All language subtitles for Rana.Naidu.S02E01.HINDI.NF.WEB.h264-EDITH.id

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional) Download
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Setiap kali pesohor punya masalah, kaulah yang dicarinya.

Pemecah masalah para pesohor.

Di hampir semua skandal Bollywood, dia campur tangan.

Rana Naidu.

Sampai ada pepatah, "Di mana ada Rana, di situ ada skandal."

Pagi! Hai, Nak.

Bakatnya sia-sia di sekolah itu, Rana.

Apa tak bisa minta bantuan OB?

Anggap ini pekerjaan Ayah biasanya.

Pekerjaan Ayah? Mulai sok tahu, ya?

- Cut! - Bagaimana adegan berbahayanya?

Melenceng sedikit saja, remuk tengkorakmu.

Kak Tej, Jaffa bolos terapi lagi.

Jaffa, jangan bolos terapi begitu.

Dia dibebaskan.

- Siapa? - Naga.

Dari lapas.

Kenapa kau kemari, Naga?

Aku ayahmu.

Kau kelewatan, Naga.

Kalau ada masalah, cari aku langsung. Jangan libatkan anak-anakku.

Ya, OB?

Toofan butuh bantuan.

- Rapper itu? - Dia bisa dimanfaatkan.

Apa maumu?

Aku bukan lagi Jasbeer, tapi sentuhan magisku ikut menghilang.

Aku ingin sentuhanku kembali dan menggarap musik bagus dengan Rehaan.

Angkat dia anak.

Jadilah wali sahnya. Itu jalan terbaik untuk semuanya.

Kuingin selalu bersamamu

Mendekatlah ke sisiku

Bagus, Rana.

Dapat klien permanen lagi.

Bisa menjadi modal untuk kampanye nanti.

Rana, aku tidak punya putra, tapi aku menganggapmu putraku.

Selamat Hari Diwali, Ipar!

Suka atau tidak, kau akan menjadi ayah.

- Gugurkan. - Tidak mau.

Kau sadar citraku bisa rusak?

Nitya dekat dengan laki-laki kampung itu.

Aku akan meninggalkan suamiku.

Tidak bisa, Ana.

Aku tidak bisa meninggalkan keluargaku.

Aku bodoh.

Lemah pula.

Aku itu pecundang, Naina.

Kau menidurinya, ya?

Rana, hentikan!

Naga hanya bisa berdusta.

Dia tidak bisa menjadi ayah dan orang yang baik.

Belilah tiket. Terserah ke mana.

Jangan kembali ke Mumbai.

Kesalahanku terlalu banyak

dan sebagian tidak termaafkan.

Yang penting adalah aku, kau, anak-anak, Tej, dan Jaffa tetap bersama.

Aku berjanji akan menjagamu

dan tak mengecewakanmu lagi.

Tarik napas.

Embuskan.

Tarik napas.

Embuskan.

Keluarkan semua hal negatif dalam diri.

Mendekatlah ke dimensi prana.

"Pranayama".

Latihan mengatur napas.

Demi meraih kehidupan, bukan kehilangannya.

Apa duka lama yang masih kau ratapi?

Apa yang telah direnggut darimu?

Segala yang terjadi itu demi kebaikan, baik yang lalu maupun akan datang.

Tarik napas...

Embuskan.

Ingatlah,

kau beralih dari energi negatif menjadi energi positif.

- Hei! - Naga!

Naga!

Hei!

Jotos!

Energinya meluap-luap, Kawan!

Pernikahan Jamnagar saja tak seramai ini!

Petarung malam ini punya kelas tersendiri!

Kalau mereka digigit anjing, anjingnya yang harus disuntik!

Keren, Bang!

Kita sambut petarung pertama yang berapi-api,

penuh ambisi,

sang raja Konkan,

Dynamite D'Souza!

Dynamite!

Dynamite!

Dynamite!

- Berapa? - 600!

- Pasang untuk Dynamite! - 200!

Satunya Siolim, satunya lagi bubur haleem.

Ada Ponda, dan di sudut lawan ada Galconda.

Kalian paham maksudku, 'kan?

Dia putraku!

Dia kugembleng sampai jadi jagoan tangguh!

Saatnya pasang taruhan!

Ke siapa?

Sang mesin otot!

Monster dari Hyderabad!

Sang Furious Fixer,

Rana Naidu!

Rana!

Ya!

Itu Rana!

Rana!

Kuserahkan padamu.

Beres.

- Ambil ini. - Kau pasang ke siapa?

- Sana! - Seribu untuk Rana!

Yang dilarang hanya menyerang kemaluan. Jelas? Semoga berhasil.

Mana mungkin kuserang? Pelir pun dia tak punya.

Beri salam.

Mulai!

Apa...

10 JAM SEBELUMNYA

Tahu apa yang paling kurindukan?

- Ani dan Nitya? - Bukan.

Tentu aku juga rindu anak-anak!

Taman-taman itu, lo!

Kita bisa berbaring di rumput di Champ de Mars, makan baget,

menikmati silir angin di depan Menara Eiffel.

Di sana rotimu disambar merpati, 'kan?

Jangan diungkit!

Teriakanmu masih terngiang.

Pasti seantero Paris tak akan lupa.

Tapi di Paris terburu-buru sekali, Rana.

- Sudah kutawari menambah hari di sana. - Ya!

Mari kuras tabungan untuk liburan di Eropa.

- Hidup ke depannya bagaimana? - Pasti bisa.

Aman.

Oke. Kalau begitu, mau pesan minuman?

Permisi? Bisa pesan tequila dengan es?

- Baik. - Terima kasih.

Aku kepikiran...

Aku yakin

meninggalkan OB tidak mudah bagimu.

Setelah bekerja dengan orang yang sama hampir 15 tahun,

tiba-tiba memulai hidup baru...

pasti sulit.

Aku bangga kepadamu.

Meninggalkannya bukan berarti...

Kita bahas nanti saja.

Sadar, tidak?

Beberapa hari ini, kau menjalankan peran suami selayaknya.

Senang rasanya!

Kita tidak stres, tidak bertengkar.

Di rumah nanti,

jangan lupa peranmu sebagai ayah.

Anak-anak pasti senang.

Aku juga pasti

akan bahagia

karena kita semua aman.

DILARANG MASUK

Rana Naidu, putramu ada di tangan kami.

Jangan coba-coba menghubungi polisi.

Selebihnya kita bahas nanti.

Ada apa?

Ani diculik.

6 BULAN LALU

Polisi!

Aku memang mengasuhnya,

tapi Rauf terlalu cepat dewasa.

Terima kasih, Rana.

Kau sudah menyingkirkan Rauf untukku.

Ani diculik di dekat rumah.

Tak ada CCTV.

Tak ada saksi juga.

Aku melacak Ani sampai sinyalnya hilang.

- Melacak lewat mana? - Smartwatch-nya.

Rana memberiku akses ke gawai kalian untuk berjaga-jaga.

Lokasi terakhir Ani di Goa.

Viraj meminjamkan jetnya.

Ayah akan menyelamatkannya, 'kan?

Ayah janji.

Itu pasti.

Terima kasih.

- Hai. Terima kasih. - Ini Paritosh, menantuku.

- Rana. - Dia bawahanku.

- Lara. Ini Naina, istriku. - Turut prihatin atas putramu.

- Ada petunjuk baru? - Belum.

Di profesimu itu, memang tak pernah sepi musuh, ya?

- Silakan pakai jetku. - Terima kasih, Pak Oberoi.

Tak usah berterima kasih.

Pesawat memang untuk terbang.

Anggap saja ini keuntungan menjadi bawahanku.

Bawahan?

Kau berhenti bekerja dengan OB. Bukan pensiun, 'kan?

Sekarang kau bekerja untukku.

Urus dulu ini. Nanti kita bahas gajimu.

Sampai jumpa.

Aku akan kembali.

Bawa pulang putra kita.

BANDARA REGIONAL GOA

Itu orang kita. Savio.

Kami harus ke sini.

Siolim?

Kenapa?

Tidak, maksudku...

Di sini terpencil, sampai hewan lewat pun tidak ada.

Arloji Ayah?

Ini arlojimu.

Kelak, semua arloji Ayah jadi milikmu.

Kau satu-satunya anak laki-laki Naidu di generasi ini.

Kaulah yang mewarisi nama Naidu.

- Jaga dirimu baik-baik. - Pasti, Ayah.

Mau cek sidik jari untuk petunjuk?

Tidak sempat. Ada informan tepercaya?

Ada satu orang.

Bukan informan, tapi dia tahu soal semua orang.

Ayo ke sana.

- David! Hitung uangnya. - Halo.

Apa kabar? Duduklah.

- Hei, Bang, apa kabar? - Cepat.

- Pak Naga... - Paman Gomez.

Setelanmu keren sekali!

- Robert, istrimu mengizinkan? - Ya.

- Ajak sekalian! - Duduklah.

Ini tarup VIP! Silakan bersantai.

- Salam, Bang. - Hei!

Ini seperti musik pemakaman. Biar aku saja.

Hei, jangan diganti!

- Ya, mantap! - Mainkan ini.

Dengar baik-baik.

Pasang taruhan untuk jagoanku, ya?

- Oke? - Oke, Bang.

Hei, kalian mau apa?

Semua kenal aku di sini!

Kau gagah sekali, Cheeku.

Ada keperluan apa?

Jangan ke muka! Cewek-cewek saja menyawerku karena mukaku.

Karena kau dikira pengemis, Pengemplang.

Pengemplang? Tiap bulan sudah kucicil sedikit-sedikit.

Kalau cuma sedikit-sedikit, berarti kandung kemihmu bermasalah.

Aku cuma punya ini!

Cuma ini?

Kau mau pakai trik lamamu?

Utangmu 30 juta rupee, Bodoh! Tidak sedikit!

Masa, dicicil recehan begini?

Recehan ini bisa kugandakan. Lewat taruhan.

Dipakai untuk judi? Dasar benalu!

Bukan judi, aku juga bukan benalu.

Kita jadikan 10 kali lipat. Ayo ikut. Kujelaskan.

Halo! Cek mik! Satu, dua, tiga!

Aku dan ayahmu pernah satu sel di Chanchalguda.

Kami sudah kenal lama.

Jadi, aku buka-bukaan saja, ya.

Aku tahu siapa yang akan menang dan kalah malam ini.

- Kuberi tahu... - Ayah!

Nanti, Arjun! Aku ada tamu penting.

Kau mau bilang apa?

- Hasilnya kumanipulasi. - Halo...

Petarungku, Razor Razin, akan kalah dari Dynamite D'Souza.

Karena itu, dengarkan kataku.

- Oke? - Ayah.

- Sebentar... - Kau ini kenapa?

Hei, kau mau apa?

Malam ini, utangku akan kubayar.

Kalau tidak?

Karena inilah kau selalu diusir dari hotel mewah!

Pikiranmu cetek.

Sejauh ini, Razor menang terus.

Banyak yang pasang untuk dia,

tapi kita yang akan untung.

- Sudah diatur. Tak ada risiko. - Ini penting...

Jangan ganggu dulu! Sabar!

Pak Naga, siapa?

Dynamite D'Souza.

Tiga puluh jutamu.

- Ikut aku. - Pasang taruhan, pasti menang!

Kata siapa orang-orang kikir berdasi ini boleh duduk di sini? Hus! Mau kutendang?

- Sana! - Maaf, Bung.

Duduklah.

Kau mau menipuku, ya, Naga?

Jangan begitu, Cheeku! Sebentar, ya.

Ayah!

Ada apa?

Razor kabur.

Kabur? Bagaimana bisa?

- Kenapa tak bilang dari tadi? - Tadi aku mau bilang...

Ampun! Tugas satu saja tidak becus!

Dia pergi ke mana?

- Kabur dengan ceweknya. - Yang dari Thailand?

Dia bukan perempuan. Kenapa disebut ceweknya?

- Cepat cari! - Aku?

Dasar...

Anjing.

Astaga! Kau datang!

Apa kabar, Rana? Kau kangen denganku?

Naina juga ikut? Cucu-cucu manisku?

Ani sudah setinggi kau?

Sudah dengar ada penculikan di sini?

Penculikan?

Aku tinggal di tengah laut, setiap hari beryoga.

Lihat ini?

Aku bosnya di sini.

- Siapa yang diculik? - Ani.

Apa? Kenapa tak bilang dari tadi?

Di Goa?

Siapa pelakunya?

- Siapa? - Dia tak tahu apa-apa. Ayo.

Hei, tunggu! Tunggu sebentar saja!

- Aku bisa cari tahu. - Sialan...

Naga tak salah, Bos.

Kau mabuk?

Lupakan dulu masalahmu dengan Naga.

Bicarakan dengannya.

Kau tahu ada anak yang diculik dari Mumbai?

Tahu.

Aku dengar rumornya.

Beri tahu aku.

Kenapa kau ingin tahu?

Ada untungnya bagimu?

Ayolah, beri tahu aku.

Setelah pertarungan.

Kudengar petarungmu kabur.

Tidak.

Aku mengusirnya karena aku punya petarung baru.

Siapa?

Dia.

Putraku.

Ra...

Rana Naidu!

Dynamite!

Jangan beri ampun! Hajar!

- Ya! - Rana!

Rana!

Bang Cheeku, anak Naga hebat juga.

Kalau dia tak mengalah, kuhabisi dia.

Sikat!

Taruhannya naik!

Sepuluh banding satu!

Pasang seribu untuk Rana!

- Ayo! - Untuk Rana!

Rana, lanjutkan!

Banyak yang bertaruh untukmu.

Rana! Ingat, kau harus kalah.

Nanti datanglah ke kamarku.

Akan kutunggangi di kamar dan di sini. Maju!

Dynamite!

Sudah tahu siapa penculiknya?

Belum. Akan kucari tahu.

Ani diculik. Cepat cari tahu!

Siap tidur di tumpukan uang?

Lihat uang itu, Kawan? Itu milik kita.

Hebat juga putramu.

Makanya, kau juga mesti serius. Siapa penculiknya?

Tunggu aku dapat uangnya.

Nanti juga dapat.

Setelah kalah, Rana ingin langsung diberi tahu namanya.

Dia menunggu. Sebut saja namanya.

Lalu aku akan pergi.

- Rana pasti kalah? - Tentu saja.

Rana itu tunduk dengan kata-kataku.

Ucapanku selalu terbukti, 'kan?

Rana!

Saif.

- Saif pemilik kelab? - Ya.

- Dari gengnya Rauf? - Ya.

Jangan usik mereka kalau masih sayang nyawa.

Hei!

Rana! Kenapa kau melepaskan Dynamite?

Ayo, pukul aku.

Kau takut?

Istrimu sudah menanti aku.

Hei!

Pertama, kuladeni dulu dirimu.

Baru kuladeni istrimu.

Astaga...

Sial!

- Hore! - Hore!

Kemarikan uangku!

Rana, apa-apaan kau? Yang benar saja!

Dan pemenangnya adalah Rana Naidu!

Apa-apaan ini?

Rana menang?

- Sekarang bagaimana? - Kabur.

Lari!

Rana menang, 'kan? Ambil uang kalian dan pulanglah!

Pulang! Aduh!

Rana!

- Berikan uangku! - Ini.

Jaffa?

Di mana dokternya?

Kau kenapa?

Memang kenapa? Aku tidak apa-apa.

Konyol sekali Jaffa memanggil kalian.

"Tidak apa-apa"?

Dia gemetar parah seperti mesin cuci yang mau berhenti!

- "Tidak apa-apa", apanya? - Dia ngawur.

Bawa anak-anakmu ke studioku.

Ani bilang mau belajar karate dariku.

Aku akan melatihnya.

Dia masih dalam pengaruh obat...

Bagus, keluarga sudah hadir.

- Hasil tesnya sudah keluar. - Apa hasilnya?

Parkinsonnya makin parah.

Bertahun-tahun saya ingatkan.

Kini harus ada orang yang terus merawat Anda.

Anda juga harus berhenti bekerja, Pak Naidu.

- Apa? - Aku saja yang kerja.

Tenang, Kak. Studio akan kuurus.

- Kau gila? Aku belum mati. - Dokter bilang...

- Aku pulang! - Jangan!

- Berbaringlah... - Aku bisa urus diri.

- Hentikan! - Berbaringlah.

Kak, berbaringlah.

Stres seperti ini yang harus dihindari.

Menurutku juga.

Dengar, Kakak Ipar.

Kau benar.

Kau paling kuat di keluarga Naidu.

Justru itu kau harus istirahat supaya pulih.

Kau bebas keluar masuk studio, kok.

Namun, sekarang ini, tolong istirahat.

Ani harus belajar karate, 'kan?

Ners, pasangkan lagi.

Jam berkunjung habis, 'kan?

Kak, istirahatlah. Besok kami jenguk lagi.

Istirahat, ya.

Lokasi Ani ketemu. Aku sedang ke sana.

Syukurlah!

Aku di rumah sakit, Rana.

Tej kejang-kejang.

Tiba-tiba sekali.

- Kondisinya sekarang? - Stabil.

Aku urus yang di sini.

Kau fokus saja menyelamatkan Ani.

Ini terlalu ramai, Bos.

Aku akan mencari Saif.

Itu ruang VIP. Saif pasti di sana.

Aku baru cek.

- Dijaga dua centeng. - Ya.

Ada lima lagi di sekitarnya.

Tunggu. Beri aku kesempatan. Aku bisa tangani.

- Apa? - Sini.

Kau mau apa?

- Siapa yang mematikan musik? - Menyebalkan!

Ada apa ini?

Dia nyentrik.

Cek ke situ.

Apa... Gawat!

Rana Naidu! Tunggu, Berewok, dengar dulu!

Tahan dulu! Tunggu...

Di mana putraku?

- Lepaskan kakimu dulu! - Katakan!

Oke. Putramu baik-baik saja.

Silakan bawa dia. Aku telepon dulu.

Beri aku waktu.

Hei! Bawa putra Naidu ke ruanganku. Cepat!

Cepat kemari!

Dia akan kemari.

Rana, itu dia. Dia baik-baik saja.

- Lihat? Dia tak apa. - Ani.

- Ayah! - Kau tak apa?

- Kau tak apa? - Ya.

Terpaksa kuculik anakmu agar kita bisa bertemu.

Kepalamu akan kujejalkan ke kotak permen

sebagai kado untuk Bung Rauf.

- Minggir! - Tidak! Ayah!

- Ayo! - Ayah!

- Ayah! - Ayo!

Ayah! Tolong aku. Ayah!

- Ayah! - Jangan beri ampun!

Ayah!

Cepat!

Hei!

Ayah!

Berhenti, atau kubunuh anakmu!

Jatuhkan pistolmu.

Jatuhkan!

Ini akhirnya.

Akhirnya... selesai.

Ani, lari!

Lihat. Aku berhasil menolongmu, 'kan?

Ayah!

Kau tak apa, Nak?

Kau aman, Ani.

Tak apa, Nak.

Terima kasih.

Aku tahu kau tak suka kepadaku.

Tapi aku tetap ayahmu. Seperti kau ayah Ani.

Kita ini keluarga.

Kita akan hidup bahagia di Mumbai.

Dua mobil. Mereka bersenjata.

Menunduk, Ani!

Sial!

- Mereka mengincarmu? - Ya.

- Ani hampir kena! - Salahmu menang duel!

- Lalu kita harus ditembak? - Apa lagi? Diberi kue?

Jangan ribut. Perhatikan jalan!

Semua, keluar!

HATI-HATI

Jangan matikan mesin.

Kalau gerbang ini dikunci, kita cari yang lain.

Ayo! Cepat masuk! Cepat!

Ayo!

Jangan!

Rana, apa-apaan kau? Aku mau ikut.

Tidak! Jangan dekati keluargaku.

Aku bisa dibunuh. Perbuatanku sudah benar, 'kan?

Ini juga benar.

Hei, Rana!

Rana! Aku bisa dibunuh.

- Kakek mana? - Tak ikut.

- Tak ikut atau Ayah larang? - Ani! Jangan ribut!

Belum sejam sejak kau menyelamatkan putramu.

Kau masih merasakan stresnya.

Pikiranmu belum jernih.

Ini. Minumlah.

Supaya lebih tenang.

Rana, kalau di posisimu, akan kuterima langsung tawaran ini.

Kau akan dibayar mahal untuk jasamu.

Kau sendiri juga bilang tak ingin kembali ke OB.

Pertimbangkan.

Kita sama-sama saling membutuhkan.

Kau tahu ini apa?

Pedang Sultan.

Viju membelinya.

Dan kau tahu nasib dia.

Dia menjual ini karena butuh uang.

Kubeli murah.

Salah satu petuah terkenal Sultan,

"Lebih baik hidup sehari sebagai singa daripada seratus tahun sebagai domba."

Kau yang mana?

Kau bukan domba, 'kan?

Bukan!

Kau singa.

Sultan juga berkata,

"Lebih baik mati berjuang demi merdeka daripada mati sebagai budak."

Wah, mengesankan. Kau paham sejarah.

Namun, kau salah paham.

Kau tak akan jadi budakku,

tapi pedangku, Rana.

Bilah tajammu dan auman ganasmu akan berguna bagiku.

Jangan mengabaikanku dan masuk seenaknya. Kau mau apa?

- Aku berhasil, Ayah. - Ayah! Kakak merusuh lagi!

- Chirag. - Ada kemajuan bagus.

Sudah kutawar ulang.

Mereka mau di bawah harga pasar.

- Studio bisa dijual 80 miliar, Ayah. - Oke.

Harga tim Mumbai setara itu.

- Kita harus segera beli. - Tidak perlu buru-buru.

Mau ke ruang loker dan bertemu pemain?

- Bisa kuatur. Ya? - Wah.

Silakan, wujudkan impianmu.

Tapi hentikan kegilaan ini!

- Chirag! - Kenapa, Yah? Aku yang benar.

Kakak mau menjual studio

demi membeli tim kriket tak jelas dan Ayah membiarkan?

Bisa tenang dulu? Kita sedang ada tamu.

Dia Rana. Dia akan bekerja untuk kita.

- Oh. Hei, Rana. - Hei.

Andai kau tak ada hari itu, pasti...

Ini putriku, Alia.

Kau sudah bertemu suaminya, Paritosh.

Alia menangani cabang London.

Kini dia ingin menjual Studio Oberoi dan membeli tim Mumbai TSL.

- Sapa dia. - Hai.

Ayah, waktu kita tak banyak.

- Kita harus segera menjual studionya... - Tunggu. Menjual studio?

Ayah tak kesal mendengarnya?

Ayah mau cek plus dan minusnya,

tapi percuma kalau Kakak selalu mendahului.

Dia sudah mengajak para pembeli,

padahal kita sedang membuat film terbaik!

Kakak, apa mau Kakak?

Berhenti syuting dan membiarkan Kakak membeli tim kriket T-20?

Ayah.

Studio itu legasi Ayah.

Patung Kakek ada di studio itu.

- Itu akan dirusak juga? - Ya ampun! Maaf, ya.

Maksudmu patung yang kau jejali dildo setelah dari Amsterdam?

- Sudahlah. - Patung itu? Kini kau peduli?

Enyah kau, Chirag!

- Aku benci kau. - Sudah?

Ayah, jika kita membeli tim Mumbai, proyeksinya jelas.

Keuntungan 12% per tahun.

Ditambah lisensi dan suvenir, bisa naik ke 15%.

Ya, Ayah sudah lihat.

Tiga tahun terakhir, studio kita menghasilkan empat film gagal.

- Kita rugi 10 miliar. - Delapan miliar.

Rugi delapan miliar!

Aduh, maaf! "Delapan miliar"!

Ditambah empat miliar...

- Jadi, 8 ditambah 4 berapa, ya? - Kakak, diamlah!

- Aku pamit, Pak. - Tetap di sini.

- Kami yang keluar. - Ayah?

Keluar!

Ayah tahu ini keputusan yang tepat.

Pengacara sudah kuhubungi.

Kami bahas detail kontraknya agar sesuai keinginan Ayah.

Oke, stop!

Ayah tak akan terburu-buru mengambil keputusan.

Terima kasih, Ayah. Tuh, Kak.

Jangan ribut lagi. Terima kasih.

Mari bicara.

Aku mengerti pekerjaanku sudah membahayakan Ani.

Ini yang selalu kutakutkan, Rana.

Kau bilang sudah meninggalkan dunia itu.

Akan kuperbaiki.

- Aku berjanji ini takkan terulang. - Kau akan berhenti?

- Ya. - Bohong.

Aku akan berhenti, tapi kita butuh uang.

Aku ingin keluarga kita mapan finansial.

Memang apa rencanamu?

Ada satu tugas terakhir.

Proyek besar.

Oberoi ingin membeli tim Super League T-20 Mumbai.

Tapi Viraj dan putrinya, Alia, tidak sepaham.

Perhatikan gambaran besarnya.

Ini kesempatan besar bagiku.

Tugas remeh lain kutinggalkan. Aku harus fokus di sini.

Untukmu, Ani, Nitya.

Jaffa, Tej, terutama Tej.

Satu tugas terakhir.

Lalu kita takkan pusing soal uang lagi.

Apanya "tugas terakhir"?

Ini candu, Rana.

Dan kau kecanduan parah.

Terserah mau bilang apa.

Tanpa kecanduanku ini,

Ani mungkin tak akan pulang.

Kau gila, ya?

Kau sadar dengan ucapanmu?

Tanpa kecanduanmu ini, Ani tidak akan diculik.

Ini kali terakhir. Percayalah.

Tidak.

Aku tak percaya denganmu, Rana.

Terus terang...

Aku tak sanggup hidup begini terus.

Naina.

Naina!

SERU

Bung Rauf.

Ada kabar.

Enam orangmu

terbunuh di Goa.

Di sana ada Saif, sepupuku.

Beri tahu dia. Siapa pun pelakunya, lenyapkan hingga tak bersisa.

Sebenarnya...

Bang Rauf...

Saif termasuk dari enam orang itu.

Siapa pelakunya?

Rana...

Rana Naidu.

- Pinjam ponselmu. - Apa?

Pinjamkan ponselmu.

NOMOR PRIBADI

Hei, Rana, apa kabar?

Ini Rauf Mirza, menelepon dari lapas.

Kapan kau akan menemuiku?

DIADAPTASI DARI "RAY DONOVAN"

Terjemahan subtitle oleh Fahrurrozy A

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.