All language subtitles for Fear.2024.x264.WEBRip-DL-HD-IND-Indonesian

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Bangun! Bangun!

Bangun!

Hei! Kau! Bangun!

Bangun! Bangun!

Dia punya kamar sendiri dan aturan sendiri.

Hei! Bangun! Bangun!

Hai bibi! Hai paman!

Hai! -Hai!

Akhirnya kau bangun.

Sayang, hari ini aku tidak siapkan sarapan.

Maukah kau makan sereal?

Baik, Bibi.

Baiklah.

Panggil aku jika butuh sesuatu.

Baik, Bu.

Kurir, Bu.

Benarkah? Apa itu?

Aku tidak tahu, Bu.

Terima kasih, Bu.

Ada di sini, di tempat aku meletakkannya.

Ke mana perginya?

Hilang ke mana mangkuk yang ada di sini?

Tadi ada di sini.

Tidak ada yang datang ke sini.

Apakah kau melihat Sampath? -Makanlah.

Jangan lakukan itu.

Hei!

Apakah kau melihat Sampath?

- Apakah kau melihat Santhosh? - Makanlah.

Jangan lakukan itu. Makanlah.

Hei! Makan dulu.

Di sana juga. Letakkan gelasnya di sana.

Kau tidak bisa melihat.

Hei! Makanlah!

Berapa kali aku harus memberitahumu?

Sampath, kau bilang tidak akan pernah meninggalkanku, kan?

Ke mana kau pergi?

Kheer? -Ya, Bibi.

Aku saja.

Bibi, aku akan belanja dengan Bindu hari ini.

Baiklah, Sayang.

Bagaimana dengan kami?

Aku selalu bersama kalian, kan?

Ya, benar.

Tapi kau pergi belanja dengan Bindu. -Biarkan saja.

Kita akan pergi nanti.

Datang segera!

Dadah!

Dadah! -Dadah!

Apakah kau melihat Sampath?

Apakah kau melihat Sampath?

Apa yang akan kau berikan jika aku beritahu?

Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak beritahu?

Dengarkan aku. Pergilah dari sini.

Kau dimasukkan ke sini oleh Sampath.

Jangan percaya siapa pun.

Sindhu, berhenti.

Berhenti, Sindhu.

Makanlah.

Sindhu!

Ibu, aku tidak mau makan. Aku mau bermain.

Sindhu!

Kalau kau tidak makan, hantu akan datang.

Kalau kau tidak makan, hantu akan datang.

Ya! Itu benar-benar ada.

Kalau kau tidak mendengarku atau makan, hantu itu akan datang.

Aku akan mendengarkanmu dan aku akan makan.

Bagus sekali!

Ibu, aku takut pada hantu. Bilang padanya supaya tidak datang kepadaku.

Aku akan memberitahunya.

Gigitan terakhir.

Ayo.

Kita main, ya?

Ayo.

Hai!

Hai!

Namaku Bindu, ini saudaraku Bhanu.

Namaku Sindhu.

Kami baru di sini.

Kami tidak punya teman.

Aku sudah lama di sini, tapi juga tidak punya teman.

Maukah kau berteman denganku?

Baiklah.

Oke.

Aku akan mengenalkan saudaraku kepadamu.

Baiklah.

Ayo, kita main.

Syukurlah.

Akhirnya kita belanja juga.

Ayo! Ayo!

Ayo! -Aku datang.

Ada apa?

Tidak ada.

Ayo..

Lihat ini.

Bagus!

Halo!

Ayo lihat apa yang ada di sana.

Bagaimana yang ini?

Bagus!

Hei! Yang itu kelihatan bagus.

Yang ini! -Pink!

Tunggu!

Ya!

Mari coba baju lain.

Tidak! Cukup!

Kenapa?

Bajunya keren sekali.

Kau mencegahku belanja lebih banyak.

Bu, ada apa?

Bu, ada apa?

Kau takut pada serangga kecil?

Dia takut pada serangga.

Ada apa? Kenapa lama sekali?

Tidak ada.

Tasnya jatuh, jadi aku harus membereskannya.

Baiklah, ayo pergi.

Apa? Ada apa?

Kenapa kau melakukan itu?

Ada apa?

Ada apa di sana?

Tidak ada.

Aku merasa ada yang lewat di belakang mobil.

Itu saja!

Kau menyembunyikan sesuatu dariku.

Katakan padaku apa itu. -Tidak ada.

Hei! Kau di sini? -Ayo, kita main.

Tidak, aku tidak mau... -Berdiri! Kau harus main.

Berdiri! Tidak! -Aku harus cari Sampath.

Ayo, kau akan tahu setelah kita mulai main.

Aku harus pergi...

Tidak! Kau harus main dengan kami. -Aku harus pergi.

Kau harus main.

Bu, aku bawa paket untukmu.

Bu!

Maaf, Bu!

Maaf!

Suadari, kita main apa?

Ayo main petak umpet.

Aku takut main petak umpet.

Tidak ada yang perlu ditakuti. Mengapa kau selalu takut?

Kita bermain siang-siang.

Ayo main yang lain saja.

Tidak, aku suka permainan ini.

Baiklah, kau saja.

Ayo, panggil teman-teman.

Dua... Tiga... Empat... Lima...

Enam... Tujuh... Delapan... Sembilan...

Aku datang!

Apakah semuanya sudah bersembunyi?

Di mana kalian semua?

Hei! Shruti, keluar!

Surya, keluar!

Kenapa dia tidak menemukan aku dulu?

Jyothi, keluar!

Di mana sisanya?

Aku datang!

Mungkin mereka akan segera kembali?

Di mana Raji?

Raji, keluar!

Berhenti! Berhenti!

Kau harus minum obat.

Aku tidak mau! -Harus.

Aku tidak mau.

Jika dokter tahu, dia akan memarahimu.

Hanya satu! -Tidak! Tidak bisa begitu!

Kau harus meminumnya!

Tidak!

Berhenti!

Berhenti!

โ€” Situs Bonus Melimpah โ€” โ€” Aman , Nyaman , Pasti Bayar โ€”

WinJos > pasti Win , Jos Wede nya Kunjungi ( https://super.winjos.today )

Aku pergi ke kota lain untuk urusan kerja.

Aku pergi karena tidak ada pilihan lain.

Apakah aku harus di sini tanpamu selama seminggu?

Jangan bicara begitu. Hanya seminggu.

Bagimu, seminggu itu waktu yang singkat,

tapi bagiku, itu cukup lama.

Bisakah aku ikut denganmu?

Tidak, ini perjalanan bisnis.

Cobalah video call aku kapan pun bisa.

Hei, jangan begini.

Pergilah belanja dengan Indu.

Tonton berbagai film.

Ada keluargamu di sini, kan?

Lagi pula, tidak ada jaringan di sana.

Aku akan menelepon jika aku bisa.

Jangan khawatir, bahkan teleponmu juga tidak akan masuk.

Oke?

Oke, Sampath. -Gadis yang baik.

Ayo.

Berpisah darimu juga sulit bagiku.

"Nomor yang kau hubungi sedang tidak aktif."

"Silakan hubungi kembali nanti."

Film horor membuatku takut, Kak. Aku tidak mau menontonnya.

Aku rasa itu menarik.

Karena aku melakukan hal-hal yang kau suka, kau juga harus melakukan hal yang aku suka.

Temani aku.

Tidak, Kak.

Aku takut. Aku mau tidur.

Duduk.

Kalau orang tua kita tahu, mereka akan memarahi kita.

Lepaskan aku, Sindu.

Lepaskan aku.

Sepertinya Sindu yang berteriak.

Benarkah?

Apa yang dia lakukan sekarang?

Ayo kita periksa.

Ayah, dia mencekik leherku.

Sindu, berapa kali sudah aku bilang jangan nonton film malam-malam?

Jangan mengadukan aku.

Maaf, Ayah. Aku tidak akan mengulangi ini lagi.

Kalau kau ulangi lagi, aku tidak akan memaafkanmu.

Aku akan cabut sambungan TV-nya.

Baik, Ayah.

Ayo! -Ayo!

Tidur!

Gadis yang baik.

Tidur!

Tidur! Oke?

Selamat malam!

Ayah, apakah "hantu" itu nyata?

Tidak!

"Hantu" itu tidak ada.

Tapi Ibu bilang dia ada.

Selamat malam!

Jangan khawatir.

Tidak ada "hantu."

Tidur! Aku akan tetap di sini.

Tidur.

Baa..!

Aku melihat Sampath.

Aku sudah menduga. -Orang gila! Pergi sana!

Tidak ada apa-apa! Ayo pergi!

Ada apa? Kenapa kau melakukan itu?

Aku pikir itu orang lain.

Orang lain?

Siapa lagi yang tinggal di rumah ini selain kita?

Aku tidak tahu, Paman.

Aku merasa ada orang lain di rumah ini.

Apakah itu hantu?

Atau pencuri?

Tidak... tidak.

Akhir-akhir ini kau sering merasa takut.

Ya, aku juga memperhatikan itu.

Sudah cukup!

Pergi dan istirahatlah.

Baik, Paman.

Aku akan memeriksa seluruh rumah.

Baiklah, periksa.

Apa yang terjadi?

Aku tidak tahu.

6 x 1 = 6.

Sindu, pacarku, akan bergabung di kelas ini hari ini.

Kita bisa ngobrol dengan senang hati.

Bolehkah aku masuk, Bu?

6 x 5 = 30.

Ya, masuklah.

6 x 6 = 36.

6 x 7 = 42.

Hai! -Hai!

Namaku Sampath. -Namaku Sindhu.

Kau kelas berapa?

Aku kelas dua SD.

Pelajaran hari ini selesai.

Ingat, datang besok sesuai jadwal.

Oke? Kalian bisa pulang.

Sampai jumpa, murid-murid.

Terima kasih, Bu.

Sampai jumpa, Bu.

Sampai jumpa!

Aku tidak akan datang ke kelas besok.

Sampai jumpa, Bu.

Bawa pensilku besok, ya.

Kak! Kakak!

Anak baru itu menyapaku duluan.

Sekarang dia temanku.

Ucapan "hai" saja tidak otomatis membuat seseorang jadi temanmu.

Mereka baru bisa menjadi teman jika minat dan selera bermain kalian sama.

Tidak apa-apa. Sampath adalah temanku. Sudah itu saja!

Baiklah, terserah.

Kau membawaku ke mana, Sampath?

Kejutan!

Beri tahu aku apa itu.

Kejutan itu untuk mata, bukan telinga.

Kita ke mana?

Oke!

Lihat!

Apa itu?

Rumah ini... -Iya! Ini rumah kita.

Kau, aku, ibu, ayah, dan semua sepupu kita akan tinggal di sini.

Benarkah? -Iya!

Kau suka? -Sangat indah.

Oke, ayo pergi.

Di mana bola itu?

Kakak, karena tidak ada yang tinggal di sini, mungkin ada makhluk menyeramkan.

Kau akan merasa takut, dan mungkin membuat orang lain ikut takut.

Hei! Tempat ini sangat indah. -Iya, tempat ini sangat bagus.

Kak, aku takut. -Kita pergi dari sini.

Oke, cari di mana bola itu dan bawa ke sini. Lalu kita pergi.

Kita bisa main petak umpet di sini.

Iya, Indu.

Kita bisa bermain di sini.

"Itu adalah hari-hari manis"

"Hati lembut"

"Pikiran polos"

"Mata berbinar"

"Usia itu adalah anugerah"

"Sebuah persahabatan dimulai"

"Itu adalah kau dan persahabatanmu dalam mimpi, tahu?"

"Tahu?"

"Berayun di awan"

"Bahkan waktu harus berhenti"

"Kita semua harus bersama"

"Aku harus bersama denganmu selamanya"

"Itu adalah hari-hari manis"

"Hati lembut"

"Rasanya seperti terlahir kembali saat bersamamu"

"Sentuhanmu dan merasakan kelahiran kembali terasa ajaib"

"Inilah sihir zaman dahulu"

"Ini adalah mimpi yang aku miliki denganmu bersamaku"

"Detik-detik saat kau pergi dari sisiku"

"Itulah kekosongan yang menghantui"

"Aku tak bisa hidup melupakanmu sekarang"

"Hati ini tak mendengar untuk melupakan kenanganmu"

"Kau kembali padaku"

"Itu adalah hari-hari manis"

"Hati lembut"

"Pikiran polos"

"Mata berbinar"

"Usia itu adalah anugerah"

"Persahabatan dimulai"

"Kau dan persahabatanmu dalam mimpi, tahu?"

"Tahu?"

"Berayun di awan"

"Bahkan waktu harus berhenti"

"Kita harus bersama-sama"

"Aku harus bersamamu selamanya"

Di mana kakakku?

Kemana dia pergi?

Kemana dia pergi?

Tadi malam, perilaku saudaraku aneh.

Benarkah?

Aku sangat takut.

Kenapa?

Bukan hal yang jarang dia bersikap seperti itu, menakutkan semua orang.

Ya Tuhan! Wajahnya saat itu menakutkan siapa saja yang melihatnya.

Kenapa kau berhenti di sini?

Aku subjek yang mereka bicarakan.

Tahu?

Benarkah?

Apa yang mereka bicarakan?

Mereka tertawa, menyebutku orang gila.

Lalu apa?

Kakakku memberitahu semua orang bahwa aku orang gila.

Sepertinya tidak ada yang ingin berteman denganku.

Aku temanmu, kan?

Ya! Kau ada di sana bersamaku. Semua orang sepertinya menganggap aku gila.

Jangan dipikirkan.

Mereka gila.

Kau orang yang baik.

Oke?

Oke.

Sampath...

Kenapa kau belum datang?

Kau bilang tidak ingin hidup tanpaku.

Sampath?

Mengerti! Kau tidak menyebut namaku.

Akhir-akhir ini, kita jarang menghabiskan waktu bersama.

Kenapa kau bilang begitu?

Tidak!

Kau sedang tak enak hati. Kau tidak bicara padaku.

Kau bahkan tidak berbagi apa-apa denganku.

Tidak seperti itu. Aku baik-baik saja.

Tidak. Kau menyembunyikan sesuatu dariku.

Tidak! Tidak ada seperti itu.

Tidak! Katakan padaku.

Oke! Apa sekarang?

Aku harus menghabiskan waktu denganmu. Benar kan?

Ya!

Oke. Katakan padaku.

Apa yang harus kita lakukan?

Sudah lama sekali. Ayo pergi ke suatu tempat.

Belakangan ini, kita sering berbelanja.

Ayo pergi belanja di jalanan.

Kita dulu sering pergi waktu kecil, tapi sudah lama sekali tidak pergi.

Oke.

Ayo pergi! -Ayo pergi!

Hei! Ini bagus!

Ayo lihat yang di sini.

Oke.

Ini bagus.

Gelang? Batu-batu ini bagus, kan?

Ini sangat indah.

Kita dulu pakai ini waktu kecil.

Barang-barang di sini tidak bagus; ayo pergi ke sana.

Di sini barang-barangnya sangat bagus.

Lihat ini?

Ayo lihat tas.

Ayo lihat yang sini. -Disini bagus.

Tidak.

Lihat sana,

Ada apa?

Kau baru bawa aku ke sini, katanya kita belanja.

Tapi kau tidak biarkan aku lihat apapun. -Lihat ini!

Lihat ini! -Aku ke sana saja!

Ini bagus, kan? -Ayo ke sini.

Ada apa?

Ke sini...

Ada banyak barang di sini.

Bukan barang ini. Lihat yang ini.

Dia mendekat...

Beli apa yang kau suka.

Hei! Kenapa kau memukulnya?

Oke. Ayo!

Aku pikir dia bisa melukaiku.

Ayo, kita pergi.

โ€” Situs Bonus Melimpah โ€” โ€” Aman , Nyaman , Pasti Bayar โ€”

WinJos > pasti Win , Jos Wede nya Kunjungi ( https://super.winjos.today )

Berani-beraninya kau memukulku? Aku akan beri kau pelajaran.

Selamat pagi, Pak.

Selamat pagi.

Silakan masuk.

Aku sudah beberapa kali menyuarakan kekhawatiranku tentang Sindhu.

Dia mudah ketakutan, bahkan karena hal-hal sepele,

dan bereaksi secara berlebihan.

Ini mulai mengganggu orang lain.

Kami tidak akan mengizinkan Sindhu sekolah.

Ini tidak akan terjadi lagi.

Tolong maafkan dia untuk kali ini.

Menghentikan pendidikannya sekarang dapat merugikan masa depannya.

Kami sudah memaafkannya beberapa kali, mengingat studinya.

Pendidikan anak-anak lain juga sama pentingnya bagi kami.

Pak!

Biarkan dia tetap di rumah dan menyelesaikan pekerjaan rumahnya.

Aku akan izinkan dia ikut ujian. Tapi jangan suruh dia ke sekolah.

Pak, tolong.

Hanya kali ini. -Tidak!

Tolong!

Ayo, sayang.

Saudari, tolong berhenti.

Aku akan pergi setelah bicara 5 menit.

Aku sudah meminta maaf berkali-kali.

Tapi kau tidak mau bicara denganku.

Apa yang aku lakukan salah.

Kau mulai lagi?

Aku tidak membicarakan itu, saudari.

Sampath pergi ke kamp dan belum kembali.

Lalu apa?

Aku di sini untuk bertanya apakah dia sudah menghubungi.

Apa kau bercanda?

Tidak, saudari.

Kau kira kau bisa membuat dia menghubungi orang lain?

Bukan begitu, saudari.

Cukup, Sindhu.

Aku tidak menghubungi Sampath sejak peringatan terakhirmu.

Dan aku bahkan tidak ingin berbicara dengannya.

Aku tidak bertanya dengan sengaja.

Aku sangat mencintai Sampath.

Bukan hanya kau, Sindhu;

semua orang punya kesukaan dan ketidaksukaan.

Hargai kesukaan dan ketidaksukaan orang lain juga.

Oke, aku tidak mau semua ini.

Aku tidak menghubungi Sampath, dan tidak akan.

Oh! Kalian masih berteman?

Jangan bicara begitu.

Aku berbicara dengannya karena dia butuh bantuan, itu saja.

Dia bisa meminta padaku, kan?

Aku tahu harus minta kepada siapa.

Selamat tinggal, Sampath.

Sampath, kau bilang tidak akan bicara dengannya.

Kau masih bicara dengannya.

Kenapa kau memikirkan dirimu sendiri tanpa tahu apa yang terjadi?

Apa yang harus aku ketahui?

Apa yang kau lakukan pada Sampath?

Kau semakin marah setiap hari.

Aku ingin Sampath.

Jangan teriak, dan minum obat ini.

Jika kau bawa Sampath padaku, aku akan minum obat ini. Tolong!

Dengar dulu. Duduk! -Tolong.

Aku ingin Sampath.

Kau tidak akan mendengarku.

Perawat!

Perawat!

Apa yang terjadi? Katakan padaku.

Dia tidak mau minum obat. Pegang dia.

Oke.

Tolong!

Lepaskan aku.

Tolong!

Tolong! Aku ingin Sampath.

Aku ingin Sampath.

Tolong! Aku ingin Sampath.

Aku akan pergi ke Sampath. Tolong lepaskan aku.

Berhenti! Jangan bergerak.

Tolong! Tolong! -Tunggu! Tunggu!

Tidak! Tidak! Tolong! Tolong!

Jangan bergerak.

Apakah kau akhirnya akan berkata sesuatu?

Jika kau bekerja sama denganku, aku akan mengobatimu.

Kau bisa keluar.

Jika tidak, kau akan tetap di sini seumur hidup.

Di mana Sampath?

Berapa kali aku harus memberitahumu?

Apa yang harus aku katakan jika kau bertanya pertanyaan yang sama berulang kali?

Dengarkan aku...

Orang yang bernama Sampath yang kau tanyakan tidak ada dalam kenyataan.

Pak!

Pak!

Katakan padaku.

Pak, masalahnya adalah...

Apa?

Pak, pacarku hilang.

Bisakah kau membantuku?

Begitu?

Ya.

Aku tidak punya pacar.

kau harus membantuku.

Apa yang kau bicarakan?

Ada apa denganmu?

Kenapa membahas orang hilang?

Mari fokus pada yang ada di sini.

Apa katamu?

Apa kau akan membantuku atau tidak?

Pak, pak! Kepala kita ada di sini.

Polisi!

Tahan gadis ini; kita akan bicara nanti.

Kenapa, pak?

Hei... -Pindah...

Lepaskan aku.

Tunggu sebentar. -Pergi dari sini.

Kalau tidak, aku akan mengurungmu juga.

Tolong!

Jangan tegang.

Aku akan pergi dan datang dengan paman. -Tolong lepaskan aku.

Diam! Pergi!

Hei! Masuk!

Tidakkah kau berubah?

Apakah kau akan berperilaku seperti ini saja?

Kau merusak kehormatanku di depan teman-temanku.

Ibu, setidaknya kau beri tahu dia.

Ibu!

Kenapa kau terus merasa takut pada segala hal?

Berapa kali aku harus memberitahumu?

Kau akan takut bahkan pada siang hari.

Aku khawatir dengan tindakanmu saat kau keluar dan reaksi orang lain.

Jika kau terus seperti ini, itu akan sangat sulit.

Cobalah untuk memahami sudut pandang ibumu.

Jangan ulangi lagi.

Jangan buat semua orang takut.

Oke?

Lihat! Dia pergi tanpa berkata apa-apa!

Sindhu, kenapa kau menangis?

Mereka tidak bertanya kenapa aku merasa takut.

Mereka memarahiku.

Mereka orang tuamu, kan? Mereka akan berkata seperti itu karena takut.

Bagaimana kau bisa menangis karena itu?

Mereka bilang ini salahku.

Dengan siapa aku harus berbagi kalau mereka mengabaikanku?

Oke, jangan menangis.

Aku di sini untukmu, kan? Katakan padaku.

Oke.

Sayang!

Jangan pergi tanpa memberitahu kami dulu.

Oke, Bibi.

Apa yang harus kami katakan pada Sampath jika sesuatu terjadi padamu?

Aku pergi mencari Sampath.

Aku takut.

Peristiwa terjadi di sekitarku tanpa aku sadari.

Jangan menangis.

Jika sesuatu terjadi, kita akan tahu, kan?

Kenapa kau takut?

Kami di sini untukmu, kan?

Sayang, pergi dan istirahatlah.

Oke?

Oke. Aku akan meneleponmu nanti.

Kau berbicara dengan siapa?

Kau menutup telepon ketika aku datang.

Aku menutup telepon karena kau akan curiga aku melakukan sesuatu yang aneh.

Jika tidak ada yang mencurigakan, mengapa aku harus curiga?

Jika kau terus melakukan hal seperti ini, itu akan menimbulkan kecurigaan bagiku.

Aku tidak bisa bertahan dengan ini.

Aku akan menghilang jika kau terus bersikap seperti ini.

Oke?

Jadi...

apakah kau akan meninggalkanku?

Kau yang mencurigaiku.

Kau akan menjadi sedih.

Hei! Maafkan aku.

Tolong jangan menangis.

Aku tidak bisa bertahan jika kau menangis.

Tolong...

Jangan menangis.

Maafkan aku.

Aku tidak pergi ke sekolah atau les.

Saudaraku mirip sekali denganku.

Bagaimana jika Sampath mendekati saudaraku?

Ya Tuhan!

Aku tidak punya pilihan selain pergi les.

Aku harus meyakinkan ibuku dulu.

Ibu!

Aku akan pergi les.

Aku akan normal.

Tolong, Bu.

Cuma sekali ini.

Tolong!

Oke!

Kesempatan terakhir.

Terima kasih.

Pergilah!

Jangan bicara dan selesaikan masalah ini.

Apa yang aku pikirkan ternyata benar: mereka berdua semakin dekat.

Dia bahkan tidak memandangku, padahal aku di sini.

Panjang sebuah persegi panjang adalah 9 cm.

Sampath, hai!

Hai!

Sindhu, Sampath adalah temanmu,

tapi dia juga temanku.

Aku akan membuatmu menyelesaikan masalah lain nanti.

Sindhu, ada apa?

Sampath tidak bicara padaku.

Dia menghindar dariku dan berbicara dengan Indu.

Semua ini karena dia.

Dia selalu seperti ini.

Dia telah menjauhkan satu-satunya temanku dariku.

Sindhu!

Aku benci Indu.

Aku benci Indu.

โ€” Situs Bonus Melimpah โ€” โ€” Aman , Nyaman , Pasti Bayar โ€”

WinJos > pasti Win , Jos Wede nya Kunjungi ( https://super.winjos.today )

Takut!

Takut!

Aku takut

Setiap bayangan

yang membuatku terjatuh berbisik di telinga

dan gemetar ketakutan

Hilang dalam labirin

tak ada jalan keluar

jiwaku rindu kebebasan.

Takut!

Itu takut

Aku sangat takut dengan detak jantungku sendiri, bahaya yang menari di kakiku.

Terperangkap di dunia yang penuh kegelapan

penuh kegelapan

seberkas harapan,

sebuah percikan mulai tumbuh, bagaimana menghadapinya.

Aku takut

Itu takut

Itu takut

Aku takut!

Seberkas harapan,

Sebuah percikan mulai tumbuh, bagaimana menghadapinya.

Aku takut

Itu takut!

Itu takut

Aku takut!

Takut!

Itu takut!

Duduk!

Apa yang kau tunggu akan terjadi. Kau bisa pergi.

Lihat!

Semua bergantung pada cara berpikir kita.

Tidak ada yang berubah karena ini.

Kau yang harus berubah.

Tetap di sini.

Ibu!

Jangan menangis.

Tenanglah.

Ibu! - Apa kabar?

Ayah!

Ayo pergi!

Duduklah!

Apakah kau tahu apa yang aku bawa untukmu?

Berikan itu. - Ya!

Aku membawa sesuatu yang kau sangat suka.

Ingin melihatnya?

Halo bibi! - Halo!

Halo bibi! Halo Paman! - Apa kabar?

Halo bibi! Halo Paman!

Ini... - Berikan padanya.

Apakah kau membawa yang aku minta?

Ya.

Aku membawa semuanya yang kau minta.

Terima kasih Paman.

Apa yang ada di dalamnya? - Aku tidak tahu.

Apa yang ada di dalamnya? - Mari kita berbagi.

Bagaimana rasanya? - Enak.

Mari kita berbagi.

Oke. Dadah, bibi. Dadah, paman.

Dadah! - Dadah!

Dadah, paman.

Semua ini untukmu.

Kau harus makan. - Sangat enak.

Kau bisa tinggal di sini bersamaku, kan?

Kita tidak bisa tinggal di sini.

Datanglah ke tempat kami.

Kami menunggu hari itu.

Apa kau tidak makan dengan baik? - Haruskah kita pergi?

Oke.

Kami akan pergi.

Jaga diri.

Ayo pergi.

Ibu!

Kakakku tidak datang.

Bagaimana dia?

Dia akan datang.

Dia baik-baik saja.

Sudah berapa lama ini berlangsung, Sampath?

Aku tidak tahan lagi.

Aku sudah gila.

Aku ingin bertemu denganmu.

Aku ingin bicara denganmu.

Ada apa?

Sudah begitu banyak hari sejak Sampath menghubungiku.

Mungkin ini masalah jaringan.

Seharusnya dia sudah kembali sekarang.

Tapi dia belum datang.

Aku gugup.

Apakah ada konflik antara kalian berdua?

Kenapa kau tanya dia sekarang? Dia sudah khawatir.

Satu!

Ya!

Dua!

Ke kiri.

Oke.

Bagus.

Lagi!

Satu!

Dia terlihat seperti Sampath.

Dua!

Tiga!

Sampath!

Hei, sayang!

Siapa dia, Sampath?

Dia sepupu temanku.

Aku hanya menyapanya.

Oke, Navya. Kita bicarakan nanti.

Oke. Dadah, Sampath.

Hei! Ada apa?

Aku tidak suka melihatmu bicara dengan orang lain.

Oh! Ayolah, dia temanku.

Aku hanya bicara dengannya. Itu saja!

Aku tidak peduli siapa pun itu.

Aku tidak suka melihatmu bicara dengan gadis lain.

Hei!

Jika kau terus seperti ini, aku tidak akan bicara denganmu.

Hei! Aku hanya bercanda.

Hanya bercanda.

Apa yang akan kulakukan dengan orang lain jika aku sudah punya kau?

Aku tidak tahu, Sampath.

Kau hanya milikku.

Aku tidak suka melihatmu bicara dengan orang lain.

Oke, aku tidak akan mengulanginya lagi.

Aku sudah bersamamu sejak kecil.

Lupakan saja.

Oke?

Ayo pergi.

Ayo!

Ada apa ini? Sepertinya ada rapat di sini.

Ada apa?

Apakah Sampath menghubungimu?

Tidak, sayang.

Dia sedih karena Sampath tidak menghubunginya.

Apakah ada konflik antara kalian berdua?

Tidak ada konflik besar selain yang kecil-kecil.

Oke. Dia akan datang.

Ayo istirahat sebentar.

Sayang! -Kakek!

Kau membuatku takut.

Aku datang untuk bertemu denganmu.

Kakek!

Aku takut.

Ini masalah pikiran.

Bersikaplah kuat.

Berjuanglah dengan pikiran.

Oke?

Oke, kakek.

Pergilah! Istirahatlah sebentar.

Kakak!

Kemana kau pergi?

Aku dan Sampath akan pergi ke taman untuk belajar.

Kau tidak mau bermain denganku meskipun liburan?

Aku harus belajar. Aku akan datang cepat.

Hei! Sindhu! Kenapa kau di sini?

Kenapa kau di sini?

Kenapa kau tanya lagi?

Aku sudah bilang, aku di sini untuk belajar.

Kenapa kau belajar dengan Sampath? Tidak ada yang lain?

Kenapa kau bicara begitu?

Indu juga temanku.

Aku temanmu dulu, bukan Indu.

Oke.

Kenapa dengan itu?

Kalian berdua saudara, kan?

Aku Sindhu. Dia Indu.

Kenapa kau bikin ribut di sini? Pulang saja. Orang tua kita jadi cemas.

Aku akan datang.

Tidak.

Kalian berdua tidak boleh bicara.

Kenapa kau bilang begitu?

Kau yang bicara denganku dulu.

Benar! Tapi kau tidak sekolah, kan?

Makanya aku bicara dengan Indu.

Kenapa kau bicara dengannya karena itu?

Dia lebih penting dariku?

Lihat! Tidak ada yang seperti itu. Kalian berdua temanku.

Indu jadi lebih dekat.

Itu saja!

Kau tahu berapa kali kau bicara denganku dan berapa kali kau bicara dengan dia?

Kau tahu bedanya?

Sindhu! Sudahlah.

Biar aku bicara. Ceritakan.

Ada bedanya.

Mentalitasmu.

Maksudmu?

Semua orang tahu itu. Apa yang baru dari itu?

Apa kau bilang aku gila?

Sindhu, sudahlah.

Orang-orang bilang aku gila karena kau. Aku sampai di tahap ini karena kau.

Astaga! Kenapa kau lakukan itu, Sindhu?

Aku sudah buang ponselku di sini.

Tidak ada apa-apa di sini.

Aku haus.

Tidak ada air di sini.

โ€” Situs Bonus Melimpah โ€” โ€” Aman , Nyaman , Pasti Bayar โ€”

WinJos > pasti Win , Jos Wede nya Kunjungi ( https://super.winjos.today )

Aku ingin Sampath. -Tenanglah.

Lepaskan aku -Pegangi dia.

Aku mau ke Sampath.

Pegangi dia.

Lepaskan aku.

Ayo.

Lepaskan aku.

Tenanglah.

Ayo...

Lepaskan aku... Lepaskan aku. -Tenanglah.

Dimana dokternya?

Dia lagi jaga.

Duduk! -Pegangi dia.

Duduk! -Pegangi dia.

Ya!

Gadis di ruang 303 mencoba melarikan diri. Dia tidak mau mendengarkan siapa pun.

Dia tidak tenang.

Oke. Aku datang.

Beritahu orang tuanya.

Oke, Pak.

Dokter sedang dalam perjalanan ke sini. Harap tenang. -Lepaskan aku.

Dia akan memberikan jawaban untuk pertanyaanmu.

Diam!

Ikat dia dengan erat.

Halo!

Ibu! -Apa?

Di mana kakakku?

Kak!

Maaf, Kak.

Aku mendorongmu karena marah.

Bicaralah padaku, kak.

Kak!

Bicaralah padaku, kak.

Kak!

Tolong, kak. Berhentilah, kak.

Apa yang terjadi?

Kakakku tidak mau bicara padaku meskipun aku sudah mencoba.

Kenapa?

Maksudku... aku mendorongnya kemarin karena marah.

Dia tidak mau bicara padaku karena itu.

Astaga!

Kau mendorongnya?

Itu salah.

Dia tidak akan bicara padamu.

Benarkah?

Ya.

Kau mau bicara atau mau disuntik?

Katakan padaku.

Aku akan bicara.

Katakan padaku.

Apa masalahmu sekarang?

Aku ingin Sampath.

Kau mulai lagi?

Aku tahu masalahnya.

Aku harus memberitahu ini pada Sampath.

Bagaimana kau akan memberitahunya?

Aku akan pergi ke Sampath dan bicara padanya.

Masalahnya adalah kau tidak akan mengerti apa yang aku katakan.

Kau tidak akan mendengarkan apa yang aku katakan.

Dengarkan aku...

Tidak ada orang bernama Sampath.

Aku ingin Sampath.

Lepaskan aku.

Aku harus pergi ke Sampath.

Apa kau tidak mengerti meskipun aku katakan jutaan kali?

Berapa kali aku harus memberitahumu? Apa kau tidak mengerti?

Aku katakan padamu untuk terakhir kali.

Sampath tidak ada.

Maksudmu apa?

Dia tidak ada.

Itu saja!

Apakah dia yang memberitahumu untuk mengatakan ini?

Jika kau lepaskan aku, aku akan pergi bicara padanya.

Jika begitu kau tidak perlu pergi kemana-mana.

Aku ingin Sampath.

Mengerti?

Aku ingin Sampath.

Sial! Bagaimana aku harus memberitahumu?

Sindhu, yang pingsan hari itu, bangun keesokan harinya.

Saat itu mereka membawa Sindhu padaku untuk pertama kalinya.

Saat itu mereka membawa Sindhu padaku untuk pertama kalinya.

Halo, dokter. -Silakan duduk.

Sayang, kau duduk di sana.

Katakan padaku.

Dia anakku, Sindhu.

Aku akan periksa dia sebentar.

Hanya untuk memastikan dia baik-baik saja.

Sindhu!

Sindhu!

Sindhu!

Sindhu!

Sindhu, kemari

Hai!

Aku Dr. Karthikeya.

Sindhu, bolehkah aku melakukan pemeriksaan kecil untukmu?

Oke?

Ayo.

Ke sini!

Tutup matamu.

Pelan-pelan...

Pelan-pelan kau masuk ke dalam tidur yang dalam.

Sindhu!

Sekarang aku akan bertanya beberapa pertanyaan. Apakah kau akan menjawabnya?

Oke, paman.

Bagus!

Selain ayah dan ibumu, siapa yang kau sukai?

Kakak!

Teman terbaik pertamaku.

Bagus.

Setelah itu?

Lalu...

Temanku, Bindhu.

Aku sangat menyukainya.

Aku berbagi semuanya dengannya. Dia adalah teman terbaikku.

Sangat bagus.

Siapa yang kau sukai setelah temanmu?

Lalu...

Lalu...

Tidak apa-apa, Sindhu. Orang tuamu tidak akan memarahimu.

Sampath.

Ayo. Duduk di sini.

Dia adalah teman baikku dan kakakku.

Sangat bagus.

Sindhu!

Katakan padaku siapa yang tidak kau sukai.

Siapa yang tidak kau sukai dan siapa yang kau takuti.

Hantu!

Tidak apa-apa.

Tidak apa-apa. Kau melakukannya dengan baik.

Oke?

Sindhu! Pergi main.

Aku akan berbicara dengan orang tuamu.

Apakah ada keluargamu yang mengalami masalah dengan kesehatan mental atau gangguan?

Tidak, dokter.

Apakah ada kejadian serius dalam keluargamu selama masa kecil Sindhu?

Apakah ada yang terjadi ketika Sindhu sakit?

Beritahu aku apa yang kau ingat.

Aku hanya ingin mendengar.

Apakah kau ingat sesuatu?

Sindhu saat itu berusia 5 tahun.

Aku melahirkan anak kembar.

Anak kedua meninggal setelah beberapa bulan lahir.

Paman! -Halo!

Kenapa ada dua fotoku?

Ini adalah kau dan ini adalah saudaramu, Indu.

Indu!

Di mana saudaraku?

Saudaramu pergi ke Tuhan.

Kapan dia akan datang?

Dia akan datang.

Pergi main.

Letakkan foto ini di sana.

Pergi.

Aku menutupnya.

Di usia yang sama... Ayahku, yang merupakan kakek Sindhu.

Sindhu!

Sindhu!

Dia meninggal di depannya.

Sindhu menjadi sangat sakit karena itu.

Sindhu sering menghabiskan banyak waktu dengan ayahku.

Dia sangat menyayangi kakeknya.

Kakek!

Ini adalah satu-satunya hal yang kami ketahui dan ingat.

Dari apa yang kau sebutkan dan apa yang aku temukan selama hipnosisnya,

sepertinya ketakutan masa kecilnya menyebabkan dia mengembangkan gangguan psikosis.

Ini disebut skizofrenia halusinasi dengan pengalaman sensorik

yang melibatkan penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman

dan merasakan hal-hal yang sebenarnya tidak ada.

Itu merujuk pada memvisualisasikan hal-hal yang tidak ada.

Setiap orang ke-300 di dunia menderita penyakit ini.

Jika terdeteksi lebih awal, itu bisa mempercepat pemulihan.

Sindhu berada dalam kondisi ini karena ketakutannya yang ekstrem tidak terdeteksi.

Astaga!

Dia sudah berada pada tahap puncak.

Tanpa memulai pengobatan segera, dia mungkin tidak akan sembuh seperti semula.

Dia menjadi bahaya tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi orang lain.

Mereka akan menerimanya selama dia baik-baik saja;

jika tidak, perilaku mereka terhadapnya akan berubah.

Ini umum bagi anak-anak memiliki ketakutannya sendiri saat kecil.

Namun Sindhu memiliki ketakutan yang lebih ekstrem dibandingkan yang lain.

Selain itu, sensitivitas Sindhu yang tinggi membuat dia bereaksi lebih banyak dibandingkan yang lain.

Sindhu membayangkan hantu daripada pangeran dalam dongeng yang ibunya ceritakan kepadanya.

Hantu yang ibunya ceritakan masih menemani dia hingga sekarang.

Kreasi mental pertama Sindhu adalah saudaranya, Indu.

Kakak!

Ya.

Kau datang dari Tuhan?

Ya.

Ayo bermain?

Ayo.. kita bermain.

Ayo!

Dia bahagia untuk sementara waktu.

Dengan orang tuanya yang mengabaikannya, pikiran Sindhu telah menciptakan teman-teman untuknya.

Karena teman-temannya punya pacar,

pikiran Sindhu menciptakan Sampath, orang yang dia bisa berbagi lebih dari sekedar persahabatan.

Anak-anak menghadapi berbagai tantangan karena orang tua mereka mengabaikan mereka.

Bisa jadi masalah fisik atau mental.

Orang tua harus mulai membina persahabatan dengan anak-anak mereka ketika mereka mencapai usia 5 tahun.

Orang tua tidak boleh mengabaikan apa yang anak-anak mereka katakan.

Mengajarkan anak-anak pendidikan mental dan fisik sangat diperlukan.

Namun tidak ada yang bersedia melakukannya di sini.

Setidaknya pemerintah harus menambahkannya pada standar pertama itu sendiri.

Orang tua harus mengajarkan mereka tentang sentuhan yang baik dan sentuhan yang buruk,

dan harus mengamati anak-anak dengan cermat.

Pendidikan orang tua tidak hanya melahirkan anak

tetapi juga membentuk masa depan mereka.

Anak-anak bukan hanya emosi kita

tetapi juga tanggung jawab kita.

Tidak ada orang tua yang berpikir anak mereka akan menjadi gila.

Kami pikir dia hanya sedang bermain.

Tidak peduli apakah itu dengan sengaja atau tidak sengaja, kesalahan telah terjadi.

Aku mengerti.

Kau harus kuat saat ini.

Kau harus membuatnya menjadi orang yang normal, dokter.

Aku akan melakukan yang terbaik.

Jangan khawatir.

Semua orang menganggap aku gila.

Dia berbicara sendiri.

Dia hanya sedang bermain.

Benarkah?

Kenapa dia melakukan itu?

Aku akan memeriksanya.

Hei! Tinggalkan saja.

Tinggalkan dia.. dia hanya sedang bermain.

Itu berarti...

Karena kau, semua orang memanggilku gila. Kaulah alasan aku menjadi seperti ini.

Paman, putrimu jatuh.

Dia jatuh di mana?

Di sana! Di taman.

Apa yang terjadi?

Dia kembali bicara sendiri.

Jangan khawatir.

Aku akan melakukan sesuatu.

Aku tidak tahu harus berbuat apa.

Ram!

Aku sudah memberitahumu tentang putriku, kan?

Sudah berhari-hari.

Kita harus melakukan sesuatu.

Ada seorang dokter...

Swamiji?

Swamiji?

Oke.

Cepat lakukan.

Terima kasih.

Aku sudah mengatakannya berulang kali, tapi kau tidak memperhatikannya atau menganggap aku serius.

Dia berbicara sendiri.

Dia memukul orang nyata dan mendorong orang yang tidak nyata.

Dia tidak tahu apa yang dia lakukan.

Jangan khawatir.

Aku baru saja berbicara dengannya.

Ada satu Swamiji.

Mari lakukan Pooja.

Hei, apa yang kau lakukan?

Semua ini terhubung dengan pikiran kita.

Bawa dia ke dokter.

Aku tahu seorang dokter. Bawa dia ke sana.

Oke.

Dia berbicara dengan seseorang yang dia bayangkan.

Setelah itu, dia bermain...

Dokter, bahkan jika kau melihatnya sekarang, dia sedang berbicara dengan seseorang.

Ya, aku lihat.

Itulah kenapa kami membawanya ke sini.

Ayo keluar.

Sindhu!

Dia temanku.

Kau harus tinggal di sini beberapa hari.

Aku akan datang sesekali.

Kenapa, ayah?

Kau tidak sehat, kan?

Dia akan merawatmu.

Dia akan menjagamu dengan baik.

Aku takut, ayah.

Jangan khawatir.

Ada banyak orang di sini.

Dia akan menjagamu dengan baik.

Oke, Ayah.

Jangan khawatir.

Kami menyerahkan hidup kami kepadamu.

Tolong jaga diri.

Oke.

Hati-hati. Kami akan kembali.

Ayo!

Terima kasih.

Sama-sama.

Perawat! - Pak!

Pak!

Katakan pada mereka bahwa mulai hari ini, Seenu dan Geeta harus merawat Sindhu.

Baik, Pak.

Dia tidak boleh diganggu.

Mengerti?

Baik, Pak.

Masuklah.

Ayo, Nak.

Seenu dan Geeta kehilangan anak karena gangguan mentalnya.

Sejak itu, mereka mendedikasikan diri untuk mendukung dan merawat anak-anak dengan gangguan mental.

Seenu.. Geeta. Dokter mengatakan untuk merawat anak ini.

Baik.

Ayo, Nak. Duduk!

Siapa namamu?

Sindhu!

Sindhu! - Sindhu!

Mereka akan bersama kita sebagai temanmu.

Hai Sindhu! - Hai!

Lakukan ini bersama kami. - Baik.

Tapi yang aku pikirkan tidak terjadi.

Sindhu tidak bekerja sama dalam pengobatan.

Seiring bertambahnya usia, ketakutan dan gangguannya semakin parah.

Jika dia mematuhi pengobatan, halusinasinya akan berkurang dan dia akan jarang melihat orang yang dibayangkan.

Jika tidak, dia akan terus berada dalam keadaan halusinasi.

Sindhu tidak minum obat.

Dia dibesarkan bersama anak-anak itu.

Di pikirannya, mereka adalah keluarganya.

Ini adalah ceritamu, Sindhu.

Kau akan melihat perbaikan jika mengikuti pengobatan dengan benar.

Sayangnya, tidak.

Itulah mengapa kadang-kadang aku memberimu suntikan.

Meskipun aku seorang dokter, aku tidak sepenuhnya mengerti apa yang kau alami dalam halusinasi itu.

Itu hanya sesuatu yang bisa dipahami olehmu dan pikiranmu.

Aku tidak memasak pagi ini, jadi aku memberi anak-anak sereal.

Anak-anak suka sereal.

Generasi ini!

Bagus untuk kita!

Beban kerja kita jadi lebih ringan. - Iya!

Suamiku pergi ke kota lain. Dia mengirimiku bunga lewat kurir.

Ya ampun! Cerita cinta besar? - Aku tidak tahu.

Dia meyakinkanku hanya akan seminggu, tapi sepuluh hari berlalu dan dia belum kembali.

Kau khawatir?

Aku merasa cemas jika seseorang yang selalu ada di sisiku tiba-tiba menghilang.

Kalau begitu hubungi dia.

Aku tidak bisa menghubunginya lewat telepon juga.

Setiap kali aku menelepon, ada pesan bahwa teleponnya mati.

Apakah dia meninggalkanmu? -Tidak!

Dia memberikan uang agar aku bisa berbelanja.

Lalu, apa yang perlu dikhawatirkan? Ayo kita belanja.

Apakah kita harus belanja menggunakan mobil?

Jangan halangi aku.

Jangan halangi aku.

Aku akan urus ini... polisi.

Siapa mereka? -Mereka polisi.

Mereka akan mencari tahu siapa yang hilang.

Itu tidak berarti semua orang penuh belas kasih. -Tolong bantu aku.

Kadang-kadang, tindakan mereka justru menyulitkan daripada membantu.

Hei, berhenti! Bawa dia dari sini.

Kau tidak mendengarku. Tetaplah di dalam.

Ibu!

Kakak tidak ada di sini.

Bagaimana dia?

Dia masih bertanya hal yang sama.

Aku tidak tahu kapan Tuhan akan memberkatinya.

Ayo...

Hal-hal yang kau bayangkan dan orang-orang yang kau ajak bicara itu tidak nyata.

Ketakutanmu adalah masalah kesehatan yang serius.

Ketakutanmu membuatmu mengalami gangguan psikotik.

Ya, Paman.

Apa yang kau katakan itu benar.

Ya, Sindhu.

Aku tahu ini mungkin sulit untuk kau pahami dan percayai sekarang, tapi percayalah padaku.

Kau sudah berada di sini selama 13 tahun.

Ini berarti orang-orang yang kulihat dan kuajak bicara hanya ada dalam imajinasiku.

Ya, Sindhu.

Lalu, orang tuaku...

dan kau juga hanya imajinasiku, bukan?

Tidak, Sindhu.

Aku ada.

Kenapa kau berkata seperti itu? Kami ada.

Kami ada, Sindhu. -Kami ada, Sindhu.

Aku ada.

Sindhu, aku juga ada.

Sindhu, aku Sampath.

Aku ada.

Aku ada!

Aku ada, Sindhu. -Aku ada.

Sindhu!

Sindhu! -Sindhu!

Aku ada.

Aku ada, Sindhu. -Aku ada, Sindhu.

Sindhu, aku ada. -Sindhu, kami ada.

-Sindhu, aku Sampath. -Sindhu, kami ada.

Sindhu! Aku kakakmu.

Sindhu! Aku ada.

Sindhu! Sindhu! -Aku ada!

Sindhu! Tolong!

Aku ada! Sindhu! -Sindhu!

Sindhu! -Aku ada!

Sindhu! Kami ada! -Sindhu! Aku ada!

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.