Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
subtitle by: VIEATOZ
subtitle by: VIEATOZ
subtitle by: VIEATOZ (vieatoz@gmail.com)
subtitle by: VIEATOZ (vieatoz@gmail.com)
Hei, gimana dengan dia? Dia hot banget!
Nggak juga.
Gimana kalo dia?
Bule, bule, oh ibu bapa!
Nggak tertarik.
Gimana dengan dia? Sebelah sana, wow.
Nggak nyari yang cantik, man.
Gimana kalo dia? Di sana tuh!
Man, itu baru sempurna!
Apa? Kamu udah gila apa?
Kenapa nggak, man. Liat mukanya. Keliatan kayak orang baik, bukan?
Ayo.
Permisi!
A... apaan?
Ya am...
Sorry ganggu, tapi...
- Aku bisa minta bantuan kamu? - Bantuan?
Bisakah aku minta susumu?
Apa?
Aku tahu itu memalukan.
Itu bukan buatku kok.
Apa maksud...
Kenapa loe pilih gue? Apa gue terlihat murahan?
Padahal loe keliatan normal dan baik.
Kenapa nggak loe susuin diri loe aja sendiri? Selamanya!
Man, kamu bikin aku gila.
Emangnya kamu bakal mati kalau cuma minum susu formula?
(BAYI: Ayah, aku benci formula,)
Man, jangan nangis terus!
(BAYI: Aku pengen netek!)
Kamu bikin aku gila.
Bisakah seseorang memberi aku ASI?
BABY & ME (Bayi & Aku)
7 hari sebelumnya
Geun-seok Jang
Byeol Kim / Mason Moon
Kyu-phil Koh / Jae-hwan Choi
Byung-ok Kim / Hyeon-sook Park
Kyu-soo Chung / Jung-hee Chang
Jeong-nan Kim / Yang-woo Kim
Suara Woo-rahm's / Myung-soo Park
Produser Eksekutif / Chun-jae Lee
Produser / Seo-yull Lee
Ass. Produser / Sang-yoon Kim
Keuangan / Kyeong-heon Lee
Ass. Produser Eksekutif Sang-yoon Kim/ Seok-jung Kim
Direktur Fotografi / Jin-ho Chung Tata Cahaya / Kwang-won Eom
Tata Suara / Hyung-soo Jung Desain Produksi / Chul-ho Lee
Musik / Dae-sung Chang Editor Suara / Seung-chul Lee
Editor Naskah / ln-dae Moon Komputer Grafis / Yui-dong Park
AD / Hyo-sang Kim Naskah / Dae-keun Kim
Bukannya sudah kubilang jangan cari masalah?
Screenplay oleh Won ChoiSung-min Lee Diadaptasi oleh Jin-young Kim Seok-kon Kim
Nggak, man. Mereka yang mulai duluan.
Co-producer Jong-kon Yang
Dan dia mukul aku di kepala. Sakit banget, man!
Sutradara Jin-young Kim
Apa kamu jadi anggota gang?
Tidak, pak.
Terus, apa kamu mencoba menjadi seorang Petarung seperti Fedor?
Tidak, aku mau Father (ayah)...
A...yah...?
Ayah!
Kenapa kamu ini? Kamu akan benar-benar membunuhnya!
Kamu juga sama saja, anak muda!
Kalau kamu terus menerus cuma jadi masalah, coba nikah sana
dan punya seorang anak yang persis sepertimu. Kamu akan tahu betapa menderita rasanya.
SEKOLAH TERBAIK TAHUN INI UNTUK PENDIDIKAN SEKS & TATAKRAMA
Hei!
Kamu ini cari mati apa?
Apa sih?
Nomorku 01 0 2085 3055. Kalau kamu?
Apa-apaan ini?
Paman!
Yes, sir!
Valet!
Tempat yang sama dengan yang kemarin?
Oke.
Apa sih kalian ini? Siswa atau anggota geng?
Belum juga seminggu sejak terakhir kalian dihukum.
Bu, itu bukan salah kami.
Orang-orang brengsek itu yang manggil duluan.
Kalau kalian memang tidak salah apapun, kenapa juga mereka panggil kalian keluar, hah?
Perlu dua orang untuk menari tango, tahu?
Besok, dewan akan memutuskan
apakah akan menskors atau mengeluarkan kalian, tolol.
Siap-siap saja!
Satu hal lagi. Bawa orang tua kalian besok!
Bilang Gi-Seok sebaiknya dia datang ke sekolah besok, paham!
Berangkat sekolah dulu.
Cepatlah. Jangan pukul siapapun hari ini.
Yang nomor 2 sampai 5 sedang sekolah.
Si sulung keluar, nomor 6 di sini, 7 di sini,
9 di sini... Tunggu, mana yang nomor 8?
Sayang, nomor 8 hilang.
Lihat lagi.
Kim Bohm!
Itu dia. Kemari.
Ibu!
Apa kamu pergi keluar pakai baju itu lagi?
Aku mau sekolah!
Apa dia bilang?
Dia mau sekolah lagi!
Sekolah?
Ini Byeol Kim. Dia akan bergabung dengan kelas kita mulai hari ini.
Hai!
Dia dulu bersekolah di SMA Sains Favorit yang bahkan mimpi pun kalian
tak mungkin bisa masuk ke sana.
Dia selalu menjadi salah satu siswa terbaik.
Silahkan kalian bertanya-tanya kepadanya!
Mari kita lihat. Tempat duduk terbaik untukmu adalah...
Sebenarnya itu bangku yang terburuk.
Apa?
Hai, kita ketemu lagi. Aku Byeol Kim.
Ini pasti adalah apa yang orang-orang bilang 'takdir'.
Karena dia memilih untuk duduk di sebelahmu pastikan kau bersikap baik padanya, paham?
Segitu saja.
- Perhatian! - Sudah cukup dengan cari mukanya.
Cari tempat lain, kalau bisa, kamu paham?
Pergi sana!
Pergi!
Ada upil di matamu.
Apa?
Aku tahu...
Bukan di situ, mata kiri.
Apa kau sudah menghubungi Gi-seok?
Dia tidak menjawab telpon. Aku akan mampir ke tempatnya nanti.
Tyson kayaknya bakal mengeluarkan dia kali ini.
Man, keliatannya serius.
Kenapa dia nggak datang ke sekolah?
Punya rokok?
- Yeah, kamu punya korek? - Yeah.
Hei, apa maksudmu?
Merokok itu melanggar tata tertib sekolah. Siswa nggak boleh merokok.
Dalam sebatang rokok, terkandung 2000 unsur kimia yang berbahaya buat kesehatan kalian.
Saking beracunnya di Amerika Serikat rokok sudah dikategorikan sebagai narkoba.
Dan perokok itu beresiko kena kanker dua kali lipat dibandingkan bukan perokok.
Hei, diam. Pergi sana!
Kembalikan!
Khususnya perokok yang mulai merokok sebelum umur 20 tahun cenderung lebih rentan
kena kanker paru-paru, kanker tenggorokan, kanker mulut, kanker esophageal, kanker pencernaan,
karsinoma pankreas dan penyakit-penyakit semacamnya.
Loe pergi deh dari sini!
Pokoknya itu jelek buatmu tahu!
Datang dari mana sih alien itu?
Dia mukul kepalaku!
Apa, Tyson mengirimmu?
Tyson kayaknya nggak punya pilihan lain.
Dia udah usahakan, tapi...
wakil kepala sekolah benar-benar memperhatikan dalam kasus kita.
Yang terjadi terjadilah. Aku bisa hidup tanpa ijazah SMA kok.
Bukannya begitu.
Sekali-kali tunjukkan wajahmu di sekolah.
Kalau aku punya waktu untuk itu, aku bakalan cari kerja paruh-waktu lainnya.
Ibu!
Ayah!
Untuk Joon-Soo, Kami sudah terlalu pusing menanganimu,
Jadi... ayah dan ibu putuskan untuk pergi,
Sekolahmu lagi-lagi memanggil,
Aku sudah capek harus datang ke sekolahmu setiap hari,
kami akan kembali, jika kamu sudah bisa menjadi manusia yang lebih baik.
Sampai nanti, SEMOGA BERHASIL!
Tentu saja, kartu kredit juga dibekukan,
$100 jumlah yang cukup banyak, berhematlah,
Apa-apaan?
Hei, ini benar-benar sebuah lelucon. Apa ini, sitkom TV?
Mungkin lebih baik begini. Nggak ada seorang pun yang ganggu aku di rumah.
Apa, siput lumpur?
Bilang Gi-seok kita pesta malam ini.
Sudah lama sekali. Kita akan bersenang-senang itu malam ini.
Cewek? Nggak, makasih.
Aku nggak percaya sama pendapatmu tentang cewek cantik.
Hei, cukup. Malam ini, cuma kita bertiga, oke?
Apa ini?
Telah ditemukan seorang bayi laki-laki berusia sekitar 5 atau 6 bulan
saat ini ada di ruang customer service,
Jika ada yang merasa kehilangan bayi tersebut,
dipersilahkan untuk mendatangi ruang customer service.
Berapa lama aku harus menunggu di sini?
Aku sibuk, tahu?
Kenapa kalian tidak mencari ibunya saja?
Seandainya ibu si bayi tidak muncul-muncul,
kami harus memanggil polisi dan kami butuh kamu di sini sebagai saksi.
Aku nggak menyaksikan apapun!
Kalau begitu, tuliskan di mana kamu sekolah dan tempat tinggalmu.
Kenapa?
Apa kamu tidak mengerti? Itu semua bagian dari prosedur.
Lihat. Ada catatan.
"SMA Myung Seong, Han Joon-Soo"
"Kurasa yang terbaik bagi bayi ini adalah dibesarkan oleh ayahnya..."
Ayahnya seorang siswa SMA?
Dasar anak-anak jaman sekarang...
Sudah?
Sini.
SMA Myung Seong, Han Joon-Soo
Myung Seong SMA...
Itu kamu! Han Joon-Soo!
(Kau ayahku? Huu hu!)
Dia memang benar-benar mirip denganmu dilihat dari mana-mana.
Tidak diragukan lagi.
Tidak butuh test DNA lagi. Jelas sudah.
Bisa diam nggak?
Siapa yang undang dia?
Aku ketemu dia di depan toko grosir.
Waktu kubilang aku mau pergi ke rumahmu, dia...
Hei, apa maumu?
Aku sedikit kecewa denganmu.
Tapi bila ini adalah sebuah ujian dari Tuhan, aku akan dengan senang hati menjalaninya.
Kamu tahu apa yang mereka katakan. 'Kalau tak bisa menghindarinya, maka nikmatilah.'
Aku hampir saja kehilangan itu.
Berhenti ganggu aku dan urus urusanmu sendiri.
Kukira ini adalah urusan kita.
Hei!
Kenapa kamu teriak? Kamu mengagetkan bayinya.
Jangan khawatir, manis. Nggak apa-apa.
Terus, sekarang apa yang mau kamu lakukan?
Kayak ada pilihan lain aja. Sebaiknya dia mengasuhnya dengan baik.
Aku nggak tahu.
Yo, siapa yang mau jadi ibunya? Pikir!
Diam!
Aku sedang berpikir, oke?
Kamar tidur yang bagus!
Woo-Rahm sekarang lagi tidur.
Hei, ngapain kamu masih di sini?
Tapi aku kan BFF-mu!
BFF kepala loe...
Jangan gitu. Kamu harusnya berterima kasih sama dia karena udah ngasuh Woo-rahm.
- Mau bir? - Nggak, makasih.
Alkohol mengurangi jumlah sel darah putih,
yang mengakibatkan penurunan sistem kekebalan tubuh
dan memperlemah daya berpikir, dan juga...
Kamu, keluar!
Menurut pandanganku, urusan bayi ini adalah yang terpenting saat ini.
- Kehidupan baru yang layak untuk diberkati. - (Terima kasih!)
Pikirkanlah apa yang bisa kamu lakukan untuk membesarkannya dengan baik, sebagai ayahnya.
Kubilang, KELUAR!
BAIK, ayahnya Wooram.
Apa? Ayah? Aku?
Masuk akal kah?
Yap.
Ibu?
Masuklah lagi ke dalam, kalau kamu tidak akan bantu. Mengganggu saja.
Bagaimana kalau ibu memiliki seorang menantu yang punya seorang anak?
Apa kamu sedang membaca naskah opera sabun, sekarang?
Ibu!
Mungkin nggak.
Selamat datang. Silahkan, lewat sini.
Ada dua tamu sedang masuk.
Han Joon-Soo...
Kamu sedang apa di sini?
Lama tak jumpa.
Apa kabarmu?
Apa yang membawamu kemari?
Adakah mungkin kamu... ibu dari bayi ini?
Apa?
Apa yang kamu pikirkan?
Apa yang sedang terjadi padaku?
Terus siapa dia ini?
Siapa sih kamu?
Aku bisa gila!
Tenanglah. Aku lagi bikinin kamu makanan.
(Ayah, aku baru saja ee',)
(Ee'!)
Hei, kamu nggak mau makan? Kenapa kamu tendang-tendang makananmu?
(Ee' yang gede! Masa sih nggak kecium baunya? Uh, mau gila rasanya)
Siapa sih kamu ini, anggota gangster? Hah?
(Gimana denganmu? Hidung-bengek?!)
Datang dari mana sih kamu ini?
- (Yeah? Aku juga merasakan hal yang sama!) - Makhluk apa kamu ini?
(Kau sendiri apa? Seorang ayah?)
Jangan bergerak, teman.
(Kubilang EE'!)
Ayo dong... diamlah!
(Aku pengen ke kamar mandi!)
Tunggu sebentar!
Saat bayi menangis, hal pertama yang kamu lakukan adalah memeriksa popoknya.
Selanjutnya susui
dan peluk dia...
Setelah itu, taruhlah dan pijat perutnya.
Lalu, dudukkan dia tegak, dan tepuk perlahan punggungnya.
Sebelum kamu memberinya susu, kalau kau nggak yakin dia lapar,
taruh jarimu di mulut bayi seperti ini.
Kalau dia membuka mulutnya dan mengikuti jarimu, berarti dia lapar.
Aku tahu perasaanmu.
Tapi kamu lebih baik dari ayahmu. Setidaknya, kamu tahu cara untuk tersenyum padaku.
(Apa yang kau lihat hanya antara kita berdua saja!)
Arak!
Tak bisakah kita tinggal di rumah desa?
Bagaimana kita bisa tidur di sini?
Dia nggak bodoh. Dia akan memeriksa ke sana juga.
Lagipula, aku tak bisa tidur memikirkan dia.
Ide siapa lari dari rumah coba?
Aku ingin tahu apa dia makan dengan benar. Oh, anakku!
Jangan nangis. Cukup!
Kamu membuatku gila! Hei, kubilang cukup!
Maaf. Maafkan aku.
(Apa kau tega manaruhku di lantai semen yang dingin?)
Selamat tinggal.
(Oow, ini bisa menyebabkan stroke,)
Hei tuan, Kau, yang pakai topi,
Jadwal sampah biasa itu hari Selasa, Kamis, dan Sabtu,
Kalau kau buang di luar hari itu, kau bisa kena denda.
Ambil kembali!
Pak, aku tidak membuangnya.
Ini bayi. Seorang bayi!
Aku cuma mau memeriksa tempat sampah.
Kenapa mereka buang sesuatu yang masih bagus.
Aku cuma mau mengambil ini, nih.
Kayaknya masih bisa dipakai, kan?
Selamat malam!
Aku pasti sedang gila.
Seumuran ini punya bayi...
Menaruh kesenangan kecil ini ke neraka...
kalau kubilang aku punya bayi karena aku tak sanggup beli kondom,
siapa yang bakal percaya?
Harusnya aku bunuh diri saja
setelah mengirimkan si kecil satu ini ke panti asuhan.
Lama aku memikirkan hal ini sampai aku bertemu dirimu hari ini.
Kau membuatku berubah pikiran.
Setidaknya, kau masih muda.
Apa yang tak bisa kau lakukan untuk menafkahi bayi ini?
Jangan menyerah. Jangan pernah menyerah!
Hei, kau di sana!
Kemarilah. Ayo.
Jadi, maksudmu... kau tinggal di sekitar sini?
Kau kira aku tampak seperti orang yang sanggup menelantarkan
anaknya di panti asuhan seperti kalian berdua?
Ya.
Siapa yang tega melakukan itu pada anaknya sendiri?
Apa itu yang harus dilakukan oleh orang tua?
Setidaknya, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Mampirlah kapan-kapan.
Koran!
- Ayo, minumlah! - (Nggak!)
- A...! - (Aku nggak mau!)
(Sudah kubilang berkali-kali aku mau ASI!)
Harusnya aku tinggalkan kamu di sana malam itu.
(Kenapa tidak? Cuma aku anakmu!)
- Ayo. Minumlah. - (Nggak! Pokoknya nggak!)
Nggak usah minum kalau gitu.
(Hei, ambil lagi, sekarang aku mau!)
Halo?
Siapa yang menyuruhmu mematikan HP, hah?
Sudah kubilang. Aku nggak bisa pergi sekolah hari ini.
Kamu bercanda? Kamu lagi di mana?
Aku lagi di Gyeongpodae.
Aku pergi mengunjungi seorang teman di pantai selatan.
Apa kau bilang, pantai Gyeongpodae?
Itu di pantai timur, bukan selatan, tolol!
Kemari secepatnya, paham?!
Aku hargai kau menunjukkannya, tapi aku nggak bisa pergi ke sekolah.
Dengar, kalau kamu nggak datang,
kamu bakalan bener-bener dikeluarkan.
Aku beneran nggak bisa!
Kau jangan coba-coba denganku. Lari ke sini dalam 3 detik, lompat kalau perlu!
Halo? Halo?
Bagaimana bisa aku pergi sekolah denganmu?
Tunggulah di sini. Aku akan segera kembali, oke?
Kubilang, sebentar aku akan kembali.
Manusia tidak diperbolehkan.
Maafkan aku.
Apa ini, sebuah pesta? Dasar anak...
Jadi kamu bilang...
bayi yang kamu sedang gendong sekarang adalah anakmu, benar?
- Ya. - (Apa kabarmu?)
Apa?
Kamu gila haram ja...
Kau sudah gila apa?
Katakanlah dia anakmu. Tapi kenapa kau membawanya ke sekolah?
Ke mana orang tuamu?
- Mereka kabur dari rumah. - Apa? Kabur?
(Sungguh sebuah keluarga bahagia, heh?)
Sudah cukup.
Kamu bakal bikin dia menangis.
Tunggu sebentar. Oh, ini bau...
Siapa yang kentut? Baunya bener-bener mabek.
(Maaf... maaf...)
(Orang itu punya hidung yang sensitif,)
(Apa yang kamu lihat?)
Dia ee'.
Bukankah kalian juga suka eek'?
Hei!
Kau pikir sekolah itu semacam tempat perawatan?
Singkirkan benda itu sekarang juga!
(Ayah, kukira dia memanggilku nama)
Hei!
Apa kotoranmu baunya kayak parfum?
Kuhajar kau!
Itu buku baru.
Tidak ada yang perlu dibahas.
Ayolah, ini sudah di luar kewajaran.
Sebelum hal ini mempengaruhi siswa yang lainnya,
kita akan menerima pengunduran dirinya secara sukarela.
Ini sungguh adalah masalah pribadi.
Kita seharusnya jangan menyimpulkan apapun.
Siswa juga manusia.
Anak muda ini menerima tanggung jawabnya sebagai seorang ayah,
dan kembali ke sekolah.
Bukankah seharusnya kita, sebagai guru, mencoba untuk mengayominya?
Dengar, Nona Cho.
Bukankah Joon-soo selalu terlibat dalam masalah?
Tidakkah kau tahu seberapa besar kerusakan yang sudah dia buat pada reputasi sekolah kita?
Jika kita membiarkannya seperti ini, tidak diragukan lagi para orang tua akan memprotes.
Mari kita selesaikan masalah ini dengan mengacu pada tata tertib sekolah.
Ya, kau harus mengikuti tata tertib sekolah.
Tapi tak ada peraturan yang relevan.
Seperti katamu, kau harus mematuhi tata tertib sekolah,
yang melarang mewarnai rambut dan menggunakan aksesoris,
celana pendek. Lihat?
Tak ada tata tertib yang berkenaan dengan bayi di sini.
Apa yang sedang kau lakukan?
Ada perlu apa, Byeol Kim?
Aku belum punya gambar Anda untuk foto di phonebook-ku.
Astaga. Keluar kau, sekarang!
- Lari sana! Sekarang! - Oke.
Tapi guru,
sungguh tidak ada peraturan sekolah yang berkenaan dengan bayi.
Coba... aku mau lihat tata tertib sekolah.
Kumohon, pak. Seminggu lagi saja.
Kalau dia dikeluarkan, dia akan mati.
Kasih saya seminggu lagi saja. Saya akan cari cara untuk membayar hutangku semuanya.
Kau tahu aku sudah memberimu kelonggaran.
Aku tak bisa membantumu lagi.
Seminggu lagi saja. Kumohon. Kali ini aku akan benar-benar membayarnya.
Kau membuat ini sulit untukku.
- Kumohon. Beri saya satu kesempatan lagi. - Sudah kubilang, tidak bisa.
Sekali ini saja, kumohon.
Kenapa kamu nggak ngomong?
Ini bukan sesuatu untuk diumbar.
Dan ini bukan yang pertama...
Aku baru aja jadi seorang ayah
dan sudah cari ke mana-mana ibu bayi ini.
Orang tuaku lari dari rumah. Hebat, hebat banget...
Ambillah.
Apa ini?
Kalau kau sudah bisa menghasilkan banyak uang, belikan aku motor baru.
Aku cabut dulu. Jaga ibumu baik-baik.
Ayo.
Dah.
"Perhentian berikut adalah Beotigogae, Beotigogae..."
"Pintu keluar untuk perhentian ini ada di sebelah kanan Anda."
Sudah lama nggak naik subway. Aku capek banget.
Oh, TIDAK!
Berhenti!
Tidak, ini adalah sebuah kesempatan dari surga.
Aku nggak boleh menyia-nyiakannya.
Dah, oke... oke...
Jangan tergoda. Siapa peduli?
Han Joon-Soo, apa yang merasukimu?
Jadi, kau bilang...
kau kelelahan, jadinya kau pusing dan mengantuk.
Lantas kau mendengar pengumuman. Jadi, kau terkejut dan bangun,
lantas lari keluar kereta, di mana kau meninggalkan si bayi. Bukan begitu?
Syukurlah, kau terekam oleh kamera pengintai.
Hei, bawa kemari anak itu.
Woo-Rahm! Oh anakku!
Apa jadinya dunia ini?
Bahkan diriku belum punya anak.
Dan remaja SMA ini ke sana ke mari bikin bayi.
Siapa bilang aku ke sana ke mari bikin bayi?
Dengar, nak! Bukankah barusan kau bilang kalau kau ayahnya?
Anda pikir aku mau membuatnya?
Banyak hal terjadi dan hidup harus berjalan seperti ini...
Permisi!
Apa yang bisa saya bantu?
Joon-Soo!
- Ibu si bayi? - Apa?
Kau jauh lebih tua, tapi
kau memilih remaja SMA ini untuk menjadi ayahnya.
Sungguh manis!
Bukankah itu ilegal? Apa yang...? Ya ampun...
Han Joon-Soo!
Pak, di mana tas saya dan gendongannya?
Pak? Aku bahkan belum kawin!
Aku nggak bermaksud begitu...
Maafkan aku.
(Ayolah, kak! Bukan formula, tapi ASI!)
(Berapa kali sudah kubilang?)
Dia belum makan. Kupikir kita harus memberinya ASI.
Hei!
Apa?
Kamu memang belum siap menjadi seorang ayah.
Gimana bisa kamu punya selera makan sekarang?
Sudah sepantasnya orang tua memberi sendiri makanan pada anaknya.
Aku bisa melihat ke mana arah ini semua...
Kamu lagi lihat apa?
Permisi.
Ada yang bisa saya bantu?
Bisakah saya mengetahui alamat orang-orang
yang baru-baru ini mendaftarkan akta kelahiran?
Apa?
Yang satu ini tak bisa minum susu formula.
Ibunya meninggal waktu melahirkan.
(Ayolah, yah, lakukan dengan benar)
- Bayiku tak bisa minum formula, - (Yeah, seperti itu)
- ... hanya minum ASI. - (Bagus, bagus)
- Dia memang punya selera yang baik. - (Dia mulai terpengaruh)
(Tinggal sedikit lagi)
- Rumah yang mana... bisakah kau... - (Tinggal sedikit lagi, yah,)
(Ini dia, berhasil!)
Tunggu di sana. Aku akan mencarikannya.
(Keluarkan, yah, menangis keras-keras!)
Kumohon, cepat...
Siapa ya?
Aku kemari untuk meminta ASI...
Apa?
(Manis... manis sekali...)
Siapa?
Halo. Aku kemari untuk meminta ASI...
Apa?
(Aku nggak mau, nggak lagi, aku kenyang!)
(Aku kenyang! Cukup, aku akan minum FORMULA!)
(Aku cuma suka FORMULA! Lepaskan aku, aku nggak mau!)
Seseorang sibuk ke sana ke mari seharian
sementara seseorang lainnya sibuk makan.
Dasar kau, babi cilik, makanlah oke?
Benarkah, rasanya enak kah?
(Tentu, yah!)
KELOMPOK INTERNET PERAWATAN BAYI KLUB AYAH SINGLE
Halo, kawan-kawan anggota yang tengah kesulitan merawat bayi.
Hari ini menandai pertemuan kita yang ke-14.
Aku ingin mengucapkan selamat datang pada anggota baru kita.
Hai, senang bertemu denganmu.
Hari ini kita kedatangan seorang pembicara,
yang merupakan seorang instruktur dari ASOSIASI PERAWATAN BAYI KOREA...
Oh, kau kemari.
Masuklah. Sini.
Kita akan melakukan pelatihan nanti.
Duduklah di kursi yang kosong di sana.
Hei!
Kau, siswa itu?
Kau anggota yang paling muda.
Baiklah, sekarang, mari kita mulai pelajaran,
Untuk bayi, sangat penting memastikan bahwa mereka telah mendapat vaksinasi
pada waktu yang tepat,
Bayi Han Woo-Rahm! Silahkan masuk!
Pergi ke ayahmu. Ini ayah.
Sungguh pasangan yang lucu!
- Sudah berapa anak di keluarga kalian? - Kami? Sembilan.
Gadis muda itu sudah punya sembilan anak.
Astaga... mana mungkin?
Terima kasih.
Akhirnya, semua habis.
Kamu nggak ikut?
Pergilah duluan. Aku harus mampir dulu ke suatu tempat.
Hei, Gi-seok. Yeah, aku dalam perjalanan.
Minumlah.
Ini, minumlah.
Coba ini. Aa...!
- Cumi-cumi ini susah dikunyah. - Kau menyukainya, hah?
- Hei, kamu! Kemari. - Ya, pak?
Kemarilah sini.
- 'Ayah'? - (Bukankah itu orang yang ada di TV?)
Membawa anakmu sambil mencari uang?
(Ngomong saja sendiri.)
Benar-benar pemuda pekerja keras.
Aku suka apa yang kau lakukan.
Tak biasanya aku ngasih tip sama waiter, tapi...
Panas sekali.
Ini 30 dollar.
Terima kasih, pak. Terima kasih!
Berjuanglah, oke? Pakailah buat beli susu.
- Kau boleh pergi. - Selamat menikmati, pak.
- Siap untuk gelas berikut? - Ya, ya.
Aku menang! Oke, aku ambil ini.
Satu buatmu, satu buatmu...
Hei, nona-nona. Aku harus membagikan brosur.
Bisakah kalian menjaga anakku?
Emangnya kami babysitter apa?
Kami sedang bertugas, cepatlah kembali.
Terima kasih! Ini.
Aku akan segera kembali.
(Wow... aku sedang di surga.)
- Kau suka itu? - (Yeah!)
Silahkan berkunjung ke bar kami.
Kami akan memberi Anda diskon.
Silahkan berkunjung ke bar kami.
Ingat 'Ayah'. 'Ayah' namanya.
Sebagai pembukaan,
kami akan memberikan sebotol minuman gratis. Gratis!
Nona! Terima ka...
Sini ke ayah.
Siapa yang melakukan ini?
Apa yang sudah kulakukan?
Maaf.
Kita nggak akan kembali ke sini lagi, oke?
Jangan nangis. Jangan nangis.
Sebagai penghargaan karena mempunyai seorang putera
yang menjadi juara kelas dan perwakilan kelas,
ibuku berhasil menjadi Ketua Asosiasi Guru dan Orang tua.
'Selalu menjadi nomor 1 '
Itu motto keluargaku.
Lantas apa yang akan terjadi dengan Joon-soo?
Sudah jelas bukan? Pembuat onar menyebabkan keonaran...
Kita tidak boleh hanya duduk diam dan menyaksikan.
Itu bukan topik yang menyenangkan.
Aku harus menghadiri kelompok belajar.
Hei!
Apa?
Kamu! Awas kamu!
Apa? Mau melapor sama ibumu?
Kayak kamu hebat aja.
Dan kamu tahu? Kalau kamu jadi yang terbaik di kelas lagi,
Aku akan ganti namaku.
Dia pikir siapa dia?
'Siapa yang dia pikir siapa dia'?
Dasar penjilat!
Posturmu akademik banget.
Mami.
Selain itu juga, gemulai!
Kau tahu ini adalah masa-masa yang amat penting untuk semua siswa.
Demi kebaikan semua,
pihak sekolah memutuskan untuk menskorsmu sementara waktu,
Kau juga minum. Bersulang!
Siapa kamu, hah?
(Semabuk apa sih dia? Sampai nggak bisa mengenali anaknya sendiri.)
Aku ayahmu. Oke?
Dengar, namaku Han Joon-soo.
Kamu adalah Han Woo-rahm. Kamu dan aku. Cuma kita berdua.
Hei, jangan berisik.
Maafkan aku.
Namaku Han Joon-Soo, dan ini Han Woo-Rahm.
Umurku 18 tahun. Dan dia adalah anakku...
Aku nggak ngerti kenapa orang-orang nggak nerima kita.
Kenapa?
Hei, bung. Kau baik-baik saja?
Kamu, aku akan selalu menjagamu, selamanya.
Aku bukan seorang pelajar lagi. AKu seorang ayah. Seorang bapak!
Kalau kau tak mau berakhir seperti Han Joon-Soo, belajar lebih keras!
Hei, apa-apaan kamu?
Aku Byeol Kim.
Kau sedang di dalam kelas. Kembali ke kursimu!
Tidak, ini adalah belajar mandiri.
Aku bisa belajar mandiri di rumah. Jadi aku akan pulang.
Siapa yang mengirim orang sepertimu kemari?
Balik ke kursimu sekarang!
Apa yang kau minta pada kami sekarang adalah belajar paksa, bukan belajar mandiri.
Dan itu melawan hukum.
Aku akan mengajukan komplain ke Dewan Pendidikan.
Bukankah sudah jelas ini adalah pelanggaran terhadap pedoman pendidikan?
Dan pak, pastikan Anda mengucapkan dengan benar, R bukannya L,
dan P bukannya F.
Diam!
Ada 36 botol bir di dinding,
kau ambil salah satu dan berikan kemari,
Ada 35 botol bir di dinding,
kau ambil satu dan berikan kemari,
Kamu nggak minum?
Terima kasih.
Buat apa?
Terima kasih sudah membuat Byeol kembali bersekolah dan bersikap baik padanya.
Nggak, justru saya selalu menyusahkan dia.
Orang-orang tak mau memahami manusia
yang sedikit berbeda dari mereka, kau tahu?
- Guru, saya mau tanya. - Tentu. Apa itu?
Saya tahu sedikit tentang teorema Pitagoras.
Maka saya mencari-cari di beberapa buku,
tapi saya tak pernah benar-benar membuktikannya.
Bagaimana saya bisa membuktikan persamaan antara
X=m^-n^, Y=2mn, dan Z=m^+n^?
Guru!
Guru!
Sedikit pertanyaan tentang pembuktian teorema ini.
Kamu belum perlu memahami teori ini di tingkat SMP.
Oke?
- Guru! - Ya ampun!
Surat Pengunduran Diri Sukarela Byeol Kim
Dia dikeluarkan dari sekolah,
lalu suatu hari, tiba-tiba dia memaksa mau pergi sekolah.
Aku heran apa yang menyebabkannya begitu...
KAMU!
Itu karena kamu. Kamu si cowok tampan.
Baik-baiklah sama puteriku, oke?
Sungguh anak yang tampan, hah?
Cerialah! Aku di sini untukmu,
Aku akan selalu berada di sisimu ~Byeol
Itu baru namanya keluarga sejati.
Aku kangen Joon-Soo!
Hei, berhenti kamu. Tunggu!
Ya Tuhan. Apa yang kamu lakukan?
Hei, kamu! Kemari kamu bocah.
Kata siapa kamu boleh lari-lari di sini? Jalanlah pelan-pelan.
Lihat apa yang sudah kamu perbuat. Lain kali hati-hati ya.
Maafkan saya, Bu.
Pastikan kamu berjalan dengan tumitmu.
- Ibu. - Oh, saya benar-benar minta maaf.
Kamu, pergi sana.
- Uh, dingin sekali. Yaik. - Fyuh, maafkan saya.
Anda kemari bawa berapa anak?
Jelas sekali mereka tidak disiplin untuk berada di luar.
Apa kamu bilang?
Hei, tadi itu kan nggak sengaja. Mereka cuma anak-anak.
Siapa kamu berani-beraninya ngomong tentang disiplin anakku?
Kamu juga pikir kamu siapa bentak-bentak?
Terserah aku mau bentak-bentak. Memangnya berapa umurmu?
Aku dulu yang tanya. Berapa umurmu, berapa? Hah?
- Sini, aku kasih tahu. - Astaga... Lepaskan aku!
Bu, tolong tenanglah. Kita bisa bicarakan ini.
- Tak perlu kekerasan fisik di sini. - Sayang, hentikan. BERHENTI.
Tunjukkan kebolahnmu. Menyingkir!
Sersan Han?
Sissy boy?
- Hormat! - Hormat!
Sayang, dia seniorku dulu di marinir. Sersan Han!
Korea Construction... CEO?
Wow, hebat sekali. Aku tahu kau pasti berhasil.
Kau memang selalu ulet. Ini hebat.
Hei, kau tahu... Maaf tentang yang tadi.
Tak apa-apa. Terkadang kau melangkah di atas kotoran anjing.
Bagaimanapun, jangan kuatir.
Kenapa Byeol lama sekali ya?
Mungkin dia pergi melihat Woo-rahm?
Dia akan segera datang, kurasa.
Woo-rahm? Kalian punya anak yang lain?
Oh tidak... Duduk. Duduklah.
Puteriku, yang di SMA
memiliki teman yang sudah punya anak.
Mereka tidak tahu siapa ibunya.
Dan untuk suatu alasan, orang tuanya tidak ada di rumah.
Makanya puteriku terkadang mampir untuk mengasuh bayinya.
- Hanya sekedar membantu... - Kau tahu.
Apa? Pelajar SMA punya anak?
Sayang...
Apa-apaan itu?
Seorang pelajar punya bayi bahkan tidak ada ibunya?
Orang tuanya bahkan lebih buruk lagi.
Tak ada disiplin dan sebagainya! Tidak!
Ayah... Ibu... Anakmu lagi-lagi diskors.
Aku nggak mukul seseorang. Aku nggak merokok di sekolah.
Mereka menyuruhku jangan datang ke sekolah hanya karena cucu kalian.
Hanya karena dia mungkin bisa mengganggu siswa lainnya,
mereka melarangku ke sekolah.
Man, serius. Kalian bahkan nggak bisa menelpon sesekali?
Memangnya kalian nggak kangen anakmu?
Gimana dengan cucumu? Apa salah dia?
Apa salah dia?
Aku kangen kalian.
Siapa kamu?
Aku? Anda siapa?
Kamu tinggal di sini?
Nggak, aku cuma mengasuh bayi.
Bayi? Bayinya siapa?
Pemilik rumah ini.
Apa?
Oh, dasar tua bangka gila. Awas kau...
Oke, dia datang.
Hei, ayo kita berangkat!
- Aku datang! Aku datang! - Oke, oke. Cepatlah!
Cuma karena kau diskors bukan berarti
aku harus terlambat mengikuti ujian, oke?
Oke. Sini. Ke ayah.
Ngomong-ngomong, pekerjaan apa itu?
Bukan urusanmu. Semoga lancar ujiannya.
Ayo.
Dari mana asalnya selera makanmu?
Siapa dia?
Kamu lagi ngomong apa?
Siapa yang kamu taklukkan kali ini?
Bukankah kamu sudah tua untuk hal ini? Bikin adik buat Joon-soo, hah?
Dasar tua bangka, tolol!
Guru, maaf, aku sungguh tak tahu apapun.
Hei, setidaknya isi namamu, dasar bodoh.
Ahh, namaku...
Aku tahu.
Dasar gembel pemalas. Bangun, Kim Byeol!
Tidur. Tidurlah nyenyak...
Ini ujian Bahasa Inggris.
Paling tidak bisakah kamu menuliskan ini dalam Bahasa Inggris?
"SIR, I'M SORRY... REALLY, I DON'T KNOW..."--
Itupun kamu tidak tahu?
Sleep... sleep...
Yang bener aja, man. Tidak.
Tidak dengan bayi itu.
Pak, kumohon. Aku akan pastikan dia nggak akan mengganggu.
Tidak! Sungguh!
Bu, aku sungguh bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik.
Kau takkan bisa bekerja di dapur dengan seorang bayi.
Enyah dari sini. Cepat!
Ini bukan tempat untuk bayi.
Pergilah, sekarang!
Aku akan lakukan apapun. Biarkan aku melakukannya.
Tidak, aku tak bisa mengijinkan kamu kerja di sini. Apa yang bisa kau lakukan di sini dengan seorang bayi?
- Ayolah - Kubilang, tidak.
Kau tak bisa pergi bekerja sambil membawa bayi.
Pak, aku bisa meyakinkan Anda bahwa aku benar-benar bagus.
Kubilang TIDAK!
Pak! Pak!
Selamat Datang.
Aku seorang siswa SMA, dan punya seorang bayi.
Akan merepotkan kalau aku bekerja di sini, bukan?
Kenapa kamu tanya? Kamu sudah tahu itu!
- Berapa harga susu? - 50 sen.
Bagaimana dengan susu cokelat?
(Asin!)
Sial!
Sial!
Sial!
Kamu bukan satu-satunya cewek di dunia ini, tahu!
Hei, lagi ngapain kamu?
Kamu, berhenti di sana. Kubilang stop!
Hei, kamu! Kembalikan dompetku!
Tunggu, taksi!
Ayo, ayo! Cepat!
Ayo pergi!
Permisi. Saya mencari seorang pelajar bernama Han Joon-Soo.
- Apa Anda ibu si bayi? - Maaf?
Sudah berapa lama kamu dibiarkan kelaparan, anak malang?
Kurasa putingku sudah tidak pengaruh.
Apa ini ibunya?
Astaga, bukan.
Susui dia, oke? Itu yang terbaik baginya.
Han Joon-soo!
Permisi, ibu bayi?
Harus berapa kali aku kasih tahu kalian? Aku bukan ibunya!
Tanya saja orang-orang. Kalian sangat mirip.
Lihatlah dirimu. Seorang pencopet...
Sudah kubilang, itu cuma kesalahpahaman.
Kesalahpahaman?
Aku tak punya pilihan lain.
Dan, aku sudah kembalikan dompetnya sama si pemilik. Jadi sudah selesai.
Apa kau gila?
Kau sedang menguji kesabaranku, hah?
Pulanglah. Dan aku benar-benar minta maaf.
Han Joon-soo!
Maaf sudah membuatmu mengalami ini.
Tidak semestinya ayah seperti ini.
- Bisa ambilkan sebungkus rokok? - Rokok apa?
Nggak jadi, aku ambil susu formula saja.
Waktunya minum susu. Kamu senang?
Ngomong-ngomong, bayi itu... anak siapa?
Anak siapa lagi? Ya anakmu.
Dia anakku, yah.
Dulu...
Ada seorang gadis yang sering kencan denganku.
Dan dia meninggalkan bayi ini bersamaku.
Aku sempat ingin melepaskannya.
Tapi ternyata itu tidak gampang.
Lihatlah sisi buruknya.
Bayangkan bagaimana sedihnya dia waktu dia sadar kalau
dia nggak punya orang tua?
Aku lakukan yang terbaik... yang paling baik untuk membesarkannya dengan benar...
Sudahlah, tak apa. Aku paham perasaanmu.
Beberapa hari ini pasti sangat berat buatmu.
Sekarang berhentilah menangis. Seorang ayah nggak boleh nangis.
Ayah...
Pertama, kita kembalikan kamu ke sekolah.
Selama kau sekolah, ibumu dan aku akan merawat bayi ini.
Jadi tolong berhentilah terlibat masalah.
Terima kasih, ayah.
Baiklah kalau begitu. Bangunlah.
Kau siap untuk satu ronde?
Ya?
Ibumu tak tahu keberadaan kita.
Ibu sedang flu?
Aku nggak apa-apa. Nanti aku minum obat.
- Ibu yakin? - Oh, aku baik-baik saja.
Kubilang aku baik-baik saja. Berangkat sekolah saja, sana!
- Aku pergi dulu - Oke. Sana.
Hai, manis.
Maaf sudah banyak menyusahkan Anda karena keluarga saya.
Sudahlah tak apa.
Tidak bisa diterima seorang pelajar mempunyai seorang bayi.
Lebih buruk lagi kalau membawa bayi ke sekolah.
Siswa-siswa lainnya bisa mencontoh. Mencontoh!
Saya sungguh minta maaf.
Tapi, pak...
Guru seharusnya,
dalam keadaan apapun, tidak boleh menendang keluar seorang siswa dari sekolah.
Mereka harusnya tetap berada di dalam sekolah.
Anda tidak boleh menendang seorang siswa keluar dari sekolah, menuju ke jalanan.
Hanya karena siswa tersebut mempunyai seorang bayi,
Anda menskorsnya gara-gara itu?
- Ayah. - Lepaskan.
Permisi, Pak Han.
Jadi, menurut Anda seorang pelajar mempunyai bayi bisa diterima?
Di sekolah ini, kita harus memikirkan siswa lainnya.
Itulah kenapa kita harus mematuhi tata tertib sekolah.
- Tata tertib sekolah! - Bapak Wakasek!
Aku sudah pernah bilang tak ada peraturan yang berkaitan dengan bayi dalam tata tertib sekolah.
Tidak... ada?
Bahkan tidak ada dalam tata tertib sekolah, dan kau menskorsnya?
Aku akan laporkan sekolah ini ke Dewan Pendidikan.
- Ayah... - Lepaskan aku.
Telpon Anda berbunyi.
Halo?
Apa?
Apa yang terjadi? Seberapa parah sakitnya?
Dia cuma kena demam tinggi.
Terus? Bagaimana keadaannya?
Dia masih dalam pemeriksaan.
Kurasa kita harus menunggu.
Kenapa ibu maksa mengasuhnya padahal ibu lagi sakit?
Apa yang kubilang tadi pagi? Dia ketularan ibu kan?
Kalau ada apa-apa dengan dia, itu salah ibu.
SALAH IBU!
Beraninya kamu bicara seperti itu ke ibumu!
Maafkan aku, ayah.
Semua orang tua sama saja, mau muda atau tua.
Kalau anaknya sakit, akan merasakan juga.
Kupikir malah harusnya merasa lebih menderita daripada si anak...
Jangan terus-terusan terlalu marah pada ibumu.
Ibumu selalu tersenyum, tapi dia sudah mengalami banyak hal.
Kamu dan aku pernah membuatnya amat sedih.
Aku pernah sangat keterlaluan padanya.
Joon-soo menderita pneumonia,
Pasti berat sekali bagi bayi sekecil itu!
Hati ibu mana yang takkan tersayat-sayat dan bertanya-tanya kapan dia akan sembuh...
Dokter mengatakan kita akan mengetahuinya setelah malam ini
berharap dia dapat bertahan menghadapi ini semua.
Tuhan, beri dia kekuatan
(Ayah, aku sedang sakit, mereka bilang nama penyakitnya pneumonia.)
Maafkan aku, bu.
Kamu sudah makan?
Kenapa murung begitu?
Minta.
Hei, tabahlah, man.
Lihat aku. Aku baik-baik saja, bukan?
Maafkan aku.
Apa?
Maaf, aku nggak sanggup membesarkannya sendirian.
Aku baru kemari dari Amerika Serikat sebentar saja,
tapi aku akan pergi kembali, segera, tolong rawatkan dia untukku.
Apa ini?
Kau bangsat!
Bangun! Bangun!
Kalau kamu memang manusia, kalau kamu memang seorang teman...
kamu nggak akan tega melakukannya.
Katakan sesuatu! Kenapa kamu tega melakukan itu?
Aku benar-benar menyesal. Aku memang pantas dibunuh.
Kamu tolol. Cuma segitu yang bisa kamu katakan?
Dengar, man. Aku, juga, berharap
aku dilahirkan dalam keadaan kaya raya seperti kamu,
dan melakukan apapun yang aku mau. Kamu tahu?
Tapi nggak, aku nggak bisa. Gara-gara kemiskinan sialan.
Aku harus rela melepaskan temanku, persahabatan,
dan bahkan bayiku sendiri, tahu?
Berhentilah mengasihani diri dan besarkanlah dia dengan benar.
Itu harapan terakhirku sebagai seorang teman.
Hei, kamu di sini.
Ayo kita pergi.
Ke mana?
Ayo, cepat. Mereka sudah menemukan orang tuanya yang asli.
Apa?
Koran!
Aku datang, Woo-rahm. Aku datang.
Joon-soo, kamu sudah bangun?
Man...
Aku pergi sekolah.
- Joon-soo, tidak sarapan dulu? - Joon-soo!
Aku nggak apa-apa.
Kasihan sekali. Padahal dia sudah melakukan yang terbaik sebagai seorang ayah.
Aku tahu...
Hei, cerialah!
Lihat di sana.
Peringkat pertama: Kim Byeol
Gimana bisa nilai-nilaimu tanpa cela?
Belum pernah dalam 3 tahun ini aku lihat dia di peringkat kedua.
Kamu memang hebat, beneran!
Woo-rahm sudah keluar dari rumah sakit.
Kamu nggak mau lihat?
Menurutku dia kangen berat sama kamu. Dia rewel sekali.
Dia sudah menemukan ayahnya yang asli. Apa lagi yang bikin dia rewel?
Kamu pengecut.
Apa?
Kamu tahu siapa yang paling merindukan Woo-Rahm,
dan siapa yang paling dirindukannya saat ini.
- Itu kamu! - Kamu tahu apa, hah?
Kamu pikir aku kangen sama dia?
Siapa yang sudah bikin aku merasa di neraka?
Kenapa juga aku mesti kangen sama dia?
Joon-soo...
Apa?
Kamu tahu...
Apa?
Dia... Woo-rahm...
Mendingan kamu diam aja, oke?
Hei, Han Joon-soo!
Anakmu akan pergi ke luar negeri untuk diadopsi. Mengerti?!
Kupikir mengirim Woo-rahm ke luar negeri untuk diadopsi bisa lebih buruk
ketimbang meninggalkannya pada Joon-soo.
Pasti berat buatmu, tapi pikirkanlah.
Woo-rahm, baik-baiklah di sana. Oke?
Di sana, kamu harus lupakan ayah dan nenek, dan hiduplah bahagia.
Bu, aku mau melihat Woo-rahm tumbuh, ibu tahu?
Di tangan keluarga Joon-soo, aku kira mereka akan merawatnya dengan baik.
Aku ada di bandara,
Kalau dia pergi sekarang, kita mungkin takkan bisa melihatnya lagi.
Tidakkah setidaknya kamu mengucapkan salam perpisahan?
Jangan sampai menyesal.
(Aku baru saja menjalani semua proses hospitalisasi, dan sekarang adopsi?)
(Man, benar-benar kehidupan yang keras.)
Woo-rahm!
Ke mana saja kamu?
- Hei! - Han Joon-soo!
Tunggu. Tunggu sebentar! Hei, ambil dia! Stop!
Lepaskan aku! Lepaskan aku!
Kembalikan bayiku! Woo-rahm, ayah di sini!
Kamu nggak akan pergi ke mana-mana!
Kembalikan bayiku! Woo-rahm!
Kembalikan bayiku!
Lepaskan aku! Ayah di sini!
Aku mengira aku tak akan bertemu dia lagi.
- Terima kasih bu! - Sampai jumpa, ibu.
Aku kenyang sekali!
Joon-soo, ibumu pintar banget masak!
Gurita kecil dan sambal pedas ini, lezat sekali!
Joon-soo, aku berhutang padamu, man. Aku akan lakukan yang terbaik untuk membesarkan Woo-rahm.
Kenapa cuma kamu yang membesarkan dia? Dia juga anakku!
(Apa? Apa kalian bertengkar demi aku?)
Minggu ini, dia tinggal di rumahku.
Kalau begitu, kita rayakan dua ayah ini dengan pesta bir?
NGGAK!
Alkohol mengurangi jumlah sel darah putih,
yang menurunkan sistem kekebalan tubuh...
melemahkan daya berpikir, yang dapat menyebabkan lahirnya Woo-rahm kedua dan ketiga!
Baik, aku mengerti. Lupakan.
Bagaimana kalau kamu dan Gi-seok minum soda saja?
Oh, oke. Ayo.
Hei, cepatlah!
Kamu lumayan keren hari ini.
Hebat! Ibuku nggak mesti memiliki seorang menantu yang merupakan ayah tunggal.
Kamu ngomong apa sih?
- Aku punya sesuatu untukmu. - Apa itu?
(Apa? Kau baru saja dapat servis, yah.)
Sewaktu Ibunya Joon-soo masih SMA
Maafkan aku, aku pikir bayi ini lebih baik dibesarkan olehmu.
Namanya Han Joon-soo, Young-sook
subtitle by: VIEATOZ (vieatoz@gmail.com)
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.