Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Tidak perlu.
Selamat atas pernikahanmu.
Aku melihatmu lari-lari tanpa busana saat kecil.
Jadi, aku tahu isi celanamu.
Jika dia macam-macam, kabari aku langsung.
- Ya sudah. Silakan. Salam. - Salam.
Bersihkan. Ibu pasti sudah mau pulang.
Sayang. Di situ rupanya!
Ini Jiya. Keponakan yang kuceritakan.
Lepaskan aku, Rauf.
Jangan main-main, Berengsek.
Jiya.
Paman haus sekali. Ambilkan air dingin, ya.
Sana, Nak.
Astaga.
Kenapa kau mengumpat di depan anak kecil?
Tidak pernah menonton TV?
Adegan berdarah-darah diperbolehkan,
tapi...
Sialan!
Sumpah serapah dilarang.
Satu pun tidak boleh.
Rauf!
Masalahnya, Rana Naidu, kau itu...
suka bermain-main dengan orang, bukan?
Jadi, mari bermain.
Nah. Lihat ini.
Kau yang ini.
Ini istrimu.
Ini putrimu.
Lalu biang keladi semua ini.
Akan kuputar panahnya.
Yang terpilih akan menikmati makanan terakhirnya bersamaku.
Keparat!
Mari putar.
KALI INI KURANG BERUNTUNG
Jarak
di antara kau dan istrimu
menyelamatkanmu.
Berhubung kau selamat, jalankan tugas dariku.
- Aku ingin kau... - Kau mau apa, Rauf?
Tunggu aku selesai bicara.
Kau selalu saja terburu-buru.
Andaikan kau pernah dipenjara, pasti sudah belajar sabar.
Biar kuajarkan seperti apa rasanya di penjara.
Shakeel.
Seperti itulah di penjara.
Hei, kenapa berhenti, Keparat?
Maaf.
Terima kasih. Tak boleh mengumpat.
Begini.
Aku akan maju dalam pemilu.
PARTAI SARFAROSH
Jangan sampai
OB...
menjadi lawanku.
Aku tak bisa membunuh OB.
Hei.
Jaga ucapanmu di depan anak-anak.
Siapa yang minta membunuhnya?
Jika aku ingin dia mati...
Dengar.
Kutegaskan sekali lagi.
Aku akan ikut pemilu,
tapi aku tak mau OB menjadi lawanku.
Aku ingin menang melawan kotak kosong.
Nah, apakah kau mau mengancam OB,
mengintimidasinya, atau "mengurusnya",
terserah kau.
Baiklah, kau boleh pergi. Karena jika aku berubah pikiran...
Ini Naina,
ini Nitya,
dan ini
Ani.
Tiup.
Lenyaplah mereka.
RANA NAIDU
Selamat ulang tahun!
Selamat ulang tahun!
- Selamat ulang tahun... - Selamat ulang tahun, Anak Bujangku!
Selamat ulang tahun!
Tolong diam.
Kau yakin
tetap mau tidur?
Ani...
Sayang, Ibu paham beberapa hari ini berat sekali bagimu.
Ibu tak bisa memutar waktu,
tapi Ibu ingin menghiburmu. Ini hari ulang tahunmu!
Mau dirayakan seperti apa?
Pesta di Game Zone atau...
- Bioskop? - Ya! Bagaimana?
Rayakan di rumah saja. Bersama keluarga besar.
Dan teman-teman kriketku.
Rencana bagus!
Anak bujangku sayang!
Sudah kuduga bakal begini, Ayah. Dia itu tidak becus!
Ini pertanda, Ayah.
Pertanda dari semesta untuk tidak menjual studio.
Paritosh, ada cara untuk membatalkan penjualannya?
Tahu ungkapan, "Seperti menjaring angin"?
Tahu ungkapan, "Kakak banyak bacot"?
Tenanglah.
Duduk.
Sejak kalian kecil, Ayah bilang jangan bertengkar di depan umum.
Kau pasti sudah tahu.
Dewan Kriket India membatalkan akuisisi TSL.
Selidikilah.
Lalu tangani.
Mati kau! Mati!
- Pak! - Rasakan!
- Dor! - Pak!
- Tunggu! Dor! - Pak!
Apa?
Kubilang jangan ganggu aku.
Siapa orang tua ini?
Tidak sopan sekali mulutmu. Memang aku terlihat tua?
Rohini, apa-apaan ini? Kok, dia bisa masuk?
Karena aku bawa cek tiga miliar rupee. Mau?
Aku Naga Naidu. Ayah Rana Naidu.
Ya. Rana pernah cerita.
- Katanya kau dibui? - Ya.
Dulu aku di dalam sel. Rana juga pernah di dalam selku.
Tapi akhirnya kami keluar.
Mau bahas tiga miliarnya?
Baiklah.
Aku punya ide film yang pasti laris.
Kisahnya Prince Reddy.
Aku dan Prince itu sahabat karib. Naskahnya kami garap bersama.
- Kini kau tinggal... - Tunggu, Pak Tua!
Tak perlu menyuruh ini itu.
Studio sudah laku. Kantor ini harus kosong dalam dua pekan.
- Selesai sudah. - Astaga!
Baru saja mau jual ceritaku agar aku untung besar.
- Ternyata kantongmu kosong! - Tapi gelasku masih penuh.
Sekarang kosong.
Aku butuh uang.
Ke Rana saja. Dia kaya.
- Buang waktu saja. - Rana itu berengsek.
Mana peduli dengan ayahnya. Soal uang, dia tak berperasaan.
Jika aku sudah sukses, akan kuhancurkan dia.
Pak Tua, kau mau menghancurkan Rana?
Hanya ada satu orang yang bisa menghancurkan Rana.
Ayahnya.
Aku tahu isi pikirannya.
Sekarang aku butuh uang.
- Begitu uangnya ada... - Butuh berapa?
Kau mau membayarku? Sedikit. Cuma 30 juta.
"Cuma 30 juta."
Astaga! Tiga puluh juta!
Bayar saja.
Apa pun maumu, akan kukerjakan.
- Apa pun itu? - Sebut saja.
Pengawalku akan ikut denganmu.
Jika kau berhasil, ada bonus.
Apa tugasnya?
Hancurkan Rana.
Hanya itu cara menjegal kakakku.
ADMINISTRASI KRIKET INDIA ICA
Hai. Kami ingin bertemu...
AB DUTT KETUA, TSL
Nona Oberoi,
Anda tahu sendiri situasi beberapa tahun terakhir.
Banyak praktik pengaturan skor, perkelahian, kasus suap, narkoba.
Itu memalukan.
Agenda saya cuma satu.
"TSL yang bersih."
Jangan salah paham.
Keluarga Anda dikenal terlibat banyak skandal.
Dewan sepakat demi citra TSL, ada baiknya
jika Oberoi tidak terlibat sedikit pun.
Apa dasar hukum Anda menolak proses transfer tim?
Aku akan menggugatnya dan aku pasti akan menang.
Auditor kami tidak hanya memeriksa keuangan Studio Oberoi,
tapi mereka sudah mengaudit semua perusahaan Oberoi,
termasuk Yayasan Oberoi.
Dana yayasan yang seharusnya untuk menolong orang susah
malah Anda kuras habis.
Ayah Anda tahu ke mana larinya uang Yayasan?
Membeli banyak vila, mobil mewah,
dan perjalanan ke luar negeri?
Jika Anda menggugat, dokumen ini akan dipublikasikan
dan Anda akan dipenjara.
- Aku lewat tangga. Sampai jumpa di bawah. - Oke.
RUANG PEMELIHARAAN
PINTU DARURAT
Lara, cepat ke kantor ICA.
Aku perlu kau membawa sesuatu. Ya.
BLOK B ADMINISTRASI KRIKET INDIA
- Jangan khawatir. Akan kucari jalan. - Rebut dokumen itu, Rana.
Aku tidak terima diancam.
RUANG PEMELIHARAAN
KEBAKARAN
Ada apa ini?
- Pak, lampu. - Ada apa ini?
Ayo keluar!
- Ayo. - Ayo cepat!
- Cepat! - Lari!
- Butuh berapa lama? - Beberapa menit.
RESEPSIONIS
- Titik awal apinya di mana? - Kami masih mencari.
- Apa? - Bung Rana, apa kabar?
Bagaimana keluargamu? Istri dan anak-anakmu aman?
Ada perkembangan soal tugasmu?
Pasti kuurus.
Masalahnya...
Halo?
Halo?
AWAS TARIK
Tunggu sebentar, Pak.
Cari salinannya.
- Kirim bantuan ke lantai tiga! - Baik!
Sekuriti, ikuti aku!
- Berapa lama lagi? - Ini sudah.
Biar kutangani mereka.
- Ketemu di bawah. - Oke.
Hei, di sana!
Hei, berhenti! Mau ke mana?
Apa kabar, Lara?
Naga!
Wah, mantap.
Kembalikan...
Hei! Kenapa seperti cacing kepanasan?
Siram saja dengan air dingin.
Aku punya berkas soal kakakmu.
- Lalu bagaimana? - Bagus. Bawa ke kantor ICN.
- Untuk bertemu siapa? - Antima Khanna.
- Reporter jago itu? - Kami sedang bicara.
- Sudahlah, cepat keluar! - Oke.
Bensin penuh, 'kan?
Naga di kantor ICN.
- Kantor ICN? - Ya, Bos.
Motorku di sana. Pasti Naga juga.
Periksa telepromter.
- Tadi macet tiga kali saat intro. - Antima.
Rana!
- Kalian berdua mirip, ya. - Kau bertemu ayahku?
Dokumennya mana?
- Aku sudah mau siaran. - Chirag bersitegang dengan Alia.
Dia cuma memperalatmu. Jangan ikut campur.
Kau yang jangan ikut campur.
Ini bukan konflik kakak adik lagi. Mana bisa kuabaikan. Ini berita besar.
Lupakan berkas itu.
Kuganti dengan berita yang lebih menggemparkan.
Bu, aku mau ke rumah Ayesha dan belajar untuk ujian Kimia, ya?
Kau gila?
Kubilang kadang aku tak bisa langsung angkat, 'kan?
Baru juga dua menit.
Dua menit?
Tidak melihat pacarku sedetik saja, aku sudah hilang akal.
Ih.
Gombalan basi! Kukira kau puitis.
Aku puitis.
Diam. Ayo jalan.
Kuingin kau di sisiku
Aku ini pencinta Jatuh cinta bagaikan surga
Tuntun aku yang terbuai di dalamnya
Kau pelipur laraku Kuingin kau tahu itu
Ucapkan janji setiamu...
Kita mau ke mana? Jawab.
Lihat saja.
- Kenapa kau makan es krim terus? - Cobalah.
Tapi serius, kita mau ke mana?
Rehaan, menepi!
- Kenapa? - Stop dulu, Rehaan! Stop!
MINGGIR! BOS MAU LEWAT
RIT-Z, TREN DI SELURUH DUNIA SINGEL BARU - LEHRAA
Aku masih sulit percaya.
Ditonton 70 juta kali dalam tujuh hari di YouTube.
India jatuh cinta dengan Rehaan-mu.
Halo.
Ini ulang tahun Ani, jadi aku punya alasan untuk datang awal.
Apa alasanmu, Penguntit?
Karena yang kusukai di sini.
Wah. Ternyata kau sesuka itu pada yoga, ya.
Tidak juga.
Buang rokoknya.
Ayo nikmati yang sehat.
Apa yang "sehat" dari empat gelas sangria?
Ini sama saja dengan sup buah.
Ayo minum!
Selamat ulang tahun, Ani.
- Selamat ulang tahun, Ani! - Ya.
Jadi, kau pakai warna apa malam ini?
- Maaf? - Hitam?
Bisa jadi.
Berarti pasti hitam.
Kenapa?
Kenapa berarti hitam?
Karena aku baru saja memberi ide itu.
- Bersulang! - Bersulang!
Mengurus pesta dadakan sendirian itu sungguh...
Rana membantu?
Oh, jelas.
Dia menelepon toko kue dan memesan kue.
Mungkin datang untuk potong kue.
Kalau aku, akan kubuat sendiri kuenya.
- Memang bisa? - Tidak!
Tapi demi dirimu, aku akan belajar.
Naveen, padahal permintaanku tak muluk.
Aku tak meminta Matahari, Bulan, atau bintang.
Maaf, ya. Aku malah mengoceh.
Tak pantas kubebankan kepadamu.
Tak apa. Berkat ceritamu, aku jadi yakin aku tidak salah bercerai.
Dengar...
Dengarkan.
Mengocehlah sesukamu. Aku tidak keberatan.
Meski kau hanya jadi sedikit lebih bahagia,
aku berkali-kali lipat bahagianya.
Naina, tak apa-apa!
LELANG TSL 2025:
MENGUNDUH: HASRAT TERNAKALMU TEMUI BIDADARI MANISMU!
Pak, tehnya.
Apa kabar, Pak?
Anda bilang keluargaku dikenal punya banyak skandal.
Sekarang Anda pun begitu.
Setujui penjualannya.
Segera.
Anda memang buaya paling busuk.
Yang benar "buaya betina", Pak.
Yang tepat gendernya.
Sudahlah, pokoknya,
sahkan akuisisinya,
maka Anda akan aman.
"TSL yang bersih."
STUDIO FILM OBEROI
- Lara. - Alia resmi pemilik tim Mumbai.
- Sudah disetujui kakek itu. - Terima kasih.
Tapi, Bos, haruskah kita memercayai Oberoi?
Ini terpaksa demi keluargaku.
- Hai. - Hai.
Halo.
- Hai. - Hei.
Kau terlambat, Rana. Seperti biasa.
- Aku tak kuat. - Hei!
- Kau berat. - Ani!
- Selamat ultah... - Jangan panggil aku "anak bujang"!
- Kue? - Ibu sejak tadi begitu.
- Jangan. - Lalu apa? Anak manis?
Selamat ultah, Anak Manis!
Jangan! Tebak ini dari siapa?
- Siapa? - Tebak!
Dari pamanmu, ya?
- Bukan. - Lantas?
Dari Kakek.
Hei, Rana!
Dia menghindarimu. Kelihatan.
Untung kau di sini.
Kini jelas aku harus membahas hal penting dengannya.
Aku memang menggagalkan rencanamu,
tapi tak usah bawa urusan pekerjaan ke rumah.
Aku pergi setelah potong kue.
Tidak.
Kau tak perlu pergi.
Kau melakukan itu karena terpepet.
Aku memang terpepet.
Anjali terus-menerus menekanku. Mau bagaimana lagi?
Di mana ada uang, di situlah aku.
Tidak masalah.
Tidak masalah?
Ini ulang tahun Ani.
Bersulang!
Bersulang!
Tolol!
Kenapa murung? Seperti orang kasmaran saja.
Aku meninggalkanmu di Goa, tapi Rana juga meninggalkanku di Goa.
Sekarang lihat kami. Akrab kembali.
Contohlah kami!
Selamat. Silakan berteman.
Kau memang sahabat sejati. Kau bawa mobilku dari Goa?
Aku tak sepertimu yang tega meninggalkan semua orang.
Ya ampun.
Mulai menyindir ayahmu, ya?
Tapi aku memang salah.
Ini. Mulai sekarang, mobilku milikmu. Ambil saja.
- "Ambil"? - Ya.
- Yakin? - Tentu saja, dasar.
Benar-benar yakin?
Kemarilah.
- Halo. - Hai.
Apa?
Kenapa?
Tasneem? Kenapa kau di sini?
- Pak Tej. - Ada apa?
Ada sesuatu di studio? Kenapa tak menelepon?
- Kenapa dandananmu begitu? - Kau datang?
Kau tampak cantik.
Kau mengundangnya?
- Ya. - Kenapa?
Memang kenapa?
- Oh! - Pak Tej keberatan? Aku pergi saja?
- Jangan! - Jangan!
Tidak apa.
Aku baru tahu kau dan Jaffa...
- Karena Jaffa... - Apa?
Maksudku, kau tidak cerita...
Lupakan...
Kau cantik sekali dengan gaun. Jangan malu-malu.
Silakan santai dan duduklah.
Sampai nanti.
Hei, Rana?
Ayo kita bicara.
Nanti saja, Kak. Aku sibuk. Maaf.
Rauf.
Ya, Rana?
Kau ingin menjegal OB, 'kan?
Tonton ICN sekarang.
Baiklah. Ada berita apa? Halo?
Halo?
Kurang ajar...
Selamat malam. Saya Antima Khanna.
Kabar terhangat malam ini menggemparkan sekaligus tragis.
Kami memperoleh informasi yang bisa memicu
perdebatan mendalam tentang nilai sosial dan hubungan pribadi.
Muncul dugaan perselingkuhan antara
kandidat ketua menteri, OB Mahajan, dan Kavya Bhardwaj.
Namun, berita utama kami lebih mencengangkan lagi.
Di tangan saya, ada laporan kehamilan Kavya Bhardwaj.
Apa yang dialami Kavya?
TIGA MINGGU SEBELUMNYA
Mencari ini?
Akhirnya, dia mengutusmu?
OB selalu begitu.
Kau mau membunuhku?
Ya.
Aku hamil, Rana.
Karena itu aku memindahkanmu ke rumah aman.
Besok kau akan ke luar negeri.
Besok pagi, Srini akan mengantarmu ke bandara.
OB takkan mengampunimu.
Tidak mungkin.
Dia tidak berdaya tanpaku.
Ini Kavya?
Kaget aku masih hidup?
Aku dan anakku akan pergi jauh.
Namun, berhati-hatilah,
jangan kira bisa lolos.
Akan kubongkar semuanya.
Apa yang dialami Kavya?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apakah Kavya korban intrik politik atau ini murni masalah pribadi?
Apakah OB Mahajan berusaha menutupi perselingkuhannya?
Srini?
Rana bilang kau datang besok pagi.
Kita berangkat sekarang?
Tunggu lima menit.
Pemirsa, kami tak mau menuding, tapi seorang wanita hamil tewas.
Apakah nyawa Kavya Bhardwaj sebenarnya bisa tertolong?
- Banyak tanda tanya... - Ditiduri, lalu dibunuh.
Serius kau, OB?
Kau lebih bajingan daripada kami.
- Sebentar. Nanti aku kembali. - Kakek!
Aku tidak bohong. Dia bilang akan diwartakan malam ini.
Programnya sudah selesai! Tak ada!
Sebenarnya apa kerjamu di sana?
Audisi badut di studionya Antima?
Sesuai perintahmu. Kuserahkan dokumen itu.
- Sepertinya Rana... - Persetan soal Rana! Paham?
Peduli setan soal Rana!
Tugas ini kupercayakan kepadamu, tapi kau malah gagal!
Gagal bagaimana? Perintahmu sudah kukerjakan.
- Sekarang bayar! - Apa? Bayar?
Membayarmu?
Duduk di pangkuanku
dan kulum bijiku saja, Orang Hyderabad Tolol!
Keparat kau!
- Keparat! - Bajingan!
MINGGIR! BOS MAU LEWAT
Biar Ibu tebak.
Ayesha itu... nama panggungnya?
Ibu, tak usah dramatis.
Apa katamu?
Aku jadi juara kelas!
Nilai SAT-ku sempurna, tak pernah absen, meski berpacaran dengan Rehaan.
Tak merusak prestasiku, 'kan? Lalu apa masalahnya?
Dia tidak berbuat onar.
Dia berbakat, pintar, dan ada aku di sisinya.
Jadi, tolong. Kumohon...
Tidak usah dramatis.
Hei, Nitya!
Ke atas sebentar.
Aku merasa bodoh, Rana.
Si "Ayesha" itu?
Ternyata Nitya dekat dengan cowok itu berbulan-bulan. Aku dibohongi.
Biar kubahas dengannya. Tenanglah.
Omong-omong,
Tej bilang dia diabaikan olehmu.
Dia ingin pergi ke Portugal bersama perawat itu.
Studionya akan dijual sebagai modal. Seenaknya saja.
Rana.
Aku paham kau ingin yang terbaik untuk Tej.
Kau ingin dia di sini agar bisa merawatnya.
Aku paham.
Tetap saja,
itu hidupnya.
Jika dia ingin ke Portugal, biarkan.
Itu studionya. Jika dia ingin menjualnya, biarkan.
Masalahnya pelik.
Pelik?
Baik, coba jelaskan versi sederhananya.
Supaya aku mengerti.
Baiklah.
Kau ingat Patel?
Patel?
Saudagar berlian dari Surat?
Dia dulu mengelola uang panasku.
Studio Tej kami jadikan kedok.
Karena itu studionya tak boleh dijual.
Semuanya.
Ayo potong kue.
- Ani? - Aku di sini.
- Di mana? - Aku siap.
- Yakin? - Ya.
Baiklah.
Seperti apa kuenya?
TEBAK SIAPA YANG GAY
Waduh.
Maaf, aku...
Ani! Maaf.
- Ayah... Aku bukan... - Maaf.
- Maaf. Kuenya tertukar. - Aku minta kue kriket!
- Dan ada stadionnya. Apaan ini? - Maaf...
- Ayah, bisa-bisanya... - Maaf...
Astaga, Rana!
Coba sampaikan.
Dia sedang kosong. Bahas saja.
Hei, Rana?
Mari bahas soal studionya.
Kau butuh berapa? Akan kuberikan.
Untuk apa? Aku bisa ambil dari hasil penjualan studionya.
Waktunya tidak tepat.
Justru itu aku tak punya...
Aku mau sisa waktuku habis untuk hal yang kucintai.
Itu studioku. Aku ingin menjualnya.
Tidak bisa dijual, sayangnya.
- Maksudnya? - Tanya dia kenapa tidak bisa.
Naga, diam kau!
Apa maksudmu?
Hei, Rana, ada apa ini?
Bagaimana, Rana? Mau jujur atau bohong?
Rana mencuci uang lewat studiomu.
Untuk memutihkan uang panas.
Jika studio itu dijual, celakalah dia. Kau pun kena getahnya.
Dia mengada-ada, 'kan?
Kurang ajar. Mati-matian aku membangun studio itu.
Sampai sekarang pun, aku banting tulang di sana, tapi kau...
Kau malah...
Kenapa kau tega?
Kau menjadikanku penjahat!
Sudah kuduga.
Makanya aku tak...
Diam kau! Ini urusan keluarga.
- Kau racun baginya! Enyah kau! - Hei, Rana!
Jangan sekarang. Tunggu.
Sudah cukup!
Ini peringatan terakhir.
Jangan berani menghina Ana lagi!
Apa hakmu menyebut-nyebut keluarga?
Kau saja selama ini menipuku!
Pengkhianat!
Ini yang kau sebut keluarga?
"Keluarga."
Dulu aku memilih mereka daripada kau.
Itu takkan terjadi lagi.
Ayo pergi.
Terserah, sana pergi!
Aku pengkhianat?
- Tunggu. - Jangan, Tej!
Aku sudah berjuang untukmu! Memboyongmu dari Hyderabad.
Dulu kau pengangguran penyakitan, bahkan diolok-olok!
Tej, ayo pergi.
Sudah kubawa berobat dan kubuatkan studio,
sekarang malah memaki-makiku karena studio itu, Keparat!
Cukup, Rana!
Bagus, sudah kau sebut semua.
Hebat sekali!
Ini memang waktunya aku pergi.
Silakan!
Kita lihat bisa apa kau tanpaku!
Bajingan! Enyah kau!
Kalian, keluar!
Enyah kalian! Bubar!
Kau selalu bilang aku penyebab keluarga ini berantakan.
Tapi apa kata orang di luar sana?
Rana Naidu-lah yang paling jago membuat keluarga berantakan.
Bersulang!
Hei. Akhirnya beres.
Tim Mumbai resmi menjadi milikku.
Aku ingin berterima kasih.
Jadi, terima kasih.
Tidak. Pasti ini yang kau inginkan.
Benar sekali.
- Berapa? - Sepuluh.
Sepuluh crore? Itu saja?
Sepuluh persen.
Saham 10% di tim TSL-mu.
Jangan mimpi, Rana.
Transfer tim sudah final.
Bisa finalisasi ulang. Perkara gampang.
Tapi jika ayahmu tahu dokumen ini...
Itu baru perkara besar.
Baiklah.
2,5%.
7,5%.
5%.
Nilainya lima miliar, Rana!
Sepakat.
Berkas ini kupegang sampai ada hitam di atas putih.
Kau cerdik, Tn. Naidu.
Hei, kau tak apa?
Jangan merasa bersalah.
Itu pengaruh anggur.
Bukan pengaruh anggur.
Aku secara sadar melakukannya
Aku tidak menyesal.
- Mau kupukul? - Tangkap dia!
- Hei! Siapa kalian? - Rasakan!
Oh!
- Ayah, kenal mereka? - Mereka kawan lamaku.
Hei, Cheeku! Bukannya kau sudah kembali ke Goa?
Anjali sehat?
...pencinta Jatuh cinta bagaikan surga
Tuntun aku yang terbuai di dalamnya
Hanya kau yang kumau
Kuingin kau di sisiku
Aku ini pencinta Jatuh cinta bagaikan surga
Tuntun aku yang terbuai di dalamnya
Ternyata lumayan enak.
Hari ini mari bergandengan
Tebarkan cinta di sepanjang jalan...
Pikirmu aku bodoh?
Ayo, kibarkan bendera cinta bersama!
Kibarkan!
Kita kibarkan beriringan!
Kibarkan, kibarkan, kibarkan!
Kibarkan!
Ini dunia macam apakah? Pertemanan mahal, permusuhan murah
Aku paham memang tidak mudah
Tetap saja, ayo melangkah!
Hari ini mari bergandengan Tebarkan cinta di sepanjang jalan
Jika benci mulai gentar, singkirkan
Tebarkan cinta di sepanjang jalan
Untuk apa risau? Apa gunanya?
Tebarkan cinta di sepanjang jalan
Kita kibarkan beriringan!
Kibarkan, kibarkan, kibarkan!
Hari ini mari bergandengan
Tebarkan cinta di sepanjang jalan
Jika benci mulai gentar, singkirkan
Tebarkan cinta di sepanjang jalan
Kibarkan!
Kibarkan!
Ayah!
Hei!
Naga!
Lain kali, kau ikut kubakar!
Ayo pergi!
Jangan dilihat saja! Padamkan.
Maaf, Tej.
Kukira begitu uangnya ada...
Dengar, Ayah butuh uang.
Begitu pun aku.
Jika ada rencana, katakan saja. Aku siap.
Mencuri, merampok, terserah! Sebut saja.
Jangan. Itu kelakuan sampah masyarakat.
Gara-gara Rana, aku juga jadi sampah masyarakat, 'kan?
Dia sudah lama mempermainkanku.
Harus kubalas.
Aku punya rencana.
DIADAPTASI DARI "RAY DONOVAN"
Terjemahan subtitle oleh Fahrurrozy A
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.