Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Damyang kang rumeksa ngalam sunya.
Bukakna plawangan karaharjan.
Lumintu saka ludira.
Yen wus tekan titi mangsa.
Sumarah kersa paduka.
Damyang kang rumeksa
Amin.
PENGUNGKAPAN PRAKTIK TUMBAL PABRIK
DIADAPTASI DARI RANGKAIAN CUITAN X VIRAL KARYA @ANGGINOEN
Erwina.
Ketusuk kok hobi, Mak?
Mahal-mahal ke psikiater,
masih halusinasi?
Sudah diminum obatnya?
Baru juga sebulan, Mak.
Lagi pula, munculnya juga baru sekarang-sekarang ini.
Sudahlah.
Ayo, Sayang.
Sut.
Aduh.
Mak.
Soal rumah…
Aku sudah buat daftar beberapa kontrakan murah.
Kita bisa langsung pindah ke sana.
Sambil menunggu pembeli rumah ini.
Ini rumahku.
Ibu.
Farel dan Akbar hari ini ke pantai sama mamanya.
Jody diajak juga.
'Kan Om Rian di rumah saja.
Boleh ya, Bu? Aku mohon.
- Ayo, ya, Bu. - Eh, aduh!
Aduh.
Permisi, Sayang.
Padahal mama-mama yang lain
sering mengajak anaknya main.
Sini, Sayang.
Memangnya Jody tidak mau main sama Ibu?
Main di pantai itu tidak enak.
Enakan…
Main… sama… Ibu!
Ibu!
Ibu ganteng, tidak?
- Ibu ganteng, tidak? - Ibu 'kan aslinya cewek!
Masa jadi cowok!
Buat Amak.
Hei, Rian! Keluar kau!
Bayar utangmu!
Aku tahu kau ada di dalam!
- Hei, Rian! Keluar kau! - Kak, urus.
- Tanggung jawab, Rian! Utangmu banyak! - Kau saja.
Kau yang punya uang.
Uangnya cuma ada buat kita makan.
Tidak ada buat bayar utang.
Tempat kerjamu bisa, 'kan?
Kasbon lagi.
Hei! Rian!
Tanggung jawab, Rian. Bayar utangmu!
Bajingan! Cepat keluar! Bayar utangmu!
Jody… Jody tahu, 'kan, harus apa?
Keluar kau, Rian!
Siapa yang berutang, siapa yang bayar? Aneh.
- Rian, bayar utangmu! - Rian, cepat bayar!
Keluar kau!
Tunjukkan batang hidungmu, Rian, kalau berani!
- Pelan-pelan. - Rian! Cepat keluar!
Bayar utangmu, hei!
Rian, cepat keluar! Jangan bersembunyi saja bisanya!
Utangmu banyak ini! Tidak mau tanggung jawab kau? Bayar!
Bayar utangmu, atau kuambil nyawamu!
Akan kubunuh kau!
Rian, cepat bayar!
Keluar kau!
- Lelah, ya? - Ya.
Seharusnya tadi naik mobil-mobilannya saja.
Bisa kalau seperti itu.
Sebentar, Jody.
Ayo.
Ayo!
Permisi, Pak.
Jody duduk di sini dulu, ya.
Permisi, Pak.
Kok cuma sebegini, Pak?
Lupa banyak kasbon tadi?
Lagi pula, kau banyak telatnya.
Tapi ini potongannya terlalu besar, Pak.
Aku lagi ada perlu.
Tolong tambahkan sedikit ya, Pak?
Tidak ada!
Atau…
Aku bisa kasbon lagi?
Win, utang kok nagih?
Mau bayar pakai apa?
Pakai nyawamu?
Sudah, sana!
Ibu, ayo main.
Jody bosan main mobil-mobilan terus.
Maunya main sama Ibu. Ayo, dong, Bu.
Jody, main sendiri dulu ya. Ibu sedang seperti ini.
Ya?
Ya sudah.
Ibu ini…
- Ibu! - Jody.
- Sakit! - Jody?
Kasihan sekali!
Ya Allah!
Itu tolong, Mbak! Anaknya!
Kasihan! Cepat, tolong!
Tidak.
Ya.
Aku paham… Aku paham sekali.
Tapi sekarang aku lagi cari uangnya, Mbak.
Tapi aku…
Aku cuma minta tolong satu.
Tolong kasih Jody apa pun yang dia butuhkan.
Halo. Ya, 15-39.
Sudah pasti masuk.
Ayolah. Kirimkan, dong. Tolong aku.
Angkat… Sudah!
Ini sudah pasti masuk. Aku yakin.
Bisa jangan berisik?
- Apa-apaan? - Amak lagi tidur.
- Ya sudah, kembalikan. - Dari tadi…
Dihubungi ke mana saja?
Tidak ada respons.
Hei.
Jody itu di rumah sakit.
Dia kecelakaan. Sekarang dia lagi sekarat!
Memang, ya.
Pemabuk.
Pintar mencuri duit Amak.
Berani kurang ajar?
Kau…
Seolah-olah sudah becus mengurus anak.
Main tangan, lagi!
Halo.
Halo, siapa ini?
Dimatikan.
Siapa itu?
Halo.
Jangan bercanda. Siapa ini?
Halo.
Halo!
Berisik banget!
NOMOR TIDAK DIKENAL
Ada apa ini?
Entah, Mak.
- Halo. - Erwina.
Erwina.
Dar?
Kok lama banget?
Macet?
Yah,
namanya perjalanan, Mak.
Masuk.
Terima kasih, Erwina.
Kok tahu namaku?
Ya, tahu, lah!
Dari orok, Om Dar sudah menimangmu, Win.
Om berarti… Om tahu Bapak ke mana?
Bapak sudah mati, Win.
Berapa tahun Bapak tidak pulang?
Walaupun Bapak masih hidup, rasanya malu
tahu anak perempuannya bunting di luar nikah.
Oh.
Mungkin Bapak bangga sekali punya anak sepertimu.
Ya.
Pemabuk, pengangguran,
tukang judi, suka mencuri duit Amak.
Erwina!
Terakhir kali Om Dar ketemu sama bapakmu,
beliau menolak tawaran proyek besar!
Sejak itu,
Om Dar kehilangan kontak sama bapakmu.
Sebenarnya…
Kedatangan Om Dar kemari…
Mau menawarkan pekerjaan di pabrik batik.
Semoga di antara kalian ada yang tertarik.
Ambil, Win. Biar utang kita cepat lunas.
"Utang kita"?
Kalau kau tidak berutang terus,
kita tidak akan dikejar-kejar seperti ini.
Om Dar mengerti sekali keadaan kalian saat ini sedang susah.
Ada sedikit.
Bisa membantu kalian.
Maaf, Om, tapi kami tidak mau…
Kurang.
Biar Erwina yang kerja sama kau, Dar.
Mak, kok aku?
Jody masih butuh aku, Mak.
Buat apa?
Menambah sial?
Seharusnya kau bersyukur uang ini akan kami pakai untuk urus Jody.
- Mak, aku… - Apa?
Dulu siapa yang memaksa melahirkan anak haram itu?
Sekarang kau tanggung jawab.
Lunas ya, Dar.
Om, nama lengkap pabriknya apa, ya?
Aku mau cari di Maps, tapi tidak ada.
Sebentar lagi juga sampai, kok.
Kita parkir di sini saja.
Karena jalanannya hanya muat satu mobil.
Darmono.
Ilyasa.
Lama tidak ketemu kau.
- Ini? - Aku tahu. Aku ingat.
Pasti kau… Erwina.
Ya, Pak.
Mari kita lihat ke dalam.
Ini tempat percetakan batiknya.
Cerminnya ditutup itu!
Sebelumnya sudah pernah kerja di pabrik?
Pernah, Pak. Tapi tidak pernah pabrik sebesar ini.
Dulu, kami membeli pabrik pengolahan karet ini
dan menjadikannya seperti sekarang.
Dan dulu, bapakmu,
sempat bantu bangun tempat ini dari nol.
- Bapakku? - Ya.
Aku dan Pak Darmono yang…
Bapakmu, dulu berteman.
Ya, tapi tidak semua teman bisa diajak berbisnis, 'kan?
Akhirnya, aku dan Pak Darmono yang mati-matian menghidupi tempat ini.
Puji syukur, alam semesta mendukung hingga saat ini.
Bagaimana bapakmu?
Bapakku…
Aku tidak tahu, Pak.
Yang kutahu,
Amak bilang kalau Bapak tak pernah pulang dari umurku tujuh tahun,
tapi sampai sekarang aku masih menunggu Bapak buat pulang.
Sabar, ya.
Sekarang, kau harus fokus kerja dulu.
Cuma, maaf.
Di sini, semua pekerja wajib mengumpulkan ponselnya
kalau ingin kerja di sini.
Maka dari itu, aku minta maaf,
tapi kau harus serahkan ponselmu, Erwina.
Pak, aku minta maaf,
tapi aku butuh sekali ponselnya, anakku masih di rumah sakit,
- aku butuh… - Ya, aku paham.
Tapi peraturan harus dipatuhi.
Lagi pula, di sini susah sinyal.
Bagaimana kalau begini saja?
Di ruanganku ada telepon,
dan kebetulan aku dekat dengan ibumu.
Jadi, kalau ada apa-apa,
kau boleh menggunakan telepon yang ada di ruanganku.
♪ La la la ♪
Erwina, jika mendengar lagu ini,
itu artinya sudah tidak boleh ada lagi pekerja di area pabrik ini.
♪ Hari sudah s'makin senja ♪
♪ Bersantailah, lepas kerja ♪
♪ Takkan dia lari, si esok hari ♪
Permisi.
♪ Kopi dulu, Pak, santai saja ♪
♪ Pisang goreng, Pak, gula jawa ♪
♪ Matahari t'lah berjanji ♪
♪ Dia 'kan datang esok hari ♪
♪ Tersenyumlah, santai saja ♪
Ibu!
Tolong Jody!
Tolong!
Terima kasih Mbak…
Tri.
Erwina.
Jangan lupa dikunci, ya.
Oh, ya.
Mbak yang di sana namanya siapa, ya?
Berani juga kau semalam.
Dilarang keluar kalau lagu itu dimulai,
dilarang lembur,
dan masih banyak aturan tidak jelas lainnya.
Makin banyak aturan yang kau langgar,
makin susah kau keluar dari sini.
Seperti dia.
Waktu masuk sini, hamilnya masih kecil.
Kalau dia… Dia datang setahun yang lalu sama temannya.
Tapi temannya sudah pindah dua bulan lalu.
Terima kasih, ya, Tri, infonya.
Aku bicara begini biar kau cepat tanggap,
fokus, dan cepat adaptasi.
- Tidak usah. Aku bisa sendiri. - Tidak apa-apa.
Terima kasih, ya.
Mohon perhatiannya!
Aku ingin mengingatkan kembali,
khususnya untuk para pekerja baru.
Bahwa ada lowongan mutasi bagi pekerja yang terpilih
untuk menempatkan pabrik baru kita
di Tuban.
Bagi pekerja yang terpilih,
akan mendapatkan bonus
dan gaji tiga kali lipat.
Sistem penilaiannya bagaimana?
Kapan pemilihannya, Pak?
Aku tidak akan memberi tahu sampai sejauh itu.
Yang pasti aku sudah punya catatan khusus
untuk memilih yang terbaik.
Ayo kerja lagi.
Tri.
Aku boleh minta tolong?
Dari tadi jadinya seperti ini. Aku tidak paham.
Ini.
Lihat ujungnya di sini, lalu dicetak.
Nah, pas dicetak, tidak usah terlalu ditekan.
Biar motifnya makin kelihatan.
Ini, cobalah.
Fokus, dong!
- Tadi aku lihat… - Ganggu saja.
Erwina.
Erwina.
Kalau menjadi dirimu, aku tidak akan ke sana, ya.
Jalan ke arah mesmu itu di sana.
Ya, tapi…
Tidak mau, 'kan, ketahuan berkeliaran jam segini?
Cermin…
Cermin…
Waktunya habis!
Kok begini?
- Ini kenapa? - Lo? Beda. Tidak bagus.
Aku tidak sengaja.
Sumpah, aku tidak tahu.
Baik, Embok.
Embok, tolong.
Cepat, Bu! Keluar dari sini!
Jangan kasar. Dia hamil.
Aku bisa jelaskan, Embok!
Embok!
Tolong aku, Embok!
Embok, bantu aku!
Kau kira aku butuh?
Kau ingin cepat pindah dari tempat ini, 'kan?
Terlalu ceroboh!
Kau tidak akan cepat terpilih kalau tanpa bantuanku, Tri.
Kalau seperti itu, bagaimana Pak Ilyasa bisa memilihmu?
Kita bahkan tidak tahu sistem pemilihannya itu seperti apa.
Ya, maka dari itu.
Kita tidak mungkin kerja tanpa strategi, Tri.
Kau butuh kesempatan itu.
Aku tadi lihat sendiri, kok,
kau kerja hampir gila.
Tapi aku…
Aku butuh bonus tambahan itu, Tri.
Kau menyuruhku cepat adaptasi, 'kan?
Aku yakin
kalau kita berdua kerja sama,
tujuan kita akan cepat tercapai.
Dan kita bisa keluar dari tempat ini secepatnya.
Tapi kenapa kau tidak mau kalau kau yang terpilih?
Aku cuma butuh uang bonusmu, Tri.
Lagi pula…
Mana mungkin aku meninggalkan anakku untuk pindah ke pabrik di Tuban?
Baik, bagus.
Bagus.
Ibu, sakit.
Ibu!
Ibu, sakit.
Jody!
Sakit!
Kelelahan?
Sebaiknya istirahat.
Duluan, ya.
Tiga puluh tiga…
Tiga puluh empat.
Seharusnya kain batik kita…
Kainku terbanyak hari ini.
Kenapa?
Seperti galau banget.
Kita hampir berhasil, lo.
Masih ada yang kainnya lebih banyak daripada punyamu.
Win.
Kita semua tidak ada yang mau di sini.
Aku juga punya adik di Tuban.
Kalau misalnya aku terpilih,
aku bisa ketemu sama mereka lagi.
Cermin.
Masih ada yang di dalam.
Ayo, cari.
Masih basah.
Ada orang di dalam.
Coba cari.
Baik, Embok.
Bapak.
Ponsel.
Irene?
Irene?
Irene?
Kok bisa banyak begini?
Ada apa?
Itu!
Seram banget!
Kok bisa?
Win, garam! Garam!
Garam sudah habis.
Ambil garam! Jangan diam saja!
Garam!
Kau tidak apa-apa?
Bawa sial!
Hei, sudah berapa puluh kain hari ini?
Sudah ratusan sepertinya.
Mohon perhatiannya!
Hari ini adalah hari yang kalian tunggu.
Setelah menilai
dan mempertimbangkan
kinerja kalian,
aku memutuskan
bahwa pekerja terpilih
adalah…
Tri!
Ibu.
Jody.
Selamat, ya, Tri.
Terima kasih, Pak.
Kau akan segera dipindahtugaskan ke Tuban.
Aku juga akan memberikan bonus kepada satu pekerja.
Ibu gagal, ya?
Maafkan Ibu, Nak.
Beliau adalah pekerja keras.
Mari beri selamat…
Jody?
…kepada
Erwina!
Kerja yang bagus, Erwina.
Terima kasih, Pak.
Jadilah contoh yang baik.
Taati peraturan, ya.
Yang lain bekerja lagi!
- Kau ikut aku. - Ya.
Tidak terima juga seperti mereka?
Tidak.
Tidak, lah.
Tri pantas dapat kesempatan itu.
Apalagi kau.
Aku?
Kau hebat bisa membohongi Pak Ilyasa.
Rahasiamu aman.
Kapan terakhir kali kau merokok?
Sudah lama banget.
Kok bisa?
Panjang ceritanya.
Kau itu hebat.
Mungkin itu yang membuat Pak Ilyasa dan Embok Rum kagum denganmu.
Seperti, apa, ya?
Kau punya sesuatu yang spesial.
Aku cuma melakukan apa yang harus kulakukan di sini.
Sudah, itu saja.
Aku juga mau pergi dari sini.
Cuma aku tidak mau pulang ke rumah.
Kenapa?
Panjang ceritanya.
Tri.
Soal uang bonus…
Boleh, tidak, ya, kalau aku minta
sebelum kau berangkat ke pabrik di Tuban?
Tri?
Tri!
Tri!
Tri!
Tri, ini aku Erwina! Tri!
Tri, buka!
Tri…
Cermin!
Kenapa?
Tri!
Aduh!
- Awang? Sedang apa di sini? - Diam!
Dia mau ke mana?
Bukan dia,
tapi mereka.
Maksudnya?
Aku sudah curiga waktu Pak Ilyasa memilih Tri.
Kau masih tidak terima sama hasil pemilihannya?
Win, dengarkan aku dulu.
Sebelum Tri, ada temanku juga terpilih.
Katanya dimutasi ke pabrik baru.
Tapi tepat setelah pengumuman, dia pergi begitu saja
dan tidak pernah kelihatan lagi.
Yah…
Ya, bisa jadi memang dia langsung pergi dan tidak mengabarimu.
Ya, bagaimana mengabarinya? Ponsel kita saja disita.
Tidak! Intinya adalah, setelah satu orang pergi,
selalu ada pekerja baru yang masuk besoknya.
Dan kejadian seperti ini setiap sebulan sekali.
Setiap kliwon.
Kok memukulku?
Kalau kau tahu hal ini terjadi beberapa kali,
seharusnya kau bantu mereka.
- Atau cari bantuan ke luar. - Percuma.
Yang ada malah aku kena bahaya nanti.
Aku mau tetap hidup.
Katanya mau keluar dari sini.
Dasar pengecut!
Hei! Win!
Win!
Bukannya di sini seharusnya ada gerbang?
'Kan aku sudah bilang tidak semudah itu.
Lo?
Kok kita di sini lagi?
Aku sudah mengira.
Sudahlah, kita balik ke pabrik lagi saja.
Tidak bisa! Kita harus mencari Tri!
Kita baru bisa menemukan jalan keluar kalau hutan ini mengizinkan.
Kita cari jalan lain.
Awang, ini 'kan…
Bapak?
Kita ke sana.
Win.
Win, tunggu!
Damyang kang rumeksa ngalam sunya.
Tampanana pisungsung amba.
Jiwa raga kangge sarana.
Minangkani tang piutang karaharjan.
Kawula sadaya.
Amin.
Hei! Jangan dekat-dekat, bego.
Sudah semua?
Masih ada satu orang lagi.
Itu dia!
Tangkap dia!
Ayo, Win.
Win! Tolong aku, Win!
Jangan tinggalkan aku, Win! Win!
Lepaskan!
Amak.
Jody?
Ibu, suapi Jody, dong.
Win.
Kok bengong?
Dimakan, Win.
Makan, Win.
Amak…
Membuat makanan kesukaanmu.
Ayo.
Sut…
Kita bisa seperti ini terus, Win.
Amak bisa lebih sehat.
Rian punya pekerjaan.
Jody tidak kelaparan lagi.
Kau cuma harus tinggal di pabrik.
Ya?
Ibu mau, 'kan?
Aku…
Aku…
Nah, 'kan?
Erwina tidak sayang kita lagi.
Tidak.
Ibu jahat!
Ibu tidak sayang Jody!
Dari dulu Amak bisa saja mengusirmu.
Anak tidak tahu diuntung.
Kau bawa anak haram itu ke rumah Amak.
Tapi apa kau rawat dia?
Tidak, 'kan?
Kau biarkan dia melepuh.
Tidak. Itu cuma kecelakaan.
Atau…
Kau lega
kalau dia mati?
Jadi, kau tidak usah repot-repot mengurus
anakmu sendiri?
Tidak!
Kalau begitu, buktikan.
Tetap di sini.
Berani melawan Amak?
Tetap di sini, Win.
Selamatkan kami.
Biar Amak dan Rian bahagia…
Tanpamu.
Tanpa hasil dosamu.
Wina.
Tri.
Tri?
Tri.
Tri! Bangun, Tri!
Tri, maafkan aku.
Maaf aku meninggalkanmu tadi.
Maaf.
Tri!
Erwina…
Sialan kau!
Tri?
Angkat.
Aduh!
Diangkat!
Jangan mendekat!
Sebentar. Tenang dulu.
Aku menemukanmu di depan tadi.
Jangan salah paham. Ya?
Kau mau ke dokter?
Takutnya ada apa-apa.
Ya? Ayo keluar.
Biasanya hal seperti ini selalu ditangani sama Embok Rum.
Embok Rum?
Embok Rum.
Tri… Hutan.
Kita harus selamatkan Tri!
Tri
dan Embok Rum
berangkat lebih awal ke pabrik baru.
Keadaan darurat.
- Jadi… - Tidak mungkin.
Aku lihat sendiri
Tri ada di hutan.
Mungkin kau lelah,
stres kerja.
Itu wajar.
Wajar.
Sebentar, ini.
Sebelum pergi,
Tri menitipkan ini untukmu.
Dia minta maaf
belum sempat pamit kepadamu.
Erwina.
Kau itu pekerja berbakat.
Kau bisa dapatkan apa pun yang kau mau.
Termasuk
membantu anakmu.
Sekarang,
kau istirahat dulu, ya?
Tidur.
Aduh.
Pembunuh.
Tunggu. Tenang dulu!
Apa yang kau lakukan sama mereka?
Aku tidak pernah mau terlibat dengan hal-hal seperti itu!
Aduh…
Kau cari di sana.
Tempat apa sebenarnya ini?
Embok Rum sudah datang.
Sebaiknya kau pasrah saja. Pasrah.
Embok Rum sudah mati.
Mati?
Kau tidak tahu perbuatanmu apa!
Dia bisa membunuh kita! Membunuh kita semua gara-gara kau!
- Gawat! - "Dia"?
"Dia" siapa?
Tolong tutup cerminnya, Erwina.
Tolong tutup.
Nanti mereka keluar.
Erwina, cepat tutup!
Tutup!
Tutup!
Tolong…
Hei, kau!
Awang?
Awang, kau sedang apa di sini?
Mereka mengurungku di sini.
Terus mereka balik ke hutan.
Wang.
Kau harus bawa aku ke sana.
Ada sesuatu yang dari tadi mengikutiku.
Embok Rum dan Ilyasa bunuh orang-orang di sini, Wang.
Dia ada di sini.
Ayo!
Aku tidak pernah tahu
kalau pabrik ini punya ruangan seperti ini.
Semua yang ada di pabrik ini di luar nalar, Wang.
Tidak ada yang masuk akal.
Tapi ini semua nyata.
Dilihat dari seragamnya,
mereka mungkin pengikutnya Embok Rum.
Apa, ya, yang ada di pikiran mereka?
Sampai mereka tega menyiksa karyawan mereka sendiri.
Seharusnya sudah selesai, 'kan?
Apanya yang selesai?
Teror roh-roh itu.
Kalau Embok Rum yang memanggil roh-roh itu,
seharusnya roh-roh itu sudah hilang.
Karena Embok Rum sudah mati. Ya, 'kan?
♪ La-la-la-la-la-la-la ♪
♪ Santai saja, Pak, santai saja ♪
♪ Duduk dulu, Pak, lepas lelah ♪
♪ Hari sudah s'makin senja ♪
♪ Bersantailah, lepas kerja ♪
♪ Takkan dia lari, si esok hari ♪
♪ Kopi dulu, Pak, santai saja ♪
♪ Pisang goreng, Pak, gula jawa ♪
♪ Matahari t'lah berjanji ♪
Kau pernah bilang…
Kau ingin cepat keluar dari sini dan ketemu sama adikmu, 'kan?
Dan rencanamu untuk berkeluarga setelah keluar dari tempat ini.
Tapi, kau tahu, tidak?
Satu hal yang paling aku suka di pabrik ini adalah…
Iagu lama ini.
Bapak.
Lihat, Erwina.
Er… wina.
Bapak!
Bapak!
Hei! Sedang apa kalian?
Susanto! Hei! Susanto!
Untuk apa kau ke sini?
Ini merusak rencana kita semua!
- Susanto! - Kita bisa mati tahu!
Jaga sikapmu!
Hei.
Kalau soal omzet perusahaan, kita bisa cari solusinya!
Tapi jangan pakai cara ini!
Bukankah kau tidak pernah percaya hal seperti ini?
Apa bedanya?
Hei, cukup!
Amak?
Amak?
Kenapa ada kau di sini?
Aku tidak bisa hidup susah lagi.
Di mana Erwina? Ayo, pulang!
Ayo, pulang!
- Pulang! - Jangan ikut campur!
Bapak!
Susanto.
Bapak.
Susanto.
Kau bunuh bapakku!
- Biadab! - Hei!
Cuma mereka yang jiwanya kuat…
♪ Damyang penghuni alam semesta ♪
…yang bisa kompromi sama pahitnya kehidupan, Erwina.
Sayang sekali, ya,
bapakmu itu… lemah.
♪ Bila sudah tiba waktunya ♪
♪ Berserah pada kehendak kau ♪
♪ Damyang penghuni alam semesta ♪
Amin.
Erwina.
Sadarkah kau, Erwina?
Selama ini kau ditumbalkan oleh keluargamu sendiri.
Sekarang…
Saatnya kau membayar utang keluargamu!
Apa yang kau mau dari aku?
Erwina.
Erwina.
Erwina.
Erwina.
Erwina.
Erwina.
Di mana kau?
Erwina.
Erwina.
Dasar biadab!
Biadab.
Erwina.
Ya, mungkin aku biadab.
Tapi banyak, Erwina.
Banyak yang lebih biadab daripada aku!
Bapak.
Irene!
Cermin!
Cermin!
Cermin!
Cukup, Erwina.
Sekarang waktunya utang dilunasi!
Jangan, Bu.
Ibu mau Jody mati?
- Jody? - Jangan, Bu.
Jody. Sini, Sayang.
Jangan menangis, Sayang. Jangan menangis.
Biarkan aku menyelesaikannya!
Serahkan nyawamu, Erwina!
Jody.
Jangan, Bu.
- Maafkan Ibu. - Jangan, Bu.
Jangan!
Maafkan Ibu, Sayang.
Jangan!
Sakit.
Kau bukan anakku.
Berani-beraninya kau merenggut nyawamu sendiri.
Manusia bodoh!
Jangan!
Ini keputusan terakhirku.
Aku tidak akan mati di tanganmu, Makhluk Biadab!
- Jangan! - Ini hidupku!
Erwina.
Bapak.
Bapak.
Bapak.
Bapak!
Erwina lelah, Pak.
Bapak jangan pergi!
Maafkan Bapak ya, Nak.
Bapak!
Bapak!
Sudah selesai, Mak.
Jody?
Ini Ibu, Nak.
Jody.
Maafkan Ibu.
Jody mau ikut Ibu?
Nanti kita main lagi.
Ibu janji…
Tidak ada yang bisa memisahkan kita, Sayang.
Jody mau, 'kan, ikut sama Ibu?
Jadi, kalau Bapak dan Ibu setuju dengan perjanjian ini,
Bapak dan Ibu akan untung besar.
Wah.
Bagaimana?
♪ La la la la la la la ♪
♪ Santai saja, Pak, santai saja ♪
♪ Duduk dulu, Pak, lepas lelah ♪
♪ Hari sudah s'makin senja ♪
♪ Bersantailah, lepas kerja ♪
♪ Takkan dia lari, si esok hari ♪
♪ Kopi dulu, Pak, santai saja ♪
♪ Pisang goreng, Pak, gula jawa ♪
♪ Matahari t'lah berjanji ♪
♪ Dia 'kan datang esok pagi ♪
♪ Tersenyumlah, santai saja ♪
♪ La la la la la la la ♪
♪ La la la la la la la ♪
♪ Santai saja, Pak, santai saja ♪
♪ Duduk dulu, Pak, lepas lelah ♪
♪ Hari sudah s'makin senja ♪
♪ Bersantailah, lepas kerja ♪
♪ Takkan dia lari, si esok hari ♪
♪ Kopi dulu, Pak… ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.