All language subtitles for Pernikahan Arwah 2025 1080p NF WEB-DL.AAC5.1.H.264-PandaFlix

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional) Download
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German Download
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam Download
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Langgeng sampai mati.

Akur-akur seribu tahun.

Banyak-banyak anak.

Panjang umur.

Mau kuajari senyum, Sya?

Aku meriasmu seperti ini agar kau tersenyum, bukan cemberut.

Aku yakin orang tuamu pasti bahagia.

Mungkin sekarang mereka sedang melihatmu dari surga.

Atau mungkin bersiap untuk Sangjit.

Romantis sekali.

Coba kulihat. Sini.

Ini. Kau cuci sendiri ya?

Cuci saja.

Aku kesal denganmu. Harus sok seniman ya?

- Fotonya harus estetis, harus pakai film… - Tentu saja.

- Apa? Mau gratisan? - Biar kurias kau.

- Mundur. Tidak muat. - Ayo.

Apa?

- Sudah siap? - Sabar.

- Hai. - Istrimu sebentar lagi selesai.

- Hai. - Hai, Sayang.

- Biar kurias kau. - Aku bekerja dulu.

Lipstikmu rasa stroberi.

Enak, 'kan, stroberi? Manis sekali.

Ya. Ya ampun, Salim.

- Ya, aku akan tunggu di luar. - Berlepotan.

- Aman, 'kan? - Yang ini biaya ekstra ya.

Sumpah.

Seserahan berikutnya dari keluarga Salim,

sepasang lilin dan dua botol anggur.

Masing-masing lilin bergambar Liong dan Hong,

naga dan burung feniks, adalah simbol keselamatan.

Tasya itu segalanya bagiku.

Tak ada satu momen pun yang kusesali,

dari pertama kali bertemu

sampai hari ini.

- Aku mencintaimu, Sayang. - Aku mencintaimu.

Tapi aku tahu kami berdua bisa ada di tahap ini

karena kedua orang tua angkatku.

Mami Linda dan Papi Chandra.

Kalau Tasya tidak bekerja dengan Mami dan Papi,

kami tak akan bertemu.

Terima kasih, Mami

dan Papi,

karena telah merawatku dari kecil.

Sejak Papa dan Mama tiada.

Jadi, bersulang untuk Mami Linda dan Papi Chandra.

Bersulang!

Bersulang!

- Bersulang. - Bersulang.

Pi, cicipi ayamnya. Itu favorit Papi.

- Ini untukmu. - Cicipi.

Sayang, ini untukmu.

- Kau mau ayam? - Tidak.

- Mi, cicipi. Tasya yang pesan. - Ya.

Sudah.

- Enak, Arin? - Ini yang kemarin kita tes rasa?

- Ya. - Enak sekali.

- Terima kasih. - Aku percaya seleramu.

- Mau mi? Kau mau? - Tidak. Terima kasih, Sayang.

Salim, sungguh. Tasya paling jago soal kuliner.

- Bisa saja. - Ini sangat enak.

Aku selalu bahagia makan denganmu.

Sayang.

Ada apa?

Kuajak bicara, malah bengong.

Barusan

aku seperti lihat sesuatu.

Melihat apa?

Tidak tahu. Hanya sekilas.

Aku juga pernah memimpikannya.

Seperti ada rumah tua

yang belum pernah kulihat.

Ya sudah, tak usah dipikirkan.

Aku mau bilang, saat Sangjit kemarin,

Engkim menelepon, tapi tidak terangkat.

- Engkim? - "Engkim" adalah sebutan untuk bibi.

- Sepupunya papa. - Kau masih punya bibi?

Masih.

Tapi tak terlalu dekat.

Terakhir ketemu saat aku masih SD.

Seharusnya dia datang saat Sangjit. Papi Chandra pasti mengundang.

Kau punya tisu?

Tidak ada? Aku cuci tangan dulu.

Halo?

Halo?

Dengan Salim Tio?

Ya, ini siapa?

Namaku Koh Chung Chung.

Aku suhu di Lasem.

Aku mau memberi kabar, Ci Fang Fang kemarin meninggal di Lasem.

Bisakah kau kemari?

Apa?

- Engkim Fang Fang meninggal? - Bisakah…

- Halo? Maaf, suaranya putus-putus. - Bisakah… Halo?

Halo?

Salim.

Maaf, kemarin Engkim tidak bisa datang.

Cepat pulang ya, Lim.

Hio di altar kamar belakang harus ada yang menyalakan.

Kamar belakang?

Engkim?

Halo?

[musik meresahkan

Engkim Fang Fang meninggal.

Apa? Sakit?

Entahlah, makanya aku mau ke sana.

Lo? Foto pra-pernikahan kita bagaimana?

Apa kau sungguh harus pergi?

Tiket kita ke Hong Kong tak mungkin dibatalkan, Salim.

Jadwal Febri dan Arin juga sangat padat.

- Takutnya… - Ya, tapi…

Masa aku tak mengurus pemakamannya?

Administrasinya pun pasti repot sekali.

Siapa yang urus kalau bukan aku?

Ini.

Tumben sekali kau mimisan.

Kau istirahat saja. Kita cari orang untuk menggantikanmu di sana.

Sayang.

Engkim Fang Fang itu kerabatku satu-satunya.

Hanya aku keluarganya.

Bagaimanapun, harus aku yang antar kepergiannya.

Maaf ya.

Apa tak ada jadwal yang bisa digeser?

Sisipkanlah jadwalmu.

Bagaimana ya?

Aku baru kosong tiga bulan lagi.

Begini saja. Kita foto di sini.

Arsitekturnya klasik. Perabotan Tiongkok Peranakan semua.

Cocok dengan konsep…

Halo? Salim.

Yah…

Dia asal pindah lokasi saja.

Bagaimana, Tasya?

Begini, kalau keputusan pindah lokasi ke rumah Salim adalah darimu,

tenang, aku akan tetap berikan yang terbaik.

Santai.

Salim!

AKU MENCINTAIMU. SAMPAI BERTEMU.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan

Cobalah beberapa saat lagi.

Ini ya, Pak?

Ya.

Oke.

Terima kasih, Pak.

Salim.

Salim.

Salim.

Salim.

Salim.

Salim.

Sayang.

- Salim. - Ada apa denganmu?

Tidak apa-apa.

Kita tidak bisa lama-lama di sini.

Kenapa, Sayang?

Rumah ini…

Ini rumah yang ada di mimpiku.

Dan kau di peti mati.

Begini saja.

Besok pagi,

kita sembahyang di altar leluhurku.

Mungkin mimpimu adalah pertanda

bahwa kita harus minta restu mereka untuk menikah.

Ya?

Ini.

Mengapa empat batang?

Bukannya empat artinya…

Artinya, kita harus berdoa ke empat penjuru mata angin

untuk menghormati orang tua

atau leluhur yang sudah lama meninggal.

Permisi.

Tasya?

Kosong.

Pada di mana mereka?

Gila.

Seperti rumahnya Ip Man.

Astaga, kuno sekali tontonanmu.

Akhirnya sampai juga.

- Ya. - Bagaimana perjalanan? Aman?

Lelah.

- Hai. - Hai.

- Bung. - Lim.

Bagaimana?

Menakutkan.

- Tapi autentik, 'kan? - Ya, autentik. Setuju.

Siapa yang datang?

- Bagaimana? - Oke.

- Koh Chung Chung? - Hei.

- Ada apa, Koh? - Salim.

Aku membawakan alat-alat sembahyang Ci Fang Fang yang kemarin.

Ya, aku terima. Terima kasih.

Kalian pada mau menginap di sini?

Ya.

Oh, ya.

Ya sudah. Kalau butuh apa-apa, aku tinggal di dekat sini.

Rumah kecil, persis di sebelah kelenteng.

Kalau begitu, aku pamit dulu.

- Adik-Adik, sekalian. - Ya.

- Mari. - Ya. Terima kasih, Koh.

Ya.

- Lihat kotaknya. - Besar sekali.

Bagus ini.

Ayo, Semua, sudah siap? Mari tur rumah.

Ayo. Sebentar.

Salim, apa kau tahu arti dari tulisan ini?

Hei.

- Hei. - Apa?

- Ada apa denganmu? - Tidak, ada yang menetes.

Besok kubereskan.

Ayo.

- Semua ornamennya antik ya? - Bagus, 'kan?

Keluargaku tinggal di sini dari tahun '20-an.

Sudahlah, Tasya.

Tidak usah mengingat mimpimu lagi.

Di saat seperti ini,

seharusnya kau ingat pada saat pertama kali bertemu Salim.

Kau cerita kepadaku dan kau terlihat sangat bahagia.

Tidak menyangka, kini bisa menikah.

- Romantis ya? - Ya.

Atau kau hanya beruntung.

Sepertinya rambutmu masih kurang.

Oh ya?

Atau digerai saja?

Tidak.

Bagus sekali, 'kan, riasan rambutnya?

Besok kutata seperti ini saja ya?

Aku punya stok tusuk rambut.

Nanti kucoba pilihkan.

Boleh.

Oke.

Wah, cantik sekali dia.

Keluargamu, Lim?

Kalau tidak salah,

adiknya kakek buyutku.

Dulu penyanyi terkenal di Jawa Tengah.

Namanya Mei Hwa.

Sayangnya,

- meninggal saat masih muda. - Meninggal?

Seharusnya masih ada

koleksi vinilnya.

- Oh ya? - Ya.

Lawas sekali kalau masih ada.

Astaga, suaranya!

Aku merinding!

Lagu ini enak untuk berdansa.

Setuju.

Kopi di mana, Sya?

Apa?

Apa?

Ini rupanya.

Ya.

Tidak. Aku masih tak mau menjadi modelmu.

Apa maksudmu?

Bukan itu.

Lalu?

Salim mendahuluiku.

Ya ampun, Febri. Makanya cari.

Kau terlalu asyik bermain-main.

Apa?

Bukan itu.

Dulu…

Aku juga menyukaimu.

Basi sekali.

Kalau dulu kau sungguh menyukaiku,

seharusnya kau maju duluan.

Berarti,

kalau dulu aku maju,

sekarang masih ada kesempatan?

Tidak.

Kau bau rokok.

Tasya.

Sebentar.

Itu apa?

Mungkin makam keluarga Salim.

Oke.

Salim.

Sayang?

Salim.

- Sedang apa kau di sini? - Salim.

Aku tak tahu kenapa Mei Hwa dibuatkan altar khusus seperti ini.

Seharusnya dia di depan, bersama altar keluarga.

Kecuali kalau…

Kalau?

Kalau dia belum menikah.

Setahuku, hio di altar Mei Hwa harus selalu menyala

dan yang menyalakan harus keluarga Tio.

Kalau tidak, bisa sakit.

Mimisanku yang kemarin itu sama

seperti yang Engkim tulis di sana.

Jadi, kau harus tetap tinggal di sini?

Lalu, saat punya anak, setelah kita menikah, kau…

Sayang.

Aku mengerti kalau kau tidak kuat,

- tidak apa-apa. - Salim.

Salim.

Kita hadapi semua ini bersama.

Ya?

Oke?

Terima kasih, Sayang.

Jangan khawatir.

Kejadian yang kau alami itu, mungkin karena

hionya sempat terputus.

Tak ada yang menyalakan sejak Engkim meninggal.

Ya, 'kan?

Ya.

Besok kita berdoa di makam Mei Hwa.

Semoga

arwahnya tenang.

- Ya. - Oke?

Kalau sakit, bilang ya, Tasya.

Tasya.

Aku mengerti

apa yang kau alami sangat menakutkan.

Jadi…

Apa kita tunda dulu saja?

Tunggu sampai kau merasa lebih baik, lalu kita bisa…

Mulai lagi nanti, dan…

Tidak.

Tidak apa-apa.

Sebentar lagi, aku akan merasa lebih baik.

Kau yakin?

Sudah siap?

Ayo.

Hati-hati.

Hati-hati, Tasya.

Sini.

Ayo.

Siap?

- Ayo. - Ayo.

- Aku di halaman depan ya. - Ayo.

- Ayo, Ja. - Ya.

Aku saja.

Oke.

- Ayo? - Ya.

Sya, aku punya sesuatu untukmu.

Wow.

Dapat dari mana?

Rahasia.

Kupakaikan ya?

Cantik, 'kan?

Cantiknya.

Cantik sekali.

- Terima kasih, Arin. - Sama-sama.

- Maaf ya. - Lebih datar.

Tidak usah senyum.

Aku ingin membuatnya klasik pakai film, jadi, kini…

Kau mau kiri atau kanan?

- Kiri. Itu sisi bagusku. - Maaf, sebentar.

Wajahmu berminyak sekali.

Sekarang boleh senyum.

Kelihatan gigi?

Salim.

Mau dibuatkan foto seperti ini?

Gaya kuno.

Aku baru tahu ada foto ini.

Boleh.

Ya sudah, nanti kubuatkan.

Aku ambil foto di balik layar ya.

Sekarang pakai film saja.

Lihat ke sini.

Bagus. Turunkan sedikit dagunya, Tasya.

Satu, dua…

Oke, kini Salim, lebih sayang sama Tasya.

Satu, dua.

Oke. Sekali lagi. Dagu ke bawah. Rileks, satu, dua.

Oke, satu, dua.

Lihat ke sini. Satu, dua.

Satu, dua, lihat ke sini.

Lebih sayang lagi. Satu, dua.

Tasya, rileks. Satu, dua.

Lepaskan ayahku!

Sekali lagi ya. Satu, dua.

Oke. Sebentar.

- Tasya! - Sayang!

- Sayang. - Tasya. Bangun, Sya.

Kau yakin tak mau ke rumah sakit?

Tasya tidak mau.

Katanya butuh rebahan saja.

Selama dia baik-baik saja.

Aku ke toilet sebentar.

Sudah kau cetak?

Sob.

Foto ini!

Ada apa?

- Aku mau kembali ke Jakarta. - Tidak.

- Kau harus tetap di sini. - Tidak bisa.

- Tasya baru pingsan. - Aku tak peduli.

- Hal ini membuatku gila, Arin. - Tidak bisa, Harja.

Pekerjaanmu belum selesai.

- Aku melihat setan. - Ya, tapi kau harus tenang.

Aku tak bisa lama-lama.

Tapi dengarkan aku dulu.

Kita di sini membantu Tasya dan Salim.

- Masa kau… - Aku tak mau membantu.

- Aku mau ke Jakarta. - Ya.

Aku lihat setan di foto Salim dan Tasya.

Ya, Ja, tenang. Tasya baru pingsan.

Aku tak peduli dengan Tasya.

Sayang.

Hati-hati.

Hati-hati, Tasya.

Apa ini?

Apa ini?

Tidak tahu.

Apa-apaan?

- Hei… - Salim.

Mei Hwa.

Ini absurd!

Ada mayat dikubur di balik tembok selama puluhan tahun, dan kau tak tahu?

Maaf, Feb, sebentar.

Lalu, yang di belakang itu makam siapa?

Tidak tahu.

Setahuku, aku harus terus membakar hio di atar Mei Hwa.

Kalau tidak, aku bisa sakit.

Sudah.

Hanya itu.

Besok kita kuburkan jasad Mei Hwa dengan layak, lalu selesaikan fotonya.

Wah… Kau sudah gila. Tidak, kita pulang malam ini juga!

Ja, tenang dulu.

Aku kemari untuk bekerja, bukan menguburkan jasad.

Kau benar, Ja.

Ini masalahku dan Salim.

- Bukan urusan kalian. - Tidak, Tasya. Aku akan bantu kau.

Meski harus menguburkan jasad, aku pasti membantumu.

Oke, kita kubur jasadnya sekarang. Ayo.

Jangan sekarang. Kita bisa kena sial.

- Besok pagi saja. - Kalian repot sekali!

- Anjing! - Harja.

Harja.

Tasya.

Aku ambilkan minum dulu ya.

Kau mau?

Oke.

Hei, Ja. Mau ke mana? Mau tinggalkan pekerjaan begitu saja?

Tugasku tak termasuk menguburkan mayat.

Aku tahu, tapi tugasmu belum selesai.

Mereka seharusnya urus dulu masalahnya, baru kita bekerja.

Sut!

Kenapa kau tak mau pulang denganku?

- Aku tak tega dengan Tasya. - Tasya lagi.

Tasya itu calon istri orang. Gila kau ya?

Ja.

Ja.

Anjing! Tasya?

Tasya.

Tasya.

Tasya.

Awas.

Sayang.

- Hati-hati, Lim. - Ya.

Tasya?

Tasya.

Tasya.

Tasya, kok senyummu begitu?

Tasya?

Kau membuatku takut.

Tasya.

Tasya.

Tasya.

Sir.

Maaf.

Ada Koh Chung Chung?

Oh…

Ada energi yang kuat di sana.

Energi? Negatif?

Duka.

Kesedihan.

Koh Chung Chung bisa bantu temanku, 'kan?

Apa yang terjadi dengan Salim belum pernah kudengar.

Tapi dari ceritamu

dan apa yang kutahu soal rumah itu,

hanya ada satu yang bisa kita lakukan.

Dulu pernah dilakukan di sini, tapi…

Aku sendiri belum pernah melakukannya.

Bantu aku ya?

Ya.

Tasya.

Ayo kita pergi.

Malam ini.

Pergilah denganku.

Tinggalkan Salim.

Apa kau mabuk?

Tidak.

Aku tak mabuk.

Aku seratus persen sadar.

Bahkan aku sangat sadar kalau dulu aku melakukan kesalahan besar.

Kini aku mau melakukan apa yang kau bilang kemarin.

Aku mau maju.

Aku mau kau bersamaku.

Aku mau bersama Salim.

Tasya, bukalah matamu. Sadarlah!

Kau mau hidup bersama orang yang keluarganya tidak jelas?

Pikirkanlah, Tasya.

Kenapa lokasinya jadi di sini?

Dia juga tak ceritakan sejarah keluarganya kepadamu. Kenapa?

Dia mau mencelakai kita dan tak mau kita pergi dari sini.

- Sadarlah! - Febri, stop.

Aku tak peduli.

Apa pun yang kau pikirkan soal Salim,

aku sangat menyayanginya.

Kalau dia harus mati karena masalah ini…

Aku mau mati bersamanya.

Maaf, mungkin aku salah. Mungkin ini hanya di kepalaku saja.

Tapi yang ada di sini,

tak bisa kutahan lagi.

Aku sudah tidak bisa bohong.

Aku menyayangimu.

Kau tak akan pernah bisa menggantikan Salim.

Salim.

Maaf ya.

Seharusnya kau tak perlu mengalami ini.

- Ini salahku. - Maksudmu?

Selama belum menikah,

kau tak ada ikatan denganku

atau keluargaku yang seperti ini.

Jadi, kalau mau pergi sekarang, tak ada apa-apa yang terjadi kepadamu.

- Salim. - Tasya, tolong.

Aku hanya tak mau hidupmu sengsara karenaku.

Aku sangat menyayangimu.

Kau berhak bahagia.

Keliling dunia

dan mendapatkan semua yang kau pikir bisa kau dapatkan dariku.

- Dengarkan Febri. Pergilah dengannya. - Salim.

- Pergilah dengannya sekarang. - Salim, stop.

Kau…

Jangan pernah sekalipun meragukan cintaku.

Dapatkan yang kumau melaluimu?

Kau benar-benar naif jika berpikir aku bisa hidup tanpamu.

Memangnya aku mau melihatmu mati?

Memangnya aku mau?

- Salim, coba jawab aku. - Tasya.

Tinggal satu minggu lagi, Mas.

Kau sudah siap?

Ini…

Aku punya hadiah

untukmu.

Tidak mewah,

tapi aku buat sendiri.

Kupu-kupu ini

menggambarkan harapanku kepadamu.

Semoga kau bisa terbang ke langit.

Terima kasih ya, Mas.

Kita terbang bersama.

Sini, aku pasangkan.

Cantik, Dik.

Hei, ayo pergi.

- Lari! - Ayah!

Cepat!

Mei Hwa, keluar!

Mas Bhanu.

Ayo.

Ke mana?

- Tiarap! - Bu!

Diam!

Ya ampun…

Susah jika sambil jalan.

Aduh…

- Ayo. - Ya Tuhan.

Ayo masuk!

Masuk.

Masuk.

Masuk.

- Bhanu. - Diam.

- Jalan! - Tolong!

Berlutut!

Merdeka atau mati!

Berlutut! Menunduk!

Merdeka!

Mei Hwa!

Mei Hwa!

Mei Hwa…

Tasya, sedang apa kau?

Salim.

Sudah…

- Salim. - Sudah, Sayang.

Ada aku di sini.

Maafkan aku ya?

Salim…

Mei Hwa, Salim.

Mei Hwa mati bunuh diri, Salim.

Dia menyusul Bhanu.

Dia menusuk lehernya sendiri, Salim.

Jadi, Mei Hwa bunuh diri?

Kau tadi menyanyikan lagu Mei Hwa, Sayang.

Kau tahu apa artinya?

Kupu-kupu

Meratap dan merintih

Ke mana pun rembulanku pergi

Biarkan sayapku

Terbang kuat

Dan mencapai sisimu lagi

Mei Hwa.

Sudah, Sayang.

Ada aku di sini.

Maafkan aku ya.

Dia menyanyikan lagu itu

sebelum akhirnya menusuk lehernya sendiri.

Dari sana,

begitu sedihnya,

aku…

Tapi kenapa kau menyanyikan lagu itu?

Yang pasti,

setelah aku tahu artinya,

Mei Hwa ingin dia dinikahkan dengan calon suaminya,

Bhanu.

Kita sudah menguburkan mayatnya,

masih ada masalah.

Kini cara apa lagi, Salim?

Tasya!

Sya, aku tahu siapa yang bisa bantu kita.

Apa lagi ini, Arin?

Ikuti saja.

Salim.

Memangnya ada ritual pernikahan arwah?

Ada.

Semua yang dibutuhkan sudah

kusiapkan dengan Arin.

Jadi, pernikahan arwah bisa dilakukan dengan dua cara.

Menikahkan arwah dengan arwah,

sepasang kekasih yang sudah meninggal,

atau arwah dengan orang yang masih hidup.

Sinting!

Mana ada yang mau?

Ada.

Zaman dulu banyak dilakukan

karena warisan dari orang tua akan jatuh ke menantunya.

Setelah itu, mereka bisa menikah normal lagi.

Koh Chung Chung,

jadi, kita harus bagaimana?

Bantu aku.

Koh.

Letakkan di sini.

Ini.

Ya.

Sudah.

Kalian bisa berdiri.

Sebentar.

Sebentar.

Lagi.

Itu kenapa?

Aku tak bas menemukan arwah Bhanu.

Lalu, bagaimana?

Kita harus temukan jasad Bhanu.

Jasad Bhanu dibuang oleh Jepang.

Kami tak ada yang tahu.

Ya Tuhan.

Pantas saja.

Mayatnya tak pernah dikubur dan didoakan dengan baik.

Lalu, apa?

Kita harus cari barang milik Bhanu.

Kalau cincin kawin mereka?

Ya.

Kalau begitu, hanya ada satu cara yang bisa kita lakukan.

Tapi ini cara paling berbahaya dan…

Harus berhasil.

Salah satu dari kalian harus menjemput Bhanu di alam baka.

- Gila. - Sisanya punya tugas masing-masing.

- Tapi… - Aku akan jemput Bhanu.

Tidak.

Tasya.

Tidak.

Aku saja.

Aku keluarga Mei Hwa. Aku bisa cari Bhanu.

- Ayo, bagaimana caranya? - Tasya.

Tasya, ini sudah tidak lucu.

- Aku saja. - Tidak. Aku, Koh.

Tunggu dulu.

Kalian tahu wajah Bhanu seperti apa?

Kalau kalian yang mencarinya,

apa kalian tahu wajahnya?

Tapi ini bahaya, Tasya. Alam baka. Apa-apaan ini?

Maaf, tapi menurutku, Tasya paling tepat.

Maaf, Salim.

Jika kau yang pergi, bisa jadi kau akan dibawa leluhurmu.

- Tak apa. - Kau tak bisa kembali.

Tidak.

Salim.

Apa kau yakin?

Ini tidak main-main, Tasya.

- Bagaimana jika kau tak kembali? - Salim.

Bagaimana?

Percayalah kepadaku.

Aku yakin

Mei Hwa akan membantuku.

Ini yang dia mau.

Ya?

Tak apa-apa.

Lalu, apa tugas yang lain?

Arin, tetap di sini

dan nyalakan hio sambil berdoa terus-menerus.

Pakai bahasa sendiri saja.

Minta izin kepada leluhur Salim dan doakan mereka

agar mereka tenang dan menjaga kita.

Salim, Febri,

pergilah ke makam Mei Hwa

dan gali jasadnya.

Hati-hati saat membawanya kemari.

Lalu, bawa juga cincin kawin mereka.

Cincin kawinnya penting sekali.

Jangan sampai lupa.

Tasya, kau akan ke alam baka.

Panggillah Bhanu.

Meski tidak tampak,

di alam baka, dia bisa mendengarmu.

Bisa mendekatmu.

Kalau sudah bertemu Bhanu,

pegang tangannya,

lalu bakar kertas mantra ini…

Dengan korek ini.

Ya?

Terima kasih sudah mau bantu.

Kulakukan ini untuk Tasya.

Aku tahu.

Aku dengar semua ucapanmu kepada Tasya.

Memang berengsek kau.

Jangan ganggu hidup kami lagi.

Ya?

Selama di alam baka,

kau aman, asalkan satu.

Kalau ada yang memanggil namamu,

jangan menoleh,

apa lagi mendekat.

Suara siapa pun itu.

Sekarang tenang,

pejamkan mata,

buang napas,

dan pelan-pelan rebahkan tubuhmu.

Koh Chung Chung?

Tasya.

Tasya.

- Tasya. - Tasya.

- Tasya. - Tasya.

Tasya.

Tasya.

Tasya.

- Tasya. - Tasya.

Tasya.

Tasya.

Bhanu!

Febri, Salim mana? Febri, anjing!

Ada apa denganmu?

Kau… Pergi dari sini sekarang. Aku juga mau bawa Tasya.

Salim masih di makam.

Jangan cemaskan Salim.

Dia pergi meninggalkan kita.

- Maksudmu? - Dia tak peduli dengan kita.

Febri, aku tak percaya!

Salim.

Salim.

Sialan.

Salim.

Salim.

Salim, bangun!

Salim!

Sialan.

- Bhanu! - Tasya.

- Di mana kau, Bhanu? - Tasya.

- Mei Hwa mencarimu, Bhanu. - Tasya.

Tasya.

Salim?

Sayang.

Sayang, jangan tinggalkan aku sendirian.

- Sayang. - Tasya!

Tasya.

Tasya.

Tasya.

Tasya.

Tasya.

Tasya.

Tasya.

- Bhanu. - Tasya.

Stop!

Aku mau bawa Tasya pulang.

Tidak bisa.

Tasya.

Tasya.

Tasya, bangun.

Tasya, di sini tidak aman.

Pulanglah bersamaku, Tasya.

Tasya, bangun.

Tasya, kita pulang.

Anjing!

Sayang.

Sayang, bangun.

Bangun.

Bhanu.

Koh Chung Chung.

Koh.

Salim.

Salim.

Sayang.

Kau tak apa?

Ayo, bantu aku.

Salim, sedang apa?

Menikahkan Mei Hwa, lalu pulang.

Kenapa sama Febri?

Ini yang Mei Hwa mau, 'kan? Menikah?

Tidak, Salim.

Tidak seperti ini. Dia mau menikah dengan arwah Bhanu, bukan Febri.

Tasya, dengar.

Kau lupa ucapan Koh Chung Chung?

Bukan begini, Salim.

Mei Hwa mau menikah dengan arwah Bhanu, bukan asal menikah.

Aku sudah menemukan arwah Bhanu.

Aku sudah ketemu, Salim.

Oke.

Bagaimana caranya menikahkan mereka?

Koh Chung Chung sudah mati.

Aku mau mencoba cara Koh Chung Chung

yang tidak jelas akan berhasil atau tidak.

Jadi, tolong…

Bantu aku.

Tidak, Salim.

Tidak begini, Salim.

Memangnya kau mau melihatku di sini seumur hidup membakar hio

dan menurunkannya ke anak kita?

Kau mau?

Anjing!

Febri.

Mati kau!

Bergabunglah dengan semua leluhurmu!

Hentikan!

Sudah cukup.

Jangan diteruskan.

Tasya.

Tasya.

Tapi terima kasih.

Tasya.

Aku minta cincinku kembali.

Tasya.

Tasya.

Tasya.

Tasya!

Feb, di mana Tasya?

Feb.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.