Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Apa kau percaya hal gaib?
Jin, atau lebih dalam?
Sihir?
Faktanya,
sihir menjadi bagian dari sejarah
dan kepercayaan manusia sejak lama.
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.
…Intimidasi ini. Dalam nama Yesus! Demi nama Yesus!
Tidak ada yang percaya pada kami.
Termasuk aku seorang.
Entah kenapa habis menikah,
banyak hal-hal aneh yang kurasakan.
Aku pun tidak mengerti itu apa.
Semuanya mulai tidak masuk akal.
Makin merah kulitku,
makin rusak tubuhku.
Tiap aku berjalan,
rasanya seperti berdiri di atas paku panas.
Aku membawanya berobat,
tapi tidak membaik.
Justru makin memburuk.
Bila di rumah melihat benda tajam,
ada dorongan kuat melukai diri sendiri.
Aku mendengar bisikan-bisikan menyuruhku mati.
Aku cuma berpikir bagaimana caranya ini sembuh.
Sampai akhirnya aku mulai percaya.
Sihir itu benar ada?
Apa yang kami alami ini bagian dari sihir?
Atau yang biasa disebut orang sebagai…
Santet?
Tolong kami.
Doakan kami terlepas dari sihir ini.
Setelah lulus, kamu mau apa?
Aku mau kawin.
Kawin?
Kamu mau lekas kawin?
Salah, ya, mau lekas kawin?
Ya, tidak juga.
Kalau tiga tahun lagi, bagaimana?
Kenapa harus tiga tahun?
Karena kalau tiga tahun lagi…
Kawinnya dengan aku.
Yah, kamu datang ke rumah.
Ketemu Abuya.
Minta restu.
Aku harus pulang dulu ke kampungku.
Cari uang yang banyak.
Setelah itu, kembali lagi ke sini
bertemu Abuya, melamarmu.
Setelah itu, kita hidup bahagia,
punya anak yang banyak.
Kalau nanti ada yang datang ke Abuya,
lalu Umi dan Buya menyetujui…
Mereka merasa orangnya baik untuk aku…
Bagaimana?
Sebentar, ya.
Iya.
Iya, Maya ke sana.
Dum.
Aku ke bilik foto dulu, ya.
Safiyya sudah datang.
Kami mau foto keluarga dulu.
Saya dapat laporan seperti itu. Saya tidak mau seperti semalam.
Laporan harus dituliskan dengan cepat.
Ayo, May. Silakan bekerja.
- Iya, terima kasih, Pak. - Cepat.
- Sudah, tidak mau. - Benar. Astaga, Ai.
- Tidak. - Benar.
Lebih baik kita makan mi bancir.
- Mi bancir Tante Imai? - Bukan, Tante Basnah.
- May, kerja di kelurahan sekarang? - Iya.
- Apa kabar sekarang? - Baik. Kamu juga apa kabar?
Baik juga.
Jadi, bagaimana, May, hubungan kamu dengan Duma?
Duma?
- Duma siapa, Kak? - Duma.
Teman tapi mesranya Maya pas kuliah.
Bagaimana, ya, Ros.
Kami sudah tidak dekat seperti dulu lagi.
Semenjak dia pulang kampung,
sepertinya dia sibuk.
Aku juga.
Jadi, jarang komunikasi lagi.
Sudah berapa lama, ya, sejak kita wisuda?
Setahun ada.
Maaf, jadinya lama.
Tidak apa-apa.
Maaf, ya.
Sebentar.
- Yuk, sudah. - Yuk.
Iya, Blok C nomor empat.
Sebelah kiri. Oke.
Abuya antar, ya?
Tidak usah.
Sebentar lagi sampai, Abuya.
May, bagaimana pria yang kemarin?
Yang hafiz Al-Qur'an itu.
Sudah bicara, 'kan?
Tidak cocok, Umi.
Tidak cocok saat Maya bicara dengan dia.
Kamu terlalu pilih-pilih, Maya.
Cari calon suami itu, yang paling penting
adalah agamanya.
Akhlaknya.
Kemapanannya.
Nasab atau keturunannya.
Kalau untuk urusan cinta,
nanti bisa berkembang ketika kamu menikah nanti.
Bukan orang Arab tidak apa-apa, 'kan, Bi?
Tidak apa-apa.
Abuya sudah punya menantu Arab dari adik kamu.
Asal dia bisa lolos dari tesnya Abuya.
Pokoknya, kamu ingat
bahwa yang penting dalam pernikahan itu harus sekufu.
Karena kalau banyak ketimpangan,
nanti kamu akan banyak masalah di kemudian hari.
Terutama masalah harta.
Dan Abuya sudah sering ingatkan kamu itu.
Iya, Abuya.
Maya juga mau menikah tahun ini.
Amin. Amin!
Allah SWT berfirman,
dalam Surah At-Thalaq ayat dua dan tiga,
yang intinya begini.
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah,
niscaya Allah akan bukakan jalan keluar baginya."
Nah. Lihat kawanmu, May.
Kawanmu, May.
Ya ampun, katanya tadi tidak mau menikah.
Dia malah tebar pesona pada laki-laki di situ.
Siapa itu, May? Kamu kenal?
Sepertinya kawannya.
Karena dia panggil Nilam.
Kamu kenal?
Itu siapa, ya?
Cengar-cengir saja.
Kak Maya.
Kakak ada, 'kan, di grup majelis kita?
Ada. Kenapa?
Ada kawanku, katanya mau berkenalan.
Boleh, 'kan?
Siapa?
Tadi, yang mengobrol denganku di sana.
Namanya Andi.
Dia itu kakak tingkatku pas kuliah dulu.
Kawan kamu, ya?
Aku kira orang yang kamu taksir, Nilam.
Wah, ganteng, May. Sudah, ambil saja.
Sikat!
Abuya, Umi.
Dua minggu yang lalu, ada yang minta berkenalan dengan Maya di majelis.
Temannya Nilam.
Lalu dia menelepon Maya,
dan kami juga beberapa kali ketemu lagi di majelis.
Dia juga kirim pesan ke Maya di WA.
Baru saja
dia mengajak Maya taaruf.
Terus, kamu jawab apa?
Orangnya bagaimana?
Yah, Maya bilang, kalau dia serius,
temui Abuya dulu di rumah.
Dia mau datang lusa malam.
Yah, nanti kita lihat dulu.
Baca Al-Faatihah.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Pantas Kak Maya mau.
Tampilannya benar-benar tipe Kakak.
Profilnya, Fiya.
Menurut aku, pandangan dia soal rumah tangga
satu visi denganku.
Apakah iya?
Tidak apa-apa kalau cuma karena fisik.
Iya, Kak. Bagaimana kabar Kak Duma?
Kakak pernah cerita,
dulu dia pernah mengajak Kakak menikah, 'kan?
Bagaimana, ya?
Dia juga tidak jelas.
Kalau dia serius,
dia datang ke Abuya.
Aku sudah pernah bilang itu.
Nah, itu.
Menikah itu tentang kepastian.
Cinta itu nomor dua belas.
Kakak yakin bisa bahagia dengan pilihan Kakak ini?
Nah, dengar kata orang tua.
Cinta itu bisa tumbuh seiring dengan berjalannya waktu.
Soal bahagia?
Bahagia itu banyak bentuknya.
Bahkan dalam bentuk yang tidak kita harapkan.
Terkadang
kebahagiaan itu membutuhkan pengorbanan,
dan juga kompromi.
Tidak semua orang seperti Umi.
Aku cuma tanya Kak Maya saja.
Biasanya, lama berpikirnya kalau memberi jawaban, 'kan?
Sudah.
Insyaallah.
- Insyaallah. - Doakan saja.
Amin.
Amin.
Halo, Qalbi.
Assalamualaikum.
Waalaikumsalam, Duma.
Ibu kelurahan sibuk sekali sepertinya.
Lama tidak dengar kabar.
Warga aman, Bu?
Ibu kelurahan lagi banyak agenda akhir-akhir ini.
Oh.
Pantas jarang unggah status sekarang.
Lagi sibuk apa?
Dum.
Aku mau mengabari kamu.
Beberapa minggu yang lalu, aku dilamar, dan…
Insyaallah akan menikah dua minggu lagi.
Dum?
Duma?
May.
Kamu benar mau menikah, May?
Kamu tahu, kalau memang ada yang datang,
dan Abuya serta Umi menyetujui,
dialah yang akan jadi jodohku.
Mungkin
ini memang sudah takdirnya.
Kita relakan semuanya, ya?
Maafkan aku, Dum.
Saya memohon ampunan kepada Allah.
Tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia,
Yang Maha Hidup lagi Maha Kekal. Dan kepada-Nya aku bertobat.
Sandi bin Fadlansyah.
Aku nikahkan anakku, Mahya binti Mu'adz,
dengan engkau atas sunnatullah dan sunnah Rasul-Nya
dengan maskawin sebesar 100 gram emas
di depan para saksi yang hadir, dibayar tunai.
Saya terima nikahnya dengan mahar yang telah disebutkan.
- Bagaimana, Saksi? Sah? - Sah.
- Sah. - Sah!
Alhamdulillah.
Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi
atasmu serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.
Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia,
berikan pula kebaikan di akhirat,
dan lindungilah kami dari siksa neraka.
Segala puji bagi Allah, Tuhan Seluruh Alam.
Bu.
Hujan deras pas perkawinan.
Besar ujian mereka berumah tangga nanti.
Doakan saja.
Semoga pengantinnya bisa melewati.
Kehidupan rumah tangganya harmonis, indah, aman sentosa.
Amin.
Astagfirullah.
Ya Allah. Kenapa, Bi?
Menginjak ini.
Kamu jangan injak. Basah.
Kenapa itu?
Tidak tahu, mungkin karena hujan siang tadi.
Masyaallah.
Semoga kamu betah, ya, tinggal di sini.
Insyaallah.
Selama bersama kamu.
Wudu dulu, Bi.
Nan…
Bis…
Nan…
Bis…
Anak raja Baruntik.
Datang membawa buruk.
Nyawa tidak terambil.
Sangiang barubuk.
Anak raja Baruntik.
Datang membawa buruk.
Nyawa tidak terambil.
Abi?
- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.
Kamu kenapa, Bi?
Tidak tahu, Mi.
Gatal sekali.
Coba aku lihat.
Kenapa semua merah-merah, ya?
Mungkin karena banjir.
Karena airnya kotor tadi.
Kita ke dokter sekarang, ya?
Kita perlu melakukan beberapa tes.
Yang tadi itu masih mungkin alergi,
tapi kita juga harus cek penyebab lainnya.
Kalau yang di kaki tadi itu sepertinya skabies.
Nanti saya akan berikan obat dan salep, ya, Pak.
Ibu jangan lupa bersihkan semua benda yang ada di rumah, ya, Bu?
Dan untuk batuknya, Pak,
saya sarankan Bapak rontgen dada
dan konsultasikan dengan spesialis paru.
Oh, ya. Apakah sebelumnya Bapak pernah ada
keluhan kulit,
atau barangkali alergi tertentu?
Abi, kamu yakin tidak punya alergi?
Atau, kamu makan apa hari ini?
Aku tidak punya alergi selama ini.
Benar.
Maaf, ya.
Aku jadi merepotkan kamu.
Tidak apa-apa, Bi.
Bi?
Abi minum, ya?
Mau ke mana, May?
Mau temani Andi ke dokter.
Kenapa?
Kak. Bukannya Kak Andi kemarin sudah dirontgen? Masih sakit?
Iya, masih.
Hasil rontgen parunya normal,
padahal masih batuk berdarah.
Astagfirullah.
Makanya, disuruh bronkoskopi dulu oleh dokter.
Serius?
Kak.
Kakak pernah terpikir atau tidak,
kalau ini bukan sakit biasa?
Maksud kamu?
Itu, Kak.
Kalau sakit itu tidak ada sebab yang jelas,
biasanya orang kita menyebutnya itu karena hal gaib.
Kami coba berobat medis dulu.
Pergi dulu.
Assalamualaikum, Semuanya.
Waalaikumsalam.
SIAP - JENIS KELAMIN - USIA
Saat kita lakukan bronkoskopi,
tidak ditemukan kelainan apa pun, Bu.
Namun, kita mesti curiga
hal-hal yang bisa menyebabkan sakit Bapak.
Seperti ada infeksi.
Apakah Bapak batuknya makin parah akhir-akhir ini?
Kadang batuknya terus-menerus, nonstop, Dok.
Tapi ada juga dia tidak batuk sama sekali.
Jedanya sekitar empat sampai lima hari.
Pas kambuh, satu sampai dua hari.
Saya akan memberikan obat untuk menahan batuknya Bapak.
Jika sudah ada hasil,
ibu akan dikabari oleh pihak rumah sakit.
Bi.
Mulai sekarang, aku berangkat sendirian tidak apa-apa.
Yah, aku juga bisa antar jemput kamu kerja.
Tidak keberatan.
Benar?
Benar.
Bi, aku ke kamar mandi dulu, ya?
- Tidak tahu kenapa, ingin pipis terus. - Oke.
Kenapa, Mi?
Ada apa?
Bukalah.
Ini apa?
Buka.
Kamu benar-benar hamil?
- Kamu benar-benar hamil? - Iya.
Alhamdulillah.
Alhamdulillah, ya Allah.
Aku bacakan Surah Maryam dulu, ya?
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Kaf Ha Ya
'Ain Shad.
Alhamdulillah.
Abuya akan punya cucu lagi!
Semoga laki-laki, insyaallah!
Ya Mahya, kamu jangan lupa minum asam folat.
Kapan kamu ke dokter?
Iya. Doakan saja, ya?
Besok Mi ke dokter rencananya.
Abuya, bagaimana kalau minggu depan,
kita buat syukuran?
- Mau di sini, atau di rumah kalian? - Di sini saja.
Biar nanti Umi memasak yang banyak.
Di rumah kami saja. Tidak usah heboh-heboh.
Keluarga dekat saja, ya?
Ya Mahya.
Suamimu sedang apa?
Di kamar, Abuya. Dia sudah tidur lebih dulu.
Tidak.
Di belakang kamu.
Bi?
Kamu lagi mengobrol dengan siapa?
Aku dari tadi mengobrol dengan kamu.
Abi, aku dari tadi melakukan panggilan video dengan Buya dan Umi.
Kamu tadi minta aku bangun,
kamu bilang kamu memasak, kamu menyuruh aku makan.
Aku tidak membangunkan kamu, Abi.
Abuya, Umi. Sebentar, ya.
Assalamualaikum.
Kamu lagi apa, Bi?
Itu apa, Mi?
Tidak ada apa-apa, Bi.
Dia masih berdiri di situ, Mi.
Bi, tidak ada apa-apa.
Sudah.
Kamu jangan menakuti aku.
Kita tidur saja, ya?
Bi.
Ayo.
Sudah, tidak usah dipaksakan.
Biar aku dan Umi saja.
Tidak apa-apa.
Takut tidak keburu.
Kamu kenapa, Mi?
Mual pasti. Pusing dia.
Kamu istirahat saja, ya?
Ke kamar atau ke ruang tengah.
Tidak apa-apa, Bi.
Kasihan Umi dan Fiy. Ini masih banyak.
Ya sudah, begini saja.
Kamu istirahat,
aku yang gantikan kamu.
Memang bisa?
Bisa.
- Acil! - Yasmin.
Ayo, lakukan.
Lakukanlah.
Astagfirullah!
Astagfirullah.
Innalillahi.
Andi, kamu kenapa?
- Astagfirullah, Andi! - Andi!
Lepaskan, Andi! Astagfirullah!
Istigfar!
Rashid, siapkan mobilnya.
- Kita ke rumah sakit sekarang. Ayo. - Iya.
May.
May.
Sekali lagi, selamat atas kehamilanmu.
Acil turut bahagia.
Nah, ini. Acil cuma bawa ini saja. Tidak apa-apa, 'kan?
Terima kasih, ya, Cil. Bersama siapa?
Bersama amangmu. Ada di depan.
Suami kamu mana, May?
Acil hendak pamit.
Belum pernah lagi ketemu dengan suami kamu, 'kan?
Waktu kalian menikah, kami berhalangan hadir.
Di kamar.
Dia sedang sakit.
Ayo.
Ya Mahya.
Ini amang kamu. Katanya rindu.
Sudah lama tidak ketemu.
- Mahya. - Apa kabar, Amang?
Alhamdulillah, sehat.
Alhamdulillah.
Bisa kami bertemu suamimu?
Boleh.
Ikut aku, ya, Cil.
Silakan.
Ya. Ayo.
Abi.
Ini, ada Acil dan Amang hendak pamit.
Ading.
Ading?
May.
Acil mau bilang sesuatu pada kamu.
Ada apa, Cil?
Nanti saja.
Nanti Acil kirim WA, ya?
Terima kasih, Cil.
Assalamualaikum.
Waalaikumsalam, Cil.
May, bisa Acil bicara sebentar?
Ada apa, ya, Cil?
Maaf, Acil tidak tenang
kalau tidak menyampaikannya ke kamu.
Tadi juga ada ayahmu. Jadi,
Acil tidak berani bilang.
Memang ada apa, Cil?
Kamu lagi sendiri, ya?
Iya, Cil. Sekarang lagi sendirian.
May.
Acil lihat tadi, suami kamu kena punya orang.
Maksudnya, Cil?
Kena ilmu orang.
Ilmu hitam, May.
Cepat bawa dia ke orang yang bisa.
Kasihan suamimu.
Iya, Cil.
Nanti aku sampaikan ke suami.
Terima kasih, ya, Acil.
Dia bilang begitu?
Kena punya orang itu santet, 'kan, Mi, maksudnya?
Ya Mahya.
Kamu jangan percaya pada santet.
Karena itu hanya cerita-cerita orang di sini.
Susah kalau bicara dengan orang yang tidak percaya.
Abi tahu sendiri.
Yati itu punya indra keenam.
Abi ingat, dulu?
Waktu dia kawin dengan Wardi?
Mereka ada ritual dalam keluarganya.
Sihir itu memang sudah ada dari zaman Rasulullah, Bi.
Aku tahu, Umi.
Tapi kita tidak boleh percaya
pada kekuatan sihir. Kita, ya, kita.
Kita hanya percaya pada kekuatan Allah.
Ilmu sihir itu memang ngeri, Bi.
Di kampung Umi dulu,
satu keluarga meninggal.
Juga kena punya orang.
Perkara berebut warisan.
Itu memang mereka sudah waktunya meninggal.
Andi.
Kamu percaya kamu kena sihir?
Ya Andi!
Iya, Abuya?
Kamu terlalu banyak melamun.
Nanti setelah makan, ikut Abuya.
Kita bicara.
Abi.
Tadi, Abuya bilang apa?
Tidak ada apa-apa.
Biasa.
Menyuruh rajin ibadah.
Serius?
Tidak apa-apa.
Abuya cuma menyuruh berobat ke dokter spesialis kulit.
Dokter Salman di Banjarmasin.
Itu saja?
Iya.
Abuya tidak marah-marah?
Tidak.
Serius?
Iya.
Abuya cuma memberi nasihat.
Biasa, ceramah.
Disuruh banyak zikir pagi petang, katanya.
Oh, ya, Bi.
Kamu mimpi buruk apa?
Sepertinya setiap malam, kamu itu mimpi buruk terus.
Sering mengigau.
Yah, siapa tahu dengan kamu cerita,
bisa lebih lega,
dan tidak mimpi lagi.
Bi.
Abi.
Cerita saja.
Ya sudah, kalau tidak mau cerita.
Jujur, aku tidak tahu aku kenapa, Mi.
Akhir-akhir ini, aku selalu mendengar suara-suara aneh
untuk melukai diri.
Susah untuk ditahan.
Aku juga selalu bermimpi hal yang sama terus tiap tidur.
Rasanya nyata sekali. Aku lihat…
Aku, 'kan, yang kamu lihat?
Abi, kenapa kamu seperti itu menyetirnya?
Kita harus kuat, Nak.
Kita harus kuat.
Abi?
Abi?
Abi?
Abi!
Abi! Kamu kenapa, Bi?
Bi? Abi!
- Aduh. - Abi, kenapa?
Tadi, aku…
Aku disiksa, Mi.
Aku akan mati.
- Aku akan mati. - Istigfar…
Dia bilang aku akan mati, Mi.
Astaghfirullahaladzim.
Aku sudah tidak kuat lagi, Mi.
Astaghfirullahaladzim.
Istigfar, Abi. Istigfar.
Astagfirullah…
Dia datang, Mi.
Aku melihatnya semakin jelas.
Kamera terakhir sudah dipasang, ya, Bu.
Bagaimana, Bu? Bisa?
Bisa. Terima kasih, ya.
Sama-sama.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sudahlah, Mi.
Ini tidak ada gunanya.
Aku hanya membuat kamu susah.
Lebih baik aku mati secepatnya, Mi.
Kakak kenapa?
Mau cerita apa?
Seminggu yang lalu, aku pasang CCTV.
Ini, ada beberapa video CCTV
yang aku simpan.
Semenjak Andi sakit,
dia bertingkah aneh.
Dia kenapa, Kak?
Andi kena punya orang.
Aku sekarang yakin dia disantet.
Semua ini tidak masuk akal, Fiya.
Aku bahkan harus menyembunyikan semua benda tajam
karena dia berkali-kali ingin bunuh diri atau melukai dirinya.
Dia selalu bilang,
bahwa dalam waktu dekat, dia akan mati.
Aku rasanya sudah tidak sanggup lagi
menghadapi semua perasaan takut,
lelah, khawatir di saat bersamaan seperti ini.
Aku harus cari solusinya.
Bi.
Kalau kita coba berobat alternatif,
rukiah misalnya,
bagaimana?
Namanya Ustaz Ahmad.
Coba dulu di sana.
Acil juga tidak tahu apakah dia kasyaf atau tidak.
Kasyaf?
Apa, ya, dalam bahasa kita?
Kasyaf. Jadi, intinya bisa melihat yang gaib, May.
Jarang ada orang kasyaf.
Biasanya cuma orang terpilih saja seperti wali Allah.
Katanya kalau perukiah kasyaf,
lebih tepat pengobatannya, May.
Terima kasih, ya, Cil.
Astagfirullah.
Benar, ini kena punya orang.
Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dan aku berlindung kepada Tuhan semesta alam,
dari kejahatan orang-orang yang berbuat kerusakan
dan tipu daya orang-orang yang dengki.
Kamu tidak bisa mengusirku.
Astagfirullah.
Aku sudah menyatu dengan tubuhnya.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Bi…
Siapa kamu?
Apa maumu?
Aku disuruh menyiksanya.
Sampai dia mati.
Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dan aku berlindung kepada Tuhan semesta alam,
dari kejahatan orang-orang yang berbuat kerusakan
dan tipu daya orang-orang yang dengki.
Aku tidak bisa mengobati ini.
Terlalu kuat.
Cobalah kamu berobat ke tempat lain.
Itu alamat Guru Muklis.
Minumkanlah.
Abi minum dulu, ya?
Dicoba dulu.
Dengar-dengar, beliau sakti mengobati penyakit nonmedis.
Seperti dukun begitu, Kak.
Orang di kampung aku biasanya ke dia kalau berobat.
Mau aku susul?
Tidak usah.
Terima kasih, ya, Nilam.
Suamiku kenapa, Pak?
Suami kamu ini terkena racun sangga.
Racun gaib.
Bentuknya minyak.
Kalau minyak itu menyentuh tubuh,
pasti terjangkit.
Makanya, dia sakit-sakitan.
Kena punya orang.
Untuk apa ada orang yang mau meracuni suamiku?
Ada yang mau memisahkan kalian.
Sakit hati, sepertinya.
Jadi, maksudnya…
Minyak racun itu ada di tubuhku?
Iya.
Itu racun berisi roh.
Roh jahat, kata orang.
Ini bisa disembuhkan, 'kan?
Aku tidak bisa menyembuhkan orang yang terkena racun sangga.
Biasanya orang yang terkena racun itu
susah disembuhkan.
Di dunia ini, banyak yang mati terkena racun itu.
Kecuali disembuhkan oleh balian.
Minta tolong mereka untuk dikeluarkan lewat ritual.
Pilihannya, orang yang terkena racun gaib,
mendatangi yang punya racun itu.
Minta dia mencabutnya.
Sudah, datangi saja balian.
Bagaimana kami bisa tahu siapa pemiliknya?
Itulah yang susah dari pengobatan racun sangga.
Sebentar, ya.
Coba mandikan dengan itu.
Belah dua labunya,
parut, sebagian potong kecil-kecil.
Campur dengan air, dan mandikan.
Semoga bisa meringankan.
Sambil kamu mencari balian yang bisa menyembuhkan.
Ini ilmu tingkat tinggi.
Susah disembuhkan.
Sebentar, ya Bi. Aku cek MCB.
Bi?
Kamu bangun sendiri?
Bisa bawa aku keluar dari sini, Mi?
Bayi saya kenapa, Dok?
Saat ini, kondisi bayi Ibu masih dalam keadaan baik.
Namun, kenaikan berat badan bayi Ibu belum sesuai harapan,
dan kandungan Ibu cukup lemah.
Sepertinya kondisi Ibu dipengaruhi oleh kelelahan fisik atau mental,
dan juga kurangnya asupan nutrisi yang cukup.
Saya sarankan Ibu tirah baring dulu.
Karena saya khawatir kalau tekanan darah Ibu naik terus,
ada resiko dilahirkan lebih awal,
atau justru mengancam keselamatan Ibu dan bayi Ibu.
Ada yang bilang racun sangga?
Pantas tidak ada kemajuan.
May, mau coba pengobatan kampung?
Batatamba, kalau kata orang.
Pengobatannya seperti apa, Cil?
Biasanya ada ritualnya.
Cara orang tempo dulu.
Maksud Acil, ke dukun?
Sebutannya balian.
Semacam tabib yang bisa mengobati penyakit nonmedis.
Karena gaib, termasuk jenis racun.
Mi, bisa atau tidak, kamu pulang sekarang?
Aku sepertinya akan mati.
Abi?
Tapi itu pasti bisa disembuhkan?
May.
Yang menyembuhkan kita cuma Allah.
Kesembuhan itu tergantung kita, yakin atau tidak.
Obat hanya medianya saja, May.
Aku butuh bantuan kalian membawa Andi ke sana.
Kata Acil Yati,
di sana ada yang bisa mengobati.
Namanya Nini Bulan.
Jadi, ceritanya seperti itu, Nini.
Kami sudah berobat medis dan segala macam,
tapi belum ada kemajuan sama sekali.
Bagaimana cara menyembuhkan suamiku?
Ada dua cara.
Yang pertama,
dengan meminum air penawar
yang terbuat dari daun sangga.
Nini punya penawarnya?
Tidak.
Nini sudah lama tidak menemukan daun itu.
Jadi, yang bisa kita lakukan adalah
upacara Baharagu.
Ni.
Nini sakit.
Dalam keadaan seperti ini, tidak bisa mengobati orang.
Lebih baik kamu cari orang lain saja.
Tolong bantu kami.
Kami tidak tahu lagi bagaimana cara mengobatinya.
Kami sudah berobat ke mana-mana.
Tadi sudah kubilang.
Nini itu lagi sakit.
Sakit.
Tak bisa mengobati orang yang kena racun.
Harus ada waktunya,
harus ada sesajinya.
Panjang upacaranya, banyak macamnya.
Kalau Nini yang melakukan itu, tidak bisa.
Ni…
Dengarkan aku.
Pokoknya, Nini tidak boleh melakukan upacara Baharagu.
Tidak memungkinkan.
Terlalu berat.
Kamu tega melihat bayi itu lahir tanpa ayah?
Kamu tahu sendiri,
bagaimana rasanya hidup tanpa orang tua.
Bantulah Nini kali ini.
Kumpulkan orang-orang kita.
Untuk membantu. Siapkan sesaji.
Kamu yang jadi balian anum.
Nini yang jadi patati-nya.
Ingat, Rum.
Menolong itu
jangan pandang bulu.
Cepat, ikut menarikan
ritual yang ada di sini.
Racun sangga sudah keluar.
Ni, bolehkah aku tanya?
Siapa yang meracuni suamiku?
Ada orang dari masa lalu kalian yang sakit hati.
Masa laluku, atau suamiku?
Aku tidak tahu pasti.
Dia dilindungi oleh dukun yang kuat.
Suami kamu
masih beruntung
bisa bertahan sampai sekarang.
Maksudnya beruntung?
Ada yang lebih kuat dari sihir.
Iman.
Keimanan orang kepada Tuhan.
Kamu sedang hamil.
Makanya, ikatan kalian makin kuat karena anak ini.
Nah, itu sihirnya
lebih susah menguasai suamimu.
Jadi, sekarang, apakah kami aman?
Justru sebaliknya.
Kalian malah lebih rentan.
Ilmu hitam itu selalu meninggalkan bekas.
Membuat celah di dalam diri korbannya, termasuk kamu, May.
Jadi, kami harus apa?
Kendalikan diri kamu.
Setiap emosi negatif,
takut, benci…
Semua itu pintu untuk mereka masuk.
Ingat, May.
Racun sangga yang dipakai untuk kalian
bukan racun biasa.
Ini tidak pernah berhenti. Tujuannya satu,
memisahkan kamu dari suami kamu
sampai bercerai.
Bahkan sampai salah satu dari kalian mati.
Terima kasih, Mi.
Abi, kalau misalnya kamu kewalahan,
kenapa tidak cari asisten lagi saja?
Kemarin, aku memberhentikan asisten,
selain karena aku lagi sakit,
juga karena faktor keuangan Kedai Kopi Secawan yang kurang baik, Mi.
Omzet terus menurun.
Terus bagaimana, Bi?
Tenang saja.
Aku dan anak-anak lagi mengembangkan menu baru.
Dan rencananya, kami juga mau buat promo.
Kamu jangan ikut pusing soal bisnis aku.
Fokus saja pada keadaan kamu, ya?
Iya.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Cobalah beberapa saat lagi.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Cobalah beberapa saat lagi.
Kak May.
Tidak mau aku antar pulang?
Kak Andi masih rapat di luar juga, 'kan?
Takutnya lama.
Tunggu sepuluh menit lagi, ya?
Kalau tidak ada kabar,
baru aku ikut pulang.
Fiya.
Kamu pas hamil pernah merasa ber…
"Ber" apa?
Berhalusinasi?
Seperti mendengar atau melihat sesuatu yang…
- Gaib? - Seperti apa, Kak?
Kenapa? Kakak dihantui?
Tidak tahu.
Perasaanku saja.
Karena sering sendirian di rumah,
jadi paranoid terus.
Memang seperti apa yang Kakak alami?
Aku juga kurang tahu.
Seperti ada bisikan di telingaku.
Kadang melihat…
Sesuatu.
Ini perasaanku saja.
Sakit kepala Kakak seperti apa?
Masih sering muncul?
Yah, sesekali.
Tapi bukan itu.
Kakak dan Kak Andi sekarang baik-baik saja, 'kan?
Baik.
Baik saja.
Dia cuma sibuk saja mengurus bisnisnya.
Gara-gara sakit kemarin,
jadi banyak masalah di perusahaan.
Kedai sisa satu ini,
yang lain tutup sementara.
Tapi…
Tapi apa?
Ini perasaan burukku saja.
Tidak tahu, aku jadi curiga terus pada dia.
Bawaan hamil mungkin, ya?
Jadi suuzan terus.
Apa aku kesepian?
Pas hamil memang lebih sensitif.
Tapi Kakak dan Kak Andi sudah coba bicarakan soal ini?
Terus?
Kami berkelahi.
Dia jadi dingin,
merajuk,
dan makin jarang di rumah.
Apa aku berlebihan, ya?
Mi, ini, ya.
Aku sudah beli semua barang yang kamu minta.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Abi. Kamu mau atau tidak, bantu aku menyusun ini semua?
Aku ada janji rapat habis ini.
Nanti sepulang rapat, aku bantu.
Ya sudah. Hati-hati, ya.
Mi, Abi gagal dapat investasi dari klien.
Kok bisa, Bi?
Proposal Abi tidak disetujui mereka.
Kata mereka, Secawan tidak menguntungkan.
Ya Allah. Ya sudah, Bi. Kamu harus lebih sabar lagi, ya?
Aku cuma bisa berdoa yang terbaik untuk kamu.
Mi!
Abi…
- Kenapa? - Aku…
Bagaimana?
Kamu sudah lebih enak?
Umi, besok pagi, Abi harus ke Jakarta, ya.
Ada rapat penting dengan calon investor.
Dia kenalan Abi juga.
Tidak lama, paling-paling cuma seminggu.
Kenapa tiba-tiba?
Bi, kamu dengar, 'kan, apa kata dokter terakhir kita kontrol?
Kalau tensiku naik terus,
bisa-bisa bayi kita harus dilahirkan lebih cepat.
Kamu tidak bisa pergi setelah aku melahirkan saja?
Tidak bisa, Umi.
Ini sudah direncanakan jauh hari.
Aku tidak mau kamu pergi.
Aku butuh kamu sekarang.
Kenapa kamu baru beri tahu aku?
Harus berapa kali beri pengertian ke kamu?
Bisnis aku lagi turun-turunnya.
- Kebutuhan kita juga banyak. - Aku juga punya uang sendiri.
Kamu tidak harus di luar setiap waktu.
Aku sudah ambil cuti.
Aku mau punya waktu lebih banyak dengan kamu.
Ini terakhir, ya?
Kalau investasi ini berhasil,
aku janji aku akan sediakan waktu lebih banyak lagi untuk kamu.
Bau ini lagi.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Abi, bangun.
Katanya mau membiasakan salat subuh?
Dibangunkan susah.
Abi…
Ini fail pemesanannya, Sayang. Bertemu di bandara atau bersama-sama saja?
Aku cinta kamu, Sayang. Andai saja istri aku itu kamu.
Padahal kalau menikah dengan kamu,
sepertinya hidupku tidak akan sesial ini.
Entah kenapa sejak bersama Maya,
sepertinya aku sial melulu.
Kali ini, kamu jangan patahkan hati aku lagi, ya, seperti dulu?
Kamu sudah janji.
Iya. Kamu yang sabar, ya?
Sebentar lagi.
Aku hari ini pulang ke rumah Umi.
Oh, ya. Tidak apa-apa, Mi.
Agar kamu juga tidak sendirian di rumah.
Nanti pulang dari Jakarta, aku jemput, ya?
Aku mau cerai.
Kamu bilang apa tadi, Mi?
Aku mau kamu menceraikan aku.
Mi, jangan bercanda, Mi.
Kenapa tiba-tiba? Aku ada salah apa?
Bajingan.
Jangan gila kamu.
Aku tidak gila seperti kamu, ya.
Kamu bilang kamu sial menikah dengan aku.
Aku yang sial menerima kamu dalam kehidupan aku.
Sejak kapan, Andi?
Sejak kapan?
Sejak kapan?!
Mi, aku minta maaf, Mi.
Ini pasti karena pengaruh ilmu hitam itu, Mi.
Kamu ingat atau tidak, waktu kita berobat?
Santet itu bertujuan me…
Dasar pendusta.
Otakmu di mana bilang khilaf,
kalau berkali-kali kalian maksiat?
Ini…
Untuk apa ini?
Untuk apa?
Mi…
Apa semua yang aku lakukan selama ini
tidak ada artinya di matamu?
Ketika aku punya seribu alasan untuk mengeluh,
mulut aku selalu tertutup dan selalu tersenyum
untuk menjaga perasaanmu.
Aku selalu berusaha menjadi istri yang taat untuk kamu, Andi.
Tapi kamu?
Kamu malah mengkhianati aku.
Aku bahkan mempertaruhkan iman aku kepada Allah
saat membawamu ke dukun!
Mi, aku minta maaf, Mi.
Abi minta ampun.
Aku tidak mau berpisah dari kamu, Mi.
Mi.
Aku hari ini pulang.
Kita sampai di sini saja.
Mi. Umi.
Aku minta maaf, Mi.
Aku minta maaf, Mi. Aku sudah khilaf, Mi.
Aku minta maaf, Mi.
Aku benar-benar khilaf.
Tolong.
Jangan tinggalkan aku, Mi.
Tolong jangan pergi, Mi.
Mi, tolong jangan pergi, Mi.
Mi.
Ya Mahya.
Mana salam kamu?
Ilmu hitam itu selalu meninggalkan bekas.
Membuat celah di dalam diri korbannya,
termasuk kamu, May.
Jadi, kami harus apa?
Kendalikan diri kamu.
Setiap emosi negatif,
takut, benci…
Semua itu pintu untuk mereka masuk.
Ingat, May.
Racun sangga yang dipakai untuk kalian
bukan racun biasa.
Ini tidak pernah berhenti.
Tujuannya satu.
Memisahkan kamu dari suami kamu
sampai bercerai.
Bahkan sampai salah satu dari kalian mati.
Jika rumah tanggamu hanya menumpuk luka dan menambah dosa,
artinya ibadahmu tidak ada.
Pulang dulu ke rumah, May.
Sudah seminggu, Nak.
Fokus dulu untuk persiapan kelahiran anakmu.
Setelah itu,
kamu bicarakan lagi berdua.
Jangan biarkan kesedihan merampas imanmu, May.
Bagaimanapun,
Andi itu adalah ayah dari anakmu.
- Umi. - Ya.
Anakku.
Sayangku, Mahya.
Aduh…
- Andi! - Astagfirullah, Andi!
Abi!
- Abi! - Andi!
- Kak Andi! - Abi!
Dia mau muntah! Miringkan badannya!
Bantu, Maya! Ya Allah! Safiyya! Bantu!
Muntahkan, Andi.
Muntahkan, Andi. Muntahkan.
Muntahkan, Andi.
Muntahkan, Andi.
Alhamdulillah.
Mi.
Maafkan Abi, Mi.
Abi khilaf, Mi.
Abi tidak sadar.
Lebih baik Abi mati, Mi.
Bi…
Daripada Abi tidak mendapat maaf dari kamu, Mi.
Minta maaf.
Abi?
- Andi? - Andi?
- Sadar, Andi! - Kak?
- Abi? - Andi?
- Andi? Sadar, Andi. - Bangun, Abi.
- Bangun, Abi. - Kak.
- Andi. - Kita bawa dia ke Nini Bulan.
Abi.
Abi…
Sia-sia!
Malam ini, dia mati!
- Allah tak mengantuk dan tak tidur. - Astagfirullah!
Ya Allah.
Bi, sadar, Bi!
Tidak ada waktu untuk kalian!
- Abi, sadar! - Allah tak mengantuk dan tak tidur.
- Sia-sia! - Abi!
- Sadar! - Sia-sia!
- Abi, sadar! - Sia-sia!
- Allah tak mengantuk… - Sia-sia!
- Sia-sia! - Abi!
Allahu Akbar!
Sia-sia.
Sia-sia.
Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Sia-sia…
Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah
yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah
yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah
yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah.
Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah.
Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah.
Lihat.
Ini racun sangga.
Sudah menyebar ke pembuluh darah.
Sedikit lagi mencapai jantung.
Kalau sampai…
Dia akan mati.
Mana orang tua bodoh itu?
Sudah mati dia?
Bodoh!
Nini sudah meninggal, Rum?
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Tapi kamu bisa, 'kan, menolong kami?
Suamimu ini berbeda kondisinya
dengan saat pertama kali kamu bawa ke sini.
Coba kamu lihat.
Ini namanya racun sangga janji waktu.
Ini jauh lebih mengerikan dan berbahaya dari sebelumnya.
Aku tidak bisa menolong kalau tidak ada Nini.
Yang punya racun sangga ini
membuat janji dengan roh jahat.
Mereka bersepakat membunuh dalam waktu yang dijanjikan.
Seminggu sepakat,
seminggu mati.
Sebulan sepakat…
Sebulan mati.
Kemungkinan, dia cuma bisa bertahan sampai matahari terbit.
Tanda cacak burung ini
supaya roh di dalam tubuh suamimu ini tidak mengamuk.
Tapi tidak bisa menghentikan,
karena roh di dalam tubuhnya ini bukan roh biasa.
Jadi, aku harus apa?
Satu-satunya cara saat ini
adalah membuat penawar dari daun sangga
dan mengeluarkan roh jahat dari tubuhnya.
Nini sempat bilang,
daun itu ada di hutan,
di belakang rumah keluarga kami.
Namanya Idrus.
Dia yang bisa membantu membuat penawarnya.
Hanya saja, sejak anaknya meninggal,
dia mengasingkan diri ke kampung seberang.
- Kak. - Rum.
May…
Kita di sini saja.
Kak?
Kenapa kamu?
Tahan tangannya.
- Jangan terlepas. - Iya, Ustaz.
Jangan dilepas. Ikuti aku.
Jangan sampai lepas!
Tahan tangannya.
- Tunggu! - Sia-sia!
Cepat, Ustaz!
Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu,
Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu.
Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah,
tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar.
Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah,
tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar.
Seperti yang kamu lihat,
kita tidak punya banyak waktu.
Kamu bisa menolongnya, 'kan?
Aku sudah tidak memakai itu lagi, Rum.
Sudah lama aku tinggalkan.
Biar aku saja.
Tapi aku butuh bantuanmu.
Tubuhnya sudah dikuasai iblis.
Tidak bisa, Rum.
Aku sudah tidak mau lagi mengurus yang seperti ini.
Kak?
Kamu pernah kehilangan orang yang kamu sayangi?
Tegakah kamu melihat orang lain mengalaminya juga?
Kamu tidak bisa berbuat apa-apa, Idrus.
Seperti waktu itu.
Sebentar.
Dasim?
Dasim.
Kamu kenal denganku?
Kak May!
Ayo kita ikat.
- Ayo ikat. - Iya.
Bawa ke sini.
Biarkan.
Biarkan.
Pegang tangannya, sebentar.
Cepat, Ustaz.
Hutan tempat daun sangga tawar di belakang rumah ini, 'kan?
Cepatlah.
Baca doa apa saja yang kalian bisa.
Jiwanya melemah.
Gampang iblis masuk.
Tunggu sebentar.
Iya, Ustaz.
Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau.
Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Wudukan dia dengan air doa ini.
Wudukan.
Mau apa kamu, Ustaz Gadungan?
Panas, Bodoh!
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Aku bilang berhenti!
Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung,
pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah
disebabkan takut kepada Allah.
Sia-sia.
Kamu sia-sia.
Suaminya akan mati
saat bayinya lahir.
Kamu sia-sia.
Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat
untuk manusia agar mereka berpikir.
Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa,
Dia memiliki nama-nama yang indah.
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya.
Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
Sudah kubilang, Idrus!
Sia-sia!
Fiya.
Sepertinya ada masalah dengan kandunganku.
Bawa dia ke rumah sakit.
Minumkan air tadi. Cepat.
Cepatlah.
Dasim.
Ustaz!
Bisakah kamu aku panggil ustaz sekarang?
Besar kepalamu sekarang setelah jadi ustaz?
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh atau fajar",
dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan,
dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
dan dari kejahatan perempuan penyihir yang meniup pada buhul-buhul atau talinya,
"dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki."
Kau pembunuh.
Anak kamu saja kamu korbankan
demi sajian santet kamu!
Dia menangis, Idrus!
Dia bertanya,
"Kenapa bapakku seperti itu?"
Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan manusia,
raja manusia,
sembahan manusia,
dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi…"
Kami hanya perlu menahannya hingga racun ini sampai jantung!
"…yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia,
- "dari golongan jin dan manusia." - Tuanku raja Iblis.
Lihatlah.
Kamu pasti senang.
Katakanlah, Muhammad, "Dialah Allah, Yang Maha Esa."
- Allah tempat meminta segala sesuatu. - Perempuan itu sudah menyerah.
Allah tidak beranak, tidak pula diperanakkan.
Hatinya sudah hancur!
"Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia."
Sudahlah, Idrus!
Berhentilah!
Sia-sia!
Setelah mereka melemparkan, Musa berkata,
"Apa yang kamu lakukan itu, itulah sihir."
Sesungguhnya Allah akan menampakkan kepalsuan sihir itu.
Sungguh, Allah tidak akan membiarkan
"berlangsungnya pekerjaan orang yang berbuat kerusakan."
Abah.
Nina takut di sini, Bah.
Abah, kenapa Nina sendirian?
Nina.
Nina rindu Abah.
Abah, temani Nina di sini, Bah.
Pelan-pelan, Kak.
Kocher.
Apa ini?
Kak Idrus!
Kak Idrus?
Aduh…
Kenapa ini, Kak?
Tolong.
Bawa dia ke dapur.
Andi…
Sebentar.
Angkat.
Awas, hati-hati.
Sebentar.
Ayo.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Tidak usah kamu ikut campur!
Bantu angkat. Ayo.
Angkat.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Diikat.
Pegang tangannya.
- Aku buat penawarnya. - Ya.
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.
Setelah mereka melemparkan, Musa berkata,
"Apa yang kamu lakukan itu, itulah sihir.
Sesungguhnya Allah akan menampakkan kepalsuan sihir itu."
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Aku berlindung dengan wajah Allah Yang Maha Mulia,
dan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna
yang tidak dapat dilampaui
oleh orang baik atau durhaka sekalipun.
Bodoh! Kamu pembunuh!
Kamu kira ini bisa mengalahkanku?
Aku tidak salah, Idrus.
Dia yang serakah.
Egois, penuh nafsu.
Aku hanya membisikkan apa yang sudah ada di dalam dirinya.
Sama seperti kamu dulu.
Kamu yang membuat keputusan sendiri berbuat dosa!
Aku berlindung dengan wajah Allah Yang Maha Mulia,
dan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna
yang tidak dapat dilampaui
oleh orang baik atau durhaka sekalipun.
Ustaz!
Kamu apakan Andi?
Rashid!
Rashid, tolong aku, Rashid!
Dia mau membunuhku, Rashid.
Rashid.
Rashid, tolong aku, Rashid.
Dia bukan ustaz, Rashid.
Dia dukun santet.
Dia bahkan membunuh anaknya sendiri, Rashid!
Hentikan, Ustaz!
Ustaz, hentikan! Kamu bisa membunuhnya!
Hentikan!
Astagfirullah…
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Aku berlindung dengan wajah Allah Yang Maha Mulia,
dan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna
yang tidak dapat dilampaui
oleh orang baik atau durhaka sekalipun.
Dari kejahatan apa saja yang turun dari langit,
dan dari kejahatan apa saja yang naik ke langit,
dari fitnah-fitnah di waktu malam hari dan di waktu siang hari,
dari bencana-bencana dari malam hari dan siang hari,
dari bencana-bencana dari malam hari dan siang hari,
kecuali bencana yang datang dengan kebaikan,
wahai Dzat Yang Maha Penyayang.
Astagfirullah.
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.
Alhamdulillah.
Racun sangganya sudah melemah.
Rum.
- Minumkan. - Iya, ini.
Fiya?
Alhamdulillah.
Siapa yang meracuni suamiku?
Ada orang dari masa lalu kalian.
Sakit hati.
Assalamualaikum, Bi.
Bagaimana keadaanmu sekarang?
Waalaikumsalam, Mi.
Alhamdulillah, sudah membaik.
Umi bagaimana?
Baik-baik saja?
Alhamdulillah, baik juga.
Anak kita sudah lahir, Bi.
Dia sedang dirawat di ruangan NICU.
Maaf, ya, Mi.
Kamu harus mengalami ini.
Bi.
Sudah tanya ke Ustaz Idrus
siapa yang kirim sihir ke kita?
Sepertinya Ustad Idrus juga tidak tahu pasti, Mi.
Umi kirim foto ke Abi sekarang, ya?
Boleh tolong tanyakan
apakah dia orangnya?
Pak Ustaz.
Sebelum aku pulang, aku ingin bertanya.
Siapa yang menyantetku?
Hanya Allah yang tahu.
Tapi lebih baik,
kita tidak suuzan.
Sebaiknya kita memperbaiki diri.
Daripada sibuk menyimpan dendam.
Baik sakit atau sembuh,
semua karena kuasa Allah.
Tapi Pak Ustaz tahu siapa orangnya?
Iya.
Tapi aku tidak tahu namanya.
Apa dia orangnya?
Benar.
Tapi seperti yang aku bilang tadi.
Jangan menyimpan dendam.
Mungkin dia sakit hati pada kamu,
tapi melakukan hal yang salah.
Yang penting, sekarang kamu sudah kembali ke keluarga kamu.
Bangunlah keluargamu menjadi keluarga yang sakinah,
mawadah, dan warahmah.
Tanpa dendam.
Benar.
Dia orangnya.
Dum.
Aku mau mengabari kamu.
Beberapa minggu yang lalu, aku dilamar, dan…
Insyaallah akan menikah dua minggu lagi.
Kita relakan semuanya, ya?
Maafkan aku, Dum.
Maaf, May?
Aku masih belum bisa terima…
Dan tidak akan pernah bisa terima, May.
Salima.
Umi kangen.
Assalamualaikum.
Waalaikumsalam.
Salima, baik-baik, ya, di sini bersama Umi.
Bersama Kakek, bersama Nenek.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.