All language subtitles for Pengantin Iblis 2025 1080p NF WEB-DL-id.en

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian Download
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian Download
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam Download
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese Download
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Mengarahkan hati

Dalam perjalanan kebaikan

Napas mengembara

Ke mana-mana

Liku-liku

Angkasa

Lamunan hanyut

Dalam semilir angin

Terempas

Alunan ombaknya

Keinginan berdiri

Berlari cepat

Rasa darah

Yang memikirkan wujud hidup

Wujud hidup

Titisan rasa

Menyembur deras

Tidak terhenti

106.6 FM Grand Radio.

Kian inspiratif dan tepercaya.

Berita pagi ini.

Wanita berinisial MT, 30 tahun, ditemukan meninggal dunia akibat bunuh diri.

MT sebelumnya ditangkap polisi

karena diduga menggorok leher ketiga anaknya,

TL, empat tahun, CT, dua tahun, dan GT, balita yang berusia enam bulan,

hingga tewas mengerikan.

Peristiwa dugaan pembunuhan sadis dilakukan MT sekitar pukul 10.00 WIB,

sewaktu suami MT sedang pergi.

Kejadian ini…

- Duluan, ya. - Ya, Mbak.

Mbak.

Beli ayam potong dua ekor, ya.

Ya, Bu.

- Dua ekor, ya? - Ya.

Ini saja. Sudah dua ekor langsung.

Delapan puluh, ya.

Kembalinya 20.

- Terima kasih, ya. - Terima kasih.

Assalamualaikum, Mbak Ranti.

Waalaikumsalam, Pak.

Saya mau ambil pesanan yang kemarin.

Sudah…

Sebentar, ya.

Ti.

Kamu lihat ada plastik di sini, tidak?

Yang pesanannya Pak Haji.

Mana kutahu?

Kan Mbak Ranti yang urus semua pesanan.

Iya, tapi aku tadi taruh di sini, yang ada tulisannya Pak Haji.

Plastik warna merah.

Tidak kamu berikan ke orang lain, 'kan?

Mbak Ranti langsung menuduh aku?

Ya, mana aku tahu itu ayamnya ke mana?

Lagi pula, tidak bilang dulu ke aku. Bilang titip atau apa.

Pak Haji, tunggu sebentar, ya, Pak.

Ayamnya kita mutilasi dulu.

Karena kemarin pas mau dipotong, dianya tidak mau.

Mbak Gita bisa saja.

Ya. Saya tunggu.

Mbak Siti, sehat?

Sehat, Pak.

Sudah masuk berapa bulan, ya, sekarang?

Tujuh bulan.

Alhamdulillah.

Hebat, Mbak Siti.

Bahkan sedang hamil pun masih tetap rajin ke pasar.

Keren.

Menantu Ibu Dian.

Yah, mau bagaimana, Pak?

Nanti kalau diam saja, disangka mau enaknya.

Giliran aku bantu, salah sedikit saja, aku dimusuhi.

Siapa yang memusuhi, ya, Ti?

Lagi aku kerjakan.

Ya, tapi tetap saja nadamu itu tidak mengenakkan, Mbak.

Tidak mengenakkan bagian mana?

Ya, aku mana tahu ada ayam di situ?

Sekarang begini. Posisinya diganti.

Enak atau tidak dibegitukan?

Mbak Gita.

Pesan dari saya.

Kalau hidup dengan dua ipar,

jangan berat sebelah.

Yah, sesekali memang biasa, kadang-kadang mereka tidak akur.

Ya, Pak Haji.

Bapak nanti berangkat jam berapa?

Tunggu Nina pulang sekolah, tidak?

Bukan Bapak yang atur jadwal kapalnya.

Bapak pulangnya kapan?

Bapak belum berangkat, kok sudah ditanya kapan pulang?

Ya, habis…

Nina sedih ditinggal Bapak terus.

Ada Ibu, 'kan? Ya?

Ada Eyang, ada Tante Gita.

Paklik, Bulik. Ramai.

Tapi tidak ada Bapak.

Aduh.

Istrimu itu subuh-subuh sudah cari uang, Bay.

Dan kamu baru bangun.

Aku baru pulang tadi malam, Mas.

Semalam ke mana?

Kerja. Cari uang.

Kerja apa?

Adu ayam. Tahu, 'kan, Mas?

Adu ayam kok dibilang kerja, Bay?

Si Rocky itu investasi, Mas.

Kalau menang, bisa sampai lima juta, Mas. Waktu itu pernah aku bawa.

- Aku tak mengerti… - Bowo, Bayu.

Ada apa ribut-ribut?

Entah, Bu. Mas Bowo resek.

Belum ada sarapan?

Tekotek-kotek, kotek

Anak ayam turun berkotek

Tekotek-kotek, kotek

Anak ayam turun berkotek

Anak ayam turunlah enam

Pergi satu…

Mati semua

Kok mati semua, Eyang?

Mati semua

karena ibunya lupa menyiapkan sarapan.

- Bu. - Sudah, jangan bersuara.

Ini sudah dibelikan di pasar.

Tadi ramai sekali. Tidak mungkin kami tinggalkan.

Maaf, Bu.

Tapi aku tidak mungkin, ya, memaksakan buat sarapan sebelum kerja.

Lagi hamil, Bu.

Lagi pula, kupikir Mbak Ranti sudah menyiapkan sarapan.

Ibu mau sarapannya pakai apa?

Tadi Ranti sudah beli telur, tempe orek, capcai.

Mau yang mana, Bu?

Yang mana saja. Belinya di pasar?

Rasanya pasti sama.

Ya sudah, Bu. Kalau begitu, mulai besok,

Gita saja yang memasak, ya?

- Ambil piring dulu. - Ini bukan soal siapa yang memasak,

tapi ini soal tugasnya sebagai istri dan ibu.

Iya, Bu. Gita mengerti.

Tapi makanannya sudah ada.

Ya sudah. Kita makan saja, ya, Bu.

Kamu tidak mengerti, Git.

Kamu belum kawin. Nanti kalau kamu sudah menikah,

baru kamu paham.

Jangan sampai kamu seperti itu.

Itu bukan ajaran Ibu.

Tugas seorang istri adalah jangan sampai lupa ada suami dan rumahnya.

Ya, Ibu. Lagi pula, pekerjaan kami itu sudah terlalu banyak, ya, Git?

Sehabis jual ayam di pasar saja, kami masih harus buat ayam ungkep.

Sesibuk-sibuknya kalian, tapi tetap saja harus bisa mengatur waktu

dan mengurus rumah.

Cantik anak Ibu.

- Belajar yang benar. - Ya.

- Dah, Ibu. - Dadah.

Pamit, ya, Mbak.

Hati-hati.

Anaknya mandiri, ya, Bu,

walaupun cacat dari lahir.

Kenapa Gita yang antar Nina ke sekolah?

Karena aku harus antar Mas Bowo, Bu.

Tapi nanti yang jemput ibunya, 'kan?

Gita lagi, Bu.

Karena sehabis antar Mas Bowo, aku harus antar ayam ungkep ke pasar.

Takutnya nanti aku lama, Nina-nya tunggunya kelamaan juga, Bu.

Bu.

Bowo berangkat, ya, Bu.

Bowo.

Berapa lama kamu di sana?

Kalau lancar, paling sebulan.

- Hati-hati, ya. - Ya.

- Untuk Ibu. - Terima kasih.

Berangkat, Bu.

- Titip rumah, Bay. - Ya.

- Sehat-sehat, ya. Dik. - Mas.

Ya, Mas.

Segini saja, Mas?

Siti mau melahirkan.

Ya.

- Terima kasih, Mas. - Terima kasih, Mas.

- Ya, sama-sama. Berangkat. - Hati-hati, ya.

- Hati-hati, Mas. - Ya.

Ayo, Ti.

Sini, biar aku yang bawa.

Tadi Bayu pinjam setengahnya.

Siti mau melahirkan.

Lagi tidak ada uang mereka. Kasihan.

Tabunganmu masih ada, 'kan?

Masih.

Lumayan, dari berjualan ayam ungkep.

Walaupun ibu kamu tidak pernah suka kalau aku berjualan tambahan.

Aku kenapa, ya?

Selalu saja salah di mata ibu kamu, Mas.

Maksud Ibu tidak begitu.

Ya, tidak hanya Ibu.

Siti juga.

Padahal aku sudah berusaha banyak untuk keluarga kamu.

Berjualan juga.

Tetap saja harus membereskan rumah.

Dan tetap juga ada yang salah.

Tapi giliran Bayu tidak melakukan apa-apa, tidak pernah dimarahi sedikit pun.

Terus kamu maunya apa? Mau pindah?

Ya, aku tidak tahu, Mas.

Kalau mau pindah juga, mau ke mana?

Ya, makanya,

justru aku lebih tenang kalau kamu dan Nina itu di rumah.

Ada yang jaga Nina.

Kalau kamu lagi di luar, ada yang menengoki Nina. Begitu.

Ya, tapi kalau aku lagi disalahkan oleh keluarga kamu,

kamu bela aku, Mas.

Tidak diam saja, seperti tadi.

Sakit, Mas,

dibilang Ibu yang tidak bertanggung jawab.

Sudah.

Ya.

Ini, Pak.

- Terima kasih, Mbak Ranti. - Sama-sama.

Berapa ini?

Ya.

Ayo!

Ya!

Ayo!

Rocky!

Mas, dua!

Ayo!

Membayarnya nanti bagaimana, ya?

Sudah, Ibu.

Alah, sudah.

Sudah.

Sudah.

Bu?

Begini yang kamu bilang jadi ibu yang baik?

Ti?

Ibu, maaf, ya.

Maaf.

Nina mana?

Mbak. Maafkan aku, Mbak.

Nina ditabrak.

Aku yang telat. Aku yang lalai. Maafkan aku, Mbak.

UNIT PERAWATAN INTENSIF

Dok.

Bagaimana kondisi anak saya, Dok?

Kondisi anak Ibu saat ini dalam fase kritis.

Benturan yang dialaminya cukup berat.

Kami akan melakukan tindakan operasi kraniotomi

dan berusaha semaksimal mungkin.

Dok.

Tolong, Dok.

Tolong lakukan apa pun untuk anak saya, Dok.

Tolong selamatkan anak saya, Dok.

Saya harap Ibu bersabar, ya.

Sabar, ya, Bu.

Mbak…

Mbak.

- Git… Nina, Git… - Ayo, Mbak…

Tina!

Tina!

Tina!

Pastinya belum makan, ya, Nak?

Ini.

Makanlah.

Bayarnya belakangan tidak apa-apa.

Kalau sudah sembuh.

Kalau sembuh.

Ya, pasti sembuh.

Saya paham perasaanmu.

Tidak mudah memang

menunggu harapan baik di tempat ini.

Tapi kamu harus yakin

anakmu akan sembuh.

Ibu tahu dari mana

kalau anak saya yang sakit?

Saya bisa mendengar doa orang-orang di tempat ini.

Bercanda.

Tapi sebagai ibu,

kamu tidak boleh putus asa.

Kasihan anakmu.

Kamu harus percaya,

pasti akan ada

jalan keluar.

Tapi kata dokter,

kemungkinannya kecil.

Bantuan itu tidak harus dari dokter saja, 'kan, Nak?

Kalau ada jalan yang lain,

mau coba?

Itu kalau kamu percaya.

Itu siapa, Mbak?

Ti?

Si Gita di mana?

Masih di pasar?

Boro-boro, Mas.

Aku di pasar sendirian tadi.

Mana pesanan lagi banyak.

Gita lagi menemani Mbak Ranti ke rumah sakit.

Katanya kondisi Nina semakin kritis.

Gusti Allah…

Iya.

Mbak Ranti itu sudah salah, Bu.

Coba saja kalau Mbak Ranti mendengarkan omongan Ibu.

Ibu tidak habis pikir.

Kenapa dia lebih memilih antar pesanan daripada jemput anaknya di sekolah?

Kamu sudah bisa menghubungi kakakmu?

Ya, tidak bisa, Bu.

Di laut tidak ada sinyal, Bu.

Ya, 'kan?

Kata dokter…

Tindakan operasi di kepala Nina

harus segera dilakukan.

Aku cuma punya uang sepuluh juta.

Ditambah dengan mobil, kalau itu pun bisa dijual dengan cepat.

Tapi biayanya

sangat besar, Bu.

Aku bingung.

Sampai sekarang pun Mas Bowo belum bisa dihubungi.

Tapi Ibu tidak punya tabungan, Ranti.

Apa kita jual rumah saja, Bu?

Kita masih bisa cari tempat yang lebih kecil.

Jangan mengawur kamu, Git.

Kamu kira jual rumah gampang?

Kamu saja yang pindah.

Mbak, maaf.

Bu.

Tapi aku tidak terima.

Tapi ini mendesak, Mas.

Kebutuhan kita bukan ini saja, Gita!

Pikir pakai otak!

Mbak, maaf. Aku mengerti situasi Mbak.

Tapi kebutuhan kita ada banyak.

Ibu masih harus berobat setiap bulan.

Siti masih harus melahirkan.

- Sudah. - Pahami.

Sudah!

Bisa atau tidak kita membicarakan ini secara pelan-pelan?

Keputusan seperti ini tidak gampang.

Kita tunggu jawaban Mas Bowo.

Agar diputuskan bersama-sama.

Tapi Mas Bowo-nya tidak bisa dihubungi, Bu.

Kasihan Nina.

Kita tunggu Mas Bowo.

Anak saya

mungkin tidak akan selamat

kalau tidak segera ditindak.

Tapi kata dokter…

Masih ada kemungkinan untuk Nina…

Untuk Nina hidup.

Ya, tapi kemungkinannya kecil, Mbak, cuma sepuluh persen.

Meskipun kecil,

itu kemungkinan Nina hidup, Mbak Siti.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.

Maafkan keluarga kami, ya, Mbak.

Aku juga tidak bisa bantu apa-apa.

Semoga Mas Bowo bisa cepat baca pesan kita, ya, Mbak.

Pas sekali kamu datang malam ini.

Selasa Kliwon.

Malam Anggoro Kasih.

Malam penuh kasih sayang.

Percaya pada saya.

Begitu kamu melangsungkan perjanjian nikah…

Anakmu pasti…

Sembuh.

Segala sesuatu yang berhubungan denganmu

akan menjadi tanggung jawabnya.

Dan…

Hidupmu…

Akan jauh lebih…

Mudah.

Ikuti saya, ya.

Di malam penuh kasih ini…

Di malam

penuh kasih ini…

Aku bersedia menyerahkan…

Aku bersedia menyerahkan…

Raga diriku seutuhnya kepadamu.

Raga diriku seutuhnya kepadamu.

Aku adalah pengantinmu.

Aku adalah pengantinmu.

Mengarahkan hati

Dalam

Perjalanan kebaikan

Napas mengembara ke mana-mana

Liku-liku

Angkasa

Lamunan hanyut

Dalam semilir angin

Terempas alunan

Ombaknya

Keinginan berdiri

Berlari cepat

Rasa darah

Yang memikirkan wujud

Wujud hidup titisan

Rasa

Menyembur deras tidak

Terhenti

Setelah malam ini,

kamu tetap harus melakukan beberapa hal

untuk mempertahankan kondisi anakmu.

Kamu harus menyiapkan…

Kepala dan hati ayam pejantan.

Seperti ini.

Tanam benda-benda ini di sekitar rumahmu

setiap minggu sebagai bentuk persembahan bagi dia.

Lakukan mulai

malam ini.

Polo.

John.

Rocky.

Rocky?

Rocky?

Rocky?

Ti.

Ti.

Kamu lihat Rocky, tidak?

Aku cari Rocky, kok tidak ketemu, ya?

Mana kutahu Rocky di mana.

Ayam kamu juga.

Kamu yang tiap hari mengurusi Rocky.

Bayu, Siti.

Ya, Bu?

Rocky?

Kok malah ribut-ribut?

Bukannya siap-siap pergi.

Memangnya Ibu jadi mau ke rumah sakit?

Iya. Ibu belum menengok Nina.

Nanti saja, ya, Bu?

Aku dari tadi pagi pusing, Bu.

Aku mau bawa Rocky tanding, tapi tidak ketemu di mana-mana, Bu.

Bu, nanti saja, ya, kita ke rumah sakitnya.

Lagi pula, aku masih banyak pekerjaan.

Terus, semuanya juga aku yang urus.

Di sana masih ada Gita dan Mbak Ranti. Ya?

Eyang!

Eyang, Nina sudah sembuh.

Eyang tidak percaya?

Ini.

Itu.

Eyang…

Eyang kaget saja Nina sudah sembuh.

Tapi Eyang senang sekali.

Kok bisa?

Kakinya ikut sembuh?

Kata Ibu, ini namanya mukjizat, Bulik.

Bagaimana kalau kita makan-makan untuk merayakan kesembuhannya Nina, ya?

- Ayo. - Yuk. Mas, Mbak.

- Ayo. - Ayo.

Oke.

Ayo, Nina.

Hari ini, kamu bantu Tante di dapur.

- Ayo! - Oke, Tante.

Mana ada, Mas, tiba-tiba dapat mukjizat seperti itu?

Pasti Mbak Ranti main dukun.

Tidak tahu juga, tapi bersyukur saja.

Rumah tidak jadi dijual.

Masuk, yuk. Lapar.

Ayo.

Mbak Ranti.

Mbak?

Mbak?

Mbak, kok gelap-gelapan?

Aduh, Mbak Ranti. Mengagetkan saja.

Sudah ditunggu untuk potong tumpeng.

Gita tunggu, ya, di meja makan.

Kenapa, Mbak, semuanya harus ditutup seperti ini?

Masih siang, tahu?

Kenapa harus gelap-gelapan?

Sumpek.

Mbak Ranti belum jemput Nina?

Ibu mana?

Masih tidur?

Ditanya, diam saja.

Bulik kenapa?

- Ayo. - Ayo.

Anak ayam turunlah enam

Pergi satu, tinggallah lima

Anak ayam turunlah lima

Pergi satu, tinggallah empat

Tekotek-kotek, kotek

Anak ayam turun berkotek

Tekotek-kotek, kotek

Anak ayam turun berkotek

Anak ayam turunlah lima

Pergi satu, tinggallah empat

Tekotek-kotek, kotek

Anak ayam turun…

Git.

Apa kamu tidak merasa aneh

setelah Nina balik dari rumah sakit?

Mbakmu itu sukanya gelap-gelapan.

Hei.

Tadi siang,

aku sempat lihat Mbak Ranti…

Mbak Ranti itu ada dua.

Di dalam rumah, dan di luar rumah bersama anaknya.

Mbak salah lihat mungkin.

Mana bisa orang jadi dua?

Memangnya kamu tidak merasa curiga dengan Mbak Ranti?

Curiga apa, Mbak?

Sudah. Tidak usah bicara yang aneh-aneh.

Itu.

Untuk apa malam-malam mandi?

Aneh.

Aduh, Mbak. Masa orang mandi malam saja dijadikan masalah?

Sudah, fokus pada ayamnya saja.

Ti.

Siti?

Buatkan mi.

Lapar.

Ya?

Terima kasih.

Aduh.

Aduh.

Sudah…

Aduh.

Ketahuan, 'kan?

Aduh, sudah.

Jadi tontonan menarik untuk orang-orang pasar.

Mbak Ranti.

Habis mandi, ya, Mbak?

Basah sekali.

Itu adiknya. Masa mandi malam-malam begitu?

- Pak Haji. Assalamualaikum. - Ya.

Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh.

Pesanannya, Pak. Ya.

Terima kasih.

Orang-orang itu paling senang kalau sudah dapat bahan obrolan.

Masa cuma karena mandi malam sambil ketawa-ketawa,

terus jadi suuzan macam-macam?

Hei!

Mbak…

Mbak Ranti! Sakit!

Ada apa? Mbak!

Ya.

Aku yang sebarkan videonya.

Kenapa?

Mbak kenapa bawa pisau?

Mau bunuh aku depan banyak orang?

Memang Mbak Ranti aneh, tahu?

Mbak mengaku, ya.

Ada yang Mbak sembunyikan, 'kan?

Aku merekam untuk bukti saja.

Agar semua orang itu percaya bahwa Mbak Ranti itu aneh!

Kamu…

Keterlaluan.

Perempuan tidak tahu diri kamu, Siti!

Yang aneh itu Mbak Ranti!

Lalu sekarang mau apa?

Mau bunuh aku?

Berani?

Coba bunuh!

Mbak Ranti, sudah! Mbak!

Mbak… Mbak, sudah.

Sudah. Taruh pisaunya, Mbak.

Sudah.

Tenang dulu, Mbak.

Ti.

Ti.

Buatkan mi.

Lapar.

Mbak Ranti, apa-apaan? Membuatku kaget!

Mbak?

Mbak.

Mbak… Mbak!

Sedang apa, Mbak?

Mi-nya sudah jadi.

Mas Bayu.

Mas.

Mas, bangun.

Itu, si Mbak Ranti…

Mbak Ranti?

Bangun, Mbak, ke pasar.

Baru pulang, Mas?

Mas.

Tolong bangunkan Mbak Siti, agar tidak kesiangan ke pasar.

Ya…

Ti.

Ti.

Bangun, Ti. Kerja, Ti.

Ti?

Siti?

Ti?

Kenapa, Mas?

Mbak Siti ke mana?

Tidak tahu.

Sudah, mau tidur.

Mas lelah!

Bayu, kamu tahu Siti ke mana?

Ke rumah keluarganya?

Ya, mungkin saja, Bu.

Mungkin dia mengambek.

Gara-gara urusan video dengan Mbak Ranti kemarin.

Seharusnya Mbak Ranti yang mencari Siti.

Ranti.

Ada masalah apa kamu dengan Siti?

Kata orang-orang di pasar, kalian ribut.

Malu, 'kan?

Mbak Siti yang buat Mbak Ranti malu.

Ya sudah, Bu.

Aku dan Mbak Ranti ke pasar dulu, ya,

sekalian antar Nina.

Nanti sekalian kami cari Mbak Siti.

Siapa tahu sudah ke pasar duluan.

Sudah.

Tidak usah dibicarakan ke siapa-siapa kalau Siti hilang.

Biar kita cari sendiri.

Nanti jadi omongan.

Berengsek.

Yuk.

Siti?

Siti?

Siti?

Sit…

Aduh…

Aduh!

Nina, tunggu sebentar, ya. Tante Gita urus ayam dulu.

Iya, Tante.

Tolong…

Nina mau ikut Ibu mandi?

Nina?

Nina?

Kamu kenapa?

Nina malam ini boleh tidur bersama Tante Gita, tidak?

Ya, oke. Ayo.

Ayo, Sayang.

Kamu yang membuat dia mati.

Sejak pernikahanmu,

iblis itu menyatu denganmu.

Masuk ke rumahmu,

dan dia membelamu,

karena kamu adalah Pengantin Iblis.

Setiap ada manusia yang menyakiti,

iblis itu akan membela dan membalas.

Bukankah suamimu juga akan melakukan hal yang sama saat kamu tersakiti?

Tapi saya tidak mau

ada keluarga saya yang meninggal lagi, Bu.

Tolong, Bu…

Saya tidak bisa bantu apa pun lagi.

Pernikahan itu seumur hidup, Ranti.

Dan kamu sudah memilih melakukan perjanjian…

Dengan dia.

Aku kenapa, ya?

Selalu saja salah di mata ibu kamu, Mas.

Ya, tapi kalau aku lagi disalahkan oleh keluarga kamu, kamu bela aku, Mas.

Tidak cuma diam saja, seperti tadi.

Tidak enak

dibilang ibu yang tidak bertanggung jawab.

Stop!

Ayam tarung.

Tiga akhir, ya. Bersih tiga menit.

- Ayam siap? - Siap!

- Tarung! - Ayo!

Terus!

Tiga?

Ayo!

Sit?

Siti?

Sit?

Sit?

Siti?

Berengsek!

Sial.

Sit?

Siti?

Sit?

Siti?

Sit?

Siti?

Sit?

- Apa? - Ayammu mati, Bay.

Sial.

Anakku…

Siti?

- Mana ibumu? Mana ibumu, Nina? - Mas…

- Mana ibumu? - Jangan, Mas!

Mas, sudah!

Ibu!

- Mbak… - Ranti.

Kenapa kamu bunuh Siti?

- Dan anakku! - Mas, sudah!

Kamu lihat ini!

Ini baju kamu, 'kan?

Ini baju kamu, 'kan?

Makan baju kamu!

- Kenapa kamu bunuh Siti? - Sudah, Mas! Tenang dulu!

- Kenapa? - Sudah, Mas! Tenang dulu! Sudah!

Sudah!

Mbak. Ayo, Mbak.

Bay.

Sebaiknya Siti dikubur di halaman belakang…

Supaya tidak ada yang tahu.

Supaya tidak ada yang tahu, Bu?

- Ibu tega. - Bukan begitu.

Kamu tidak ingin, 'kan, Siti jadi omongan tetangga?

Biarkan kejadian ini menjadi milik keluarga kita.

Memang benar Ibu yang membuat Bulik meninggal?

Nina…

Kok Ibu tega?

Nina, Ibu…

Mbak, tenang saja. Aku yang urus, ya, Mbak.

Nina?

Ranti!

Ranti!

Ranti?

Ranti!

Ranti!

Mbak Ranti?

Mbak? Ada apa, Mbak?

Kenapa?

Mbak!

- Mbak Ranti! - Ranti, ada apa?

Mbak, kenapa Mas Bayu bisa mati, Mbak?

Mbak Ranti!

Mbak!

Mbak!

Buka pintunya, Mbak!

Kenapa Mbak ada di sana?

Kenapa Mas Bayu bisa mati, Mbak?

Jawab, Mbak!

Apa yang Mbak sembunyikan dari aku?

Jelaskan ke aku bahwa bukan Mbak yang buat mereka mati!

Cukup…

Mbak, kenapa?

- Cukup… - Buka pintunya, Mbak.

Cukup…

Cukup!

Di antara mereka semua…

Cuma kamu, Git…

Cuma kamu yang paling…

Mbak sayang di keluarga ini.

Cukup, tolong.

Jangan buat Mbak marah, Git.

Tolong…

Cukup, Git. Cukup.

Jangan buat Mbak marah.

Hari ini kamu tidak usah ke pasar dulu.

Nina juga tidak usah sekolah dulu.

Kita tidak tahu apa yang terjadi.

Apa semua ada hubungannya dengan Ranti?

Ibu yakin

tidak mau coba minta tolong pada Pak Haji?

Mungkin lusa,

kakakmu datang.

Kita tunggu saja si Bowo.

Bu.

Kita butuh cari bantuan.

Tapi kalau sampai orang lain tahu, bagaimana?

Ibu masih memikirkan kata-kata orang?

Kita tinggal berempat, Bu.

Nanti kalau di antara kita ada yang kenapa-kenapa, bagaimana?

Nina.

Sini.

Jangan di sana.

Assalamualaikum, Mbak Ranti.

Waalaikumsalam.

Tumben, Pak,

ke sini.

Silakan masuk.

Mbak Gita.

Tolong disiapkan air putih.

Ya. Istri saya itu menanyakan terus.

Ingin pesan ayam.

Kata Mbak Gita,

Mbak Ranti sedang tidak enak badan.

Ya.

Sakit kepala.

Boleh saya bacakan doa?

Aku berlindung pada Allah dari godaan setan. Dengan menyebut nama Allah.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahanam, dari siksa kubur…

Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan dalam agama dan kesehatan dalam tubuh.

Amin, ya Allah.

Semoga Mbak Ranti cepat sembuh, kembali bekerja.

Jangan lupa, salat.

Minta perlindungan dari Allah.

Ya.

Pak Haji juga.

Jangan lupa…

Minta perlindungan-Nya.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang…

Amin, ya Allah.

Allahu Akbar!

Astagfirullah.

Yah…

Pecah.

Nanti kalau tidak tenang,

kalian semua berdoa saja.

Semua bisa kita atasi

dengan kekuatan doa kita.

Saya pamit dulu. Assalamualaikum.

Waalaikumsalam, Pak Haji.

Jangan ikut campur.

Kenapa, Git?

Tidak apa-apa, Bu.

Pak Haji bilang tidak kenapa-kenapa, Bu.

Tapi Mbak Ranti-nya makin aneh, Mas.

Aku melihat sendiri

ada Mbak Ranti pas Mas Bayu meninggal.

Mbak Siti suka bilang

Mbak Ranti itu aneh.

Suka ketawa-ketawa sendiri.

Lalu Mbak Siti-nya mati.

Mayatnya juga tidak wajar.

Kamu menuduh mbakmu?

Mas…

Tidak mungkin Ranti tega.

Jangan sembarangan menuduh, Git.

Pak.

Ibu memang berubah.

Nina takut pada Ibu.

Semenjak Nina sembuh,

Nina juga merasa Ibu aneh.

Apa gara-gara Nina?

Tidak.

Nina tidak salah, ya.

Ran.

Ini aku, Ran.

Buka, Ran.

Aku tidak akan tanya apa pun.

Kita bicara, ya?

Kamu…

Tidak boleh…

Masuk.

Betul, 'kan, Wo?

Ranti aneh.

Masa suaminya sendiri tidak boleh masuk kamar?

Ibu cuma khawatir

keluarga kita kenapa-kenapa.

Ibu lihat kondisi Ranti, tidak?

Justru Bowo khawatir kalau Ranti yang kenapa-kenapa.

Sudahlah, Bu. Biar nanti Bowo yang pikirkan bagaimana caranya.

Ran?

Ranti.

Kok lampunya tidak menyala, Eyang?

Ini, berikan ke ibumu.

Nina.

Nina…

Tolong Ibu.

Tolong.

Buka ini.

Nina tidak mau buka?

Bapak jahat, memasung Ibu.

Tidak sayang pada Ibu.

Nina.

Nina sayang pada Ibu, tidak?

Ibu kenapa seperti ini?

Nina rindu Ibu yang dulu.

Jangan menangis.

Anak cantik tidak boleh menangis.

Ini masih Ibu.

Buka, ya, Sayang?

Tolong buka, ya?

Tolong.

Tolong buka!

Ibu.

Sini, Nina.

Tolong!

Seharusnya Ibu yang diikat.

Nina memangnya sayang pada Eyang?

Eyang selalu jahat pada Ibu!

Nina!

Tutup pintu, Nina. Tutup.

Nina!

Waktu di rumah sakit,

aku ingat Mbak Ranti pernah mengobrol dengan ibu-ibu di sana, Mas.

Tukang jual nasi. Aku tidak mengenali siapa.

Apa mungkin ada hubungannya, ya?

Kita coba cari ibu itu, Mas.

Mungkin dia tahu sesuatu.

Nina…

Di sini gelap.

Ibu takut, Sayang.

Tekotek-kotek, kotek

Anak ayam turun berkotek

Anak ayam tinggallah…

Tinggal berapa, ya,

yang belum mati?

Kok Ibu tidak makan?

Tidak ada empingnya.

Nina tahu Ibu suka emping, 'kan?

Nina ambilkan, Bu.

Anak ayam

Tinggallah empat

Malam ini mati semua

Mati semua.

Ya, Bu?

Listrik di rumah dari pagi belum menyala.

Cepat pulang.

- Oh, ya. - Ibu dan Nina mengkhawatirkan Ranti.

Ibu?

Eyang?

Eyang!

Eyang?

Empingnya mana?

Ibu?

Nina?

Ibu!

Ibu!

- Git? Kenapa, Git? - Ibu!

Ibu!

Ibu!

Nina!

Git, kamu pergi ke belakang! Cari Nina!

Ibu…

Nina!

Nina!

Nina!

Mbak.

Mbak…

Mbak…

Nina…

Mbak…

Nina?

Nina, di mana, Nak?

Nina?

Nina?

Di mana, Nak?

Sadar, Ran…

Aku suamimu…

Dia…

Bukan istrimu lagi.

Dia pengantinku.

Aku suamimu, Ran.

Mas?

Bapak!

Bapak!

Nina benci Ibu!

Lihat anakmu, Mbak.

Ibu tidak sayang pada Nina.

Ibu tidak sayang pada kami semua.

Ibu jahat.

Nina mau Ibu yang dulu.

Lihat anakmu, Mbak.

Sadar, Mbak.

Nina lebih baik sakit lagi dan tidak punya kaki.

Ambil saja kaki Nina.

Nina mau Ibu yang dulu.

Tekotek-kotek, kotek

Anak ayam turun berkotek

Tekotek-kotek, kotek

Anak ayam turun…

Ibu…

Anak ayam turunlah empat

Nina mohon Ibu kembali.

Nina tidak mau Ibu seperti ini.

Nina sayang pada Ibu.

Nina tidak mau lihat Ibu seperti ini.

Nina mau Ibu yang dulu,

yang sayang pada kami semua.

Nina tidak mau hidup tanpa Ibu.

Nina ingin terus bersama Ibu.

Maafkan Nina, Bu.

Nina rela sakit lagi, dan tidak bisa jalan…

- Nina! - dan mau Ibu kembali.

Nina!

Mas?

Mbak…

Mbak…

Bawa…

Pergi…

Nina dari sini.

Tidak.

Tidak, Mbak.

- Selamatkan Nina. - Tidak mau.

Untuk kita.

Tidak mau.

Kamu bisa.

Tidak bisa, Mbak.

Tidak bisa.

Tidak bisa, Mbak. Tidak mau.

Mbak…

Mohon…

Pada kamu.

Tidak! Tidak mau.

Aku tidak mau meninggalkan Mbak. Tidak mau! Tidak!

Bawa Nina pergi.

Tidak!

- Tidak! - Bawa dia pergi!

- Mbak, jangan. - Ibu, jangan.

Mbak!

Mbak…

- Ibu, jangan! - Jangan, Mbak.

Jangan menangis, Nina.

- Ibu, jangan. - Ibu sayang…

Pada Nina.

Maafkan Ibu, ya, Sayang.

Mbak, jangan!

Maafkan Mbak Ranti, Git.

- Mbak, jangan! - Ibu, jangan.

Ibu!

Nina, lari!

Kebakaran!

Tante Gita.

Nina?

Nina, kamu kenapa?

Kamu kenapa?

Kaki Nina tidak bisa gerak.

PERISTIWA, TOKOH, DAN LEMBAGA DALAM FILM INI FIKSI. SEGALA KESAMAAN

DENGAN ORANG, KEJADIAN, ATAU LEMBAGA ASLI ADALAH KEBETULAN SEMATA.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.