Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Mau di mana, Chef?
Sore, Chef.
Hei.
Iya, Chef.
- Ini berapa? - Dua.
- Dua, 'kan? - Dua.
Berarti enggak buta, dong?
Lo lihat ini apaan!
Bersihin! Lap yang bener!
Ini juga, nih!
Ya, Chef.
Kasih lagi, biar...
Biar sama yang ini.
Apa-apaan, sih, ini? Ha?
- Maaf, Chef. - Motong yang bener, dong!
- Siap, Chef. - Ulang...
Ulang!
- Bersihin dulu yang di situ. - Siap.
Coba.
- Tambahin. - Ya, Chef.
Ayo, yang cepet!
Tamu udah pada nunggu!
- Ayo, keseimbangannya! - Ya, Chef.
Katanya lulusan terbaik. Gimana, sih?
Ayo!
HARI JADI KEDUA MAHARASA, SELAMAT HARI JADI KEDUA
Uci, titipan Bu Dinda.
Oke, Chef.
TERASI UDANG KUALITAS A
Chef, saus mana, Chef?
Ini, Chef.
Diaduk lagi...
Saus apaan itu? Ha? Saus apaan?
Saus perpaduan lokal permintaan Bu Dinda, Chef.
- Pakai terasi. - Pakai terasi?
Goblok!
Gue siapin berbulan-bulan, lo kasih terasi?
Mikir apa lu? Ha?
Cuma kesempurnaan yang lahir di dapur ini!
Ngerti, enggak, lo?
- Sori, Chef. - Chef.
- Uci enggak salah. - Lo enggak usah ikut campur.
Dinda memang minta saus tambahan.
Buat tamu yang sukanya masakan lokal, Chef.
Cobain.
Coba!
Enak tuh?
Lepeh.
Lo sous-chef gue.
Ngerti, enggak?
Enggak usah sotoy. Enggak usah sok ikut campur.
Chef,
gue tanya ama lo.
Chef lo, gue, atau Dinda?
- Chef Ressa. - Apa?
- Chef Ressa! - Pinter!
Lepas apron lo.
Buruan!
Taro.
Keluar dari dapur gue.
Buru! Enggak usah balik lu!
- Ya, Chef. - Sotoy banget jadi orang.
Semuanya! Ayo, ke sini semua!
Buruan!
Denger, ya, Semua.
Gue ingetin sekali lagi.
Maharasa hanya menjanjikan
vera cucina italiana.
- Ngerti, enggak? - Ya, Chef.
Spesialisasi kita itu pasta!
Enggak ada tuh terasi-terasian, ketumbar. Apa, kek.
Yang mau bumbu lokal,
suruh makan di warteg!
- Ngerti, enggak, lo? - Ya, Chef.
Goblok lo semua!
Jeda dulu! Cabut!
Ossobuco dari Maharasa.
Wow.
Oh.
Oke.
Enak sekali.
Luar biasa.
Hei.
Kita sedang berpesta.
Baiklah. Kita lapar, oke?
Makan!
Hebat!
Makanan lezat,
pertunjukan hebat.
Kamu memang
benar-benar genius.
Terima kasih, Pak.
Pasta itu bisa menjadi nikmat seperti itu.
Itu bagaimana? Bagaimana caranya?
Jadi, kita memang menggunakan bumbu yang diimpor langsung dari Gragnano,
kota kelahiran papa aku di Italia.
Kota pasta.
Ya.
Pa.
Sori telat. Syutingnya molor.
Hai.
Sayang.
Kamu terlambat.
Kamu tidak melihat
hebatnya penampilan pacarmu.
Keren banget, ya, pasti?
Berarti Papa jadi, dong, buka restoran di Italia?
Baik.
- Kalau gitu, besok malam, ya? - Ya.
Aku tunggu di rumah.
Siap, Pak.
- Besok. - Dah, Sayang.
Satu langkah lagi, impian aku jadi kenyataan.
Kamu hebat.
Karena kamu selalu bantuin aku.
Udah makan, belom?
Belom, nih. Laper.
Ya udah, duduk. Aku ambilin makanan.
FAKTUR PENJUALAN
Permisi, Pak.
Mas Ressa sudah datang.
Jadi,
ini berkas yang saya harus tanda tangani malam ini, ya?
Iya, Pak.
Ini tentang
seratus kontainer ke Amerika, 'kan?
Betul, Pak.
Oke.
Permisi, Pak.
Silakan, Mas Ressa.
Pak Broto.
Ini semua asli, Pak?
Ini?
Asli.
Kamu masih meragukan saya?
Kalo itu...
foto kakaknya Dinda, ya?
Tadinya, saya berpikir tuh cuma punya dua anak laki-laki.
Padahal aku ngebet, pengen punya anak perempuan.
Eh...
Ketika saya usia 50 tahun,
ternyata doa saya dikabulkan.
Dinda lahir.
Jadi...
saya cuma mau nanya.
Apa betul
kamu mencintai
anak ragil saya?
Sangat, Pak.
Kalo gitu,
semua ini
nilainya miliaran,
dan akan saya wariskan
kepada Dinda.
Termasuk ini.
Silakan duduk.
Ini juga saya akan wariskan kepada dia.
Kamu harus pelajari ini baik-baik.
"Mustikarasa."
Ya, Mustikarasa itu adalah
daftar makanan dari seluruh daerah di Nusantara.
Warisan Bung Karno.
Di sini, yang diarsipkan baru 1.000.
Yang 945 masih misteri.
Ada 1.000?
Ya.
Dan kamu harus tau, Ressa.
Indonesia itu sangat kaya dengan kekayaan alam.
Antara lain kuliner.
Kuliner itu
semacam seni meramu lidah.
Makanya, Bapak Bangsa Indonesia...
...berpikir bahwa kuliner ini bisa dijadikan
alat politik bangsa.
Diplomasi gastronomi.
Diplomasi lewat perut.
Kenapa kamu?
Oh, ternyata, yang Dinda bilang itu benar?
Akan mual perutmu
kalau bicara tentang makanan Indonesia.
Pantes,
aku pesan saus terasi pada Dinda,
enggak pernah datang.
Maaf, Pak.
Tadinya, saya berpikir, ya,
bahwa Mustikarasa ini bisa jadi referensi.
Tapi sayangnya...
chef kita ini
sakit perut kalau bicara tentang masakan Indonesia.
Tentang uji makanan itu...
Kamu kirimkan saja
Senin pagi, dan tambahkan menunya
dengan apa yang aku sampaikan barusan.
Kalau kamu ragu,
ekspansi ke Italia
lebih baik kita batalkan.
Sekarang, pintuku terbuka.
Silakan
kamu keluar dari kantor saya.
Senin, Pak?
Terima kasih.
Ya, tapi aku jadi enggak enak gitu ama papa kamu.
Papa tuh emang nasionalis banget.
Kamu terlalu berlebihan memikirkannya.
Udah, enggak usah dipikirin.
Ya udah.
Emang cuma kamu yang bisa bikin aku tenang.
Oh, iya, Din. Aku...
malam ini enggak jadi ke sana. Enggak apa-apa, ya?
Enggak apa-apa.
Kita rayain hari jadi kita besok pagi?
Iya, enggak apa-apa.
Dah.
Chef, boleh minta tanda tanga, enggak?
Boleh.
Mau kasih pacarnya kejutan, ya, Chef?
PRIA DI DAPUR, RESEP RAHASIA CHEF RESSA
Insyaallah calon istri.
Terima kasih, ya, Chef.
- Ini, ya. - Udah semua, ya?
Sudah.
Makasih, ya.
Lo bangsat!
Ressa.
Stop! Ressa, Alex, stop!
Anjing!
Ressa, Alex, stop!
Tega lo, ya?
Di hari jadi kita, lo bisa selingkuh!
- Aku... - Dinda sekarang punya gue.
Gue enggak ngomong ama lu, Anjing.
Chef, katanya.
Bumbu aja enggak bisa bedain. Goblok.
Seenggaknya, ya,
gue enggak pernah mual dan muntah
gara-gara makanan Indonesia.
Sampai kapan lo mau nutupin cacat lo?
Sekarang gini, ya, Chef.
Gimana caranya lo mau bikin kesempurnaan dapur
kalo lo itu cacat,
dan kelakukan lo bangsat?
- Anjing lo! - Bangsat!
- Anjing, lo, ya. - Stop!
Stop!
Stop! Cukup!
Papa mau Alex mengurus konsep Maharasa yang baru.
Yang lebih lokal.
Yang lebih Nusantara.
Sori, Res.
Tapi ini keputusan Papa.
Dan aku menghargai keputusan Papa.
Terus, lo enggak menghargai keputusan gue?
Hmm?
Bahagia lo berdua.
Pelacur ibumu! Pelacur!
Mbokmu itu pelacur!
Buka mulutmu! Mangap!
Gue ada di mana, ya?
Mas habis kecelakaan.
Udah empat hari enggak sadarkan diri.
Sekarang, istirahat dulu saja, ya?
Empat hari, ya?
Enggak mungkin.
Aku harus uji makanan.
Makan dulu, ya, Pak.
Setelah itu minum obat.
Obatnya ada di sebelah sini.
Kenapa, Pak?
Namanya juga makanan rumah sakit.
Ngapain lo ke sini?
Bawain pasta favorit kamu.
Sama mau ngobrolin mimpi kamu.
Aku tau
kalo kamu udah enggak mengelola Maharasa lagi,
tapi aku tetep nyuruh Papa berinvestasi.
Papa setuju, Res.
Papa mau ngasih kamu waktu
tujuh hari setelah kamu dari rumah sakit,
untuk uji makanan.
Aku yakin
kalo kamu bisa ngawinin
makanan Italia dengan Nusantara.
Kamu bisa ubah
menu yang sederhana dengan sajian yang mencengangkan.
Semoga berhasil, Res.
Pas saya cium,
baunya ada semua, Dok.
Tapi kalo saya nyobain makan, nih...
Mau yang asin, mau yang manis,
saya enggak bisa ngerasain, Dok.
Kenapa bisa gitu?
Bisa jadi ini...
berkaitan dengan
stres atau trauma.
Nanti saya aturkan jadwal saja
dengan dokter Sp.KJ.
Atau Mas Ressa punya referensi?
Ada.
Dokter Sanusi namanya.
Oh.
Baik.
Nanti saya akan hubungi Dokter Sanusi.
Terakhir kita ketemu itu lima bulan yang lalu, ya, Res.
- Sekarang kontrol rujukan... - Dok...
Badan aku ini kenapa, Dok, ya?
Tadi Dokter Bambang bilang
ini bisa ada hubungannya sama trauma.
Hmm?
Ya, oke, aku tau
aku enggak bisa nyium bumbu-bumbu lokal.
Karena pas kecil dirundung habis-habisan.
Dicekokin terasi.
Tapi masa sekarang lidahku mati, Dok?
Kabar baiknya,
Dokter Bambang itu bilang
kalo hasil observasi lidah kamu tuh bagus, kok. Enggak ada masalah.
Ya, tapi kabar buruknya, lidah aku mati rasa, Dok.
Nih, Dok.
Aku akan ada uji makanan,
sesuatu yang sangat penting bagi aku,
bagi karier aku, bagi impian aku.
Aku minta tolong sama Dokter,
Dokter kasih aku obat yang bisa sembuhin
ini semua dengan cepat.
Oke, Dok?
Dokter jangan bawa-bawa, "Berdamai dengan masa lalu."
Saya ini belom ngomong apa-apa, lho.
Abisnya dari dulu, selalu ngomongnya kayak begitu.
Oke...
Emang kapan uji makanannya?
Minggu depan.
Cukup lah, buat ke Magelang? Ya, 'kan?
Eh, Res.
Siapa tuh teman masa kecil kamu?
Tika, 'kan?
Siapa tau kangennya kamu sama Tika
bisa nyembuhin lidah kamu kayak dulu, lho.
Emang enggak ada cara lain apa Dok?
Res.
Ibarat bangunan,
kamu ini adalah gedung indah yang menjulang tinggi.
Tapi sayang, basemennya tuh enggak kokoh.
Jadi, bisa bikin bangunannya tuh ambrol kapan saja.
Bagaimana kamu bisa merancang masa depan dengan baik?
Nih.
Buat ngilangin stres.
Makasih, Dok.
Aku pergi dulu, ya.
Inget omonganku tadi.
Makasih.
Tega lo, ya?
Di hari jadi kita, lo bisa selingkuh!
Dinda sekarang punya gue.
Papa mau Alex mengurus konsep Maharasa yang baru.
Yang lebih lokal.
Yang lebih Nusantara.
Selamat pagi, Indonesia.
Balik lagi bersama saya, Rahma Salsa.
Kali ini, saya mau mengajak kalian untuk menelusuri...
Siapa tau kangen kamu sama Tika bisa nyembuhin lidah kamu kayak dulu, lho.
...kaki Gunung Sindoro.
Sudah siap menjelajah bareng saya?
Inilah perjalanan rasa edisi Magelang!
Ayo, sini. Sama Papa.
Saya ajarin.
Begini. Terus, potong gini. Ya?
Coba.
Nah, pinter.
Buka!
Buka mulutnya! Buka!
Bubar! Minggat!
- Bubar! - Ayo!
Minggat, enggak?
Roso.
Kamu enggak apa-apa, 'kan?
Diemut aja.
Nanti bakalan sembuh, kok.
♪ Tiada lagi yang ku ♪
♪ Inginkan ♪
♪ Lebih dari yang kau berikan ♪
♪ Tak pernah terhenti ♪
♪ Seakan datang ♪
♪ Tanpa kuminta ♪
♪ Selalu ada ♪
♪ Saat kubutuhkan ♪
♪ Terbawa angin ♪
♪ Dan menghilang ♪
♪ Biarkan saja ♪
♪ Menghilang ♪
♪ Terbawa angin ♪
♪ Dan menghilang ♪
- Makasih. - Ya.
Jadwal rutinan.
Belom ada duit, Pak.
Lagian harganya dinaikin cukong-cukong, kok.
Ini bisa, lho, ngobrak-ngabrik sayurmu!
Iya, Pak! Saya bayar!
- Mas, jangan! - Ke sini kamu!
- Sini! - Ampun!
Mau ke mana kamu?
Anak pelacur!
Anak pelacur!
Mau ke mana kamu?
- Hei! - Anak pelacur!
Sini! Hei!
Mau ke mana kamu?
Roso! Anak pelacur!
Berani-beraninya, ya!
Syukurin!
Sut!
Mangap! Buka mulutmu!
Roso Suroso!
Akhirnya balik!
Ganteng banget kamu!
Wanginya!
Bener, 'kan, kamu Roso Suroso?
Maaf, salah orang.
Salah orang gimana?
Aku Tarjo. Kamu enggak kenal aku?
Enggak rindu sama teman-teman?
Makanya, kacamata dicopot dulu.
Biar aku ganteng juga.
Jadi pelacur di Jakarta enggak laku, ya?
Makanya kamu pulang?
Alumni pelacuran pulang.
Kacamatanya bau sperma!
Enggak jadi!
Eh, anaknya pelacur udah balik, lho, Mbak!
Keren!
- Kenapa kamu? - Ya Allah!
Anjing!
Bangsat!
Woi!
Enggak usah ikut campur, Tik!
Enggak kapok, ya?
Udah, Tik.
Enggak usah ikut campur, Tik!
Anjing, Tik...
Nyerah, enggak?
Nyerah, enggak?
Iya, Tik.
Ampun. Udah, Tik.
Ayo balik!
Pergi!
Dasar kau!
Tik.
Balik sana.
Kita udah enggak kenal lagi.
Udah ditelepon?
- Si Tika? - Udah.
Mana?
Mang Gareng! Yuk! Bantuin!
Iya...
Repot banget.
Ini kurang seger, Tik!
Tomat ancur.
Gara-gara si Tarjo.
Tarjo tengkulak?
Pantes kesiangan.
Walah, pantes!
Tanggal tua, jatahnya narik duit ke pedagang.
Tanganmu kenapa ini?
Berantem, ya?
Sebentar.
Anak perempuan kok sukanya berantem?
Ketumbar...
Harusnya masak.
Rajin cari duit yang banyak.
Bosen masak terus.
Jawab, lho.
- Terima kasih, ya. - Sama-sama, Om.
Oh, jam segini kok belum buka, ya?
- Hei, apa... - Aduh, Pak.
Mas dari mana?
- Kami dari Jogja, Pak. - Wah.
Jogja? Jauh banget.
Iya, kita berangkat lebih pagi
supaya dapet tempat duduk.
Katanya, mangutnya enak banget, lho!
Iya. Betul, Pak.
Masak itu kalau senang, pasti enak.
Benar, enggak, Reng?
Mbluk.
Serai sama daun jeruk.
Selamat datang!
Tenang.
Hari ini, kami masak banyak. Semua pasti kebagian!
Silakan masuk!
Masuk.
Mari!
Minumnya apa?
Es teh?
Es teh, berarti dua tujuh.
Udah?
Dua tujuh, 'kan, ya?
Kembaliannya berarti...
Kembaliannya, ini.
- Pulang dulu, ya. - Hati-hati, ya.
- Ya. - Mari, Mbak.
Hei, salam buat Simbah!
Siap!
- Tik. - Apa lagi, sih?
Aku harus ngobrol sama kamu.
Enggak mau aku. Balikin.
- Bentar doang, Tik! - Balikin kunciku!
Sini!
Enggak akan aku balikin sebelum kita ngobrol.
Aduh!
Reng...
Tik!
Ngobrol bentar. Bentar aja.
Oke?
Siapa itu, Mbak?
Aku juga enggak tau.
Ini minumnya, Mas.
Terima kasih, ya.
Sama-sama.
Tik, aku pulang dulu, ya.
Enggak apa-apa, 'kan?
Enggak apa-apa.
Ya udah, pulang aja, Mbak.
Nanti biar aku yang tutup warung.
Aman, 'kan, Mas?
- Aman. - Harus aman.
Maksa, lho, kamu.
Udah, ya, Tik.
Hmm.
Pamit aku.
Hati-hati.
Tik.
Aku sebenarnya ke sini mau minta tolong.
Ilang bertaun-taun,
dateng-dateng minta tolong.
Iya, aku tau aku salah.
Aku minta maaf.
Kamu bete, 'kan, karena aku enggak bales surat-surat kamu?
Kamu pikir aku enggak mau kenal sama kamu lagi
cuma gara-gara itu?
Ya, terus?
Gara-gara apa?
Omong-omong...
Mungkin buat yang di rumah, nih,
sempet tau juga kalo Chef Ressa ini
- emang lahir sebenernya di Jakarta. - Ya.
Tumbuh barengan sama bokap lo di Italia.
- Nah, terus lo balik lagi ke Jakarta. - Betul.
- Sampe sekarang? Sampe hari ini? - Sampe hari ini.
Oke.
Ya, lo tadi lagi sama asisten lu.
Gue denger gitu, kayak lo ngomong...
Tempat ini memang desa.
Isinya petani miskin yang nasibnya
selalu dimainin sama cukong pangan dari Jakarta-mu itu.
- Tik... - Yang kamu lakuin itu kebohongan publik.
Dan yang paling parah...
kamu bohongin Simbah
yang udah ngerawat kamu.
Ya, terus menurutmu aku harus bagaimana?
Ngomong ke semua orang kalo aku tuh anak pungut?
Gitu?
Bilang ke semua orang kalo aku sebagai chef
mual-mual, muntah-muntah
kalo nyium bumbu-bumbu lokal? Gitu?
Ya, aku enggak tau.
Tapi yang pasti kamu udah lupain tempat ini dari hidupmu, 'kan?
Roso.
Asal kamu tau,
warga di sini banyak yang bangga sama kamu
karena kamu berhasil di Jakarta.
Bahkan banyak yang ngira
kamu jadi chef beken
gara-gara warung ini.
Enggak tau, 'kan, kamu?
Udahlah.
Udah lewat.
Sekarang aku,
Simbah,
kamu...
udah punya hidup masing-masing.
Jadi, sekarang silakan kamu nikmati desa ini
layaknya orang kota lagi memulihkan diri.
Aku pulang.
Tik.
Tunggu.
Aku mau ketemu Simbah.
Enggak takut muntah?
Rumah Simbah 'kan isinya bumbu lokal.
Ya Allah.
Simbahmu di kamar sama Mbah Darmo.
Udah, kamu masuk dulu sana.
Iya.
Mbah.
Ini, lho, Tik.
Sudah aku kasih minum
tumbukan kunyit dan bawang putih,
dicampur gula jawa sedikit.
Terima kasih, ya.
Silakan, Mas.
Silakan duduk dulu.
Iya, Pak.
Ayo. Hus.
Masuk.
Hei.
Eh, Pak.
Mas itu
kok kayak artis, ya?
Bukan artis, Mbak.
Dia itu chef.
Ini, lho.
Simbah masakin makanan kesukaan Tika.
Dicoba, ya?
Enak, 'kan, Nak?
Enak banget, Mbah!
Wah...
Tambah, ya? Tambah?
So.
Roso Suroso.
Nama kamu bagus.
Roso itu artinya "kuat".
Juga bisa berarti "rasa".
Jadi, Suroso itu "wibawa".
Kalau disatukan "Roso Suroso",
"kekuatan yang berwibawa".
Apa rasa yang berwibawa?
Aduh, pinter kamu, Nak!
Ayo, lanjutin lagi makannya. Pelan-pelan makannya.
- Ayo, Tika. Ditambah lagi. - Sudah, Mbah.
- Tukang masak. - Walah.
Tukang masak kok ganteng banget, ya?
Iya. Ganteng, ya?
Pasti orang kota, ya? Iya, 'kan?
Iya.
Mas. Maaf.
Ini teh Chef Ressa, ya?
Yang sering nongol di TV itu, ya?
- Iya, Pak. - Walah.
Yang suka buang makanan di tempat sampah
kalo makanannya enggak enak itu, 'kan?
Iya.
Aduh!
Saya boleh foto, enggak, Mas?
Boleh.
Mbak, ke sini.
Fotoin aku di sini.
- Foto? - Ayo.
Mbah Darmo kok
bisa kebetulan ada di sini?
Hatiku merasa enggak enak dari tadi sore.
Aku ingat mbahmu.
Makanya, aku buru-buru kemari.
Eh, sampe teras depan,
- kedengeran gedubrakan. - Terus?
Aku pikir maling.
Ternyata mbahmu jatuh di pinggir sumur.
So...
Mbah?
Roso...
- Senyum. - Satu, dua, tiga...
So...
Ada siapa di depan?
Ah, malu-malu.
Pak RT rame sama siapa, ya?
- Udah. Nah... - Kayak apa? Lihat, dong. Lihat.
Oh, iya, Mas. Maaf.
Apa benar Mas Ressa itu
asli sini, ya?
Dia kecilnya di sini, Pak RT.
Diurusin Mbah juga.
Roso, Simbah nyariin.
- Duluan, ya, Pak. - Iya, silakan.
- Bu. - Iya.
Roso...
Simbah ingin ketemu kamu, So.
Mbah.
So...
Mbah?
Hmm?
Ini Roso, Mbah.
Gusti Allah.
Kamu pulang, Nak.
Roso udah pulang, Mbah.
Kenapa kamu?
Mau muntah?
Hmm?
Ada masalah apa, Nak?
Mbah.
Enggak usah terlalu baik sama dia.
Dia aja udah lupa sama Simbah.
Masa, sih?
Tanya aja sendiri.
Sebut nama desa ini aja udah enggak mau.
Ya, 'kan?
Seseorang mengingat atau tidak,
bukan diukur
dari berapa seringnya dia menyebut nama.
"Ingat" itu di sini,
sama di sini.
Kalo dia bisa merasakan, pasti masih ingat.
Kalo enggak bisa makan makanan desa,
enggak usah maksa.
Mustika.
Lidah aku mati rasa, Mbah.
Kok bisa?
Problematik.
Mual nyium bumbu lokal.
Lidah mati rasa.
Aku enggak bohong, Tik.
Mustika!
Makan.
Buktiin kalo lidahmu mati rasa.
Gusti Allah!
Kamu ini kenapa?
Aku abis kecelakaan, Mbah.
Aku ilang kesadaran.
Pas aku bangun, tiba-tiba
lidahku mati rasa.
Aku masih bisa nyium,
tapi
lidahku mati rasa total.
Kata dokter,
- mungkin karena... - Stres?
Trauma belom selesai?
Ikut Simbah.
Ayo.
Kita mau ke mana, Mbah?
Udah, ikut aja.
Selama roh masih ada,
rasa tidak akan mati.
Dia cuma tertidur.
Disebabkan kekacauan pikiranmu sendiri.
Tika, airnya!
- Sini. - Ini, Mbah.
Udah.
Minum.
Itu apa, Mbah, isinya?
Duh! Rewel amat. Orang tinggal minum, kok!
Mau sembuh, enggak?
Ayo minum.
Aku enggak kuat, Mbah, ama baunya.
Harus ditahan.
Ayo minum!
Udah? Habisin.
Lho?
Sini.
Kalo kamu merasa pusing,
itu obatnya sedang bekerja.
Kamarnya udah dibereskan, belom?
Belom.
Ini kasihan, lho, kalo udah begini.
Jam berapa sekarang?
Itu. Jam tujuh.
Tika enggak bisa. Harus ke warung.
Lho, sebentar.
Ini udah pusing-pusing begitu.
- Ayo, pegangin! - Mbah.
Simbah enggak kuat!
Cepet!
Cepet.
Tolong, ya.
- Sini, Tik. Sini. - Ha?
Mbah.
Roso, makan.
Sini, Nak.
Ya, Mbah.
Ini.
Ini, makan.
Makasih, Mbah.
Silakan, Mbah.
Terima kasih.
- Ayo, dimakan. Dicoba. - Ya.
Laper.
Enak, 'kan?
Enak.
Udah bangun?
Tidur kayak orang mati.
Apaan, sih? Orang cuma sejam.
Sejam?
Halu.
Sejam.
- Mbah. - Hmm?
Aku tidur 25 jam?
Ya, berarti tubuhmu perlu istirahat total.
Kamu stres, ya, di Jakarta?
Orang tiap hari kerjanya bohongin diri sendiri.
- Gimana enggak... - Tika!
Bener, 'kan?
Tika enggak salah, Mbah.
Sejak aku pindah ke Jakarta...
...pelan-pelan aku lupa siapa diri aku sebenarnya.
Ibu aku ganti nama aku
supaya aku bisa mulai hidup baru.
Supaya aku juga
melupakan trauma kecil aku.
Tapi setelah itu tuh,
aku enggak tau kenapa, aku selalu ada perasaan ingin jadi yang terbaik di rumah.
Mengejar ini, mengejar itu.
Kayak ada yang maksa, padahal enggak ada yang nyuruh, Mbah.
Dan...
itu lumayan melelahkan.
Aku yang dengar aja capek.
Tika.
Hmm.
Kepedesan?
He-em.
Katanya lidahmu mati rasa?
Bener sakit, enggak, sih?
Cepet banget sembuhnya.
Mbah.
Lidahku sembuh.
Tika, kamu...
enggak percaya kehebatan ramuan rempahnya Simbah?
Enggak gitu, Mbah. Biasanya 'kan enggak secepet ini.
Masing-masing tubuh reaksinya berbeda-beda.
Efek obat itu tidak permanen.
Jangan terlena.
Lidahmu, kalo mati rasa kembali, karena mungkin
pikiranmu masih ruwet.
Obat itu hanya membantu tubuh memerangi penyakit.
Ya, sesungguhnya, obat yang sebenarnya
adalah diri sendiri.
Tapi, Mbah...
kira-kira, obat ini bertahan berapa lama?
Aku harus pulang ke Jakarta.
Ada uji makanan yang harus aku lakuin.
Efek obat itu paling lama bertahan tiga hari.
Tapi kalo mau pulang, ya, silakan aja.
Kalo lidahmu mati rasa lagi,
Simbah enggak bisa nolong kamu.
Ramuan mbahmu itu termasuk obat pereda stres.
Semacam antidepresan
yang sudah saya resepkan,
tapi kamu bilang
enggak berefek banyak buat kondisimu.
Ya, meskipun enggak teruji secara klinis,
ada yang namanya "complementary medicine",
alias pengobatan alternatif.
Ada baiknya kamu lanjutkan rehat kamu di sana, Res.
Nikmati cuaca sejuk, suasana tenang.
Yah, siapa tau...
bukan hanya lidah kamu yang membaik,
tapi trauma masa kecil kamu juga.
Lho? Mangutnya kok
habis ini, Mbak?
- Mbak. Gimana, nih, Mbak? - Habis lagi.
- Iya, sabar. Tenang. - Tenang.
- Habis. - Iya, oke. Sebentar...
Tik!
Tik! Ngebut, Tik!
Udah ngebut, ini tanganku cuma dua! Ah!
Oh! Hati-hati! Eh!
Tuh! Ambil!
Bikin lagi, dong.
Tenang! Sebentar!
Reng!
- Mas! Kapan, Mas? - Gareng!
Gareng! Gimana ini?
Sabar. Iya...
- Tik! Ngebut, Tik! - Cepetan!
Sabar!
Biarin. Sini, aku bantu.
Siapa yang suruh kamu masuk sini, sih?
Udah, biar aku bantuin. Ya?
Lagi dimasak...
Laper banget ini.
Aku dari tadi!
Tenang... Semuanya, tenang. Tenang.
Di sini, aku akan bantu memasak mangut dengan resep aku.
Tentu
dengan tidak mengubah cita rasa
warung makan ini.
- Ya? - Enggak usah cari perhatian, deh.
Ini bukan warung Italia.
Kalo begitu, kita taruhan aja.
Kalo sampai
rasanya tidak sesuai,
tidak enak,
aku bayar kamu 100.000.
Tapi kalo misalnya rasanya sesuai
atau mungkin lebih enak,
kamu yang bayar aku 100.000.
Gimana?
- Ini malah pada ngapain? - Setuju, Semuanya?
Setuju!
Tenang, yuk...
Aku bantu... Oke?
Aku bertaruh buat kamu, Mas!
- Mantap! - Ayo.
Ya udah! Ayo...
Biar aku lanjut potong,
kamu lanjut di sini.
Ya?
Ya, itu lagi dibuat! Oke?
Santai, ya?
Itu bukannya Chef Ressa?
- Mana, sih? Foto! - Hei!
Jangan rekam! Suruh jangan rekam-rekam!
Jangan rekam-rekam!
Antre, ya! Satu-satu, biar kebagian semua.
Obat itu hanya membantu tubuh memerangi penyakit.
Obat yang sebenarnya
adalah diri sendiri.
Roso.
Kamu enggak apa-apa, 'kan?
♪ Later on in the night ♪
♪ When the crowd have gone ♪
♪ We could talk under the moonlight ♪
♪ Till dawn ♪
♪ We could stay to watch the sunrise ♪
♪ Cancel all our plans ♪
♪ We don't need a reason ♪
♪ Why we just can't ♪
♪ I wish I could stop time ♪
♪ And stay in this moment Never think about going ♪
♪ Won't you stay with me For a little while ♪
♪ Caught myself free falling ♪
♪ Deep into your eyes ♪
Mas, gimana mangutnya?
- Jos, Mas! - Wah.
Mangut yang ini beda, Mas.
Enak banget rasanya.
Ini yang masak beda, ya?
Masih sama, Mas!
- Masih sama? - Masih satu tim.
Semuanya sama. Enak banget.
Nanti kalo mau tambah,
langsung aja, ya, Mas.
Oh, iya. Oh, ini pasti tambah, sih.
♪ Never think about going Won't you stay with me for a little... ♪
Lah?
Chef! Bang, minggir, Bang!
- Chef! - Mana, sih?
Minggir, Bang!
Jangan rekam.
- Chef Ressa! Chef! - Chef Ressa!
- Keren, ya? - Chef.
- Dimasakin Chef Ressa! - Wah. Chef Ressa.
Apa, sih? Gangguin aja lo.
- Chef Ressa. - Stop, hei
Ganteng banget.
Aku ngaku kalah.
Mas Gareng.
Iya, Mas.
Makasih dukungannya.
Lumayan, buat setor koperasi.
Kalo mau daftar jadi chef di sini...
kirim CV-nya ke mana?
Langsung aja kali, ya? Enggak usah daftar-daftaran.
Udah lihat ini, belom?
- Chef... - Sama...
Makasih, ya,
udah bantu warung.
Makasih juga udah ngizinin aku masak di warung kamu.
Gara-gara kamu, pendapatan bulan ini memenuhi target.
Aku minta maaf.
Sikapku sebelumnya enggak nyenengin banget.
Enggak apa-apa.
Aku emang pantes digituin.
Aku marah karena hatiku patah.
Kamu...
bikin aku patah hati.
Aku sempet cemburu waktu
tantemu dateng jemput kamu.
Akhirnya, kamu punya ibu lagi.
Enggak kayak aku.
Nak.
Surat dari siapa?
Dari Roso, Mbah.
Roso?
Iya, Mbah.
Aku seneng banget waktu kamu kirim surat.
Saking senengnya, aku
langsung bales, terus cerita panjang.
Permisi, Bu.
- Pak! - Dek! Ayo!
Habis itu, suratmu enggak pernah dateng lagi.
Nak!
Padahal, aku udah tulis surat-berkali-kali.
Saat aku udah lupain kamu,
tiba-tiba kamu muncul.
Siapa itu?
Roso, Mbah.
Tapi
namanya ganti jadi Ressa Eugino.
Aku lihat kamu,
aku lihat acaramu.
Setiap lihat kamu,
ada perasaan aneh di dadaku.
Katanya Simbah...
itu cinta.
Saking cintanya sama kamu,
aku ngumpulin artikel-artikel tentang kamu.
Chef, ini gue denger, nih, ya, sama si Nat kemaren.
Katanya lo tuh enggak suka
makanan lokal dan bumbu Indonesia.
Bener, enggak, sih?
Lo ini 'kan chef.
Masa lo beda-bedain makanan, sih?
- Iya. Gimana, deh? - Enggak, bukan begitu.
Spesialisasi gue emang di Italian food. Masakan Italia.
Sesuai dengan warisan budaya gue.
Omong-omong, mungkin buat yang di rumah, nih, sempet
tau juga kalo
Chef Ressa ini emang lahir sebenernya di Jakarta.
- Ya, 'kan? - Ya.
Tumbuh barengan sama bokap lo di Italia.
- Terus, lo balik lagi ke Jakarta. - Betul.
- Sampe sekarang? Hari ini? - Sampe hari ini.
Oke.
Itu tadi, ya. Gue sempet sama...
Roso kok ngomongnya begitu?
...denger gitu kayak lo ngomongnya...
Itu bukan Roso, Mbah.
Tika tahu betul.
Rasa cemburu yang dulu datang lagi,
pelan-pelan berubah jadi benci.
Saat itu, aku enggak kenal sama kamu lagi.
Roso udah bener-bener hilang.
Maafin aku, ya, Tik.
Ini kenapa?
Kenapa Maharasa sepi?
Harga terlalu mahal, dan...
tidak sebanding dengan rasanya, Bapak.
Tetapi Maharasa 'kan sudah pakai resep Mustikarasa!
'Kan pasti makanannya baik dan enak!
Ini bukan tentang Mustikarasa.
Apa jadinya?
Karena rasa tidak bergantung dari resepnya, Bapak.
Jadi?
Dari tangan seorang chef.
Kenapa dengan chef kita?
Saya pikir
Bapak harus melihat chef Bapak lebih dekat.
Hmm?
Dinda.
Pa.
Kamu...
pulang.
Catherine.
Tolong antar Dinda pulang.
Pak Broto.
Ini mangut resep Chef Alex.
Pak, itu seharusnya
yang masak saya, Pak. Saya executive chef-nya.
Kalo kamu chef,
tempatmu di dapur,
bukan di ruangan saya ini.
Cuh!
Pantes
Maharasa sepi.
- Keluar. - Enggak. Seharusnya...
- Keluar. - Pak!
Keluar!
Maaf, Pak.
Coba lihat ini.
Sudah lama Warung Mbah Wongso dikenal
paling laris di Magelang.
Nah, temen-temen pasti udah enggak asing
dengan sosok yang satu ini.
Halo, Chef. Selamat siang.
- Halo. - Ya.
Nah, ini yang bikin kita penasaran, ya.
- Kenapa Chef Ressa bisa ada di sini? - Ressa?
Sebetulnya,
- selama ini saya telah berbohong. - Oke.
- Dari dulu, saya bilang lahir di Jakarta. - Ya.
Tapi itu tidak benar.
Sebetulnya, saya lahir di desa ini.
Dan sampe saya umur delapan tahun,
saya dibesarkan oleh Mbah Wongso,
sampe akhirnya saya diangkat anak ke Jakarta.
Namun, saya sekarang merasa saya harus...
membaktikan diri kembali ke sini.
Sekalian
bantuin Tika
dan Mbah Wongso.
Oh, oke. Nah, Mbak Tika. Boleh, dong, dibocorin.
Resep menu-menu masakan di sini tuh dari mana?
Kalo untuk resep itu,
sebenernya, ya, dari Mbah Wongso sendiri.
Karena 'kan beliau juga punya banyak kumpulan
resep Nusantara.
Pastinya akan menggoyang lidah kita semuanya.
Oke, terima kasih banyak...
Silahkan, Mbah.
Dicicipi.
Ya.
Enak?
Enak, Mbah?
Enak.
Tapi lidah Mbah enggak cocok mi seperti ini.
Rasanya mau tambah
bumbu racikan eyangmu.
Kalo gitu, mau...
aku buatin yang baru?
Kamu mau juga, enggak?
Enggak usah. Ini aja.
Simbah seneng melihat kalian akrab kembali seperti dulu.
Habisnya...
Seminggu yang lalu, Simbah mimpi
eyang kakungmu.
- Eyang Darsono? - Iya.
Terus Eyang bilang
ama Simbah,
kenapa Simbah melupakan Roso?
Ngelupain aku, Mbah?
Kok...
Eyang Darsono bisa tau Roso?
Lah, itu yang jadi kepikiran.
Sampe-sampe
kepeleset di sumur jadinya.
Udah, enggak usah dipikirin.
Ayo, ikut Simbah.
Ini nanti Simbah habiskan. Ya?
Mau ke mana?
- Ayo. - Ya.
Bisa?
Hati-hati, Mbah.
Ini...
Ini jalan menuju Alas Kiwo, hutan
yang katanya angker itu, 'kan, Mbah?
Di sini makam eyangmu, Darsono, Tik.
Eyangmu dikubur bersama korban yang lainnya.
Mereka dibunuh dengan sadis
karena dituduh komunis.
Makanya, tempat ini disebut Alas Kiwo.
"Alas", hutan
tempat orang-orang kiri dikubur.
Berarti,
hutan ini memang angker, ya, Mbah?
Iya, sengaja
dianggap angker,
biar penduduk enggak datang ke sini untuk mendoakan.
Eyangmu dikomuniskan
sama mereka yang tidak suka sama dia.
Jahat betul.
Yah, begitulah.
Kalo terlalu fanatik dengan partai politik,
orang yang tidak berdosa jadi korban.
Tapi kenapa
Eyang Darsono nyebut nama aku di mimpi Mbah?
Dia mau menitipkan sesuatu
sama kamu dan Tika.
Titip apa, Mbah?
Peninggalan yang tidak boleh jatuh ke tangan siapa pun.
Pada suatu sore, dateng beberapa tamu,
bilangnya utusan Presiden.
- Darsono. - Saya Mayor Bonar.
Kapten Atmo.
Darsono.
Letnan Ismet.
Darsono.
Maksud kamu datang ke sini untuk...
Ini, Pak.
Presiden sudah menunjuk Anda.
- Wah, iya. - Silakan.
- Wah. - Terima kasih.
Terima kasih.
- Silakan, Pak. - Wah.
Sambil mereka menyantap mangut,
eyangmu diajak terlibat proyek besar.
Pasti cara masakmu berbeda.
Ah, tidak, Pak. Sama kayak orang-orang, kok.
Tidak salah Pak Presiden memilih Anda, kalau begitu.
Bersama 17 budayawan
dan delapan perwira TNI...
...eyangmu menghadap Presiden
dan diberikan mandat
mengumpulkan 1.945 resep
makanan tiap-tiap daerah seluruh Indonesia
dan dinamakan Mustikarasa.
Tujuh belas budayawan,
delapan perwira.
Seribu sembilan ratus empat puluh lima resep.
Tanggal kemerdekaan kita.
Itulah kenapa Mustikarasa
jadi proyek penting yang diagungkan.
Sisa 945 resepnya gimana, Mbah?
Belom dibukukan. Belom sempat.
Karena 'kan tahun itu terjadi huru-hara di negeri kita.
30 September 1965 subuh,
di Lubang Buaya terjadi kudeta berdarah
yang didalangi partai komunis
dan menewaskan tujuh perwira angkatan darat.
Sejak saat itu, semua anggota PKI dan simpatisannya
- ditangkap dan dibunuh. - Ya sudah, dimasukin...
Duduk. Sudah, biar saya saja.
Kau selamatkan dirimu.
Baik, Pak!
Mau ke mana, Ismet?
Jangan berani-berani kau bawa
Mustikarasa itu keluar ruangan!
Kamu harus segera pergi dari sini.
Negara sedang kacau.
Ini kunci rumah.
Di sana ada bunker,
tempat di mana aku menyimpan dokumen rahasia negara.
Di gudang rempah belakang rumah.
Tolong kau jaga dokumen ini.
Jangan berikan pada siapa pun.
Tidak ada yang bisa kupercaya.
Nanti aku menyusul.
Aku menunggu Ketut Arsa di sini.
Itu kali terakhir Mbah lihat eyangmu.
Setelah itu,
Mbah dengar
eyangmu terbunuh di Alas Kiwo.
Dulu...
ini gudang persenjataan Jepang.
Lalu diubah sama eyangmu
jadi ruangan kerja.
Lho? Terus?
Ayo masuk.
Gelap, ya? Pelan-pelan.
Aku hidupin dulu lampunya.
Udah.
- Ini, Mbah. - Ya.
Ke sini, Nak.
Ini, kamu ambil kopernya,
di dalam sini.
Ya, sini.
Ini sisa resep Mustikarasa.
Hitung, ya?
Kalian harus menjaganya, ya?
Kok...
Tika sama Roso?
Kalian adalah pewaris Mustikarasa.
Tapi 'kan aku bukan anaknya Eyang Darsono kayak Tika, Mbah.
Ini.
Yang di tengah
namanya Ketut Arsa.
Dia sahabatnya Eyang Darsono.
Ahli gastronomi, sekaligus koki.
Dia eyangmu, Roso.
Dia mewariskan darahnya di kamu.
Jadi, Mbah enggak heran
kalo sekarang kamu jadi koki hebat.
Yah, nasibnya sama dengan Eyang Darsono.
Dia meninggalkan dua orang anak, masih kecil.
Ya, salah satunya ibumu.
Mbah,
di tujuh belas budayawan Mustikarasa,
ini beliau, Mbah?
Barengan sama Bung Karno?
He-em.
Aku emang dari dulu yakin aku bukan anak buangan.
Simbah kenal ibumu, Roso.
Dia 'kan sahabat ibunya Tika.
- Mbah. - Hmm?
Ini Ibu?
Oh, iya, bener.
Ini ibumu.
Ini Evi, ibunya Roso.
Nih.
Mirip sama Mama Eva.
Banyak orang bilang mereka kembar.
Kalo Evi,
itu karakter eyangmu. Prinsipnya kuat.
Tapi mereka sekarang ada di mana, Mbah?
Mereka masuk daftar orang hilang.
...meninggalkan
kesedihan mendalam...
Tapi sampe hari ini
belum ditemukan.
Tanpa Simbah sadari,
situasi politik Jakarta membuat Simbah kehilangan Ratih.
Ibu,
saya dan kawan-kawan dalam bahaya.
Saya harus lari.
Titip Tika dulu, ya, Bu.
Kalo sudah aman,
Ratih akan ambil kembali.
Maafkan Ratih, ya, Bu.
Dua hari kemudian,
Evi menitipkan kamu, Roso, ke Darmo.
Rupanya dia menyusul Ratih.
Evi menitipkan pesan kalo suatu saat nanti,
Roso akan diambil kembali
oleh dirinya atau adiknya.
Tolong jaga warisan ini, ya?
Jangan diserahkan ke orang lain.
Apalagi sama ini, nih. Kepada dua perwira ini.
Ini semacam bola stres dari dokter aku.
Temen aku kalo lagi stres.
Aku enggak nyangka
rencana pemulihan aku jadi kayak gini.
Ya, seenggaknya,
sekarang kamu jadi tau siapa dirimu sebenernya.
Lidah aku sembuh,
trauma aku sama bumbu hilang...
Dan yang paling penting...
aku dapet temen aku lagi.
Berarti sekarang udah enggak butuh ini, ya?
Terus sekarang gimana?
Aku enggak tau, Tik.
Kalo lidahmu enggak mati rasa juga paling kamu enggak ada di sini.
Iya.
- Pasti uji makanan udah sukses. - Hmm.
Mungkin sekarang aku udah jalanin restoran di Gragnano.
Kenapa enggak kamu kejar sekarang?
Itu tuh sebetulnya impian papa aku.
Dia tuh dari kecil punya impian
buka restoran di kota kelahirannya.
Dan pada saat beliau meninggal...
Aku udah janji sama dia,
akan aku buka restoran itu.
Gitu.
Aku yakin, kok,
kamu bisa ngewujudin itu.
Ya, enggak segampang itu, Tik.
Apalagi sekarang aku udah tau asal-usul aku.
Orang tua kandung aku, kakek aku.
Hidupmu bukan di sini, Ros.
Aku juga enggak mungkin ninggalin kamu, Tik,
dengan warisan segede itu.
Kamu jangan jadi terbebani karena itu, enggak, sih?
Mau gimana, Tik? Aku enggak mungkin bisa jalanin impian papa aku dengan tenang.
Enggak mungkin.
Kecuali mungkin...
Kecuali aku ikut kamu?
Enggak bisa.
- Enggak bisa. - Tik.
- Kenapa enggak bisa? - Lho?
Kenapa enggak bisa?
Roso, kamu ngerti, enggak, sih?
Hidupku di sini.
Aku enggak mungkin ninggalin Simbah.
- Aku enggak nyuruh kamu ninggalin Mbah. - Terus?
Terus?
- Ya, mungkin aku yang... - Enggak.
Kamu yang mau tinggal di sini?
Mau tinggal di sini permanen?
Enggak mungkin.
Emang salah, aku mau sama kamu?
Hmm?
Aku tinggalin semuanya.
Kamu yang bilang, 'kan?
Cinta.
Ada apa, Mas Gareng?
Apa?
Siapa?
- Serem... - Serem.
Mbakyu.
Tarjo maksa suruh buka warung. Katanya ada orang penting.
Mereka siapa?
Enggak tau! Aku enggak pernah lihat!
Pak Broto.
Hei. Ressa.
Dari mana aja kamu?
Aku tunggu uji menu kamu,
kok malah hilang?
Pak Broto kok bisa tau kita ada di sini?
Warungmu itu
viral.
Acaranya tentang makanan andalan kalian.
Mangut.
Lho? Aku lihat, kamu di situ.
Jadi, kalo tidak keberatan,
apakah saya boleh mencicipi mangut itu?
Mohon maaf sebelumnya, Pak.
- Saya Tika. - Oh, iya.
Saya Subroto. Panggil aja Broto.
Kebetulan warung kami sedang tutup, Pak.
Baru masak lagi besok.
Saya akan bayar lebih
supaya kalian masih bisa cari bahan-bahan makanan itu.
Nih, ya.
Silakan.
Bisa, 'kan?
Pak, ini bukan masalah uang.
Bahan-bahannya ada di belakang, kok, Pak.
- Aku masakkan. - Baik.
- Bisa dimasakin. Ya, masih banyak. Ya. - Masih ada, 'kan, bahannya?
- Ya. - Masih ada.
Mbak.
Tolong, dong,
masakin buat saya.
Bisa?
Duit gede ini, Reng.
Kerjain, Reng.
Aku berapa?
Sepuluh persen, kayak biasa.
Sebelas!
Lima belas aku kasih!
Nah, gas!
Ayo masak!
- Mbakyu, tolong itu, Mbakyu! - Apa?
- Lele. - Aku belikan.
Saya
minta maaf
atas kelakuan
anak ragil saya.
Dan tanda maaf saya itu,
saya akan berinvestasi
di restoran kamu yang di Italia itu.
Tinggal kamu bilang sama saya.
Kapan, dan di mana lokasinya.
Nanti kita bangun bersama.
Oke?
Boleh saya pikir-pikir dulu?
Wah, luar biasa aromanya.
Piring...
Makan! Semuanya.
Waduh!
Nikmat luar biasa.
Terakhir kali aku makan mangut istimewa ini,
lima puluh lima tahun yang lalu.
Bayangkan. Masih terasa di lidah.
Dan kalo aku boleh sok tau, ya,
kamu masak mangut ini
pasti dengan cara
pengasapan kayu kemiri.
Bapak tau pengasapan kayu kemiri?
Hebat, 'kan?
Ya, tau.
Kamu luar biasa, Tika.
Ini teknik memasak
yang khas.
Masakan dan teknik yang khas ini
harus menyebar ke mana-mana.
Jadi, kalo kamu mau mengembangkan warung ini,
kamu jangan ragu-ragu.
Hubungi saya. Ya?
Cepet. Nah, ini kartu nama saya.
Oke? Ya?
Seperti warungmu ini
dengan keistimewaannya, harus menyebar di seluruh Nusantara.
Pak Broto tadi bilang soal pengasapan kayu kemiri.
Tau dari mana dia soal itu?
Pak Broto itu penasihat Presiden
yang perhatian soal pangan-pangan Indonesia, jadi...
Ya, enggak heran kalo dia emang tau soal hal-hal kayak gitu.
Pengasapan kayu kemiri
diciptakan sama Eyang Darsono hanya untuk keluarga.
Dia enggak mungkin tau.
Aku yakin Pak Broto kenal sama Eyang Darsono.
Atau jangan-jangan...
dia salah satu perwira yang ada di foto itu?
Coba.
Enggak ada yang mirip.
Enggak mungkin kayaknya.
Coba kamu cek.
Aku bawa, ya.
Kita harus bicara sama Simbah soal Pak Broto.
Yuk, pulang!
- Ya, hati-hati! - Ya!
Assalamualaikum.
Mbah?
Mbah?
Mbah! Mbah?
Ibu Sunarti mengalami cedera otak anoksik
karena kurangnya oksigen ke otak.
Ini dapat terjadi dalam situasi strok,
serangan traumatis,
tersedak, atau overdosis.
Kami akan berbuat sebaik mungkin.
Makasih, ya, Dok.
Mbah.
Bangun, Mbah.
Nanti kita makan spagetinya Roso lagi.
Nanti kita...
nyekar Eyang ke makamnya lagi.
Aku punya pertanyaan tentang Mustikarasa.
Mbah harus jawab.
Bangun, Mbah.
Jadi, mbahmu udah cerita, ya,
soal dokumen resep itu?
Mbakyu...
Kamu kok enggak kapok-kapok?
Mengorbankan orang lain,
gara-gara dokumen
terkutuk itu.
Mbah Darmo kok ngomongnya kayak gitu?
Mustikarasa itu kutukan, Tika.
Buat keluargaku,
buat kakang masku,
simbahmu, dan anak-anaknya.
Termasuk ibumu.
Semua jadi korban.
Waktu Mbah pertama kali tau tentang Mustikarasa
yang dibangga-banggakan Kangmas Darsono,
umurku baru 12 tahun.
Darsono dan eyangmu, Ketut Arsa,
terlibat dalam percakapan serius.
Presiden menugaskan mereka menyelipkan angka-angka yang
Simbah enggak ngerti.
Sebenarnya untuk apa angka-angka itu?
Tapi ternyata,
angka-angka itu adalah koordinat sebuah lokasi harta karun
yang diselipkan ke dalam 1.945 lembar dokumen Mustikarasa
secara acak.
Dan eyangmu, Ressa,
meragukan tindakan ini dan menanyakan,
mengapa angka-angka berharga ini tidak disimpan di tempat lebih aman saja?
Tapi kangmasku, Darsono, ngotot
kalau akan terjadi kekacauan di kalangan militer,
sehingga peta ini harus disimpan di tempat yang tidak terduga.
Konspirasi ini, Dar!
Tut! Ini tugas negara, Tut.
Peta harta karun?
Iya.
Itu lokasi tambang terbesar di dunia.
Lebih besar dari tambang emas yang ada di Mimika, Papua Barat.
Memangnya kalau harta itu dinilaikan, sebesar apa, Mbah?
Kalau letak tambang itu ditemukan,
Indonesia akan menjadi negara paling kaya di dunia.
Pantes dokumen itu banyak yang cari.
Semua orang yang memegang dokumen itu
akan kena kutukan, termasuk kalian.
Terus, kita harus gimana, Mbah?
Yah...
Kembalikan saja ke negara.
Eh, aku dengar warung kamu kemaren kedatangan Jenderal Subroto?
Dia itu 'kan penasihat Presiden.
Kembalikan saja ke dia.
Iya, Tik.
Kita balikin aja ke dia. Gimana?
Enggak.
Aku enggak bisa bikin keputusan
sebelom dapet persetujuan dari Simbah.
Lihat saja bagaimana kondisi simbahmu, Tika.
Makan dulu, yuk.
Buka mulut.
- Hmm. - Hmm?
Enak.
- Kalo menurut aku, ya, Tik... - Hmm?
Cuma negara yang berhak megang dokumen itu.
Soalnya nilainya terlalu besar.
Iya, enggak, sih?
Tapi...
Kalo memang nilainya sebesar itu...
kenapa dulu Presiden ngasihnya ke Eyang?
Kenapa enggak ke Bonar atau ke Atmo?
Ros!
Din.
A... Aku ke sini enggak disuruh Papa.
Boleh, enggak, kita ngobrol di dalem?
Roso.
Aku mau ke dapur dulu, ya.
Aku dateng ke sini sebelum semuanya terlambat.
Kamu laki-laki naik, Res.
Aku sadar kalo aku bodoh.
Bisa dibego-begoin ama Papa, ama Alex.
Kalo kamu ke sini cuma mau ngomongin soal peristiwa itu, aku udah...
Dengerin aku dulu, Res. Tolong.
Ya udah.
Ini semua tuh skenario Papa.
Kita emang selingkuh,
tapi aku enggak pernah ngasih kartu aksesnya ke dia.
Papa yang ngasih, Res.
Din...
Udah, ya? Tolong.
Aku minta maaf, Res.
Aku mohon untuk kamu stop berhubungan sama Papa.
Maksud kamu apa, sih?
Papa pasti udah bujuk kamu, 'kan?
Soal restoran yang di Gragnano,
dan juga udah nawarin Tika untuk mengembangkan warung makannya.
Itu semua cuma topeng, Res.
Topeng Papa untuk ngerebut Mustikarasa dari kamu sama Tika.
Kamu tau dari mana soal Mustikarasa?
Mustikarasa itu obsesi Papa.
Saya mendengar
pengumuman Presiden
tentang pelarangan impor beras.
Ini sangat mengganggu bisnis kita.
Dan jalan satu-satunya,
kita harus cepat mendapatkan sisa dokumen Mustikarasa ini,
karena di balik dokumen itu,
ada peta harta karun
yang nilainya begitu besar dan luar biasa.
Paham?
Siap, Pak!
Kita cari.
Papa tau kalo Mustikarasa tuh terhubung
sama kalian karena mangutmu.
Papamu sebenernya siapa, sih?
Mayor Bonar.
Bener, enggak?
Bukan.
Saya Kapten Atmojo.
Subroto Sastro Atmojo.
Lalu kuganti
jadi Subroto Mangkuprojo.
Itu, 'kan, nama yang kalian kenal?
Jangan berani-berani kau bawa
Mustikarasa itu keluar ruangan.
Ismet.
Ayo cepat. Harus pergi.
- Uangnya, Pak? - Sudah saya siapkan di mobil.
- Ayo cepet. Cepet. - Baik, Pak.
Bajingan!
Kok cuma segini?
Sialan kamu, Darsono!
Papa.
Dinda, terima kasih, ya.
Kamu telah bekerja dengan baik.
Kamu bilang ke sini bukan karena disuruh sama papamu.
Memang bukan.
Bohong!
Bawa ke mobil.
Pa!
Pa, suruh lepasin, Pa!
Pa!
Ressa, Tika, lari! Pa!
Pa, lepasin, Pa!
Anak pelacur mau ke mana?
Tika, lari!
Hei...
Goblok!
Roso!
Bangsat! Diam kamu!
Tarjo!
Kamu diem, Tik! Tenang!
Narti...
Betapa cerdiknya kamu
menyimpan peninggalan-peninggalan Darsono.
Dokumen yang Bapak cari
terkubur di Alas Kiwo bersama jasad Eyang Darsono.
Oh, ya? Tapi aku punya petunjuk lain.
Aku dari kuburan Alas Kiwo, Tik.
Sudah kugali sedalam-dalamnya,
yang kutemukan cuma tulang belulang PKI.
Enggak ada dokumen Mustikarasa.
Kamu dibayar berapa?
Sampai tega
ngekhianatin keluarga sendiri?
Aku justru ingin menyelamatkan keluarga kita, Tika.
Terutama kamu dan Simbah.
Dokumen Mustikarasa itu terkutuk.
Sebaiknya kamu berikan kepada Pak Broto.
Enggak sudi!
Paman!
Terlalu banyak drama!
Bangsat kamu, Broto!
Diam!
Jenderal iblis!
Kalau kamu tetap bungkam,
aku akan menghancurkan pacarmu ini!
Di mana?
Di mana kau simpan?
Bilang di mana kamu meletakkan dokumen itu!
Aku hitung sampai tiga.
Aku akan pecahkan kepala pacarmu!
Satu!
- Dua! - Jangan...
- Ti... - Gudang rempah!
Apa?
Gudang rempah.
Gudang rempah!
Terima kasih.
Roso!
Enggak usah kayak sinetron! Ayo cepet, buruan!
Cepetan!
Di mana?
Ayo, jangan diam saja.
Tik!
Di mana kamu simpan dokumen itu?
Jangan ulur waktu!
Main-main, aku bunuh pacarmu!
Tika, tunjukin.
Kok malah buka toples ini, sih? Tik...
Yang benar! Di mana?
Hei...
Darsono...
Tika, ayo tunjukin jalannya.
Memang cerdik kamu!
Wah.
Seperti ini.
Ayo cepet!
Di mana?
Lama!
Cari!
Di mana?
- Hmm? - Ah.
Di mana kamu simpan dokumennya?
Di mana?
Sebentar, Bos.
Ini, Pak Bos.
Buka...
Goblok!
Dia yang ngerti kodenya! Kasih ke dia!
Buka.
Buka, Tik!
Luar biasa.
Darsono!
Genius kamu! Genius!
Jangan ada yang ilang! Simpen!
Siap, Pak.
Pak Bos. Harta karunnya cuma itu?
Enggak ada emasnya?
Alex!
Tika!
Pa, tolong, Pa.
Dinda!
Dinda!
Kamu... Dinda...
Dinda!
Dinda!
Dinda!
Dinda!
Din...
Dinda...
Dinda...
Dinda!
Jangan bergerak!
Turunkan senjata!
Tik!
Tik, bangun, Tik.
Tika!
Selamat pagi, Bapak.
Selamat pagi, Cath.
Ini dokumen Mustikarasa, Pak.
Terima kasih.
Siap, mohon izin, Pak.
Oh, iya.
Sampaikan kepada Ressa,
bahwa Pak Presiden akan datang secara langsung
di pembukaan restorannya untuk mengucapkan terima kasih atas
pengembalian harta negara yang sangat penting ini.
Siap.
Akan saya sampaikan.
Mohon izin, Pak.
Silakan.
Inilah...
spageti Nusantara.
Selamat menikmati.
Silakan!
Sini.
- Simbah udah makannya? - Udah.
- Enggak mau yang lain? - Enggak ada.
Ya udah.
Silakan, Mbah.
Silakan.
Ini harus aku coba.
Aku mau ke sana dulu. Masih ada, 'kan?
Ya.
- Masih banyak. - Oke.
Ini kalo lihat penampilannya, udah oke.
Aku coba, ya.
Enak?
Enak.
Terima kasih, Mbah.
Kalian memang sudah sepantasnya mendapatkan hadiah ini.
Kalian harus menjaganya, ya.
Iya, Mbah.
Mbak Tika, Mas Ressa.
Mohon maaf, Pak Presiden izin harus ke Papua
karena harus meresmikan jalan tol.
Tapi beliau menitip pesan lewat video.
Atas nama negara,
saya mengucapkan terima kasih banyak
untuk Chef Ressa, Chef Tika
atas keberaniannya menyelamatkan
dokumen negara.
Minumnya, Pak.
Izin bertanya, apakah saya bisa merapat ke Kafe Rahasia Rasa segera?
♪ Lamunan ♪
♪ Ombak di tepian Malaka ♪
♪ Kau dibelai ♪
♪ Nyiur bak tarian syurga Tarian syurga ♪
♪ Elok nian ♪
♪ Ufuk di penghujung harimu ♪
♪ Damai hati ♪
♪ Resah berakhir silam ♪
♪ Dahulu ♪
♪ Di hampar bahtera biru ♪
♪ Dan deru ombak ♪
♪ Yang membawa kabar berlabuh ♪
♪ Esok 'kan berganti ♪
♪ Lusa nantikan harummu ♪
♪ Usah dikau gulana ♪
♪ Dahulu ♪
♪ Di hampar bahtera biru ♪
♪ Dan deru ombak ♪
♪ Yang membawa asa berlabuh ♪
♪ Gelombang ♪
♪ Arungi hasrat cipta-Mu ♪
♪ Esok 'kan berganti ♪
♪ Lusa ♪
♪ Menuai impian dan harapan ♪
♪ Yang baru ♪
♪ Dan abadi ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.