All language subtitles for Kupu-Kupu Kertas 2024.1080p.NF.WEB-DL.x264.6CH-Pahe.in

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Kisah hidupku sebenarnya terlarang untuk diceritakan,

tapi ingin kukabarkan pada banyak orang

betapa rapuhnya manusia.

Aku sendiri tidak mengerti

apa yang ingin ditaklukkan.

Hidup di tengah kerasnya benturan keyakinan,

perebutan tanah,

- kekuasaan yang akhirnya saling memakan. - Bubar!

Bubar!

Ayo, bubar!

- Hei, bubar! - Bubar!

Hei! Bubar!

Aku hidup pada masa itu.

- Pergi! - Bubar!

- Ayo pergi! - Bubar!

- Pergi! - Pergi sana!

Pergi! Ayo pergi!

Pergi!

Lari dari sini!

Silakan.

Ampun…

Lihat.

Lihat.

Jangan sekali-kali balik ke lahan ini.

Lepas.

Pergi!

Kang…

Ampun…

Tidak apa-apa, Mas.

Aku cuma mau mengobati.

Sudah.

Sudah, ya?

Terima kasih, ya, Mbak.

Sama-sama.

Ninghan Ayu.

Apa kabarnya?

Masih tak mengerti juga kamu, Ning?

Memang salah mereka apa, Pak?

Kamu tidak akan paham.

Ya, coba buat aku paham!

Ning.

Kalau tidak kita makan,

kita yang dimakan.

Kelihatannya saja petani kecil.

Tapi kalau kita lengah,

habis kita dibuatnya.

Ning, ini zaman gila.

Jangan percaya siapa pun.

Bahaya.

Justru yang kulihat dari tadi itu Bapak yang bahaya.

Malah bagus.

Makin bahaya, makin disegani.

Tolong, Pak.

Tolong jangan sakiti orang lagi.

Masuk.

Bantu Ibu.

Masuk!

Busok!

Besok jalan lagi.

- Ke mana lagi, Bos? - Tenggara.

Bawa senjata. Dipakai.

Petani-petaninya keras kepala semua di sana.

Bosan!

Ya sudah,

kalau kamu benar-benar niat.

Aku dengar semalam dari Mas Rasyid.

Ansor cari orang lagi.

Yang benar, San?

Kamu kok tidak bilang dari tadi? Aku mau ikut!

Aku itu melindungi kamu dari sakit hati.

Aku tidak peduli.

Aku tetap mau ikut, San.

Di mana?

Di mana, San?

Langgar desa kita.

- Hei. Santai, Zul. - Terima kasih, ya, San.

Zul.

Aduh.

Terima kasih, ya, San!

Ya. Santai, Zul.

Ya!

Cepat pergi! Akan ada penyerangan!

- Kamu tahu dari mana? - Tidak penting!

Pokoknya Bromocorah mau datang!

Beri tanda bahaya!

Aku itu disuruh usir hama, bukan petani.

Kamu ini…

Kamu pikir aku ini main-main?

Tenang.

Ini ancamannya nyawa.

Mau digentayangi kalau semua mati?

Aku beri tahu kamu begini karena bahaya.

Beri tahu yang lain.

Hei.

Hati-hati.

Ada apa?

Pergi, Pak! Bromocorah mau datang!

Kamu jangan asal!

Kalau ada serangan, seharusnya kita jagain sawah, bukan kabur!

Mereka bawa senjata, Pak!

Hei, Mbak! Kami tidak pernah dengar berita seperti itu!

Kamu mau ambil sawah ini, ya?

Disuruh siapa kamu?

Saya lihat sendiri!

Buktinya mana?

Hei, San! Memangnya ada kabar apa dari Mas Rasyid?

Mas Rasyid bilang memang untuk kita berhati-hati.

Benar itu, San?

Ya, Pak!

Lari!

Lari…

Lari…

Hati-hati.

Lari…

Awas tangannya.

Awas.

Jancuk!

Kenapa kosong, Cuk?

Kenapa lihat-lihat?

Cepat patok!

- Iya. - Iya.

Hei, sini cepat!

Menunduk.

Awas tangannya.

Dibantu, Pak. Ayo dibantu.

Pelan-pelan. Awas tangannya.

Tahan dulu, Pak. Tahan di sini, ya.

Dua…

Tiga…

Cepat!

Lama kalian!

- Di mana? - Di situ.

Kenapa Mbak bisa tahu?

Ya, Mbak.

Ansor saja belum sempat beri tahu kita.

Sudah, Pak.

Terima kasih, Mbak.

Permisi.

Awas, pelan-pelan. Tangannya.

Awas tangannya.

- Pak. - Permisi, Bu.

- Silakan. - Mari, Bu.

Hati-hati.

Kamu pintar sekali mengobatinya. Rapi.

Obat-obatnya juga lengkap.

- Terima kasih, ya. - Ya, Bu.

Kamu bukan dari kampung sini, ya?

Saya kebetulan lewat.

Cuma ini yang ketinggalan tadi.

Saya pamit, ya, Bu.

Balik ke mana? Arah mana?

Diantar siapa?

Saya ikut dengan rombongan.

Permisi.

Ya, silakan.

Hati-hati.

San, rombongan apa?

Tidak tahu.

Tadi datangnya sendiri.

Ya, dari daerah mana?

Barat laut.

Itu sama seperti arah Bromocorah datang.

Kamu sedang apa?

Aku mau antar kamu.

Aku bilang tak usah.

Aku tidak melihat rombongan yang kamu maksud.

Aku tidak apa-apa. Sudah, pulang sana.

Kenapa masih mengikuti?

Aku juga tidak melihat kamu baik-baik saja.

Sok tahu.

Kamu tahu, tidak? Kamu itu seperti penguntit.

Kalau begini, masih seperti penguntit?

Bahaya sendirian.

Kamu pikir memang kamu tidak bahaya untuk aku?

Pulang sana.

- Mbak Ning! - Mbak!

Mbak!

Ninghan Ayu. Akhirnya bertemu.

Aku bisa pulang sendiri.

Tidak usah ikut!

- Pulang sendiri? Mbak! - Mbak!

Mbak, pulang.

- Lepas! - Pulang, Mbak.

Lepas tanganmu!

Ada jagoan.

Jancuk!

Ayo lari! Ayo!

- Mbak! - Jancuk!

Hati-hati.

Ayo.

- Mbak! - Mbak!

Ke sana, ayo!

Mbak Ning!

- Mbak Ning! - Ning!

- Mbak Ning! - Mbak Ning!

Mbak Ning!

Sepertinya sudah tidak ada.

Seharusnya kamu tidak perlu seperti itu.

Aku kenal tiga orang tadi.

Tapi tadi kamu dipaksa oleh mereka.

Berarti sebenarnya kamu tidak mau ikut mereka, 'kan?

Sudah biasa.

Biasa?

Kok dibiasakan seperti itu? Jangan.

Ini di mana, ya?

Aku harus segera pulang.

Di mana?

Benar kamu tidak tahu ini di mana?

Sebentar.

Ayo ikut aku. Ayo.

Tempat apa ini?

Aku menyebutnya Langit-Langit Surga.

Kamu jarang sekali jalan-jalan?

Jarang.

Masih banyak tempat seperti ini.

Juga, tidak jauh.

Aku mau lihat semuanya.

Ya, lihat saja.

Ya, antarkan aku.

Boleh.

Aku bercanda.

Mana mungkin aku bisa keluar.

Keluar sebentar saja,

aku pasti langsung dicari.

Aku harus segera pulang. Bapakku bisa marah.

Ya sudah, ayo.

Itu kalian saja yang bodoh!

Kalian cuma jaga satu orang.

- Satu! - Dua, Bos.

- Tidak bisa menghitung? - Ada laki-laki.

Sepantar Mbak Ning.

- Benar, Bos. - Ya, Bos.

Sudah.

Sampai sini saja, ya.

Terima kasih.

- Ning… - Sudah dekat. Ya?

Ning, tunggu.

Besok temani aku pesta panen.

Apa itu?

Syukuran di lumbung.

Mbak.

Agar tiap tahun makin subur dan makmur.

Mbak Ning.

Katanya kamu mau lihat semuanya, 'kan?

Begini.

Aku cari cara.

Kamu tinggal mengangguk saja.

Tolong hentikan.

Tolong.

Sebentar lagi panen.

Tolong jangan diganggu.

Kalau saya tidak mau, memang kamu bisa apa?

Saya akan melawan.

Kesabaran itu ada batasnya.

Saya takut.

Dengar, Rasyid.

Daripada panjang lebar begini,

lebih baik

kamu dan pasukanmu…

Pergi saja.

Kita semua tahu bahwa Cluring dan sekitarnya

akan jadi milik PKI.

Semua yang kalian panen,

punya saya.

Lain ceritanya

kalau kamu mau mengabdi kepada saya.

Saya tidak akan pernah menghamba pada keserakahan.

Saya selalu terbuka untuk pertumpahan darah.

Pergi!

Ini janji saya.

Ke mana pun Bapak bawa keonaran,

di sana Bapak akan menghadapi saya.

Ayo.

Ihsan.

Kenapa kamu di sini?

Mas.

Pulang.

- Mas… - Pulang!

Kamu kenapa kelayapan?

Aku cuma mengantar, Mas.

Kamu tahu atau tidak itu siapa?

Hei!

Mau apa kalian?

Bukan kamu yang saya ingin layani.

Tapi dia.

Ning itu punya aku.

Jangan dekat-dekat.

Nama saya…

Busok.

Jancuk!

Kamu ini melakukan apa saja, San?

Sudah, Mak.

Tunggu dulu!

Kamu itu kenal perempuan itu dari mana, San?

Dia yang selamatkan petani kita.

Dia itu anaknya Rekoso. Tidak mungkin.

Astaghfirullahaladzim, San.

Yang bertemu dengan Ibu tadi itu?

Aku tidak mengerti jalan pikirmu, San.

Aku juga baru dengar ceritanya dari Ihsan.

Maksud dia baik. Cuma mau menolong.

Ada cara-cara seperti itu, San?

Awalnya menolong. Ya, benar.

Mau ambil hati.

Sehabis itu apa? Ambil tanah, San.

Sudah tidak jarang Mas bertemu teman jadi lawan.

Apalagi belakangan ini.

Aku lihatnya beda.

Apa yang kamu lihat?

Jawab!

Dengarkan Mas, ya.

Di sini tidak ada tempat untuk perasaan, San.

Jangan main-main kamu!

Kamu lihat mukamu?

Ini baru awal, San. Mukamu sudah tidak karuan.

Jangan ada urusan dengan dia lagi.

Kalau tidak, kamu akan kena masalah yang jauh lebih besar, San.

Dengarkan Mas.

Iya.

Mak, aku ke langgar dulu.

Mau kabari kawan-kawan bahwa…

Pesta panen tak bisa kita adakan.

Ya Allah.

Mau ke mana kamu? Ikut.

Ayo.

Asalamualaikum, Mak.

- Wa alaikum salam. - Asalamualaikum.

Wa alaikum salam.

Kalian harus bangga menjadi anggota Ansor.

- Ya, Mas. - Ya, Mas.

Terima kasih, Mas.

Terima kasih, Mas.

Zul…

Kenapa kamu ke sini lagi?

Aku masih mau ikut Ansor, Mas.

- Aku tahu di sini lagi cari… - Pulang!

Aku bisa melakukan apa pun seperti pemuda lain, Mas.

- Sembarangan kamu. - Mas.

Sudah.

Di sana ada karung.

Coba kamu angkat.

Ayo.

Angkat!

Terima saja nasibmu, Zul.

Ini bukan untuk kamu.

Dun, Mas Rasyid datang.

- Mas Rasyid, ya? - Ayo, kumpul segera. Ayo.

- Ada Mas Rasyid. - Ayo.

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh.

Ada berapa anggota baru?

Ada lima lagi, Mas.

Berarti sekarang sudah ada 20 anggota baru, Mas.

- Iya, Mas. - Pesta panen bisa kita laksanakan.

- Tidak. - Kenapa? Kok tidak bisa?

Tidak bisa.

Rekoso akan berulah.

Dia akan kacaukan panen kita.

- Kalau begitu kita jaga, kita lawan, Mas. - Ya, Mas.

Terus, ada yang mau tanggung jawab kalau ada nyawa yang hilang?

Kalau itu yang harus dibayar…

Kamu tidak boleh mudah terpancing.

Kalau bisa dihindari,

ya, kita hindari.

Ingat, ya, Kawan-Kawan.

Jihad dan mati syahid itu beda dengan mati bodoh.

Tapi, Mas, pesta panen itu ucapan terima kasih kepada Allah.

Agar panen selanjutnya

bisa lebih bagus lagi.

- Benar, Mas. - Iya, Mas.

Ini juga untuk kepentingan kita bersama, Mas.

Ya, Mas.

Warga bisa protes kalau ini tidak dilaksanakan, Mas.

Sudah. Begini.

Kita cuma bisa kumpul sebentar untuk doa.

- Sehabis itu bubar. - Kok bubar?

Tidak ada tarian,

tidak ada nyanyian.

Tolong. Tolong sampaikan ke yang lain.

Kita jaga sekeliling daerah panen.

- Baik, Mas. - Baik, Mas.

Oh, ya.

Tolong ikut sertakan adikku.

Mungkin kalau kalian yang daftar…

Bisa keterima.

Kalian lebih berguna daripada aku.

Zul.

Tadi aku ke langgar,

melihat kamu.

Tidak diterima, ya?

Ya, San.

Besok

jadi ada pesta panen.

Kamu ke sana. Pakai punyaku.

Ini tidak apa-apa, San?

Tak apa-apa. Masa aku yang pakai? Tak mungkin, 'kan?

Ayo.

Wah.

- Terima kasih, ya, San. - Ya.

Omong-omong,

kamu kenapa bonyok, San?

Kamu sudah dengar sawah kita diserang?

Sudah. Jancuk memang PKI.

Hei.

Yang menyelamatkan kita itu

anak PKI,

dan aku antar dia sampai ke Cluring.

Kenapa, San?

Ya, kasihan, Zul.

Mas Rasyid sudah tahu ini?

- Penyerangan? - Bukan.

Kalau kamu lagi kesengsem pada anak PKI.

- Sudah. - Jancuk.

Bagaimana ini?

Aku harus bagaimana, Zul?

Hei, San.

Mas Rasyid bilang apa, kamu turuti.

Tidak.

Kamu itu tidak mengerti, Zul. Apa, ya?

Badan aku…

Kakiku ini…

Selalu ingin ke tempat dia, Zul.

Sudah, lupakan.

Semua orang bilang dia itu bahaya.

Ya, tapi aku melihatnya, dia

membahayakan diri dia untuk orang lain.

Orang yang tak dia kenal.

Hei, San. Lupakan, San.

Bagaimana kalau misalnya

dia itu tidak nyaman di sana?

Bagaimana kalau

dia itu sebenarnya butuh pertolongan?

Hei.

Yang butuh ditolong itu kita, San.

Kita tidak tahu besok bisa makan atau tidak.

Mungkin sekarang dia sudah makan nasi pulen dengan lauk daging!

Bukan kamu.

Besok itu pesta panen.

Sudahlah.

Aku sudah tidak paham denganmu.

- Tidak! - Zul.

Dia belum pernah merasakan panen.

Tidak, San.

Letnan Kolonel menyelamatkan Presiden Soekarno

dari grup Dewan Jenderal. Pada hari Kamis tanggal 30 September…

Kalian itu melakukan apa lagi?

…telah terjadi gerakan melawan Angkatan Darat, dibantu pasukan-pasukan

dari angkatan-angkatan bersenjata lainnya.

Gerakan 30 September yang dikepalai

pasukan pengawal pribadi Presiden Soekarno…

Situasi bisa tambah rumit, Pak.

Justru malah tambah enak.

Bajingan-bajingan itu

tidak akan seenak jidatnya lagi terhadap kita.

Tambah yang jaga kampung, ya?

Aku khawatir.

Lagi memikirkan apa?

Memangnya kelihatan sekali, Bu?

Biasanya kamu mau ikut kalau Bapak dengar radio.

Memangnya ada berita apa?

Tidak ada apa-apa.

Kamu tidak mau cerita agar tidak pusing sendiri?

Tapi Ibu janji, 'kan,

tak akan cerita pada Bapak?

Ya, janji.

Jadi, begini, Bu.

Ning itu habis bantu petani di Tenggara.

Tapi ada yang antar Ning pulang.

Laki-laki?

Orang NU?

Sepertinya iya.

- Ibu sudah bilang… - Tapi, Bu,

dia itu tidak peduli pada urusan-urusan itu.

Terus pedulinya pada apa?

Pada…

Langit-Langit Surga.

Ibu tahu Langit-Langit Surga?

Itu, Bu, yang pohonnya bagus dan besar sekali.

Tahu.

Itu namanya Langit-Langit Surga?

Ya.

Dia yang beri nama.

Namanya dia siapa?

Sepertinya…

Ihsan.

Ada rencana bertemu lagi, tidak?

Boleh, tidak?

Jangan dulu, ya.

Ibu takut kamu kenapa-kenapa.

Nanti kalau keadaan sudah lebih tenang,

baru boleh.

Bapak yang buat situasinya jadi tidak tenang.

Ya, Ibu bicara dengan Bapak.

Ya, Ibu nanti bicara dengan Bapak.

Pelan-pelan.

Kamu tahu bapakmu kerasnya seperti apa.

- Mau dibawa ke mana, Pak? - Dibawa ke dukun.

- Ada dukunnya? - Tidak ada, lagi pergi ke…

- Pergi ke mana? - Pergi ke rumah mbahnya.

Besok datang mau dipijat, agar sehat.

Iya, sekarang musimnya orang sakit. Banyak anak-anak sakit sekarang.

Mas?

Sedang apa di sana?

Sini.

Sudah gila!

Bagaimana kalau kamu ketahuan penjaga rumah atau bapakku?

Kamu kenapa?

- Menabrak pohon. - Alah, kamu ini.

Kok kamu bisa tahu kamar aku?

Ayo. Pesta panen.

Ibuku tidak mengizinkan.

Ya, kalau begitu,

minta izinnya nanti saja.

Minta maaf dulu.

Siapa itu?

Permisi, Bu.

Boleh saya bantu?

Terima kasih, Mbak.

Sini. Begini caranya.

Sudah. Talinya mana?

- Aku saja yang pegang. - Aku mau bantu.

Ya, tapi kamu salah. Begini pegangnya.

Ini yang dipegang.

Yuk.

Turun.

Ke lumbung sana.

Aduh, jatuh.

Biasanya lebih ramai daripada ini.

Ada pemusik, penari.

Ada juga yang berjualan.

Tapi kali ini kok tidak ada?

- Ya, kalau panen itu… - Bagaimana?

- Semua lancar? - Semua lancar, Mas Rasyid.

Kenapa, San?

- Sini. - San! Kenapa?

Sini.

- Dun. - Ya, Mas?

Kenapa dia pakai peci kita?

Apa? Saya tidak tahu, Mas.

Ihsan pasti.

Ada tempat yang lebih menarik lagi.

Harus pergi sekarang, karena keburu gelap.

Ayo.

Zul.

Mas.

Dapat dari mana kamu?

Ya, Mas.

Ya sudah.

Zul…

Ini yang dinamakan dunia, San?

Ini Banyuwangi, Ning.

Ini kamu namakan apa?

Belum kuberi nama.

Kamu saja.

Halaman yang Damai.

Masih banyak lagi tempat seperti ini.

Nanti kita beri nama semua.

San.

Aku ingin lihat gunung,

aku ingin lihat pantai.

Aku mau keluar negeri.

Tunggu, satu-satu.

Aku bingung antarnya bagaimana.

Tapi aku benar-benar ingin keliling dunia, San.

Ya.

Dan aku janji

akan antar kamu.

Tapi izin dulu pada orang tua kamu.

Tidak bisa minta maaf terus.

Nanti kamu durhaka.

Kamu benar.

Tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia.

Amin.

- Dan kebaikan di akhirat. - Amin.

Lindungilah kami dari siksa neraka.

Amin.

Maha suci Tuhan-mu, Tuhan yang mempunyai keperkasaan

- dari apa yang mereka katakan. - Amin.

Dan kesejahteraan dilimpahkan kepada Rasul-Rasul.

Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.

Tenang saja. Aku akan bantu.

Bantu bagaimana?

Kenalkan aku pada orang tua kamu.

Jangan.

Bersihkan orang-orang itu semua!

Bersihkan!

Bersihkan!

Kembalikan!

Kembalikan!

Kembalikan!

Kembalikan!

Kembalikan!

Kembalikan!

Bersihkan!

Ganyang mereka semua!

Kembalikan tanah kami!

Kembalikan!

- Kembalikan! - Kembalikan!

Kembalikan tanah kami!

- Kembalikan! - Kembalikan tanah kami!

Ini punya kami!

Kembalikan tanah kami!

- Kembalikan! - Ini punya kami!

Pergi.

Tidak bisa.

Sini, aku lawan!

Zul!

Zul, kamu mau apa?

Zul, sudah!

Aku…

Aku tahu siapa bapakmu, Ning.

Kamu tahu?

Tapi kamu masih mau bersamaku?

Janji tetap janji.

Dan aku tidak akan berhenti

sampai mimpi kamu terwujud.

Berani sekali kalian meremehkan saya.

Dasar antek setan desa!

Ini bukan cuma tentang aku saja, San.

Kamu juga harus wujudkan mimpi kamu.

Mimpiku?

Ya, mimpimu apa?

Ya, sama seperti kamu. Melihat dunia.

Itu punyaku, San. Kamu harus beda.

Ya sudah. Melihat dunia.

Bersama kamu.

- Jangan. - Jangan?

Kamu yang minta antar.

Aku bercanda.

Ning.

Aku tidak.

Kamu benar-benar mau antar aku?

Benar.

Dan aku

tidak pernah seyakin ini.

Ini dari mana?

Ning!

Kamu ke mana saja?

Siapa kamu?

Untuk apa kamu ke sini?

Saya ingin mengantar Ning pulang, Pak.

Dia sudah sampai.

Pulang sana.

Bapak.

- Bapak! - Pak.

Kenapa lagi?

Tujuan saya bukan hanya itu, Pak.

Kenapa bajingan ini masih di sini?

Belum cukup juga kamu dihajar?

Hei.

Ada apa?

Pak,

bocah ini

adiknya Rasyid.

Dia yang sering bawa Ning keluyuran.

Berani-beraninya kamu ke sini!

Bapak, dia itu cuma antar aku pulang saja.

Bapak! Pak!

Bilang pada kakakmu.

Ini antara saya dengan dia.

Jangan pernah bawa-bawa anak saya.

- Bapak! - Apa harus seperti ini?

Apa harus dengan kekerasan?

Dengan suara lantang?

Kamu!

Mau coba mengajari saya?

Tidak, Pak.

Saya hanya ingin meminta izin

untuk mengajak Ning pergi sekali-sekali.

Tunggu saya mati!

Bapak! Bapak, sudah!

Bapak!

Hei.

Siapa namamu?

- Ihsan. - Kita berbeda, Ihsan.

Cacing itu gali lubang.

Masuk tanah.

Bukan malah terbang ke langit.

Marah?

Marah?

Marah pada kakakmu!

Dia juga yang buat perbedaan ini makin panas.

Dengar.

Bapak! Bapak, sudah!

Bapak, jangan!

Bapak!

Kalau saya lihat kamu lagi…

Ini…

Akan merobek wajahmu.

Dari mulut sampai ke ubun-ubun.

Bapak!

- San… - Sudah.

- Ning! - Ihsan!

Bagaimana dengan lahan-lahan kita, Mas?

Ini tidak bisa dibiarkan, Mas.

- Iya, Mas. - Iya, Mas.

Kita harus rebut kembali.

Benar itu, Mas.

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumussalam warramahtullahi wabarakatuh.

Muncar sedang mengumpulkan orang untuk lawan balik PKI.

Semua sahabat Ansor

diharapkan ikut.

Hati-hati, ya, Nak.

Iya, Mak.

Dari mana saja kamu, San?

Cepat ikut kakakmu!

Sudah, aku saja.

Yang ini jangan kamu berikan ke orang lain.

Ayo.

Kenapa lagi kamu?

Aku tidak mau ikut.

Kenapa?

Karena perempuan itu?

Karena ini semua omong kosong.

Aku mendingan hidup seperti Bapak…

Tidak berada dalam golongan mana pun…

Sehingga tidak perlu

menyakiti siapa pun.

Kalau begitu, beri tahu Mas.

Apa yang kamu bela dalam hidup kamu?

Apa kamu akan angkat senjata untuk perempuan yang baru kamu kenal?

Atau supaya orang-orang bisa makan?

Aku…

Tidak akan angkat senjata.

Lalu bagaimana kamu perjuangkan yang kamu sayangi?

Ini untuk Mak.

Nak.

Hidup itu harus berani.

Ya.

Pergi sana.

Ya.

- Asalamualaikum. - Wa alaikum salam.

Dimakan, Ning Ayu.

Mungkin kalau kamu pergi dari sini,

aku akan lebih nafsu makan.

Tugasku di sini itu menjaga kamu.

Kalau misalnya kamu pergi,

hilang,

aku bilang apa pada orang tua kamu?

Aku akan menikahi kamu.

Apa maksudmu?

Aku sudah siapkan tanah banyak

untuk maskawin kita.

Aku yakin

Bos pasti senang.

Sampai kapan pun,

aku tidak akan pernah mau bersamamu.

Hei.

Sebentar lagi,

kamu itu cuma punya aku.

Tidak usah malu, Ning.

Kita itu sudah pasti direstui.

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumussalam warramahtullahi wabarakatuh.

Ada penyerangan PKI lagi di Barat!

Astagfirullah.

Seharusnya kita serang mereka dari dulu!

Mereka pasti ingin ikut yang di Jakarta.

Betul!

Mas!

Mas, kita tidak bisa gegabah.

Kamu mau tunggu kapan?

- Sampai mereka datang menyerang lagi? - Betul, Mas!

- Tidak bisa. - Betul, Mas!

Serang saja!

Serang!

Kumpulkan semua sahabat Ansor yang masih ada di Cluring.

- Kita serang PKI. - Ya!

- Allahu Akbar! - Allahu Akbar!

- Allahu Akbar! - Allahu Akbar!

Zul.

Hei, kamu mau ke mana?

Aku ingin ikut, Mas.

Mimpi kamu!

Usir dia.

- Ayo jalan. - Mas…

- Ayo, Zul. - Mas, aku ingin ikut!

Zul, maaf. Ini bukan tempat untuk orang seperti kamu.

Mas Rasyid!

- Mas… - Apa?

- Mas Rasyid. - Apa?

Mas.

Aku ingin ikut, Mas.

Zul, kalau kamu ikut, aku harus jaga kamu.

Aku sudah anggap kamu seperti adik aku sendiri.

Kalau kamu mau bantu, bantulah di sini.

Kita butuh orang untuk urus ternak.

Tidak ada orang urus ternak lebih baik daripada kamu.

Ya?

Zul…

- Mbak! - Mbak!

- Mbak Ning! - Mbak Ning!

- Mbak! - Mbak Ning!

- Mbak! - Mbak!

- Mbak Ning! - Mbak Ning!

- Mbak Ning! - Mbak!

- Mbak Ning! - Mbak Ning!

- Mbak Ning! - Mbak Ning!

- Mbak! - Mbak Ning!

- Mbak! - Mbak!

- Mbak Ning! - Mbak Ning!

Hei, benar dia ke sini?

Benar, Bos.

Tadi dia ke sini.

- Ya, 'kan? - Cari!

Mbak!

- Mbak Ning! - Mbak Ning!

- Mbak! - Mbak!

Ning.

Aku ke rumah kamu, malah dengar kamu tidak ada.

Ternyata kamu di sini.

- Ning? - San…

- Ikut! - Lepas!

Naik!

Ada apa?

Dia punya kabar menarik, Bos.

Bicara!

Para Ansor…

Mereka akan menyerang dari Muncar.

Semua Ansor Banyuwangi.

Kamu tahu dari mana?

Tadi saya dari sana.

Kenapa kamu beri tahu saya?

Percuma saya bantu mereka lagi.

Aku sebenarnya…

Mau ajak kamu pergi.

Pergi ke mana?

Keluar dari sini.

Ke tempat yang lebih bebas.

Ke tempat di mana kita bisa diterima,

dimengerti.

Tanpa ada perbedaan.

Tolong, ya. Jangan mudah terpancing.

Ya, Mas.

- Terutama kamu, Dun. - Ya, Mas.

Memangnya ada tempat seperti itu?

Ada.

Pasti ada.

Pasti ada tempat seperti Halaman yang Damai.

Tidak ada yang benar,

tidak ada yang salah.

Tidak ada tuduhan.

Dan tidak ada yang menjejali kita dengan kebenaran mereka.

Apa kamu yakin, San?

Ada tempat seperti itu?

Kalaupun tidak ada…

Kita buat berdua.

Aku mau.

Subuh kita jalan, Ning.

Astagfirullahaladzim.

Apa itu?

- Lihat. - Astagfirullahaladzim.

Ada apa?

- Ada yang aneh - Ya.

- Dun! - Ya, Mas?

Ya Allah!

Apa?

Astagfirullah!

Apa itu?

Pak Ketua!

Pak Ketua!

Ketua!

Ya Allah!

Pak Ketua!

Mundur!

Mundur!

Allahu Akbar!

Mundur!

Mundur!

Serang!

Turun! Hei!

Turun!

Turun!

Turun!

Genjer-genjer

Di petak sawah berhamparan

Genjer-genjer

Di petak sawah berhamparan

Ibu si anak

Datang mencabuti genjer

Ibu si anak

Datang mencabuti genjer

Dapat sebakul

Dia berpaling begitu saja tanpa melihat

Itu sudah disuguhkan. Kenapa tidak diminum?

Maafkan, ya.

Jika pelayanan kami

membuat kalian lupa akan rasa haus.

Dapat sebakul

Dia berpaling begitu saja tanpa melihat

Aku tahu, pasti tontonannya kurang bagus, ya?

Ayo, Kawan-Kawan!

Mari gairahkan malam bersama tamu-tamu kita!

Ayo minum. Minum!

Minum!

Tenggak!

Pak.

Bocah.

Ini. Ini!

Minum!

Banyak gaya. Ini, aku minum.

Aku sudah buat ulah.

Aku sudah buat onar.

Kamu bisa apa?

Hei.

Aku bertemu adikmu.

Berani-beraninya dia dekati anak saya.

Jangan bawa-bawa adikku.

Dia tidak ada urusannya dengan semua ini.

Tidak usah khawatir.

Kamu tidak akan bisa lihat

apa yang akan saya lakukan ke adikmu.

Bocah!

Hei!

Mana tontonannya?

Astagfirullah.

Cukup!

Cukup!

Sudah, cukup!

Belum.

Masih ada yang lebih menarik.

Mas…

Sudah.

Sudah! Berhenti!

Berhenti!

Sudah!

Berhenti!

Berhenti!

Apa lihat-lihat?

Cantiknya kamu tidak hilang-hilang dari semalam aku lihat.

Bohong. Aku dengar kamu mengorok.

Itu kebakaran?

Itu bukan, sepertinya.

Tapi kelihatannya masih jauh dari desa-desa.

Ning, aku harus ke sana. Kamu tunggu sini, ya.

- Aku ikut. - Ning, tapi di sana itu bahaya.

Akan lebih bahaya kalau kita pisah.

Mas.

- Mas Midun? - San?

Mas.

Masyaallah, Mas! Kenapa, Mas?

Kita kena jebak, San.

Kena jebak bagaimana, Mas?

Kita mau serang Cluring, ternyata mereka sudah tahu, San.

Mas, yang lain bagaimana? Mas Rasyid?

Mas?

Mas Rasyid juga ikut, San.

Ihsan!

Ihsan!

Ning.

Aku bakal susuri ini.

Kamu…

Aku ikut.

- Ning. - Aku ikut.

Ya sudah, ayo.

Ayo.

Mas Rasyid!

Mas!

Mas.

Mas.

Mas!

Mas!

Mas.

Mas Rasyid!

Mas Rasyid!

Astaghfirullahaladzim. Mas!

Mas.

Mas!

Mas!

Mas!

Mas Rasyid!

Mas Rasyid.

Mas Rasyid!

Ayo.

Ayo, San.

Rasyid!

Rasyid!

Mas Rasyid.

Nak…

Bangun, Nak.

Nak.

Mak.

Mak.

Gusti.

Kenapa kamu masih di sini?

Kamu senang?

Kamu puas melihat anak saya yang sudah tidak bernyawa lagi?

Mak.

- Pergi kamu. - Mak.

Harusnya kamu…

- Harusnya kamu yang mati. - Mak.

Harusnya kamu dan keluarga kamu yang mati.

Mak.

Saya minta maaf, Bu.

Maaf?

Saya doakan kamu dan keluarga kamu bahagia selalu.

Pergi.

Pergi!

Ning.

Ning…

San.

Sekali kamu pergi ikut perempuan itu…

Jangan pernah kembali lagi.

Ning.

Ning.

San.

Kamu harus jaga ibumu.

Situasinya lagi tidak aman, San.

Ning.

- Tapi kamu… - Aku tidak akan kenapa-kenapa.

Aku tidak akan kenapa-kenapa, San.

Ning.

Kamu juga sudah beri tahu ke aku, 'kan,

jalan pintas untuk ke desaku?

Ning.

Ning.

Kamu menemukan ini di mana?

Hutan! Sebelah tumpukan mayat.

Bapak hanya melakukan apa yang perlu Bapak lakukan.

Bapak sudah membunuh kakaknya Ihsan!

Makan atau dimakan!

Ibu…

Ibu juga?

Ning.

Justru dia yang merencanakan ini semua.

Diam!

Ibu harus lakukan itu.

Dengan membantai orang-orang?

Karena Ibu takut.

Ibu pernah dalam situasi ini.

Dan Ibu

tidak melakukan apa-apa!

Ibu kehilangan keluarga.

Ibu kehilangan segalanya.

Dan Ibu juga baru saja kehilangan anak Ibu.

Ning.

Ning.

Terima kasih informasinya.

Pak.

Nak, untuk apa kamu ke sini?

Pak, gawat.

Ini gawat, Pak. Gawat.

- Kenapa? - Mereka sekarang punya senjata, Pak.

- Mereka akan menyerang. - Tunggu.

- Ini gawat, Pak. - Tunggu!

- Siapa mereka? - Saya juga tidak tahu, Pak.

Buka.

Apa pakaian mereka serbahitam?

Benar, Bu. Serbahitam, Bu.

Siapa mereka?

- Mereka disebut Gagak Hitam. - Siapa?

Dalam setiap konflik,

ada yang meninggal dan ditinggalkan.

Mereka adalah orang-orang yang ditinggalkan.

Penuh amarah.

Penuh dendam.

Saudara-saudara sekalian.

Ingat.

Siapa saja yang pernah berhubungan dengan PKI,

langsung dicat saja.

Ya!

- Kita harus mengungsi. - Tidak!

Aku tetap di sini.

Kita sudah punya banyak di sini.

Aku tidak akan pergi.

Jangan keras kepala.

Bos.

Bos. Tolong, Bos.

Kenapa kamu masih di sini?

Saya butuh perlindungan, Bos.

Masuk.

Kamu itu pengkhianat, Zul.

Kalau saya biarkan kamu pergi, kamu akan…

Jancuk!

Kejar!

Bu.

Saya punya tempat di Barat.

Jadi, Ibu dan Ning bisa sembunyi di sana.

Kamu mau apa?

Saya cuma mau menikahi Ning, Bu.

Kamu bersiap.

Pagi-pagi sekali,

kita berangkat.

Apa-apaan kamu?

Aku sudah dapat restu untuk menikahi kamu.

Kata siapa?

Ibu kamu.

Sampai mati pun aku tidak akan pernah mau menikah dengan kamu!

Ning…

Sudah seperti ini saja, masih galak.

Lepas!

Lepas!

- Lepas! - Teriak, teriak sesukamu.

Tidak akan ada lagi yang bisa selamatkan kamu,

kecuali aku.

Siap-siap.

Sebentar lagi kita berangkat.

Zul!

Zul! Astagfirullah! Zul!

Kamu sedang apa?

Zul!

Kamu kenapa?

Aku harus minta maaf.

Maaf.

Ini salahku.

Ini salahku.

Apa maksud kamu?

Aku yang beri tahu mereka.

Aku yang beri tahu semuanya.

Mas Rasyid.

Mas Rasyid.

Maaf, Mas.

Zul!

Apa maksud kamu?

Mas Rasyid…

Dijebak karena aku.

Kamu…

Bunuh kakakku?

Kamu bunuh Mas Rasyid!

Kenapa?

Aku tidak berguna di sini.

Aku pikir di sana, aku lebih berguna.

Ayo, San.

Ayo.

Aku tidak akan melakukan itu.

San.

Anggap ini balas dendam kepadaku, San.

Anggap ini balas dendammu kepadaku, San.

Zul!

Ayo, semua warga! Lari!

Semua warga, pergi! Ayo!

Ada truk pengungsian di Utara!

Lari! Ada truk pengungsian di Utara!

Ayo!

Ayo, Semua! Pak, Bu! Ayo!

- Ayo, semuanya pergi! Pak, Bu! - Ihsan!

Semua warga lari! Ada truk pengungsian di sana!

Ada apa?

Lonceng!

Cluring akan diserang.

San!

Cepat!

Pergi, mengungsi!

Pergi!

Pergi.

- Selamatkan diri. - San.

- Balik ke keluargamu. - San.

Panjang umur!

Dan jangan pernah kembali ke makam kakakku!

Pergi!

Pergi!

Ayo!

Ayo mengungsi!

Pergi!

Mengungsi, ayo! Pergi!

San.

Barang-barangmu mana, Nak?

Mau ke mana kamu?

Aku mau pastikan Ning selamat, Mak.

Kamu bukan anak Ibu lagi.

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Ada Gagak Hitam!

Ada Gagak Hitam!

Gagak Hitam!

Ada Gagak Hitam!

Ada Gagak Hitam!

Gagak Hitam!

Bukan saya!

Bukan saya!

Bukan saya!

Jangan!

Sudah, Pak!

Sudah!

Kumpul, Semuanya!

Semua kumpul!

Kumpul!

Kumpul, Semuanya!

Ayo, Nak.

- Maju! - Serbu!

Busok.

Tutup pintunya.

Hei!

Jancuk!

Berengsek! Pengecut!

Bapak.

Asu!

Pak!

Bapak!

Keluar! Keluar, kalian semua!

Bapak!

- Ning… - Bapak!

Pak!

Kita harus lari, Ning!

- Pak! - Dia tidak akan selamat.

Itu bapakku, Bu!

Aku tidak bisa meninggalkan begitu saja!

Ning!

Ayo, cepat!

Bubar!

Astagfirullah.

Mak…

Mak…

Mak!

Dik, ayo ikut Mas. Ayo.

Dik, ayo.

Ayo.

Ayo, Dik!

Dengar.

Pergilah yang jauh.

Jangan tinggal di sini.

Ayo.

Lari.

Bangsat!

Kurang ajar.

Hei! Mana?

Suruh yang lain!

Cari istri Rekoso,

sampai dapat!

- Lepas! - Pengecut!

Lepas!

Bapak…

Lepas!

Lepas.

Dia!

Dia dalang dari semuanya! Dia!

Bunuh dia! Bunuh!

Bunuh!

Kau asu!

Bunuh dia!

Asu!

Bapak!

Bapak!

Bapak!

Aku tidak berpikir untuk naik ke langit.

Darahku

akan menyuburkan tanah ini.

Bapak…

Bapak!

Bapak!

Bapak!

Bapak!

Bapak!

Bapak!

Bapak!

Ayo!

- Bapak! - Ayo!

Ayo.

Sini, awas!

Awas, hati-hati.

Kita ke Utara, ya.

Di sana ada truk pengungsian.

Awas.

Hei!

Mbak.

Mereka ada di mana-mana.

Kalian mau ke mana?

Kami mau…

Ke Utara.

Di sana ada pengungsian.

Ini PKI!

Ini PKI!

Ini PKI!

Ini PKI!

Ning, ayo lari! Ayo!

Itu PKI!

PKI!

Awas, hati-hati.

Stop! Berhenti!

Dari mana?

Ning.

Kamu lari ke tempat yang aman.

Jangan sedikit pun melihat ke belakang.

- Cek yang PKI! - Hei, kamu!

Ning,

ini satu-satunya cara supaya kita berdua bisa selamat.

Aku tidak mau, San.

- Ning. - Aku tidak mau.

Kamu harus janji padaku.

Kamu lari lebih dulu.

Kamu yang dicari, bukan aku.

Tidak mau.

- Mau apa kalian? - Ampun…

Ning.

Ning.

Aku pasti akan menemukan kamu.

Apa sebelumnya aku pernah bohong pada kamu?

Ning.

Kamu harus janji padaku, San.

Kamu harus selamat.

Kamu harus selamat, San.

Hei, kamu!

Hei, jangan lari!

Hei, berhenti.

Kenapa kau lari-lari?

Saya takut ketinggalan, Mas.

Alasan.

Memangnya dari mana?

- Segoro. - Jangan bohong kamu!

Segoro bukan dari arah sana.

Benar, Mas.

Saya habis beri tahu orang-orang untuk mengungsi.

Makanya saya terlambat.

Kakakku itu kepala Ansor, Segoro.

Kalian kenal Mas Rasyid?

Mas Rasyid?

Mas Rasyid selamat atau tidak dari penyergapan?

Tidak, Mas.

Dia adiknya Rasyid.

Rasyid bin Mahmud.

Kepala Ansor Segoro.

- Almarhum Rasyid? - Ya.

Wah!

Ini yang bawa lari anak Rekoso!

Tapi dia dari Segoro.

Saya yang melihatnya sendiri.

Di mana kamu sembunyikan

anak perempuan itu?

Punya mulut, tidak?

Sampai kapan pun,

saya tidak akan beri tahu!

Pengkhianat ini!

Pengkhianat kau!

Antek PKI.

Cari anak Rekoso sampai dapat!

Cepat!

Cari ke tempat yang lain!

Menyebar!

Ayo cari yang lain!

Tempat apa ini?

Aku menyebutnya Langit-Langit Surga.

Masih banyak tempat seperti ini.

Ini kamu namakan apa?

Belum kuberi nama.

Kamu saja.

Halaman yang Damai.

Apa kamu yakin, San?

Ada tempat seperti itu?

Kalaupun tidak ada,

kita buat berdua.

Kamu benar-benar mau antar aku?

Benar.

Dan aku tidak pernah seyakin ini.

Itu Mbak Ning!

Ya!

Mbak Ning!

Mbak!

Mbak Ning!

Mbak Ning!

Mbak!

Mbak Ning!

Ayo, Mbak!

Ayo!

Ayo, Mbak!

Ayo!

Ayo, cepat!

Cepat!

Naik!

Ayo.

Ayo jalan!

Pada akhirnya, siapa yang kalah?

Semua menjadi debu yang tak bersisa.

Kabarnya, satu juta jiwa melayang.

Terbanyak adalah mereka yang tidak tahu apa-apa,

yang terjebak dalam lautan amarah.

Kekasihku

hilang.

Tapi mungkin itu yang dia inginkan. Terbang.

Menuju Langit-Langit Surga.

Seperti yang selalu dia impikan.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.