibu mencari alasan untuk menghindarinya.

Itu alasan Ibu menoleh untuk melihat apa yang tertinggal,

alih-alih membiarkan masa depan mengejutkan Ibu.

Aku sayang Ibu.

AKU AKAN PULANG. MOBIL KUTINGGAL. AKU BISA MENCARI JALAN. LUCIO.

- Irene. - Roberto.

Kau tahu kapan feri berikutnya berangkat dari Amalfi?

Aku tidak tahu.

Kenapa kau tak ikut kami ke Capri akhir pekan ini?

Aku, Vincenzo, dan kau.

Apa...

Kau tak bisa datang ke sini dan mengacaukan semuanya.

Aku tak menyangkal menanyakan diriku layakkah mencobanya lagi,

tetapi aku tak mau kembali.

Masa lalu harus tetap menjadi masa lalu.

Kau tak bisa menghapus sepuluh tahun dalam sepekan. Ayolah.

Kau tahu?

Kukira aku tidak pantas.

Bahwa aku tidak bisa membahagiakanmu.

Lalu seseorang datang dan menyadarkanku bahwa aku tak buruk,

bahwa masalahnya tak selalu aku,

bahwa kami bisa menemukan solusi bersama.

Mungkin setelah usiaku 50 tahun, aku juga bisa bahagia.

- Maaf, aku harus pergi. - Aku akan mengantarmu.

Lebih cepat, ferinya akan segera berangkat!

Irene.

Semoga berhasil.

Tolong tiketnya.

- Maaf, tak ada. Izinkan aku lewat. - Tidak bisa.

Izinkan aku lewat, ini mendesak. Akan kubayar di dalam. Lucio!

- Kubilang izinkan aku lewat. Lucio! - Tidak bisa!

Lucio, Sayang.

Pagi ini, saat aku bangun dan kau tidak ada...

Apa kalimatnya?

Andai bangun bersama

adalah keseharian kita.

Itu harapanku.

- Bu. - Aku juga berharap begitu.

- Bu! - Ya?

Dia harus ikut aku.

Jangan khawatir, aku akan mengurusnya.

Bu.

Aku harus memintamu meninggalkan kapal.

Ayolah, hentikan.

Astaga. Itu tidak masuk akal.

- Ada undakan. - Aku tahu.

Bukankah lebih baik berpakaian?

Ya, ini ide yang buruk.

Hati-hati.

- Kau terluka? - Aku hampir mati.

- Kepitingnya hilang? - Kepiting? Bagaimana bisa?

Patung itu.

Apa ini?

Kurasa seseorang menukarnya dengan sesuatu yang lebih berguna.

Seperti apa?

Tiket pesawat ke Kanada.

Untukmu, ini satu arah.

Furio!

- Kau siap? Katakan kapan. - Ya.

Baik. Mulai.

Bagus. Letakkan kakimu di sana.

Jangan takut, sepedanya bergerak sendiri.

Baik.

- Seperti itu, bukan? - Baik.

Itu karena kau kehilangan keseimbangan.

Tegakkan punggungmu.

Lurus di sini, semua beban di tempat duduk.

- Baik. - Baik.

- Jangan pernah lepaskan. - Aku bisa.

Tidak apa-apa, di depan aman.

- Kau siap? - Ya.

- Aku akan melepaskan. - Tidak, Cami. Tunggu.

- Baik, aku bisa. - Ayo!

- Hati-hati, ada pagar tanaman di kiri. - Baik.

Baik, rem.

Sekarang cobalah kembali sendiri.

Teruslah berputar. Ada dinding di kanan.

Baik.

Ayo! Kemarilah.

Lurus saja.

Teruskan.

- Seperti itu? - Ayo.

- Kau akan pergi ke Kanada? - Ya.

Hanya akan ada sedikit air yang memisahkan kita.

Apa maksudmu?

- Kapan kau akan pulang? - Entahlah, kita lihat saja nanti.

Tidak ada perubahan rencana kali ini. Vancouver sangat dingin.

Sebenarnya aku sangat bahagia untuk mereka.

Ibu bahagia untukmu. Maaf.

Aku tidak enak badan.

- Astaga! - Apa kataku?

Tidak lagi.

Kita harus melakukan manuver Heimlich.

-- Diterjemahkan oleh Sheilla Mahersta -- (Ripped/Edited By *Coffee_Prison)

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.