Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sudah saatnya laporan penghematan uang.
Kau duluan, Ayah.
Aku makan roti basi selama seminggu, dan telah menghemat $ 100.
Luar biasa! Kau menang sepotong tahu.
- Bagus. - Luar biasa?
Aku makan roti basi tiga tahun
dan menjadi kerangka, aku luar biasa, 'kan?
Giliranmu, Sze.
Aku membuat pembersih dengan mentimun dan masker wajah dengan tomat.
Aku menghemat $500 di kosmetik.
Wow! 500 dolar.
Tak masuk hitungan. Dia banyak makan.
Semua teman sekelasku menggunakan Dior atau Chanel, tapi aku tidak.
Photoshop pun tak bisa membantu wajahku.
Enyahlah.
- Kau sudah menghemat $500. Jangan sedih. - Ayah.
Baiklah, 500 dolar.
Hong bagaimana?
Aku tidak membeli iPhone baru, jadi menghemat $9.000.
Bagus.
Aku tidak bisa menghitung itu.
Sama seperti aku melihat Mercedes dan memutuskan tidak membelinya.
Apa artinya aku menghemat sejuta dolar? Itu tak masuk akal, 'kan?
Tidak. Aku bahkan tak pakai ponsel.
Diam, Pria Tua.
Itu Kakek!
Ponselku lebih tua dari ponsel teman-temanku, Ayah.
Baiklah, kucatat $ 1.000 untukmu.
Bagus! $ 1.000.
- Minggir. - Sayang?
Temanku pergi ke Thailand selama lima hari.
Aku tak ikut, jadi, aku hemat 4.500 dolar.
- Bagus sekali. - Wow, $ 4.500 untuk istriku.
Aku kasihan padamu, Bu.
Tapi Ibu, itu Thailand,
itu tidak terlalu buruk.
Ada yang ingin ke Makau selama tiga hari, tapi ayahnya menolak!
Aku lebih kasihan padanya, Bu.
Lebih kasihan?
Kau harus lebih kasihan pada ibumu.
Kau lahir saat usiaku 19 tahun, lalu adik bayimu datang.
Tidak lama setelah itu, aku kehilangan pekerjaan dan menjadi ibu rumah tangga.
Segera setelahnya, ayahmu punya hipotek di apartemen ini.
Jadi siapa yang harus lebih dikasihani?
Keluarga yang bahagia butuh rumah yang bahagia.
Apartemen! Kita akan baik-baik saja dalam dua tahun.
Dua tahun lagi?
Dua tahun lagi?
Aku tak bisa menunggu selama itu untuk pubertas, Ayah.
Aku sudah telat lima sentimeter.
Jangan khawatir.
Kakakmu dapat pekerjaan dalam dua tahun. Dia akan membelikanmu sepatu hak tinggi.
Kau akan menyusul yang lima cm itu.
Maksudku dadaku,
bukan tinggi badanku, Ayah.
Kasihan aku.
Apakah lima cm di payudara begitu...?
Tentu saja.
Hei! Ada si perokok keras lagi.
Alergiku akan kambuh lagi.
Sialan... merokok saat kita makan!
Diam.
Terlalu berisik di sana.
Akan aku tinju kau.
Asapnya akan segera hilang.
Sekarang giliranku. Aku tidak menghemat uang.
Tapi aku menghasilkan.
Penghasilanku tiga kali lipat bulan ini.
Jadi, pengeluaran aman bulan ini.
- Wow! Bagus. - Hebat, Ayah.
Kita sudah membayar hipotek selama 15 tahun. 20 tahun lagi.
Dua puluh tahun…
Sudah kubilang jangan mengungkit itu, Wai Man.
Persetan kau, akan kusodok balik!
Sodok! Rasakan itu!
Kau gila?
Jika kau melubangi langit-langit, memperbaikinya butuh biaya.
Nyalakan TV.
Kita tak akan dengar dia mencincang.
Tidak! Ini adalah adegan perkelahian.
Ini akan membuatku kram.
Astaga.
Ini tak boleh terjadi lagi.
Ini hari terakhir. Kalian harus keluar.
Maaf! Suamiku kembali dua hari lagi.
Aku akan bayar begitu aku punya uang.
Apa katanya?
Kenapa kau tak buka pintu?
Dia selalu begitu.
Hei! Kau Sang Penjagal.
Buka, Tukang Jagal.
Beberapa menit lagi.
Katanya dia mendengarmu, dia hanya butuh beberapa menit lagi.
Setelah itu, jangan ribut. Kita kembali makan malam.
Tak mungkin.
Kita harus selesaikan ini. Dia lakukan itu tiap malam!
Buka pintunya, Tukang Jagal.
Ada apa sekarang?
Apa maumu?
Hei! Kau tak tahu, ya,
bahwa juga ada tahu, sayuran, telur, dan ikan?
Tak harus melulu pai daging babi.
Kau tak tahu aku hanya jual babi, dan hanya makan babi?
Baiklah. Tak apa jika kita masak makan malam di waktu yang sama.
Tapi aku sedang makan malam, dan kau terus mencincang!
Bagaimana menikmati makan malam? Aku memikirkan yang sama.
Bagaimana aku bisa menikmati daging babiku di rumah, saat aku tak menjualnya?
Ingat kau punya penggiling daging di tokomu.
Mencincang daging babi lebih baik daripada penggiling.
Kau tak tahu ada resep untuk irisan daging babi atau iga?
Dikukus, digoreng, dibakar, direbus. Tak harus pai babi cincang!
Kau tak tahu ada banyak apartemen di luar sana?
Kau tak harus tinggal di bawahku!
Sayang.
Kau dengar dia? Dia tak masuk akal.
Kau tak tahu sopan santun. Aku tak menyalahkanmu.
Tapi belajarlah menghormati tetanggamu.
Bicara saja sendiri.
Belajarlah dari suamimu. Lihat betapa sopan dia?
Dia datang bersamamu, tapi sangat pendiam.
Bodoh.
Hei.
Aku belum selesai bicara.
Kenapa aku mesti peduli? Aku mau makan malam.
Dia punya semenit. Akan kutelepon Perlindungan Lingkungan
jika dia tak berhenti.
- Baiklah. - Baik, satu menit.
Ayo pulang dan makan dahulu.
Satu menit.
- Berhenti mencincang! - Aku suka pai babi kukus.
Hanya pai babi yang aku suka.
Dia selalu begitu.
Ada apa, Nak?
- Pergi! - Ibuku ingin bunuh diri,
tolong hentikan dia.
Kita semua akan mati bersama-sama.
Sayang.
Jangan! Ada apa ini?
Kami datang untuk bekerja. Kami seharusnya sudah selesai kerja.
Bos suruh kami usir mereka. Kami hanya ikuti perintah.
Kami dipecat jika tak lakukan ini. Kami akan mati juga.
Jika aku diusir, aku akan mati.
- Jika aku mati... - Jangan.
Jangan mati. Apa yang akan terjadi pada putramu?
Bocah kecil, ayo cepat.
Ibu,
aku takut.
Apakah ada cara lain?
Kita semua bekerja keras untuk tetap hidup. Benar?
Kami jauh lebih baik daripada rentenir lain.Kami tak melakukan hal kotor.
Kami harus melakukan ini. Dia belum bayar hipotek tiga bulan.
Bagaimana kalau kau bayar sebulan? Setidaknya kami ada sesuatu.
- Berapa itu? - Sayang.
Kita tak punya asuransi rumah.
Bagaimana jika dia menyalakan api dan rumah kita terbakar juga?
Kita rugi lebih banyak uang, 'kan?
- Berapa? - $9.000.
$9.000.
Jika apartemen ini ditutup, harga apartemen kita akan turun juga.
Tiga kali tiga hasilnya sembilan.
Terima kasih.
Tidak apa-apa, Bu Chiu. Sudah beres sekarang, buatlah makan malam.
Sayang.
Berhenti di tempat. Keluar, jangan kembali.
- Kenapa? - Aku ingin bercerai.
Ada apa?
Kau tanya "Ada apa"?
Aku membatalkan perjalananku dan khianati temanku untuk hemat 4.500 dolar. Dan kau?
$9.000, dan kau berikan begitu saja!
Aku akan memintanya dari Pak Chiu saat dia kembali.
Aku tak peduli.
Juga, aku istrimu dan aku tak tahu kau membawa banyak uang tunai!
Aku ingin bilang, dan aku memberitahumu sekarang.
$10.000... Tidak... $15.000.
- Itu 6.000 dolar. - Ayah.
- Karena aku baru... - Ayah.
Ada apa?
Musik Kakak terlalu ribut, membuatku gila.
Dan dia merokok.
Kecilkan. Kenapa kau belajar merokok?
Jika aku harus bernapas dalam asap, sebaiknya aku merokok sendiri!
Aku menyalakan hifiku karena aku mau berbaur dengan musikku.
Aku menyiapkan wawancara besok, pergi!
Aku ada tes matematika! Aku tak mau mengulang sepertimu!
Beri dia satu hari untuk wawancara, ya?
Ayo, gunakan headphone. Tidak apa-apa.
Rokoknya bau.
Hei.
- Hei. Kau mau ke mana? - Aku harus ke mana?
- Bepergian. - Kau sudah gila?
Benarkah? Kau yang bayar.
- Jangan bodoh. - Lihat isi kotoranku.
Pilnya keluar satu demi satu dengan kapsul. lihat.
Ayah! Berapa kali kubilang jangan lihat pil itu?
Ayah, kita akan menghemat tagihan listrik
jika kita matikan TV dan hifi.
Ya! Matikan lampunya.
Taruh lilin di sini, cocok untuk lagu baruku.
Baik, matikan! Aku menutup bukuku, oke?
Mari kita menjadi perokok aktif bersama, katakan tidak kepada perokok pasif.
- Aku tidak bisa memberimu itu. - Aku akan mencari obat.
Kau tak punya kram. Kram kecil tak apa-apa.
Aku sedang kram sekarang.
Kenapa aku tak bisa membuat ayahmu paham, Suamiku?
Bagaimana kalau kau yang menjelaskan?
Sayang?
Jangan ribut.
Oh, aku kram, Anakku!
Hanya dengan melihat keluar jendela
kami bisa merasa sedikit lega dan meninggalkan kebisingan di belakang.
Sementara.
Tahukah kau,
populasi Hong Kong mencapai 7,3 juta pada tahun 2018.
Rata-rata ruang hidup adalah 15 meter persegi per orang,
yang berarti ruang hidup sekitar 204.000 keluarga
kurang dari 11,5 meter persegi.
Namaku Wai Man Lo. Aku cukup mapan di kota ini.
Karena aku sudah menikah, punya istri yang cantik,
dan dua anak yang sangat menggemaskan.
Yang terpenting, kami punya apartemen dengan pemandangan laut.
Dan kami keluarga bahagia yang dicemburui banyak orang.
Namun, anak-anakku semakin besar, dan rumah kami jadi semakin kecil.
Lebih banyak kondominium baru dibangun, semakin menghalangi pemandangan laut,
menciptakan lebih banyak masalah
untuk kami tangani.
- Aku pergi. - Sayang.
Sarapanmu sudah siap.
Makan siang adalah sisa tadi malam.
Oke?
Aku baru memperbaiki sepatumu.
Jalan pelan-pelan, oke?
Aku tahu, aku terlambat, Sayang.
- Hati-hati. - Dah.
Tua bangka.
Itu Kakek!
Kakek. Jika kau matikan kipasnya di pagi hari,
aku akan hancurkan! Agar tak ada yang menikmatinya.
Tapi sangat dingin di pagi hari.
Kau bukan tipeku, Ken.
Jangan mengejarku lagi.
Hei, Yu Sze.
Jangan habiskan waktu untuk jatuh cinta. Kau masih muda.
Benar sekali. Aku ingin mengalami semua jenis cinta sebelum menikah.
Cinta pertama. Jatuh cinta. Patah hati. Sepihak. Rahasia. Jarak jauh.
Cinta segitiga. Yang sedih. Jeda usia. Lalu aku kembali hidup normal.
Mungkin butuh 1,5 tahun tiap kali, artinya aku menikah setelah usia 35.
Tidak mungkin kau bisa mengalami itu seumur hidup.
Tapi mungkin online.
Karena itu aku harus mempersiapkan diri untuk perpisahan.
- Perpisahan apa? - Tak ada.
Aku akan menjemputmu dari sekolah hari ini.
Tidak.
Teman-teman sekelasku akan mengira aku hamil.
- Minum obatmu, Ayah. - Terima kasih.
Semua sudah lengkap?
Ya.
Pergilah.
Baiklah, makan.
Kau ingat kata-kata kakek?
- Semua ucapannya benar, oke? - Oke...
Kau kenapa?
Apa kau tak punya etika sosial?
Kau tidak apa-apa?
- Ya. - Pergilah.
Beberapa orang benar-benar luar biasa.
Aku beri tahu kau,
kau bisa berkencan, tapi jangan tidur dengan mereka.
Kau hidup di abad lalu, Ibu. Kau sudah lupa di mana kau berada.
Tidur dengan mereka bukan apa-apa, yang penting berpisah hati-hati.
Apa kau tahu saat ini pasangan ...
Yang aku tahu kau akan telat. Mobilnya di sana, cepat.
Dah! Cuci seprainya.
Hati-hati.
- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.
Lihat.
Tak ada tas, karung, kalian bisa lewat.
Bahkan tak ada puntung rokok.
Bagus jika kau menaiki tangga bersamaku.
Kau harus belajar tentang bagian ini, bukan?
Tangga darurat sangat penting.
Ada gudang di sebelah.
Hanya sedikit orang yang bekerja, jadi sangat tenang.
Lewat sini.
Langit-langit pabrik tua seperti ini sering tinggi.
Kita tidak merasa sumpek.
Koridor ini dirancang dengan gaya Eropa Kontinental.
Halo.
Sangat menarik di sini.
Kalian akan terbiasa.
Setiap kamar diberi angka, 902D.
Bagaimana kabarmu, Bu Wong?
Bu Wong bisa selesaikan bersih-bersih sore ini.
- Kemari dan lihatlah. - Baiklah.
Sangat nyaman tinggal di sini.
Tanpa jendela dan pemandangan. Bagaimana nyaman?
Jendela dan pemandangan hanya ada di apartemen pribadi.
Ini 17 meter persegi.
Harganya 8 juta untuk apartemen seukuran ini.
Ini sewanya $20.000 per bulan. Tak bisa dibandingkan.
Tapi apakah ada dapur atau kamar mandi?
Ya, ada.
Ada toilet umum pojok. Yang sangat besar!
Ya! Tapi semua orang antri untuk menggunakannya setiap pagi.
Aku tidak.
Kami punya kamar dengan toilet pribadi.
Biayanya besar.
Tambahan $1.500 untuk toilet. Kau bisa menjadikannya pilihanmu.
- Hei, Pak Lo. - Ya?
Toilet pribadiku mampet sudah sebulan. Kau tak pernah memperbaikinya.
Bagaimana aku bisa tidur di kolam kotoran setiap malam?
Aku sudah memberi tahu departemen. Ini akan segera diurus.
Seharusnya tidak apa-apa, kotorannya milikmu sendiri.
Toilet tak akan mampet jika kau makan sedikit dan buang kotoran lebih jarang.
Maaf.
Untuk dapur, semua tergantung cara kau melihatnya.
Ini kawasan industri.
Restoran buka 24 jam untuk dibawa pulang.
Jika ingin privasi, belilah kompor listrik portabel.
Kau dan istrimu bisa menikmati masa yang romantis.
Api juga bukan masalah. Tubuhmu akan diambil dalam beberapa hari.
Bukankah aku memadamkan koran yang terbakar terakhir kali?
Aku tak menelepon polisi karena ingin memastikan penyewa bisa terus tinggal.
Ya, atas nama kalian.
Orang bertengkar dan dibunuh di sini, tapi tak dilaporkan.
Pembunuhan?
Tidak, kami tak bisa menyebarkan berita tentang tempat ini.
Kami tak boleh beriklan.
Kami tak mengganggu polisi karena
kami ingin menawarkan pilihan kepada penyewa sepertimu.
Kami belum memutuskan.
- Akan kami pikirkan. - Ayo.
Kenapa kalian tak pikirkan tentang
kenapa mereka ini terus mengeluh, tapi masih tinggal di sini?
Karena sewanya rendah.
Aku tahu kalian baru menikah, dan anggaran ketat.
Di kemudian hari saat bayimu lahir, uang akan sangat penting
dan kau harus menjaga semua harga rendah, bukan?
Beri aku bawang $1,50.
Aku ingin mengukus ikan.
Aku akan memberimu sedikit jika kau beli bunga kol $18 per kati.
Tapi kau hanya beli kentang seharga 8 dolar.
Kenapa kau tak jadi bos?
Aku jadi bos yang lebih baik darimu.
Aku beli kentang di sini karena paling murah.
Semua sayuran lain yang termahal di area ini.
Sayuranku enak. Jangan beli jika tak mampu.
Wanita gila.
Halo? Telepon lagi nanti untuk menjual...
Penasihat pembimbing? Ya…
Anda di sini karena kami harus memberi tahu
bahwa seorang siswa melahirkan di toilet.
Polisi sudah mengurusnya.
Jangan cemas, kelahirannya lancar, ibu dan bayi baik-baik saja. Bayi laki-laki.
Apa hubungannya dengan putri kami?
Dia bertindak sebagai bidan,
dan akan mendapatkan celaan.
- Sebuah celaan? - Ya.
Kau membantu kelahiran?
Ibu dan bayi baik-baik saja?
Membantu orang adalah perbuatan baik, Bu.
Seharusnya dia diberi pujian.
Itu karena dia melanggar aturan sekolah
dengan melahirkan saat jam kuliah. Karena itu dia mendapat cela.
Itu masuk akal. Kenapa kau bolos kelas? Kenapa kau tak memanggil ayah bayi?
Tak ada yang tahu siapa ayahnya.
Benar.
Jadi, dia telah melakukan perbuatan baik dan harus diberi pahala, Bu.
Tak ada gunanya memohon. Celaan itu keharusan.
Tidak, Bu. Dia...
Bu, sebenarnya, menurut saya
para guru di sekolah ini juga harus bertanggung jawab.
Kenapa tak ada guru menyadari
- kalau dia hamil? - Kau tak punya akal sehat?
Itu kelahiran prematur. Bagaimana kami tahu?
Jangan salahkan sekolah kami.
- Aku tak logis? - Benar.
Aku melahirkan dua anak, bagaimana bisa aku tak logis?
Tapi menurutku tidak.
- Benarkah? - Benar.
- Celaan tingkat pertama! - Pujian.
- Celaan. - Ayo kita pergi dan mengeluh.
Kepada siapa?
- Biro Pendidikan. - Hei.
Anda diundang ke sini hari ini karena kami ingin memberikan penawaran istimewa.
- Diskon 50% untuk celaan. - Pujian.
- Celaan tingkat kedua. - Ayo telepon Biro.
- Baiklah. - Hei!
Sekolah kami tak mau merepotkan orang tua.
Pada saat yang sama, kami juga tak ingin orang tua mengganggu kami.
Oleh karena itu, tak ada celaan atau pujian yang diberikan.
- Puas? - Tidak.
Kenapa tidak?
Aku lupa mengambil foto selfie dengan bayi di toilet.
Itu memang menyedihkan.
Bagus kau pelajari keahlian itu.
Suatu hari, jika ada pria yang menghamilimu,
dan kau tak yakin siapa dia, dan kita tak bisa aborsi,
kau bisa melahirkan bayi sendiri.
Diam.
Menarik bayi dengan tangan kosong saja tidak cukup.
Kau perlu air panas untuk membersihkan bayinya juga.
Begitulah nenekku melakukannya, dia menarikku dan memasukkanku ke air.
Oke! Aku tak perlu tahu selebihnya.
Takkan kuulangi lagi.
Ini, makanlah jeruk.
Harimu berat. Makan vitamin C.
Terima kasih,Ayah.
Kau tak hanya ingin mengambil foto selfie dengan bayi itu,
kau juga ingin memberinya nama.
Kau akan merasa senang dengan itu, begitulah kau.
Drone itu tak berkaitan denganku.
Aku mau memberi diriku nama.
Kami memberikan namamu. Kau tidak berhak mengubahnya.
Aplikasi berbeda menggunakan nama berbeda, Ayah.
Jadi berhentilah menggunakan aplikasi itu.
Kau tak boleh mengubah namamu.
Aku tak peduli. Besok, aku akan menyebut diriku Ting Sheng.
Dan aku tak akan punya bayi sebelum menikah.
Tolong menikah secepat mungkin.
Setelah itu kau akan keluar dan pergi.
Jadi aku akan punya kamar sendiri.
Jika kau mau kamar sendiri,
pertama kau harus bayar $30.000. Lalu beli apartemen, dan bayar hipotek.
Aku sedang mencari pekerjaan.
$30.000?
Yang mendapatkan kerja dengan gaji $10.000
punya payudara besar, atau orang tua mereka bos.
Payudaraku tak besar,
dan kalian tak punya perusahaan.
Itu salah Ibumu.
Dia memanjakanmu dan mendukungmu belajar musik di universitas.
Tak penting. Hanya ada satu Michael Jackson atau Justin Bieber.
- Aku pergi. - Lihat dirimu...
Sayang.
- Ya? - Kau mau ke mana?
KTV! Hari jadi Qinger kedua puluh.
Sangat tipis. Kenapa kau pakai ini untuk hari jadi orang lain?
Lihat! Aku bisa melihat kedua lenganmu yang lembek.
Aku bermaksud membeli gaun ini untuk hari jadi kita.
Kau tahu kenapa aku tak bisa?
Ibu, Ayah, Kakak masuk ke kamarku,
aku hanya membantu keluarga.
Aku memikirkan cara menyewakan sudut ini pada teman sekolahku untuk penyimpanan.
Kau punya kamar untuk disewakan.
- Apa? - Gila.
Ada sampah besar di kamarku.
Aku tak peduli!
Astaga.
Gunakan kamarmu untuk menghasilkan uang.
Singkirkan mainannya!
- Diamlah. - Ini ada tubuh telanjang!
- Hong, berhenti memanggil kakekmu sampah! - Ini kelewatan!
- Kau menjadi jahat, aku telanjang bulat. - Apa kau mendengarkan?
- Kau mulai membuatku kesal. - Sama-sama.
Kami hanya saling membantu.
Apartemen terbagi seharusnya tidak jadi masalah. Pasti ada.
Akan kukirim info besok dari kantor.
Terima kasih, Bu Chiu.
Bu Chiu yang mana?
Gadis tetangga kita.
Kenapa dia punya nomor WeChatmu, aku tidak?
Dia ingin melunasi utang, tapi tak mau pergi ke bank.
Jadi, dia mentransfernya ke akun WeChat-ku.
Apa apartemen yang terbagi? Apa kau menjadikannya simpanan?
Menjadi gundik Chiu tidaklah cukup? Dia akan mengambilmu?
Aku akan mengambilnya.
Berhenti bermain.
Apa yang kau lakukan? Ini memalukan. Kenapa kau...?
Menurutmu wanita tertarik pada pria sepertiku?
Aku ingin bercerai. Aku ingin apartemenku sendiri.
Aku tidak mengerti logikamu.
Aku sampah, tapi tak lama lagi.
Terserah! Cerai, atau apartemen ini milikku.
Kau punya apartemen ini, dan selalu punya.
Apartemen berikutnya hanya di namamu.
Saat yang ini lunas, yang berikutnya milikmu.
Lunas? Berengsek!
20 tahun lagi! Aku tak akan punya apartemen sampai usia 60 tahun!
Aku harus tahan selama 20 tahun lagi!
- Saat kita 60 tahun, kita tuli. - Akan kubunuh dia.
Saat usia 60 tahun, kau tak bisa dengar, dan tak bisa melihat.
Lihat ayahku... Sedang apa, Yah? Duduklah dahulu.
Aku akan teriak minta tolong jika kau melangkah.
Pada siapa? Polisi?
Aku berikan apapun yang kau perlukan.
Kau gila, ya?
Kenapa kau bawa pisau jagal?
Membunuhnya, atau menakutinya.
Jangan bersikap begitu, memalukan.
Tenang.
Lihat keluar jendela.
- Apa yang terjadi? - Ada apa?
Apa itu?
BELI SATU DAPATKAN SATU GRATIS! RASA ENAK! TIAP SAAT!
Kakek, cepat.
Kau baik-baik saja, Kakek?
Kakek.
Itu tak bisa dipercaya.
Di sini, suamiku.
Kapan saja.
Halo.
Maaf mengganggu.
Sampai nanti.
- Aku ingin tahu... - Kau mau apa?
Ada papan iklan di atap.
- Papan iklan di atapmu. - Iklan apa?
Aku tak tahu-menahu.
Kau akan melihatnya jika kau ikut ke atas.
Atas? Naik ke mana?
Untuk lihat sendiri, yang seperti itu ilegal.
Aku bertugas.
Kau naik duluan.
Besar sekali.
Apa mau kalian?
Apa papan iklan itu milikmu?
Benarkah?
Dia tak menjawab, Sayang.
Bisa kami masuk untuk meihat?
Kau polisi?
Aku tak kenal kalian. Kalian mau masuk rumahku. Bagaimana jika aku masuk rumahmu?
Ada yang salah.
Bagaimana jika kita turun bersama-sama untuk melihat?
Ini benar-benar di atap.
Ayo, kita turun untuk lihat.
Itu dia! Apa papan iklan besar itu milikmu?
Itu struktur ilegal.
Ini akan berakibat buruk
- jika jatuh dan menimpa seseorang. - Ya.
Bagaimana kalau kuberikan 1 minggu untuk membuangnya.
Kita akan pura-pura itu tak pernah ada. Bagaimana?
Kau mau meninggalkannya di sana dua bulan?
Itu tak bisa kami terima.
- Itu menghalangi pemandangan laut kami. - Benar sekali.
Cantik?
Bagaimana bisa terhubung dengan mudah?
Apa dia mengolok-olok kita?
Kau akan telat kerja jika tak makan sekarang.
Aku cuti sore ini,
untuk mengetahui hukum tentang bangunan ilegal.
Akankah gaji atau bonusmu dikurangi?
Aku tak peduli.
Kau tahu jendela ini sangat berarti bagi kita.
Keluarga kita berjuang untuk semuanya 10 atau 20 kali sebulan.
Berkat jendela ini, semua stres kita hilang.
Bertahanlah, Ayah.
Baiklah.
Belajarlah dengan giat di sekolah, Yu Sze.
Panggil aku Ting Sheng.
Di mana aku bisa dapat nomor?
Terima kasih.
Letakkan nama atau info orang atau perusahaan yang ingin Anda laporkan
di wilayah hukum.
Aku tak tahu nama pria itu.
Kami hidup berseberangan di dua kondo berbeda.
Anda harus mengisi formulirnya.
Kami tak bisa mengikuti kasus kecuali Anda isi formulir.
Maaf. Kami punya banyak pengaduan untuk diurus.
Anda harus tunggu. Bawa info yang diperlukan tanggal 15 bulan depan.
Permisi, saya punya keluhan.
Cari nomor dan tunggu.
- San Po Kong? - Nomor 216, tolong ke meja.
Nanti kutelepon lagi.
- Maaf, 216. - Nomor 216, tolong ke meja.
Ada bukti dari pihak ketiga?
Apa itu?
Artinya, selain Anda,
bisakah orang lain atau tetangga Anda
membuktikan hal ini memengaruhi hidup kalian?
Halo, Cheung?
Ya! Dia seorang pria.
Lo Wai Man.
Ya! Lama tak jumpa.
Ya! Bagaimana keadaanmu?
Kau masih bekerja di pemerintahan?
Itu bagus.
Sesuatu terjadi padaku, apakah kau bisa membantuku?
Halo, Suk Yin.
Ada apa?
Siapa itu, Sayang?
Maaf, Cheung.
Hai.
Maaf.
Sudah lama!
Aku ingin kau memecahkan masalah.
Kemarilah, coba lihat. Di sana.
Lihat! Ini bencana.
Maaf soal ini.
Rumah kami agak berantakan.
Hati-hati.
Lihat.
Papan iklan besar.
Itu yang menghalangi pemandangan kami.
Beberapa hari lalu, kami masih bisa melihat laut melalui celah itu.
Kami beri tahu pada laut masalah kami.
Sekarang, seperti hidup telah berakhir. Tak ada yang benar di rumah.
Keluarga bahagia sering beruntung, dan yang sedih bernasib sial.
Sudahkah kau tahu jika penyewa setuju akan itu?
Ya, pengawas kondo itu bilang kantor manajemen belum diberi tahu.
Kalau begitu, itu 100% struktur ilegal.
Silakan minum teh.
Baiklah.
Terima kasih,
Aku akan ambilkan kue.
Kau beruntung, Suk Yin.
Begitu pula istrimu.
Minum tehnya.
Tidak, terima kasih.
Minumlah.
Kau bisa bantu kami membuang papan itu?
Sebenarnya, aku bekerja di Departemen Urusan Sipil.
Departemen ini bertanggung jawab atas promosi pendidikan dan seni.
Jadi... Wai Man salah. Dia pikir kau bisa membantu kami.
Dia tidak salah. Jika kau butuh bantuan, aku akan berusaha semampuku.
Bisakah kau bicara dengan rekan lamamu di Departemen Perumahan?
Tidak.
Departemen Perumahan untuk perumahan umum,
- bukan untuk merubuhkan bangunan. - Polisi?
Tidak! Mereka mungkin tak mau terlibat.
Departemen Bangunan mungkin bisa membantu.
Bisakah kau hubungi departemen itu untuk kami?
Aku tak bisa.
Komunikasi antar departemen sangat merepotkan.
Benarkah?
Jika tak ada yang bisa kau lakukan, kenapa tak bilang di telepon?
Kau tak perlu ke sini.
Ayo pergi sekarang!
Kacang. Mau?
Saat kami kembali. Ayo.
Pak Wong.
Kau tinggal di sini, Pak Wong?
Nama belakangku Cheung. Masalahnya,
pemerintah kini berjuang keras melawan struktur ilegal.
Kasus besar atau kecil, kita akan selesaikan dengan cepat.
Jadi, semakin lama Anda menurunkannya, semakin besar hukumannya.
Cara terbaik menangani ini
adalah menurunkannya sendiri secepatnya.
Jika kau ingin pemerintah melakukannya, biayanya sangat tinggi.
Juga, pemerintah tak akan mengganti kerugianmu.
Karena itu, jika kau menurunkannya sendiri,
kami anggap itu selesai dengan rundingan dan kau tak akan dibawa ke pengadilan.
- Mengerti. - Bagus.
Tapi, bukankah seharusnya aku menerima surat dari departemen terkait
sebelum aku tahu harus lakukan apa?
Ya! Secara umum, kau harus menerima surat pertama-tama
sebelum bertindak.
Tapi jika kau tak memperbaiki masalahnya sendiri sebelum suratnya tiba,
ini akan menjadi sulit.
Satu situasi yang mungkin adalah ada perkelahian dengan tinju,
atau kau dengar kata-kata kotor.
Apa?
Maaf, bisa ulangi?
Perkelahian? Dan masuk tanpa izin ke properti pribadi?
Lakukan. Kami tak takut.
Turunkan sekarang, Bajingan.
Turunkan! Beginikah caramu melakukannya?
- Ya. - Sebenarnya, dari departemen apa kau?
Departemen Urusan Sipil.
Tapi bukan dari mana aku berasal.
Aku datang mewakili Nona Suk Yin Lo-Lee.
- Berarti kau bukan dari EPD. - Bukan.
- Atau Biro Perdagangan dan Industri. - Tidak.
Aku sangat menyesal.
Kau tak bisa menuntutku atas struktur ilegal,
atau konstruksi tak disetujui.
Biar kuperkenalkan ini kepadamu
Ini karya seni,
- bukan papan iklan. - Hah?
Ini adalah karya seni yang dibuat di rumahku sendiri.
Apa?
Tapi aku butuh waktu lebih untuk menyelesaikannya.
Seni yang bagus pasti membutuhkan tanda tangan.
Aku tak keberatan kalian mengaguminya sebanyak mungkin.
Baik itu saat kalian di sini, atau dari rumahmu.
Tapi di sini aku minta $10.
Karya seni punya nilai.
Jangan terburu-buru, hari ini gratis.
Kalian mau minum apa?
Aku bahkan menunjukkan kepadamu akta perjanjian bersama.
Aku tak tahu apa-apa.
- Maaf merepotkanmu. - Apa yang akan kita lakukan?
Aku tak pernah lakukan sesuatu seperti itu.
Baik, bagaimana jika kau meminta Wai Man untuk bersabar.
Aku akan cari tahu di kantor.
Minta Wai Man memanggil departemen lain juga.
Untuk memeriksanya.
Sudah larut,
aku harus pulang.
Jaga dirimu.
Jadi? Apa aktanya menyebutkan sesuatu?
Ada yang bisa kita lakukan? Ada petunjuk?
Tunggu, Tua Bangka. Awasi itu untukku.
Kuambilkan yang lain! Oke? Awasi dia.
- Kau mau ke mana? - Untuk menghasilkan uang.
Kau sebaiknya serius. Lekaslah kembali.
Awasi dia untukku.
Kencing, kotoran, vandalisme, beri tahu aku.
- Aku akan tuntut dia. - Terima kasih.
Ini pertama kali kau baik padaku.
- Ya? - Siap?
- Untuk apa? - Untuk ke rumah sakit.
- Untuk apa? - Untuk menemui dokter.
- Siapa yang sakit? - Suamimu.
Kenapa dia mau ke dokter?
Kenapa suaminya mau dokter?
Biar kuperiksa.
Kanker hati terminal, dan depresi.
Gila.
Gila? Tidak tertulis disini.
Aku bilang kalian gila.
Kau cari siapa?
Tai Hung Chan.
Satu lantai ke bawah.
Bukankah ini lantai lima?
Mari lihat.
Angkanya 5, tapi ini lantai enam. Tingkatkan bahasa Cina kalian.
Perbaiki bahasa Cina kalian.
Ikuti saja bau rokoknya, kau tak bisa melewatkannya.
Maaf soal itu.
Terima kasih.
Gila.
Sekarang apa?
Jalang.
- Kau sedang apa? - Kau memukulnya?
Telanjangi dia.
Apa?
Kenapa kau lakukan itu?
Suamiku tak punya uang, dan tak tampan.
- Kenapa kau menggodanya? - Aku? Siapa suamimu?
Bicara apa kalian?
Kau menyangkal. Kau masih belum melupakannya, ya?
Kunyuk itu mengakui semuanya.
Kau tinggal di Apartemen C, 'kan?
Ini Apartemen D, Jalang.
Bisa hentikan itu?
Ini Apartemen D. Maaf.
Maaf.
Itu saja?
Kau memukuliku.
Oke sekarang?
Hapus sekarang. Jangan hapus bagian aku memukul diriku sendiri,
siapa tahu dia menuntut.
Di mana Apartemen D?
- Di seberang lorong. - Bagus.
Jangan tersinggung.
Ayo lanjut. Lewat sini.
Pergilah.
Dasar gila!
Hasilnya sangat bagus.
Pertemuan sore ini sudah siap.
Ya! Sampai jumpa.
Aku pulang!
Sze? Hong?
Lihat, Sayang! Roti nanas dengan mentega.
Untuk teh.
Aku cuti setengah hari. Aku harus pergi ke departemen pemerintah lagi.
Berhenti.
Ada apa?
Hei.
Jangan! Kita tak sendirian di rumah.
Ada yang bisa lihat kita. Aku tak akan bisa mengendalikan diri.
Kehilangan kendali? Kau akan lakukan apa?
Aku akan...
Kenapa kau tak memberitahuku? Apa yang kau inginkan dariku?
Kuberitahu jika kau berikan ponselmu.
Tidak! Tapi kini aku tahu yang kau mau. Tidak.
Tak ada selingkuh, tak ada gundik. Jangan pikir macam-macam.
Sinetron apa yang kau tonton?
Sindrom ibu rumah tangga. Tak ada yang perlu kau cemaskan?
Cari pekerjaan agar kau sibuk.
Pekerjaan rumah selalu membuatku sibuk.
Kau pikir aku mau bersikap begini?
Semua orang gila di sini! Mereka semua.
Aku jadi gila juga.
Aku ingin buka jendela, mencari udara segar, dan minum teh.
Aku tak bisa sekarang. Bagaimana aku tidak kesal?
Berisik sekali!
Kalian mau aku mencari pria dan tidur di rumahnya?
Cepatlah.
Ayo! Cepat.
Kau mau ditinggal...
Dokter apa? Aku tidak sakit.
Pergi ke dokter jika kau sakit.
Jangan! Jangan dengarkan dia.
Angkat dia. Bawa dia pergi.
Kau menjauhkanku dengan risikomu sendiri.
- Sayang. - Angkat dia. Bawa dia pergi.
Bawa dia pergi! Cepat.
Halo.
Senang kerja sama.
Sutradara ingin menentapkan pemeran tokoh terlebih dahulu.
Dia mempelajari karya musikmu dan menemukan melodinya sedikit aneh.
Baiklah, lain kali.
Tentu, tak masalah.
Jika kau butuh ini atau jenis musik lain, harap hubungi aku.
Ya! Pasti.
Oke, dah.
Berengsek! Ongkos bus mahal sekali.
Kenapa tak kau bilang melalui WeChat?
Aku akan menulis lagu untuk mengutukmu ke neraka.
- Sampai jumpa, Ling! - Sampai jumpa.
Choi.
Aku tak percaya kau menjadi bosmu sendiri dalam semalam.
Kejutan yang bagus.
Itu karena kalian memecatku dan aku tak bisa mencari atasan lain.
Terima kasih atas dukungan kalian.
Sama-sama.
Apa pendapatmu soal ide iklan murah?
Bagus untukmu.
Aku miskin, tak bisa beli apartemen. Tak terpikirkan sebelum tinggal di atap.
Menyewa papan iklan di atap memakan biaya 10 kali lebih banyak
dari menyewa kamar di atas sana.
Apa yang kau lakukan?
Dilarang ambil foto di sini.
Aku ingin selfie.
- Selfie? - Ya.
Jangan bohong.
Akan kubuat 10 papan iklan 10 kali lebih besar dari itu dalam setahun.
Cek untukmu sudah siap.
Kau tak mau mentraktir kami?
Tentu saja.
Aku akan mencari kolega lama kita.
Dan keluargamu, bagaimana dengan itu?
Keluargaku juga? Apa dia mampu?
Aku pergi ke banyak departemen, jika aku mau buat kasus,
aku harus membuktikan kepada mereka papan itu melibatkan kegiatan bisnis.
Lalu warga gedung kondominium bisa bersatu
menuntut pemilik papan iklan.
Aku tak tahu apa-apa, dan tak bisa menolongmu.
Kau cukup mengambil foto untukku.
Ambil saja sendiri.
Aku harus bekerja.
Kau di sini tiap hari.
Jika kau lihat orang asing mengunjungi bajingan itu dan papan iklannya,
foto, dan aku akan urus dari sana.
Jangan ganggu aku dengan ini.
Mungkin papan iklan akan berubah dari iklan bir
jadi pakaian dalam nanti.
Maka keluargamu tak akan ingin melihatnya pergi.
Keluargaku hanya ingin pemandangan laut kembali.
Aku tidak bisa membantu untuk itu.
Terima kasih.
Aku traktir kau makan nanti.
Ayah...
Apa yang terjadi?
Ada apa? Katakan sesuatu.
Tidak...
Kau mau apa?
Kau bisa hubungi polisi, atau pulang tidur,
aku tak bisa berkata apa-apa.
Aku tak akan mengeluh tentangmu.
Aku ingin kau tahu
tentang papan besar ini di seberang jalan
yang menghalangi pemandangan,
dan merusak keuntungan kita.
Jadi, aku berharap mengumpulkan petisi untuk menentangnya.
Ayo, tanda tangan di sini.
Tanda tangan?
Aku bisa melihat laut dari jendelaku, tapi aku tak punya waktu untuk itu.
Wanita bodoh.
Tidak.
Pulanglah dan tidur.
Tolong tanda tangan di sini, Bu. Tentang struktur atap ilegal ini.
Aku tak pesan makanan.
- Akan kujelaskan. Ini ilegal... - Aku tak pesan makanan.
Bukan makanan, dengarkan aku.
Ada yang bisa baca?
Sudah kubilang aku tak pesan makanan.
Tidak...
Aku penyewa. Bicara dengan pemilik.
Itu tak masalah, selama kau mendukung kami.
- Suruh pemiliknya saja. - Tapi kau tinggal di sini.
- Tanda tangan. - Aku tanya pemilik.
Tak perlu, tanda tangani saja.
Kau sangat cantik! Cantik dan baik.
Ayo, tanda tangan di sini.
Tanda tangan di sini.
Aku hanya datang dua hari.
Cepat! Mandi dulu.
Maaf.
Selesai! Lebih dari perkiraan.
Kita pergi ke sana bersama?
Aku bicara dengan beberapa teman soal itu.
Kolegaku akan merasa tak pantas
jika mereka melihatku bersamamu.
Tapi aku khawatir aku akan mengacaukannya dan harus mulai dari awal lagi.
Kenapa kau tak berlatih dahulu?
Cabang Perdagangan, Industri dan Turisme, dan Perlindungan Lingkungan,
tak penting yang kulakukan dahulu, tapi aku harus dapatkan kedua cap
sebelum membawanya ke Departemen Bangunan.
Ingatanmu sangat bagus.
Tak heran Suk Yin meninggalkanku demi kau. Sampai jumpa.
Terus coba.
Kakek, kau bisa.
Tunggu. Bagus.
Penampilanmu harus lebih buruk
saat kau pemeriksaan besok, Tua Bangka.
Kakiku sudah cukup buruk.
Kau hanya bisa minta asuransi $1.800 untuk kakimu.
Tapi jika kakimu menyebabkan inkontinensia urine, bisa minta $6.800.
Aku tak mau inkontinensia urine.
Kita mungkin perlu bayar biaya hukum untuk tuntutan hukum itu, Kakek.
Kita kehabisan uang. Tolong bantu.
Aku tak tahu cara bohong.
Tidak, bukan kebohongan.
Kami ingin melihat inkontinensia urine sungguhan.
Bagaimana aku bisa buang air di depan orang tak dikenal?
Makanya kau harus berlatih sekarang.
Satu botol lagi.
- Minum perlahan. - Aku sudah minum banyak botol.
Kalian sedang apa?
Mereka memaksaku minum banyak air,
agar aku pipis tanpa sadar.
Kami akan klaim asuransi besok.
Bagaimana jika dia pipis tanpa sadar tiap hari?
Siapa yang mengepel? Jangan minum.
Dia menyarankannya.
Selesai. Akhirnya selesai.
Kasus kita akhirnya ditangani.
Bagus.
Kau pahlawan, Sayang.
Maaf, aku tak bisa menahannya.
Ini dia, papan iklan ilegal.
Bukti tak terbantahkan. Atapnya juga, tanya dia.
- Pergi. - Pak Wong,
aku dari EPD. Kami tak mau menyia-nyiakan sumber daya pemerintah.
Kami tak mau membawamu ke pengadilan.
Kami ingin menyelesaikan di sini, ya?
Dia minta bayaran juga.
Apa dia akan membayar untuk mencabut struktur ilegal?
Tutuplah, dan pergi.
Aku dari Departemen Bangunan.
Jika Pihak B bersedia membayar, Pihak A akan berhenti mengejar masalah ini.
Pak Wong, Cabang Perdagangan, Industri, danPariwisata
membutuhkan pengajuan permohonan untuk papan iklan.
Dan harus bayar pajak. Kau daftar?
- Kau tampaknya salah paham. - Salah paham apa?
Silakan baca apa yang ada di tanda terima.
Sponsor...
Biaya sponsor?
Mereka mensponsori karya seni saya.
Boleh aku bertanya departemen mana yang bertanggung jawab untuk seni kreatif?
Yang kalian wakili, 'kan?
Tidak, mereka.
Rekreasi dan Budaya.
- Ya, benar. - Apa maksudmu?
Bisa bantu kami karena kau sudah di sini?
- Kita akan kembali mengurusnya. - Benar.
Kita adakan rapat untuk ini.
- Kita punya nomor mereka. - Ya, kami sudah dapat nomormu.
- Kami akan telepon. - Tolong bantu menyelesaikannya.
- Sponsor juga biaya, bukan? - Pak Lo.
Ini persetujuan perdamaian.
Jika kau setuju,
kau akan menerima 500 dolar sebulan dariku sebagai kompensasi pemandangan.
Bodoh! Setidaknya harus 3.000 dolar.
Gila! Dia pikir kita siapa? Setidaknya $5.000.
Tidak, bahkan untuk 10.000 dolar. Itu tidak adil.
Aku mengerti bahwa kalian tidak terlibat demi uang.
Tapi kita harus cari departemen yang tepat untuk mengajukan keluhan kita.
Mereka harus cek kasus kita
sebelum kita bahas bagaimana dan kapan menurunkan benda itu, 'kan?
Biro Pengembangan Ekonomi dan Perdagangan? Tidak.
Karena mereka hanya urus produk komersial.
Departemen Bangunan juga tidak,
karena mereka hanya peduli dengan perumahan umum.
- EPD, semua orang tahu itu... - Sayang.
Kau membuatku bingung.
- Biar aku ulangi. - Jangan.
Kau terlalu tenang.
Dia sendirian, tapi kita berlima.
Kita akan ke sana dan mengusirnya.
Setuju.
Ayah, bukankah lebih penting
membuktikan bahwa papan iklannya bukan seni?
Bukan seni?
Berhenti.
Silakan dilihat.
Anak muda! Hai, Tampan.
Hai.
Hai, tolong dukung kami.
Halo, semuanya. Aku anggota dewan distrik.
Semua orang tahu itu.
Terima kasih pada spesialis dan sesama warga.
Terima kasih sudah datang ke pertemuan penilaian penting.
Kita akan sangat terbuka, adil, dalam penilaian kita
atas barang yang dikeluhkan Pengadilan Hoi Yuan,
yang sekarang didirikan di atap Mansion Tin Hing.
Apakah itu karya seni pribadi,
atau iklan yang diperlihatkan kepada publik untuk produk komersial.
Mari kita mulai dengan pelapor, Pak Lo.
Halo, semuanya. Terima kasih sudah datang hari ini
untuk membantu kami membuat keputusan yang adil.
Aku ingin merekomendasikan cara yang mudah dan sederhana
agar semua orang tahu perbedaan
antara karya seni dan iklan komersial.
Yang ada di tangan anak-anakku adalah karya seni yang sering kita lihat.
Seperti lukisan kuda karya Xu Beihong, atau karya Picasso.
Sementara yang dipegang ayah dan istriku
adalah iklan komersial yang kita lihat setiap hari.
Dan ini yang menghalangi jendela kami.
Tampaknya ini papan iklan ilegal yang dibuat untuk iklan komersial.
Semoga ini membantu Anda mencapai keputusan lebih mudah
saat memberikan suara.
Terima kasih, semuanya.
Bagus.
Kerja bagus, Ayah.
Baiklah...
Sekarang giliran tim pembela, Pak Siu Choi Wong.
Terima kasih.
Lukisan ini diburamkan karena hak cipta.
Mungkin kalian tak bisa lihat jelas.
Ini "Sup Campbell" yang terkenal karya Andy Warhol.
Pertanyaan saya, apa perbedaan antara lukisan ini
dan iklan untuk sup dari merek ini?
Yang ingin kukatakan adalah papan iklan di atapku
yang dibicarakan Pak Lo
sebenarnya sebuah karya seni. Terima kasih.
Tapi kenapa alamat pengecer dan nomor telepon di karya senimu?
Bukankah ini sudah jelas sebuah iklan?
Ada nomor teleponku
agar orang yang suka karyaku bisa berkomunikasi denganku.
Di antara mereka, seseorang mungkin ingin membayarku.
Mencantumkan nomor telepon masuk akal.
Berhentilah mengoceh! Tidak diragukan lagi itu iklan komersial.
Baiklah...
Sekarang mari kita memilih, oke?
- Aku mau bicara. - Ya?
Boleh minta jus sebelum aku memilih?
Pulanglah dan minum air jika kau haus, lalu kembali kemari.
Kau tahu apa? Kami tinggal di seberang jalan. Cukup jauh.
Di seberang jalan?
Kau mendukung kami atau bajingan itu?
Tidak, aku tak punya kegiatan lain.
Tak ada kegiatan lain?
Kau tahu kenapa kami kemari?
Perlindungan lingkungan?
Beraninya kau datang untuk jus?
Aku tak bisa datang?
Aku mau bicara.
Aku melihat Siu Choi Wong melalui teropongku kemarin.
Dia membuang rokoknya di papan iklan saat dia selesai merokok.
Jadi bukan karya seni.
Dik,
apa Da Vinci akan membuang puntung rokoknya ke tangan Mona Lisa?
Tidak.
Karena dia menggunakan puntung rokok untuk mengotori papan iklan,
kurasa itu semacam seni perilaku
yang menggunakan sampah untuk mengotori hegemoni iklan.
Terima kasih.
Apa katanya?
Terima kasih.
Pekerjaanku dan aku adalah seni perilaku.
Semua orang diterima di rumahku
untuk melihat karyaku tiap hari Sabtu.
Kalian bebas meludahi pekerjaanku juga.
Aku terburu-buru,
Kuharap semua orang akan memberikan suara. Terima kasih.
Aku sedang terburu-buru juga, jadi kita memilih sekarang, oke?
Angkat tanganmu untuk seni perilaku.
- Apa gunanya. - Entah apa yang terjadi.
- Ayo pergi. - Tak ada hadiah untuk memilih.
Jangan pergi! Pilih dahulu.
Hanya butuh sedetik. Jangan pergi.
Kumohon.
Sayang.
Pemungutan suara...
Diam atau aku berhenti mendorong.
- Diam. - Jangan salahkan Yu Sze,
tak ada yang ingin memilih.
Apa ini? Garasi siapa ini?
Lagi?
Mengerikan.
Itu si perokok berat.
Tak ada lagi bau rokok.
Kudengar dia depresi.
Bahkan jika dia tak mau ke dokter, tak perlu melompat dari jendela.
Mungkin dia tak bisa ke dokter,
atau dia tidak minum obatnya.
Istrinya mendesaknya menemui dokter demi kebaikannya.
Mungkin dia pikir bunuh diri demi kebaikan istrinya.
Sayang.
Mulai sekarang, kau tak perlu izinku untuk melakukan apa pun.
Aku akan cari simpanan.
Kau mau melompat dari jendela?
Kita lompat bersama?
BERIKAN BAYI ANDA SUSU KASIH SAYANG
Bangun.
Bangun. Cheung menunggumu di bawah.
Kau tak tahu aku berusaha tidur?
Baik, nikmati tidurmu. Aku akan menjemput Ibu Chiu agar kau bangkit.
Terima kasih, Bu Cheung.
Karena kau sangat cemas soal Cheung yang menunggu
kenapa kau tak suruh Bu Chiu membangunkanku?
Dasar gila.
Apa kabar, Cheung?
Selamat.
Ukuran papan iklan yang kau berikan
melebihi ukuran maksimum barang rumah tangga umum.
Jadi, baik itu papan iklannya karya seni,
atau komersial, dia harus menurunknanya karena membahayakan keamanan masyarakat.
Itu bagus.
Akhirnya ada keadilan.
Butuh berapa lama?
Formulir, pemeriksaan dan persetujuan, pemesanan penunjukan, penurunan.
Sekitar enam tahun.
Papan itu sudah menutupi pandangan beberapa bulan.
Keluargaku jadi gila. Bagaimana kami bisa menunggu enam tahun?
Bisa kau bayangkan? Enam tahun. Adakah keadilan yang tersisa untuk kami?
Begitulah adanya.
Banyak rumah desa dengan atap ilegal masih menunggu penurunan setelah 16 tahun.
Bersabarlah dan tunggu sebentar lagi.
Semoga kau dan Suk Yin punya rumah yang baik dan nyaman. Sampai jumpa.
Ini juga.
Baiklah.
Ikan ini milikku.
Ada di tanganku.
- Lepaskan. - Kau yang lepaskan.
Kubilang lepaskan.
Kau yang lepaskan.
Kubilang lepaskan.
Kubilang lepaskan.
Berani kau mengambil ikanku?
Kubilang lepaskan.
- Lepaskan. - Berhenti berteriak, Ibu-ibu.
Ini satu lagi, sama seperti yang itu.
Mereka kembar, kalian masing-masing bawa pulang satu, oke?
Tak usah bertengkar, harganya 30 dolar. Oke?
Kau layak menerimanya, beraninya kau.
Kau mengumpulkan sewa lagi?
Akan kubayar jika kau bisa meyakinkanku.
Aku merasa bingung. Tolong ambil keputusanmu.
Aku tak punya. Akan kuberikan padamu jika aku punya.
- Pindah. - Maaf?
Kau harus pindah saat kau tak bayar sewa tiga bulan.
Sangat bising di sebelah, aku tak bisa dengar.
Mereka amat ribut! Aku tak bisa mendengar ucapanmu.
- Kit. - Apa?
- Kecilkan pengeras suara. - Kenapa?
Dia tak bisa mendengarku..
Pasangan itu berisik juga. Kenapa kau tak suruh mereka?
Harap pelankan suara Anda.
Oke?
Sudah kubilang, jangan memasak di sini.
Jika terbakar, bisa membunuh banyak orang.
Jangan ribut, Gendut.
Kau pikir melempar barang akan membuatku membayar?
Biar kulihat lagi.
Apa yang kau lakukan?
Apa yang kau lakukan? Tetap tenang.
Tetap tenang.
- Jangan. - Mari kita mati bersama.
Mari kita bersama.
Mari kita mati bersama.
Bagaimana? Apa pun yang ingin kau bilang.
Tidak?
Kau tidak membawaku ke sini selama setahun.
Ayo, katakan.
Maaf, Ayah.
Aku tak bisa menahannya lebih lama.
Kau masih muda, semua akan baik-baik saja.
Beranilah.
Kesulitan yang kau temui, atasi saja.
Tak ada hubungannya dengan keberanian, Ayah,
Aku sudah mencoba segalanya, tapi tak bisa apa-apa.
Ini bukan kesalahan kalian.
Ini salahku, aku membebani keluarga.
Bantu aku melompat dari sini, keluarga kita akan jauh lebih bahagia.
Hei! Berhenti bermain-main.
- Kurang satu mulut untuk diberi makan. - Turun, Ayah.
Apartemen juga akan lebih lapang.
Aku punya asuransi.
Kau dan keluarga bisa bepergian. Bagus sekali.
Benar sekali, sedikit lagi!
Oke, dorong.
Siap... hitung sampai tiga.
Satu, sedikit lagi.
- Dorong, ayolah. - Tidak.
Dasar egois dan payah! Kenapa tidak?
Kau bukan pria, kau tak berguna.
Percuma memarahimu. Kau tak cukup kuat untuk jadi anakku.
- Turun dan duduk. - Pikirkan istrimu.
Jangan memaksa! Aku bilang aku tak bisa.
Kenapa tidak?
Karena video pengawasan ada di sini, aku akan dipenjara.
Apa kau akan melepaskanku
jika tidak ada video pengawas?
Kita cari tempat tanpa kamera terlebih dahulu.
Diam! Pukul berapa ini?
Belum puas bikin keributan?
Tidak! Ibu, Ayah, sesuatu terjadi pada si Tua.
Jangan mati dulu, ke rumah sakit dulu.
AMBULANS
Aku akan sangat sedih
jika kau meninggal, Kakek.
Tapi Pangeran Tampan biasanya menyukai gadis yang tak bahagia.
Aku akan menikmati perasaan sedih yang romantis.
Terima kasih, Kakek.
Semoga kau mati, Tua Bangka.
Aku tak akan mencegahmu. Aku ingin punya kamar sendiri.
Kau dengar itu, Ayah?
Jangan bertele-tele, cepatlah.
Rumah sakit ini sangat mahal. Aku harus kerja untuk membayar hipotek.
Kau tak tahu aku tak punya waktu untuk bersamamu?
Ya, Kakek.
Aku sudah lama mengurusmu. Waktunya istirahat.
Aku akan mencari pekerjaan sebagai guru pengganti saat kau pergi.
Jangan cemas. Jika Wai Man dapat simpanan saat aku kerja,
aku juga akan menemukan pria baru.
Lalu, aku akan menyajikan teh untukmu.
Cukup! Untuk apa omong kosong ini?
Ini bahkan tidak berhubungan.
Kau tak mendengar apa yang aku katakan?
Aku ingin hal jahat, kejam,
memprovokasi dia, membangunkannya, mengerti?
- Ayolah. - Matilah.
Jangan tinggalkan dia. Bukan tergantung kita.
Mengomeli dia di rumah sudah cukup.
Tapi di sini, aku tak bisa memintanya mati.
Kau tak mau lakukan, bagaimana jika dia sungguh sekarat?
Kakek.
- Si Tua. - Bangun?
- Pulang besok, kami kurang tempat. - Kau bisa keluar, Kek.
Aku bermimpi saat kau berusia tujuh atau delapan tahun di taman,
ada anak yang menindasmu.
Itu hanya mimpi.
Kau ingat lagu yang aku ajarkan?
"Mematahkan satu anak panah itu mudah, mematahkan satu ikat tidak."
Ya.
Kau mengajariku, aku mengajari mereka, kita semua tahu lagu itu.
Aku ingin mendengarnya.
Serius?
Aku ingin mendengarnya.
- Bersatu, kita menang... - Ayo pulang, Kakek.
Nyanyikan.
Ayo menyanyi bersama.
Yang melakukan ini tak punya etika.
Selamat ulang tahun.
Ulang tahunku masih sebulan lagi.
Kampung halaman kami merayakan ulang tahun satu bulan lebih awal,
yang memberi waktu untuk keberuntungan.
Sangat menarik!
Karena kita tetangga, dan kau hidup sendiri,
jika butuh bantuan, silakan cari kami.
Kami tak kenal siapa pun saat pertama pindah ke sini.
Ada masa-masa sulit. Kami tahu perasaanmu.
Di sekolah, aku selalu diganggu.
Tapi di rumah, orang tuaku menyayangi dan mendukungku.
Ini dunia yang jahat. Hanya keluarga yang bisa melindungi kita.
Yang terpenting bagi keluarga kita adalah jendelanya.
Jendela dengan pemandangan laut.
Karena itu, kami harap kau bisa...
memindahkan papan ke samping sedikit.
Aku bekerja keras mencari uang setelah kuliah.
Agar orang tuaku bisa hidup dengan nyaman.
Setelah itu, aku bisa bertemu seorang gadis, membeli apartemen,
punya banyak anak, dan membiarkan orang tuaku bermain dengan mereka.
Tapi semua kolegaku di tempat kerja…
menikamku dari belakang atau memfitnahku.
Apa pun yang kulakukan,
mereka ingin mendapatkan pujian atas prestasiku.
Seluruh hidupku…
Aku takpernah memercayai teman-temanku.
Aku berjanji bahwa aku harus bertahan bekerja.
Tapi cobaan makin berat.
Tiba-tiba, ayahku tewas dalam kecelakaan mobil.
Ibuku merasa sangat sedih dan terserang stroke.
Dia punya katarak, jadi hampir buta.
Kubilang pada diriku,
apa pun itu, aku ingin ibuku melihat lagi.
Tapi tahun lalu…
dia terserang stroke lagi dan meninggal.
Bu Wong.
Kau harus tetap kuat, Anak Muda.
Dia melewati banyak hal di hidupnya.
Itu pasti karena dia diganggu saat kecil,
sekarang dia melakukan hal yang sama dan menindas kita.
Berhenti menangis! Dia pura-pura.
Jangan tertipu.
Kenapa kita tak biarkan dia pergi, Ayah?
Tidak bisa.
Belas kasih pada musuhmu adalah kekejaman bagi dirimu.
Benar! Kita harus melindungi diri.
Aku tak bisa mati.
Terima kasih, papan iklan.
Karena membiarkan orang tahu aku ada.
Apartemen itu agak tua dan agak kecil.
Tapi tak apa, karena ada tempat terbuka yang luas.
Lihat betapa luasnya ini?
Udaranya juga segar.
Sinar matahari.
Ini apartemen bagus, bukan?
Bagaimana menurutmu? Bagus?
Apartemen mahal,
pemandangan laut.
Tapi harga mereka terlalu tinggi.
Kurasa ini lebih baik.
Aku juga tahu pemiliknya.
Bagaimana kalau kubujuk dia untuk mengurangi harganya, ya?
Setuju? Di sini?
Kau tahu yang kumau?
Ada janji melihat apartemen kami?
Bukankah aku sudah bilang tidak ada?
Tolong telepon lagi?
Aku menelepon sepanjang pagi. Tak ada.
Kuberi kau komisi. Tolong bantu aku.
Aku ingin menolongmu. Aku akan kaya jika bisa bantu semua pelanggan.
Apa yang bisa kubantu?
Kami ingin menikah, untuk membeli apartemen.
Selamat.
Ini apartemen baru, sempurna untuk pengantin baru.
20% uang muka, sisanya...
Kudengar apartemen ini baru masuk pasar, ini cukup bagus.
Ya! Ini apartemen tua.
Rumahnya belum direnovasi dan penghuninya dari mana-mana.
- Tak lagi... - Ada pemandangan laut.
- Aku ingat itu. - Sudah dihalangi.
- Tak ada pemandangan apa pun. - Sulit dijual kembali.
Itu yang termurah di sini.
Murah?
Potongan lagi, satu juta, mau?
- Tentu saja tidak, aku tidak bodoh. - Kau?
Satu juta? Tak mungkin.
SAYANG SIU YU
Siapa itu?
Kau Bun Hong Lo?
Apa aku kehilangan kesempatan belajar di luar negeri?
Asuransi jiwaku hanya membayar $ 400.000 saat aku mati.
Dan sekarang apartemen kita telah jatuh nilainya sebesar sejuta.
Selesai! Kita tak punya apa-apa lagi.
Harganya benar-benar turun satu juta.
Satu juta, Bung.
Kita hidup di sana, tak peduli seberapa tinggi atau rendah harganya,
tak akan memengaruhi kita, bukan?
Kalian sudah selesai?
Hampir! Tapi udangnya sangat lezat.
Bos.
Pesan udang satu dan bir satu lagi.
- Baiklah. - Makanan lagi?
Tukang Jagal, tak usah...
Pak Penjagal, tolong jawab kami.
Berapa besar kompensasi yang kau mau?
Keluarga kami sedang sedih akhir-akhir ini.
Sebenarnya, kami depresi.
Aku juga merasa sedih.
Dan kepalaku, aku tak bisa berpikir.
Itu tak disengaja.
Tak disengaja?
Aku dengar seseorang berkata, "Dia akan mati tanpa lemaknya!"
Lalu kepalaku kena pukul.
Ini pembunuhan.
Sial! Telepon polisi. Masukkan aku ke penjara.
Duduklah.
Berengsek! Aku akan memukul kepalaku untuk membayarmu.
- Maaf. - Jangan, kakek.
Dia putraku, aku saja.
- Sayang. - Lupakan saja.
Biar aku saja.
Jangan pukul kepalamu, Ayah.
Bukan kepalaku.
Pukul kepalaku.
Aku takkan memukul kepala keluargaku.
Ini keluarga gila, sungguh gila.
Pukul kepala masing-masing. Aku pikirkan dan putuskan.
Batalkan hidangan udangku, Bos.
Tidak apa-apa. Kami saling kenal, itu tidak serius.
Si Gendut mau pipis, akan segera kembali.
Duduk dan makanlah. Maaf, Bos.
- Kau masih mau bir? - Ya.
- Oke. - Terima kasih.
Tunggu.
Lobster, tiram, kerapu raksasa, dan udang harimau.
Semuanya berkolesterol tinggi, aku tak bisa memakannya.
Makanlah, Kakek. Tak ada lagi yang tersisa.
Tak akan bisa kita makan lagi.
Bawa sebotol brendi XO, aku belum minum itu 18 tahun. Cepat.
Aku segera kembali.
Aku akan berbelanja besok, besar-besaran.
Berbelanja.
Makanan mahal, barang mewah.
Di mana uangnya?
Lobster, tiram, beli barang bagus.
Harga apartemen kita turun sejuta.
Jangan ingatkan aku! Satu juta dolar.
Kau mengelola apartemen yang dibagi. Seharusnya kau tahu.
Bahwa papan iklan itu akan menurunkan nilai kita.
Harga properti naik turun. Apa kita jual saat naik?
Di mana kita tinggal?
Semua tindakanku, kulakukan untuk keluarga ini.
Aku tahu aku tidak pintar.
Bahwa aku bahkan tak bisa menghadapi masalah kecil seperti ini.
Tapi aku bisa apa?
Aku sudah melakukan semua yang aku bisa.
Bukankah aku bilang sebelumnya
bahwa kita berlima harus menanganinya bersama?
Bagaimana?
Aku sudah ke tiap departemen pemerintah untuk cari solusi.
Tidak berhasil.
Bunuh saja dia.
Gila.
Makan! Gila.
Berapa?
- Apa yang bisa kubantu, Bu Lo? - Bukan ini. Aku mau itu.
Obat tidur, jenis terkuat.
Obat tidur.
Selanjutnya apa?
Pikirkan cara mengajaknya makan.
Ayo makan dengan kami, Choi.
Kembalilah.
Apa kau gila? Kita belum menyiapkan makanan.
Singkirkan terlebih dahulu, cepat.
Sembunyikan semuanya.
Aku buka pintu.
Sedang apa kau di sini?
Seseorang mengelem lubang kunci pintuku.
Kau mau aku masuk lewat jendela?
Kenapa kau tak pindah karena tak bisa masuk?
Tidak aman masuk dari jendela, kau bisa terbunuh.
Sangat setuju.
Apa? Bukan begitu?
Baiklah! Berdiri.
Silakan lakukan.
Apa ini membuat kita...
Dia minta melakukannya sendiri.
Benar.
Haruskah kita bantu dia?
Masih ada peluang…
Jatuh…
Lihat, sudah terjadi.
Syukurlah.
Kita bisa turunkan sekarang.
Dia masih hidup.
Kenapa kunyuk ini sangat kuat?
Kita lakukan apa?
Kita melakukan sesuai rencana.
Berapa banyak?
Semuanya.
Semuanya?
Ya, semua.
Semuanya.
Kau sedang apa?
Mencicipi sup.
Semua pilnya ada di dalamnya.
Berhasil.
Berhasil.
Hai, Choi.
- Untukmu, Bu Lo. - Terima kasih.
Kau baik.
Silakan masuk.
Terima kasih.
- Choi. - Hai, semuanya.
- Choi. - Saatnya makan malam?
- Ayo makan. - Terima kasih.
Kau tanda tangan perjanjian, Pak Lo?Aku akan kembali.
Makanlah sup dahulu
Aku tak pantas mendapat ini.
Minumlah.
Baik, terima kasih.
- Bagaimana? - Enak sekali.
Enak, ya?
Apa kau menandatangani perjanjian, Pak Lo?
Kenapa kau tak tinggal untuk makan malam dan makan sup lagi?
Aku tak mau mengusik kalian.
Ya, aku sudah menyiapkan banyak makanan. Ayolah.
Baiklah.
Beri tempat untuk Choi.
Jika kau sudah menandatangani perjanjian, Pak Lo,
aku bayar dua bulan ganti rugi sekarang. Oke?
Mari kita bicarakan nanti.
Aku tahu kau tak peduli, tapi aku peduli.
Putraku tak bisa dapat pekerjaan.
Kenapa kau tidak bantu dia cari kerja?
Choi?Tolong bantu aku.
Aku hanya wiraswasta.
Aku akan ambilkan mangkuk dan sumpit.
Tak perlu, aku akan pesan makanan.
Tn. Lo...
Kenapa tak berhasil?
Dosisnya tidak cukup?
Kita masukkan lagi, oke?
Di mana pilnya?
Anggur.
Anggur dan obat dijamin akan berhasil.
Ibu mereka koki yang hebat.
Mari kita rayakan dengan anggur.
Silakan minum! Nikmatilah makan malam.
Aku baru habiskan sup. Sekarang anggur?
Kita harus minum untuk ini.
Ayah! Minumlah.
Aku belum minum anggur 10 tahun lebih.
Senang.
Habiskan.
Baik, sampai habis.
Untuk kesepakatan kita.
Bagus.
Habiskan.
- Kau juga minum. - Oke.
Minumlah.
Kita jarang melakukan ini. Bersulang.
Habiskan.
Oke.
Makanlah sesuatu.
Kau bilang anggur akan berhasil,
kenapa dia masih sadar?
Choi.
- Anggur. - Ya, anggur.
- Lagi. - Lagi.
Habiskan.
Sedikit lagi.
Habiskan.
Bersulang, semuanya.
Bersulang.
Choi.
Lagi.
Choi.
Aku harus pergi,
aku harus pergi sebelum berubah pikiran.
Choi.
Pak Wong.
Biar kuberi tahu, aku belum makan malam yang hangat
sejak kematian orang tuaku.
Terima kasih untuk makan malamnya.
Terima kasih.
Pak Wong.
Choi.
Choi.
MAAFKAN AKU
Menurut kalian kapan polisi akan tahu?
Ayo kita ke bioskop.
Kenapa?
Kita harus punya alibi.
Baik, ayo pergi.
Apakah orang masih pergi ke bioskop?
Bukankah sekarang orang beli set di rumah,
dan menonton ribuan film besar?
Orang itu sudah kabur.
Hei!
Buka pintunya!
Buka pintunya, Sayang.
Choi.
Kau lupa sesuatu, Choi?
Benar, 'kan, Choi?
Ponselmu ketinggalan, Choi?
Mau sup lagi?
Ambilkan sup untuk Choi.
Atau anggur.
Kau pikir kau bisa menggunakan obat tidur dan anggur
untuk membunuhku?
Bahkan satu botol pil tidur pun tak bisa membuatku tidur.
Kini ada meja penuh bukti.
Mampus kau kalau aku telepon polisi sekarang.
Telah terjadi kesalahpahaman, Choi.
Bukan salah paham. Tapi, aku ingin berterima kasih.
Silakan duduk, Choi.
Rencana awalku hanya mendapatkan uang dari papan iklan.
Tidak kuduga nilai propertimu turun.
Jadi saat kalian masuk penjara,
aku beli apartemenmu dengan murah, lalu turunkan papan iklan,
dan jual lagi dengan harga tinggi.
Dengan uang yang kubuat di sini,
aku bisa pindah ke lingkungan kaya dan ulangi lagi.
Aku jadi kaya segera.
Bajingan.
Ayo, tusuk aku.
Aku telepon polisi.
- Ayo. - Jangan!
Kita telah membunuhnya?
Dia tak bernapas.
Kami tak bahagia...
kecuali kalau kami membunuhmu.
Kematianmu sangat berharga bagi kami.
Selanjutnya bagaimana?
- Bawa dia ke rumahnya. - Lagi?
Buat seperti bunuh diri dengan bakar arang.
Tapi dia sudah mati, dia tak bisa menghirup asap arang.
Polisi akan tahu.
Ayo.
Mimpi buruk lagi?
Banyak orang, banyak hal terjadi.
Sangat menakutkan, aku jatuh ke air.
Minum obat sakit kepala.
Sudah.
Aku minum tujuh. Sebaiknya aku habiskan yang terakhir.
Lihat keluar jendela.
Sudah hilang.
Sudah cukup, kembali bekerja.
Bu, dia sangat berat.
Kami mungkin tak bisa menggantungnya.
Jangan gunakan pisau ini untuk memotong, aku ingin mencincangnya.
Kalian sedang apa?
Kita masak apa dengan babi besar?
Babi rebus dan sayur.
Perut babi dan terasi.
- Kuping babi enak. - Tidak.
Pai babi.
Polisi.
Keluarga Anda diduga terlibat kasus pembunuhan.
Kalian harus ikut membantu penyelidikan.
Tolong.
Apa yang terjadi?
Setelah mayat Siu Choi Wong ditemukan di laut,
polisi menemukan tagihan listrik dan air kami di mulutnya.
Begitulah kami tertangkap.
Saksi ahli bersaksi di pengadilan bahwa keluarga kami jadi gila.
Pada akhirnya, kami dikirimkan ke rumah sakit jiwa. Tapi itu bagus.
Ada pemandangan laut yang amat indah.
Nek, tanda tangan di sini. Cucumu di rumah?
Ada yang bisa baca di sini?
Aku tidak pesan makanan.
Gigi palsunya jatuh.
Kenapa kita lakukan ini? Sudah kubilang beberapa kali.
Hanya keluarga rukun yang jadi kaya.
- Tolong ke stasiun kereta. - Tidak mau.
- Aku tak bilang stasiun mana. - Tak mau ke stasiun.
Itu hanya pipis.
Cukup cuci saja kakimu.
Itu saja dibesar-besarkan.
Aku datang.
Pintunya terbuka.
Siapa yang tidak tutup pintu?
Kau, tentunya.
Sayur apa yang segar hari ini?
Sawi dan tomat segar hari ini.
Ibuku selalu tanya apakah pacarku punya rumah.
Dingin di luar. Kenapa bajumu sedikit sekali?
Indah sekali.
Yang mana bangunan kita?
Entahlah.
Katakan aku harus apa.
Bagaimana kalau aku tak buta huruf dan tak bisa bahasa Inggris?
Kau sedang apa?
Jangan pakai tongkat, pisau lebih cepat. Ayo.
Bunuh keluargamu...
SIlakan minum teh.
Tak usah formal begitu.
Minum saja tehnya.
Terjemahan subtitle oleh Serina Rajagukguk
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.