Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Saya mengalami kejadian itu setelah 4 tahun yang lalu.
Kami
ke
sana ke EKKN, tapi desa yang
kami pilih duduk desa biasa.
Sehingga kami pikirkan, ya apa caranya rocker KKN kami berhasil.
Tapi ternyata, kabar yang terjadi selanjutnya,
kegayaan yang ada di bayangkan.
Waktu itu, saya yang diajak almarhum.
Terima kasih telah menonton
Lopo sih? Ya, no.
Ya.
Iya, Pak. Senang ya, Pak?
Senang, Mas.
Gimana?
Apa kabarnya?
Api, api, Mas.
Iya, Mas. Kenal, Mas. Ini adikku, Mas. Ayo.
Iya, saya Prabu.
Mas Prabu ke Pamung Deso Nanggene.
Engkau beliau yang jadi pengawas kegiatan KKN kalian.
Jogo baik -baik kepercayaan mas Prabu.
Iya.
Ojo gak ada yang repot. Yuk.
Dibahas di rumah gue ya.
Ayo.
Mas. Mas. Mas.
Mas. Mas.
Saya mohon, Pak.
Kami datang dari jauh, Pak.
Karena niat kami kan untuk mengabdikan diri kepada masyarakat di desa ini.
Jadi tolong dipertimbangkan, Pak.
Soalnya ini juga baru pertama kalinya buat kami.
Belum pernah ada yang minta KKN di sini.
Berarti bisa dicoba, kan, Pak?
Kami enggak akan mengusahakan.
Program kerja kami akan membantu warga desa.
Apapun masalah yang ada di desa ini kami akan bantu atasi.
Yang penting kan bisa membantu warga.
Karena ini sifatnya pengabdian masyarakat.
Boleh ya, Pak?
Mbak Ayu sama Mbak Nur.
Mari saya tunjukkan satu lokasi.
yang mungkin cocok buat program kerja kalian di sini.
Makasih, Pak.
Dulu, tempat ini dijadikan tempat mandinya para penari.
Tapi, saat ini tidak ada penari di sini.
Nah terus, tempat ini sempat beralih fungsi jadi sumber mata air desa
kami.
Tapi beberapa tahun belakangan ini, banyak asap.
Jadi warga agak kesulitan akses air.
Soalnya sungainya enggak patio tidak seperti ini.
Kami bisa bantu, Pak.
Nanti kami buatkan skema untuk mengalirkan air semuanya.
Ya, pokoknya diatur aja, Mbak.
Tidak ada yang lebih baik, Tando.
Apa saja yang kamu inginkan, Ibu?
Ibu sudah selesai menjelaskan, Ibu.
Ayo, coba, kalau kamu cocok dengan program KKN.
Tidak ada yang lebih baik, Tando.
Tidak umum yang kamu inginkan, tidak ada yang lebih baik.
Nur, kalian ayo sambil ngecek kok, Bu.
Pak Kades nggak sambil ngijinin.
Beliau niku kenalannya masih ayo.
Ibu, mewetinnya anaknya ibu. Sisi -sisi ini kenapa -napa, Nur?
Ibu. Ibu.
Jogo awakmu, Jogo sikap, Jogo
ucapan.
Ada pepatah Jawa bilang, air mengalir
selalu ke timur.
Di timur semua kumpul nangkot.
Mulai dari yang baik, yang buruk, sampai yang
paling buruk.
Laman duduk, tepos ini tuh.
Nur, mau ikut atau tak?
Ini masih jauh, toh. Ya, sekitar setengah jam menit, lah.
Masih tenang balik air.
Ayo, yuk, yuk, yuk, semangat, semangat.
Yuk, ini melaku, Ta.
Jancuk. Sepedaan, Ta, ini.
Awamu kata melaku.
Bima, Pak.
Teman -teman, ini Pak Prabu, kepala desa di sini.
Ini sudah pada ngomong semua?
Iya, Pak.
Ayo, mari, ikut saya. Ayo.
Desa kami ya seadanya gini,
listrik belum masuk, tapi semoga kalian semua betah selama di sini.
Santai ae, Pak. Wes biasa aku koyong unu. Nang kene, listrik belum masuk,
kosanku belum bayar.
Nanti aja, Pak.
Di sini rumah -rumahnya juga belum ada kamar mandinya.
Jadi kalau mau mandi, mas -masnya mandi di sungai.
Mbak -mbaknya mandi di bilik mandi dekat proper kalian nanti.
Lah, kalau mau buang hajat di mana, Pak?
Buang hajat?
Karena sungainya nggak terlalu dekat dari sini, warga udah biasa. Kalau mau
buang hajat...
Gak harus nyangkul tanah dulu.
Waduh.
Ini kok tuh gak biasa, Pak.
Ngapunan, Pak.
Tadi di jalan saya dengar suara gamelan.
Apa ada desa lain deket sini?
Gamelan?
Gih, Pak.
Tak pikir lagi ada hajatan.
Oh, gak mau.
Kapan kurung -kurungan gitu.
Di jalan?
Itu cuman rongor -rongor mbak aja.
Gak usah dipikirin.
Sekarang saya hantar tempat tinggal kalian ke masjid ini ya.
Iya, Pak.
Bu.
Mas, Mbak.
Ini Ibu Sundari.
Nanti untuk sementara, mbak -mbaknya akan tinggal di rumah Bu Sundari.
Mas -masnya akan tinggal di posyandu sampai posko yang lebih besar sudah
Ya? Iya, Pak.
Bu, tutup arek -arek ya.
Saya butuh saget nolak, kan?
Ayo, Mas.
Kita ke posyandu sebelah ya.
Terima kasih.
Wait. Itu tadi gamelan -gamelan maksudnya apa?
Emangnya kamu gak denger?
Bu jaga sikap, wait, wait.
Masuk baru nyampe lah semuanya yang gak -enggak.
Aku kiwes janji kalau kita semua bakal jaga sikap.
Makanya Pak Prabu ngijinin kita.
Kalau ada apa -apa aku yang kena.
Bu.
Di desa ini hampir semua rumah itu terbuat dari anyaman bambu.
Jadi kita bisa dengar apa saja yang kalian bicarakan dan apapun yang kalian
pakai.
Nur, kamu juga dengarkan?
Aku terus, ya.
Nanto.
Gak bisa, mbok. Tahan, tas.
Serius ini mau gali lubang. Iya, iya.
Masalah aku, ton.
Ini aku dengan dari kemarin. Mulus aku, ton.
Ini masih di ujung banget.
Gali, ton.
Gali.
Udah, aku yang nemenin, mas. Aku yang gali.
Suraka kamu, yuk.
Masuk surga kamu, ton.
Cepat gali, ton. Emu.
Udah, kamu yang gali. Aku yang pegangin petormaknya.
Jancu!
Jaya yang masih fresh!
Gila, nih.
Tapung mukapan, yuk.
Pak, apa siare ini?
Takut masih ada yang nempel di pantat.
Pagi.
Pagi. Wah, wangi ini, Rek. Rek, kamu ya, Bim, yang pakai minyak wangi?
Bukan. Itu, Wahyu, biar dikira habis mandi.
Benceli tegak mambu.
Baik.
Widya, kamu sudah mandi?
Kalau Widya, mandi gak mandi, pancet lah. Ayo, Rek.
Kayak aku maksudmu.
Ayo, toh.
Selamat pagi, Mas.
Selamat pagi, Mbak E.
Selamat pagi, Pak.
Akhirnya aku tau loh, si wangi itu ini.
Ternyata kalian lebih wangi.
Sudah mandi, Mas?
Sudah, Pak Prabu, sudah.
Sudah asem. Mas Fahim, suai.
Yuk, kita lanjut muter desa lagi.
Oke, Pak. Ayo.
Oh, ini proker utamanya. Iya,
Bim.
Nih.
Kalau proker kalian berhasil, sinden ini akan hidup
kembali jadi sumber air desa kami.
Sinden, Pak. Iya, itu kami menyebut tempat ini.
Jadi, Mbak Ayu, penduduk semua sudah siap.
Nanti tinggal pengelompokannya gimana?
Siap, Pak.
Pak, itu apa?
Oh, itu penduduk kami masih menghargai adat istiadat leluhur.
Itu salah satu cara kami untuk...
menghargai semesta dan penduduknya.
Tak kira gawe nyeluk setan, Pak.
Lapa nyeluk setan?
Sindik ngarep, wae pole sekolok setan.
Tidak apa -apa,
Pak.
Di Pancasila ini adalah kampus.
Ketayangan bertahun -tahun di kampus. Apa yang bisa kita lakukan?
Nah ini kuburannya penduduk Nisan.
Kenapa
banyak
batu Nisan yang ditutupi oleh kain hitam?
Gak ada istimewanya, Mas.
Ini cuma penanda kalau kuburannya belum berusia 10 tahun.
Oke.
Kayaknya gak ada yang perlu dibahas, Mane, ya?
Mas! Mas!
Mas! Mas! Mas! Mas! Mas!
Mas! Mas! Mas! Mas! Mas! Mas! Mas! Mas! Mas! Mas!
Mas!
Sampai nilang jalan ya?
Ilik, Pak.
Menang ya, Mas?
Ayo.
Sebagian besar warga desa sini tani jagung.
Makanya setiap hari,
Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya ya di ladang ini.
Pak, itu jalan menuju kemana?
Itu ke hutan.
Gapura itu batas antara desa dan hutan.
Saya minta kalian semua jangan ada yang mendekat ke situ ya.
Apalagi sampai nekat.
Kalian semua masuk ke dalam tentu.
Apa, Pak?
Warga desa kami menyebutnya dengan nama... ...Tapak Pilas.
Itu bukan wilayah kami.
Ayo.
Nur! Udah enak, An?
Anak -anak udah pada di depan.
Lagi mau bahas tugas kelompok.
Yuk!
Mas,
minta ini suhu, yuk.
Iya, gak apa -apa, Nur. Sekarang,
bagi proker yang lebih kecil buat perkelompok.
Yang pertama, Widya sama Wahyu.
Terus, Nur, Anton.
Terakhir aku sama Bima.
Kak, dibagi jadi bertiga aja yuk.
Biar Widya ke kita, Wahyu ke Anton sama Nur.
Jangan, Bim.
Biasanya kalau bertiga, yang satu jadi nganggur.
Biar kita bisa punya tiga broker.
Jadi lebih manfaat.
Nur, kok gak harap adus?
Malus aku.
Dan ini aduh.
Ayolah, gak ngerasa lengket, tak?
Kita tuh belum mandi dari kemarin.
Ya, wes, kamu aja. Aku sesok.
Gak wahannya aku dewa, Nur.
Kan cani.
Ya, wes.
Tapi aku sih gak adus disek, yuk.
Yuk.
Perasaan aku gak liat yang seumuran kita, Nur.
Ya, mungkin anak -anak mereka merantau.
Ya, maksudnya gak ada yang tersisa sama sekali.
Aneh.
Kau ini butuh alat manji gak?
Jangan masalah.
Nur, jangan lama -lama ya.
Terima kasih.
Terima kasih.
Nur? Apa yang terjadi, Nur?
Kamu kejar iman, tidak?
Jangan lama -lama ya.
Ya.
Desa saya?
Ya, jangan lama -lama.
Dengar suara dari Gopura itu.
Terus aku disamperin.
Ternyata gak ada apa -apa.
Loh, bukannya Pak Prabu ngelarang ke sana?
Gak ngerti aku.
Loh, Bima itu udah punya pacar belum?
Hmm, pantai. Cuman mau berduaan prokernya.
Nur, ada nangdi?
Neng ngomai Pak Prabu, dia mau aku tanyain.
Takkan jadi, yo?
Gak usah.
Mbah, kopi.
Ini kopi terluka, siapa ya, Mbah?
Mbak Nur, tuh.
Kenapa punggih -punggih?
Ayo, ayo, duduk, duduk. Sini.
Sepurani saya ganggu, Pak.
Gak apa -apa, apa -apa.
Isi.
Kenapa?
Ada yang mau saya tanyakan, Pak.
Beliau ini, Mbak Buyut, warga desa seberang.
Tapi sudah jadi tetua di sini.
Tapi gak usah sungkan.
Kalau ada yang mau ditanyakan, tanyakan aja.
Jadi
gini,
Bapak.
Semenjak saya datang ke desa ini,
Saya ngerasa ada yang
aneh.
Awalnya saya pikir saya salah lihat, tapi...
Diminum dulu kopinya.
Enggak baik menolak pemberian tuan rumah.
Ini memang dipersiapkan untuk kamu.
Sebenarnya mbak saya gak biasa minum kopi. Monggo, diminum dulu.
Manis.
Apa yang kamu lihat adalah makhluk yang menguasai tempat ini.
Dia satu dari ratusan penghuni desa.
Desa yang tidak semua orang bisa lihat.
Dia marah.
Karena apa yang kamu bawa ke desa ini?
Apa yang saya bawa, Mbah?
Senangai, senang kini, wis, jadi tanggung jawab.
Nur?
Nur?
Terima kasih.
Tari kok bengi -bengi
Ini mau membahas yang tadi malam, yuk.
Perasaanmu Pak Prabu gak dengar soal kemarin.
Kan aku es ngomong.
Gak usah aneh -aneh.
Terima kasih.
Ini kopi tajamu, Simba.
Kenapa cuma dilihat tajam, Duk?
Ayo, diminum kopi ini.
Ngapun ten, mba.
Saya gak minum kopi.
Lambung saya gak kuat. Tegu ain, tuh.
Ayo, duk.
Kamu itu anak gedih anget yang seperti kamu ini,
gampang disukai mereka.
Kunir ini bisa bantu...
menangkal mara bahaya di sekitar sini.
Pokoknya, kamu tenang saja.
Mau? Mau, Pak.
Gak jadi mau, Pak.
Soon.
Pak, kenapa tadi cuma saya yang rasa kopinya manis?
Kopi irang itu biasanya kita pakai buat persembahan untuk anak moyang kita.
Bangsa halus senang sama kopi.
Soalnya buat mereka rasanya manis.
Saya aja suruh minum kopi itu.
Rasanya mesti pahit.
Mungkin memang sedang ada yang mengikuti dan...
Tertarik sama Mbak Widya.
Tapi, ojo tidak ada kepikiran.
Ya? Mbak Widya pasti bantu kok.
Oke.
Sekarang, adik balik.
Ngok, naik ono opo -opo.
Sampai ngomong saya.
Oke?
Oke, Pak.
Oke, ayo.
Nur, Bima kau aneh banget ya?
Aneh gimana?
Gimana ya jelasinnya?
Aku tuh malam -malam sering denger suara Bima desah.
Anehnya, ada desahan suara perempuan juga dari kamarnya.
Uar kamu, Ton.
Sumpah aku, Nur.
Aku tuh juga bingung banget.
Bahkan lebih parahnya lagi, aku pernah nemu sesajen di kamarnya. Ton, aku
kalau Bima itu esuwe.
Aku ngerti banget area kaya apa.
Gak mungkin kaya mana.
Eh,
apa sih?
Toh, percaya aku sekarang.
Jadi mulai malam ini, kalian tinggal disini.
Jangan repotin Bu Sudari terus.
Suan, Pak.
Nanti kamar emasnya sebelah sana.
Kamar mbak -mbaknya sebelah sana.
Dan ingat, jaga sikap.
Oke? Oke, Pak.
Ya?
Yowes. Kalau begitu, tak pulang dulu.
Monggo selamat istirahat.
Ya? Suan, Pak.
Yowes.
Nur,
kita lihat -lihat dulu ya.
Kalau tidur jangan lupa maram, Nur.
Untuk apa sih?
Yuk, arah -arah nang di.
Nang kamar.
Terima kasih.
Betul. Betul.
Nih, aku disantet, Wid.
Pete... Minum segera.
Iya, ibu.
Bersenang -senang.
Nonton bilang, gak mungkin kan Nur?
Mes, kamu istirahatai.
Mas Min, hilang.
Hilang?
Kenapa?
Kan aku minta kamu kasih kawaturi itu ke Widya.
Sepurane, Bim.
Aku beneran lupa di mana aku taruh.
Emangnya buat apa sih kamu kasih benda seperti itu ke Widya?
Ya apa sih, Yu?
Kan aku sudah percayakan itu ke kamu.
Malah kamu ilangin.
Salah yuk percaya sama kamu.
Kamu gak ngerti.
Pak Prabu, tadi di dalam ada ular besar.
Tapi saya ini kok gak ada.
Bayu,
kenapa gak ada ular di dapur?
Saya sih gak ngeliat ada ular, Pak.
Justru pas saya lagi di dapur, bapak -bapak ini main dubra pintu aja, Pak.
Benar, Pak.
Ini kira -kira ada ular di dapur.
Pak Nur, diomong -omong di rumah, ya?
Dari kemarin sudah ada beberapa kejadian.
Apakah lebih baik kalian sudah iajak kakaknya?
Loh, Pak.
Rokor kami kan belum selesai.
Kejadian tadi itu cuma salah paham, Pak.
Pak Nur paham, kan?
Kenapa saya bicara seperti ini?
Nur.
Nur.
Kok engkau setuju sih ke arah Papa Prabu?
Kau is banget kok, Niko.
Justru aku mikirin awak mukabe, yuk.
Mikirin aja itu sih dia.
Dia yang dari awal cari perhatian terus.
Kau mau sih?
Yuk.
Aku karun lho, bila ular nangkamari kocomu iku, bapakmu kiper, kocomu iku,
mamu saiker.
Eh cuk, kau gak sadar gak, bimba iku tambah aneh air.
Ya makanya.
Ngerti aku.
Assalamualaikum. Waalaikumsalam.
Eh,
Nur.
Tadi Pak Prabu ngomong apa?
Widya karo Bima mana?
Widya nang kamar.
Bima sejak tadi ono ribut -ribut yang gaono.
Ya, paling dia sibuk sama Prokere.
Aku tuh sering liat anak duaiku gaono di lokasi Prokere.
Jangan -jangan mereka nang tapak pilas.
Tapak pilas? Tapak pilas.
Ngawur, Ariku.
Setempat terlareng loh, Nur.
Pak Prabu ya suanti -wanti sejauh.
Ton.
Kita ikut butuh berapa lama yuk sampai prokursi Indermari?
Udah mulai.
Emang oleh karo kampus.
Kita bisa gak lulus lho, Nur.
Nur, besok aku mau ke kota. Tuku pipo. Awak mau niti popo?
Yuk, belok yuk.
Cudap, Dasku.
Sayang sekali anton ku konco pleku.
Aku is ngajak ku dia.
Lebih enak gonceng cewek cakep dibangannya awakmu, cowok.
Nengiseng aja, minta ditemenin.
Waalaikumsalam, Bim.
Kondi, Bim.
Kamu gak sembahyang tadi?
Udah lama aku gak pernah lihat kamu sembahyang.
Ibadahku ibadahku, duduk urusanmu.
Kon gak perlu tahu.
Nur,
ibadahku kok gak ditanya, Nur?
Nur,
di NU ini banyak warga saya yang ngijin, tak kerja.
Wah, yuk Karuidia mulai bengkak ya.
Ton,
Tapa Imas yang kalian semalam ceritakan itu dimana?
Kenapa kok tiba -tiba tanya?
Loh, enggak.
Aku cuma pengen tahu aja.
Nah, waktu kalian keliling para prabu, aku gak ikut.
Awakmu ngerti, di sana ada ladang jagung.
Di dekat ladang jagung ada Gapuro.
Lah, Gapuro itu pembatas desa Karawalas.
Nek melebunan kono, jenengnya tak patilas.
Tapi yo, aku gak ngerti. Tak patilas itu apa?
Pokoknya, para prabu itu santu -santu.
Jangan lewat situ.
Kenapa?
Kan kamu sendiri yang bilang kita harus menghormati apa yang warga desa setempat
percayai.
Apa yang berlaku disini?
Tidak, Nur.
Tidak ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi, Nur.
Bagaimana, Nur?
Apa yang terjadi, Om?
Apa yang terjadi di tempat ini?
Nur, tolong, Nur. Diam!
Bukan itu yang terjadi, Om.
Aku kayak gak ngerti agama.
Aku gak ngerti gue udah ngomong apa sama yang lain.
Nur.
Nur, Nur, Nur.
Udah
semua
ya? Udah.
Berapa bungkus?
Enam bungkus.
Tambele dipisah apa dicampur, Mas? Pisah lah.
Masnya sama Mbaknya ini bukan orang sini, ya?
Kelihatan. Terus Masnya tinggal di mana?
Jauh, Mas.
Pokoknya masuk hutan. Nah, di sana itu ada desa yang namanya... Masuk hutan,
Mas.
Gini, Mas.
Kalau pesanku, Mas.
Mending Masnya sama Mbaknya.
Cari penginapan aja.
Jangan masuk hutan malam -malam.
Orang yang asli gini aja, mbak. Enggak berani lo masuk hutan malam -malam.
Apalagi masnya sama mbaknya bukan orang sini.
Nanti takut kejadian aneh -aneh, mbak.
Kan mau.
Huyon aku.
Enggak boleh lo mas aku ngajak anak gadis nginep. Kecuali kalau DE mau, aku
banget. Tidak apa -apa. Aku nanti langsung pulang aja. Ngebut aku.
Yaudah. Kalau masnya sama mbaknya sudah nekat.
Nggak mau nggak.
Tapi inget, Mas. Kalau Masnya sama Mbaknya sudah masuk hutan, hati -hati.
Pikirannya jangan kosong.
Pokoknya, tanyakin berdoa.
Nanti kalau ada suara atau kejadian yang aneh, nggak usah dihiraukan, Mas.
Masnya lurus saja.
Baiklah. Oke, Mas. Oke.
Ya, Mas. Udah dipirok, Pak.
Lima lah saya mau, Mas.
Wid, ngobrol, Wid.
Biar aku tahu kamu masih ada di belakangku.
Jah, letir aja cepetan.
Makin gelap nanti.
Gimana, yuk?
Kalau tiba -tiba sepeda motor itu mau ke isomate kita.
Di tengah hutan gini kan mana ada bengkel.
Jangan berhenti.
Jalan terus aja.
Widya, tunggu aku, Wid.
Widya, tunggu aku.
Gimana kalau aku lihat yang enggak -enggak?
Jaga hubunganmu, yuk.
Karena hubunganmu kita tuh jadi sial. Lu harus tunggu aku.
Ada yang hajat.
Kamu dengar juga?
Yuk, ingat gak apa kata Mas Cilok tadi?
Kalau ada yang aneh, kita jalan aja.
Anggap gak ada apa -apa. Yuk.
Kamu lihat juga kan, Wid?
Jejek, Wid.
Berarti orang.
Bukan demit.
Ayo. Ojo wadi. Ada aku.
Bapak. Bisa bantu.
Tolong dewangi.
Ya, Pak.
ayo ayo ayo
ayo
Terima kasih telah
menonton!
Yuk,
kita pulang.
Pulang.
Masuk, masuk.
Lagi ya.
Terima kasih, Pak.
Kita pulang saja.
Kalian gak ngerti, sih.
Kita ini di desa orang.
Malu.
Gak bisa usir awak, dewe.
Gak punya otak, kan, Bim?
Gak bisa kok diikutin.
Sekurang -kurangnya, lor.
Aku nyesel, lor.
Sehingga aku mengerti maksudnya, Anton.
Dia sering dengar suara uang wedok di kamarmu.
Maksudnya, Nur?
Tidak ada tanggungan, Dewi.
Aku mau cerita sesuatu.
Bagaimana sih, Rek?
Belum makan lagi.
Mau cerita apa?
Kalian percaya gak? Tadi pas perjalanan mulai, di tengah alas, motornya sudah
berubah. Moga.
Tapi tiba -tiba, ada orang tua yang menolong aku.
Dan aku mengambil dia di jalan hajatan.
Aku kaget, aku kaget.
Hajatan? Iya, itu hajatan.
Itu bangunannya wakil.
Wena, wena.
Dan di sana, re, itu ada penari. Sing ayunnya bol.
Itu bodinya kaya gitar Spanyol. Rasanya pengennya peti, peti.
Kenceng kok.
Pokoknya aku warag rugi, kan gak melewati cowok.
Emangnya ada desa ini?
Ada. Ya udah beres.
Ya ada.
Setahu ku, ini satu -satunya desa yang tengah halas. Eh, temenan cowok. Ada
yang deket sini.
Yo,
Pak Prabu kita cerita ini desa satu -satunya.
Mas Ilham yang ngomong -ngomong dengan aku.
Wid, tapi tadi ada kan, Wid?
Ada kan, Wid? Eh, nangguk, Wid.
Well, mana oleh -oleh teko hajatan tadi? Tunjukin ke mereka kalau kita nggak
ngawur. Mana, mana, mana?
Nggak percoyong sama aku, Wid.
Ya.
Ada lagi sih yang aku gak ngerti soal kejadian tadi.
Ojo diterus noyondu.
Luih api, awakmu gak usah meluk -meluk.
Timbangani, awakmu kenik balik.
Tak saranu, awakmu gak usah meluk -meluk.
Meluk -meluk apa?
Wih.
Aku ngajani sopo sing ono nang burimu saiki.
Tapi aku gak bakalan ragu.
Gue nyelokoi awakmu.
Nih awakmu melok -melok.
Ngerti enggak?
Terima kasih.
Terima kasih.
Aku hilaf, Nur.
Cuma sebatas hilaf, Bim.
Demi Allah.
Aku berharap semuanya terjadi.
Kau tak tahu aku, Sekner.
Aku mohon.
Waktu itu... Aku
mimpi.
Mimpi ini kerasotan.
Aku kerasotan.
Aku kerasotan.
Aku kerasotan.
Aku kerasotan.
Widya! Widya!
Wid!
Widya!
Widya!
Dia gak bakal bisa lepas dari jerat ular.
Kamu siapa?
Panggil aku, Dao.
Temanmu sedang terjerat dalam ritual lama desa ini.
Aku bisa menolongnya.
Bila kamu mau mendengarkan dan mengikuti semua
yang kuperintahkan.
Pergi ke Tapak Tila.
Dikubuk dekat sanggar.
Kamu akan menemukan gawat turib ini.
Berikan kepada temanmu untuk melindunginya.
Hanya ini yang bisa kamu lakukan untuk menyelamatkannya.
Dan setiap malam, kamu harus menemuiku.
Aku akan menjaga temanmu.
Dan jika kamu menuruti semua yang kuperintahkan, kamu pun akan
mendapatkan apa yang kamu inginkan.
Seutuhnya, itu janjiku.
Demi Tuhan.
Waktu itu, saya tidak memikirkan keselamatan ini, Dianto.
Terus perempuan yang antun denger di kamar ikus apa?
Seng tak iling.
Kota Anitam.
Terus menghantu ikusnya.
Gawaturi itu sekarang dimana?
Aku gak tahu, Nur.
Aku gak tahu. Aku mau makan malam.
Aku bisa mencelakakan Widya.
Aku juga pernah mimpi Widya dirilis ular.
Itu tanda, Bim.
Aku mohon... ...jangan sampai anak saya merampok.
Aku ikhlas mendanggung semuanya.
Aduh, gak kececik banget.
Kita cari, Pak Bapu!
Kita
juga
gak ngerti, Pak.
Waktu Bima sama Nur datang, Tiba -tiba warga pada kesurupan, terus nyerang
Sekarang, mbak, dorinya mana?
Doron, mbak, kering kosko.
Mohon kita awal elemen, pak.
Ayo.
Ayo.
Ayo.
Nur?
Lapo kamu?
Terima kasih.
Jangan lupa
like,
share,
dan
subscribe
Sengkawai pola dusau, bakal isok pola koi putuku.
Aku gak bakal ngumpal putuku.
Isok hijau koi pola alus nangkeni.
Warindo.
Mereka kuali cek pancet.
Mereka kuali cek
pancet. Mereka
kuali cek
pancet.
Takut -takut, Nur.
Aku masih gagal jaga kamu.
Aku masih gagal.
Apa sih rencanamu?
Awamu mau ngakuin apa?
Jelasin sekarang, semuanya.
Gak ngerti aku.
Awamu ngomong apa sih?
Ditaswid ya.
Aku nemu kawaturi.
Aku juga ketemu selendang hijau di tas kamu.
Ikut kamu yang naruh kan?
Dapet dari mana selendang ikut?
Lewatan kan ikut, Nur.
Buat apa kamu bongkar -bongkar barang pribadiku, Bang?
Selendang itu punya aku. Kawatur ikut dari Bima, say.
Bima dapet ikut seladai mimpi.
Dan kamu tahu siapa yang ada di mimpinya?
Kucin, yuk.
Selendang ikut kamu dapet dari mana?
Dari jin yang sama.
Gue takut ke rumah Pak Prabu, jelasin semuanya di sana. Yo, yo, yo.
Memang aku yang naruh di tasnya Widya.
Bukan karena Bima yang nyuruh.
Siapa?
Memang awalnya Bima yang minta aku memberikannya ke Widya.
Tapi gak kulakukan.
Sampai seorang penari perempuan mendatangiku.
Dia yang memaksaku.
Sebagai gantinya, dia memberikanku selendang
hijau yang bisa memikat Bima.
Kita ke posko sekarang.
Aku mau bicara sama kalian.
Kita pulang.
Sudahi kakak ini.
Ya apa sih?
Memang ini gak bisa. Kita berjuang dulu sampai selesai.
Yuk. Aku
memang salah,
Nur.
Tapi aku mohon, Nur.
Kita harus selesaikan kakak ini, Nur.
Kita semua bisa kena masalah, Bing. Kayaknya tempat yang kita pilih ini gak
beres.
Kan kamu yang pilih tempat ini, ha? Bukan tempatnya yang salah.
Kita yang salah.
Jadi besok kita pulang, Nur.
Bim!
Bima?
Bima?
Bima.
Bim!
Kamu daus yang paling kutunggu.
Kamu wangi sekali.
Di sini ayo, Dul.
Di
sini
ayo, Dul.
Jangan lupa like, share dan subscribe
ya.
Terima kasih.
Aduh.
Aduh.
Yang saku! Yang saku!
Mbah. Mereka menganggarkan aturan cinta yang paling penting, Mbah.
Ambil ini, Mbah.
Kamu tahu benda apa ini?
Keduanya milik sang penari, penguasa desa ini.
Jauh. Jauh itu duduk jenang.
Itu gelar gawe sang penari.
Namanya Badarawuhi.
Tawat Puli ini hanya bisa dipakai
oleh dawah yang dipilih.
Selendang hijau ini digunakan untuk memikat
siapapun. Yang dia inginkan.
Lalu teman saya gimana mba?
Saya mohon tolong mereka ya mba.
Submani.
Ditahan di angkoromurko.
Semoga dia mau melepaskannya.
kalian tunggu di sini.
Terima kasih.
Aku ngikutin Bima, Nur.
Bima nangkut.
Terima kasih.
Sukma kedua temanmu terjebak nang angkor murkoh.
Ular -ular yang kamu lihat itu adalah anak -anak Bima
dan Badarawuhi.
Sementara Ayu sudah dijadikan dawuh yang baru.
Seng harus terus -terus menari.
sejengkal demi sejengkal tanah di hutan ini.
Mereka dihukum karena perbuatannya.
Nek Sengilku, mbah gak bisa berhenti.
Maaf, Ndut.
Mbah lalain jogo mereka.
Terima kasih.
Dulu nenek moyang kami percaya, dengan menumbalkan anak
-anak perempuan, desa kami dijauhkan dari kemarangan.
Nisan yang dililitkan hitam yang mbak lihat adalah makam -makam
korban punggul pada saat desa ini masih terjebak dalam gudang
tipis.
Sanggar ditapak jelas.
Dulu adalah tempat pertunjukan tari.
Bukan untuk wakil desa kami.
Desa lelembut yang dulu berdampingan bersama kami.
Pentingnya saya memang gagal menjaga kalian, Mbak.
Bagus ini salah, Pak.
Aku sih gak isu jago hari -hari.
Gak isu jago kepercayaan bapak.
Nur, ayo kita pulang.
Sampai jumpa.
Saya meninggalkan desa dengan perasaan bersalah.
Yang tidak bisa hilang sampai sekarang.
Aku terakhir kalinya sendelopak berambu karobah, Bu.
Sampai saat ini, kami gak tahu meronokannya.
Mungkin Mbak Norwes ngomong.
Untuk menghormati kedua almarhum teman kami,
tolong samarkan semua nama kami
dan nama desoiku.
Oke, baiklah.
Yai.
Yai tahu ada sosok yang menjaga saya?
Namanya Mbah Dom.
Dia sudah sangat lama mengikutimu.
Saya sudah pernah coba usir.
Tapi dia berjanji akan mencogokmu.
Di desa kemarin, dia benar -benar menepati
janjinya.
Kamu pasti sering merasa berat di bagian sini.
Itu berarti Badok sedang melawan makhluk yang coba
mengganggumu.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
sedia membantu saya untuk melakukan ritual Basu Seto.
Dengar baik -baik dan ikuti semua perintah saya.
Jangan ada satupun urutan yang salah.
Kalian juga harus tetap ingat untuk melakukan cucu saya selayaknya manusia.
Di hadapanmu sudah ada sebuah kentong.
Tuangkan air ke dalam.
Terima kasih.
Sebelum membuka keranda, pastikan tangan dan kakinya sudah terikat.
Mulailah mengikat dari kaki kiri.
Setelah itu, kaki kanan dan tangan kanan.
Jangan membuka keranda dalam kondisi cucu saya tidak teritam.
Bukalah penutup keranda dan taruh di bagian sisi kanan cucu saya.
Terima kasih
telah
menonton!
Kalian bisa melepas tali di tangan kiri saat membahas umum.
Namun,
Dan cucu saya terikat kembali saat ritual sudah dilakukan.
Terima kasih telah menonton.
Sampai jumpa.
Aduh. Gak apa -apa, gak mau mandiin.
Aduh. Aduh.
Aduh.
Aduh.
Apa cuy?
Tapi rusak mbak.
Tapi kamu udah selesaikan semuanya kan?
Enggak mbak, enggak semuanya mbak.
Ini aku tangan yang ganjel.
Sikil lu, Cun.
Sikil lu, Pak Nu.
Saya ngekim, Mbak.
Iya, cepet.
Terima kasih.
Terima kasih.
Terima kasih.
Terima kasih.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.