Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Firasatku buruk, Bos. Dia itu anjing gila.
Memang. Justru karena itu dia dikerangkeng.
Bisa menyalak, tak bisa menggigit.
LAPAS MARLOW ROAD POLISI
Tak ada yang peduli denganmu, ya? Kau tak pernah dibesuk.
Lihat, bapakmu datang.
Hei, Jagoan, mau makan?
Ganteng, sini!
Apa kau lihat-lihat?
Apa maumu, Rauf?
"Rauf"?
Baiklah.
Biasanya aku dipanggil Bung Rauf.
Tak masalah kalau kau tak mau.
Yang jelas,
aku tidak sudi punya relasi denganmu meskipun hanya pura-pura.
Aku punya keponakan. Namanya Jiya.
Kata pertamanya adalah "paman", bukan "mama".
Umurnya enam tahun. Katanya, dia sudah setinggi ini.
Aku cuma melihat foto dan videonya.
Karena dia di luar, aku terkurung di sini.
Itu salahmu sendiri...
Hei!
Jangan disela.
Tunggu aku selesai.
Tadi sampai mana?
Oh, ya, Jiya.
Aku pun pasti kalap jika ada yang menyakitinya.
Jadi, aku paham amarahmu, Naidu.
Hei! Jangan bertele-tele!
Memang putramu diapakan oleh Saif?
Jawab.
Saif cuma menculiknya.
Itu bukan perintahku. Lagi pula, memang Saif sejahat apa?
Putramu diberi makan enak.
Diajak jalan-jalan di Goa.
Tapi kau malah membunuh Saif!
Dia itu sepupuku.
Dia menculik putraku.
Saif sudah keterlaluan.
Kau beruntung kau dipenjara.
Kau yang beruntung aku dipenjara.
Namun, kau benar.
Sudah terjadi.
Harus ikhlas.
- Mari berjabat tangan. - Dengan penjahat? Tidak sudi.
Naidu, Kawan!
Kau pasti akan menjabat tanganku
cepat atau lambat.
Apa-apaan itu, Bung Rauf? Kau membiarkannya lolos begitu saja.
Usai bertemu bedebah itu, ada percikan ide di kepalaku.
Apa itu?
Biar OB Mahajan merasakan panasnya percikan ini.
RANA NAIDU
OB Mahajan memang korup.
Konon, dia baru mau bergerak jika diberi pelicin.
Si Bapak Pungli.
- Hati-hati kalau bicara. - Baik.
Sebaiknya kita akhiri debat ini.
Pak Sinha, pertanyaan terakhir.
OB Mahajan harus bagaimana untuk keluar dari masalah ini?
Dia harus pensiun.
Toh, semuanya sudah dikorupsi habis olehnya.
Bos mencari saya?
Srini, kemarilah.
Posisiku makin terpuruk dalam pemilu ini.
Aku butuh suara dari kampung itu, Srini.
Aku harus menemuinya.
Sebaiknya jangan.
Dia anjing ganas.
Semua orang takut anjing ganas.
Warga di sana pasti mau menuruti Rauf.
LAPAS MARLOW ROAD POLISI
Apa kabar, Pak OB?
Senang bertemu Anda di sini.
Aduh.
Tampaknya di sini pun kau bosnya, ya.
Andalah bosnya.
Aku cuma pelayan.
Itu sudah cukup bagiku.
Aku dapat pesanmu.
Mulai dari mana, ya?
Sudah kurenungkan.
Begini, aku pun
ingin membantu komunitasku.
Seperti bakti sosial.
Jadi, apa pun imbalannya,
akan kuterima dengan senang hati.
Aku mengerti.
Begitulah.
Aku juga ingin balas si Rana berengsek.
Saatnya aku bebas dari lapas.
Bukan napi yang memutuskan kapan bisa bebas.
Itu urusan pemerintah.
Astaga, Pak.
Pemerintahnya ada di depanku.
Duduklah.
Apa untungnya bagiku?
Jika tak tahu, Anda takkan kemari.
Aku ingin dengar langsung.
Aku, komunitasku,
dan seantero Koliwada akan memilih OB Mahajan.
Bangun. Kemasilah barangmu.
Aku sudah menandatangani perintah pembebasanmu.
- Benarkah, Pak? - Semua tuduhan terhadapmu dicabut.
OB Mahajan ini akan mengubah hidupmu.
Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak.
Ada orang?
Tolong. Tolong aku.
- Tak akan ada yang menolong, Naga. - Siapa kau?
Wah, Bu Anjali!
Cantiknya!
Pakai cat rambut apa?
Kau ke Mumbai untuk jadi bintang film?
Bilang saja kau jandanya Surya, pasti dapat peran.
Bunuh dia.
Tega sekali, Bu. Kita ini keluarga.
Setelah memberiku makanan rumahan dan menawariku minum Rooh Afza,
sekarang mau membunuhku?
Memang apa lagi?
Sampah, 15 tahun kau berutang pada Surya!
Kubilang ke Cheeku pasti lunas. Aman terkendali.
- Dia tidak cerita? - Hei!
Hei! Cheeku!
Anjali mirip bintang film, ya?
Cukup! Diam kau!
Mana 30 jutaku?
Belum ada, tapi tidak lama lagi siap.
Ambil rantai.
Bibi, polisi datang!
Pernah melihatnya?
Mana mungkin wanita ke tempat kotor ini?
Di sini terik.
Aku sibuk. Boleh balik kerja?
Dia benar. Mana mungkin ada wanita ke sini?
Dia istri Surya.
Punya kuasa.
Ingat, 'kan, saat dia memasok alkohol ke kantor polisi?
Kini dia merambah narkoba dan judi.
Dia berani menentang Bung Rauf?
Ya, tapi pengaruh dia kuat.
Dia bahkan dipanggil "Bibi".
Pertama, ada Ayah,
sekarang Bibi.
Bung Rauf pasti tak menyangka
wilayahnya bakal direbut bos wanita.
Mungkin informan kita keliru.
Si Bibi tak ada di sini.
Mari pergi?
- Maaf, Bibi... - Jangan panggil "Bibi", Sinting.
Aku lebih muda 15 tahun darimu. Kau tidak tahu?
Akan kulunasi seluruh utangmu lewat Rana.
Dia banyak uang.
Rana siapa?
Anakmu yang hina itu?
Jangan merendahkan anakku, Bibi.
Kembalikan uangku!
Atau kugiling ginjalmu untuk jadi makanan babi di Koliwada!
Sana pergi! Jangan kira bisa kabur.
Aku tahu anak-anakmu ada di studio itu.
Jangan kira aku tak sanggup mencabut gigi mereka.
STUDIO FILM OBEROI
STUDIO FILM OBEROI STUDIO 10
Semuanya, mohon tenang! Kita mulai syuting.
- Audio. - Merekam.
- Kamera. - Merekam.
Action!
Kekuatan bajra tak bisa selalu melindungimu.
Ia akan menjelma jadi bola api pemusnah yang melumat musuh!
- Cut! - Ayo ikut.
Ulang.
Selamat datang, Rana. Pak Oberoi sebentar lagi tiba.
Santai saja dulu.
Ya.
Bukan di bajra letak kekuatannya, Tanya,
tapi di dalam diriku.
Bola pemusnah... Oh, maaf.
- Aduh! Sialan! - Cut!
Ulang! Pengecekan terakhir.
Tim rias! Perbaiki riasannya.
Dia orangnya.
Pahlawanku.
Pahlawan superku.
Aman Khanna?
Ya. Aman Khanna. Menjaganya tugas pertamamu.
Jika si bodoh itu kena kasus, gagallah filmku.
Aktor utama film miliaran sekelas dia,
digigit nyamuk saja
bisa jadi berita.
Pastikan masalah dia tak mengganggu film.
Pukulan bagus.
Rana Naidu!
Kalau mau bermain golf, kau salah sepatu.
- Aku ingin bicara. - Bisa tinggalkan kami?
Kukira kau bekerja untuk ayahku.
Kami baru bertemu. Membahas tugas pertamaku.
Aku harus mengawal Aman Khanna.
Menarik. Kudengar dia selingkuh dengan istri lawan mainnya.
Ya. Tugasku menjauhkan mereka.
Wah, seru!
Berarti, kau mau jadi penghalang cinta mereka?
Itu enteng.
Dengar.
Aku ingin bekerja denganmu.
Denganku? Kenapa?
Kau dibayar mahal ayahku, 'kan?
Langsung saja.
Tim kriket Mumbai.
Bisa kuatur.
Caranya?
Aku pengurus masalah. Itu bisa kuurus.
Kau kira bisa kemari tanpa ayahku tahu, lalu membujukku
agar mengkhianati ayahku untukmu?
Bukan.
Ini untukmu sendiri.
Mungkin kau belum tahu film ini ada sekuelnya.
Bungalo Alibag akan dijual sebagai modal.
Apa katamu?
Ayah dan suamimu membahasnya.
Paritosh?
Tak satu pun pria di keluargamu, ayah, saudara, atau suamimu,
yang peduli dengan tim kriketmu.
- Kau minta apa? - Aku dapat jatah.
Demi kesejahteraan keluargaku.
Sebentar.
Ayahku menyuruhmu ke sini untuk menjebakku?
Bayaran ayahmu tak sebesar itu.
Kau menarik juga, Rana Naidu.
Kau sama ambisiusnya denganku.
Oke, mari bekerja sama.
Tapi kau sedang bermain api.
Jika berani merusak legasi keluarga Oberoi,
masa depan keluargamulah yang akan hancur.
Camkan itu.
Kerja sama kita pasti seru.
Lara, kita mulai beraksi.
INSTALASI GAWAT DARURAT
Ana, aku sudah lama ingin berbicara denganmu.
Kenapa ditunda?
Aku tahu kau sering ke kedai depan rumahku.
Kadang makan pani puri, kadang samosa.
Aktingmu buruk sekali saat makan ragda pattice.
Aku...
Maksudku...
Aku takut kau salah paham.
Lalu kau sakit agar bisa menemuiku di sini?
Bodohnya!
Ana.
Aku gemetar terus.
Penyakitku makin parah.
Selama ini kurahasiakan.
Berobat pun tidak.
Dulu kaulah yang merawatku.
- Kita... - Jangan ungkit "kita" lagi!
Saat waktunya memilih, kau bilang keluargamu yang utama.
Aku bukan keluargamu. Jadi, apa maksudnya ini?
Situasiku kacau saat itu, Ana.
Keluarga kita sama-sama terancam berantakan.
Aku bisa apa lagi?
Aku meninggalkannya.
Keluargaku berantakan.
Sekarang?
Sudah bubar.
Aku mengajukan paspor Portugis.
Dan sudah keluar.
- Kau mau ke Portugal? - Tidak.
Aku masih menabung.
Baru paspor saja bekalku.
- Bolehkah aku... - Aku tak butuh uangmu.
Memang siapa yang membahas uang?
Yang ingin kutanyakan...
bolehkah aku ikut?
Aku muak di sini.
Boleh.
VINYASA KAFE YOGA
Ayo, Naina. Fokus.
Fokuslah.
Persetanlah!
Hei, Rekan! Tunggu.
Jadi minum smoothie?
Maaf, aku harus pergi.
Putraku sudah pulang.
Biarlah dia menunggu lima menit.
Ini baik untukmu.
Ayo.
Bumi memanggil Naina. Masuk.
Bumi memanggil Naina?
Masuk.
Setelah kau meninggalkan istrimu...
Apa kau menyesal?
Sebentar.
Ada niatan bercerai?
Pasangan mana pun pasti pernah punya niatan itu.
Memang benar.
Jadi, apa aku menyesal?
Jujur, awalnya aku bimbang.
Ragu keputusanku tepat. Mungkin masih bisa diperjuangkan.
Tapi kini setelah aku makin bijak...
Sungguh, aku bijak.
...kupikir itu keputusan terbaik.
Kenapa muncul niatan itu?
Kukira Rana mulai berbenah.
Semuanya mulai normal.
Tapi ternyata
dia merusaknya.
Kesalahannya besar.
Berapa kali lagi aku harus bersabar?
Sekali lagi.
Jika berakhir baik, baguslah.
Jika tidak...
buka hatimu untukku.
Di mana alat keselamatanmu? Cepat pakai!
Lakukan ini.
Lompat, lalu mendarat.
Baiklah.
Oke, aman.
- Ambil posisi. Siap? - Siap.
Tiga, dua, satu... Mulai!
- Mantap, Tasneem! Bagus. - Hebat.
Mari coba sekali lagi.
Kendurkan sedikit.
- Dengarkan! - Dengar...
- Ada apa? - Sudah beres.
Kau mengintipku?
Apa? Tidak! Aku sedang bersih-bersih.
Kalau kau suka bersih-bersih, sana bersihkan toilet wanita.
Lantainya lengket.
Nanti kusuruh orang.
Jangan suruh orang. Kau saja yang bersihkan.
Aku manajer. Kenapa aku yang bersihkan?
Harus kau!
Supaya kotoran hilang dari lantainya
dan pikiranmu.
Hei, apa-apaan? Sakit!
- Terlalu nafsuan, ya? - Tolong lepaskan.
Sakit.
- Serius, sakit. Geser! - Ada apa ini?
Pak Tej, kau tampak sehat.
Kami merindukanmu.
Kak, bukannya kau masuk besok?
- Sudah sembuh? - Jika belum, masa aku kemari?
Benar juga.
Ana, Kakak! Kakak, Ana!
Oh, ternyata begitu. Pantas Kakak sudah mendingan.
Duduklah. Aku ingin bicara.
- Apa? - Duduk saja!
Ana, kemarilah.
Ke sini...
Kami berencana ke sini.
- Ke mana? - Ke sini.
Ana sudah merencanakannya sejak lama.
- Apakah Ana penyuka wanita? - Apa?
Lesbian.
Dasar bodoh!
Itu nama tempat. "Lisbon."
Kalian mau berlibur?
Bukan berlibur.
Kalian mau pindah ke sana?
Ya.
Lalu studionya?
Kita jual.
Berapa pun nilainya,
kita bagi tiga.
Supaya hidupmu mapan, Jaffa.
Ya, 'kan?
Hei!
Hei, Jaffa!
Hei, Shambhu, buatkan aku teh!
Buat skornya nol!
Keluar!
- Kau keluar! - Mobil siapa itu?
- Lepaskan pemukulnya! Lepaskan! - Ya!
Itu Bung Rauf.
Lihat! Bung Rauf kembali!
Bung Rauf!
- Astaga! - Bung Rauf!
Seantero Koliwada mengenalmu.
Itu karena aku mengenal mereka lebih dahulu, Pak OB.
Lihat itu!
Itu Yogesh. Anak bungsu Jadhav. Pratimesh kakaknya.
Bibi!
Ashmita Bhalerao.
Ibu malang itu janda.
Dia seorang pembantu yang pekerja keras.
Punya dua putri dan sudah menjodohkan keduanya.
Satu di Kolhapur, satu di Jalgaon.
Bung Rauf!
Wah.
Luar biasa, Rauf!
Koliwada ada di genggamanmu,
dan kau ada di genggamanku.
Kita akan meraup banyak suara, Rauf!
Ini yang namanya kekuasaan.
Ini namanya cinta,
Keparat!
Kau...
Yang kau tahu hanya seks, OB, bukan cinta.
Andai kau pernah merasakan hidup susah,
kau pasti mengerti.
Kenapa murung, Keparat?
Kau mirip palkon.
Meski kau kulum penisku sampai mati,
kau tidak akan bisa "mengubah hidupku", Palkon.
Kau mau suara mereka, bukan?
Akan kuminta mereka memilih.
Memilih seseorang...
yang tak akan mengkhianati mereka nanti.
Kandidat dari sini kali ini...
adalah Rauf.
Melawan...
dirimu.
Selamat ulang tahun.
- Akhirnya datang! - Bung Rauf datang!
- Akhirnya datang! - Bung Rauf datang!
Ada apa?
Studionya atas nama Rana. Katanya sudah balik nama atas namaku.
Ternyata belum.
RANA MEMANGGIL...
Yang benar saja, Tej.
Lihat siapa yang datang!
Senyummu lebih berseri daripada bunga bersemi!
Sesenang itu bertemu ayahmu, ya?
- Bersama dara dari Kashmir? - Bukan dari Kashmir.
Dia juga bukan dara.
Apa kabar?
Kau belum mencampakkan dia? Masih saling cintakah?
Kenapa diam saja?
Video seks kalian bocor?
Tej, kita lanjutkan nanti.
Silakan.
Maaf, tak bermaksud mengganggu akhir bahagiamu.
Kemarilah, Nak.
- Ayah, kenapa ke sini? - Tentu saja untuk bertemu buah hati.
Apa lagi?
Ayah?
Kenapa memanggilku "Ayah" dari jauh?
Ayo sini peluk Ayah! Ayo.
Ayo!
Baiklah.
Jaffa-ku!
Ayo, panggil Rana ke sini juga.
Kenapa bengong menatapku?
Aku dan Rana sekarang mitra. Hubungan kami erat.
Pasti tidak seerat itu.
Coba tanya Rana.
Dia akan cerita serunya aksi kami di Goa.
Telepon dia. Aku tak punya nomornya.
- Kenapa melihatku? - Kakak saja yang telepon.
Begitu Rana tiba, aku akan bicara dengannya.
- Mungkin dia lupa. - Lupa soal apa?
Ada apa?
Kau bilang studionya sudah balik nama atas namaku?
Soal itu...
- Aku sibuk. - Kubilang apa.
Mungkin dia lupa.
- Bereskan. - Kenapa buru-buru?
- Aku mau jual studionya. - Apa?
Kenapa?
Aku muak di sini, Rana.
Kami berencana pindah ke Portugal, tapi itu butuh modal.
Ini yang maksudmu "mendesak"?
Yang "mendesak" itu panggilanku.
Kenapa kau merengut?
Apa kau lupa wajahku?
Atau kau terkejut ayahmu masih hidup
dan berhasil sampai ke Mumbai?
Ada urusan apa?
Ada masalah.
Kakak mau pergi, Ayah kembali. Ini waktunya mabuk.
Aku tahu pemilik Studio Oberoi itu bosmu.
Tolong bantu pertemukan saja. Kalau tidak, nanti Bibi...
Lalu kau akan berhenti mengusik keluargaku?
Ya, pasti. Aku akan pergi.
Kau sulit dipercaya.
Hei, Rana, dengarkan aku.
Bantu aku untuk yang terakhir ini.
Setelah ini, aku tak akan mengganggu.
Akan kucarikan solusi.
Akan kuatur masalah studio ini.
Sampai jumpa.
Benar, 'kan, kami mitra?
NAIDU FILM STUNTS BENGKEL
Hei, Kerempeng!
Siapa bilang kau bisa pergi?
Ayo ikut.
- Ke mana? - Ikut saja!
Hei, gosok yang di sana.
Nodanya kelihatan dari sini.
Jadi, apa yang kau intip?
Tubuhku?
Bukan tubuhmu.
Aku lihat tanganmu di mana.
Aku tak macam-macam.
Kenapa tak macam-macam?
Tidak puas melihatnya?
Jika puas, katakan saja,
"Aku suka memandangmu."
Jawab.
Katakan.
- Katakan! - Aku menyukainya.
Jadi, apa kau masih penasaran?
KAK TEJ
- Aku harus pergi. - Pergilah.
Kita akan jumpa lagi?
Apa kau akan mengintip lagi?
Ada berbagai macam rumor tentang kecelakaan misterius Aman Khanna.
Apa ia mabuk saat syuting adegan aksi?
Bahkan, ada rumor tangannya digigit singa saat syuting.
Sulit sekali mengetahui fakta-fakta soal Vajraman,
film India termahal.
Mobil Pak Oberoi!
Ini selebritas pertama, produser Vajraman, Viraj Oberoi.
Mari kita wawancarai.
- Bagaimana Aman terluka? - Kondisinya?
- Ada penjelasan? - Minggir.
- Publik ingin tahu. - Awas!
Harap beri jalan.
Pak, tolong jawab!
Terima kasih sudah datang, Pak.
Baik sekali, Pak.
Dasar tolol!
- Dasar bodoh! - Pak!
- Sesulit itu menahan kegatalanmu? - Mama!
- Bajingan! - Apa-apaan?
Tutup mulutmu!
Kau belum tahu rasanya mati!
Biar kutaruh bunga di makammu!
Panggil perawat. Jangan sampai dia mati.
STUDIO FILM OBEROI
Sudah 800 juta keluar untuk film ini.
Sudah 800 juta rupee!
Si bodoh itu malah diopname karena patah tulang!
Aman, Ayah. Nanti ada pengganti.
- Apa? - Berarti syuting ulang film?
- Terus? - Sebagian sudah direkam.
Mau diganti siapa? Tak semudah itu mendapatkan lakon!
Siapa lakonnya?
Mungkin aku...
- Aku bisa... - Dia bicara apa?
Bicara yang lantang!
Aku bisa jadi lakon, Ayah. Aku mau.
- Aku bisa. - Alia.
- Maaf, kau tak bercanda? - Apa?
Jelaskan, Ayah.
Di pesta Diwali,
Karan bertanya pada Ayah kapan aku akan diorbitkan.
- Gosipnya sudah lama beredar. - Ya!
Oke, Ayah paham.
Ada apa sebenarnya?
Kau bilang semuanya terkendali!
Ternyata apa?
Aman pergi menemui gadis itu, tapi ketahuan suaminya.
Aku gagal mencegahnya.
- Itu saja? - Ya.
Hebat.
Ayah, tak ada pilihan selain menjual studionya.
Jika kita tunda lagi,
tim Mumbai dijual ke penawar lain.
- Alia, jangan sekarang! - Ayah...
Ayah, waktu kita sempit. Kita di ujung tanduk.
Putuskan sekarang juga.
- Sekarang. - Oke! Tenang.
Maaf, Nak.
Alia, hubungi mereka. Ayo beli tim kriket itu.
Chirag...
Kau!
Ini ulahmu!
Hei!
Ya.
Aku rajin beryoga, rasanya seperti Baba Shyamdev.
Pasti.
Pasti!
Pernikahan mereka terancam.
Istrinya akan buka mulut.
Rana akan bertekuk lutut.
Baiklah.
- Percepat sedikit. - Ya.
Sialan!
Sial!
Rauf.
- Ini aku. - Kau mau apa?
Begini.
Termasuk sepupuku,
kau sudah membunuh enam orangku.
Mungkin bagimu wajar ada korban jiwa dalam industri kotor ini
dan aku tak akan peduli.
Kau salah.
Tahu, tidak, Rana?
Kau tidak membunuh enam,
tapi tujuh orang.
Termasuk diriku, Berengsek.
Orang-orang itu membekingku.
Jika mereka tumbang,
aku ikut tumbang.
Mereka keluargaku, Rana.
Sama sepertimu, aku juga menyayangi keluargaku.
Sekarang semua mengincar satu hal.
Balas dendam.
Berat sekali tongkat pemukul ini!
Kini ini milikku.
Apa pukulan kriket favoritmu?
Square cut?
Cover drive?
Yang kusukai,
straight drive.
Aku pernah main di gang-gang Mumbai.
Aku cuma bisa straight drive.
Tapi aku ingin pukulanku telak.
DIADAPTASI DARI "RAY DONOVAN"
Terjemahan subtitle oleh Fahrurrozy A
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.