Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Apakah kau percaya dengan keberadaan hantu?
Sree, sayang.
Tidur, besok sekolah.
Sree!
Kenapa menggambar seperti ini? Apa ini?
Sree, jawab Ibu!
Sree, jawab Ibu!
Kalau tidak, Ibu beri tahu Ayah!
Bu...
Tidak ada apa-apa.
Tadi, Sufi bercerita tentang cerita hantu.
Mungkin Sree terpengaruh.
Kau ini ya...
Sufi!
Sudah Ibu bilang!
Jangan ajarkan hal-hal ngawur ke adikmu!
Tapi Sufi tahu...
kalau Ibu juga bisa melihatnya, kan? - Cukup!
kalau Ibu juga bisa melihatnya, kan? - Cukup!
Kau tidak paham? Kalau Ayahmu tahu...
kau tahu apa yang akan terjadi, kan?
Tidak semua orang bisa menerima hal seperti ini.
Dulu abangnya Sree, Sufi, dia yang ajarkan Sree tentang...
kemampuan ini. - Sree.
kemampuan ini. - Sree.
Sree, ini seperti abang.
Kita bisa lihat apa yang tidak bisa dilihat orang lain.
Kita ini sensitif.
Sensitif itu apa?
Kita...
istimewa.
Abang ingin berpesan.
Kalau Sree melihat apa pun di rumah ini...
Sree jangan takut.
Sree cukup baca Ayat Kursi.
Itu semua jin.
Hanya ingin menakuti kita.
Sree cukup baca Ayat Kursi.
Nanti kalau mereka takut...
mereka akan pergi.
Ayat Kursi itu bagaimana?
Ibu tidak ajarkan?
Bagaimana Ibu mau ajarkan?
Tidak apa-apa. Nanti Abang ajarkan...
sekaligus dengan salat.
Sementara itu, ada juga zikir pendek...
tapi nanti saja Abang ajarkan yang itu.
Aku tidak mengerti.
Tidak apa-apa.
Nanti kalau Sree semakin besar, Sree akan mengerti.
Tapi Sree harus berjanji pada Abang.
Sree jangan beri tahu siapa pun...
tentang apa yang Sree bisa lihat.
Bukankah tadi Abang yang...
bilang kita ini istimewa?
Kenapa tidak boleh beri tahu orang lain?
Karena...
mereka tidak akan percaya pada kita.
Akal mereka tidak akan bisa terima.
Tapi Sree tahu, kan...
kalau Abang akan selalu ada untuk Sree?
Tapi pada saat itu, tidak ada sedikit pun rasa istimewa.
Ibu baik-baik saja?
Ibu baik-baik saja, selama masih ada Sufi dan Sree.
Kenapa Ibu membiarkan...
Ayah memperlakukan Ibu seperti ini?
Kita tidak butuh Ayah. Ayah jahat.
Eh, tidak baik berkata begitu.
Sufi masih ingat, kan?
Dulu setiap kali Ayah itu baik dan penuh kasih sayang.
Ayah bekerja keras untuk menjaga kita.
Lalu...
kenapa sekarang Ayah seperti ini?
Karena itu bukan Ayah.
Apa maksud Ibu?
Maafkan Ibu, Sufi, Ibu tidak...
Kau tidak mengerti!
Aku sudah tidak tahan.
Aku sudah berusaha sebaik mungkin...
tapi aku tidak sanggup lagi.
Abang.
Kenapa kau seperti ini?
Kenapa kau berubah...
sejak mewarisi rumah ini?
Ini satu-satunya cara...
agar aku bisa menghilangkan semua hal buruk dalam pikiranku.
Kembalikan, perempuan tak berguna!
Abang.
Kita harus cari bantuan, Abang.
Rumah ini tidak baik.
Kenapa kau berkata seperti itu tentang rumah ini?
Ini rumah warisan leluhurku.
Jangan pernah berkata buruk tentang rumah ini.
Diam!
Kukatakan diam!
Sayang?
Ayah sedang apa?
Ayah sedang apa?
Tak berguna!
Sufi, kau tidak mengerti!
Sufi, Ayah sayang kau.
Kau sangat menginginkan aku, kan?
Ambil aku!
Ambil aku! Aku adalah tuanmu!
Ibu!
Ibu!
Dengan masa lalu yang kelam seperti itu, tentu saja Sree terpengaruh.
Sree.
Ibu guru mengerti.
Kau dibesarkan dalam lingkungan yang tak kondusif...
tapi kau harus tetap fokus...
demi masa depanmu sendiri.
Kau tidak bisa terus seperti ini, Sree.
Setelah Abang Sufi masuk ke sekolah juvana, Sree diasuh oleh bibi dari pihak ayah...
di rumah tua yang sudah lama kosong.
Selama tumbuh besar, Sree memang kesepian.
Tidak cocok. Tidak pandai bersosialisasi...
sampai akhirnya Sree bertemu...
Eh, anak aneh! - Merek...
Eh, anak aneh! - Merek...
Lihat ini! Dia suka menggambar hantu.
Ih, aneh banget dia ini.
Gila juga, dia ini.
Eh, kalian tahu tidak?
Orang bilang, dia ini...
yang bunuh ibu dan ayahnya...
tapi dia bilang hantu yang melakukannya!
Hantu?
Mana ada hantu?
Dia ini lebih baik dikirim saja ke rumah sakit jiwa.
Biasanya kalau laki-laki mengganggu perempuan...
berarti dia suka.
Ih, aku geli.
Sudahlah. Ngaku saja kalau memang suka.
Nyah!
Ada gosip baru tentang Nyah di sekolah kita!
Tadi kau bilang, tidak percaya hantu, kan?
Percaya tidak kalau aku bisa kutuk kalian bertiga?
Kukirimkan hantu!
Aku tidak takut!
Mau menantang? Katakan dengan keras!
Hai, aku Erica.
Arman.
Aku Diana.
Sree.
Kami tahu semua rahasia tentang kau.
Kau bisa lihat sesuatu yang orang lain tak bisa lihat, kan?
Karena kami juga seperti kau.
Sejak saat itu, kami jadi sahabat dekat.
Saling menjaga, dan selalu bersama.
Walaupun sudah dewasa...
masing-masing sudah bekerja.
Sudah memulai hidup dengan kehidupan masing-masing.
Sesekali kami tetap mencari waktu untuk bertemu.
Bertukar cerita hantu.
Agar kami tidak merasa...
kesepian.
Hingga datang masa pandemi.
Hampir dua tahun kami tidak bertemu.
Sekarang sudah tidak ada pembatasan.
Erica menelepon semua orang dan mengajak untuk bertemu.
Tak sabar rasanya ingin reuni dengan geng-ku itu.
Eh, aku kaget.
MyBest Delivery.
Ibu Sree, paket dari Thailand.
Terima kasih!
Erica!
Sangat rindu!
Sudah lama sampai?
Tak pesan makanan?
Tak apa, aku tunggu kalian semua.
Anak-anak, lama tak datang, terasa sepi juga.
Tuan Harun, warungmu ini cantik sekali.
Iya.
Zaman pun sudah berubah.
Lagi pula anak-anak zaman sekarang...
kalau mau makan, maunya di kafe yang bergaya.
Tempat yang kekinian, ya?
Kalau tidak salah Tuan Harun...
sudah lebih dari dua tahun kau tidak datang?
Iya, sejak pandemi itu.
Tuan Harun kira kalian semua...
sudah lupa dengan warung ini.
Eh, jangan begitu, Tuan Harun.
Dari dulu kita memang suka nongkrong di sini, kan?
Iya, betul begitu.
Mau pesan seperti biasa?
Tuan Harun masih ingat makanan favorit kami?
Ingat! Tiga porsi, ya?
Empat porsi, Tuan Harun.
Oh iya, mungkin kau lapar, ya?
Tunggu sebentar, ya?
Jadi...
Reuni Geng Paranormal?
Itu juga topik yang kau angkat, kan?
Tidak apa-apa, kita dekat karena itu.
Kita semua peka terhadap dunia ini.
Aku tidak punya pengalaman baru akhir-akhir ini...
tapi sepupuku punya...
dan kejadian itu terjadi di rumah kontrakanku sendiri.
Aku sudah lama tinggal menyewa sendiri di rumah itu.
Semuanya baik-baik saja, tidak ada kejadian apa pun.
Sepupuku, Zara...
ikut pindah ketika dia mencari kerja di sekitar KL.
Terima kasih! Izinkan aku menyewa kamar di rumahmu ini.
Tidak masalah, aku bantu semampunya...
tapi maaf, aku tidak bisa membantu angkut barang juga.
Aku kerja lembur malam ini di rumah sakit.
Eh, aku tidak apa-apa. Kau ini!
Barangku juga tidak banyak.
Kalau ada apa-apa, kau telepon aku, ya!
Ya, baiklah, baiklah.
Oke, sampai jumpa! Sayang kau, sepupu.
Hai, semuanya.
Zara di sini untuk sesi siaran langsung hari ini.
Aku ingin membuat ulasan produk yang sangat menarik.
Cantik, kan?
Tampak seperti sesuatu yang misterius...
dan kotak ini terlihat seperti barang lama.
Karena memang kotaknya kelihatan cukup usang.
Di dalamnya ada catatan kecil, dan kertasnya tampak sangat tua.
Tapi, sebentar. Biar aku baca dulu.
Kalian lihat, kan?
Terbuat dari rambut manusia asli?
Zara sudah dibayar. Jadi tetap akan lanjutkan siaran ini.
Baik, mari kita lihat apa isi kotak ini.
Semua, wah! Suka banget!
Tak ada keluhan sama sekali.
Dan oh, ada surat di dalam sini.
Biar aku bacakan saja isinya.
Terima kasih telah membeli dari Bu SeeWang.
Bulu mata ini tidak perlu menggunakan lem?
Tidak perlu perekat?
Wow, aku belum pernah dengar...
bulu mata yang tidak perlu memakai lem.
Menarik sekali!
Baiklah, mari kita coba dan lihat apa ini benar-benar berfungsi.
Semua!
Bulu matanya benar-benar menempel sendiri!
Apa?
Oke, aku percaya sekarang...
dan terlihat sangat alami.
Aku menyukainya. Lihat itu.
Aku merasa cantik dengan bulu mata ini.
Sekarang mari coba yang kedua, untuk sisi satunya.
500 penjualan.
Aku akan mengajak kalian berkeliling ke rumah berhantu.
Hai, semuanya. Ya Tuhan.
Aku hanya ingin ucapkan terima kasih banyak.
Kepada kalian yang mendukung Zara dan membeli bulu mata itu...
Kalian semua memang luar biasa.
Aku sayang kalian semua, tapi Zara harus menepati janjinya.
Zara baru saja masuk rumah ini.
Zara menyewa bersama sepupunya...
tapi ada sesuatu tentang...
rumah ini.
Para tetangga bilang, rumah ini berhantu.
Oke, kalau kalian mau lihat, rumah ini tampak biasa saja, kan?
Sepertinya tidak ada apa-apa, tapi Zara sendiri sudah alami...
beberapa kejadian aneh di rumah ini.
Zara, apa itu di belakangmu?
Kalian semua, aku tidak menggunakan filter apa pun...
tapi kalian lihat sendiri. Kalian lihat itu, kan?
โ Tiap DP Langsung Bonus 5% โ โ Main Disini Jamin Wede โ
WinJos > pasti Win , Jos Wede nya Kunjungi ( https://super.winjos.today )
Tolong, tolong, tolong!
Jangan.
Zara!
Zara!
Diana!
Tenang Zara. Tenang! Tenang!
Apa yang terjadi dengan sepupumu?
Dia mengalami trauma.
Dia tidak bisa bicara setelah kejadian itu.
Sekarang ini, keluarganya yang merawat dia.
Jadi... siapa berikutnya?
Aku baru saja alami kejadian di tempat kerjaku.
Malam itu, aku harus pulang agak larut.
Hafeez, kau tunggu sebentar ya?
Sree, aku sudah terlambat, aku ada janji dengan Intan.
Hafeez, kau tahu aku bisa melihat, kan?
Semua makhluk itu?
Lagi pula, bangunan ini sangat tua.
Aku takut.
Kau takut?
Sejak kecil aku kenal kau, tak pernah...
aku lihat kau takut.
Maaf, Sree. Aku memang sudah terlambat.
Tidak peduli kita kenal sejak kecil.
Kau harus ingat satu hal.
Aku yang bantu kau dapat kerja di sini...
dan aku manajermu.
Jadi ini adalah perintah.
Nanti kau masuk lembur, paham?
Wah, main kasar ya dia.
Kau bukan manajer, kau itu diktator, tahu tidak!
Terima kasih, Hafeez!
Halo, sayang.
Sayang.
Sayang, aku janji akan temui kau malam ini...
...tapi aku sedikit terlambat, karena harus menemani...
Aku ada lembur.
Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan Sree.
Kau juga tahu kami berteman sejak kecil.
Dia tetanggaku.
Sayang? Intan.
Sree!
Hafeez.
Pintu ini tidak bisa dibuka.
Sensornya tidak bisa memindai kartuku.
Minggir sedikit, Sree.
Bagaimana ini?
Mati aku dimarahi Intan, Sree.
Sree, coba telepon manajemen atau siapa pun.
Tunggu sebentar, sebentar.
Aduh, tidak ada sinyal.
Padahal tadi aku baru saja telepon Intan.
Tidak pernah di sini tak ada sinyal.
Ya Tuhan.
Hafeez, apa-apaan ini? Kau gila, ya?
Kalau pintunya rusak, siapa yang mau tanggung jawab?
Kau yang tanggung jawab, kau manajer!
Eh! Potong dari gajimu!
Ah, lempar saja, lempar.
Aku mau pulang, tolong izinkan aku pulang.
Coba sekali lagi.
Aduh, bagaimana ini?
Ini semua salahmu. Gila kekuasaan.
Suruh aku tunggu di sini denganmu, sekarang kita malah terjebak.
Eh, mana aku tahu akan jadi seperti ini?
Aku juga mau pulang.
Kau pikir aku mau terjebak di sini denganmu?
Eh, tidak usah suruh aku diam.
Sree. Sree, Sree, dengar! - Ah, sudahlah dengan taktikmu.
Sree, dengarkan aku!
Masuk?
Buka.
Untuk apa dibuka?
Suaranya sudah tidak ada.
Kenapa kita harus mencari suara itu?
Kenapa kalau cerita hantu selalu harus selidiki suara?
Kalau tahu ada suara apa-apa, abaikan saja.
Apa yang kau lihat?
Aku lihat...
Lihat apa?
Toilet jongkok.
Sana, sana. Sebelah!
Apa yang kau lihat?
Aku lihat...
Lihat apa?
Toilet duduk.
Eh, kau ini tidak kapok-kapok.
Kenapa? - Kenapa berdiri di depanku?
Kenapa? - Kenapa berdiri di depanku?
Lalu, aku harus berdiri di mana?
Maaf.
Siapa, ya?
Bagaimana ibu itu bisa masuk? Bukannya pintunya tidak bisa dibuka?
Tak apa.
Sree. Siapa ibu tadi?
Tak pernah lihat sebelumnya. - Mungkin petugas kebersihan.
Mana ada petugas kebersihan yang kerja sif malam?
Tak peduli. Biar saja, Hafeez.
Eh, sebentar.
Kalau petugas kebersihan itu bisa masuk, berarti kita bisa keluar.
Ayo, ayo, ayo.
Masih belum bisa keluar? - Tidak bisa.
Bagaimana kita bisa keluar ini?
Eh, Sree, Sree, Sree!
Kau lihat apa? Hantu?
Lebih menyeramkan dari hantu.
Intan? Intan. Intan.
Tega sekali kau, Hafeez!
Intan, ini tidak seperti yang kau pikirkan, Intan!
Intan! Intan!
Tidak ada hantunya. Mana hantunya?
Man, kau bisa sabar tidak! Biar aku selesaikan cerita dulu!
Maaf!
Hafeez.
Maaf.
Tidak apa-apa.
Bukan salah kau juga.
Kau tak sengaja memelukku karena kau ketakutan, kan?
Tapi Intan itu, kenapa dia langsung pergi begitu saja?
Kalau tidak, dia bisa bantu, panggil siapa saja untuk tolong kita.
Eh, bos, bos!
Halo? Bos.
Halo!
Bos. - Halo, Sree.
Aku baru saja terima semua pesan teksmu ini.
Masuknya bersamaan semua. - Bos, bos, bos!
Bisa tolong telepon seseorang untuk datang ke kantor sekarang?
Soalnya pemindai pintunya rusak.
Tidak bisa dibuka.
Ya Allah, ya? Oke, aku telepon.
Siapa saja yang terjebak di sana?
Ada aku, Hafeez, dan petugas kebersihan shift malam.
Petugas kebersihan shift malam?
Kita tidak punya petugas kebersihan shift malam.
Kita punya petugas shift malam 4 tahun lalu.
Halo? Sree?
Halo?
Sree?
Kenapa kau seperti melihat hantu?
Ayo, ayo, ayo.
Sree, kau kenapa?
Tadi bos menelepon, dia bilang apa?
Tidak ada yang akan datang bantu kita?
Hafeez, bos bilang kita tidak punya petugas kebersihan shift malam!
Ah, itu dia.
Bu, kenapa kau begini? Wajahnya pucat sekali.
Ibu sehat? Ibu?
Eh, bu. Tangan ibu dingin sekali.
Sree.
Eh, kau kenapa! Mau bunuh aku?
Maaf, aku kira kau dia!
Sree, aku sudah melihatnya.
Kan? Benar apa yang aku bilang!
Sree.
Sree.
Jangan.
Sree, Sree, Sree.
Kemana dia pergi?
Sree.
Sini, sini. Masuk, masuk!
Sree, kau bisa baca doa pengusir hantu?
Ha? Doa apa?
Mana aku tahu. Masa kau tidak hafal?
Kau kira aku ini ustaz? Mana aku tahu doa-doa begitu!
Itulah, pikirnya cuma dunia, doa dasar pun tidak tahu.
Suka-suka ngomongin aku.
Lalu kau sibuk main TikTok.
Hal-hal begini, kau juga tidak tahu, kan?
Sapu.
Sapu.
Ini, ini. Berikan.
Ini?
Terima kasih.
Sama-sama.
Ya Allah.
Dia menangis.
Kasihan.
Kau hiburlah dia.
Hei! Kau gila ya?
Dia itu hantu.
Dia sudah tidak ada.
Eh, ayo kita pergi.
Ke mana ya?
Hari pertama bekerja.
13 Juli 1983.
Hafeez.
Hampir sepanjang hidupnya, dia ada di sini.
Hafeez.
Nanti aku akan bicara dengan Intan.
Aku merasa tidak enak hati.
Sejak kau dengan Intan, aku perhatikan kau seperti...
ingin menjauhkan diri dariku.
Maaf soal itu.
Tidak apa-apa.
Kosong-kosong?
Boleh aku pukul kepalamu dulu pakai sapu?
Ish!
Sebentar, ada satu pertanyaan.
Ya, apa?
Kau dan Hafeez itu, sedang pacaran, ya?
Eh! Kau sudah gila, ya?
Aku dan Hafeez itu sudah seperti saudara kandung.
Kami sudah berteman sejak kecil.
Dia itu tetangga sebelah rumahku.
Dia dengan pacarnya, Intan itu, juga sudah bertunangan.
Intan pun tidak masalah kalau aku berteman dengan Hafeez.
Menarik juga ceritanya.
Siapa yang akan bercerita selanjutnya?
Aku, Tuan Harun.
Waktu itu, aku kerja shift malam, di hotel tempat aku bekerja.
Halo, Meja Depan. Ada yang bisa aku bantu?
Makan malamku tidak ada di sini.
Boleh aku tahu nomor kamarmu?
207. - Sebentar, ya.
207. - Sebentar, ya.
Nona Michelle, aku sudah letakkan di depan pintu kamarmu tadi.
Tapi makanannya tidak ada di sini.
Baik, tidak apa-apa, nanti aku antar yang baru.
Apakah ada yang bisa aku bantu lagi...
Halo, Nona Michelle. Aku dari Meja Depan.
Makananmu sudah tersedia di depan pintu.
Jangan lama-lama, nanti ada yang curi.
Oke.
Halo, Meja Depan. Ada yang bisa aku...
Ada orang yang berisik di lantai ini.
Tolong minta mereka diam.
Baik, maaf Nona. Kamar nomor berapa, ya?
203.
Nona, kamar itu sudah lama tidak ditempati siapa-siapa.
Tapi aku dengar tawa seorang anak perempuan.
Tolong pergi dan lakukan tugasmu!
Mungkin anak-anak masuk dan main di jacuzzi...
tapi bagaimana mereka bisa masuk?
Dik?
Dik, hotel ini sudah ditutup, sekarang hanya untuk karantina.
Tidak boleh sembarangan masuk.
โ Tiap DP Langsung Bonus 5% โ โ Main Disini Jamin Wede โ
WinJos > pasti Win , Jos Wede nya Kunjungi ( https://super.winjos.today )
Mama, ayo Ma. Kita naik ke atas atap.
Lia mau mandi jacuzzi di atas sana?
Mama, tolong. Ayo.
Mama, ayo mama.
Lia, jangan berisik, bisa?
Nanti kita bisa naik ke atas sana!
Sedikit-sedikit mau ngambek, sedikit-sedikit mau ngambek.
Lia?
Lia?
Jacuzzi! Mana jacuzzi?
Jacuzzi ada di atas atap.
Lia!
Anak 10 Tahun Meninggal Dunia. Ibu Bunuh Diri.
Ibunya tidak bisa terima, dia merasa bersalah.
Setelah itu, apakah masih ada gangguan di sana?
Kau ini.
Setelah kejadian itu, tidak ada lagi gangguan.
Eh!
Kita semua sudah cerita, kan?
Teman kita yang satu ini, Erica. Diam saja dari tadi.
Kau baik-baik saja?
Aku ada sebuah cerita.
Kalian semua ingat?
Kita sudah berteman sejak kecil.
Namun 8 tahun lalu kita semua berkumpul bersama...
menginap di rumahku.
Sejak kecil kita suka cerita hantu...
dan kita semua jadi dekat karena kita semua punya sebuah karunia.
Kemampuan untuk menjadi sensitif terhadap dunia lain.
Dan ketika satu orang takut, semua akan merasa takut...
hingga kita menjadi kuat dan tidak takut lagi...
karena kita selalu bersama.
Dan selamanya, aku akan ingat bahwa kita...
membuat sebuah perjanjian.
Empat.
Bersama selamanya.
Aku hanya ingin kalian semua tahu, bahwa Erica sayang kalian semua.
Walaupun tidak selalu bertemu seperti dulu...
kita selalu...
empat bersama.
Selamanya.
Erica, mengapa begitu manis?
Aku tidak punya cerita hantu.
Tidak apa.
Anak-anak, aku akan tutup tempat ini.
Kalau tidak keberatan, kalian bisa lakukan pembayaran dulu?
Bisa, Tuan Harun.
Bisa tolong ambil foto kami?
Bisa!
Kenyang.
Ya. Lama tidak makan steamboat, ya? - Ya, ada pandemi waktu itu.
Ya, seru. - Seru, kan?
Eh, Erica mana? Dia diam saja hari ini, kan?
Itulah dia. Di mana mobilnya?
Dia datang naik apa? - Mungkin dia naik Grab.
Diana, dia bilang tidak?
Kalau tidak, kita bisa tumpangkan dia juga.
Ya.
Kenapa?
Oke, ya?
Dee, kau baik-baik saja?
Kenapa?
Tuan Harun! - Ya.
Tunggu sebentar.
Ada apa?
Tuan Harun, apakah kau lihat Erica?
Erica? Anak Bu Mei Mei?
Tadi dia bersama kita, kan?
Anak-anak.
Sejak tadi aku hanya perhatikan kalian bertiga saja.
Tidak mungkin.
Tadi Erica bersama kita semua.
Bu Mei Mei tidak memberitahu apa-apa?
Memberi tahu? Memberi tahu apa, Tuan Harun?
Anak-anak.
Sebenarnya Erica, anak Bu Mei Mei...
sudah tiada.
Dia terkena sakit Covid.
Sudah 4 minggu dia meninggalkan kita semua.
Tidak mungkin, Tuan Harun.
Tidak mungkin, Tuan Harun. Tadi dia ada, Tuan Harun.
Tadi dia makan bersama kita, Tuan Harun!
Sabar, sabar.
Dee!
Ingat janji kita?
Empat.
Bersama, selamanya.
6 Bulan Kemudian.
Halo? - Sree
Halo? - Sree
Arman, kenapa telepon malam-malam?
Sree, aku sudah tidak tahan seperti ini, Sree.
Aku selalu melihat dia.
Aku tidak bisa melanjutkan seperti ini, Sree.
Arman, kau di mana?
Arman, tolong beritahu aku kau di mana?
Bioskop.
Bioskop?
Bioskop yang kita biasa nongkrong itu.
Tempat itu sudah lama tutup, kan?
Kau ngapain di sana?
Selamat tinggal, Sree.
Hah? Arman!
Arman!
Erica?
Arman? Apakah itu kau?
Arman?
Ya, Allah.
Aku kaget!
Arman.
Apakah kau baik-baik saja?
Kau membuatku khawatir.
Aku sudah tidak tahan, Sree.
Setiap hari aku melihatnya.
Siapa?
Jangan pura-pura tidak tahu.
Aku tahu dia mencari kita semua.
Erica?
Jangan sebut namanya.
Dia ada di mana-mana.
Dia sudah lama tiada, Arman.
Itu hanya bayangan kita.
Oh?
Maksudnya, apa yang kita lihat, apa yang kita hadapi...
semua hanya bayangan kita?
Kau.
Jangan egois, Sree.
Aku tahu kau melihatnya.
Kau tahu aku bicara dengannya?
Dia bicara padaku, dia ingin kita bersamanya.
Temannya.
Dan semua siksaan ini akan segera berakhir.
Arman.
Kau tidak ingin menjadi temannya?
Arman, jangan bicara omong kosong!
Arman.
Letakkan pisau itu.
Tolong aku, Sree.
Tolong aku, Sree!
Arman, jangan lakukan ini.
Dia bilang, dia ingin kita semua bersama selamanya.
Dan semuanya akan berakhir, Sree!
Tolong aku.
Arman, tolong?
Tolong?
Tolong, Sree!
Arman, jangan buat aku takut.
Arman, jangan.
Arman.
Arman.
Arman.
Terima kasih. -Baiklah, silakan lanjutkan.
Sree.
Sree.
Kau juga melihat Erica, kan?
Kita harus bagaimana?
Aku juga tidak tahu.
Aku sudah sangat lelah.
Mungkin begitulah yang Arman rasakan.
Sree.
Kau juga melihatnya, bukan?
Sree, kau mau apa dengan pisau itu?
Aku beli pisau ini dari Bomoh Siam.
Katanya bisa membunuh hantu.
Hei, keluarlah!
Aku tidak takut padamu.
Abang?
Abang tidak menyangka Sree akan kembali ke rumah ini.
Jadi selama ini, Sree tinggal sendiri di sini?
Setelah Abang...
Sree tinggal bersama Bu Sue. Bu Sue yang menjaga Sree.
Tapi setelah Sree berumur 18 tahun, barulah...
dia diberi kunci rumah ini.
Abang?
Abang.
Tidak apa. Lama-lama nanti Abang akan terbiasa.
Sree.
Pisau sihirmu.
Kenapa Abang tidak pernah menghubungi Sree?
Abang sakit, Sree.
Dan Abang tidak ingin Sree melihat Abang dalam keadaan sakit.
Jadi, sekarang Abang sudah membaik?
Abang rasa Abang tidak akan pernah sembuh.
Hal-hal yang terjadi waktu kita kecil...
tidak normal dan hal-hal gelap seperti itu...
itu akan menghancurkan kita.
Mengerti.
Sama. Waktu aku besar, aku juga merasa tidak normal.
Bermasalah.
Tapi, apakah Abang benar-benar baik-baik saja sekarang?
Abang harus mencoba perbaiki diri.
Karena dokter mengatakan, jika Abang ingin sembuh...
Abang harus menghadapi masa lalu Abang.
Jadi, selama ini Abang melakukan apa?
Hidup seperti orang seperti Abang.
Tidak mudah.
Ya, bekas anak nakal.
Mereka membuang Abang ke sana-sini.
Ke panti asuhan, rumah sosial.
Bahkan rumah sakit jiwa.
Kenapa Abang tidak pulang saja?
Sree memiliki hidupnya sendiri, bukan?
Abang rasa Sree lebih baik tanpa Abang.
Sree selalu mengingat Abang.
Kadang-kadang, Sree merasa bersalah.
Sree.
Apa yang terjadi pada kita waktu kita kecil dulu...
bukan salah kita.
Dan Abang pun tidak pernah menyalahkan Sree.
Lalu, kenapa Abang tidak pernah menghubungi Sree?
Selama ini, Sree kira Abang tidak pulang karena...
Abang marah pada Sree, dan Sree harus hidup dengan...
perasaan bersalah.
Sree. Abang sudah bilang, kan?
Abang.
Seperti Abang bilang, Abang tidak sehat.
Lucu dunia ini, ya?
Di dunia ini pun seperti neraka.
Kalau kita mengambil nyawa kita sendiri pun...
kita masuk neraka.
Kadang-kadang Abang bingung. Neraka mana yang harus ku tuju?
Tapi, Sree tidak perlu khawatir.
Karena aku rela masuk neraka dunia ini daripada...
neraka selamanya.
โ Tiap DP Langsung Bonus 5% โ โ Main Disini Jamin Wede โ
WinJos > pasti Win , Jos Wede nya Kunjungi ( https://super.winjos.today )
Kau mau apa?
Lain sekali pandanganmu padaku, Sree.
Tahukah kau, sepanjang hidupnya...
dia tidak pernah disentuh perempuan?
Kalau kau mau, coba goda dia saja.
Pasti dia luluh.
Kau ngomong apa ini?
Kenapa kau ganggu kami lagi?
Kita sudah berjanji, kan?
Empat bersama.
Selamanya.
Sampai hati kau perlakukan Arman seperti itu, kan?
Aku tidak melakukan apa-apa.
Dia yang mengambil nyawanya sendiri.
Aku hanya berbisik saja!
Kau tidak mau jika penyiksaan ini berakhir?
Setiap malam tidak bisa tidur.
Setiap kali pasti melihat Erica, kan?
Bagaimana kalau kita sudahi saja?
Seperti Arman.
Semua penyiksaan akan berakhir.
Tapi...
Tapi aku takut!
Pasti sakit, kan?
Sebentar saja, setelah itu semua penyiksaan di dunia ini...
akan hilang.
Erica!
Siapa bilang aku Erica?
Selama ini kita mengira itu Erica.
Namun sekarang aku yakin itu bukan Erica.
Ada sesuatu yang menyerupainya.
Saat kita membuat perjanjian darah berempat itu...
aku memang sudah merasakan ada yang tidak beres.
Kita tidak seharusnya bermain-main dengan hal-hal itu.
Dia mengundang...
Eh, saat kita membuat perjanjian itu, Erica bilang di rumahnya, kan?
Sepertinya iya.
Di mana?
Eh, bukan di kamar tamumu?
Ya.
Jadi, kita membuat perjanjian darah itu...
di sini.
Hei.
Bangun.
Aku sudah siap.
Masuklah.
Sree maaf, aku mau tanya sedikit.
Di rumah ini, Sree shalat tidak?
Abang.
Sree, mau minta pendapat Abang.
Tidak tahu mau bilang apa.
Malam pertama Abang pulang ke sini, Abang sudah dengar macam-macam.
Jadi, Abang tidak percaya padaku?
Sree.
Sepanjang hidup Abang mereka suruh Abang menemui...
dokter ahli kejiwaan.
Dan mereka semua bilang hal yang sama, tahu tidak?
Tahu tidak mereka bilang apa?
Abang ini mengalami gangguan mental.
Melihat hal-hal yang tidak nyata ini semua.
Dan sekarang Abang kembali ke rumah ini...
Sree mau mengingatkan Abang tentang hal-hal yang tidak masuk akal ini?
Tidak masuk akal?
Abang yang mengajarkan Sree tentang hal ini semua, tahu tidak?
Mereka bilang hal ini turun-temurun.
Almarhum nenek, almarhum ibu, Abang, mungkin Sree juga, mengalami gangguan mental.
Semua melihat dan mendengar hal-hal yang tidak nyata...
ini semua, halusinasi. Itu semua gejala untuk...
Hal ini tidak nyata, Abang yang tidak mau terima...
kenyataan?
Sree tahu tidak, sejak Abang minum obat-obatan...
yang mereka beri pada Abang, Abang sudah tidak melihat apa-apa.
Jadi, Abang tidak percaya pada Sree.
Sree yang gila?
Sree mau Abang bilang apa?
Abang.
Abang tahu betapa sulitnya hidup Sree dengan kemampuan ini?
Sree, jangan bicara tentang hidup yang sulit.
Bukan Sree yang masuk pusat pembinaan remaja.
Bukan Sree yang masuk ke rumah sakit jiwa.
Abang melakukan semua itu untuk melindungi Sree.
Oh, semua itu untuk Sree?
Tadi Abang bilang, Abang tak pernah salahkan Sree.
Abang memang sudah berubah, kan?
Abang Sufi yang Sree kenal dulu sudah tiada...
pada hari yang sama dengan hari ibu dan ayah meninggal.
Sree.
Sree tak masalah, kalau abang bilang Sree ini gila...
tapi jangan bilang tentang almarhum ibu.
Sampai hati Abang bilang ibu gila!
Hei abang, kalau tidak pulang juga tidak apa!
Sree!
Abang bilang kita ini istimewa.
Abang bilang abang ada untuk Sree selamanya.
Benci!
Jangan macam-macam!
Tolong!
Tutup pintu! Tutup pintu!
Abang, siapa namamu?
Nama abang tidak penting tapi kau sebenarnya siapa?
Barusan ada pria mengejar Diana, lalu masuk ke kamar ini.
Tapi kamar itu...
Tunggu sebentar.
Pria?
Lehernya berdarah.
Setelah itu dia memegang pisau.
Sree kemana tadi?
Abang cari ke mana-mana.
Sree ada saja di sini sejak tadi.
Sree.
Abang minta maaf.
Abang mengakui bahwa Abang memang sulit menerima kenyataan.
Lebih mudah percaya Abang ini gila.
Daripada percaya bahwa...
Abang, Abang tidak gila.
Abang bilang, kan? Kita ini istimewa.
Seperti almarhum ibu, almarhum nenek.
Ya.
Istimewa.
Dan sekarang Abang sudah percaya.
Abang rasa ada kehadiran di rumah ini.
Sree juga merasa hal yang sama...
sejak kembali ke rumah ini.
Tapi Abang tahu satu solusi.
Apa itu?
Rumah pusaka ini memiliki warisan saka.
Sumber kekayaan dan kekuatan keluarga dari pihak ayah.
Darimana abang tahu semua ini?
Dulu nenek pernah ceritakan.
Abang tidak pernah memberitahu Sree.
Waktu itu Sree masih kecil.
Tidak akan mengerti.
Saka itu melekat pada rumah ini.
Dan sekarang almarhum kakek sudah tiada...
almarhum ayah sudah tiada.
Saka itu mencari tuan baru.
Apa solusinya?
Sree tidak kasihan pada abang?
Bagaimana dengan Diana?
Teman-teman Sree yang lain yang sudah meninggal.
Apa maksud abang?
Sejak keluarga kita tinggal di rumah pusaka ini...
saka itu mengincar Sree.
Ayah menjadi perwakilan.
Setelah itu ibu meninggal, ayah meninggal.
Dan karena saka itu lapar ingin menjadikan Sree tuannya...
teman-teman Sree pun menjadi korban.
Dan setelah ini abang dan Diana pun...
akan meninggal.
Abang, apa yang kau katakan?
Kita harus melakukan sesuatu, abang.
Abang pernah bilang ayat apa yang harus dibaca, kan?
Sudah terlambat, Sree.
Hei abang, tidak boleh begitu.
Harus melakukan sesuatu, Abang.
Apa yang harus kita lakukan?
Sree harus menerima dia.
Sree harus menjadi tuannya.
Oke.
Sree menerima dia.
Sree menjadi tuannya.
Sree yakin tidak masalah bila itu mengambil alih tubuh Sree?
Apa pun Sree bisa lakukan...
karena Sree tidak ingin satu per satu orang meninggal akibat Sree.
Terima kasih, Sree.
Sree sayang abang.
Sree sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain abang.
Abang Sufi.
Sudah satu rumah abang mencari Sree.
Tidak ketemu.
Diana juga tidak menemukan Sree.
Diana sudah lihat ke luar?
Tidak apa, abang lihat saja.
Tidak apa, kalau kita berdua saja di dalam rumah ini.
Biarkan saja Sree itu.
Mungkin dia sedang menenangkan pikirannya.
Abang Sufi.
Diana takut.
Diana tahu abang tidak pernah disentuh oleh perempuan, kan?
Diana juga...
suka melihat abang.
Bagaimana kau tahu nama abang?
Kau! Dari dulu menggangguku!
Dengan doamu! Dengan shalatmu!
Aku ingin kau mati!
Sree? Sree!
Sree?
Sree?
Kau bicara dengan siapa ini?
Ini bukan lagi Sree.
Maksud abang?
Eh, ini Sree.
Sampai hati kau berkata begitu.
Sree.
Sree bisa dengar perkataan abang?
Sree ingat lagi tidak, dulu abang pesan apa?
Sree hafal tidak?
Satu, dua, tiga, empat...
mau lagi dua, tidak dapat.
Sree.
Sree dengar perkataan abang, Sree.
Sree harus kuat.
Sree harus melawan dia.
Abang, abang.
Abang, abang, abang.
Abang, Sree tidak bisa melawan dia, abang.
Dia bilang Sree tidak shalat.
Jadi Sree berdosa. Allah tidak mau menolong Sree.
Sree. Sree harus ingat, Sree.
Sree hanya harus percaya, Sree harus yakin.
Sial!
Jangan permainkan kami.
Hei! Kau yang bilang Sree gila.
Bilang semua ini tidak ada?
Kau siapa?
Erica?
Aku sudah bilang, kan, aku ini bukan Erica!
Kalau begitu, kau siapa?
Aku yang berkhadam manusia.
Aku yang dipelihara turun-temurun.
Aku menjaga ketika bertuan dan memusnahkan ketika tidak bertuan.
Sree.
Sree!
Coba halangi aku, kalau berani.
Usir aku dengan ayat sucimu. Dan lihat apa yang akan aku lakukan...
pada tubuh adikmu.
Kau sangat menginginkannya, kan? Kau ambil aku.
Kau?
Kau yang selalu menggangguku?
Lepas! -Diana, pergi!
Abang!
Buka!
Buka!
Sree, jangan!
โ Tiap DP Langsung Bonus 5% โ โ Main Disini Jamin Wede โ
WinJos > pasti Win , Jos Wede nya Kunjungi ( https://super.winjos.today )
Sree.
Ya Allah, Ya Tuhanku, Sree!
Pintar manusia ini.
Saat dia kesusahan, barulah mengingat Allah.
Tolong, jangan sakiti temanku!
Sree! Sree.
Diana! Aku minta maaf.
Diana!
Abang!
Abang!
Abang, oh tidak.
Abang, Sree minta maaf.
Abang, Sree minta maaf.
Sree janji ini bukan Sree.
Abang!
Itu ayat Kursi.
Sree tidak hafal, abang.
Ikuti abang.
Tiada Tuhan selain Allah.
Dan tiada sekutu bagi-Nya.
Milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian.
Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Abang.
Sree berhasil.
Abang. Bangun, abang.
Abang, bangun abang.
Ayo. Kita pergi ke rumah sakit.
Abang.
Bangunlah, abang.
Abang, bangun.
Ayo kita pergi ke rumah sakit.
Sree.
Dia sudah tiada.
Apa yang kau katakan?
Abang. Abang, tahan sedikit abang.
Abang, kita pergi rumah sakit. Sedikit lagi.
Ayo, abang. Bangun, abang.
Sree, jangan seperti ini. Tidak baik.
Abang.
Eh, kau perawat, kan?
Tolong abangku ini.
Tolong dia, mari bawa dia ke rumah sakit.
Abang.
Abang, bangun abang. Mari bawa dia ke rumah sakit.
Abang, bangun abang. Jangan tinggalkan Sree.
Jangan tinggalkan Sree seperti dulu, abang.
Abang baru saja pulang.
Bangun, abang!
Abang, bangun.
Abang.
Abang.
Abang.
Abang.
Sree takut dengan hal-hal yang Sree lihat di rumah ini.
Sree, jangan takut pada setan.
Mereka tidak bisa menyakiti kita.
Kecuali atas izin Allah. -Mereka takut Allah, kan?
Kecuali atas izin Allah. -Mereka takut Allah, kan?
Tugas jin dan setan ini adalah menggoda manusia untuk...
melakukan perbuatan jahat.
Berbuat dosa, tahu tidak?
Dan menjauhkan diri dari Allah.
Tapi, mengapa mereka melakukan hal itu?
Karena setan sudah berjanji dan berkata di hadapan Allah...
di hadapan Nabi Adam, para malaikat, bahwa dia akan menjerumuskan Adam...
dan seluruh keturunannya hingga hari kiamat nanti.
Tapi Sree takut melihat wajah mereka.
Mereka tampak seperti itu untuk menakut-nakuti kita.
Untuk menakut-nakuti manusia.
Jika kita takut kepada mereka, kita akan jatuh syirik.
Tapi Sree tetap takut.
Sree.
Janji dengan abang, Sree jangan takut.
Ingat lagi tidak, apa yang abang ajarkan?
Ingat sedikit.
Sree coba.
Ah, benar? -Maksudnya?
Ah, benar? -Maksudnya?
Maksudnya, tiada Tuhan selain Allah.
Tiada sekutu bagi-Nya.
Milik-Nya.
Segala kekuasaan dan bagi-Nya...
segala pujian dan Maha Kuasa.
Lalu?
Atas segala sesuatu.
Abang janji akan selalu ada bersama Sree sampai abang mati.
Kenapa harus mati?
Kenapa harus mati?
Apa yang akan kita katakan pada polisi?
Kebenaran.
Kebenaran.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.