Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (SoranĂ®)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang
- Kok, masih dibawa sih seperti ini? - Pak, sini. Kursinya di sini, ya.
Sini.
Hati-hati ya, Mas.
- Ini di mana? - Kalau itu, di sini.
Ini kenapa masih dibawa?
Huda yang bawa itu.
- Sayang? - Ya?
Kamu beli kursi goyang untuk di rumah kita?
Ya, katanya kamu mau hidup sama aku sampai tua.
Sayang, sudahlah.
Ya, tapi kan bukan berarti besok kita jadi kakek-nenek.
Pokoknya mulai hari ini…
kursi goyang ini adalah saksi hidup kita.
Tempat di mana kita berbagi cerita…
sampai kita tidak ada.
Kenapa, Sayang?
Tidak apa-apa.
Mungkin cuma kecapekan.
Baru angkat-angkat sedikit kok sudah capek, sih? Tumben.
Aku ambilkan minum, ya.
Terima kasih, ya.
Memang benar, Sayang…
waktu itu kamu bilang sama aku…
kalau aku tidak ada duluan…
kamu tidak akan menikah lagi?
Ya, kalau kamu duluan.
Kalau aku duluan bagaimana?
Kamu pasti bakal menikah lagi.
Tidak, dong.
Tenang saja.
Aku yakin kok, aku yang bakal duluan.
- Tidak, aku yang duluan. - Aku, Sayang.
- Aku. - Aku.
Aku tidak bisa bayangkan, sih, kalau aku hidup tanpa kamu.
Aku pasti tidak bisa.
Kenapa, Sayang?
Sayang? Ronald?
Kenapa? Sayang? Ronald! Hei, bangun, Ronald!
Sayang, bangun!
Sayang!
Panik banget.
- Sayang banget ya kamu sama aku? - Apa sih, kamu?
Kan, aku bercanda, Sayang. Sudahlah. Aku cuma bercanda, lo.
Tidak lucu!
Jangan lakukan ini lagi kepadaku, ya.
- Aku bercanda. Hei! - Aku tidak suka!
Hei!
Sayang!
Bu, jadi begini. Kan, Ibu sudah enam bulan…
Ronald, lo benaran jadi mengundurkan diri?
Insyaallah jadi, Kawan.
Gue memang sudah tidak kuat kerja di sini.
Tidak tenang.
Pikirkan dululah.
Anak lo kan masih kecil. Masih perlu biaya. Apa lagi biaya…
Lihat ini.
Enam bulan merosot terus. Tagihan kredit juga macet.
Kamu ini apa ya kerjanya?
Kenapa tidak lebih keras menagihnya?
Tim kamu mana? Pada lembek semuanya.
Kan, sudah saya bilang berkali-kali, Pak.
Kita ada undang-undang baru tentang penagihan…
Selalu cari alasan.
Kamu sudah diberi waktu oleh manajemen.
Sesuai perjanjian, buat surat pengunduran diri,
dan saya mau lihat di meja besok.
Tidak usah menunggu besok.
Saya keluar sekarang. Permisi.
Kalau aku perhatikan…
kamu sepertinya tenang-tenang saja.
Kamu tidak takut?
Kenapa takut?
Ya, aku sudah mengundurkan diri.
Sekarang aku tidak punya pekerjaan.
Aku itu pengangguran.
Kamu tidak takut?
Sayang.
Kamu pikir…
aku cuma lihat pekerjaan kamu, ya?
Kamu itu kan suami aku.
Itu jauh lebih penting lo daripada pekerjaan kamu.
Lagi pula…
selagi kita bersama…
apa sih yang harus kita takutkan?
Seharusnya kamu bilang kepadaku.
Kamu pegang tanganku…
kamu bilang…
"Sayang, jangan takut ya.
Ada aku di sini yang selalu ada untuk kamu."
Kamu harus semangat, ya.
Terima kasih ya, Sayang.
Jatuh bolanya.
Lagi pula, selama kamu belum ada pekerjaan…
kamu kan bisa habiskan waktu bersama Bunga.
Bisa main sama dia.
Seru, 'kan?
Bunda, Ayah, tolong! Bunda!
Bunga?
Bunga?
Bunga!
Bunga!
- Ya, Allah! Bunga! - Bunga!
Bunga!
Bunga!
Bunga!
Bunga.
Bangun, Nak.
Bunga.
Ya Allah…
biar aku saja yang Kau ambil, ya Allah.
Jangan anakku.
Bunga!
- Bunga! - Bunga!
Bunga! Ya, Allah!
Sayang.
Bunga!
- Alhamdulillah. - Alhamdulillahirabbil'alamin.
Bunga tuh pengin banget ya punya adik laki-laki?
Memangnya Bunga mau melakukan apa sama adik laki-lakinya?
Mau belajar berenang bareng, biar Bunga tidak tenggelam lagi.
Maafkan Ayah ya. Ayah belum bisa jadi Ayah yang terbaik untuk kamu.
Sayang.
Kok, tumben sih cincinnya dilepas?
- Oh, iya. - Tidak biasanya, deh.
Maaf.
Nih.
Jangan dilepas lagi, ya.
Ya, Sayang. Maaf, ya.
Akhir-akhir ini rasanya berat banget ya untuk kita.
Tapi alhamdulillah…
kita bisa lewatkan semuanya bersama.
Terima kasih…
kamu sudah menjaga aku dan Bunga.
Setiap hari…
aku bisa bersama kamu.
Itu adalah anugerah terindah dari Allah…
untukku.
Alhamdulillah ya Allah.
Setiap kali aku melihat kamu…
Kan, mulai deh.
Aku tidak suka bercanda seperti itu. Tidak lucu.
Sayang?
Sayang, bangun! Sayang! Ronald!
Sayang!
Ronald!
Ronald!
Tidak!
Tidak!
Tidak!
Kiki!
Astaghfirullahaladzim!
Kiki!
Kamu harus kuat, Sayang.
Ayah kapan pulang?
Ayah…
Ayah sudah tidak bersama kita lagi, Sayang.
Ayah ke mana?
Tapi nanti Ayah akan pulang ke sini lagi kan, Bunda?
Bunda kenapa menangis?
Bunda sedih?
Bunga kangen ayah.
Bunda tahu.
Bunda juga kangen sama ayah.
Bunga…
Kalau Bunga kangen sama ayah…
Bunga lihat langit, deh.
Di atas sana…
ada Ayah yang lagi menanti kita.
Di surga.
Dia selalu ada di hati Bunga.
Dan Bunda selalu ada di dekat Bunga.
Bunga jangan takut, ya.
Bunda selalu ada di sini.
Saya mengerti suami meninggal itu berat bagi siapa pun.
Tapi hidup harus berlanjut.
Bangkit, dong.
Kamu itu baru saja jadi manajer, tapi sudah menghilang.
Penjualan anjlok gara-gara kamu kelamaan tidak masuk kerja.
Saya minta maaf, Bu.
Tapi kan Ibu tahu kalau saya lagi berduka.
Saya tidak mau ada alasan.
Dan jangan buat drama di depan saya.
Kalau penjualan makin anjlok…
tidak ada ampun untukmu.
Hai, Ki.
Abang Jefry ikut khawatir, lo.
Lama juga ya kamu tidak masuk.
Kamu tidak apa-apa kan, Ki?
Ki, benaran lo.
Kalau kamu lagi butuh teman mengobrol, Abang Jefry siap.
Kapan pun, di mana pun. Benaran.
Kamu butuh ini nih, Ki.
Susu cokelat panas buatan spesial Abang Jefry.
Atau lain kali…
Abang Jefry bawakan kamu cokelat, ya?
Selamat minum susu cokelat.
Tagihan saya bengkak sampai 500 juta, Pak?
Betul, Bu.
Kami sudah sampaikan melalui surel selama Bu Kiki tidak bisa dihubungi.
Ini jauh lebih tinggi daripada yang seharusnya.
Kenapa Ibu tidak bisa dihubungi?
Waktu itu kami mau jelaskan itu semua…
Begini, Bu. Semua kredit Bank Bahala sudah beralih ke Bank Mara.
Kami hanya melakukan tarif penyesuaian saja.
Dan ini total tagihannya sekarang.
Kalau Bu Kiki merasa keberatan, datang ke kantor pusat kami.
Tidak.
Ini tidak bisa, Pak.
Ini kejam namanya. Tidak bisa, Pak!
Ibu yang kejam karena Ibu tidak bayar!
Awal bulan depan Ibu harus bayar.
Kalau sampai Ibu tidak bayar, Ibu akan tanggung akibatnya. Mengerti?
Permisi.
Kami hanya menjalankan perintah perusahaan saja, Bu.
Untuk membawa kembali mobil ini.
Semua barang kantor Pak Ronald sudah kami simpan di dalam kotak, Bu.
Kalau begitu, kami pamit ya, Bu.
Bunda, kenapa mobil kita dibawa?
Bunga.
Mobilnya sudah dikembalikan ke kantor Ayah.
Kita masuk, yuk.
Hai, Ki!
Bunga duluan masuk, ya. Ayo, Sayang.
Ki, pasti kamu bingung, heran.
"Kok bisa sih Abang Jefry tahu alamat rumah kamu?"
Ada apa datang ke sini, Jef?
Tadi tidak sengaja lewat jalan dekat sini, makanya mampir.
Ya, siapa tahu Kiki lagi pengin mengobrol, atau butuh teman curhat.
Oh, iya. Nih. Abang Jefry bawakan kamu cokelat, lo.
Kan, Abang Jefry janji.
Kamu coba ya, Ki. Atau mau Abang Jefry bukakan? Ya?
Abang Jefry bukakan, ya.
Benar-benar, ya. Sesekali harus dikasih pelajaran orang ini.
Abang Jefry bukakan, ya.
Hei, Papa!
Kenapa kasih cokelat sebanyak ini ke perempuan lain?
Seumur-umur kita menikah, kamu tidak pernah
kasih aku cokelat sebanyak ini, tahu?
Kamu mau main-main sama perempuan lain?
Memang, ya. Pelakor tuh di mana-mana anteng banget.
Tidak merasa bersalah?
Pelakor?
Hei, dengar ya. Lo itu sudah ganggu suami orang.
Ganggu suami orang?
Wah. Gila. Benar-benar gila!
Masih pura-pura bodoh lagi?
Hei, jilbab apa nih? Untuk apa lo pakai jilbab?
- Tidak pantas lo pakai jilbab! - Ma.
- Tidak sesuai kelakuan lo! - Ma.
Apa?
Jangan ribut di sini, Ma. Malu.
Malu?
Kamu yang seharusnya malu!
Biar saja semua orang pada tahu. Biar lihat
semuanya kelakuan cewek ini seperti apa!
Ma!
- Lepaskan jilbab ini! - Mama!
Hei! Kamu apakan anak saya?
Ibu. Ibu tahu tidak…
anak Ibu itu pelakor, ganggu suami orang, tahu?
Ganggu suami orang? Kamu jangan kurang ajar, ya. Jangan ngomong sembarangan!
Pergi sekarang juga! Kalau tidak, saya panggil
orang karena kamu buat gaduh di rumah kami!
Kalaupun benar apa yang kamu tuduhkan, bisa dibicarakan baik-baik di dalam.
Pergi!
Dengar, ya. Urusan kita belum selesai!
Ayo.
Bu.
Berani banget dekat dengan Pak Jefry?
Padahal kan Pak Jefry sudah punya istri.
- Ya, 'kan? - Kok, bisa sih?
Kiki.
Kalau kamu memang tidak ada hubungan apa-apa dengan laki-laki itu…
ya, jangan terlalu dipikirkan, Sayang.
Bagaimana tidak dipikirkan sih, Bu?
Kiki tuh sudah jadi bahan gosip di kantor.
Seperti cewek tidak baik saja.
Kalau kamu terlalu sering dengarkan omongan orang…
itu bisa tidak baik untuk kamu sendiri.
Ya?
Bunda.
Bunda.
Bunda, lihat deh. Adik bayi aku, aku kasih baju, lo. Bagus tidak?
Bunda, lihat dong.
Bunda, lihat dong.
Bun, lihat dong.
Bunda, lihat dong.
Bunda!
Bunga!
Kamu bisa diam tidak?
Bunda lagi banyak masalah!
Kamu bisa tidak merengek terus sama Bunda seperti itu?
- Istigfar. - Kalau kamu tidak bisa diam dan mengerti…
Bunda masukkan ke panti asuhan. Mau?
Kiki! Apa-apaan sih?
Kamu mengapakan Bunga?
Bunda jahat!
Kiki, biar kamu tahu, ya.
Bunga ini bukan cuma anak kamu, tapi anak Ronald juga.
Bunga, kamu ikut Eyang saja.
Bunga…
Bunga…
Benar-benar keterlaluan si Kiki.
Bunga, sayang…
sementara kamu tinggal di rumah Eyang dulu, ya?
Mau kan, Bunga?
Ki…
suatu hari kamu akan paham.
Semua ini karena Allah sayang sekali sama kamu.
Ibu tahu…
semua ini sangat sulit dan berat untuk kamu.
Tapi percayalah, Allah itu Maha Adil.
Terkadang kita manusia…
Sudah, Bu.
Aku tidak mau diceramahi.
Istigfar, Ki.
Minta ampun sama Allah.
Minta ampun?
Aku punya dosa apa sih sampai hidupku begini, Bu?
Ki, kita semua punya dosa.
Tapi banyak yang lebih berdosa daripada aku, Bu.
Aku udah berhijab.
Aku sudah patuhi semua perintah-Nya.
Allah tidak adil kepadaku, Bu.
Allah tidak adil kepadaku.
Ronald sudah tidak ada, Bu.
Bunga juga dibawa pergi.
Aku harus hadapi semua ini sendiri.
Allah tidak adil kepadaku, Bu.
Aku tidak bisa!
Aku tidak bisa hidup tanpa kamu! Aku sudah bilang!
Kamu kenapa meninggalkan aku, Ronald?
Ya?
Asalamualaikum, Kiki!
Waalaikumsalam.
- Duduk, masuk. - Ya.
Ingin hidup Anda penuh dengan keajaiban?
Tenang saja, produk ini dapat memenuhi segala kebutuhan Anda.
Kualitasnya terjamin, sudah ribuan tahun lalu terbukti.
Terima kasih, ya.
Ya, sama-sama.
Itu kenapa tangan lo?
Hei…
Dulu tuh ya waktu gue punya persoalan yang banyak…
gue tuh sukanya menyalahkan orang. Menyalahkan kondisi.
Jadi, apa-apa tuh gue salahkan saja.
Sampai-sampai nih ya, leher gue pegal saja, yang gue salahkan tuh bantal.
Katanya tuh ya salah bantal.
Lo menyindir gue?
Kalau cuma mengajak berantem, mendingan pulang saja, deh.
Siapa yang ajak berantem, sih?
Untuk apa gue ke sini kalau bukan karena peduli sama lo?
Lo tuh tidak tahu saja.
Lo tidak merasakan kan ada di posisi gue?
Semenjak Ronald tidak ada…
hidup gue tuh penuh dengan cobaan.
Ya, namanya juga hidup, Ki. Pasti banyak cobaan.
Kalau dikit, namanya mencoba.
Sudahlah, Ki. Hidup itu memang keras.
Ya, gue tahu.
Kalau empuk, bandeng presto.
Sudah, deh. Lo mendingan dengarkan cerita gue saja.
Jadi, nih ceritanya tentang iblis yang buat sedih
seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya.
Jadi, tuh ibu dibuat nangis terus sama dia.
Lalu nih, lo tahu tidak yang terparah apa?
- Si ibls ini… - Memangnya iblis bisa punya anak?
- Bisa. - Berarti dia punya keturunan?
- Ya, iya. - Kok, lo tahu?
Ya, kan ada di Al-Qur'an.
Ada anak, berarti ada istri?
Ya, iya dong. Kalau punya anak, berarti kan ada suami, ada istrinya.
Omong-omong, lo tanya tidak nama istrinya siapa?
Mohon maaf nih. Lucu lo ya. Mana gue tahu? Gue kan tidak datang ke pernikahannya.
Asli, gue sudah lama banget tidak tertawa seperti ini, Ma.
Terima kasih, ya.
Ternyata tertawa itu bisa jadi obat untuk gue.
Alhamdulillah, Ki.
Begitu dong, tertawa. Gue senang lihat lo tertawa kalau jelas alasannya.
Kalau tidak jelas, itu yang gue takutkan. Lo butuh obat berarti.
Lo sepertinya tidak pernah ada masalah dalam hidup.
Tidak punya masalah?
Ya, memang gue sudah tidak punya masalah, sih.
Benar?
Ya, punyanya persoalan.
Sama saja, dong.
Eh, itu beda, Ki.
Beda energinya.
Kenapa? Masalah itu identik dengan keluhan.
Sementara persoalan, temannya itu adalah jawaban.
Jadi, dengan mengubah kata "masalah" menjadi "persoalan"…
itu jauh lebih mudah dapat jawabannya.
Benar juga, ya.
Kok lo sekarang dewasa banget sih, Ma?
Sepertinya beda deh dengan Rahma yang dulu.
Kalau dulu kan lo tukang marah-marah.
Julid.
Negatif terus bawaannya sama orang.
Kalau sekarang lebih bijak.
Lo juga belum cerita nih sama gue kenapa lo bisa berhijab.
Panjang banget hijabnya.
Lo mau tahu ceritanya?
Allah itu Maha Pencemburu.
Cinta kepada makhluk, siapa pun itu…
kepada anak, orang tua, suami, atau istri…
bisa menjadi ujian jika melebihi cinta kepada Allah.
Jangan biarkan cinta tersebut membutakan hati kita dari cinta kepada Allah.
Jadi, lo berubah itu karena ustaz?
Ya, bukan karena ustaz.
Ustaz itu kan kasih ilmunya ke gue.
Ya, lalu ilmunya gue amalkan.
Alhamdulillah gue berubah.
Tapi semua itu atas izin Allah, Ki.
Gue tidak ikut-ikutan, deh.
Ki, dengar deh.
Menurut gue ya dengan meninggalnya Ronald…
itu tuh sudah tanda-tanda Allah tuh mau kasih keajaiban untuk lo.
Keajaiban.
Sekarang tuh yang paling penting yang gue pikirkan tuh cicilan gue.
Sekolahnya Bunga bagaimana untuk bayarannya.
Dan yang paling penting…
gue harus bisa hidup tanpa Ronald.
Wah, banyak juga ya keinginan lo. Seperti cucian kotor.
Lalu lo pengin semuanya terwujud?
Ya, dong.
Ya sudah, kalau begitu, fokus dong perbaiki diri.
Memang gue tidak baik ya sekarang?
Ya, bukan begitu.
Kenapa sih baper banget?
Begini, lo. Waktu itu Ustaz Nas pernah bilang sama gue. Katanya begini.
"Perbaikilah hubunganmu dengan Allah,
maka Allah akan perbaiki kualitas hidupmu."
Jadi, bagaimana? Mau ikut gue ke Ustaz Nas?
Tidak, deh. Gue tidak mau diceramahi.
Gue cuma pengin hidup gue senang sekarang.
Oke, lo mau hidup senang…
atau tenang?
Sudah sampai.
Yuk.
Gue di sini saja, deh.
Gue tunggu di mobil, ya. Tidak jadi ikut.
Kenapa tidak jadi?
Gue sudah keburu bilang lo sama Ustaz Nas kalau mau bawa teman gue.
Yuk!
Sudah, deh. Tidak usah paksa-paksa gue.
Sudah, lo saja yang turun. Gue tunggu sini.
Ya sudah, deh. Gue turun, ya.
Tapi habis ini makan bakso, ya?
Oke, dah.
Salah satu jurus untuk mendapatkan keajaiban adalah…
menerima semua ketetapan Allah dengan lapang dada.
Ada sebuah kisah seorang wanita di zaman Nabi yang kehilangan suaminya.
Suaminya meninggal dunia.
Selesai pemakaman, sang wanita masih
bersedih dan mengelus-elus pusara suaminya.
Nabi lewat dari belakang dan mengatakan, "Yang sabar.
Sang wanita ini tanpa menoleh, lalu mengatakan,
"Jangan ajari aku! Kamu tak tahu yang kurasakan."
Masyaallah, ya. Tapi Nabi lewat saja dari belakang.
Memaklumi karena dia sedang bersedih.
Kemudian temannya bilang, "Hei, itu tadi Nabi, tahu!"
"Astaghfirullah, itu Nabi?" "Ya, itu Nabi."
Dukanya langsung hilang karena sayangnya kepada Nabi melebihi segalanya.
Dia lari tergopoh-gopoh ke rumah Nabi, "Asalamualaikum, Ya Nabi.
Aku tadi yang menguburkan suamiku. Maaf. Aku tidak mendengarkan nasihatmu."
Nabi dengan santai menjawab, "Ya sudah tidak apa-apa." Itulah Nabi.
Sangat santun dan sayang kepada umatnya.
Tapi setelah itu, Nabi menyampaikan satu nasihat yang menggetarkan jiwa.
"Sabar itu di tumbukan pertama."
Yang Nabi maksud di sini adalah…
sabar di detik pertama ketika musibah itu terjadi.
Kita memang manusia.
Tapi manusia bisa lebih hebat daripada malaikat.
Karena manusia mampu mengendalikan perasaannya.
Kegalauan, punya kesedihan, punya kekecewaan.
Agama mengajarkan agar semua perasaan ini dikelola…
agar mendapatkan keajaiban.
Jadi, siapa di sini yang mau dapatkan keajaiban?
Saya!
Syaratnya, menerima musibah dengan lapang dada.
Coba diulangi.
Menerima musibah dengan lapang dada.
Masyaallah.
Ya, tidak apa-apa menangis.
Wanita diberi kelebihan oleh Allah.
Air matanya lebih banyak daripada kaum lelaki.
Ada maksud dan tujuan Allah yaitu agar wanita jadi kuat.
Filosofinya air mata itu seperti air.
Yang menyucikan, membersihkan.
Menyapu bersih semua kegalauan.
Air mata juga panggilan sayang Allah untuk kaum wanita.
Asalkan air matanya dijatuhkan untuk mendekat kepada Allah.
Caranya mendekat kepada Allah bagaimana, Pak Nas?
Pertama, bertobat dan memperbaiki diri.
Kita sebagai manusia harus berani mengakui kesalahan dan dosa kita.
Saya yang ngomong juga banyak dosanya.
Tapi dengan keberanian kita mengakui kesalahan dan dosa…
Allah akan membuka satu pintu, yaitu pintu tobat.
Dengan pintu itu, Allah akan memaafkan semua kesalahan.
Memberikan jalan keluar, menghadiahkan keajaiban.
Dan memadamkan semua azab-Nya yang pedih.
Apa Allah akan mengampuni dosa-dosa saya, Ustaz?
Allah tidak pernah lelah mengampuni hamba-Nya
yang sungguh-sungguh bertobat.
Allah membuka pintu rahmat-Nya dengan istigfar dan salat tobat.
Dengan selalu melakukan dua amalan ini…
semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan memperbaiki hidup kita.
Lo kenapa, sih?
Lihat kalender melulu.
Mendingan lihat gue saja, dijamin getaran positifnya lebih terasa.
Kenapa?
Kece, ya?
Gue tuh sedang menunggu keajaiban, tahu?
Nah, ini. Bagus tuh.
Salat tobat sudah.
Istigfar gue juga sudah banyak.
Mana keajaibannya? Tidak datang-datang.
Coba deh, Ki. Perbaiki niat lo.
Niat itu yang menentukan seberapa jauh kita bertahan dan berjalan.
Sabar, dong! Baru juga beberapa hari, masa sudah tidak yakin?
Bukannya tidak yakin.
Tapi tanda-tandanya saja tidak ada.
Ya, bagaimana keajaiban mau datang? Lo saja tidak sabaran.
Gue harus sabar sampai kapan, sih?
Ya, sabar. Sabar saja. Sabar…
Sabar sampai hidung lo lebar. Nah, itu.
Apa, sih?
Gue serius, tahu.
Sabar itu berat.
Ya, tahu.
Tapi kalau dilakukan dengan ikhlas, tidak ada yang berat, Ki.
Lo itu harus istikamah.
Istikamah juga berat.
Ya, memang istikamah berat. Siapa yang bilang ringan?
Kalau ringan itu isti…
Isti…
- Istirahat. - Apa sih, Rahma!
Ya sudah, Ki. Jangan begitu, dong.
Lo mendingan banyak-banyak berdoa.
Jangan sampai doa lo yang tenggelam dalam keputusasaan.
Cukup bakso saja yang tenggelam dalam kuahnya.
Saya minta maaf. Saya telah membuat kegaduhan di kantor suami saya.
Saya benar-benar tidak menyangka kalau masalahnya bakal jadi sebesar ini.
Padahal saya cuma kirim video itu ke satu teman suami saya.
- Ya, nih. Siapa sih yang kirim video… - Pak Jefry!
Saya peringatkan sekali lagi, ya.
Sudah, jangan memperlebar masalah.
Jangan memperpanjang.
Kenapa kita tidak fokus saja…
kepada persoalan Bu Kiki yang dianggap pelakor?
Dan kita sudah tahu jawabannya.
Kalau itu hanya kesalahpahaman. Ya, Bu Luna?
Ya, 'kan?
Mbak Kiki…
saya juga mau minta maaf.
Karena tindakan saya yang gegabah, nama Mbak Kiki jadi tercoreng.
Padahal…
semua ini karena masalah internal
keluarga kami saja yang belum bisa kami atasi.
Saya jujur saja, jadi sering berburuk sangka kepada suami saya.
Saya minta maaf ya, Mbak Kiki.
Saya benar-benar minta maaf.
Pak Jefry, kalau lain kali datang ke rumah Bu Kiki…
atau siapa saja perempuan, yang berbeda jenis kelamin…
tolong jujur sama istrinya, ya?
Bilang dulu. Saya selaku HRD yang paling lama di perusahaan ini…
hanya bisa berpesan kepada keluarga Pak Jefry dan Bu Luna.
Ada tiga hal yang paling dibenci oleh pasangan suami-istri.
Tiga hal tersebut, yang pertama adalah otak yang kosong.
Lalu yang kedua adalah omong kosong.
Dan yang ketiga adalah dompet yang kosong.
Kalau pernah merasakan atau punya sifat seperti ini…
ingatlah selalu dengan lagu yang dikatakan oleh Pasha Ungu.
Pernahkah kau merasa dompetmu kosong?
- Jadi… - Saya tahu yang mau Bapak bicarakan.
Bapak tenang saja, tidak usah khawatir.
Saya yakin akan menyelesaikan kewajiban saya.
Dan saya juga tahu Bapak datang ke sini untuk menjalankan tugas.
Tapi tolong percaya sama saya.
Saya tidak akan ke mana-mana. Saya ada
di sini terus, dan Bapak bisa datang kapan pun.
Dan nanti saya akan datang ke kantor Bapak
untuk bertemu dengan pimpinan, menyelesaikan semuanya.
Saya rasa semuanya juga sudah jelas.
Jadi, silakan Bapak pergi sekarang.
Bapak-bapak tenang saja, ya.
Kalau tujuan Bapak-Bapak belum tercapai hari ini, tenang saja. Tidak usah kecewa.
Jangan kapok untuk datang lagi.
Masih ada hari esok, kok.
Dan Bapak-Bapak harus percaya, ya.
Bahwa besok itu adalah…
Tomorrow.
Sudah sekian bulan sejak suami kamu meninggal…
kamu masih bilang tidak fokus?
Kenapa kamu tidak cari suami baru saja, sih…
agar kamu fokus dengan pekerjaanmu?
Kok, Ibu ngomong begitu?
Penjualan anjlok parah.
Saya tidak boleh ngomong begitu?
Saya boleh ngomong apa saja…
kalau urusan pribadi kamu sudah ganggu nasib perusahaan.
Akhir-akhir ini saya amati kamu banyak perubahan.
Tapi perubahan kamu itu tidak menguntungkan perusahaan.
Mulai pilih-pilih lagi.
Temui klien di bar dan lounge tidak mau.
Bukannya tidak mau, Bu.
Tapi memang tidak ada aturannya di perusahaan…
yang mengharuskan saya bertemu klien di bar atau lounge.
Kok, kamu malah bela diri, sih?
Bukannya kamu akui kesalahan kamu.
Melunjak pula.
Saya bisa jelaskan semuanya, Bu.
Saya tidak butuh penjelasan kamu.
Sesuai dengan janji saya waktu itu…
jika kamu tidak berubah, kamu cari kantor lain.
Bu, tolong dengarkan saya. Saya bisa jelaskan semuanya.
Saya tidak peduli.
Mau kamu jadi jomlo seumur hidup, atau kamu punya suami baru…
lebih baik kamu pergi cari kantor yang lain.
Waktu sudah habis.
Saya permisi, Bu.
Bunda!
Bunda!
Bunda!
Sayang!
Bunga.
Ya, Allah.
Bunga.
Bunda.
Bunda kenapa tidak pernah ke sini?
Bunga kangen Bunda.
Bunda lebih kangen sama Bunga.
Maafkan Bunda ya, Sayang.
Bunga di sini tidak punya teman.
Kan, ada Bunda, Sayang.
Bunda temani Bunga.
Ya?
Ya, Allah. Sayang, kangen banget Bunda.
Maaf, Bu Kiki. Sebaiknya Bu Kiki segera pergi.
Takutnya Eyang pulang.
Sudah, Bi. Saya kan baru datang.
Masa sudah disuruh pergi?
Tapi bagaimana, ya?
Saya takut dimarahi.
Bisa-bisa saya diusir dari rumah ini.
Soalnya saya sudah dipesan supaya tidak ada yang temui Bunga.
Terutama Ibu.
Sayang.
Bunda minta maaf, ya.
Bunda harus pergi sekarang.
Tidak mau! Kalau Bunda pergi, Bunga ikut Bunda!
Nanti Bunda jemput Bunga. Ya?
Jangan menangis. Jangan sedih. Ya?
Bunda janji.
Bunda janji sama Bunga, Bunda akan ke sini lagi jemput Bunga. Ya?
Ya, Sayang?
Ki.
Kenapa sih lo pakai ancam mau ke pengadilan segala?
Mendingan lo ajak saja kajian. Ketahuan dapat pahala.
Daripada seperti ini.
Minimal ya, kalau tidak dapat pahala, dapat makanan. Nih, dapat gorengan.
Gue tidak habis pikir sama lo.
Sudah lagi banyak masalah…
ditambahkan lagi persoalannya.
Memang gue salah, ya?
Gue mau hidup sama anak gue, salah?
Lo kan tahu sendiri, Ma. Gue sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang.
Ronald sudah tidak ada.
Bunga tidak bersama gue.
Kan, masih ada Allah.
Lo lupa?
Sabar, Ki.
Sabar, sabar terus.
Lo sih enak bisanya cuma nasihati gue.
Coba lo jadi gue. Bagaimana?
Lo lupa, ya? Sabar itu kan di tumbukan pertama.
Sampai kapan, sih?
Ya, sampai dapat keajaiban, dong.
Nih.
Lihat.
Apa pun yang didatangi Al-Qur'an, pasti jadi mulia.
Manusia didatangi Al-Qur'an menjadi manusia paling mulia,
yaitu Nabi Muhammad SAW.
Malaikat membawa Al-Qur'an menjadi malaikat paling mulia, yaitu Jibril AS.
Tempat didatangi Al-Qur'an menjadi tempat
yang paling mulia, yaitu Mekah dan Madinah.
Malam didatangi Al-Qur'an menjadi malam paling mulia, yaitu Lailatul Qadar.
Maka, datangi semua persoalanmu dengan Al-Qur'an.
Insyaallah, akan ada jalan keluar dan mendapatkan keajaiban.
Lo mau tahu kenapa sekarang gue jadi berubah begini?
Dulu…
ada seorang bayi perempuan…
dibawa ke supermarket oleh ayah dan ibunya.
Lalu ayah dan ibunya sibuk memasukkan barang ke mobil.
Lalu…
tiba-tiba…
kereta bayi itu menggelinding mundur.
Dan secara bersamaan…
Ibu itu gue, Ki.
Ibu yang kehilangan bayi perempuannya itu…
gue.
Bertahun-tahun…
gue tidak sanggup masuk ke kamar ini.
Gue hancur, Ki.
Gue merasa hidup itu tidak adil.
Sesak banget rasanya.
Tapi setelah gue…
belajar ilmu getaran Al-Qur'an dari Pak Nas…
atas izin Allah, gue menemukan ketenangan, Ki.
Awalnya berat, Ki.
Berat banget.
Tapi makin lama, gue belajar…
musibah itu adalah pintu anugerah.
Keajaiban itu datang…
saat kita menemukan ketenangan, Ki.
Dan memang ya, Ki…
rencana Allah itu…
selalu lebih indah daripada rencana manusia.
Allah mengganti Asha dengan Fatimah, Ki.
Allah ganti.
Sesungguhnya ketetapan-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu…
Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah, maka jadilah ia."
Ini yang namanya tadabbur.
Tadabbur ayat itu bisa mengobati
atas perasaan hati kita yang sedang terluka.
Obat tentang beban kita biar kita bisa lega.
Berharap kepada manusia, hampa.
Berharap kepada benda, sirna.
Berharap pada kuasa, akan musnah.
Berharaplah kepada Allah, yang tak pernah menyia-nyiakan harapan.
Kadang saat kita punya masalah, lalu kita buka Al-Qur'an…
menariknya kadang saat dibuka acak,
kok ayatnya sesuai dengan apa yang kita rasakan.
Bisa begitu.
Itu hanya Al-Qur'an.
Anda boleh buka bacaan apa saja.
Tidak ada sifat yang sama dengan Al-Qur'an.
Karena itu baru dibuka, belum dibaca, baru lihat,
itu sudah merasakan getaran tertentu di jiwa.
"Baiklah kalau begitu." Pergi Ayub AS.
Digoda lagi sama setan.
"Hei, Yub. Ngapain lagi? Sudahlah. Diambil hartamu. Diambil anakmu.
Sekarang kau sakit. Diusir pula kamu."
Apa kata Ayub AS?
"Alhamdulillah saya sempat akrab dengan mereka."
Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan hanya kepada-Nyalah kami akan kembali.
Terima kasih, lo.
Jadi merepotkan.
Santai saja.
Terima kasih, Ki.
Bismillah.
Apa sih melihat gue seperti itu?
Lo agak lain, sih.
Agak lain?
Bagaimana, ya? Muka lo tuh kinclong banget, lo.
Memangnya gue piring, kinclong?
Bukan begitu. Maksud gue, muka lo tuh bercahaya.
Pakai perawatan kulit baru, ya?
Tidak. Mana ada waktu sih gue pakai perawatan kulit begitu.
Sekarang yang gue pikirkan nih ya…
bagaimana caranya gue selesaikan semua persoalan gue?
Tunggu.
Gue sudah tahu kenapa muka lo bercahaya begini.
Lo sudah temukan ayatnya, ya?
Sudah berteman dengan Al-Qur'an.
Ya?
Teman gue, masyaallah. Begitu, dong.
Bagus tuh begitu. Gue suka.
- Siapa tuh, Ki? - Sebentar.
Rumah ini disita? Pak, ini pasti ada kesalahpahaman.
Tidak ada kesalahpahaman, Bu. Proses sudah berjalan lama.
Dan ini sudah masuk tahap restrukturisasi pembayaran.
Ibu sudah tidak pernah membayar.
Di surat itu sudah jelas, Bu. Bayar, atau saya sita rumah ini.
Pak, dengar ya. Kalau Bapak tidak ada kesalahpahaman…
berarti Bapak yang gagal paham.
Lagi pula, aneh banget sih. Kenapa datang ke sini semuanya?
Bu Kiki itu kan sudah tahu kewajibannya apa.
Sudah datang juga ke kantor Bapak. Kok, Bapak main eksekusi saja begini?
Ya, Pak. Kan, saya sudah datang ke kantor untuk renegosiasi dengan pimpinan.
Kenapa harus ada tindakan penyitaan?
Ibu boleh saja beralasan macam-macam, Bu.
Kami ke sini hanya menyampaikan surat itu, Bu.
Kami berikan waktu Ibu seminggu untuk mengosongkan rumah ini, Bu.
Lo?
Ada apa ribut-ribut itu?
Mas Dhana, kita turun dulu.
- Ayo, Pak. - Ya.
Maka saya minta bantuan hukum.
Sekalian saja lapor polisi.
Jika kami dianggap melanggar, kami hadapi.
Ya sudah.
Ada apa, sih?
Ribut-ribut di rumah warga saya.
Kiki?
Dhana?
Bismillah, saya jaminannya.
Insyaallah, saya akan ke kantor Bapak-Bapak
untuk selesaikan seluruh permasalahan ini.
Jadi, tidak perlu lagi ada ancaman penyitaan rumah ini.
Saya kira sudah jelas, ya?
Oke, kalau begitu, saya pamit pulang.
Baik.
- Terima kasih ya, Pak. - Sama-sama.
Terima kasih, Pak.
Terima kasih.
Alhamdulillah.
Bagaimana? Ajaib, 'kan?
Semuanya kok bisa menyambung begitu?
Siapa dulu, RT begitu lo.
Mantap, Pak RT.
Itu namanya satu sama terhubung.
Keajaiban datang seketika karena frekuensi yang positif.
Sebenarnya aku sudah lama berniat mencari rumah
untuk dijadikan tempat penitipan anak.
Karena itu salah satu mimpi aku.
Dan masyaallah hari ini bukan hanya rumah yang kudapat.
Alhamdulillah Allah mempertemukan aku dan Kiki yang lama tidak bertemu.
Tidak begitu, Mas Dhana.
Yang menyambungkan Mas Dhana dan Mbak Kiki kan melalui saya.
Jangan diabaikan begitu, dong. Setidaknya, ikut sertakan dong saya.
Positifkan juga.
Ya, benar, Pak. Pokoknya Pak RT mantap deh.
Pokoknya positif banget.
Sudah seperti selotif.
Selotip.
Ya, itu maksudnya.
Selotip. Jadi, meskipun kelihatannya seperti barang sepele…
tapi manfaatnya gede banget lo, Pak RT.
Bisa menyambungkan biar jadi kuat menempelnya.
Kamu tahu temannya selotip?
Siapa?
Lakban.
Ya, juga sih.
Mau hatimu dan hatiku dilakban?
Aduh.
PENITIPAN ANAK QUANTUM
Alhamdulillah, Ki. Gue sudah bereskan semua tunggakan kredit rumah ini.
Terima kasih ya, Dhan.
Lo sudah bantu semua persoalan gue.
Sama-sama, Ki. Alhamdulillah. Semua Allah mudahkan, Ki.
Omong-omong, gue berharap lo bersedia untuk mengelola penitipan anak ini, Ki.
Sayang, hati-hati, Nak.
Bu.
Tiap hari Kiki bisa menghabiskan banyak waktu bersama anak orang lain.
Tapi Kiki tidak bisa merasakan bersama anak sendiri, Bu.
Ki…
kamu boleh bawa pulang Bunga.
Benar, Bu?
Alhamdulillah.
Tapi hanya akhir pekan, ya.
Kenapa, Bu?
Ki…
coba kamu pahami Bunga dulu.
Dia kan lagi masa-masanya butuh kasih sayang orang tuanya.
Ayahnya kan sudah meninggal.
Ibunya nanti sibuk dengan pekerjaannya.
Biarlah Bunga bersama kamu Sabtu dan Minggu.
Hari-hari biasanya bersama kami.
Sampai Bunga memiliki ayah dan bundanya.
Maksud Ibu?
Kiki harus menikah lagi?
- Asalamualaikum. - Waalaikumsalam. Mari, Pak.
Bisa, Sayang?
- Sheryl? - Sheryl, ayahnya sudah jemput, nih.
- Asalamualaikum. - Waalaikumsalam.
Mari.
Kenapa, Sayang?
Senang ya kalau Bunga punya ayah, Bun.
Kenapa ayah Bunga yang meninggal?
Sayang.
Walaupun Ayah tidak bisa bersama kita lagi sekarang…
tapi Bunda yakin…
Allah selalu menjaga hati Bunga untuk selalu dekat dengan Ayah.
Bunga tidak boleh sedih.
Ayah pasti sedih kalau lihat Bunga begini.
Senyumnya mana?
Izin, Camer.
Saya Arkan. Asli dari Manado.
Saya anak terakhir dari sepuluh bersaudara.
Cuma saya sendiri yang jones. Tahu jones?
Jomlo sedih.
Hai, Teh.
Kenalkan, nama saya Dede.
Teteh tidak perlu panggil saya Aa Dede. Cukup Dede saja.
Karena saya masih imut.
Pokoknya kalau Neng Kiki nikah sama Zaki, kerjanya keluar kota terus. Naik motor.
Syukur alhamdulillah, jika Dik Kiki memperkenankan dengan saya…
Dik Kiki tuh yang keempat.
Mas?
Mas tidak apa-apa?
Sakit?
Maaf, Bu.
Saya deg-degan.
Kok, diam saja?
Mau tidak denganku?
Dik Kiki.
Bagaimana?
Kangen kamu.
Begini, Ki. Gue tidak minta lo melupakan Ronald.
Ronald akan selalu ada di ingatan lo, di hati lo.
Cuma tidak bisa begini terus.
Yang terpenting kan lo harus ikhlaskan dia.
Bagaimana caranya?
Enak, ya.
Orang tuh gampang banget ngomong, "Ikhlaskan saja."
Tapi tidak pernah kasih tahu caranya.
Gue sekarang juga sudah mencoba kok untuk bisa melupakan Ronald.
Gue sudah mencoba untuk buka hati gue untuk orang lain demi Bunga.
Ya, tapi tidak bisa.
Susah.
Tidak bisa.
Ya sudah.
Jangan sedih begitu, dong. Sudah.
Nanti ikut gue, ya.
Kita pergi ke tempat…
yang bisa bikin kita lebih ikhlas lagi.
Oke?
Ya sudah.
Sudah, makanya jangan dilihat terus ponselnya.
Sudah, kan kita mau senang-senang di sini.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah hari ini kita belajar ilmu magnet rezeki.
Ilmu untuk mendapatkan keajaiban.
Siapa di sini yang mau dapat keajaiban?
Saya!
- Siapa yang mau mendapatkan keajaiban? - Saya!
Tos dulu dong kanan-kiri Anda. Luar biasa!
Luar biasa!
Nah, sekarang kalau saya bilang sesuatu, bilang, "Wah, keren!"
Anak pecahkan gelas.
Wah, keren!
Ponsel hilang.
Wah, keren!
Dipecat dari pekerjaan.
Wah, keren!
- Rumah kebakaran. - Wah, keren!
Suami menikah lagi.
Maaf ya, Ibu-Ibu. Mudah-mudahan tidak terjadi. Amin.
Tapi seandainya pun sudah terjadi,
maka kita tetap harus berpikir yang baik-baik saja.
Karena di balik segala sesuatu…
ada Allah sebagai penulis skenario terbaik kehidupan kita.
- Setuju? - Sepakat!
- Sepakat? - Setuju.
- Setuju? - Sepakat!
- Sepakat? - Setuju.
Tos kanan-kiri Anda. Luar biasa!
Luar biasa!
Terima kasih, ya.
Hei.
Bagaimana tadi pelatihannya?
Gue suka, deh.
Kalau ada lagi, kabari ya. Gue mau ikut.
Harus, dong. Ikutan pelatihan Magnet Rezeki itu…
selain menambah teman, tapi juga buat kita makin dekat sama Allah, Ki.
Dan saling mendukung dalam kebaikan.
Supaya apa? Supaya kita lebih sukses dan berkah hidupnya.
Kan, tadi ada ilmu, "Wah, keren!" ya.
Berarti kalau kita menghadapi segala sesuatu,
kita harus bilang, "Wah, keren!"?
Itu tuh untuk melatih diri supaya kita selalu
berprasangka baik kepada Allah. Begitu.
Berarti, apa pun yang menimpa kita,
itu bagaimana cara kita meresponsnya, bukan?
Bahkan musibah saja bisa jadi anugerah.
Tapi kalau kita anggapnya masalah, ya jadi masalah.
Kalau kita anggapnya pintu rezeki, itu akan berubah menjadi keajaiban.
Benar.
Berarti bisa disimpulkan…
hari ini adalah…
Wah, keren!
Begitu, dong. Semangat, Bunda.
Lucu, ya?
Bu.
Apa-apaan ini?
Saya beli mawar ini mahal-mahal, Bu.
Tapi ternyata mawarnya cacat semuanya.
Ibu sengaja ya mau mempermainkan kami?
Saya lihat ya, Bu.
Ini mawarnya mati karena tidak ditaruh di tempat teduh ya, Pak? Bu?
Seharusnya mawar itu tidak boleh tersengat sinar matahari langsung.
Jadi, saya tahu persis, Pak, Bu, kalau semua mawar di sini kualitasnya terbaik.
Bahkan, kami punya sertifikat bibit unggulnya juga.
Kalau Ibu dan Bapak mau lihat, boleh saya ambilkan.
Sudah. Begitu, ya?
Ya sudah, deh. Terima kasih ya, Bu.
- Kalau begitu, kami permisi dulu. - Ya.
Terima kasih ya, Mbak.
Mbak sepertinya tahu banyak ya tentang bunga mawar.
Kebetulan sudah cari di internet, Bu. Jadi, saya tahu.
Oh, iya. Kasih.
Kiki.
Jadi, setelah sekian lama Nak Kiki ditinggal suaminya meninggal…
apa sekarang Nak Kiki sudah bisa terima suami baru? Sudah bisa buka hati?
Saya mulai memahami, Bu…
mencari pasangan yang baik…
itu adalah rencana Allah untuk kebahagiaan saya.
Baik dunia maupun akhirat.
Anak saya pasti senang sekali berkenalan dengan Nak Kiki.
Bu.
Ibu ingat ya apa kata dokter.
Obat jangan sampai tidak diminum.
Jadwal konsul dengan dokter juga jangan sampai tidak datang.
- Ya. - Jangan sampai Ibu kena serangan lagi.
Ya, ya.
Gas, ini namanya Kiki.
Ibu senang banget lo kalau kamu mau kenalan sama dia.
Ya, Bu. Cantik.
Kamu ini bagaimana, sih? Lihat saja belum, sudah bilang cantik.
Gas, Ibu tahu kamu tidak bersemangat.
Bagaimana kalau ini permintaan terakhir Ibu?
Bu.
Aku pasti akan menikah.
Tapi tidak sekarang.
Aku masih menikmati waktuku dengan Ibu.
Ya, tapi sampai kapan, Gas?
Kamu mau tunggu Ibu sampai dikubur?
Ya?
Sebentar.
Asalamualaikum, Bu.
Waalaikumsalam.
Gas, temani Ibu ya sekarang ketemu Kiki. Ibu tunggu ya di rumah.
Ya, Bu. Aku ke sana sekarang, ya.
- Asalamualaikum. - Waalaikumsalam.
- Pak Rafi. - Ya, Pak?
Tolong pimpin untuk lanjutkan rapatnya, ya, karena saya harus pergi sekarang.
- Baik, Pak. - Terima kasih.
Pak Bagas, mohon maaf. Ini mendesak sekali, Pak.
Ada 20 jemaah kita yang tertahan visanya di Kedutaan Arab Saudi.
- Ini saya harus pergi sekarang? - Ya, Pak.
Kalau tidak, jemaah kita tidak bisa berangkat, Pak.
Oke.
Terima kasih, Pak.
Permisi, Kak.
- Terima kasih ya, Mbak. - Ya.
Nak Kiki, terima kasih ya sudah menyempatkan datang untuk temui saya.
Ya, Bu.
Bagaimana makanannya? Enak?
Enak.
Nak Kiki tidak buru-buru, 'kan?
Tidak, kok.
Aduh!
Aduh, tolong!
Aduh!
Bu, kenapa?
Aduh, sakit. Sakit.
Astaghfirullah. Ketubannya pecah, Bu?
Ayo saya bawa ke rumah sakit.
- Ya. - Ayo.
Nak Kiki, maaf ya.
Saya jadi tanya lagi, nih.
Kalau menurut Nak Kiki, suami ideal seperti apa sih yang Nak Kiki inginkan?
Sebentar, Nak.
Sebentar, ya.
Halo.
Halo, Bagas.
Halo.
Kamu di mana sih, Gas?
Di rumah sakit?
Sudah, kamu pasti cari alasan lagi, 'kan?
Kamu tuh, ya!
Nak Kiki, maaf ya. Saya tiba-tiba tidak enak badan.
Ini biar nanti saya yang bayar, ya.
- Ya, Bu. - Maaf ya, Nak.
Ya, Bu.
Tolong Ibu percaya kepadaku.
Aku sama sekali tidak berniat menghindari Kiki.
Aku benaran habis dari rumah sakit.
Tadi ada ibu hamil yang mau melahirkan.
Aku bantu dia.
Aku harus bawa dia ke rumah sakit.
Sekarang bagaimana sih caranya supaya Ibu bisa percaya kepadaku?
Kamu pikir tidak, kalau tadi kamu sudah buat Ibu malu di depan Kiki.
Maafkan aku ya, Bu.
Ibu tenang saja.
Ibu tunggu sini, ya.
Nak Kiki?
Bu.
Terima kasih, ya.
Bagas.
Bagas.
Kiki.
Saya Bagas Alif Wiratama.
Saya datang dengan niat baik untuk mengajak taaruf Ananda Rizki Amalia Putri.
Saya memohon kesempatannya untuk bisa saling mengenal…
dengan penuh kehormatan dan keikhlasan.
Saya berharap…
perkenalan ini…
bisa menjadi bagian untuk mendatangkan rida Allah.
Amin.
Alhamdulillah.
Biar aku saja.
Terima kasih, ya.
Terima kasih, ya.
Hai, Cantik.
Namaku Bagas.
Nama kamu siapa?
Namaku Bunga.
Hai, Bunga. Kamu cantik sekali.
- Terima kasih. - Bu,
sepertinya kita boleh tentukan tanggal.
Aku setuju.
- Terima kasih. - Badu.
- Bunga sudah sekolah belum? - Sudah.
Jadi, ini untuk area luar. Untuk 30 orang.
Om Bagas, buat apa?
Buat mahkota.
Mahkota?
Mahkota untuk Putri Bunga.
Terima kasih!
Sama-sama.
Putri Bunga harus ingat, ya.
Mulai sekarang, apa pun perintah Putri Bunga, Om Bagas siap melakukannya.
Oke?
Oke.
Terima kasih, Om Bagas.
Sama-sama.
Astaghfirullah. Ya Allah.
Kiki, Ibu temukan sesuatu keren banget. Lihat nih.
Ini bagus ya modelnya.
Apalagi pakai bahan ini.
Kamu pakai ini tambah cantik.
Bagus, ya? Suka? Atau kamu mau pakai model lain? Bagaimana?
Ini obatnya ya, Bu.
Oh ya, Bi, beras yang untuk pesantrennya Pak Nas…
kamu siapkan, ya?
Nanti biar Mas Bagas yang antar, Bi.
Baik, Bu. Ini, Bu.
Ibu pelan-pelan. Ambil napasnya, Bu.
Pelan-pelan, Bu.
Bu?
Kok, tidak ingatkan aku sih, Bu…
kalau hari ini seharusnya kita jadwal ketemu dokter?
Aku benar-benar lupa, lo.
Maafkan aku ya, Bu.
Gas, bagaimana?
Pengepasannya sudah beres, Gas?
Tadi dokter bilang apa, Bi?
Karena darah tinggi, Mas Bagas.
Ibu tidak minum obat.
Saya permisi ya, Mas.
Untuk apa aku bahagia, Bu…
kalau keadaan Ibu jadi begini?
Aku minta maaf, Ki. Aku benar-benar tidak bisa.
Maafkan aku buat keputusan ini.
Ki, maaf. Ki!
Bagas, kamu itu batalkan pernikahan, dan kamu tidak beri tahu Ibu!
Kamu kelewatan, Bagas.
Ya, aku juga tidak mengerti aku harus bagaimana lagi.
Sekarang aku baru persiapan menikah saja sudah melupakan Ibu.
Bagaimana kalau aku sudah menikah?
Kamu itu keterlaluan.
Bu?
Ibu!
Bu.
Ibu!
Ki.
Allah tidak akan menguji seseorang melebihi batas kemampuannya.
Kalau sekarang Allah menguji lo begini…
itu karena Allah paling tahu lo bisa melewatkannya.
Kenapa harus sekarang?
Ya, karena ini waktu yang terbaik, Ki.
Kalau dulu Allah kasih ujian ini ke lo, mungkin lo belum tentu melewatinya.
Ki.
Ini semua karena lo sanggup melewatinya.
Karena Allah yakin lo bisa.
Dan lo tahu kok harus berbuat apa.
Ya?
Alhamdulillah.
Wah, keren!
Ya, itu.
Masyaallah.
Kalian lulus nanti mau jadi apa?
Mau jadi pebisnis, Ustaz.
Saya jadi hafiz, Ustaz.
Jadi imam, Pak Ustaz.
Mau jadi peneliti, Ustaz.
Masyaallah. Kalau kamu, mau jadi apa?
Saya mau menikah, Ustaz.
Jangan ditertawakan, ya.
Semua cita-citanya bagus.
Ustaz doakan semoga semuanya tercapai.
Menikah itu setengah agama.
Jadi, tidak main-main.
Menikah itu jalan menuju surga.
Ada seorang pemuda di zaman Nabi yang tidak mau
menikah karena takut tidak bisa ibadah.
Lalu Nabi mengatakan, "Aku adalah orang yang paling saleh di antara kalian.
Tapi aku juga menikah.
Menikah itu adalah sunahku.
Siapa orang yang tidak mengikuti sunahku, bukan golonganku," kata Nabi.
Mas Bagas, terima kasih ya. Sampaikan salam kepada Ibu.
Mudah-mudahan infaknya jadi jalan keberkahan.
Untuk Mas Bagas, Bu Kasih, dan keluarga.
Amin. Terima kasih. Sama-sama, Pak Nas.
Pak Nas.
Ada yang mau saya tanyakan, Pak.
Tentang ceramah Bapak mengenai pemuda yang tidak mau menikah tadi.
Oh, yang tadi. Kenapa?
Mas Bagas sudah menikah, 'kan?
Belum, Pak.
Belum?
Umur berapa sekarang?
31, Pak.
Kita mengobrol sebentar, ya.
- Masyaallah. - Ya, Pak.
Saya 31 tahun, belum menikah.
Apa benar, Pak…
saya bukan golongannya Nabi?
Ya, itu topik ceramah tadi…
untuk memotivasi para santri.
Ada juga pengecualian beberapa ulama yang mereka tidak menikah…
karena sibuk dan tenggelam dengan kitab-kitab mereka.
Tapi kalau Mas Bagas janganlah. Mas Bagas menikahlah.
Bukannya tidak mau menikah, Pak.
Saya cuma takut…
saya tidak bisa memuliakan ibu saya kalau saya menikah.
Karena banyak, Pak.
Teman saya…
setelah menikah…
mereka cuek banget sama ibunya.
Dan saya khawatir kalau saya menikah…
sama saja seperti saya memasukkan musuh ke rumah saya sendiri, Pak.
Jangan!
Tetap kita muliakan ibu kita.
Dan jalan kemuliaan itu kan bukan cuma jadi anak.
Menjadi suami yang baik, ayah yang baik.
Itu jalan kemuliaan untuk masuk ke surga Allah.
Sama itu tadi.
Pikiran memasukkan musuh ke rumah.
Itu harus dihilangkan.
Masih ingat tidak? Setiap pikiran adalah doa.
Oh, iya.
Astaghfirullahaladzim.
Dan semua doa dikabulkan oleh Allah.
Ya. Saya lupa, Pak.
Ya.
Ada cerita, nih. Seorang ulama bilang, "Kalau bujangan tua belum menikah…
cuma dua kemungkinannya."
Satu, banyak dosa.
Astaghfirullah.
Yang kedua apa, Pak?
Loyo!
Amit-amit, Pak.
Makanya, mudah-mudahan saya doakan semoga Mas Bagas segera menikah.
Ya, Pak.
Apa masih ada harapan, Dok?
Kita berharap keajaiban hanya kepada Allah.
Tapi sementara itu saya akan terus berupaya maksimal.
Maafkan aku ya, Bu.
Aku sudah menolak kebaikan Ibu.
Seharusnya aku sadar…
menikah itu untuk kebaikanku.
Dan aku tidak perlu meragukan itu.
Maafkan aku ya, Bu.
Sekarang aku sudah meluruskan niat aku untuk menikahi Kiki.
Ibu yang kuat, ya.
Ibu harus sehat.
Ibu harus sembuh.
Aku kangen Ayah.
Bunga.
Sini, Sayang. Dekat Bunda.
Bunga kangen ya sama Ayah?
Bunda juga kangen.
Kita berdua sayang Ayah.
Tapi Bunga harus tahu…
kalau Allah jauh lebih sayang Ayah.
Pada saatnya…
nanti kita pasti ketemu lagi sama Ayah.
Ya?
Sini.
Biar aku yang bukakan pintu ya, Bunda.
Asalamualaikum, Cantik.
Putri Bunga apa kabar?
Bunga kenapa?
Om Bagas ganggu, ya?
Tidak, Om Bagas. Malah Bunga senang ada Om Bagas.
Malah Bunga mau minta tolong sama Om Bagas, boleh tidak?
Minta tolong?
Mau minta tolong apa, Sayang?
Besok ada pertunjukan seni di sekolah.
Om Bagas mau temani tidak aku main boneka di sekolah?
Main boneka?
Boleh.
Ayo!
Om Bagas main boneka sebagai Ayah.
Aku main bonekanya sebagai Anak.
Lalu ceritanya bagaimana?
Ayahnya ngapain?
Pertama-tama…
Ayah cium dahi anaknya.
Lalu?
Lalu Ayah bilang kangen sama anaknya.
Oke, coba kita latihan, ya.
Coba, ya.
Ya, ampun, Anakku.
Ayah hari ini senang banget bisa ketemu anak Ayah yang sangat baik!
Aku juga senang punya ayah yang paling baik sedunia!
Ayah jangan pergi, ya.
Bunga tenang saja.
Ayah tidak akan pergi.
Bu.
Sekarang aku sudah yakin untuk menikahi Kiki.
Aku rida, Bu.
Bu?
Ibu?
Ibu?
Maafkan aku ya, Bu.
Alhamdulillahirabbil'alamin.
Saya terima nikah dan kawinnya Rizky Amalia Putri, binti Nur Rahmat…
dengan mas kawin 27 dinar dibayar tunai.
- Bagaimana, Saksi? - Sah!
Bagaimana, Bapak dan Ibu?
Sah!
Alhamdulillah.
Al-Fatihah.
Pernikahan yang kita saksikan hari ini…
adalah salah satu tanda keajaiban kepada hamba-Nya.
Bagi sebagian orang, pernikahan mungkin hanya sebagai ritual biasa.
Tapi bagi Mbak Kiki…
ini adalah momen keajaiban…
setelah melalui berbagai ujian.
Keajaiban bisa terjadi kepada semua orang dalam bentuk yang berbeda-beda.
Keajaiban ulama disebut sebagai karamah.
Keajaiban orang biasa seperti kita dinamakan maunah.
Hari ini kita menyaksikan maunah bagi Mbak Kiki dan Mas Bagas.
Dan mudah-mudahan, kita semuanya insyaallah…
akan mendapatkan maunah dalam kesempatan berikutnya.
Karena keajaiban itu ada bagi mereka yang percaya.
Bunda!
Bunda!
Mulai sekarang…
rumah itu jadi miliknya Bunda.
Aku sudah beli lagi dari Dhana, temannya Bunda.
Tendang-tendang? Kamu cemburu, Adik Bayi?
Kamu cemburu, ya?
Bunga, sini deh.
Bunga.
Adik laki-lakinya mau dikasih nama siapa, nih?
Siapa?
Wah, keren!
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.