All language subtitles for Sebelum 7 Hari 2025 idcp

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional) Download
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German Download
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Ayo, Mbak.

- Hanif, kamu kencang banget, sih! - Iya, dong!

Ayo, Mbak!

Ini kembaliannya 35.000, ya, Bu.

- Terima kasih, ya, Mbak. - Terima kasih, Bu.

Bian, Hanif.

- Ini kenapa pada lari-lari, sih? - Aku menang!

- Iya lah, kamu lari duluan. - Ya, Allah…

Bajunya basah kuyup, keringatan.

Langsung ganti baju, ya. Terus kita makan bareng.

Wah, pas sekali. Lagi lapar.

- Pakde! - Pakde Kadar.

Jagoannya Pakde, nih.

Kalian kok makin tinggi sekarang?

Iya lah, tiap hari disuruh minum susu sama mama.

Tapi bikin sakit perut.

Hanif, Bian, ayo ganti baju dulu.

Nanti masuk angin, itu bajunya basah semua.

Kami ganti baju dulu, ya, Pakde?

Nih.

Aku tidak bisa, Mas. Begini terus.

Kamu kan lihat sendiri, Bian sama Hanif sudah makin besar.

Kamu tuh ya cari lah kerjaan yang…

Aku ke sini bukan untuk ini.

Terus apa?

Ini soal Ibu.

Aku sudah bilang, Mas!

Jangan hubungi kampung lagi.

Bukan aku! Mbok Yati yang menghubungi langsung.

Kondisi Ibu sudah parah, katanya.

Ibu sekarat, Tar.

Mungkin Ibu menunggu kita.

Aku paham, kamu sulit memaafkan Ibu.

Ya nggak cuma aku, Mas.

Yang dibuang sama Ibu itu kita berdua, kok.

Tapi sekarang saatnya kita mengalah.

Siapa tahu kita dapat jawaban atas pertanyaan kita selama ini.

Aku sudah nggak perlu jawaban dari Ibu.

Apa kamu yakin tidak akan menyesal kalau terjadi sesuatu dengan Ibu?

Kita pulang, ya?

Sudahlah, Mas.

Aku mau makan bersama anak-anak.

Kamu mau Bian sama Hanif mencontoh kamu?

Nggak peduli sama ibunya.

Pakde.

Rumahnya masih jauh nggak, sih?

Hanif, kamu sudah tanya tujuh kali, ya, "Masih jauh nggak?"

Dihitung segala.

Si Mbah kaya, ya, Ma?

Ya ampun, Mas Kadar!

Mbok Yati!

Silakan masuk!

Ayo, masuk kita.

Hati-hati.

Si Mbah cantik sekali, ya?

Ya, ini kan pas masih muda.

Kalau sekarang, pasti sudah kayak nenek-nenek.

Mbok Yati sekarang menginap di sini?

Iya, Mas. Semenjak kondisi Ibu makin parah.

Kasihan, Mas, kalau Ibu ditinggal sendirian.

Kalau lagu ini dimainkan, biasanya Ibu tenang.

Bu.

Ibu?

Ini aku, Kadar.

Bersama Tari, pulang.

Cucu Ibu juga ikut pulang.

Bian, Hanif, ayo. Salaman sama Mbah.

Bu, Tari bawa anak-anak Tari.

Ini Hanif.

Bian.

Ini Bian, Bu, anak perempuanku.

Mbok! Bu!

Mama!

Mbok!

- Bu. - Sudah.

- Bu. - Nggak apa-apa.

- Bu. - Sudah, nggak apa-apa.

Sudah.

Nggak apa-apa.

Nggak apa-apa, ya?

Jeng, ini Mbah mau ketemu cucu-cucunya.

Jangan bikin kaget, cucumu jadi takut.

Nggak apa-apa.

Si Mbah sakit apa sih, Ma?

Si Mbah umurnya berapa?

70 tahun.

Kok kelihatan muda Mbah daripada Mama?

Hanif, Bian.

Kalian mau lihat kamar Mama waktu kecil?

Tuh.

Hanif, tunggu!

Tar, ini ada yang nggak beres sama Ibu.

Kita harus mencari penyebabnya.

Aku mau istirahat dulu, Mas. Capek.

Hanif.

Dek?

Hanif.

Hanif!

Nggak lucu, tahu!

Mama, tuh lihat Hanif bikin kaget saja.

Malas ah, Mbak tukang ngadu.

Biarin!

Ini kursi Mama?

Punya Mbah.

Kok ditaruh di sini?

Ya, suka-suka yang taruh lah!

Cuma tanya!

Sudah dong, kok bertengkar terus?

Kayak Mama sama Pakde Kadar, ya?

Mbok, sudah berapa lama kondisi Ibu seperti ini?

Kurang lebih…

sebulan.

Kenapa tidak segera kasih kabar?

Sebelum sakit parahnya, Ibu…

Ibu pesan jangan memberi tahu Mas Kadar dan Mbak Tari.

Memang Ibu saja yang nggak mau kita pulang, Mas.

Mohon maaf, Mas, Mbak.

Setelah dokter sudah tidak bisa apa-apa lagi,

Mbok tanya ke Ki Husein,

Ibu ada yang ganggu.

Ki Husein siapa, Mbok?

Orang pintar di daerah sini.

Sebentar, jadi sebenarnya Ibu kenapa?

Menurut Ki Husein…

Bukan kata Ki Husein, Mbok, kata dokter.

Dokter bilang apa?

Terakhir Ibu diperiksa dokter di puskesmas,

dokternya juga bingung, Mbak, Ibu sakitnya apa.

Mbok, Ki Husein bisa diundang lagi?

Mas, yang Ibu butuhkan itu dokter, bukan dukun.

Tapi ya terserah kamu lah.

Pokoknya, aku hanya tiga hari di tempat ini,

setelah itu aku dan anak-anak pulang.

Kamu mau sampai kapan menyimpan dendam sama Ibu, Tar?

Bagaimana kalau anak-anakmu menirumu?

Nggak usah bawa anak-anakku terus, Mas.

Ini urusanku dengan Ibu.

Hanif, makanya, taruh apa-apa tuh yang benar.

Ya, namanya juga lupa.

Merepotkan saja.

Ma, lihat mainan Hanif, nggak?

Hanif taruhnya di mana? Cari dulu.

Coba cari di luar.

Mbak, bantu adiknya.

Ayo, Mbak.

Tadi terakhir Adik taruhnya di mana, sih?

Ya kalau ingat, nggak hilang, Mbak.

Mbak Bian, Mas Hanif, mencari apa?

Mbok.

Mbok lihat mainan Hanif, nggak?

Mainan?

Aduh, nggak tuh, Mas.

Ayo, Mbok, temani Hanif cari.

Iya. Aduh, pelan-pelan, Mas.

Mama, tolong!

Ma! Tolong!

Bu!

Ibu!

Ibu!

Bu…

- Ibu! - Bian, Hanif, keluar!

Sudah, Bu! Ibu! Tenang, Ibu!

Ibu!

Ibu.

Ibu…

Ibu…

Ibu…

Ibu…

Bu…

Mbok, panggil Ki Husein ke sini sekarang!

Anak perempuan, ke sini.

Tumbuk daun kelor itu.

Berhenti.

Kamu ke sini.

Aku bilang tusuk,

tusuk.

Baik, Ki.

Tusuk!

Tusuk!

Tusuk!

Tusuk!

Tusuk!

Ibu!

Ibu!

Ini bukan sembarang susuk.

Jarum emas ini kuambil dari dalam ibumu.

Inilah penghalang sakaratul mautnya.

Simpanlah baik-baik.

Karena tujuh susuk emas ini harus dikembalikan ke tempat asalnya.

Baiklah. Saya akan menyimpannya.

Berhati-hatilah.

Mohon maaf.

Subuh ini tidak ada warga yang mau mengurus jenazah.

Kenapa begitu, Mbok?

Biarkan saja.

Jenazah Ibu Anggun tidak boleh diapa-apakan dulu.

Jangan diumumkan.

Jenazahnya tidak bisa dikubur ke dalam tanah.

Harus ditenggelamkan di goa batu

dalam telaganya.

Pada hari Kamis Kliwon.

Aturan dari siapa?

Siapa yang membuat aturan itu?

Memang ini tata caranya.

Yang tidak boleh kalian langgar.

Jenazah Ibu kalian bukan jenazah biasa.

Harus diingat.

Kamis besok adalah Kamis Kliwon.

Tujuh hari dari sekarang.

Mandikan jenazahnya subuh ini.

- Iya. - Setelah itu,

tutup dengan kain jarik.

Baik, Ki.

Tegarkan hatimu.

Hanif, Mbak, tidur saja, ya?

Masuk kamar, ya, Nak?

Ini yang terbaik untuk Ibu.

Kita harus ikhlas menerimanya.

Mbak masih takut, ya?

Tadi Mbah…

Hanif akan selalu jaga Mbak, kok.

Kira-kira di sana Mbah ketemu sama papa nggak, ya?

Menurutku nggak, sih.

Pas hidup saja nggak pernah ketemu.

Pergi sekarang…

Astaga! Ya, Allah!

Mbok…

Mama mana sih?

Lama banget?

Tadi katanya mau temani tidur.

Kayak anak kecil saja harus ditemani.

Pergi sekarang.

Pergi sekarang.

Mbak Tari, ada apa?

Mungkin Mbak Tari capek.

Istirahatlah.

Hanif…

Mama!

Bian! Ada apa, Nak?

Tadi ada Mbah di situ! Tadi ada Mbah di kasur, Ma!

Kenapa sih, Mbak?

Nggak ada, Mbak. Nggak ada…

Sudah, nggak apa-apa.

Hai, Teman-Teman, aku masih di rumah mbahku.

Lihat kolam renangnya. Besar sekali, 'kan?

SIARAN LANGSUNG

Tapi sayang, nggak ada airnya.

Hanif!

Ayo kita ngumpet!

Hanif!

Nif!

Hanif, kembalikan ponsel aku!

Hanif!

Hanif, kembalikan!

Hanif!

Hanif!

Hanif!

Hanif!

Hanif!

Nif!

Hanif!

Hanif!

Hanif?

Mbak…

Di lemari ada orang, Mbak!

Melewati jatuh tempo.

Berengsek! Bajingan!

40 juta.

20 persen?

14 hari. Cari di mana?

Aduh!

Tar, soal pembagian waris itu…

Gusti Allah, Mas!

Jasad Ibu masih di sini, Mas.

Bukan begitu, Tari. Surat-suratnya harus segera diurus.

Mas, kita tuh baru kehilangan Ibu.

Ibu juga meninggalnya nggak wajar.

Kamu tidak prihatin? Keterlaluan!

Aku juga prihatin, ini ibuku juga.

Tapi hidup kita kan harus terus jalan, nggak berhenti bareng Ibu.

Seharusnya aku tahu.

Nggak mungkin kamu ke sini tulus mau jenguk Ibu.

Tar, kalau aku nggak memohon ke kamu untuk ke sini,

apa kamu ada di sini sekarang?

Kamu yang simpan dendam ke Ibu.

Kamu yang punya prasangka buruk ke Ibu.

Kamu kan yang selalu larang aku cari kabar tentang Ibu.

Jadi, siapa yang tidak peduli dengan Ibu?

Hanif.

Hanif, kamu ngapain duduk di situ?

Hanif?

Nif?

Hanif!

Hanif, nggak lucu, tahu!

Maaf, Mbak.

Kamu dapat itu dari mana?

Kamar Pakde Kadar.

Itu punya Mbah, Hanif. Kembalikan.

Topengnya keren, Mbak.

Kalau Mbak pakai, Mbak bisa lihat Mbah. Coba pakai, deh.

Jangan sembarangan, Hanif.

Katanya orang yang baru meninggal itu

arwahnya masih ada di rumahnya selama tujuh hari.

Nggak percaya.

Biarin kualat.

Iya.

Ya sudah, kembalikan!

Iya!

Mbak, lagi apa sih di situ?

Mbak, sudah dong. Hanif mengantuk.

Mama!

Ada apa?

Ada apa, Hanif?

- Mbak Bian seram, Ma! - Seram bagaimana, Hanif?

Kenapa, Nif?

Sama Mama, ayo.

Nggak apa-apa. Nif.

- Ada apa, Mbok? - Nggak tahu, Mas.

Mbak?

Kenapa, Ma?

Tadi Mbak Bian wajahnya…

Hanif, nggak bohong, 'kan?

Hanif nggak bohong, Ma!

Hanif mimpi mungkin.

Hanif, kamu tidur lagi, ya?

Hanif nggak mau tidur sama Mbak Bian.

Hanif, apa sih?

Sama Mama, ya?

Hanif tidurnya sama Mama juga, ya?

Nggak apa-apa, yuk.

Nggak apa-apa, Sayang. Hanif mimpi saja. Kecapekan, ya, Nak?

Nggak apa-apa.

Istirahat lagi, ya, Nak.

Ini dapat dari mana?

Hanif, dapat dari mana?

Kenapa, Nak?

Hanif minta maaf, ya?

Hanif sudah ambil topeng yang bukan punya Hanif.

Tapi Hanif nggak bohong, Ma.

Hanif sudah kembalikan topengnya.

Kenapa Hanif ambil?

Ya, soalnya kalau Hanif pakai topeng itu, Hanif bisa lihat Mbah.

Maksud Hanif?

Iya, kalau Hanif pakai di depan cermin,

Hanif jadi Mbah.

Kaya Mbah yang di lukisan itu, Ma.

Iya, biar kayak Mbah, 'kan?

Tapi Hanif nggak boleh ambil sesuatu yang bukan milik Hanif.

Ya?

Nggak diulang lagi, ya, Nak?

Kita kapan pulang sih, Ma?

Hanif sudah nggak betah di sini.

Setelah kita kubur Mbah, ya.

Besok Mama cari tiket pulang.

Masih marah, ya?

Nggak, aku nggak marah.

Kamu takut?

Aku juga.

Mulai sekarang, nggak cuma Hanif yang menjaga Mbak.

Mbak juga bakal menjaga Hanif.

Oke.

- Tapi… - Tapi apa?

Pinjam ponsel.

Satu jam.

Dua jam deh.

Satu jam.

Tiga jam, kalau nggak, aku marah, nih.

Nah, gitu dong.

Bian?

Hanif?

Bian?

Hanif?

Tidur. Udah.

Ayo?

Mbok, kita ke kotanya besok pagi saja, ya, Mbok?

Nanti kehabisan tiketnya, Mbak.

Mobil travelnya hanya ada tiga hari sekali.

Tar, sudah pergi saja. Aku yang di sini.

Ya sudah, aku titip anak-anak, ya, Mas?

Iya.

Aku serius.

Iya!

- Ayo, Mbok. - Ayo.

Mama?

Ma?

Pakde?

Mbok Yati?

Nggak ada orang, Mbak.

Masa kita ditinggal berdua?

Karena kita tidur, makanya ditinggal.

Ya sudah, tunggu di luar saja, yuk.

Mbak, coba telepon Mama.

Kamu membawaku ke mana?

Ini hadiah untuk keponakanku.

Bagus, 'kan?

Rumah ibuku isinya setan.

Setan dari susuk Ibu.

Aku akan menjualnya.

Untuk membayar utang.

Aku sungkan sama Tari merepotkan terus bertahun-tahun.

Buntu!

Maaf.

Apa itu?

Rumah siapa ini? Rumahmu?

Beli rumah baru saja…

Beli yang baru, mobil, motor.

Rumah ini dijual saja, Dik.

Beli yang baru.

Lemari ini diganti, tempat tidur diganti. Ganti semuanya.

Aku bakalan kaya raya.

Aku mau beli tujuh rumah.

Mobil, motor, ruko juga.

Rukonya buat Tari untuk berdagang.

Untuk masa depan Hanif dan Bian.

Hanif, Bian. Aku sangat sayang dengan keponakanku.

Semoga nanti…

Cantik sekali kamu, Dik.

Sekarang…

Kadar akan ke sana.

Sepatu.

Ini sepatuku. Copot.

Ayo tempur!

Nif, temani Mbak pipis, yuk?

Ayo dong, Nif. Aku kebelet sekali, nih.

Kalau mengompol, gimana?

Ya sudah, mengompol saja.

Kamu mau sendirian di sini?

Nggak diangkat, Mbak, teleponnya?

Nggak diangkat, pesan juga nggak dibalas.

Mbak.

Mbak, sudah belum?

Sebentar, Hanif.

Mbak, cepat!

Mbak, cepat! Hanif juga kebelet, Mbak!

- Mbak, cepat! - Iya, Hanif, sebentar!

Mbak, sudah belum, sih?

Mbak!

Mbak!

Mbak!

Iya, sudah!

Pergi!

Mama!

Ada apa?

Tadi ada Mbah!

Aduh…

- Dari mana saja kamu, Mas? - Tari…

- Dari mana, Mas? - Nggak ke mana-mana.

Cuma jalan di sekeliling sini.

Mabuk kamu, ya?

- Mabuk kamu? - Tidak.

Aku titipkan anak-anakku ke kamu!

Mereka keponakanmu!

Tega kamu meninggalkan anak-anak?

Mabuk lagi!

Maaf. Mohon maaf.

Anak-anak tidak apa-apa, 'kan?

Apa?

Bilang apa?

Mereka nggak baik-baik saja, Mas!

Jagoan-jagoannya Pakde ini!

Ikut gabung, ya?

Sori.

Kalian kok cemberut, sih?

Pakde punya hadiah buat kalian!

Apa ini?

Buat Hanif.

Nah, ini yang spesial buat Putri Bian.

"Hai, Bian!"

Semalam Pakde meninggalkan kami.

Iya.

Pakde minta maaf, ya. Pakde minta maaf.

Tadi malam Mbah bangun, Pakde.

Mbak?

Mbak Bian?

Siapa kalian?

Mau apa dengan anakku?

Jangan ingkar janji.

Jangan ingkar janji.

- Janji apa? - Jangan ingkar janji.

Jangan ingkar janji.

Jangan ingkar janji.

Janji apa?

Jangan ingkar janji.

Janji apa?

Jangan ingkar janji.

Jangan ingkar janji.

Bian! Mbak Bian!

Bian!

Tari!

Tar! Kamu dengar sendiri, 'kan, Ki Husein bilang apa!

Ibu harus ditenggelamkan hari Kamis Kliwon. Ini belum waktunya!

Aku tidak peduli!

Kejadian semalam itu nggak akan ada kalau nggak dengar dukun itu!

Kamu menyalahkan aku?

- Aku tidak menyalahkan… - Mbak Tari.

Semuanya sudah disiapkan.

Ibu kita kubur sekarang!

Hati-hati, Mbak.

- Kunci mana, Mas? - Ini kuncinya.

Mas!

Ya Allah.

Kita ke rumah Mbok Yati sekarang!

Cepat!

- Masuk! Masuk ke dalam! - Cepat!

Coba lagi.

- Mas! - Mas Kadar!

Pakde!

Ngapain kamu di situ?

Bangunlah, Mas!

Mas, bangun!

Mas Kadar.

- Pakde, bangun. - Pakde!

Mas Kadar, bangunlah!

Mas, ngapain kamu di situ?

Sekarang sudah waktunya…

Aku sudah pesan

seharusnya ditenggelamkan hari ini.

Semoga semua masih bisa diperbaiki.

Supaya tidak ada yang celaka.

Maafkan saya, Ki.

Terima kasih atas segala bantuannya.

Susuknya.

Kenapa tidak disusui?

ASI-nya tidak keluar, Pak.

Maafkan aku.

Hari demi hari, sengsara seperti ini.

Nggak apa-apa, Pak.

Aku akan cari cara.

Ibu!

Pergi sekarang! Jangan pernah kembali!

- Ibu! - Pergi sekarang!

Ibu!

Ibu!

Ibu…

Ibu minta maaf, ya, Anakku.

Karena kesalahan Ibu…

kalian semua jadi korban.

Ibu terpaksa mengusir kalian semua…

agar kutukan susuk ini…

berhenti di Ibu.

Jika tidak, kamu harus meneruskan susuk ini, Tari.

Dan Kadar menjadi tumbalnya.

Ini akan berlanjut ke anak-anakmu, Tar.

Tolong Ibu, Tari.

Hentikan ini semua.

Selesaikan!

Apa yang harus aku lakukan, Bu?

Kembalikan susuk itu ke tempat Ibu menerimanya.

Lalu hancurkan topeng itu!

Setelah itu, pergi dari sini.

Jangan kembali lagi.

Jangan terlambat.

Sebelum lewat tujuh hari.

Ucapkan mantra ini.

Ibu!

Mas!

Di mana susuknya Ibu?

Ada apa ini?

- Kembalikan sekarang! - Apa yang dikembalikan?

Kamu simpan susuknya Ibu, 'kan? Tidak kamu tenggelamkan bersama Ibu, 'kan?

Maaf, Tari. Aku perlu untuk membayar utang.

Jahat kamu, Mas!

Kamu bahayakan nyawa kita buat bayar utang kamu?

Di mana susuknya sekarang?

Iya.

Mbak!

Mbak Bian!

Hanif!

Mama!

- Mama! - Mama!

Hanif!

Mama!

Mama!

- Bian! - Hanif!

Mama!

- Hanif! - Mama!

Mas, tarik!

Mama!

Mama!

Hanif!

Hanif!

Maafkan aku, Tari.

Sekarang bagaimana, Mas?

Mesti cari Hanif ke mana?

Kita harus kembalikan susuk ini ke tempat asalnya.

Ma.

Bawa Hanif pulang, ya?

Hanif?

Hanif?

Sudah kukembalikan milikmu!

Kembalikan anakku, sekarang!

Aku hanya menagih janji!

Janji yang dibuat oleh ibumu!

Jangan ingkar janji!

Aku yang akan membayar janjinya!

Mas!

Aku yang bayar janjinya!

Jangan, Mas!

Jangan!

Hanif…

Hanif!

Hanif!

Hanif!

Hanif, Mas.

Hanif!

Hanif!

Hanif! Gusti Allah…

Hanif, bangun!

Hanif!

Hanif…

Hanif, bangun!

Hanif!

Hanif!

Hanif…

Tari!

Tari!

Tari!

Tari!

Mas Kadar!

Aku hanya menagih

apa yang sudah dijanjikan kepadaku!

Yang berasal dari air, kembalikan ke air.

Dan apa yang sudah dijanjikan untuk bumi,

wajib diserahkan ke bumi.

Jangan ingkar janji.

Mama!

Tari…

Mas!

Pakde!

Mas!

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.