All language subtitles for Pusaka 2024 1080p WEB-DL.AAC.H264

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German Download
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian Download
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian Download
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian Download
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili Download
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish Download
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Aku tahu, memang proyek survei ini idealnya

tidak dikerjakan hanya berlima saja.

Tapi anak kolektor yang rumahnya mau diubah

untuk jadi museum ini yang bisa buat kantor kita bertahan.

Kita butuh proyek ini.

Proyek ini harus jalan.

Dan kita hanya punya tiga hari untuk survei.

Tapi kita harus survei dulu, baru bisa tentukan

kita bisa berapa hari.

Aku mengerti, tapi mau bagaimana lagi?

Klien yang minta. Survei tiga hari.

Dan aku juga sudah menjanjikan kalian semua bonus yang besar, 'kan?

Kau sendiri yang bilang padaku, kau yang paling butuh bonus ini. Jadi, mau tak mau,

bisa atau tidak bisa, harus bisa survei maksimal tiga hari.

Kau dan David nanti langsung buat draf. Mas Ade buat estimasi,

aku dan Randi membahas bisnis.

Dan kau, San? Kau buat

draf interior bersama dosen yang mau bantu untuk kurasi.

Iya, Mbak. Tenang.

Aku lagi berpikir, orang ini

membuat vila di tempat terpencil seperti ini?

Sinyal saja tidak ada. Tetangga juga tidak ada.

Terima kasih atas proyek ini.

Dengan senang hati.

Selamat datang di rumah saya. Rumah Wisangko.

- Besar sekali, ya? - Iya.

Oh, iya, Mbak. Perkenalkan. Profesor Dirga.

- Halo. - Saya Nina.

- Mayang. - Saya Nina.

Beliau adalah dosen sejarah yang nanti akan bantu kita

kurasi artefak yang ada di rumah.

Yah, barang-barang di dalam, karena… Sejujurnya, saya…

kurang mengerti apa yang telah dikoleksi bapak saya.

Ini Mayang, asisten saya di kampus

yang akan membantu saya untuk mendata.

Berarti, nanti kita berkeliling bersama, ya?

Agar aku bisa buat desain yang sesuai dengan datamu.

- Boleh, Mbak. - Aku Sandra.

Ya sudah, bagaimana? Kalian mau taruh barang dulu, leha-leha, istirahat, atau…

Langsung saja, Mbak.

Kita tak punya banyak waktu. Jadi, mendingan langsung saja, Randi.

- Oke. Bagus. Boleh, ayo. - Oke.

Iya.

Jadi, ini pintu masuk utama.

Dan kalau misalnya kita lanjut lagi ke tengah,

kita masuk ke aula utamanya.

Kita di aula utama.

Wah.

Wah.

Kita baru masuk saja sudah bisa melihat banyak benda pusaka.

Mayang.

- Saya bisa bicara sebentar? - Boleh.

Ya? Ikut saya.

Prof, lihat.

Itu ada dari masa Syailendra,

Singasari, Kadiri.

Banyak sekali koleksinya.

Bangunan seperti benteng begini mau dijadikan museum,

paling-paling kita cuma butuh jalur pengunjung,

bongkar beberapa tembok, dan…

Sisanya masalah keamanan saja.

Cukup.

Ya, tapi tetap saja ini bangunan lama, 'kan?

Memang harus kita bongkar beberapa titik untuk lihat kondisi rangka.

Ya, tapi tidak akan cukup tiga hari, Vid. Mau?

Iya juga. Proyek ini…

sudah lama direncanakannya, sudah berbulan-bulan lalu.

Terus, orang-orang rumahnya juga pergi. Terus, sisa Pak Darmo yang tadi, dan…

- Astagfirullah! - Kenapa?

- Apa? - Itu siapa, ya?

Pembantu.

Kasihan juga, ya.

Harus membersihkan rumah sebesar ini.

Maaf, Ran. Sejujurnya, tempat ini

jauh dari perkiraanku waktu masih lewat Zoom.

Jadi, kalau kau meminta aku dan timku untuk bekerja cepat,

- aku tak bisa janji! - Terus, bagaimana, Mbak?

Kalau punya pilihan, saya akan jual rumah ini, Mbak.

Proyek ini, yang menginisiasi adalah almarhum bapak saya,

dan almarhum bapak Mbak.

Sudah empat tahun tertunda, Mbak, gara-gara pandemi.

Tak ada waktu lagi. Jika Mbak Nina dan tim tak bisa selesaikan dengan cepat, tak apa.

Tapi saya akan ganti orang.

Oke. Aku akan melakukan yang terbaik.

Bagus.

Wah.

Kemarin, katanya listrik dan internet diputus, ya, habis Pak Risang meninggal?

Itu jadi tanggung jawab kita atau keluarganya Pak Risang, Mas?

Iya juga, ya. Aku catat.

Mbak…

Mohon jangan dimainkan. Bagaimanapun juga, itu warisan budaya yang harus dihormati.

Warisan budaya?

Pusaka-pusaka

nenek moyang masa lalu

harus bisa dinikmati

oleh masyarakat sekarang.

Dan pusaka-pusaka itu ada di rumah ini.

Lanjutkan.

Jadikan rumah besar ini museum.

Aku mau masyarakat sekarang

bisa menikmati

kekayaan masa lalu.

Namamu Bian, 'kan?

Tidak asing, ya, mukanya?

Mau aku beri tahu sesuatu, tidak?

Memangnya kau tidak penasaran Hanna itu siapa?

Ini kasus KDRT yang viral itu, 'kan?

Yang suaminya mengancam mau menyebarkan video mereka pas mau diceraikan?

Ini.

Kau tidak asyik.

Apa-apaan itu?

Mbok Sum? Mbok?

Mbok, besok pagi tolong datang lebih cepat, ya?

Agar bisa siapkan sarapan untuk tamu.

- Siap, Mas. - Iya. Terima kasih, Mbok.

Oke, Semuanya. Makan, yuk.

Mas Randi, saya tahu kamu tidak senang meneruskan koleksi pusaka-pusaka ayahmu.

- Ya. - Tapi saya penasaran dengan kamu, Bian.

Kenapa kamu tidak meneruskan?

Kalau itu, saya bisa jawab. Memang Bian sama persis dengan saya.

Dia sudah punya cita-cita. Kamu mau jadi fotografer, ya?

Bidang fesyen, bukan? Ya.

Jadi, begitu. Dia tidak mau terlibat dengan pusaka-pusaka yang ada di sini.

Bisa bicarakan yang lain?

Membicarakan video yang lagi viral.

Aku punya tautannya.

Hei!

Tenang, Semuanya.

Sebentar… Nah, oke. Iya. Maaf, ya.

Memang di sini listriknya ada gangguan.

Jadi, maklumi saja nanti malam kalau misalnya

- kalian lagi tidur, terus… - Apa?

Kita menginap lagi, Mas?

Iya. Nanti, kalau mereka kerja… Bi!

Mbak.

Jadi, David, tiga hari bisa?

- Sepertinya tidak cukup, Mbak. - Ya sudah. Mulai malam ini, kita lembur.

Oke, Mbak.

Mbak Sandra mengoceh terus soal masa laluku, Vid.

Dari dulu, sudah kuperingatkan soal Reno.

Dari awal mendekatimu.

Kau tidak mendengarkan.

Hina sekali, ya, Vid? Karena cerai?

Kau tahu ketika Mbak Sandra membicarakan itu, tahu rasanya bagaimana?

Ya. Oke.

Ini balasannya.

Balasannya, aku dirundung.

Disebar videonya.

Aku salah, Vid. Salah besar.

Pernikahan cuma sebentar.

Tetapi traumanya… dalam sekali.

David, maaf.

Kau tahu, 'kan, perasaanku terhadapmu seperti apa?

Vid. Ditunggu Mbak Nina.

Oh, iya. Iya, Mas. Terima kasih.

Yuk.

Ini. Arca Kempala Kencana.

- Taruh di aula utama. Daya tarik utama. - Yang bersama ini.

- Ya. - Oh, iya.

Mas, Mbak, ini senternya kalau gensetnya eror lagi, ya.

- Oh, iya. Siap. Terima kasih, ya, Pak. - Sama-sama, Mas.

Sebentar, Mbak.

Oh, ya, Mas Randi. Ini HT-nya. Nanti kalau butuh saya, langsung hubungi saja.

- Ya. Terima kasih, Mas. - Sama-sama.

- Han, ada yang ingin disampaikan? - Paling ini saja, Mbak.

Pintu belakang bagian sini dan sini serta jendelanya dikunci mati.

Bahkan semua jendela yang ada di sini dikunci mati pakai terali.

- Oke. - Kita harus rombak.

Masa bangunan sebesar ini aksesnya cuma pintu utama?

Mati lagi?

Aman.

Apa-apaan?

- Hei, hati-hati, Mbak! Ada patung! - Apa?

Iya, aku punya mata.

- Sandra! - Ya, Mbak Nina?

Aduh.

Benda di sini memang beda.

Lebih langka dari yang di luar.

Aku pikir di ini bisa dijadikan tempat untuk memamerkan barang paling berharga.

Ya. Keris dan senjata.

Ruangan ini mempunyai kelembapan yang bisa mengurangi pengaratan.

Nanti ini jadi ruangan paling angker.

Keris itu ada penunggunya. Takut.

Mbak, bisa jangan bercanda? Mendingan fokus pada pekerjaan kita saja.

Oh, ya? Kenapa kaku sekali semenjak jadi bintang porno?

- Tak bisa bercanda sedikit? - Hei.

Kau gila, bercandanya seperti itu?

Bisakah kalian berhenti?

- Vid, sudah. Cukup. Tidak, sudah. - Tidak…

Si tahi ini dari kemarin mulutnya seperti anjing.

Vid!

- Tahi. Mulutmu seperti tahi. - Apa kau bilang?

Kau gila. Gila-gilanya kau bicara kasar.

Kau lihat?

Lihat apa?

Kau cuma buat rusuh suasana saja, Mbak.

Kau dari kemarin terus bicara soal Hanna, soal siapa pun yang ada di sini.

- Berisik! - Kau yang berisik!

Kau terus berbicara. Mulutmu tidak pernah sekolah.

Dan sekarang, kau lihat ini.

- Apa? Tak usah pegang-pegang! - Ini keramik…

Dik, kau tahu soal ini?

Ran.

Jangan tanya saya.

Ini juga pertama kali saya lihat ini.

Dik… Dik, hati-hati.

Hati-hati, Dik.

Hati-hati.

Oke. Aku tarik omonganku yang tadi.

Ini jelas ruangan paling angker di rumah ini.

Mas Randi tahu tempat ini?

Satu-satunya yang aku tahu… Ternyata saya tak tahu apa-apa soal bapak saya.

Ini bentuk dasar persegi.

Dan ini aksara Pallawa.

Di sini diceritakan

bahwa dulu ada kerajaan yang runtuh karena perang

dengan bencana.

Jenggala. Kerajaan ini hancur

sampai hampir tidak ada sisa peninggalannya.

Saya dengar, sekitar tahun '70-an,

ada arca yang hilang saat ekskavasi.

Tapi ternyata, ada di sini.

Prof, mau tanya.

Pusaka itu ada penunggunya?

- Dik, jangan mulai. - Aku cuma bertanya.

Si keris itu punya pamor.

Membuatnya berharap pemilik keris itu akan mendapatkan hasil yang baik.

Kalau seperti Keris Mpu Gandring itu

memang keris terkutuk, Prof?

Kadang, waktu kita meneliti sejarah,

kita harus mempertimbangkan mitos,

legenda, dan cerita rakyat.

Walau kadang kala terdengar agak berlebihan.

Tetapi pada dasarnya, itu dari peristiwa masa lalu.

Ada cerita menarik. Saat Samarotsaha menjadi raja,

Jenggala hampir hancur diserang Kadiri.

Karena keris itu mempunyai pamor yang langka,

si raja yakin akan menang di perang karena bantuan keris.

Empu-empu pembuat keris yang sakti dikumpulkan…

Dipaksa membuat keris…

agar Samarotsaha digdaya

dan bisa mengalahkan Kadiri.

Sandra!

Mbak Sandra?

Mbak…

- Mbak? - Sandra?

- Angkat! Mas, kakinya dulu! - Sebentar!

- Oke. Ke kursi, ya? - Satu, dua, tiga…

Mas, maaf.

- Oke. Satu tangan dulu, ya? - Iya.

Sandra. Kau baik-baik saja?

Mbak Sandra?

- Sandra? Halo? - Mbak?

Mbak.

- Mbak? - Mbak?

Mbak Sandra kenapa?

- Hei. - Mbak tidak apa-apa?

Wah…

Apa-apaan?

Ini tidak lucu.

Tidak begitu juga.

Mbak Sandra? Mbak? Mbak Sandra!

- Mas Randi. - Ya?

Maaf, saya lancang.

Dulunya ini tempat apa, ya?

Mbak?

Sepertinya keluar sekarang adalah ide yang bagus.

Iya, sebentar. Senter. Di mana?

- Senter. Itu dia. - Di meja.

- Oke. Pergi, ya? Bersama-sama. - Dik, ayo.

Kami…

Apa?

Keris ketujuh akhirnya jadi sakti.

Tapi kedigdayaan harus dibayar

dengan darah.

Yuk.

Anjing. Apa lagi ini?

Apa?

Sandra, sudah!

- Mbak Sandra! - Mbak Sandra, sadar!

- Prof. Dirga! - Jangan, San!

- Prof! - San!

- Mbak. - Prof.

- Prof… - Mbak, jangan!

- Mbak? - Mbak Sandra?

Mbak…

- Mba Sandra. - Profesor.

- Ayo. - Mas.

- Iya, sebentar. Bertahan. - Panggil!

- Balik. - Mas, cepat!

- Sudah. Cepat! - Ayo pergi!

Samarotsaha, digdaya, keris ketujuh.

Samarotsaha, digdaya…

Aduh!

Ayo!

Dik! Bantu, Dik!

Ayo!

Ayo!

Cepat!

Cepat!

Ke sini.

Sandra kenapa bisa seperti itu?

Tidak, Mbak. Ini bukan Sandra.

Saya sudah bilang, jangan mainkan kerisnya.

Bisa seperti itu, ya?

Itu bukan Sandra…

Yang punya kode akses siapa? Cepat!

- Ayo! - Jendela!

Kita harus bawa Prof ke rumah sakit!

Sial. Mbak Nina.

Bi…

Hei!

David!

Mas Randi!

Ayo! Semua…

Bi!

Ayo, kita cari jalan keluar yang lain.

Jalan.

- Mas Randi! Bantu, Mas! Profesor, Mas! - Bantu, Mas.

Iya.

Bi, pintu keluar…

- Aduh! - Kenapa bisa seperti ini?

Pintu keluar yang lain di mana, Mas?

- Mas… - Bi.

Ayo! Ayo, Mbak!

- Han! Ayo! Menunggu apa? - Mbak! Ayo, Han! Kita harus coba.

Sebentar dulu…

- Ke sini. - Tutup lagi.

- Di mana? Di situ. - Apa? Di mana? Ayo.

Di situ.

- Di sini? - Ayo.

Sudah. Ayo.

Ada terali lagi.

Kalau ini…

Ke sini.

Tidak ada jalan keluar lain.

Kain, apa pun itu. Kain. Ya? Untuk menutup ini.

Oke.

- Tahan. Prof. - Iya.

Keris.

Keris itu…

Prof?

Oke.

- Kita pindah ke sana, yuk. Oke. - Kenapa?

Oke, ayo. Ayo, Dik.

Ayo, Prof. Pelan-pelan.

Sstt.

Mas.

- Mas! Pintu, Mas! Tutup, Mas! - Masuk!

Disangkutkan, Mas.

Aduh.

Dik! Hei, kau baik-baik saja? Ya?

Ya? Oke.

Oke.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Yang jelas, ini di luar akalku.

Kau benar tak tahu apa-apa soal basemen?

- Jawab. - Apa, Anjing?

Mas! Sudah.

- Apa? - Sudah!

Aku dan Mas Randi dari dulu sudah benci rumah ini! Kami tak pernah tahu!

Orang-orang suka memanggil Bapak kolektor gila.

Memang.

Menghabiskan uang. Mengoleksi barang-barang tidak jelas seperti ini.

Malah memberi wasiat

yang membuat kita semua terjebak dalam wasiatnya dia yang tidak jelas.

Dulu, pernah ada perampokan.

Satpam dan perampok, semuanya mati.

Saya juga tidak mengerti kenapa.

Tahu apa yang dilakukan bapak saya?

Beritanya ditutup. Disembunyikan dari publik.

Terus, apa yang dia lakukan lagi? Rumah ini makin diperketat.

Karena sangat ketat, sampai tidak jelas.

Tidak masuk akal. Pintu keluar cuma satu. Anjing.

Sama sekali tidak ada jalan keluar dari sini, Mas?

HT? Dik.

Kamu lihat HT yang diberikan Mas Darmo?

Mas. Mas Darmo waktu itu memberi saya HT. Mas lihat jatuhnya di mana?

Ayolah.

Satpam. Satpam yang tadi, Mbak.

Kalau kau mau keluar dan cek, silakan. Tolong.

Tapi aku tak mau ambil risiko kalau ternyata itu cuma generator rusak.

Maaf.

Karena aku merasa ini hari tersialku.

Aku rasa aku akan mati malam ini.

Aku akan mati malam ini, tahu?

Mbak, tidak boleh bicara seperti itu.

Kita tidak boleh menyerah.

Pak Darmo! Situasi gawat! Tolong! Sudah parah di sini! Pak Darmo, tolong!

Anjing, belum dinyalakan.

Kok tidak bisa?

Kok masih tidak bisa?

Mas Randi?

Mas?

Mas?

Mas…

Sstt. Mas.

Mbak! Mbak Sandra! Mbak, bangun! Sadar, Mbak!

- Mbak Sandra! - Hanna?

Sedang apa? Hei, saya dan Bian belum siap mati, ya.

- Lepas! - Tidak!

Anjing!

Mbak…

Ayo.

Oke. Ayo, Dik.

Oke, ayo.

Han! Bawa Mbak Nina pergi! Han!

Cepat!

Anjing!

Tidak bisa! Tidak bisa lama! Lari, Mbak! Cepat!

Mbak? Mbak Hanna? Mbak Nina?

Mbak. Mbak, kita dorong pakai lemari. Mbak bisa?

- Mbak! - Oke.

- Kak David! Kak Mayang di sini! Cepat! - Cepat!

Cepat!

Ayo.

- Ayo, Mbak. Mas. Ayo. Oke, yuk. - Ayo. Hati-hati, Mas.

Yuk.

Ini gila.

Sandra bukan cuma kesurupan.

- Kau benar-benar tak tahu apa-apa? - Apa?

Ini sudah jadi pertarungan hidup dan mati.

Bedanya, apa pun yang kita lakukan, tidak akan membuat Sandra mati!

Kalau saya tahu apa-apa, saya tak akan diam saja!

- Sudah! - Saya hampir mati! Bian hampir mati!

- Sudah! - Bukan kau saja, Anjing!

Bangsat!

Diam!

Stop!

Pasti… Pasti ada cara untuk keluar dari sini…

Maaf, Mbak.

Kita akan mati, ya?

Tidak, Mbak. Kita pulang.

Sebentar lagi, kita pulang.

Aku belum membuat ayahku bangga.

Mbak mau pulang, 'kan?

Istirahat, ya?

Istirahat.

Kak Mayang, memang semua keris selalu seperti itu, ya, Kak?

Yah, kalau orang yang percaya…

kalau keris sudah ada isinya.

Itu tidak semuanya punya petuah seperti ini.

Semuanya tergantung pada pembuatnya. Dan niat pembuatannya untuk apa.

Sandra.

Sandra kerasukan sampai sebegitunya.

Aku tak yakin kita akan aman bersembunyi di mana pun.

Kita tidak bisa di sini terus. Kita harus keluar.

Kamu dengar itu, Dik?

Kita keluar, kita dalam bahaya.

Hei. Mas tidak mau kamu kenapa-kenapa.

Mengerti?

Cepat atau lambat, pintu akan didobrak. Kau mau basemen ini jadi kuburan kita?

Kita cuma bisa keluar dengan kunci utama.

Seharusnya kunci utamanya dipegang Mas Darmo.

Jadi, kita harus cari Mas Darmo.

Berharap apa yang kau minta.

Hadapi apa yang kau inginkan.

Itulah hidup.

Ini kata-kataku.

Maksudnya?

Sebentar.

Ini kulit yang dipakai untuk membungkus keris yang dipakai Mbak Sandra.

Dan ini pasti untuk mengingatkan siapa yang nantinya punya kerisnya.

Ini. Aku menemukan jurnalnya Bapak.

Ini kedengaran aneh, tapi di sini tertulis…

ada empu yang dipaksa membuat keris untuk raja.

Dan dia tahu dia akan dibunuh setelah berhasil membuat keris.

Keris berhasil dibuat sakti,

dan diberi tuah oleh pembuatnya.

Siapa pun pemiliknya…

akan hilang akal, haus darah.

Keris menciptakan kutukan.

Dengan setiap satu nyawa, keris akan membentuk sebuah lengkungan

dan baru akan berhenti setelah mengambil tujuh nyawa.

Keris akan kembali lurus ke bentuk semula

dan jadi awal kehancuran Jenggala.

Tunggu, tunggu sebentar.

Dulu, saat ada pencurian di rumah ini…

kalau tidak salah, ada tujuh orang yang mati.

Artinya, harus ada tujuh orang yang mati.

Di rumah ini.

Malam ini.

Hanna tidak aman.

Mati!

Hanna! Bangun, Han! Bangun!

Korbankan ragamu.

Korbankan nyawamu.

Korbankan jadi abu.

Adik!

Mayang! Jaga dia.

Sandra! Anjing!

Mbak Sandra!

David! Vid! Ayo. Ayo, Vid.

- Mas Randi. Sandra mana? - Sut!

Minggir…

Ke sini. Ke sini!

- Pelan-pelan. - Ayo, Mas.

- Pelan-pelan. - Mas, sebentar.

- Mbak, ini harus ditekan. - Mana?

Ada apa? Ini ada apa?

Kami… Kami punya teori, Mbak.

Keris yang melukai Mbak Sandra itu punya kutukan.

Jadi, apa pun perlawanan kita malam ini, semuanya percuma.

Tidak akan bisa membuat Mbak Sandra mati.

Karena kutukan keris akan terhenti

setelah tujuh orang di rumah ini mati.

Orang yang terluka karena keris juga akan kena kutukan,

dan mungkin akan mati.

Sebentar…

Maksud kalian, siapa pun yang kena tusuk dari keris itu pasti akan mati?

Ya. Iya, Mbak.

Memangnya benar, Mas, harus ada tujuh orang mati dulu?

Mayat Darmo benar ada di ruang tengah, Mas?

Iya, tapi di sini saja aman. Pagi nanti, ada orang datang.

Terus, apa?

Saya biarkan adik saya kena bahaya?

Satu-satunya cara, ya, kita ambil kunci. Keluar cari bantuan.

Sudah. Ayo.

Kita kenapa di sini, Mas? Lebih aman di situ, Mas!

- Oke! - Lebih aman di situ!

Oke. Pelan-pelan. Tak ada Sandra, aman…

Pasti ada cara untuk mengeluarkan kutukan di badan David, 'kan?

Bagaimana kalau Sandra mati

sebelum tujuh orang di rumah ini mati?

Tadi, aku lihat Kak Sandra kesakitan waktu kehilangan keris.

Mungkin… Bisa jadi.

Keris yang mengawali kutukan…

dan mungkin keris juga yang mengakhiri kutukan.

Yang terpenting sekarang, kita cari kunci dulu dari Pak Darmo.

Kita keluar lewat pintu utama secepatnya.

Satu-satunya ruangan yang belum kita cari di rumah ini cuma ruang tamu.

- Aku dan Kak Mayang ke sana. - Ayo.

Kak Hanna dan Kak David bisa langsung menunggu saja di pintu utama.

- Oke. - Kita ke mana?

Ke situ, Kak.

- Oke, ayo. Kalian hati-hati. - Hati-hati, ya.

Ya.

Ke sini, Mas!

Mas Ade!

Mas Ade!

Anjing! Sudah dibantu, malah kabur. Bangsat!

Apa?

Bukan ideku, Mas, keluar dari lemari. Kau sendiri yang buat repot!

Sudah salah, malah melawan! Bangsat!

Memang kenapa? Sama-sama orang.

Aku orang keuangan. Pekerjaannya tiap hari menghitung uang orang kaya sepertimu!

Peduli setan, kau cuma mendorongku tadi. Tahi!

Dari dulu, aku memang tidak suka orang kaya sepertimu.

Dari kecil, kau dan adikmu sudah kaya.

Mau apa pun, tinggal meminta.

Tapi tidak malam ini, Mas. Malam ini, kau akan mati.

Aku akan mati. Adikmu, Bian, akan mati.

Kau akan mati, aku akan mati. Semua gara-gara ayahmu, Mas.

Dasar orang kaya gila! Keluarga gila! Adikmu akan mati!

Semua akan mati! Semua salahmu!

Salah ayahmu! Salah keluarga sepertimu!

Orang kaya gila! Adikmu akan mati!

Adikmu, Bian, akan mati!

Mas Darmo!

Kuncinya! Itu kunci rumah!

Permisi, Mas.

Ayo.

Kukira…

aku masih punya sisa waktu yang lebih banyak bersamamu.

David.

Andai saja aku mengenalmu lebih dulu.

Aku yang datang di waktu yang salah.

Vid.

Vid? David? David!

Vid, bangun. Bangun, Vid.

- Aku… - Vid…

Bangun. Vid. Aku membutuhkanmu, Vid.

Bangun.

Vid…

Vid?

Empat mati.

Sisa tiga lagi.

Kuncinya!

- Kuncinya! Ayo! - Cepat!

Aduh!

Ayo!

Ayo.

- Ayo! Bian, cepat! - Cepat! Bian! Ayo cepat, Bian!

- Sebentar! - Ayo!

Ayo, Bian. Ayo, cepat!

Kita ke mana?

Ke taman! Dia ada di belakang kita! Ke taman! Ayo! Cepat!

Cepat!

Ayo!

Mayang.

Ayo, cepat!

Cepat!

Ayo, ke sini! Ayo!

Di sini!

Di sini saja. Bersembunyi di sini. Ayo!

Menunduk.

Mayang.

Sudah tidak ada.

Mayang! Mayang, mau ke mana? Mayang, jangan…

- Sudah tidak ada siapa-siapa. - Mayang!

Cari kunci mobil, ya. Kita pergi dari sini.

Hanna!

Mayang…

Mayang! Bertahan, ya?

David!

Vid?

David.

David.

Kak Hanna, aku mau cari Mas Randi dulu.

Tunggu di sini. Sebentar, ya.

Mas Randi!

Mas Randi!

Mas David?

Mbak! Mbak Hanna!

Mbak Hanna! Mbak, keadaan Mas David sudah parah sekali.

Dia sudah muntah-muntah, seperti pertama kali Sandra kena keris, Mbak!

Mbak, kita harus cepat…

Mbak…

- David! - Kak Hanna, jangan! Kak!

- Jangan, Kak! Jangan! - David!

David!

Kak! Ayo, Kak! Kita harus pergi, Kak!

Ayo cepat, Kak! Kak, ayo!

- David… - Bian!

Mas Randi…

Mas, walau Kak Sandra sudah mati…

sekarang Kak David juga kena kutukan, Mas.

David?

Ka…

- Basemen! Ayo! - Ayo, Kak Hanna!

- Ayo! - David!

Yuk. Ayo, ke sini.

Masuk! Cepat!

Ayo!

Pintu tidak akan tahan lama.

Sepertinya kita akan mati malam ini, Mas.

Aku belum siap.

Dik, jangan bilang begitu.

Jangan putus asa. Kita masih ada rencana.

Oke.

Mas Darmo,

Pak Dirga, Nina, Sandra, Mayang, Ade.

Mereka semua sudah mati. Oke?

Mungkin kalau kita bunuh David, kutukannya akan bisa hilang?

David?

Maaf.

Maksud saya, mungkin kalau kita bunuh makhluk yang merasuki David,

kutukannya akan lepas dan kita bisa hidup, Mbak.

Kita membunuh yang merasuki itu sama saja kita membunuh David, tahu?

Kita tidak bisa pakai cara lain?

Kak…

Tidak bisa, Kak.

Kita sudah harus merelakan Kak David. Sudah tidak bisa.

Merelakan?

Gampang sekali. Kalian berdua, adik kakak, gila!

- Ada cara lain apa lagi,? - Kita bisa cari cara lain!

Apa? Pintu sudah hampir didobrak, Mbak.

Kalau dia masuk, kita akan mati!

Mbak Hanna. Saya punya rencana, Mbak.

Semua teman-teman kita sudah mati. Cuma sisa kita saja yang masih hidup.

Tolong percaya pada rencana saya.

Oke?

David? Vid. David.

Vid…

Semua akan musnah sebagai pembalasan dendam

dengan darah menodai pusaka.

David!

David! Vid!

Vid.

Vid!

Vid.

Vid?

Hanna…

David…

Vid! David!

David…

Ada tujuh orang mati.

Bi, kita pulang.

Bi?

Belum?

"Tujuh orang harus mati pakai keris."

David!

Bian?

Bian.

Bian?

Sudah cukup.

Aku tidak mau hidup dengan cara seperti ini.

Aku tidak mau trauma lagi.

Kau masih punya kesempatan hidup lebih baik daripada aku, Bian.

Kak Hanna…

Mas Randi!

Mas Randi!

Mas Randi.

Mas Randi!

PEMBUKAAN PERDANA

Ini.

- Ke dalam? - Ayo.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.