All language subtitles for Perewangan.2024.1080p.NF.WEB-DL.DDP5.1.H.264-likeJENNIE

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian Download
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German Download
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian Download
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
tt Tatar
te Telugu
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Ramai sekali, Jeng.

Alhamdulillah.

Sambalmu tadi enak sekali, Jeng.

Tidak semerah yang di rumah makan,

tapi enak.

Kalau bukan karena kerja kerasmu, Jeng,

belum tentu kita bisa sebahagia sekarang.

Terima kasih ya, Jeng.

Jeng?

Jeng.

Aku belum selesai bicara, tapi kok sudah ditinggal.

Jeng.

Lo? Jeng!

Jeng! Bangun, Jeng!

Jeng!

Maya! Wulan!

Bantu Bapak!

Jeng, bangun!

Jeng!

Jeng!

Jeng…

Jeng! Jeng, apa yang kamu lakukan?

Jeng!

Mataku sudah tertutup, tak ada yang bisa menolongku.

Mataku tertutup, tak ada yang bisa menolongku.

- Jangan, Jeng. - Tak ada yang bisa menolongku.

Mataku tertutup, tak ada yang bisa menolongku.

Jangan!

Jangan!

Ayo pulang.

Keluargamu sudah menunggu di rumah.

Mbak, lihat. Cantik, bukan?

Sempurna!

Cantik sekali.

Bapak!

Wulan.

- Maya. - Bapak, Wulan kangen!

Iya, Bapak juga kangen.

Bagaimana kabarmu, Nak?

- Sehat? - Sehat, Pak.

Nak.

Si Ndut sudah besar sekarang.

Iya.

Kamu berat sekali sekarang.

Nafsu makanmu pasti besar, ya.

- Paman. - Maya.

Terima kasih banyak, Paman.

Ya.

Syukurlah bapakmu sekarang kondisinya sudah baik.

Emosinya juga sudah stabil.

Tapi tetap harus dipantau, ya.

Dan sering-sering diajak bicara.

Ya?

Ya, Paman.

Ini ada pesan dari dokter.

Sebaiknya hindari dulu percakapan yang menjurus ke traumanya, ya.

Baik, Paman.

Bagaimana kabar ibumu?

Masih sama, Paman.

Belum ada perubahan.

Ibu makan juga makin sedikit.

Semoga setelah tahu Bapak pulang,

Ibu jadi lebih semangat melawan sakitnya.

Mari masuk dan sapa Ibu, Paman.

Ayo.

Sebentar, ya.

Halo.

Ya, Ma.

Ini saya baru saja tindakan pasien.

Iya.

Sebentar lagi saya pulang, ya.

Ya.

Nak,

sepertinya Paman harus pulang sekarang.

Bibimu sudah menunggu di rumah.

Tidak makan malam dulu, Paman? Mampir?

Tidak usah.

Paman makan di rumah saja.

Tidak enak sama bibimu.

Ya?

Baik.

Terima kasih banyak, Paman.

Hati-hati. Salam untuk Bibi.

Ya.

Bagaimana sekolahmu, Nak?

Kamu harus lulus.

Kamu sudah lama cuti, 'kan?

Ya, Pak.

Bapak ingin sekali

datang ke wisuda kamu.

Bersama ibumu.

Ibumu mana?

Belum pulang dari rumah makan?

Ibu…

di kamar, Pak.

Terima kasih ya, Mas,

sudah selalu berada di sisiku.

Sudah semestinya, Jeng.

Aku sangat merindukan kamu, Jeng.

Bapak?

Bapak!

Bapak?

Bapak!

Pak!

Bapak!

Pak Kades, Bapak-bapak semua,

terima kasih banyak sudah datang.

Kamu harus tabah ya, Maya.

Kami pamit dulu.

Permisi.

Ya, Pak.

PANGGILAN MASUK PAMAN RONI

Paman?

Nak, Paman turut berbelasungkawa, ya.

Bersabarlah.

Paman sepertinya baru bisa datang besok.

Ini ada operasi dadakan.

Baik, Paman.

Menurutku…

pasti sulit Maya mengurus rumah sebesar ini.

Apalagi sendirian.

Coba kamu bicara kepadanya agar Maya mau tinggal di rumah yang lebih kecil.

Dia benar.

Kita jual rumah ini,

lalu uangnya kita bagi bersama.

Ini rumahnya Bapak, 'kan?

- Bukan rumah Mbak Darsih. - Ya.

Lah…

Kalian berdua sudah mendapat uang warisan Bapak.

Salah kamu sendiri, Mas Bang, malah dipakai untuk kawin-cerai.

Kamu juga, Mas Cip.

Kamu dapat apa dari buka bengkel itu?

Sampai bangkrut begitu.

- Aku ditipu, Mar. - Alasan!

Sudahlah, Mar. Tidak usah bicarakan masa lalu.

Aku mau lihat Mbak Darsih dulu, Mas.

Ya.

Ya.

Ibu perlu istirahat.

Aku pamit dulu, Mbak.

Bu.

Bagaimana kabarnya hari ini?

Sudah enakan?

Aku kangen suara Ibu.

Kangen dengar Ibu mengomeli aku.

Tapi aku percaya…

Ibu pasti sembuh.

Semangat ya, Bu.

Mbak.

Ibu kapan sembuhnya ya, Mbak?

Ibu pasti sembuh.

Nanti kalau Paman Roni ke sini,

Wulan tanya, ya?

Sebentar, Mas.

Nak.

Maya.

Kita bicara, yuk.

Maaf, Paman dan Bibi.

Saya harus merawat Ibu.

Terima kasih sudah datang.

Dan maaf, saya tidak bisa menemani.

Sekiranya sudah tidak ada keperluan,

Paman dan Bibi silakan pergi.

- Boleh pulang. - Lo…

Kok malah ngusir?

Tidak sopan sekali.

Nak.

Bibi dan pamanmu ini melayat

sekalian menjenguk ibumu, kamu, dan Wulan.

Silaturahmi, Nak.

Dia benar.

Mengapa sikapmu begitu kepada paman dan bibimu?

Nak.

Bibi mengerti ini waktunya tidak pas.

- Begini masalahnya… - Dengar.

Begini, Nak.

Kamu butuh biaya hidup, 'kan?

Paman ada usulan.

Rumah ini dijual

untuk berobat ibumu.

Setelah dijual, dibagi, nanti kalian bisa pindah ke rumah yang lebih kecil.

Mau dijual atau tidak,

itu urusan keluargaku, Paman.

Sabar, Nak. Sabar.

Ini semua demi kebaikan keluargamu.

Kebaikan siapa?

Kalau Paman dan Bibi menginginkan semua ini,

silakan.

Silakan ambil. Silakan jual.

Tapi tunggu Ibu sembuh dulu.

Ya sudah.

Ya sudah, kami pamit dulu ya, Nak.

Semoga ibumu cepat sembuh.

Ayo, Mas.

Maya keras kepala sekali.

Seperti ibunya.

Mar.

Bagaimana kondisi Mbak Darsih?

Masih sama, Mas.

Rumit.

Lalu bagaimana?

Sabar,

tenang.

Tenang?

Bagaimana bisa tenang kalau begini?

Ini.

Mbak, Wulan kangen Bapak.

Kalau kamu kangen bapak,

doakan Bapak.

Apa Bapak bisa dengar doanya?

Ya, pasti dengar.

Ayo berdoa.

Amin.

Apa Bapak baik-baik saja kehujanan di luar?

Bapak?

Ini barang-barangnya, Pak.

Ada kursi, kompor, kulkas,

dan barang-barang yang di sebelah sini.

Satu, dua, tiga, empat…

Mbak.

Semua barangnya saya beli empat juta, ya?

Tidak bisa 4,5 juta, Pak?

Aduh, kalau 4,5 juta, saya tidak berani, Mbak.

Empat juta itu sudah bagus.

- Bagaimana kalau… - Sekarang begini saja.

Kalau Mbak tidak mengizinkan, Mbak jual ke orang lain saja.

Kalau sama ini, saya berani berikan lima juta, Mbak.

Tidak bisa, Pak.

Ini barang kesayangan ibu.

Ya sudah kalau begitu, Mbak.

Saya tambahkan satu juta. Jadi, semuanya enam juta, ya.

Ya sudah kalau begitu.

Kalian tolong keluarkan barang-barang yang ini, ya.

Ya.

Maya basuh dulu ya, Bu.

Paman!

Ndut.

Ndut.

Wulan, Paman.

Oh iya, Wulan. Si cantik.

Ini, Paman bawakan oleh-oleh untuk Ndut…

Bukan Ndut… Wulan.

Bagus sekali!

- Terima kasih, Paman. - Ya.

Kalau Paman sedang tidak ada,

Wulan yang memeriksa Ibu, ya?

Ya, Paman.

Bermainlah.

Nak.

Ini

obat untuk membersihkan luka ibumu, ya.

Paman akan tunjukkan caranya.

Terima kasih.

Nak…

ayo mengobrol di luar.

Sebaiknya cermin yang ada di kamar ibumu ditutup.

Atau sekalian saja dipindahkan.

Memangnya kenapa, Paman?

Paman khawatir,

meninggalnya bapakmu

ada hubungannya dengan cermin itu.

Dulu…

kakekmu punya tiga istri.

Semua meninggal tanpa ada yang tahu apa penyebabnya.

Kecuali nenekmu.

Tidak ada yang pernah bisa melihat

kedua jenazahnya.

Karena peti selalu tertutup sampai dalam kubur.

Katanya…

kakekmu menumbalkan kedua istrinya.

Awalnya Paman juga tidak percaya.

Hingga suatu hari

di depan makam ibuku…

kakekmu bilang akan menghentikan semuanya.

Paman tidak paham apa maksudnya.

Bawa aku selamanya.

Bawa aku selamanya.

Bawa aku selamanya.

Bawa aku selamanya.

Bawa aku selamanya.

Bawa aku selamanya.

Malam itu,

Paman melihat cermin yang ada di kamar ibumu

di gudang kakekmu.

Paman melihat apa?

Perewangan.

Perewangan?

Kakekmu memelihara makhluk halus

yang harus selalu diberi makan.

Imbalannya

kekayaan.

Apa hubungannya dengan Ibu?

Paman?

Halo?

Ya, Ma.

Ya.

Saya lagi berkunjung ke rumah pasien.

Ya.

Ya, sebentar lagi saya pulang.

Ya.

Bibi Yani tidak tahu Paman ke sini?

Ya sudah.

Sekarang Paman mau cari bantuan.

Hubungi Paman jika terjadi sesuatu. Ya?

- Ya, Paman. - Hati-hati.

Cerminnya ditutup.

Paman, tolong angkat.

Paman, angkat.

Wulan!

Wulan!

Jangan ke kamar Ibu.

Memangnya kenapa, Mbak?

Jangan!

Aku mau periksa Ibu.

Wulan!

Maya.

Wulan.

Ibu!

Maya.

Tolong ambilkan kebaya Ibu.

Kenapa?

Kamu tidak senang ibumu sudah membaik?

Saya yakin itu Perewangan, Kyai.

Sudah pasti.

Saya melihatnya sendiri sewaktu kecil.

Perewangan itu memakan bapak saya.

Ya. Benar, Ki.

Jika Kyai berkenan, saya jemput sekarang.

Ya. Mohon bantuannya.

Ya, terima kasih.

MAS. SUDAH SAMPAI MANA?

Ibu mau berkaca.

Wulan.

Wulan?

Wulan?

Wulan?

Wulan! Kamu sedang apa subuh-subuh di sini?

Lagi main sama Ibu.

Saya periksa dulu ya, Bu.

Paman Roni tidak ke sini lagi?

Sebentar ya, Bu.

Halo, Bibi.

Seharusnya kamu berhenti merepotkan keluargaku!

Kamu dan keluargamu hanya membawa petaka pada keluargaku!

Bibi.

Bibi bicara apa?

Suamiku mati gara-gara kalian!

Mati kalian semua!

Berengsek.

Beraninya dia melarang kita datang ke pemakaman saudara kita sendiri.

Aku khawatir, Mar.

Ini makin gawat.

Pertama, Taryadi.

Sekarang Roni.

Lalu siapa berikutnya?

Kalau dilihat dari urutan lahir,

kamu berikutnya.

Enak saja!

Mas, awas!

Mar, kok kamu diam saja, sih?

Kita hampir terbunuh!

Aku juga deg-degan!

Cip.

Bagaimana kalau kita ketahuan?

Bilang saja kita mau berkunjung. Beres, 'kan?

Ayo.

Cip.

Itu kamarnya Mbak Darsih, 'kan?

Ya.

Berarti kita harus kubur di sini.

Arah selatan ke sana, ya?

Ya.

- Kalau begitu, ini benar. - Ayo.

Ya Tuhan, tolong lindungi kami.

Ya Tuhan, tolong lindungi kami.

Ya Tuhan, tolong lindungi kami.

Hei, cepat!

Tunggu, ini susah.

Sialan!

Hei, Mas! Tunggu!

Sudah, Mar.

Sudah dikubur rambutnya.

Aman.

Ya sudah, aku mandi dulu.

Siapa itu?

Siapa itu?

Keluar!

Berengsek.

Hei!

Bajingan!

Hei!

Hei!

Mati! Mati kamu!

Mati!

PANGGILAN MASUK BIBI SUM

Wulan, jangan!

Jangan!

Wulan.

Mbak minta maaf, ya.

Kita berbaikan, ya.

Mbak cuma punya kamu.

Kenapa Mbak Maya menangis?

Karena Mbak Maya sayang sama kamu.

Mbak tidak mau kehilangan kamu.

Mbak minta maaf, ya.

Tapi janji, Mbak Maya jangan marah sama Wulan lagi.

Janji.

Wulan?

Wulan!

Wulan!

Wulan!

Wulan!

Wulan!

Wulan!

Wulan!

Wulan!

Wulan?

Wulan.

Kamu tidak apa-apa, 'kan, Dik?

Ayo kita masuk.

Ayo.

Ayo.

Bu?

Belum tidur?

Lihat, Ibu sudah sembuh.

Kapan kita jalan-jalan, Bu?

Mbak, sini mengobrol dengan Ibu!

Wulan,

ambil buah naga di kulkas, ya.

Ibu suka buah naga, 'kan?

Bu.

Ayo ganti baju.

Biar terasa segar.

Kebaya hijau saja, Nak.

Kamu akan mati.

- Wulan, ayo. - Tidak mau!

- Kita harus cari bantuan. - Aku mau suapi ibu buah naga.

Di sini tidak aman!

Di sini ada Ibu!

Wulan, ikut Mbak!

- Tidak mau! - Wulan!

Wulan.

Wulan!

Wulan?

Wulan? Buka, Wulan!

Tidak mau!

Wulan!

Kita pergi sekarang.

Nyawamu.

Bukan uangmu.

Nyawamu!

Nyawamu!

Bibi!

Bibi! Ini Maya, Bibi!

Bibi!

Ke mana saja kalian?

Bibi telepon dari kemarin tidak diangkat.

Maaf, Bibi.

Ini ada apa sebenarnya?

Kalian datang berdua saja?

Masuk.

Bibi.

Tolong bantu kami.

Sebelum kamu minta, Nak,

Bibi sudah berusaha.

Akibatnya, nyawa Paman Cipto hilang.

Aku sudah suruh Mas Bang untuk pergi jauh-jauh dari sini.

Maaf, Bibi.

Maaf.

Tapi

Ibu sudah berubah.

Wujud Ibu…

- Ibu… - Badannya jadi hijau.

- Matanya merah. - Badannya jadi hijau?

Ya.

Sudarsih yang ada di rumah kalian

sudah bukan Mbak Darsih lagi.

Dia sudah dikuasai Perewangan.

Lalu kita harus bagaimana, Bibi?

Selama ini…

kami ingin menjual rumah peninggalan Bapak.

Karena kami tahu

di situlah pertama kali

Bapak melakukan perjanjian

dengan Perewangan.

Cermin laknat itu seharusnya dibuang ke Laut Selatan.

Kecurigaanku timbul

ketika melihat rumah makan Sudarsih berkembang dengan pesat.

Terlalu pesat.

Tidak wajar.

Bibi yakin

ibumu meneruskan Perewangan.

Dia minta makan.

"Sigare nyowo".

Atau belahan jiwa.

Jika ingkar,

nyawanya sendiri yang diambil.

Mbak Darsih pasti mengingkari perjanjian.

Dia tidak menyerahkan Mas Taryadi.

Akibatnya,

Perewangan merenggut bapakmu secara paksa.

Ibumu dibuat sakit

dan keluargamu dimiskinkan.

Ibumu tidak seharusnya meneruskan apa yang sudah diakhiri oleh kakekmu.

Yang ibumu tidak tahu

perjanjian itu tidak hanya mengikat dirinya.

Tapi juga mengikat sampai keturunan ketujuh.

Untuk ibumu…

rasanya sudah terlambat.

Tapi untuk kamu dan Wulan

masih ada harapan.

Dalam kendi ini

ada air dari Laut Selatan

yang sudah aku isi ajian.

Kamu basuh ibumu

dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Ulangi tujuh kali.

Jika ini tidak berhasil…

bakar ibumu hidup-hidup.

Bibi…

Maya, sadar.

Yang di rumah itu sudah bukan ibumu lagi.

Kamu harus berani.

Yang bisa menyelesaikan semua ini hanya pewaris berikutnya.

Kamu, Maya.

Bibi, bisa kutitip Wulan malam ini?

Tolong, Bibi.

Boleh kutitip Wulan?

Percayalah…

Wulan lebih aman sama kamu.

Wulan.

Kamu tunggu di sini, ya.

Jangan keluar dari mobil.

Kalau terjadi sesuatu,

bunyikan klakson.

Ingat, jangan buka pintu untuk Ibu.

Kunci pintunya.

Jangan lama-lama ya, Mbak.

Bu, maaf.

Aku mau bantu Ibu lepas dari ini semua.

Bantu aku ya, Bu.

Ndut.

Ndut.

Wulan!

Wulan!

Wulan!

Maya, cium tangan kakekmu.

Maya.

Cium tangan kakekmu.

Maya…

Wulan…

Wulan, lari!

Kamu berani memukul ibumu?

Mbak Maya!

Mbak, cerminnya!

Wulan, kamu tunggu di sini.

Jangan keluar lagi.

Ya, Mbak.

Mbak Maya!

Mbak Maya!

Ibu.

Ibu.

Bu…

Ibu.

Ibu…

Mbak Maya?

Mbak Maya?

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.