Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
API ASMARA DI HATIKU
DIADAPTASI DARI NOVEL "WAITING FOR YOU IN A CITY" KARYA JIU YUE XI
EPISODE 5
Ada apa?
Bagaimana kau bisa mendapatkan luka sebesar itu?
dr. Xu, apa kau sudah berikan suntikan tetanus?
Ya.
Jangan lupa datang dan mengganti perbanmu.
Kenakan pakaianmu atau kau bisa terkena flu.
Jangan bergerak.
Ini.
Pelan-pelan.
Tangan yang ini.
Lihat dirimu. Apa itu sakit?
Kau butuh obat penghilang rasa sakit?
Tidak.
Minumlah. Ini bukan saatnya menjadi pahlawan.
Bukan begitu, dr. Xu?
Itu tergantung pada pasien.
Sepatumu basah.
Biar kuambilkan sandal bersih di mobilku.
Cuaca hari ini dingin.
-Lupakan saja. -Tunggu di sini.
Apa dia pacarmu?
Apa ini ada hubungannya denganmu?
Jika kau punya pacar,
katakan saja saat kau menolak pengakuanku.
Bukannya bicara berbelit-belit.
Ini masalah kita.
Jadi, ini di antara kita saja.
Kenapa melibatkan orang lain?
Itu salahku
karena meninggalkanmu.
Tapi apa kau tak menyadari betapa mudanya kita saat itu?
Kita bahkan tak bisa memenuhi kebutuhan.
Dalam keadaan seperti itu,
aku tak mengerti kenapa harus memilihmu daripada orang tuaku.
Kau benar.
Aku tak menyuruhmu memilih.
Tapi kau bahkan tak menjelaskan semuanya.
Kau mencampakkanku
seperti aku seekor anjing.
Sekarang katakan padaku.
Jika kau menjadi diriku,
kenapa kita harus kembali bersama?
Benar-benar tak ada gunanya mengatakan semua ini sekarang.
Kau hanya memedulikan diri sendiri.
Walau kita bisa memutar kembali waktu,
tak ada yang akan berubah.
Tepat sekali.
Jika kita mengulangi ini lagi,
aku tetap akan membuat pilihan yang sama.
Kau mengatakan ini padaku
hanya untuk membuatku memahami kesulitanmu.
Baiklah.
Aku mengerti.
Tapi itu tak membuat kita rujuk.
Walau kita rujuk,
saat hal seperti ini terjadi lagi,
kau tetap akan membuat keputusan yang sama.
Benar, 'kan?
Mendapatkan kembali permen yang hilang tak akan membuatnya terasa istimewa.
Tidak ada gunanya menyia-nyiakan cintamu hanya untuk menebus penyesalan.
Xu Qin.
Pada usia ini,
aku mungkin belum tua,
tapi juga tak muda.
Aku mungkin bisa
untuk menahan rasa sakit saat masih muda.
Hatiku akan sembuh.
Tapi pada usia ini,
aku tak mampu
untuk menderita lagi.
Apa kau masih membenciku?
Tidak.
Aku tak membencimu.
Tapi aku tak mau terlibat apa pun denganmu.
Kenapa kau keluar?
Pakai ini.
Tidak apa-apa.
Apa itu mantanmu?
Kenapa?
Dia menanyakan tentangmu.
Aku punya insting yang hebat.
Karena hubungan kalian sudah berakhir, kenapa kau tak memberiku kesempatan?
Tentu saja,
jika ada kesempatan untuk kau kembali bersamanya,
aku akan mundur.
Baik itu dia atau kau,
tak ada kesempatan.
Dia jelas ada di hatimu.
Tapi kau menyangkalnya.
Mari jangan memulai sesuatu yang tak akan berakhir dengan baik.
Ini demi kebaikan kita.
-dr. Xu, gawat. -Ada apa?
Hasil tes darah pengemudi itu sudah keluar.
POSITIF
Apa kau terluka di sungai?
Kau terluka.
Tahan aku.
Satu, dua, tiga.
Aku baik-baik saja.
Apa kalian terluka? Periksa secara teliti.
Tidak.
dr. Xu, aku masih lajang.
Semua orang masih lajang.
Omong-omong,
dr. Xu.
Dia mengalami pendarahan berat saat kau masuk ke air.
Aku baik-baik saja.
Kulit kita adalah penghalang terbaik.
Selama kita tak punya luka
atau bersentuhan langsung dengan darah atau cairan,
tak ada risiko terinfeksi.
Para petugas damkarlah yang dalam bahaya.
Beri tahu ruang persediaan
untuk mendisinfeksi peralatan bedahnya secara terpisah.
Spons dan limbah medis harus dikemas secara terpisah.
Lalu, Ruang Operasi dibuka kembali setidaknya 30 menit setelah disinfeksi.
Baiklah. Ayo.
Berkumpul!
-Kapten. -Cepat.
Tim penyelamat sore ini,
maju.
Mereka yang melakukan kontak dengan pengemudi mobil sport,
maju.
Kapten, apa kita akan dapat penghargaan?
Ada apa, Kapten?
-Aku tak mata duitan seperti Jiang Yi. -Apa maksudmu?
Cukup daging yang banyak.
Ikut denganku
ke rumah sakit.
Tidak apa-apa.
Aku mengalami sedikit luka gores, tapi tak perlu ke dokter.
Ya. Lupakan saja.
Pergi ke rumah sakit
dan lakukan pemeriksaan darah.
IGD
Tunggu.
Kenapa kau membawa putraku ke bangsal isolasi?
Dia tak bisa dirawat di tempat kumuh itu.
Dengarkan aku.
Aku sudah berbicara dengan Gao, atasanmu.
Bawa putraku ke kamar privat sekarang. Cepat.
Lalu, kirim dua orang perawat.
Aku akan membayar lembur dan bonus kalian.
Ya.
Apa kau tahu kondisi putramu?
Ini hasil tes darahnya.
Putraku sudah minum obat.
Jadi, kau tahu kondisi kesehatannya.
Kenapa kau tak mengatakannya sebelum operasi?
Itu privasinya.
Kami datang ke sini untuk mengobati lukanya.
Bukan penyakitnya.
Itu operasi invasif.
Bagaimana jika orang lain tertular?
Kau berlebihan.
Apa kau tak mensterilkan diri sebelum operasi?
Aku mengerti sekarang.
Kau menolak menyelamatkannya, 'kan?
Nyawa putramu sangat berharga,
tapi nyawa para staf medis tak berharga?
Juga, para petugas damkar yang menyelamatkannya,
apa nyawa mereka tak penting?
Lihat dirimu.
Apa ini cara bicara dengan keluarga pasien?
Ada apa? Bukankah sikapmu terlalu kasar pada dokter?
Aku sedang bicara dengan dokter.
Itu bukan urusanmu.
Jangan mencampuri urusan orang lain.
Pergilah.
Ini IGD.
Tolong pergi.
Siapa dia?
Siapa dia berani bicara?
Cepat siapkan kamarnya.
Mereka adalah
para petugas damkar
yang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan putramu dari sungai.
IGD
-Terima kasih, Dokter. -Sama-sama.
-Dokter. -Song Yan.
Kenapa mereka mengambil darah kita banyak sekali?
Apa kami terinfeksi?
Kami tak yakin. Ini hanya protokol.
Kami harus tahu kondisi fisik kalian saat menghadapi risiko paparan.
Kalian boleh datang ke ruang observasi setelah pengambilan darah.
Lewat sini.
Ini menakutkan.
Selesai. Tekan sedikit.
Song Yan.
Ini PEP untuk mencegah penyebaran virus.
Lebih efektif jika diminum lebih cepat.
Dosis ini cukup untuk tiga orang.
Kami bukan rumah sakit yang ditunjuk.
Apotek kehabisan stok.
Kami perlu mendapatkan sisanya dari CDC.
Tiga obat
untuk kami berempat?
Kau terluka dan kontak dekat.
Minum dulu. Risikomu paling tinggi.
Kau akan memberikannya pada mereka, 'kan?
Bagaimana hasilnya?
Terserah Tuhan.
Apa dokter memberimu PEP?
Hanya itu.
Kita akan dapat sisanya besok.
Kalian bertiga minum dulu, Kapten.
Mengingat ukuran tubuhku, aku yakin akan baik-baik saja.
Kapten.
Kondisimu yang terburuk.
Kau minum lebih dulu.
Kapten.
Aku hanya membantu menggendongnya.
Aku cukup bugar untuk tak minum obat.
Yang Chi.
Jiang Yi.
Liu Jun Ping.
Ya, Pak.
Minumlah.
Ini perintah.
Bagaimana denganmu, Kapten?
Aku akan minum besok.
-Masih ada waktu. -Itu akan sia-sia.
Sudah kuperiksa. Obatnya paling efektif jika diminum dalam waktu dua jam.
Waktu 24 jam kurang ideal.
Makin lama kau menunggu,
makin kurang efektif.
Mari kita dengarkan para dokter.
Ayo.
Semangat.
Jika ada yang terinfeksi,
harus dirawat di rumah sakit terbaik
dengan teknologi medis canggih.
Penyakit ini pasti akan sembuh.
Segera setelah mengenakan seragam, kita siap untuk itu.
Aku yakin
walau harus mengorbankan nyawa tak akan membuat kalian gentar.
Jika terjadi sesuatu,
aku ada untuk kalian.
Baiklah, minum obatnya.
Ayo.
Song Yan.
Sekadar pengingat untuk mereka yang minum obat.
Mungkin mengalami sakit perut, diare, sakit kepala, dan insomnia.
Istirahat yang cukup.
Jangan sampai kelelahan.
Terima kasih.
Kalian boleh pulang setelah minum obat.
Song Yan.
Kau harus tetap untuk observasi karena tak minum obat.
Baik.
Ya.
Rumah sakit kami kehabisan PEP.
Jika boleh, tolong minta CDC
untuk mengirimkannya pada kami secepatnya.
Baiklah. Terima kasih.
IGD
dr. Xu.
Terima kasih.
Ini, obatnya.
Terima kasih.
Aku yang seharusnya mengatakan itu.
Kau menyelamatkanku.
Jangan merasa terbebani.
Ini tanggung jawabku.
Aku cukup dewasa
untuk menghormati keputusanmu
setelah kau bilang
tak mau terlibat apa pun denganku.
PEMADAM KEBAKARAN DAN PENYELAMATAN TIONGKOK
Apa rencanamu untuk masa depan?
Terus tinggal di Shili Tai?
Masa depan?
Aku belum memikirkannya.
Aku hanya mau fokus pada pekerjaanku sekarang.
Kalau kau?
Aku tak bisa hanya memikirkan diriku sendiri.
Orang tuaku sudah tua
dan sakit-sakitan.
Aku belum bisa menghabiskan waktu bersama mereka.
Aku dan tunanganku belum resmi menikah.
Tapi dia harus mengurus semua urusan keluarga.
Selama lima tahun penuh.
Aku harus membalas budi mereka.
Jadi, kau akan berhenti?
Aku belum memutuskan.
Itu terlintas di pikiranmu?
Dengar. Jangan pernah memikirkannya.
Kenapa? Kau tak kuat melihatku pergi?
Merepotkan jika mengajari orang baru.
Kau tahu apa masalah terbesarmu?
Tidak mengakui perasaanmu yang sebenarnya.
Jujurlah tentang perasaanmu.
Bukankah keras kepala itu melelahkan?
Akuilah kalau kau enggan membiarkanku pergi.
Baik.
Aku mohon padamu.
Jangan pergi.
Anak-anak baru itu belum siap.
Jangan menyerahkan tanggung jawab padaku.
Aku bisa membiarkanmu menerima pujian, hadiah, dan tunjangan
lebih dulu setelah ini.
Kau memang murah hati.
Tentu saja.
Hubungan kita dekat, 'kan?
Ayo kita pergi ke suatu tempat.
Besok latihan seharian lagi.
Membosankan.
Aku sudah menyesali ini.
Jika diizinkan berhenti sekarang,
aku akan segera beli tiket pesawat pulang.
Pelankan suaramu.
Untung ketua tim tak ada di sini.
Jika dia mendengarmu...
Di sinilah
kau bisa tahu isi pikiran mereka.
Dengarkanlah.
Teman dekatku lulus ujian penerbangan
dan menerbangkan pesawat latihan
di sekolah penerbangan setiap hari.
Tapi lihatlah kita.
Yang kita lakukan hanya menyirami tanaman.
Sampai kita kelelahan.
Tepat.
Ge.
Kenapa kau masuk ke sini?
Aku?
Untuk menyelamatkan nyawa.
Kawan,
apa kau serius?
Aku mau menjadi seperti Kapten Song.
Kenapa kalian tertawa?
Menyebalkan.
Pacarnya Ge suka pahlawan.
Dia mengaguminya.
Pahlawan? Orang yang bahkan belum pernah ke gedung yang terbakar?
Bagaimana bisa kagum?
Kau terbiasa menguping di sini?
Mencoba mencari tahu isi pikiran mereka
juga bagian dari tugas instruktur.
Kau memang pandai beralasan.
Kapten baru saja lewat.
Instruktur juga.
Ambil peralatan kalian dan bersiap di posisi.
Ketua tim, ambil komando.
Tim Satu.
Lari berbaris. Berbaris.
Tim Dua.
Lari berbaris. Berbaris.
Satu, dua, satu.
Hai, Chi.
Wakil Kapten.
Hai, Chi.
Jiang.
Rumah sakit menelepon.
Semua dinyatakan negatif.
Pemeriksaan selanjutnya empat pekan lagi.
Benarkah?
Syukurlah.
Ketahuilah.
Entah hasilnya negatif atau tidak,
aku tak tahan lagi.
Berapa kali kau muntah?
Empat kali.
-Jun Ping. -Chi.
Liu.
-Mau ke mana kau? -Maaf.
Aku tadi muntah,
tapi kau membuatku mau muntah lagi.
Apa? Kami membuatmu mau muntah?
PERMOHONAN PINDAH
Kau seharusnya istirahat.
Kenapa kau tak tidur?
Untuk apa ini?
Menjadi pengkhianat?
Kau sudah mengajukan permohonan pindah.
Kenapa repot-repot meminta pendapatku tempo hari?
Siapa yang menyarankan untuk memikul beban bersama?
Siapa yang mau melatih para pemula menjadi petugas damkar hebat?
Siapa yang berjanji akan memastikan trofi Piala Penjaga Yancheng
tetap berada di Shili Tai selamanya?
Dengar, Song Yan.
Katakan saja rencanamu!
Suo Jun.
Kau menulis permohonan di belakangku.
Apa yang sudah kulakukan
sampai pantas diabaikan olehmu?
Kau bahkan tak membicarakannya denganku.
Baik.
Jika kau tak siap untuk berdiskusi,
setidaknya biarkan aku tahu.
Kita makan dan tidur di tempat yang sama.
Kenapa menyembunyikannya dariku?
Aku mau meminta pendapatmu,
tapi kupikir kau terlalu sibuk...
Tapi kau diam-diam menulis permohonan.
Apa kau berencana memberitahuku setelah kau pergi?
Atau kau tak pernah merencanakannya?
"Sampai jumpa, Song Yan."
"Selamat tinggal, Song Yan."
"Kita tak perlu bertemu lagi."
Apa itu rencanamu?
Ingat sumpah kita saat membentuk tim?
Kau tak ingat.
Kau lupa semua itu,
meninggalkan tanggung jawab dan tugasmu.
Kau pengkhianat!
Song Yan.
Aku ingat sumpah yang kita lakukan.
Aku juga bukan pengkhianat.
Tapi ada hal-hal yang harus kuurus.
Kau tahu,
aku pindah
ke posisi yang membayar tambahan 1.200 yuan.
Aku bisa...
Jadi, ini demi uang?
Ya.
Jika itu yang yakini.
Kenapa memaksakan diri sejauh ini, Song Yan?
Trofi Piala Penjaga boleh disimpan oleh markas lainnya.
Kita semua petugas damkar yang melindungi kota yang sama,
begitu juga warganya.
Kenapa itu harus tetap di sini?
Suo Jun.
Itu agar kau bisa melihat gambaran yang lebih besar.
Kau benar. Aku tak bisa menerima semua pujian.
Trofi adalah kehormatan seluruh tim.
Tapi kita adalah para pejuang Shili Tai, ingatlah.
Kau akan pergi.
Kehormatan itu tak penting bagimu.
Kau akan meninggalkan rekan timmu,
meninggalkan para pemula,
dan mengajukan permohonan pindah
demi tambahan gaji 1.200.
Baiklah.
Aku tak akan menghentikanmu.
Jika kau menolak
untuk membawa bendera Shili Tai,
aku akan melakukannya sendiri.
Aku dapat hari libur setelah pekan ini.
Bagaimana denganmu, dr. Xu?
-Aku juga. -Mau pergi bersama?
Tentu saja.
Aku lebih suka tidur.
Kita juga bisa melakukannya bersama-sama.
Halo, ini IGD.
Baik, aku mengerti.
dr. Xu.
Satu pasien akan datang.
Nadi lemah, tak sadarkan diri, tanda vital tak stabil.
-Siapkan ruang resusitasi. -Baik.
Berikan infus epinefrin satu miligram.
Baik.
Infus epinefrin satu miligram.
-Biar aku saja. -Baik.
Periksa akses vena.
Kejut pertama, 200 joule.
Mundur.
Tiga ratus joule.
Tiga ratus joule, dikonfirmasi.
Jangan bersantai dulu.
-Tetap fokus. -Baik.
BERKEMBANG PESAT
Itu saja?
Bukankah ini terlalu mudah?
Pi Pi,
sementara para senior sibuk memadamkan api,
kita hanya menyiram tanaman.
Apa gunanya?
Ini sangat berbeda.
Tepat.
Kita mengulangi latihan yang sama berulang kali.
Sangat membosankan. Itu semua bukan lawan yang sebenarnya.
Berapa lama ini akan berlanjut?
Entahlah.
Aku tahu.
Kapten.
Kalian bahkan tak bisa melakukan latihan dasar dengan benar.
Kalian berani mengeluh?
Siapkan peralatan!
Lakukan!
Baik!
Ayo pergi.
Kalian semua.
Siapkan peralatan.
Baik!
Ayo lakukan.
Ada apa denganmu?
Chi.
Kalian sangat ingin bekerja di garis depan
dan memadamkan api, 'kan?
Tapi kalian bahkan tak bisa memegang slang.
Kalian mau menjadi bahan tertawaan?
Kalian latihan setiap hari.
Ini hasilnya?
Lihatlah masing-masing kalian.
Kalian hanya akan
mempermalukan Shili Tai di kompetisi!
Lima satgas.
Ratusan peserta.
Sembilan tahap.
Bagaimana kalian akan bersaing?
Apa kemampuan kalian?
Latihan membuat sempurna.
Mereka butuh waktu untuk beradaptasi.
Kau memberi mereka waktu?
Bagaimana dengan waktuku?
Waktu kita?
Rapikan semua peralatan
dan mandilah dengan air hangat
jika kalian masuk angin.
Bubar.
Ada apa dengan Kapten?
Dia tak pernah sekasar itu pada instruktur.
Dia menakutkan.
Kapten pasti sangat kecewa.
Lupakan saja. Ayo pergi.
Dokter, bagaimana hasilnya?
Jangan khawatir. Detak jantungnya sudah kembali.
Itu serangan jantung.
Dia akan dibawa untuk melakukan angiografi.
Dia mungkin membutuhkan stent.
Sebaiknya kalian berdiskusi.
Bagus. Ini bagus.
Terima kasih banyak.
Pasien akan keluar.
-Tidak perlu khawatir. -Terima kasih.
Apa yang harus kulakukan jika kau tak bisa menyelamatkannya?
Ayo makan di tempat kami.
Terima kasih.
Tolong tunggu di sini.
Terima kasih.
Terima kasih atas kerja kerasmu.
Terima kasih.
Sampai jumpa.
Dia keluar.
-Bagaimana keadaanmu? -Kakak.
-Kau baik-baik saja? -Bagaimana keadaanmu?
Ada yang lain?
Tidak.
Makanlah.
Apa kalian bertiga sudah merasa lebih baik?
Jauh lebih baik.
Muntah itu sangat menyiksaku.
Kita baik-baik saja, tapi jangan sebut kata itu.
Kakiku lemas.
Kakimu memang lemah.
Instruktur,
aku iri dengan tubuh Kapten Song.
Dia tak mengalami efek samping.
Wajah kejamnya itu bahkan bisa menyingkirkan kesialan.
Sepertinya Kapten masih marah.
Itu sudah pasti.
Mereka tak akan segera berdamai.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.