Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sementara orang-orang di belahan dunia lain berjuang demi bertahan hidup,
di India, sebuah peradaban hebat sedang ditempa.
Tempat di mana orang dari semua keyakinan hidup layaknya satu keluarga.
Namun, kuil ini segera menjadi korban invasi yang agresif.
Pada abad ke-16, setelah memenangkan Pertempuran Panipat,
bendera Kekaisaran Mughal berkibar tinggi di atas takhta Delhi.
Di masa-masa kelam itu, banyak penguasa dan kerajaan berjuang untuk bertahan hidup.
Selama seabad berikutnya, tak seorang pun di India
yang mampu meruntuhkan keperkasaan Kekaisaran Mughal.
Pada abad ke-17,
Kaisar Mughal yang paling kuat, kejam, dan tanpa ampun,
Aurangzeb, duduk di takhta,
menerapkan tirani yang tak terbayangkan.
Namun, setiap kali teror dan kekejaman merajalela di bumi,
sebuah jiwa agung terlahir untuk melindunginya.
Dan saat yang ditakdirkan itu tiba,
ketika perwujudan sejati Dewi Bhavani dan Dewa Siwa
lahir dari rahim Ibu Jijau,
dalam keluarga Shahajiraje Bhonsle.
Har Har Mahadev!
Dia yang melindungi negeri ini dari kekejaman Aurangzeb,
dia yang menyulut api Swarajya
dan mendirikan Kekaisaran Maratha,
tidak lain adalah pahlawan besar negeri ini...
Chhatrapati Shivaji Maharaj!
Perjuangannya tidak pernah melawan agama apa pun.
Perjuangannya melawan penindasan dan tirani.
Takut akan kekuatannya yang terus tumbuh,
Aurangzeb melancarkan banyak serangan terhadap Swarajya,
tetapi setiap kali, dia berhasil dikalahkan.
Swarajya!
Jika ada orang di bumi ini yang bisa menantang Aurangzeb dan kekaisarannya yang kejam,
itu adalah singa dari Deccan,
sang pemberani, sang perkasa...
Chhatrapati Shivaji Maharaj!
Jay Dewi Bhavani!
BENTENG MERAH
Dari Bengal, Shaista Khan mengirim hadiah kerajaan, Paduka.
Dalam perang di Tibet, pasukan Mughal
telah meraih kemenangan, Baginda.
- Luar biasa! - Mengagumkan!
- Hebat! - Luar biasa!
- Mengagumkan! - Hebat!
Semoga keagungan Paduka terus menanjak!
Kami menerima kabar mendesak dari Deccan, Baginda.
Siwa dari Deccan,
Chhatrapati kaum Maratha,
telah berpulang ke alam baka!
- Maha Suci Allah! - Maha Suci Allah!
- Maha Suci Allah! - Maha Suci Allah!
Mendengar ini,
hamba sudah bisa membayangkan bendera Mughal
berkibar di seluruh Hindustan!
- Jadilah demikian. - Jadilah demikian.
- Jadilah demikian. - Jadilah demikian.
Dengan wafatnya Shivaji,
Deccan pasti akan jatuh ke dalam kendali kekaisaran kita!
- Jadilah demikian. - Jadilah demikian.
- Jadilah demikian. - Jadilah demikian.
Saat dipenjara di Agra,
dia berhasil meloloskan diri
dari maut dan genggaman Baginda.
Sejak saat itu,
kita gagal menaklukkan Deccan.
Akhirnya,
satu-satunya impian Baginda yang belum terwujud telah tercapai hari ini.
- Jadilah demikian. - Jadilah demikian.
- Jadilah demikian. - Jadilah demikian.
Telinga hamba yang bersemangat masih menantikan kabar baik, namun tak ada yang datang, bahkan hari ini.
Musuh seperti Siwa...
datang sekali seumur hidup.
Oh, Allah, keluh kesahku pada-Mu ini akan membekas di hatiku selamanya!
Biarkan gerbang surga terbuka lebar...
sang singa datang!
Rayakan!
Jadikan orang miskin kaya!
Rayakan jatuhnya Kekaisaran Maratha!
- Jadilah demikian. - Jadilah demikian.
BURHANPUR JANUARI 1681
Tuan Khan Zamaan,
pajak yang dikumpulkan dari non-Muslim
dengan cepat mengisi perbendaharaan!
- Wah! - Luar biasa!
Sejak kematian Shivaji, rakyat, dicekam ketakutan akan nyawa mereka,
rela menyerahkan kekayaan mereka pada kita!
Maha Suci Allah!
Maha Suci Allah!
Maha Suci Allah!
Itulah mengapa saya sedang dipijat, Kakkad!
Tulang-tulangku kaku karena kurang bergerak!
Sayangnya,
tidak ada pertempuran
atau penjarahan akhir-akhir ini.
Semoga Tuhan menjaga tubuh kuat Tuan tetap bugar dan sehat!
Burhanpur ini seperti tambang emas, Tuan!
Ini adalah urat nadi Kekaisaran Mughal.
Anda tidak pernah tahu kapan Anda mungkin harus mempertahankannya dari mata-mata pengintai!
Siapa yang berani menyerang kita?
Kaum Rajput sibuk menjaga kekaisaran mereka sendiri!
Dan kaum Maratha ditinggalkan tanpa pemimpin.
Saranku adalah minum sedikit kahwah dan tetap waspada.
Karena panggilan maut
dan tamu tak diundang...
selalu datang tanpa peringatan!
Tuan!
Mar... Mar...
Apa yang kau katakan?
Pasukan Maratha mendekat dengan cepat!
Tutup gerbang!
Berjaga!
Pasukan Maratha di sini!
Serbu!
Serbu!
Biarkan mereka datang!
Kita akan mengubah perbatasan Burhanpur menjadi kuburan mereka!
Benar, Tuan!
Takkan ada satu pun orang Maratha yang bisa menginjakkan kaki ke dalam!
Tuan!
Pasukan Maratha telah menembus Burhanpur!
Har Har Mahadev!
Har Har Mahadev!
Apa yang kalian tunggu?
Har Har Mahadev!
Har Har Mahadev!
Dewi Jagdamba!
Ibu!
Ibu!
Putraku!
Seseorang selamatkan dia!
Putraku!
Jay Dewi Bhavani!
Raje!
Perisai!
Khan Zamaan,
katakan pada tuanmu...
sang singa mungkin telah gugur,
tapi chhaava-nya masih berkeliaran di hutan ini!
Kami akan mencabik-cabik Kekaisaran Mughal jika berani menantang Maratha!
Kami tak membuat suara!
Kami memburu mangsa kami dengan cepat!
- Jay Dewi... - Bhavani!
- Jay Dewi Bhavani! - Jay Dewi Bhavani!
- Jay Dewi Bhavani! - Jay Dewi Bhavani!
- Jay Dewi Bhavani! - Jay Dewi Bhavani!
Ikat yang kencang, Dhanaji!
Darahnya mengalir deras!
Paman Yesaji, biarkan saja berdarah sedikit.
Setiap tetes darah yang tumpah demi Swarajya menyucikan tanah Mughal ini!
Ucapan bagus!
Amankan, segel, dan kirim harta ini ke Raigad, Santa.
Mengerti, Ayah.
Tapi mengangkut semua harta ini akan menjadi tantangan.
Rasa lapar ini bukan untuk harta,
tapi untuk mengalahkan musuh, Santa.
Aurangzeb hanya boleh melihat puing-puing Burhanpur!
Sesuai keinginanmu!
- Anta? - Ya?
Apa yang terjadi?
Mengapa Kavi Kalash kesayangan
Putra Mahkota kita makan sendirian di sini?
Hati penyair adalah teman bagi semua
Dia merangkul bunga, burung, dan panggilan alam
Dia menyambut semua dengan cinta untuk berbagi
Dia bukan jenis yang egois
Yang hanya pandai bersilat lidah
Luar biasa!
Bagaimana bisa orang meninggalkan orang seperti ini sendirian?
Aku orang dari tanah Mughal
yang hidup di antara kaum Maratha.
Katakan padaku, Antaji,
mengapa ada orang yang mau berbagi makanan denganku?
Ada benarnya juga ucapanmu.
Apakah ini tidak membuatmu sedih?
Jika Sang Tuan berkenan
Tiada rasa malu maupun takut
Bagaimanapun, teman Kavi Kalash ini adalah Sambhaji Shivraj!
Ucapan yang bagus!
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Ya, Shambhu?
Ayah!
Kapan asap ini akan hilang, Ayah?
Selama api Swarajya menyala terang,
asap ini akan terus mengepul, Shambhu!
Putra Mahkota.
Paman Hambir, tolong panggil aku Shambhu.
Telingaku rindu mendengar "Shambhu."
Aku melihat bayangan ayahmu dalam dirimu,
mungkin, karena itu aku ragu.
Dan aku mendapatkan kekuatan restu Ayah dan Ibu darimu!
Bahkan saat aku menghadapi seribu musuh,
aku tahu matamu selalu mengawasiku!
Aku...
tidak sehebat yang kau katakan, Shambhu.
Yang kutahu hanyalah setiap tetes di nadiku ini...
siap dikorbankan untukmu!
Paman!
Mari.
Semua orang menunggumu.
Ini bukan sekadar kemenangan,
ini adalah raungan...
yang akan mencapai telinga Aurang dan menyatakan bahwa
Chhatrapati Shivaji Maharaj masih hidup!
Ini bukan akhir bagi Maratha,
tapi awal kejatuhan Mughal.
Kita akan maju dalam pertempuran ini, menghormati semua agama,
karena perang ini bukan melawan sekte tertentu.
Perang ini untuk menegakkan Swarajya,
negeri tempat orang dari semua keyakinan bisa hidup damai.
Bangsa tempat semua orang bisa berjalan dengan kepala tegak, seperti raja.
Dan jika Aurang atau iblis sepertinya...
berani menantang Swarajya Chhatrapati Shivaji Maharaj,
maka aku bersumpah demi Dewi Jagdamba,
kita akan meletus bagai gunung berapi dan mengubah mereka menjadi debu!
Kita akan hancurkan setiap tantangan,
hancurkan setiap konspirasi,
dan kita takkan berhenti sampai visi Ayah terpenuhi!
Jay Dewi Bhavani!
Jay Dewi Bhavani!
Jay Dewi Bhavani!
Jay Dewi Bhavani!
Har Har Mahadev!
Har Har Mahadev!
RAIGAD
Takhta kerajaan sedang disiapkan untuk Chhatrapati yang lain, Annaji.
Kudengar Putra Mahkota meninggalkan Burhanpur dalam reruntuhan!
Dia mengubah perayaan mereka menjadi duka!
Shambhu telah menghancurkan mimpi kita juga.
Dia mengampuni kesalahan kita di masa lalu dan memberi kita kesempatan kedua,
tapi untuk apa?
Untuk tercekik dalam diam atau
hidup dalam kekangan?
Kehidupan baru ini akan sia-sia
jika aku tak bisa melihat Ramraje dinobatkan sebagai Chhatrapati!
Pemerintahan akan menjadi milik kita.
Tapi Sambha ini...
Begitu dia naik takhta,
keberadaan atau kematian kita takkan berarti lagi!
Sejak kecil,
Sambhaji sudah seperti duri dalam daging bagiku,
terus-menerus menyiksaku.
Dia seumuran saat itu ketika...
setelah melarikan diri dari penjara Aurangzeb di Agra,
Mendiang Baginda dan Putra Mahkota
berkelana dari satu tempat ke tempat lain.
Setiap prajurit Mughal diperintahkan
untuk menangkap pasangan ayah-anak yang menyamar!
Mereka berpisah jalan
untuk melindungi nyawa masing-masing.
Untuk menyelamatkan Putra Mahkota agar tidak tertangkap,
Baginda bahkan memalsukan pemakamannya sendiri.
Untuk menipu Mughal,
seluruh Deccan berkabung.
Jadi, bagaimana bisa seseorang yang ditakdirkan...
untuk bersembunyi,
berlari,
dan mati...
bisa mengklaim takhta?
Tak peduli siapa yang dinobatkan,
putraku, Ramraje, adalah raja sejati!
Kau tahu itu, dan aku pun tahu
Kaulah duniaku Dan itu masih benar
Aku ingin bersemayam
Bersemayam di setiap napas yang kau hela
Kaulah kekasihku
Kaulah kekasihku
Kau tahu itu, dan aku pun tahu
Kaulah duniaku Dan itu masih benar
Napas ini Apa artinya?
Datang dan pergi, tanpa peduli
Kaulah duniaku
Maharani?
Dulu, sekarang, dan selamanya
Kau tahu itu
- Apa yang terjadi di sini? - Dan aku pun tahu
Sepertinya kita harus menangkal mata jahat lagi!
Dharauma telah membesarkanku menjadi pria
yang tak bisa dilukai oleh pedang atau tombak!
Ibunda, bagaimana bisa orang menaruh niat jahat pada dia
yang menjadi tumpuan harapan seluruh Swarajya?
Shri-Sakhi!
Bolehkah aku bertanya sesuatu?
Biasanya, saat raja dan kaisar kembali dari pertempuran,
ratu mereka pura-pura marah, untuk menunjukkan cinta dan perhatian!
Tapi lihat aku, aku tak bisa berhenti tersenyum!
Adilkah mendorong seseorang,
yang baru kembali dari pertempuran, ke pertarungan lain?
Bagaimana kau selalu menjawab bahkan sebelum aku bertanya?
Karena aku bukan hanya istrimu, tapi Shri-Sakhi-mu!
Dan mengenai senyuman ini,
rumor mengatakan bukan hanya di Deccan,
tapi jika wanita mana pun di Utara mendengar nama Sambhaji Bhonsle,
dia tak bisa menahan senyum!
Kau tahu lebih banyak tentangku
daripada diriku sendiri.
Ini hanya kabar angin.
Mudah untuk melacaknya.
Aku bahkan tahu apa yang tersembunyi di hatimu!
Begitu!
Kalau begitu katakan padaku,
apa yang sedang kupikirkan sekarang?
Saat ini, hanya satu hal yang mengganggumu.
Tapi jangan khawatir,
Aku sudah mewujudkan mimpimu!
Apa?
Kerajaan ini tak lain adalah kehendak ilahi, Shambhu!
Dia yang restunya kau dambakan...
selalu ada di sini, menunggu untuk memberkatimu!
Dia melihat mimpinya terwujud melalui matamu!
Terkadang, aku merasa kau lebih peduli pada Hindavi Swarajya daripada aku!
Aku berpikir dengan caramu berpikir!
Karena Sakhi ini tidak tinggal di istana ini...
tapi di hati Shri-nya!
Di tempat di mana Sang Penguasa pernah mengendalikan segalanya,
kini menghadapi nasib berbeda.
Pasukan Maratha hanya meninggalkan debu di belakang mereka!
Maratha?
Cakar mereka sudah dipotong permanen!
Bagaimana mereka bisa menyerang?
Terutama tempat seperti Burhanpur!
Apakah Khan Zamaan
waras saat menulis surat ini?
Badai lain telah bangkit dari Deccan, Paduka!
Dan namanya adalah...
Sambhaji Bhonsle.
Mengapa Siwa tidak di sini, Ramsingh?
Beliau Chhatrapati Shivaji Maharaj.
Maharaj sedang tidak sehat, Paduka.
Beliau sedang demam tinggi.
Apa kau tak pernah demam, Putra Mahkota?
Aku tidak, tapi banyak orang lain yang demam karenaku!
Siwa telah tiada,
tapi dia meninggalkan visinya.
Ya Tuhan, jangan biarkan aku jatuh dalam keputusasaan lagi!
Lindungi nyawa Sambha sampai aku mencapai Deccan!
Wahai Penguasa para penguasa
Wahai Esensi dari segalanya
Wahai Yang Maha Perkasa
Wahai Panglima Bala Tentara
Wahai Penguasa Tak Terkalahkan
Wahai Yang Terkasih
Wahai Manusia Agung
Wahai Wujud Tertinggi
Dialah Narsingh, garang dan berani
Dengan badai bergelora di nadi!
Zaman bergolak dengan guntur menggema
Badai bangkit, mengguncang bumi dan langit!
Dalam kemuliaan jingga langit menyala
Badai di sini berkobar terang!
Satu mata menahan air mata, yang lain, hasrat
Badai telah datang mengamuk bagai api!
Dialah Narsingh, garang dan berani
- Selamat, Sambhaji Maharaj! - Dengan badai bergelora di nadi!
- Semoga Raigad merawatmu dengan baik. - Oh, ya.
Dialah Narsingh, garang dan berani
Dengan badai bergelora di nadi!
Wahai Penguasa para penguasa
Wahai Esensi dari segalanya
Wahai Yang Maha Perkasa
Wahai Panglima Bala Tentara
Datang, dan ambil takhta
Datang, dan klaim sebagai milikmu
Wahai Raja Shambhu
Datanglah, Raja Tertinggi
Takhta dibuat untuk pengabdian agung
Itulah kursi tempat Dewa memerintah
Dia yang memikul tanggung jawab
Dia yang melayani dengan setia
Dialah Narsingh, garang dan berani
Dengan badai bergelora di nadi!
Zaman bergolak dengan guntur menggema
Badai bangkit, mengguncang bumi dan langit!
Dalam kemuliaan jingga langit menyala
- Maharaj! - Badai di sini berkobar terang!
Gagah perkasa dan pemberani, Penghancur Benteng,
terlahir dari klan Ksatria,
Penguasa Takhta,
Raja diraja...
Chhatrapati Sambhaji Maharaj!
Segala puji bagimu!
- Jay... - Dewi Bhavani!
Wahai Wujud Tertinggi
Berani dan kuat Dengan pedang dan tombak
Seorang ksatria Maratha, tanpa rasa takut
Dalam perang, keahlianmu tak tertandingi Sepanjang pertarungan
Meniup sangkakala Saat kau klaim hakmu
Penguasa rakyat
Kau bagai sinar mentari
Dengan restu Dewi Jagdamba Kekuatanmu akan tumbuh
Wahai Chhatrapati Wahai sahabat Sambha!
- Luar biasa! - Mengagumkan!
Sahabat sejati bagai mentari Bersinar terang
Tak ada yang sebanding Dengan cahaya sang penyair
Suatu hari...
Suatu hari, aku akan beradu puisi denganmu, Chandogamatya!
Dalam hal itu pun, kemenangan akan jadi milikmu, Maharaj!
Terkadang, aku tidak mengerti
apakah kau teman, pelayan,
atau bayanganku, Chandogamatya?
Aku seperti garam, Maharaj.
Kau bisa memakainya kapan pun dan di mana pun dibutuhkan.
Kalau begitu aku akan memakaimu di luka musuhku, Chandogamatya!
Dengan senang hati!
Berkat rahmat Dewi Bhavani, semua berjalan harmonis dan tenteram.
Sekarang, dengan izin Maharaj, kami berpikir untuk kembali ke Girkan.
Tinggallah beberapa hari lagi, Ganoji.
Kau bukan lagi sekadar tamu kakak perempuan dan iparmu,
kau sekarang tamu Chhatrapati Maratha!
Paman Hambir, ini rumah kakak perempuannya!
Dia akan merasa segan untuk tinggal di sini!
Aku punya permintaan.
Di hari penobatan raja,
Anda seharusnya memenuhi keinginan Maharaj.
Ya, bukan sebaliknya!
Ganoji dan Kanhoji juga keluargaku.
Mereka bisa meminta apa pun yang mereka inginkan.
Itu hak mereka!
Tolong, katakan padaku.
Kami ingin administrasi Girkan diserahkan kepada kami.
Jika kami memiliki hak atas tanah kami,
kami bisa membuat keputusan sendiri tentang pengembangannya
dan kami tak perlu merepotkanmu setiap saat, Maharaj!
Ganoji, kau seharusnya memikirkan
pengembangan Deccan, bukan hanya Girkan.
Kau benar,
tapi...
ayahmu berjanji memberikan hak Girkan kepada ayahku.
Tapi Ayah menentang pemberian hak!
Bahkan, beliau biasa berkata bahwa jika kita mulai memberi hak istimewa,
orang hanya akan memikirkan diri sendiri,
dan orang kita sendiri akan menghancurkan mimpi Swarajya kita di depan mata!
Jangankan berkata begitu, Ayah bahkan takkan memimpikannya, Kakanda!
Ini berarti ayah kami pembohong,
- atau ayah mertuamu-- - Ganoji!
Penguasa Takhta,
pelindung Swarajya!
Jayalah Chhatrapati Sambhaji Maharaj!
Proklamasi ini pasti bergema di istanamu juga, Rajmata.
Benar, kan?
Dia telah menjadi Chhatrapati Swarajya!
Bayangkan saja,
jika kakakmu sendiri,
Panglima Hambirrao Mohite, berdiri di pihakmu
sumpah kita pasti akan terpenuhi!
Tapi sekarang bagaimana?
Melihat Ramraje sebagai Chhatrapati...
sepertinya mustahil.
Tidakkah itu membuatmu sedih, Rajmata?
Memendam sakit hanya menimbulkan kecemasan, Annaji.
Kecemasan melahirkan kegelisahan.
Kegelisahan mendatangkan kekhawatiran.
Kekhawatiran merenggut tidur,
dan bersamanya, semua mimpi sirna!
Setelah wafatnya Shivaji Maharaj,
setiap kali aku berusaha menangkap Shambhu,
Hambirrao memihaknya,
dan bukan aku.
Jadi, untuk mewujudkan mimpi politik,
jangan pernah berharap apa pun dari keluarga!
Di saat seperti ini,
orang asing lebih berguna.
Maafkan aku, Rajmata,
tapi saat dia hanya seorang putra mahkota, jauh dari takhta...
semua usahamu sudah gagal bahkan saat itu.
Sekarang, dia adalah Chhatrapati,
raja kaum Maratha!
Kesalahan apa pun sekarang, dan bencana akan datang.
Dengan raja tiada,
siapa yang akan meminta pertanggungjawaban kita?
Balaji,
mulailah menulis bab terakhir
biografi Chhatrapati Sambhaji Maharaj!
Chandogamatya,
mengapa Pangeran Mirza Akbar ingin menemuiku?
Akbar ingin mengungkapkan alasannya hanya kepada Maharaj!
Yang kutahu hanyalah bahwa
Akbar ingin mengklaim takhta Mughal selagi Aurangzeb masih hidup!
Putra Aurang ini jelas punya semangat membara.
Pasti ada alasan penting di baliknya!
Kalau tidak, mengapa dia meminta bertemu Maharaj secara pribadi?
Pasti ada konspirasi di balik niatnya, Maharaj!
Nilopantji benar, Maharaj!
Bagaimanapun, Akbar adalah darah Aurang!
Maafkan aku, Yesaji,
tapi sampai kita bertemu dengannya,
kita hanya bisa menebak niat Akbar sebenarnya!
Aku percaya...
musuh Aurangzeb mana pun bisa berguna bagi kita!
Jika kau mulai mempercayai Mughal, Kalashji,
kami akan mulai kehilangan kepercayaan padamu!
Jika dia bisa mengkhianati ayahnya sendiri,
bagaimana kita bisa mengharapkan kesetiaan darinya?
Membiarkan Akbar mendekatimu
seperti bermain api.
Dia yang bersemangat datang
adalah orang yang secara pribadi kukirimi undangan!
Burhanpur adalah pilar Kekaisaran Mughal!
Meskipun melemah,
Aurangzeb bergerak cepat ke arah kita!
Vasudev di sini! Vasudev di sini!
Vasudev di sini! Vasudev di sini!
Vasudev di sini! Vasudev di sini!
Vasudev di sini! Vasudev di sini!
Vasudev di sini! Vasudev di sini!
Vasudev di sini! Vasudev di sini!
Vasudev di sini! Vasudev di sini!
Sebut nama Dewa Rama dan Hari!
Vasudev di sini! Vasudev di sini!
Vasudev di sini! Vasudev di sini!
Vasudev di sini! Vasudev di sini!
Katakan padaku, Bahirji.
Salam, Maharaj!
Apa kau melihat sekilas Aurang?
Raje, bukan hanya Aurang,
tapi pasukan 800.000 orang,
lima puluh ribu kuda,
tiga puluh ribu gajah,
dan harta jutaan.
Mungkin untuk pertama dan terakhir kalinya dalam sejarah,
pasukan sekuat ini dikirim untuk mencari seseorang!
Bahirji, tetap dekat dengan Aurang, seperti bayangannya.
Jika dia sedikit saja menyimpang dari jalur,
arahkan dia kembali ke arah kita dengan cara apa pun!
Sementara itu, aku akan mengurus putranya!
Shri-Sakhi!
Mulai dari prajurit Maratha termuda hingga panglima, Paman Hambir sendiri,
semua orang khawatir.
Mengapa?
Karena aku akan menemui Pangeran Akbar tanpa pasukanku!
Aku tak melihat sedikit pun kekhawatiran di matamu!
Aku khawatir,
tapi bukan untukmu.
Aku khawatir pada Akbar yang malang.
Di hari pernikahan,
Ibu Jija memberitahuku...
bahwa semua pria keluarga Bhonsle seperti badai gunung.
Jika gunung saja tak bisa menahan amukan mereka,
siapa lagi yang berani menantang mereka?
Terkadang, badai pun kehilangan kekuatannya, Shri-Sakhi.
Maharaj,
tolong kasihanilah dan jangan berkata seperti itu.
Seseorang sangat ingin menemuimu.
Aku merasa...
ini laki-laki!
Badai gunung lainnya akan datang!
Aku akan menemuinya sendirian.
Tapi Raje...
Maha Suci Allah!
Maha Suci Allah!
Chhatrapati Sambhaji Maharaj,
Anda persis seperti yang kubayangkan.
Sementara aku menunggumu di tendaku, pedang di tangan...
kau datang ke sini...
tanpa senjata, untuk menemuiku.
Aku menghormati pedangku.
Lagi pula, di sini,
kami tidak menangkap anak ular dengan pedang,
kami menangkapnya dengan jari kami
dan menghancurkannya dalam genggaman!
Aku hanya ingin melihat apakah orang yang kucari
akan menemuiku sendiri atau mengirim penipu.
Bahkan penipuku pun akan dengan mudah mengalahkan mereka.
Sekarang katakan,
mengapa datang sebagai tamu tak diundangku?
Sepotong kabar telah menyebar di Utara, Maharaj,
bahwa prajurit Deccan tidak takut pada siapa pun!
Jadi aku melakukan perjalanan dari negeriku ke negerimu,
untuk memenuhi misiku dengan bantuan prajurit pemberanimu.
Aneh!
Belumkah Utara mendengar
bahwa ksatria Swarajya tidak berperang untuk Mughal?
Kau tersinggung.
Kukira kau akan lebih mudah diyakinkan!
Kau dan aku...
sangat mirip.
Generasi baru, semangat baru,
ideologi baru, antusiasme baru!
Aku ingin setiap orang India duduk di takhta Swarajya...
dan kau ingin membunuh ayahmu untuk merebut mahkotanya.
Ada perbedaan besar antara pertempuranku dan perangmu, Pangeran.
Begitulah sifat takhta ini, Raje.
Ia memaksamu menumpahkan darah kerabatmu sendiri.
Kau hanya menceritakan sejarah Mughal.
Lihatlah sejarah Maratha,
dan yang akan kau dengar hanyalah kisah keberanian!
Jangan menghormatiku,
tapi setidaknya jangan menghinaku, Raje!
Pemberontakan bukan hanya sifat keluargaku saja,
itu ada di keluargamu juga!
Selamat datang di Deccan, Pangeran Akbar.
Musuhmu adalah Aurangzeb,
dan musuhku adalah Sambhaji Bhonsle.
Jika kau membantu kami mengalahkan Sambha,
setiap orang Maratha akan bertarung di sisimu untuk mengalahkan musuhmu.
Begitu kita berdua meraih kemenangan,
kau boleh menunjuk tanah mana pun di peta Deccan,
dan kami akan memberikannya padamu,
memulai babak baru dalam hubungan jangka panjang kita.
Menunggu kabar darimu.
Rajmata Soyrabai.
Aku tidak bisa membantumu,
tapi aku bisa berjanji...
Selama kau berdiri di tanah Deccan,
Aurang takkan pernah bisa menyentuhmu.
Maharani!
Aksara indah yang kuharap
bisa mencatat sejarah sukses Swarajya,
kau gunakan untuk menyusun proposal yang akan menjadikan Maharaj sejarah?
Maharani,
ini memang ditulis olehku,
tapi pemikirannya bukan dariku.
Maafkan aku, Maharani!
Sama seperti berbuat salah adalah bagian dari manusia,
demikian pula, tugas kita juga untuk memaafkan.
Maafkan aku!
Tolong maafkan aku, Maharani!
Ini bukan salahku.
Aku telah mengampuni kesalahan masa lalumu
karena Swarajya membutuhkan kebijaksanaanmu.
Tapi sekarang, keserakahanmu telah melampaui kebijaksanaanmu.
Dan kesalahanmu
kini telah menjadi kejahatan!
Dan memaafkan penjahat...
adalah kejahatan itu sendiri!
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Ya, Shambhu?
Ayah,
seperti apa rupa musuh-musuh ini?
Mengapa kau bertanya, Shambhu?
Kau takkan pernah menghadapi mereka.
Kekuatanmu begitu besar
sehingga mereka hanya akan berani menyerangmu dari belakang.
Mereka takkan pernah berani menghadapimu!
Aku tak pernah benar-benar merasakan kasih sayang ibu.
Melihat cinta Ibu Soyra pada Ramraje,
Aku sadar tak ada batasnya cinta seorang ibu!
Aku pasti pernah melihat Ibuku tapi,
sebelum aku bisa mengukir wajahnya dalam ingatanku, beliau...
Kututup mataku dan mencoba berkali-kali menemukannya dalam ingatanku.
Aku bahkan mencarinya dalam diri Ibu Soyra.
Kau tahu segalanya, bukan, Shri-Sakhi?
Tolong, katakan padaku,
seperti apa rupa Ibuku?
Bagaimana mungkin aku bisa melihat...
apa yang tak bisa kau lihat, Maharaj?
Tapi aku akan berdoa pada Dewi Jagdamba
agar di kehidupan selanjutnya, kau lahir dari rahimku.
Sehingga,
aku bisa memenuhi kebahagiaan
dan kekurangan hidup ini,
sebagai ibumu.
Ayahku, Shah Jahan,
telah berencana menobatkan
kakakku, Dara Shikoh.
Jadi, kupenggal dia.
Kuhiais kepalanya
dan kukirim pada ayahku sebagai hadiah.
Aku tidak membunuh Shah Jahan,
aku memenjarakannya.
Selama delapan tahun...
Selama delapan tahun yang panjang, dia merana,
menatap Taj Mahal dari jendela penjaranya,
saat hidupnya perlahan memudar.
Sekarang, bocah 24 tahun...
telah mengubah kota terindahku menjadi kuburan
dan pergi.
Tidak...
Ampuni aku! Ampuni aku!
Beraninya kau selamat?
Sambha telah memberi perlindungan pada Pangeran Akbar!
Ayahanda,
Sambha telah memberi perlindungan pada Pangeran Akbar!
Kurebut mahkota ini dengan melangkahi mayat kerabatku sendiri.
Sekarang aku akan memakainya lagi...
hanya ketika jeritan Sambha yang sombong itu...
bergema di seluruh Hindustan!
Di mana pun kau lihat warna jingga,
nodai dengan darah merah!
Hiasi setiap benteng di Deccan dengan hadiah!
Biarkan tamu kita disambut
- dengan kemegahan dan perayaan! - Kami setuju sepenuhnya, Panglima.
Perselisihan tentang hak terakhir kali,
kami percaya tak ada lagi keraguan tentang komitmen kami sekarang!
Keraguan untuk musuh,
untuk kerabat sendiri, tak ada selain cinta, Ganojiraje!
Dikatakan bahwa paman dua kali lebih waspada dari seorang ibu!
Dan anak-anakku beruntung, karena mereka punya bukan satu, tapi dua paman!
Aku percaya kalian akan selalu menjaga mereka.
Jangan khawatir, Maharaj!
Kami akan berdiri seperti perisai melawan siapa pun yang berani menaruh
niat jahat pada Swarajya!
Kuharap Aurang berdiri di gunung itu sekarang!
Rasanya seperti badai mendekat.
Mari kita pulang.
Ayo, jalan, ayo.
Kau bisa merasakannya sebelumnya, kan?
Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?
Ayo, jalan.
Ayo...
Tolong!
Tolong aku!
Tolong!
Tolong!
Raje, hampir setengah pasukan Mughal telah mencapai Deccan!
Hatiku bergetar melihat kekuatan mereka
dan kekejaman mengerikan yang kusaksikan!
Pohon-pohon dipenuhi lebih banyak mayat daripada daun.
Sungai mengalir merah oleh darah rakyat kita,
jauh lebih banyak dari airnya sendiri.
Mughal telah menenggelamkan anak-anak kita,
mencekik masa depan yang pernah bergema tawa dan harapan!
Enyah!
Ibu!
Kau pikir mau ke mana?
Di mana pun Aurang menginjakkan kaki,
tak ada yang tersisa selain kehancuran, Maharaj!
Debu yang diterbangkan langkah Baginda
pasti sudah mencapai Raigad!
- Insya Allah! - Insya Allah!
Mereka hanya punya 25.000 prajurit.
Dan itu hanya jumlah juru masak di pasukan kita saja.
Benar, Zeenat!
Dan separuh pasukan kita belum mencapai Deccan.
Sekarang, bahkan Tuhan tak bisa menghentikan Paduka!
Hancurkan Deccan sepenuhnya sehingga...
saat aku melihatnya, rasanya seolah tak pernah ada!
- Jadilah demikian. - Jadilah demikian.
Sampai sekarang, Aurang maju seperti panah cepat,
tapi sekarang, dia akan mencoba mengepung kita dari segala sisi.
Target berikutnya adalah
Kalyan,
Bhiwandi,
Jalna,
Nashik, Pune, Satara,
Kolhapur,
Konkan,
dan Karnataka!
Raje, kita hanya 25 ribu,
tapi kekuatan kita tak kurang dari 25 lakh!
Beri saja kami perintah untuk maju!
Kita harus menghadapi pasukan besar Aurang bukan hanya dengan kekuatan,
tapi dengan strategi, Rayaji!
Sama seperti kita mengikat luka setelah gigitan ular,
begitu pula, kita harus...
mengamankan seluruh Deccan dan mempertahankannya dengan kuat!
Kita akan menyerang dengan cara yang tak pernah mereka duga!
Mughal tidak hanya akan menghadapi pasukan kita,
tapi mereka juga harus berhadapan dengan tanah kita sendiri.
Benar, Panglima,
baik prajurit maupun kuda mereka tidak terbiasa
dengan jalan pegunungan kita yang terjal...
dan hutan lebat.
Di hutan lebat Konkan,
kita akan menyerang seperti Pasukan Kera, Maharaj.
Kami akan mengajak mereka tur ke ladang berpindah kita.
Kami akan membuat mereka merasakan manisnya tebu Satara.
Raje, kami akan pastikan perairan Nashik berbalik melawan mereka.
Kami akan melahap mereka seperti buaya.
Ya! Dan di Jalna, kita akan membuat pasukan Mughal bersimbah darah!
Kami akan mengubur mereka...
di Kolhapur, seperti amukan gempa bumi!
Aku bersumpah demi Dewi Bhavani!
Kami akan mengubah kebanggaan Aurang
menjadi abu!
Kita harus menarik mereka seperti topan yang mengamuk.
Mereka di sini karena kita menarik mereka ke sini,
dan mereka hanya akan pergi jika kita putuskan.
Jay Dewi Bhavani!
Jay Dewi Bhavani!
Jay Dewi Bhavani!
- Jay Dewi Bhavani! - Jay Dewi Bhavani!
Aku akan berdoa pada Dewi Jagdamba...
agar semua keinginanmu terwujud!
KONKAN
Kirim kabar ke setiap komandan benteng
agar waspada terhadap pasukan Mughal yang berkeliaran di dekatnya.
Dan Nilopantji,
pastikan dalam setiap konfrontasi,
pasukan kita tak pernah kekurangan senjata, baju zirah, atau perbekalan.
Hanya jumlah pasukan Mughal yang harus menyusut.
SATARA
Jangan sakiti dia!
Ampuni dia!
Jangan sakiti mereka!
Ampuni mereka!
- Jay Dewi Bhavani! - Jay Dewi Bhavani!
- Jay Dewi Bhavani! - Jay Dewi Bhavani!
Har Har Mahadev!
1681
Paman Hambir,
jika kau mengizinkan putrimu Tara Rani
menikah dengan keluarga Bhonsle, maka Ramraje...
JALNA
Jay Dewi Bhavani!
Jay Dewi Bhavani!
- Jay Dewi Bhavani! - Jay Dewi Bhavani!
KOLHAPUR
Biarkan dia pergi!
- Minggir! - Biarkan dia pergi!
- Minggir! - Biarkan dia pergi!
Tidak...
Dialah Narsingh, garang dan berani
Dengan badai bergelora di nadi!
Zaman bergolak dengan guntur menggema
Badai bangkit, mengguncang bumi dan langit!
Dalam kemuliaan jingga langit menyala
Badai di sini berkobar terang!
Satu mata menahan air mata, yang lain, hasrat
Badai telah datang mengamuk bagai api!
Dialah Narsingh, garang dan berani
Dengan badai bergelora di nadi!
Dialah Narsingh, garang dan berani
Dengan badai bergelora di nadi!
Wahai Penguasa para penguasa
Wahai Esensi dari segalanya
Wahai Penguasa para penguasa
Wahai Esensi dari segalanya
Wahai Yang Maha Perkasa
Wahai Panglima Bala Tentara
Dialah Narsingh, garang dan berani
Dengan badai bergelora di nadi!
Zaman bergolak dengan guntur menggema
Badai bangkit, mengguncang bumi dan langit!
Wahai Yang Maha Perkasa
Wahai Panglima Bala Tentara
Jay Dewi Bhavani!
Pasukan kita sekarang hanya separuh dari sebelumnya.
Kas kerajaan terkuras cepat.
Temukan Sambha segera,
atau tak lama lagi,
dia akan mengubah tempat tidurmu menjadi kuburan dan pergi tanpa jejak!
Sudah bertahun-tahun sejak kita meninggalkan Delhi, Baginda,
namun tak sekalipun kita menginjakkan kaki di jalan yang pernah dilalui Sambha.
NASHIK
Dengan senjata di genggamannya
Sang ksatria menyerang musuhnya Jauh di dalam hutan
Dia mendekat, tantangannya Bergema di tengah auman gerombolan
Cepat bagai angin
Har Har Mahadev!
Dia bergerak dalam sunyi di bawah langit
Ahli tipu daya
Dia datang
Pria pemberani!
Sambhaji Perkasa! Pria pemberani, Sambhaji!
Sambhaji Perkasa!
Sambhaji! Chhatrapati Sambhaji!
Dengan senjata di genggamannya
Sang ksatria menyerang musuhnya Jauh di dalam hutan
Dia mendekat, tantangannya Bergema di tengah auman gerombolan
Cepat bagai angin
Sambhaji! Sambhaji!
Chhatrapati Sambhaji!
Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah!
Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah.
Kami telah menemukan Pangeran Mirza Akbar!
Insya Allah, kita akan mendengar kabar baik sebelum salat subuh!
Sama seperti Akbar, pasti ada seseorang di Deccan
yang merasa terjebak di rumahnya sendiri.
Temukan orang itu!
Ayahanda,
pedang Mughal telah mencapai leher Akbar, namun,
sayangnya, dia masih hidup!
Tapi kami telah menemukan cara untuk menemukan Sambha!
Kami telah menemukan seseorang yang dekat dengan Sambha,
yang merasa seperti orang luar selama bertahun-tahun.
Selamat datang di perlindungan Kaisar.
Luar biasa! Sungguh luar biasa!
Yashwantji,
caramu dan Sampathji
mengelola urusan Karnataka dan Konkan,
bahkan penyair ini
tak bisa menemukan cukup kata untuk memujimu hari ini!
Keberuntungan apa yang lebih besar daripada meringankan
beban Maharaj?
Dengan kalian di sana,
aku tak perlu mengalihkan pandanganku ke arah itu.
Maafkan gangguanku, Maharaj,
tapi situasinya sedemikian rupa
sehingga aku merasa terpaksa muncul di hadapanmu, tanpa diundang!
Aku telah memutuskan untuk meninggalkan Hindustan.
Pangeran,
kita begitu dekat mencapai tujuan kita.
Kami tidak menyangka kau akan pergi di saat genting seperti ini.
Aku sudah lama memendam keluhan ini terhadap Mughal, Chandogamatya.
Mereka tak pernah berusaha berjalan berdampingan,
mereka selalu terpaku untuk maju.
Tujuannya adalah berbaris berdampingan, Yang Mulia.
Tapi saat ini,
kepergianku penting agar aku bisa hidup panjang.
Mengapa, Pangeran?
Sebelum Mughal bisa membawamu ke gerbang surga,
kaum Maratha mengirim mereka ke gerbang neraka.
Tapi sampai kapan, Maharaj?
Sampai kapan kau bisa melindungiku?
Swarajya-mu...
lebih berarti bagimu daripada nyawaku.
Izinkan aku pamit.
Pikirkan sekali lagi.
Kau takkan bisa menyaksikan kejatuhan Aurang.
Maharaj, kabar kemenanganmu akan memberiku kebahagiaan besar,
bahkan dari jauh!
Dhanaji!
Ya, Raje?
Pastikan rencana Pangeran Akbar berhasil.
Sesuai perintahmu, Maharaj.
Raje!
Raje!
Raje!
Ada apa, Mhaloji-baba?
Raje,
panglima telah tiada.
Dalam pertempuran Wai, saat melawan Mughal,
Panglima Hambirrao Mohite menghembuskan napas terakhirnya.
WAI DESEMBER 1687
Meriam yang ditembakkan oleh Sarja Khan yang kalah
telah menembus dinding Swarajya, Raje.
Terimalah hormat terakhir
prajurit Swarajya ini, Raje!
Jay Dewi Bhavani.
Dewi Jagdamba!
Shambhu, kau harus belajar mengayun pedang
selihai jarimu.
Pedangmu harus menebas musuh
dengan kekuatan Cakra Sudarsana Dewa Krishna!
Bagus!
Paman Hambir, tolong panggil aku Shambhu.
Telingaku rindu mendengar "Shambhu."
Raje...
Ya, Bahirji.
Yashwantji dari Karnataka,
Sampathji dari Konkan,
Sadanandji dari Amravati,
Parshuramji dari Goa,
Vinayakji dari Kudal...
Satu per satu, mereka jatuh ke perangkap Aurang, dan
meninggalkan Swarajya, Raje.
Di mana Aurang sekarang?
Dia berkemah di Akluj!
Bahirji, sebarkan kabar di antara Mughal,
bahwa 10.000 prajurit Maratha
sedang berbaris menuju Akluj
melalui Pune!
Yesaji.
Ya, Raje?
Kirim pesan ke setiap kepala daerah di Deccan untuk menemuiku...
di Sangameshwar!
Mengapa Sangameshwar?
Maharaj memilih Sangameshwar untuk menyatukan semua Maratha.
Dengan pasukan penuh,
dia akan maju diam-diam melalui hutan lebat,
berbaris menuju Aurang.
Sementara itu, pasukan Mughal yang tersebar di dekatnya
akan menunggu kedatangan 10.000 prajurit di Pune,
yang sebenarnya tak pernah meninggalkan Raigad!
Pangeran Muda?
Bhavani?
Apa kau tidak ikut denganku ke kuil hari ini?
Pertama, tangkal dulu mata jahat dari Maharaj, Dhara.
Dia akan berperang lagi.
Kapan Aurang terkutuk ini akan mati?
Berapa banyak lagi pertempuran yang harus kau jalani, Maharaj?
Kuharap ini yang terakhir!
Aku tahu rasa sakit yang kalian semua tahan karenanya!
Jauh dari keluarga begitu lama, bulan berganti tahun...
Anak-anak jadi tak dikenali!
Maharaj, kakakku, entah kau terima atau tidak,
kali ini, aku juga akan bergabung denganmu
dalam perjuangan Swarajya ini!
Kau pikir aku belum siap, kan?
Jika aku ragu,
akankah kutinggalkan seluruh Raigad dalam penjagaanmu, Ramraje?
Kehadiranmu di sini lebih penting daripada kepergianku berperang, Ramraje!
Semoga panjang umur!
Shri-Sakhi!
Ya?
Aku akan menghadapi Aurang!
Apa kau tidak khawatir?
Aku khawatir,
tapi bukan untukmu.
Aku khawatir pada Aurang.
Seluruh kekaisaran Maratha, termasuk diriku,
telah menunggu hari ini.
Untuk melihat kekalahan Aurang
dan kejayaan mimpi Ayah!
Aku tidak hanya percaya,
aku tahu itu tanpa ragu.
Dengan kepercayaanmu padaku
Pertempuran berubah jadi perayaan
Ingat, penjaga kerajaan
Harus tetap hidup selalu
SANGAMESHWAR
Jika seseorang bersedia melakukan apa saja untuk menyebar ketakutan,
wajar saja jika takut padanya!
Jika kau tak punya pilihan selain mengikuti perintah musuh untuk melindungi diri,
aku bisa memahami kesulitanmu.
Tapi ada satu hal yang tak bisa kumengerti!
Sejak kapan Maratha mulai hanya memikirkan keselamatan diri sendiri?
Bukan begitu?
Setiap kali seorang Maratha mengorbankan nyawanya,
itu untuk melindungi Swarajya,
demi kejayaan Chhatrapati Shivaji Maharaj!
Kepala yang hanya tunduk pada tanah airnya...
bagaimana bisa tunduk di hadapan musuh?
Darah ksatria hebat mengalir di nadi kita!
Aurang tak punya kekuatan untuk menumpahkannya!
Bagaimana bisa pria yang mampu membunuh ayah, saudara,
dan putranya demi takhta, memenangkan kesetiaan kita?
Kita adalah Maratha!
Takhta Swarajya ini telah dibangun melalui
pengorbanan dan darah Maratha yang tak terhitung!
Swarajya bukan keinginan satu orang,
ini adalah kehendak Yang Maha Kuasa untuk melindungi setiap jiwa!
Kerajaan ini tak lain adalah kehendak ilahi!
Waktunya telah tiba...
untuk membersihkan Hindustan dari monster ini!
Sekarang, kita bergerak!
Setiap serangan kita...
akan menghormati martir kita yang gugur,
itu akan atas nama Panglima Hambirrao Mohite!
Kuperintahkan setiap kepala daerah...
Setiap prajurit Maratha
Swarajya harus berada di Sangameshwar saat matahari terbenam besok.
Di tengah malam, pasukan Maratha akan maju menuju Aurang
melalui Amba Ghat, bagai api yang mengamuk!
Kita akan mengubah Aurang dan kekaisarannya yang rapuh menjadi abu!
Jay Dewi Bhavani!
Jay Dewi Bhavani!
Jay Dewi Bhavani!
Jay Dewi Bhavani!
- Jay Dewi Bhavani! - Jay Dewi Bhavani!
Puji syukur pada suami Dewi Parwati!
- Har Har Mahadev! - Har Har Mahadev!
Ibu!
Ibu!
Ya, Shambhu?
Ayah,
kapan terowongan ini akan berakhir?
Terowongan ini tak berujung, Shambhu!
Tapi kau tak boleh berhenti!
BENTENG PANHALA
Oh, wah!
Ayah tampak bahagia!
Ini bukan kebahagiaan, Santa,
ini kegembiraan murni!
Akhir Aurang kini tak terhindarkan!
Maharaj sudah menentukan nasib Mughal.
Begitu perintah diberikan, kita akan menyerang!
Apa Maharaj lupa memberi perintah, Ayah?
Pasukan sedang bergerak keluar
melalui Amba Ghat.
Ada apa, Ayah?
Kita telah dikhianati, Santa!
- Itu pasukan Mughal! - Apa?
Mereka berbaris menuju Sangameshwar,
langsung menuju Maharaj.
Kita harus mencapai Maharaj sebelum mereka, Santa!
Kita harus cepat!
- Har Har Mahadev! - Har Har Mahadev!
Tapi Ayah...
Rute terpendek ke Sangameshwar adalah melalui Amba Ghat!
Bagaimana Mughal tahu itu?
Kami maju dengan kekuatan 5.000 orang,
penuh harapan.
Jika kami tak menemukan Sambha di Sangameshwar, bayangkan
apa yang akan dilakukan 5.000 jiwa frustrasi padamu.
Kami juga hidup dengan patah hati selama bertahun-tahun, Muqarrab Khan!
Mengapa kami melakukan itu pada orang lain?
Menangkap Sambha
akan mewujudkan mimpi kita berdua!
Percayalah,
Sambha ada di Sangameshwar.
Itu pun, hanya dengan 150 orang di sisinya!
Maha Suci Allah!
Bukan hanya Girkan,
kami akan memberimu seluruh Konkan setelah ini!
Har Har Mahadev!
Beri tahu Maharaj segera, Santa!
Har Har Mahadev!
- Har Har Mahadev! - Maharaj!
Kita diserang!
- Mughal di sini! - Siapa?
Kanhoji dan Ganoji.
Serbu!
Raje!
Raje!
Siapa yang menikamku dari belakang dan menyerang jantung Swarajya?
Itu Ganoji dan Kanhoji.
Dewi Jagdamba!
Segera berangkat untuk memastikan keamanan Raigad.
Aku lelah dengan tatapan curiga padaku, Maharaj.
Ini kesempatanku membuktikan kesetiaanku, sekali untuk selamanya!
Sekelompok 20 ksatria siap mengantarmu aman ke Raigad.
- Aku mohon padamu, pergilah segera! - Chandogamatya!
Pernahkah kau melihat chhaava
takut pada anjing dan lari menyelamatkan diri?
Aku merasa ingin mengaum, seperti binatang buas di hutan!
Jay Dewi Bhavani!
Anta!
Anta!
Raje, terimalah salam terakhirku...
Maharaj!
Raya!
Raya!
Raya!
Ayah!
Ayah!
Santaji!
Segera berangkat ke Raigad dan sampaikan ini pada Maharani!
Tidak, Maharaj! Aku tak bisa meninggalkan sisimu!
Ini perintahku!
Tapi apa yang harus kukatakan padanya?
Dia akan mengerti.
Tidak, Maharaj! Tidak!
Pergi!
Pergi sekarang!
Ini keterlaluan!
Bahkan ribuan prajurit tak bisa menaklukkan satu orang?
Raja ini lebih ganas dari raja hutan!
Selama tangannya masih bebas,
tak ada yang bisa mengalahkannya.
Raje!
Raje!
Raje!
Raje!
Bawa hadiah kerajaan ini pada Kaisar!
Katakan lagi!
Benar, Kaisar.
Sambha dalam tahanan Mughal.
Ya Tuhan,
duniamu telah diselamatkan dari kehancuran total!
Aku akan pergi menyelamatkan kakakku, sang Maharaj!
Ikut denganku!
Jalan mana pun yang kau pilih, musuh akan menunggu untuk menyerang!
Raigad...
Mughal telah mengepung Raigad dari semua sisi!
Jadi, apa kita akan tetap di sini dan tidak melakukan apa-apa?
Waktu sangat penting, Putra Mahkota.
Swarajya dalam bahaya,
dan Maharaj...
ada dalam tahanan Aurang.
Sampai sekarang, Aurang jauh dari Maharaj,
namun Maharaj kita membuatnya menderita tanpa henti.
Sekarang, Maharaj akan menghadapinya langsung!
Aurang akan memohon kematian!
Berdoalah agar orang seperti Ganoji dan Kanhoji tak pernah lahir
bahkan di rumah musuh.
Paduka...
Biarkan aku...
menikmati saat ini, Khan.
Sembilan tahun...
Selama sembilan tahun, dalam setiap doa,
Aku memohon pada Tuhan agar aku bisa menghadapinya.
Chandogamatya,
Aku tahu ini bukan balairung agung Raigad, tapi tetap saja,
kau harus melakukan bagianmu dan berbagi beberapa mutiara kebijaksanaan
untuk menyenangkan Kaisar.
Gajah, kuda, meriam, pedang
Pasukanmu kuat dan besar
Tapi Rajaku, walau terantai
Tetap kekuatan yang bertahan!
Mari kita umpankan dagingnya pada anjing
dan akhiri garis keturunannya di sini sekarang!
Kau seharusnya mengumpankan daging kami
hanya pada anjingmu.
Setidaknya anjingmu akan merasakan kesetiaan
dan generasi mendatang mereka akan diberkati!
Ini gagal menghiburku.
Sekarang,
sebelum aku mencabut...
jiwamu dari ragamu,
Aku harus bertanya satu hal padamu...
Apa Swarajya ini,
yang karenanya kau rela menyerahkan nyawamu?
Apa itu?
Dan di mana Swarajya-mu sekarang?
Ia ada di pegunungan Sahyadri,
di air mengalir Godavari,
di tanah Raigad,
di jalanan Jalna,
di angin Nashik,
di setiap sudut Konkan,
di kaki Dewi Bhavani!
Swarajya bersemayam di nadi jutaan Maratha!
Swarajya yang ingin kau hancurkan, Aurang, bukan sekadar kerajaan.
Itu adalah visi Chhatrapati Shivaji Maharaj!
Tak ada yang berubah, kan?
Kau berdiri di sini, terikat di hadapan Kaisar,
namun matamu masih menyala dengan api yang sama,
gairah yang sama menguasai pikiranmu.
Banyak yang berubah, Aurang.
Dulu kulihat keangkuhan di matamu,
mahkota di kepalamu,
tapi keduanya tampak hilang hari ini...
Kaisar!
Timbulkan rasa sakit yang tak tertahankan padanya,
sehingga saat dia memohon kematian,
yang terdengar hanyalah jeritannya.
Aku menari mengikuti irama maut, Aurang!
Kau tak bisa mengintimidasiku dengan kematian!
Dari kematianku, Siwa baru dan Sambha baru
akan bangkit di setiap rumah Maratha!
Tapi saat kau mati,
Kekaisaran Mughal akan runtuh bersamamu!
Jay Dewi Bhavani!
Maafkan aku, Chandogamatya.
Kau harus menahan sakit ini karenaku.
Justru dalam sakit inilah letak kebahagiaan hidup, Maharaj.
Duka apa yang Sudama tahu
Saat Kresna penyayang berjalan di sampingnya?
Mau kau bawa ke mana dia?
Apa kau melepaskannya?
Kata-katanya bak senjata Yang berubah sesuai panggilan
Kadang jadi panah Kadang jadi pedang
Chandogamatya!
Kau ingat saat kukata akan
beradu puisi denganmu?
Dan kujawab bahwa
kau menang tanpa bertanding.
Dia yang kuasai pikiran Akan berjaya
Dia yang takluk padanya Takkan bertahan
Mereka yang menyerah tanpa berjuang
Mendatangkan malu pada diri sendiri Setiap saat
Malu bagi mereka Yang gagal bermimpi dan berjuang
Karena hak bermimpi adalah hak lahir kita
Demi milik kita sendiri Kita harus bertindak hari ini
Kita harus jadikan Swaraj abadi Dan kekal, apa pun yang terjadi!
Kau adalah anak bumi
Bukan sekadar debu atau biji
Kau akan ubah zaman Dan tulis sejarah
Jangan lupakan klaim ini!
Kau adalah bintang fajar pertama
Suara perubahan
Kegelapan ini sementara
Segera dunia akan jadi milikmu!
Terimalah salam terakhir pelayanmu, Raje.
Aku pergi sekarang
Untuk bersemayam di luka musuhmu
Aku adalah garam
Maharaj, sudah kubilang!
Kau bukan garam, Penyair Kau adalah cendana
Kaulah kebanggaan Yang kuhias di dahiku!
Raje, dengan itu, kontes berakhir
Pada akhirnya Kemenangan milikmu seperti kataku
Penguasa rakyat
Kau bagai sinar mentari
Dengan restu Dewi Jagdamba Kekuatanmu akan tumbuh
Wahai Chhatrapati Wahai sahabat Sambha!
Aku garam, Maharaj!
Aku garam!
Kau bukan garam, Penyair Kau adalah cendana
Kaulah kebanggaan...
Yang kuhias di dahiku
Raje...
Cabut setiap kuku dari jarinya!
Dewi Jagdamba!
Dewi Jagdamba!
Kami telah mencabut semua kuku,
namun tak ada jejak sakit di wajah Sambha.
Shri-Sakhi!
Ya?
Sejak kapan kau mulai mengkhawatirkanku?
Apa kau meragukan kemampuanku?
Atau meragukan keberanianku?
Aku tidak hanya percaya pada badai gunungku, aku sangat bangga padanya.
Aku mungkin meragukan keberadaanku sendiri, tapi tak pernah keberanianmu.
Mengapa kau begitu teguh percaya padaku, Shri-Sakhi?
Pasti ada alasan
yang belum kumengerti.
Ada hal lain yang Ibu Jija bagikan padaku di hari pernikahan kita...
Bahwa sama seperti Dewa Siwa melakukan tandava di Himalaya,
Shambhuraje juga akan menguasai benteng-benteng Deccan.
Dia akan menerangi seluruh Hindustan dengan api Swarajya!
Ngomong-ngomong,
Ibu Jija juga mengatakan sesuatu padaku...
Beliau berkata, "Shambhu,
Yesu bukan wanita biasa.
Dia adalah reinkarnasi Dewi Parwati!
Sama seperti Dewa Siwa tak bisa ada tanpa Dewi Parwati,
demikian pula, Shambhu ini tak lengkap tanpa Yesu!"
Itulah sebabnya Sakhi ini selalu di hati Shri tercintanya!
Dewi Jagdamba!
Dewi Jagdamba!
Dia berdiri di sana, bersimbah darah,
namun tak satu jeritan pun,
bahkan bisikan sakit tak keluar dari bibirnya!
Dia yang memukul gemetar, Paduka,
tapi di mata Sambha, tak ada secercah pun rasa takut!
Matanya!
Apa yang sedang kau tatap?
Matamu.
Dan apa yang kau lihat di dalamnya?
Cinta, penghormatan,
dan kebanggaan tak tergoyahkan untuk Swarajya!
Dan untukmu?
Hanya dan hanya cinta.
Cinta yang sama seperti Dewa Krishna kepada Bunda Radha dalam tatapan-Nya!
Kau tahu, aku pun tahu
Aku rindu hidup dalam cintamu yang tulus
Mataku terpaku pada tatapanmu
Kuingin mendekap kata-katamu, begitu erat
Kaulah duniaku
Setidaknya, pejamkan matamu, Tuan.
- Dirimu dulu, dan selamanya akan abadi - Tunggu apa lagi? Cungkil matanya!
Dewi Jagdamba!
Dewi Jagdamba!
Abasahib.
Ya, Shambhu?
Saat aku bertemu Aaisahib,
bagaimana aku tahu itu dia?
Aku bahkan tak ingat wajahnya!
Tapi dia mengingatmu, Shambhu.
Bahkan dalam kegelapan terdalam, jika kau memanggilnya,
dia akan mengenalimu hanya dari suaramu!
Kau tak bisa mengintimidasiku dengan kematian!
Dari kematianku, Siva baru dan Sambha baru
akan bangkit di setiap rumah Maratha!
Tapi saat kau mati,
Kekaisaran Mughal akan runtuh bersamamu!
Mengapa bunga seindah ini tak mekar...
di tanah kami yang gersang?
Bergabunglah dengan kami.
Berpihaklah pada Mughal.
Hidupmu akan berubah jadi lebih baik.
Yang perlu kau lakukan hanyalah mengganti agamamu!
Bergabunglah dengan kami!
Berpihaklah pada Maratha.
Hidupmu akan berubah jadi lebih baik dan...
kau bahkan tak perlu mengganti agamamu!
Aurang, Chhatrapati Shivaji Maharaj dikenal sebagai sang singa,
dan anaknya dikenal sebagai...
chhaava!
Potong lidahnya!
Dengan kepercayaanmu padaku
Pertempuran berubah jadi perayaan
Dewi Jagdamba!
Dewi Jagdamba!
Perkasa dan gagah berani, sang Penghancur Benteng,
lahir dari klan Ksatria,
Raja diraja...
Jayalah Chhatrapati Ramraje Maharaj!
Dengan kepercayaanmu padaku
Pertempuran berubah jadi perayaan
Ingat, penjaga kerajaan
Harus selalu dijaga hidupnya
Dewi Jagdamba!
Sambha telah tiada, bersukacita dalam kematiannya sendiri,
sementara kita tertinggal...
meratapi hidup kita!
Kabar datang dari Raigad.
Chhatrapati Maratha...
masih hidup!
Mujtaba!
Tuanku.
Andai saja aku punya anak seperti Sambha!
Cukup satu anak saja, Mujtaba.
Bukan hanya Hindustan,
tapi seluruh dunia akan jadi milikku!
Ada rasa iri yang membara dalam diriku, pada Siva itu, Mujtaba,
yang menjadi ayah dari chhaava seperti itu!
VADHU 11 MARET 1689
Bayanganmu bersama kami...
Akan selalu tumbuh subur!
Semoga selalu jaya
Aaisahib?
Ya, Shambhu?
SIAP BERKORBAN UNTUK TUGASNYA PADA TANAH AIR,
ANAK SINGA SHIVA YANG PERKASA DAN AGUNG.
SEORANG KSATRIA PEMBERANI YANG GAGAH DAN TULUS,
TIADA LAIN RAJA SHAMBHU.
Diterjemahkan Oleh: Zain Jakarta, 11 April 2025 Beliin Kopi : https://trakteer.id/ZainSubs
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.